Chapter Text
“jadinya jadi nih?” pertanyaan konyol mark muncul ketika mereka sedang menunggu pesanan makan malam.
donghyuck mengangkat sebelahnya, “apaan sih? apanya yang jadi?”
hiruk pikuk resto yang mereka pilih hari ini cukup susah membuat donghyuck mendengar ucapan mark. salah dirinya juga sih ingin mencoba resto yang sedang viral di tiktok pada jumat malam.
“ck,” mark mendecak, “janji kita kalo udah umur 30 taun!”
donghyuck makin menatap mark dengan aneh, “sumpah gue ga inget.”
“lo lagi deket sama seseorang ga?” tanya mark lagi.
“mark apaan sihhh?” donghyuck jadi bete sendiri ditanya begitu. di umurnya yang mau ke 30 beberapa bulan lagi, pertanyaan udah ada pacar belom? mau gue kenalin ga sama temennya temen gue? udah jadi makanan sehari-hari bagi donghyuck.
dan kini kalimat itu dilontarkan oleh sahabatnya yang notabene tau setiap inci kehidupannya? ngejek ya ni orang?!
“lo beneran lupa.” ucap mark final.
“mending lo langsung to the point deh mark! gue lagi laper ga usah basa basi!”
baru mau mark membalas ocehan donghyuck, waiter datang ke meja mereka.
“thank you,” ucap mark sambil sibuk menukar piring yang salah ditempatkan oleh sang waiter. mark juga menyingkirkan daun bawang di piring donghyuck lantaran pria itu anti dengan makanan tersebut.
“we’re both gonna enter our 30,” mark menjeda kalimatnya, memperhatikan ekspresi donghyuck—apakah lelaki tersebut ingat dengan janji mereka.
sang empu masih asik mengunyah makanannya. pipinya membulat—kebiasaannya menyimpan makanan di pipi sebelum dikunyah.
“lo udah 30 ya!” balas donghyuck akhirnya. mark merotasikan matanya kesal.
“okay, i’m 30 now and will be 31 in a couple of months. lima taun lalu, we promised something. masa lo gak inget sih?!” ada nada frustasi di kalimat mark, bahkan makanan di hadapannya belum tersentuh sama sekali.
“aduuuh mark! lo tau gue pelupa. ini lagi janji lima taun yang lalu. mana gue inget? ini perjanjian tertulis apa lisan deh?!” sungut donghyuck.
mark dilema berat. antara hendak menjitak jidat donghyuck atau mencubit pipi pria tersebut.
dengan kesabarannya yang tinggal sedikit, mark mendesah panjang, “our promise. when we both hit 30.. and still have no partner…,” mark menggantung kalimatnya.
donghyuck yang sedari tadi asik menyantap makanannya, mengangkat pandangannya ke mark.
wait.
mark menyadari donghyuck yang mulai ingat dengan silly promise yang mereka buat.
“you know… combining our assets… less tax to pay… living together…,”
mark terkekeh geli ketika melihat ekspresi donghyuck yang kini sudah sepenuhnya ingat akan janji mereka.
“nikah sama lo..,” lanjut donghyuck pelan.
mark tersenyum, “jadinya jadi ga?”
˙♡˖°🏠 ༘ ⋆。˚
see, the thing about haechan is he knows that mark doesn’t take his rambling seriously.
makanya, ketika mark membawa topik pernikahan tersebut membuat haechan ikut kepikiran berhari-hari. ia kembali mengingat-ingat apa yang men-trigger dirinya mengatakan kalimat tersebut.
