Work Text:
Kegiatan di kantor itu sangat padat, wajar saja. Akhir bulan biasanya lagi pada kejar target, Wonbin pun harus diburu-buru oleh atasannya untuk menyelesaikan orderan untuk bulan ini.
Kepala Wonbin sampai sakit, badan pegal-pegal harus duduk seharian sambil melihat ke arah laptop. Semuanya harus dikerjakan dengan waktu yang singkat, wah, dia bisa masuk rumah sakit nanti!
Waktu makan siang, Wonbin hanya duduk di kursi kerjanya sambil makan camilan, dia tidak bisa ikut bergabung dengan rekannya karena masih melanjutkan pekerjaanya. Lalu, datanglah rekan kerjanya yang lain.
"Nggak turun ke bawah, Bin?" Tanya rekannya, Wonbin melirik kemudian lanjut mengetik.
"Duluan aja, bang Sho. Kerjaan gua masih numpuk."
Shotaro mendekat lalu dia melihat ke arah laptop Wonbin. Laki-laki itu berbicara, "lu nggak capek apa?"
Wonbin menghela nafas, "mau dibilang capek, iya capek. Tapi mau gimana lagi?"
"Sehat-sehat deh, karyawan. Kalau badan lu pegel, mending dipijet aja."
Wonbin menoleh ke arah Shotaro, "pijet?" Tanyanya kebingungan.
"Iya, selama ini lu belum pernah dipijet kah? Enak loh..."
Masalah pijat, sebenarnya, Wonbin pernah sekali, tapi rasanya aneh jadi dia nggak pernah pijat lagi semenjak itu.
"Sakit ah."
"Nggak, makanya pijatnya sama yang ahli. Yang itu pijet abal-abal kali."
Mendengar hal itu Wonbin menyeringai dan memutarkan bola matanya. Terdengar lucu, tapi dia tidak berniat ketawa.
"Ya udah, nanti gua coba deh..."
"Mau rekomendasi?"
Wonbin menoleh lagi, dia pun mengangguk. Shotaro tersenyum, "deket toserba pas arah mau ke rumah gua. Di situ ada tempat pijet. Bilang aja mau pijet plus."
"Pijet plus?" Tanya Wonbin kebingungan.
"Iya, enak kok." Balas Shotaro dengan senyum yang semakin merekah. Kelihatan dari wajahnya meyakinkan, jadi Wonbin beri anggukan.
"Okay, gua kebawah duluan ya? Bye..." Shotaro melambaikan tangannya dan berjalan menuruni tangga. Dan kini Wonbin sendirian untuk melanjutkan pekerjaannya.
Selama seminggu, Wonbin bisa menyelesaikan pekerjaannya. Karena dia kerjakan di rumah juga, sampai malam bahkan pernah bergadang demi menyelesaikan pekerjaannya.
Waktunya bersantai di akhir pekan, Wonbin niatnya mau datang ke tempat pijat. Jadi pagi-pagi dia mandi dulu, setelah itu merapikan barang bawaan dan dimasukkan ke dalam tas, agak bingung mau bawa apa soalnya baru pertama kali.
Jadi dia hanya bawa ponsel, air minum, sunscreen, dan sebotol minyak kayu putih kecil. Nggak tau fungsinya apa, yang penting bawa aja. Setelah itu dia berangkat ke tempatnya.
Wonbin mencari keberadaan tempat pijat, dia melihat sebuah palang dengan kata, "massage" mungkin ini yang dimaksud Shotaro. Dia berjalan dan memasuki tempat itu.
"Selamat datang, kak, ada yang bisa kami bantu?" Wonbin disapa oleh perempuan yang menjadi resepsionis ditempat itu. Laki-laki ini mendekat dan bersuara,
"Mau pijat kak."
"Baik, untuk pijat varian apa ya kak? Pijat plus atau pijat plus-plus?" Pertanyaan sang resepsionis membuat Wonbin menyengit.
"Apa bedanya ya?" Tanya Wonbin ragu-ragu.
"Beda dipenangannya aja kak, kalau kakak mau lebih puas mending yang plus-plus."
"Oh, gitu ya? Ya udah yang plus-plus aja."
"Baik kak, payment nya tunai ya, nanti kakak boleh tunggu di ruang sebelah sini." Sang resepsionis menunjuk ruangan di sebelahnya, Wonbin mengangguk lalu membayar biayanya dan berjalan menuju ruangan itu.
Wonbin bisa mendengar seseorang berbicara, "selamat datang kakak, boleh lepas dulu pakaiannya ya, nanti ditutupin pakai handuk."
Mendengar itu Wonbin meneguk salivanya. Dia harus bugil gitu? Baiklah, nggak apa-apa kok, nanti pakai handuk. Wonbin lepas satu persatu pakaiannya tanpa menyisakan satu pun baju. Dia taruh tas nya di sana. Dan dia mengambil handuk yang telah disediakan, mengikatkannya dipinggulnya.
