Actions

Work Header

Vale Dicere, Jayendra.

Summary:

Jika di dunia ini memang ada kehidupan selanjutnya (reinkarnasi), maka izinkan aku menyampaikan pada diriku di masa depan bahwa jangan percaya semua yang tak nyata seperti rasa cinta. Sebab itu, mengenalmu membuat jiwaku semakin enggan bertemu denganmu, kekasihku. Satu hal yang ingin aku ulang hanyalah masa dimana tatapanmu seperti planet venus, begitu panas hingga membuatku menaruh hati padamu. Namun panasnya rasa cintamu perlahan berubah menjadi sebuah obsesi yang membelengguku hingga jiwaku terasa tak bersisa. Namun, rasa cintaku padamu sedalam segara. - Rasmika Samira.

Notes:

ALERT!!
This work 10000% fiction, jangan pernah kaitkan semua hal yang ada di narasi ini dengan Lee Jooyeon in real life. karya ini saya posting dengan banyak pertimbangan, jadilah pembaca yang bijak.

With love, Elle.


Casts:
Lee Jooyeon as Jayendra Lucian
Original Character as Rashmika Samira

Work Text:

 

Orator dan sastrawan seringkali dibayangkan sebagai kolaborasi ideal. Pidato bersemangat orator membakar antusiasme audiens, diperkuat syair-syair puitis dalam naskah pidatonya.  Hal serupa juga menjadi imajinasi Rashmika Samira, sastrawan yang karyanya, di Masa lalu, mencapai puncak kegemilangan.  Meskipun tak seterkenal Tan Malaka atau Pramoedya Ananta Toer, karya Rashmika bagai tombak perunggu yang begitu tajam digempur oleh gejolak negara diperiode itu.  Keindahan diksinya membuatnya dikagumi, kendati pernah dilarang publikasi oleh pemerintah. Kini, karya-karyanya dirindukan banyak orang, sebagaimana cahaya senja yang menerangi keindahan sastra dalam lembaran buku.

Kala itu, jantung Rashmika berdebar-debar seiring dengan cepatnya pena melukiskan kata-kata indah di atas lembaran kertas putih. Pertemuan dengan Jayendra Lucian, kekasih hatinya. Jayendra adalah sosok yang begitu piawai berbahasa dan mampu membakar semangat pendengarnya. Nama Jayendra telah terukir dalam hati Rashmika hingga ke lubuk kalbu terdalam.

Namanya akan selalu menjadi nama terindah yang terukir dalam hatinya.  Kata-kata Jayendra yang penuh semangat membangkitkan motivasi untuk menyelesaikan jilid-jilid roman yang dikutip dari cinta mereka yang mengharukan. Semangat itu membara bagai api yang terus menyala. Namun, kisah cinta yang menggelora itu telah berlalu; tujuh tahun setelahnya, Rashmika dan Jayendra mengikatkan janji suci di hadapan tuhan dan saksi-saksi, menandai perjalanan baru dari cinta mereka yang begitu membara dan panas diredam oleh cincin perak yang saling memeluk jemari manis mereka dengan hangat.

Pernikahan Rashmika dengan Jayendra Lucian, pria yang Rashmika cintai sepenuh hati dan ia pilih untuk menjadi teman hidupnya bersama hingga akhir hayat. Kini, usia pernikahan mereka telah memasuki usia tiga belas tahun. Kenangan indah pemberkatan mereka di altar, dengan gaun putih yang begitu elok, wajahnya begitu dipenuhi kebahagiaan, senyumnya yang hangat bagai mentari pagi menyinari hidupnya yang kala itu penuh kelabu, masih terasa begitu nyata. 

Tatapan dan suaranya yang berat, dalam, dan serak saat mengucapkan janji suci di hadapan para saksi tetap terukir jelas dalam ingatan, meskipun waktu berlalu begitu cepat. Lambat laun bahtera pernikahan yang awalnya begitu hangat, dan indah mulai ditumbuhi karang dan lumut yang menjadi akar kesalah pahaman dan awal dari obsesi dari Jayendra dimulai.

