Work Text:
Ruang latihan malam itu sunyi, hanya terdengar gema samar dari musik yang barusan berhenti dan suara napas berat dari dua orang yang masih bertahan. Udara di dalam ruangan terasa ganjil sekaligus dingin dari hembusan AC, namun juga hangat dan lembab akibat tubuh yang bekerja terlalu keras. Keringat membasahi lantai kayu, menyisakan kilau samar di bawah cahaya lampu putih yang sedikit redup.
Kim Geonwoo duduk di sudut, mengusap wajah dengan handuk, lalu meneguk air dingin. Tubuhnya jelas lelah, namun sorot matanya tetap penuh fokus. Ia lalu melepaskan kaos latihannya, membiarkan udara dingin menyentuh kulitnya yang basah keringat. Otot dada dan perutnya yang kencang tampak jelas, setiap garisnya terpahat oleh jam-jam latihan.
Di sisi lain ruangan, He Xinlong baru saja menyelesaikan killing part yang mereka ulangi berkali-kali. Napasnya memburu, bahunya naik turun, rambutnya basah menempel di pelipis. Ia sempat menunduk, mencoba mengatur napas.
"Kau melakukannya dengan baik, Xinlong-ah," ia menoleh untuk memberi tanggapan pada pujian Geonwoo namun pandangannya justru membeku.
Matanya membesar, menatap tak percaya. Geonwoo kini berdiri, hanya dengan celana latihan dan handuk tersampir di bahunya. Tubuhnya bersinar di bawah lampu, setiap otot bergerak hidup seolah menantang mata siapa pun yang melihat.
Xinlong langsung mengalihkan pandangan, gugup. Tenggorokannya kering, jari-jarinya refleks menggenggam erat botol minum yang ia pegang. Namun matanya, meski berusaha, justru terus kembali mencuri-curi pandang. Dadanya semakin bergemuruh, seolah menari dengan ritme lain yang lebih liar daripada koreografi mereka tadi.
Geonwoo melangkah mendekat, menepuk bahu Xinlong dengan senyum bangga. "Kerja kerasmu luar biasa malam ini. Kau benar-benar cocok untuk bagian itu."
Xinlong hanya mengangguk cepat, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia tidak berani mengangkat kepala, apalagi menatap mata sang leader. Pandangannya tanpa sadar justru kembali jatuh pada dada dan bahu bidang Geonwoo. Ia menelan ludah, berusaha menutupi kegugupannya.
Geonwoo memperhatikan diamnya itu. "Xinlong-ah?" panggilnya sekali. Tidak ada jawaban. "Xinlong-ah," panggilnya lagi, kali ini dengan nada lebih tegas.
Namun yang dipanggil tetap terpaku, tatapannya sulit beranjak dari tubuh di hadapannya. Geonwoo lalu menunduk sedikit, menyadari arah pandangan itu. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Ia menggerakkan bahu Xinlong sedikit, membuat pemuda itu tersentak sadar.
"Kau baik-baik saja?" tanya Geonwoo lembut, meski sorot matanya tajam. "Kenapa kau melamun... dan menatapku seperti itu?"
Wajah Xinlong langsung merona, merah padam sampai ke telinganya. Peluh menetes di pelipis, bukan hanya karena latihan. Ia ingin menjawab, namun suaranya seperti hilang. Bibirnya hanya bergerak pelan tanpa kata keluar.
Geonwoo sedikit memiringkan kepalanya, lalu bertanya dengan nada yang lebih rendah, nyaris seperti bisikan, "Apa kau menyukainya? Tubuhku, kau menyukainya?"
Xinlong tersentak. Matanya melebar, jantungnya berdegup kencang. "A-aku..." Ia tak mampu melanjutkan, kata-katanya mati tertelan gugup.
Geonwoo tersenyum samar, tatapannya penuh teka-teki. Tangan besarnya terulur, bertumpu di bahu kanan Xinlong. Gerakan kecil itu cukup untuk membuat Xinlong mundur selangkah, lalu selangkah lagi, hingga akhirnya punggungnya menempel pada cermin besar di dinding ruangan.