Laki-laki itu melihat pintu lagi, dia pun berjalan ke arah pintu itu kemudian menekan knop pintu. Matanya tertuju pada seorang laki-laki jangkung yang tersenyum padanya, mengenakan pakaian putih. Mungkin itu tukang pijatnya, tapi kok ganteng banget ya. Wonbin jadi malu.
"Sini, masuk kak. Rebahan di sini," ucapnya, Wonbin berjalan ke arahnya dan merebahkan tubuh di sebuah ranjang. Ranjangnya empuk, enak juga kalau buat tidur.
"Kakaknya baru pertama kali ya ke sini?" Tanya lelaki itu mulai memijat lengan Wonbin, rasanya sedikit sakit namun setelah beberapa menit kemudian pegal Wonbin meredah.
"Oh iya, mas," jawab Wonbin. Lelaki itu tersenyum lagi.
"Boleh madep belakang kak? Saya mau pinjet punggungnya," ucap sang lelaki itu, Wonbin langsung bangkit dan membalikkan tubuhnya sehingga sang tukang pijat bisa sepuasnya memijat tubuh kecil itu.
Sang tukang pijat sangat lihai memijat, Wonbin kelihatan keenakan dipijat sampai dia mau tertidur. Untungnya tak jadi, karena diajak berbicara, "nama kakak siapa, kak?" Tanyanya.
"Wonbin. Kalau mas?"
"Anton."
Anton? Nama yang bagus, ucap Wonbin dalam hati. Mereka nggak ngobrol banyak, Anton lebih fokus pijat tubuh kecil Wonbin. Dari punggung kepinggang hingga turun ke kaki.
Anton sengaja menekan bokong sintal Wonbin saat memijatnya membuat Wonbin meringis pelan. Lalu dia turun ke paha Wonbin, mengelusnya sejenak lalu memijatnya.
Tangan Anton menelusup ke dalam handuk Wonbin, membuat laki-laki itu membuka matanya dan perlahan menutup akses menuju selangkangannya.
"Kakak maaf, boleh jangan dirapetin, saya mau pijet susah," ucap Anton, Wonbin bingung. Kalau dia buka, nanti Anton tau kalau dia punya memek. Dia masih malu soalnya.
Tapi akhirnya dia melebarkan kakinya hingga Anton bisa memijat atas pahanya dekat bokong. Semakin lama, tangan Anton menyenggol memeknya, Wonbin berjengit hampir saja dia mengeluarkan suara tak senonoh. Tapi Anton terlihat biasa saja.
Sehingga pada akhirnya punggung tangan Anton mengelus bibir memek Wonbin, laki-laki itu meringis. Jemari Anton menyentuh klitoris Wonbin dan mengusapnya pelan, Wonbin resah dia menoleh ke belakang dan bersuara,
"Mas, e-emang... Pijetnya... Sampai situ ya?" Suara Wonbin bergetar, Anton terkekeh pelan.
"Iya, relax ya... Pasti enak," balas Anton, kemudian dia mulai memutarkan dua jarinya di klitoris Wonbin, satu tangannya yang nganggur dia coba masukan ke dalam.
Wonbin spotan mengerang, kedua kakinya ingin menutup, namun ditahan oleh tubuh Anton. Sedangkan jemarinya terus bergerak. Laki-laki itu menutup matanya dan menggigit bibir bawahnya, ini bukan pertama kali memeknya dienakin. Sebelumnya, dia pernah coba colek memek sendiri, hasilnya kurang memuaskan. Tapi dengan tangan Anton, libidonya makin naik.
"Mas... Lagi... Lagi..." kedua kaki Wonbin melebar, dia tidak lagi menutup akses menuju memeknya, malah memamerkan karya indah itu. Anton tersenyum, melihat pemandangan dibawahnya sungguh indah.
Jari Anton berhenti sejenak, dia membuka kancing dan menuruni celana hingga memperlihatkan kontolnya yang sedikit keras. Wonbin yang melihat itu terkejut. Dia tidak berpikir jika Anton akan menjulurkan kontolnya ke dalam mulut dia.
"I-ini diapain ya...?" Tanya Wonbin, pura-pura polos. Padahal dia tau, kalau Anton minta disepongin.
"Jilat aja kak, diemut juga boleh." Anton membantu Wonbin untuk membuka mulutnya lalu memasukkan kontolnya ke dalam mulut Wonbin.
Kepala Wonbin bergerak maju mundur sambil diemut pelan. Jari Anton juga sibuk bergerak di dalam memek Wonbin. Keduanya sibuk memainkan satu sama lain sehingga Wonbin melepas kontol sang tukang pijat itu dan menjilatinya.
"Kakak jago banget nyepongnya kak, suka disuruh nyepong ya? Atau dibayar buat nyepong?" Ucap Anton, Wonbin tidak menjawab, dia malah memijat bola milik Anton sambil diemut.
Bukan hanya Wonbin yang sange, Anton ikutan sange sekarang. Dia merasa memek Wonbin sudah basah banget dia pun meniduri Wonbin dan menciumnya dengan brutal. Ciuman yang basah dengan lidah yang bertaut, Wonbin udah kehilangan akal sehatnya. Saat kontol Anton bergesekkan dengan memeknya, Wonbin mendesah, matanya memutar dan jantungnya berdebar.