Namun, demi kebahagiaan rumah tangga, Rashmika akan selalu berupaya maksimal, meskipun itu berarti harus menanggung penderitaan atau pengorbanan besar. Itulah pilihan dari Rashmika itu sendiri. Maka dirinya akan membuat kehidupan pernikahnnya seindah jalan yang bertaburan bunga. Meski faktanya Rasmika terjebak didalam neraka yang tanpa ujung.

Kehangatan penggambaran Rashmika tentang Jayendra memudar seiring ia menatap cermin didepannya kondisi mengenaskan yang dialaminya. Wajahnya dihiasi lebam-lebam ungu bagai bunga busuk yang mekar di musim yang salah; rambutnya tinggal separuh, rontok perlahan bak dedaunan yang dipaksa gugur oleh sang badai. Tubuhnya penuh guratan luka, biru dan merah berlapis, seakan setiap inci kulitnya menyimpan kisah penyiksaan yang tak pernah diberi jeda hanya untuk bernapas. Rashmika menghapus air matanya lalu mengusap perut ratanya dengan penuh kesedihan. Entah, seberapa lama lagi dirinya akan tahan dengan obsesi suaminya pada diri Rashmika.

Beberapa saat kemudian, pintu rumah mereka terbuka. Jayendra telah tiba. Kali ini wajah Jayendra dipenuhi luka, dan amarahnya yang meledak-ledak. Kehadiran Jayendra yang membuat gadis kecil itu berlindung di balik kaki Rashmika. Tubuh mungilnya begitu gemetar ketakutan saat mendengar teriakan Jayendra memanggil nama sang istri. Kemanakah hilangnya diri Jayendra yang lembut dan begitu penyayang pada Rasmika dan putrinya.

“RARAS, DIMANA KAMU?!”

Jayendra telah terbakar oleh api amarah. Ia memasuki rumah yang telah berdiri kokoh setelah sebelas tahun lama. Dalam pengaruh alkohol amarah Jayenda sangat mudah tersulut, apalagi jika sang istri tak merespon panggilannya seperti saa ini. Hingga pada akhirnya Jayendra kembali berteriak lebih berang hingga membuat tubuh putrinya gemetar.

Rashmika berjongkok agar sejajar dengan gadis mungil itu, lalu tersenyum menenangkan mengalungkan tali ponsel milik Rashmika dilehernya dan sebuah kertas lusuh berlumuran darah yang telah dilipat rapi.

“Vivi sayang, kamu mau nggak main petak umpet dengan mama dan papa? Vivi sembunyi di kamar, kunci pintunya, nanti mama bakalan menyusul. Ingat.. mama akan mengetuk pintu empat kali kalau mau masuk, selain itu jangan dibukain, ya?”

"Vivi bisa kan ngelakuin itu?"

Gadis kecil itu mengangguk paham dan berlari menuju kamarnya. Saat pintu kamar putrinya tertutup senyum Rashmika hilang secara perlahan. Kini perasaannya dipenuhi dengan rasa takut, jemarinya mengusap perlahan perutnya yang masih rata. 

Hingga kesadarannya kembali saat telinga mendengar teriakan Jayendra yang kian berang,

“Rashmika, di mana kamu?! Jangan sampai aku mengetahui kalau kau bersama ayah anak haram itu, Jawab!!”

Mendengar umpatan suaminya, Rashmika tanpa sadar meneteskan air matanya.  Dengan perlahan ia menyeka air matanya, berusaha meredam gejolak emosi yang membuncah.  Kemudian, sebisa mungkin dengan lembut, ia membopong suaminya yang tak sadarkan diri karena mabuk berat, seraya berkata,

“Mas, aku di sini. Vivi sudah tidak di sini, bukankah kamu sendiri yang menyuruh aku mengembalikannya pada Mas samuel?”

Telapak tangannya melayang bagaikan badai yang menerpa ilalang, meninggalkan guratan merah yang mekar seperti mawar yang berduri di pipi sang istri.

Keheningan tiba-tiba pecah oleh tamparan keras yang menggema diantara istana indah merah. 

