Chapter Text
“…bukankah Jaemin sangat tampan?”
“…ya, tapi sahabatnya juga tak kalah tampan. Menurutku Jeno parasnya tidak manusiawi bak dewa Yunani yang turun dari langit…”
“…ck, ya itu seleramu. Tipeku lebih ke Jaemin yang senyumannya sangat manis, dan menurutku senyumnya layak mendapatkan penghargaan Oscar. Mana selain tampan dia juga baik, ramah sekali, tidak segan membantu yang lain. Sungguh kriteria yang sangat cocok dijadikan kekasih…”
“…iya, aku juga naksir sekali dengan Jaemin. Ketika dia sibuk dengan kameranya—UGH TAMPAN DAN SEKSI. Pasti sangat beruntung siapa pun omega atau beta yang berakhir menjadi pasangannya, dan mungkin saja akan dijadikan muse sepenuhnya oleh Jaemin…”
“..Jeno juga tidak kalah seksi. Aku pasti iri sekali dengan siapapun yang berakhir jadi pasangan mereka. Mana keduanya juga begitu beruntung dianugerahi otak pintar, kekayaan dan paras tampan bersamaan…”
Haechan merotasikan bola matanya, muak dengan bisik-bisik yang dia dengar dari sekitarnya. Gerombolan perempuan itu tidak ada habisnya kalimat yang mereka dengungkan ketika membahas para lelaki tampan. Bahkan mereka juga tak tahu malunya bersikap memilih sesuai selera seperti sosok yang dibahas mau saja terhadap mereka.
Sebelumnya ia berniat untuk mencari udara segar seraya makan siang setelah menghadapi kelas yang memusingkan. Tetapi kebisingan di sekitarnya tak bisa diajak bekerja sama. Mereka terlampau berisik.
“Kak Haechan, mau pesan apa?”
Itu suara Park Jisung, kawan dekat satu-satunya yang Haechan punya. Pemuda bertubuh jangkung itu memanggilnya kakak meski mereka satu angkatan, karena mengikuti akselerasi ketika di sekolah menengah dahulu.
“Terserah, aku ikut denganmu saja. Sedang malas berpikir.” Jisung hanya mengiyakan kemudian berlalu pergi untuk memesan.
Selepas Jisung pergi, Haechan menjulurkan lengan kanannya di meja lalu merebahkan kepalanya dengan nyaman. Waktu berangsur terlewat, dan Haechan berubah mudah sekali untuk hanyut dalam lamunannya sembari melihat orang-orang yang sibuk di sekelilingnya.
Entah mengapa, ia selalu menemukan hal ini sebagai kegiatan yang menenangkan bagi hatinya di kala merasa cukup resah ataupun lelah.
*
“Aku pergi ke kamar mandi dulu, tunggu saja di halte, aku tidak akan lama!” Haechan sedikit berteriak sembari berlari kecil, ia menahan kencing agak lama, semenjak makanannya belum habis tetapi masih enggan pergi kamar mandi karena ingin sekalian beranjak pulang.
“Huft, selesai, leganya...”
Selesai menuntaskan panggilan alamnya, Haechan mencuci tangan. Ia orang yang sangat menjaga kebersihan omong-omong, jadi tentu tidak akan pernah melewatkan untuk bersihkan tangan dengan benar.
Tatkala asyik mencuci tangan, Haechan mendadak mencium feromon pekat yang menguar perlahan memenuhi seluruh kamar mandi. Mengerutkan kening bingung, lalu membalikkan badan, memastikan apakah memang ada orang lain yang berada di sini selain dirinya.
Dan ya, nyatanya memang ada salah satu bilik yang tertutup. Mengedikkan bahu berusaha abai, Haechan pun terburu menyelesaikan urusan cuci tangannya. Tidak terdengar suara apa pun dari bilik itu, dan firasatnya keras mengatakan guna cepat pergi menjauh.
“Sial,” Haechan menggerutu kesusahan mengambil tisu. Ia merasakan feromon yang semakin terasa berat dan mengganggu dalam hidung ini berefek membuatnya kesulitan. Pusing mendera, gerakan tangannya menjadi patah-patah.
“Tidak...” Tak hanya gelombang pusing yang mendatanginya, kini ia juga merasa feromon ini beralih memberikan efek tenggorokannya tercekat. Ia bertambah kesulitan bernapas sebagaimana mestinya.
Sulit. Haechan tak bisa menempatkan fokus matanya lagi. Berusaha membuang tisu, tetapi pandangannya justru berubah pecah menjadi bayangan yang bertumpuk. Dua, tiga, empat, lalu melebur menjadi banyak yang tak sanggup dirinya hadapi lagi.
Sehabis merundukkan kepala untuk membuang sampah yang nyatanya pun gagal, Haechan tak bisa berdiri tegak lagi. Tubuhnya hilang kendali, feromon ini sungguhan membuatnya tak bisa sepenuhnya mengendalikan tubuh.
Tak lama, tubuhnya terjatuh, tak kuat membendung tekanan feromon tak dikenal yang membuat tubuhnya lemas dan terus kepayahan begini. Sebelum ketidaksadaran sepenuhnya datang membendung, Haechan melihat bayangan seseorang bertubuh jangkung keluar dari bilik kamar mandi.
Jaemin. Ia bisa melihat bila itu Jaemin.
Haechan sedikitnya merasa lega bila itu ternyata adalah Jaemin yang mashyur dengan sifat baiknya. Firasat buruknya tadi terhadap seseorang di balik bilik toilet itu bisa saja keliru.
Ia yakin aman, ia pasti akan aman.
*
“Sudah?”
Sejenak setelah terdengar suara seseorang jatuh di dalam, Jeno yang semula berjaga di luar, membuka pintu untuk memeriksa langsung.
Matanya menangkap Jaemin yang tengah jongkok mengamati seseorang yang terlihat sudah tak sadarkan diri itu. Sepertinya rencana kawannya itu berhasil. Membuat omega yang dituju jatuh pingsan.
“Aku akan membawanya, kau pastikan agar kawannya tidak membuat kehebohan.”