"Ngghh... Okay... Ayo ngentot, mas." ucap Wonbin terengah-engah dan kontol Anton melesat masuk ke dalam. Baru saja masuk, sudah mentok, lagi-lagi mata Wonbin memutar bahkan dia tidak bisa melihat jelas langit-langit ruangan.
Anton menghentakan pinggulnya dengan pelan, saat itu dinding memek Wonbin berkedut menekan kontol Anton yang semakin membesar.
"Mas, saya boleh desah?" Wonbin bertanya pelan, dia berusaha keras untuk menahannya takut, kedengeran ruangan sebelah.
"Boleh, kedap suara kok," jawab Anton, tanpa basa-basi Wonbin meloloskan desahan paling erotis ditelinga. Pinggul Anton bergerak semakin cepat, semakin keras juga desahan Wonbin. Belum lagi suara ceplak basah yang timbul dari hentakkan keduanya.
"Ngghh! Mas! Enak! Lagi! Lagi!" Wonbin berseru dan mengeratkan pelukannya. Anton mempercepat hentakkan dari sebelumnya sambil mengecup jenjang leher Wonbin.
"MAS. MEMEK AKU MAU MUNCRAT." Wonbin berseru lagi, Anton belum juga berhenti. Laki-laki itu memuncratkan cairan kental hingga tubuhnya bergetar hebat, memeknya masih mencari kenikmatan dari genjotan Anton.
Tangan Anton mengarahkan salah satu kaki Wonbin untuk berada dipundaknya dan keduanya ciuman. Disela-sela ciuman yang basah, Wonbin bergumam, "mas jago banget ngentotnya..." membuat Anton tertawa.
"Pertama kali ngentot?" Balas Anton, bibirnya masih meraup bibir Wonbin, tampaknya laki-laki kecil itu susah menjawab karena ciuman yang dilayangkan Anton dan juga tempo genjotan Anton yang pelan tapi kena ke dalam spotnya, jadi dia hanya menggangguk.
"Mau coba posisi lain?" Tanya Anton lagi, Wonbin pun mengangguk.
Anton melepas tautan bibir mereka, dan membalikkan tubuh Wonbin sehingga dia memunggungi Anton. Wonbin berbicara sejenak, "mas kalau mau keluar, keluar aja di dalam, nggak apa-apa kok."
"Mau dipejuin sampe perut penuh? Kalau penuh nanti gimana bersihinnya?"
"Bantuin, boleh?"
Mendengar suara Wonbin yang mendadak pelan dan terdengar lucu, Anton terkekeh lagi, dia mengecup punggung Wonbin sebelum memasukkan kontolnya ke dalam memek Wonbin.
Wonbin merasakan memeknya penuh, dia mendesah pelan ketika ujung batang Anton memukul spot yang tepat. Setiap hentakkannya Wonbin dibikin melayang, merasakan hangat kontol Anton menerobos masuk ke dalam seperti tadi.
Tiga puluh menit Wonbin dibuat keenakan sampai pipis berkali-kali sedangkan Anton baru muncrat dua kali di dalam. Tapi banyak, sampai cairannya tumpah ke ranjang.
"M-m-mas udahhh... Ngghhh... N-n-nggak kuat..."
"Tadi siapa yang minta lagi?"
Wonbin kelojotan, memeknya udah penuh sperma Anton dan miliknya. Meski tidak kuat, tapi Wonbin tetap mau diluberin. Sampai mereka ganti posisi lagi, Wonbin berada di atas Anton menduduki laki-laki besar itu sedangkan pinggulnya bersandar pada paha Anton.
Wonbin mengenjot kontol Anton dari atas, sekarang tempo menyesuaikan Wonbin, karena dia yang di atas. Wonbin berusaha mengenjot sedangkan tubuhnya tidak kuat menahan stimulasi yang Anton berikan lewat jarinya yang memainkan klitorisnya.
"M-m-mas mau p-pipis!"
"Pipis lagi? Tahan dulu."
Anton menahan kedua tangan Wonbin dengan satu tangannya, kemudian menggenggam pinggul Wonbin untuk menahannya di atas, kini Anton yang mengenjot memek merah itu. Desahan Wonbin semakin berisik, hampir satu jam ruangan berisik dengan desahan Wonbin.
Wonbin udah nggak kuat, akhirnya dia muncrat, bersamaan dengan Anton. Tubuh kecilnya jatuh di atas Anton, dia terengah-engah sambil berusaha bangun dan menatap Anton.
"Mas, mau nomornya, boleh nggak?"
"Buat apa?"
"Mau dienakin lagi sama mas. Aku bayar mas."
"Dateng lagi ke sini aja ya? Nanti minta ke resepsionis lagi pijet plus-plus sama saya."
Wonbin baru mengerti sekarang. Pijat plus-plus yang resepsionis rujuk adalah pijat sekalian ngentot. Tidak sia-sia dia pilih pijat plus-plus, sekarang dia ketagihan ngentot dengan tukang pijatnya.