Tamparan itu bagaikan badai singkat di tepi tebing; mengguncang tubuh ringkih sang istri, namun tamparan itu tidak menjatuhkan Rashmika. Justru tatapan istrinya yang menelanjangi­—air mata rashmika begitu deras, kekecewaaan lebih dalam dan tajam daripada seribu tamparan yang diterima sebelumnya. Namun, tanpa mereka sadari, Vivi menyaksikan peristiwa itu diam-diam dibalik pintunya yang sedikit terbuka.

“Apa kamu bilang? Mas?!"

"sungguh tidak pantas kamu mengatakan itu didepanku, kamu memang murahan, Ras! Kamu itu milikku bukan milik bajingan itu, kamu istriku Cuma milikku,”

Jayendra tak berhenti mencerca Rashmika dengan kata-kata pedas, dan kembali mengucapkan kalimat yang paling Rashmika sendiri benci, mendengar hal itu membuat air mata Rashmika yang tak terbendung.

Rashmika berkata dengan suara serak dan gemetar menahan tangisnya,

“Maafkan aku, Mas, ini sudah malam. Tidak apa-apa, Raras memang hanya milik Mas Jay bukan milik orang lain. Ayo, aku obati lukamu,” seraya dengan susah payah membopong suaminya Masuk ke kamar.

Bertahun-tahun pengalaman telah menempa ketabahan Rashmika menghadapi situasi tersebut.  Ia menahan tangis, sabar membopong suaminya yang mengigau ke kamar, dan dengan telaten merawat luka-lukanya.  Namun, air matanya akhirnya tumpah saat menatap suaminya yang tertidur lelap dengan wajah penuh lebam dan luka. Tangannya menyapu perlahan wajah suaminya yang terlihat kelelahan. Entah, kenapa wajahnya terlihat begitu damai, wajahnya seperti dulu, seperti saat Rashmika bertemu dengan Jayendra pertama kali.

Andai waktu bisa berulang, Rashmika sangat ingin memperbaiki hubungannya agar hal ini tidak terjadi. Untuk melihat senyum indah sang suami tanpa ada tatapan intimidasi dan kecemburuan yang mendalam padanya.

Rashmika merenukan pengandaian yang tak akan pernah terjadi itu hingga hari berganti.  Namun tak lama setelah itu raut wajah Jayendra mengernyit seolah terganggu dengan sesuatu, hingga pada akhirnya sang tuan memutuskan untuk menyadarkan dirinya. 

Setelah terbangun dari tidurnya yang berat, kepalanya masih berdenyut—sisa racun alkohol yang belum sepenuhnya luruh dalam raganya. Namun yang mengalir dari mulutnya hanyalah racun—makian bertubi-tubi jiwa sang istri yang telah rapuh, bagai kaca tua yang terlepas dari meja yang remuk berkeping-keping di lantai. Tubuh sang istri terlalu lemah untuk melawan; setiap detik siksaan itu hanya menambah luka yang menumpuk di atas luka lama.

Jayendra menuntut dengan cara yang kasar, tak perduli pada tubuh Rashmika yang telah rapuh. Ia tidak menyadari keberadaan kehidupan kecil yang tengah tumbuh di rahim Rashmika. Setiap paksaan itu menjadi luka mendalam bagi sang puan, setiap tarikan napas Rashmika berubah menjadi jeritan yang tertahan. Netra Rashmika mengamati sang suami yang tengah berang diatasnya tanpa memperdulikan sang istri yang mencengkram erat lengan suaminya. Hingga akhirnya, merah itu mengalir, membasahi paha dan seprai—darah yang bukan sekadar cairan, melainkan tanda bahwa ada sesuatu yang jauh lebih berharga direnggut dari dirinya.

“Mas, udah Mas perut Raras sakit” keluh Rashmika namun tidak ditanggapi oleh Jayendra yang Masih mengejar puncak kenikmatannya. Berselang beberapa menit kemudian Jayendra telah mencapai kenikmatannya. 