“let’s get married when we both hit our thirties!”
crazy ass statement.
haechan ingat.
he’s only 24. saat itu dirinya sudah merasa menjadi orang dewasa seutuhnya.
mendapat pekerjaan dengan gaji yang kompetitif, jam kerja yang tidak membuatnya harus menegak kopi tiga kali sehari dan atasan yang somehow tidak menuntutnya memahami semua pekerjaan di bulan pertamanya bekerja.
he’s grateful.
tapi, menjadi dewasa tentu saja menjadi seseorang dengan tanggungan yang semakin banyak.
haechan tidak pernah mengira bahwa gaji numpang lewat di rekeningnya itu akan benar-benar terjadi pada dirinya.
tagihan kos, listrik, biaya adiknya kuliah, mengirimkan ibunya uang bulanan. semua itu bukanlah tuntutan dari orang tuanya.
haechan isn’t really a sandwich generation. it’s just being an eldest son making him have this responsibility to provide.
haechan was living paycheck to paycheck. it was hard. it is hard being a responsible adult.
apalagi ketika dirinya harus mulai berhemat agar dia bisa tetap bertahan hidup selama sebulan—meskipun dengan gajinya yang sudah di atas umr jakarta. salah satu solusi paling mudah adalah mulai menggunakan transportasi umum.
see, haechan bukanlah anak manja yang tidak bisa naik bus ataupun kereta. tapi haechan tidak menyangka kehidupan keras jakarta benar-benar sekeras itu.
god bless all this people who works from 9 to 5 dan masih berdesak-desakan di tj koridor 9.
hah.
untung saja arah rumah haechan tidak naik bus itu. tapi dirinya pernah sekali harus menaiki koridor tersebut dan itulah yang menjadi titik ia menyerah.
here comes mark.
mark lee. kakak kelas haechan saat sma. yang kemudian lanjut menjadi kakak tingkatnya di kuliah. dan lanjut lagi menjadi mentornya di dunia kerja.
mark lee. yang meskipun mereka hanya selisih satu tahun, haechan selalu merasa lelaki itu jauh memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih banyak dibandingnya.
malam itu, dengan hujan yang sudah membasahi jaketnya, dengan badannya yang baru saja terhimpit puluhan orang, dengan kacamata yang mulai berembun dan dengan jemari yang bergetar menekan layar telepon genggamnya…
…haechan memanggil mark.
˙♡˖°🏠 ༘ ⋆。˚
mark tersenyum penuh simpati melihat haechan yang kini sedang berusaha menghangatkan kedua tangannya pada gelas teh panasnya.
mereka berdua kini sedang berada di salah satu resto bubur favorit mark sambil menunggu hujan reda dan jalanan tidak terlalu macet.
mark yang saat ditelpon haechan memang sedang dalam perjalanan pulang, langsung menjemput lelaki itu ketika mendengar suara getar dari ujung sambungan.
“lagian tumben banget sih lo naik bus? biasanya juga kalo udah malem naik ojol,” ucap mark. haechan hanya merengek pelan.
“gue mau hemaaaat! lo tau ga sih seberapa mahal ojol kalo lagi ujan? masih mending kalo ada yang ambil itu!” semprot haechan pada mark yang hanya tertawa pelan melihat omelan lelaki itu.
“ya udah kan sekarang lo juga udah gue jemput ini,” mark menarik tangan haechan dan melipat lengan kemeja lelaki itu, “makan dulu buburnya. keburu mateng telornya.” suruh mark.
“telornya setengah mateng?” tanya haechan, membiarkan mark mengaduk buburnya.
“yes, just like what you love.” mark tersenyum hangat, sehangat mangkok bubur yang kini berada di antara kedua tangannya.
being with mark is easy.
haechan doesn’t have to think what to do because he has mark to decide it for him.
dari arah jalan pulang, tujuan makan malam bahkan sesimpel jaket untuk menghangatkan tubuhnya pun sudah dipikirkan oleh mark.
on top of that, unlike what people think about both of them, what makes it easy with mark is..
..haechan never falls for him.
serius. dirinya tidak denial. haechan sudah kenyang dengan kalimat ah masa sih ga pernah naksir?! dari jaman sma hingga kuliah. bahkan ada di satu fase hidupnya ia menjauhi mark untuk memastikan apakah dirinya memiliki perasaan lebih pada mark.
hasilnya?
nihil.
mungkin frase platonic soulmate itu benar adanya.
he feels safe with mark. in a way that he can just easily ask mark to help bury a corpse and he will just be on stand by with a shovel.
in a way that haechan can nonchalantly ask him to get married to him by the time they’re thirty.