Jayendra kembali menghujani Rashmika dengan makian—menuduhnya tak mampu memberi keturunan, bahkan melontarkan amarah pada bayangan lelaki lain yang dulu pernah mengaguminya. Padahal, ketika mereka memutuskan mengadopsi Vivi, semua itu lahir dari kesepakatan bersama, dan justru Jayendra sendiri yang paling bersikeras ingin menjadikannya bagian keluarga.

Namun seiring Vivi bertumbuh, obsesi Jayendra kian menggila. Setiap kali Samuel, ayah kandung Vivi, datang sekadar menengok putrinya di rumah ibu Rashmika, api cemburu dalam diri Jayendra membakar semakin hebat. Kunjungan singkat itu, yang tak pernah lebih dari sekadar kasih sayang seorang ayah, selalu dipelintir oleh Jayendra sebagai ancaman—membuat cintanya berubah menjadi jerat, dan kebenciannya menjadi racun yang tak berhenti menetes.

Dalam mabuk berat yang dibalut obsesinya sendiri, Jayendra melampiaskan amarah dengan kekerasan. Rambut Rashmika dijambaknya, tubuhnya diseret tanpa ampun; cengkeramannya meninggalkan jejak sakit yang membuat Rashmika menangis histeris, terhuyung dari koridor kamar hingga ke tepi tangga lantai atas. Namun pandangan Jayendra mendadak kabur, genggamannya terlepas begitu saja. Rashmika pun jatuh, terguling menuruni anak tangga, tubuhnya terhempas keras, berlumuran darah.

Seorang gadis kecil menyaksikan semua itu. Dengan mata basah dan langkah gemetar, ia berlari menghampiri ibunya yang terbaring tak berdaya, darah merembes dari kepala hingga membasahi lantai, mengalir bersama kepedihan yang tak semestinya dilihat mata sekecil itu.

Dengan sisa tenaga yang masih tersisa, Rashmika berbisik lirih, “Sayang... Mama tidak apa-apa... Telepon, ya, Nak... seperti yang Mama ajarkan. Kamu bisa, kan?” Suaranya bergetar, tapi ia mencoba tersenyum, seolah ingin menenangkan jiwa kecil yang tengah dilanda ketakutan.

Sejatinya, Rashmika sudah lama memperkirakan badai ini akan datang—meski tak pernah menyangka begitu cepat merenggut ketenangannya. Yang bisa ia lakukan kini hanyalah menggenggam tangan mungil putrinya yang menangis pilu, sementara jemarinya bergetar saat menekan tombol telepon.

Pernikahan yang dulu tampak begitu sempurna perlahan runtuh, hancur oleh cemburu yang membutakan, posesif yang mencekik, dan obsesi yang akhirnya menjelma tragedi.



Burung-burung berkicau, sinar mentari menembus tirai ungu yang dipenuhi noda darah kering. Namun Jayendra masih terlelap diatas kasur yang masih berlumuran darah yang telah mengering, meski aroma anyir masih setia menempel di kasur kamarnya Jayendra masih terlelap dalam lamunan panjangnya.

Hingga akhirnya ia terbangun, kepalanya berdenyut hebat, seakan-akan pecah. Sunyi yang menyambutnya terasa ganjil; tak ada tawa anak kecil, tak ada suara televisi yang menyala kencang, dan tak ada suara gemerisik perabot yang dipindahkan. Hanya hening yang pekat.

Dengan langkah tertatih, ia menyusuri lorong rumah yang berantakan, dipenuhi pecahan vas, kaca, dan darah yang berceceran hingga tangga. Setiap denyut di kepalanya semakin menyakitkan, sementara pandangannya menangkap bercak darah kering di tangga dan lantai lorong. Alisnya berkerut, ingatannya mendesak, menguak potongan peristiwa semalam—dan bayangan Rashmika, yang entah di mana kini berada.

Nyeri di kepalanya bagai ribuan jarum menancap, membuat langkahnya goyah di puncak tangga. Tangannya meraih pagar, berpegangan seakan nyawanya sendiri tergantung di sana.

Ingatan semalam menyerbu, liar dan tanpa belas kasihan. Seperti pintu neraka yang terbuka, setiap kilatan wajah dan suara kembali menghantam. Ia teringat segalanya—tak ada lagi tempat bersembunyi dari kebenaran yang mengerikan.

Namun jantung Jayendra berdebar hebat, dihimpit oleh rasa bersalah yang mendalam. Ia berlari menuruni tangga, mendapati karpet rumahnya basah oleh genangan darah kering yang cukup banyak. Di sampingnya, sebuah surat lusuh, setengahnya terendam darah, tergeletak.  Sekilas membaca bagian akhir surat yang ditujukan kepadanya sendiri, Jayendra mengenali tulisan istrinya.  Bingung, ia segera mengambil dan membukanya.  Awalnya, senyum tipis terukir di bibirnya, namun  semakin jauh ia membaca, air mata membanjiri pelupuk matanya, matanya memerah, tangannya penuh darah kering.  Dengan langkah tergesa-gesa dan linglung, ia berlari meninggalkan rumahnya, tanpa mengenakan alas kaki apapun. 

Hampa, kosong, otaknya berhenti mencerna apa yang terjadi, telapak kaki Jayendra telah lecet dan dipenuhi luka karena terkena kerikil dan juga panasnya aspal siang itu. Entah, berapa mil lagi yang harus ia tempuh, entah berapa banyak rumah sakit yang ia singgahi, yang ada di otaknya hanyalah Rashmika, Rashmika, dan Rashmika. Wajah Jayendra begitu kacau, begitu pula perasaan dan otaknya, hingga pada akhirnya ia terdiam ditengah riuhnya jalan raya. banyaknya klakson mobil, motor dan juga makian orang sudah tak lagi terdengar. Mungkin ini adalah akhir dari hidupnya dan hukuman baginya karena telah merenggut nyawa orang terkasihnya, hingga sebuah tepukan keras dipundaknya menyadarkan Jayendra. 

 


Teruntuk pada duniaku, pria yang paling aku cintai dan sayangi,  suamiku, Jayendra…

Apakah engkau mendengar bisikan malam yang meratap di sela angin? Di situlah suaraku terkubur, menggigil dalam dingin yang tak kunjung reda. Aku, wanita yang dahulu kauberi mahkota cinta, dan juga ikatan janji suci yang memeluk erat jemari kita, kini hanyalah bayang yang merangkak di antara reruntuhan janji.

Engkau adalah bintang yang dahulu kuarahkan doa padanya, namun cahayamu kini membutakan, hingga aku tersesat dalam kegelapan yang kau cipta sendiri. Tanganmu, yang pernah menjadi pelabuhan lembut, berubah menjadi bilah pedang yang menggores ragaku yang rapuh tanpa ampun.

Istana megah yang kita bangun, wahai suamiku, bukan lagi istana; ia telah menjelma mausoleum tempat kenangan dikubur tanpa nyala lilin. Di setiap dinding, aku mendengar gema jeritan yang tak seorang pun sudi mendengar. Bahkan senyap pun kini menjadi saksi pengkhianatan yang tak pernah terucap.

Aku mencintaimu dengan segenap darah yang mengalir dalam nadiku, aku menyayangimu segenap jantung yang mengalirkan kehangatan pada seluruh tubuhku, namun cinta itu pula yang membawaku ke jurang. Apa arti cinta bila ia hanya meneteskan racun mematikan ke dalam bejana kehidupan? Apa arti janji bila ia terurai jadi belenggu yang mencekik perlahan?

Maka biarlah surat ini menjadi perjamuan terakhir kata-kata kita. Aku menyerahkan sisa nafasku pada pena ini, pena yang pernah kau berikan dengan segenap hatimu. Pena yang menjadi saksi badai yang ada dalam Istana megah yang tak bisa dianggap  rumah, izinkan aku mengguratkan perasaanku dan lukaku dalam lembaran suci karena lidahku telah beku oleh nestapa. Dan dengan segala luka yang tak terhitung, aku berpaling pada satu kalimat yang menjadi pintu penutup segalanya—

Vale dicere, Jayendra.
Selamat tinggal.
Dalam perpisahan ini, cintaku terikat pada keabadian, namun ragaku memilih kebebasan.

— Kekasihmu, Rashmika Samira.