“let’s get married when we both hit our thirties,” ucap haechan.
mark menatap haechan dengan penuh tanda tanya. alisnya berkerut bingung.
“huh?”
“ayo nikah!” ulang haechan lagi.
“like right now?” tanya mark, mempertanyakan hal yang salah.
haechan menggeleng pelan, “engga. ntar kalo kita udah umur 30 tapi belom ada pasangan.”
“nikah beneran gitu? like for real?” tanya mark memastikan.
“iyeee,” haechan meneguk teh manis hangatnya.
“kenapa tiba-tiba deh?”
haechan terdiam sebentar. pandangannya fokus pada wajah mark yang kini balik menatapnya.
haechan membenarkan posisi kacamata mark yang sedikit miring sebelum berucap, “ga tau. hari ini kerasa cape aja. tapi pas ada lo yang ngurusin gue rasanya enak juga. hehe,” jelas haechan santai, seolah-olah kalimat yang ia lontarkan tersebut hal yang lumrah antar kedua teman.
mark terdiam. mencerna kalimat haechan—memastikan apa yang diucapkan lelaki ini serius atau hanyalah salah satu asbunnya belaka.
“oke. misalnya gue oke nih sama ide ini, untungnya di gue apa?” tanya mark pada akhirnya.
melihat mark yang tumben mau mengikuti alur pembicaraan tidak masuk akalnya, haechan dengan semangat mencondongkan tubuhnya ke arah mark.
“banyak!! pertama, lo bakal dapet suami cakep kayak gue!”
mark mendengus geli yang dibalas dengan rengekan iiih serius! dari haechan.
“kedua! lo ga perlu background check lagi. lo udah kenal gue gimana, orang tua gue, sodara-sodara gue… anjir bahkan lo udah tau medical history gue!” jelas haechan.
mark mengangguk, seolah-olah mencerna penjelasan yang diberikan oleh haechan itu dapat ia pertimbangkan.
“i’m still not convinced,” ujar mark.
haechan mengerang pelan, “okay. think about combining our assets! less tax to pay! nanti spt kita bisa digabung! terus juga asuransi kantor! bayangin lo dapet benefit asuransi dari kantor lo sendiri juga dari kantor gue?!” suara haechan makin menggebu kita ia menyadari banyak benefit kita mereka berdua menjadi pasangan yang terikat secara legal.
mark tertawa, tidak kuat melihat haechan yang kelewat semangat meyakininya untuk menikah.
“kenapa harus umur 30 deh?” tanya mark.
“yaaaah, siapa tau ternyata bulan depan gue punya pacar. siapa tau ini lo lagi deketin orang,” jawab haechan enteng.
“gue lagi ga deketin orang,”
haechan mengangguk paham, kemudian kembali menyeruput teh manis hangatnya.
“ya maksud gue tuh kita kan masih umur 20an yaa. ga ada yang tau jodoh datengnya kapan. nah baru deh pas umur 30 panik-panik dikit. gue yakin sih ortu gue pasti bakal pressure gue buat nikah,” jelas haechan.
selama haechan mengoceh sekaligus curhat, mark hanya menatap temannya itu dalam diam.
“okay. deal. let’s get married when we’re thirty. tapi kalo lo lagi deket sama orang, cerita ke gue ya?”
“ih kenapa gitu?”
mark tersenyum tipis, “isn’t that the least you can do for your future husband?”
haechan terdiam beberapa saat sebelum tawanya pecah. air matanya sampai menetes di pipinya, “oke. jadi deal nih?” haechan mengangkat ibu jarinya ke arah mark.
“deal,” balas mark dengan juga menempelkan ibu jarinya pada milik haechan.
…and just like that, a promise that seemed silly has been sealed.
a promise that will lead to a shift in their friendship.
˙♡˖°🏠 ༘ ⋆。˚