Xinlong menahan napas. "Hyung... apa yang sedang kau lakukan?" suaranya lirih, setengah bergetar.
Geonwoo tidak langsung menjawab. Ia justru mendekat, jarak mereka kian tipis. Nafas hangatnya menyapu kulit leher Xinlong. Dan dengan suara rendah, nyaris seperti gemuruh yang bergetar, ia berbisik di telinga juniornya.
"Kau mau melakukannya denganku, Xinlong-ah?"
Tubuh Xinlong membeku seketika. Matanya terpaku pada bayangan Geonwoo di cermin, bibirnya sedikit terbuka, dadanya naik turun cepat. Detik itu, ia tak lagi tahu apakah yang membuat tubuhnya panas adalah keringat dari latihan... atau sesuatu yang sama sekali berbeda.
Xinlong sempat bergerak, berusaha memberi jeda dengan suara pelan, "M-mungkin... kita sudahi dulu latihan kali ini, hyung. Sudah terlalu larut..."
Namun sebelum kata-katanya selesai, Geonwoo dengan sigap menekan bahu Xinlong hingga punggungnya kembali menempel pada dinginnya permukaan cermin. Sentuhan keras itu membuat napas Xinlong tercekat. "G-Geonwoo-hyung...?" ucapnya, bingung sekaligus gugup.
Senyum miring perlahan muncul di wajah sang leader. Tatapannya menusuk, penuh kuasa, sementara jarak tubuh mereka nyaris tak bersisa. Xinlong hendak memalingkan muka, tetapi terhenti saat merasakan tangan Geonwoo bergerak turun, singgah pada benda milik Xinlong yang sudah menonjol di balik celana latihannya itu. Seketika lututnya melemas, tubuhnya merosot sedikit ke cermin.
"Ah—!" desahan pendek lolos begitu saja. Wajahnya memerah, matanya membelalak, tak percaya pada apa yang sedang terjadi.
"Lihatlah dirimu..." Geonwoo berbisik rendah, hampir seperti gumaman yang hanya bisa didengar Xinlong. "Tubuhmu lebih jujur dari kata-katamu."
"G-geonwoo-hyung... apa yang kau—" suara Xinlong patah, bercampur antara protes dan panik.
Geonwoo menatapnya lekat, seolah menikmati setiap perubahan ekspresi di wajah si dongsaeng yang merah yang merambat, napas terengah, tatapannya kacau. "Jangan bilang padaku kau tidak menikmatinya," ujarnya, nadanya setengah menggoda setengah menantang.
"Ja-jangan, hyung..." Xinlong tergagap, suaranya bergetar.
"Jangan apa?" Geonwoo mendekat, bibirnya nyaris menyentuh telinga Xinlong. "Jangan berhenti... hm?" katanya pelan, membuat tubuh Xinlong bergetar.
Kepala Xinlong menggeleng cepat, mencoba menyangkal meski jelas tubuhnya sudah kehilangan kendali. "H-hyung... Jangan..." suaranya hampir memohon. Xinlong menggigit bibir bawahnya, kepalanya menggeleng pelan. Ia masih ingin mempertahankan sisa harga diri, sisa kendali yang ia punya.
Senyum Geonwoo perlahan memudar. Yang tersisa kini hanya sorot tegas, penuh dominasi. Tangan satunya terangkat, menangkup wajah Xinlong dengan kuat, memaksanya menatap. "Jangan munafik, Xinlong. Aku bisa melihat semuanya. Aku tahu kau menikmatinya."
Xinlong belum sempat menjawab. Detik berikutnya, Geonwoo sudah meraih bibirnya. Ciuman itu datang tanpa ampun, cepat, dalam, penuh tekanan. Xinlong terkejut, tubuhnya otomatis berusaha mendorong, tetapi Geonwoo menekannya makin erat ke cermin. Nafas Xinlong terjebak, erangan kecilnya tertelan oleh ciuman yang semakin berantakan.
"Mmhh—" Xinlong menggeleng, meronta, namun tangan Geonwoo justru semakin mendesak, satu menahan wajah, satu lagi menyusup ke balik kaos latihan yang sudah basah oleh keringat. Sentuhan itu menyapu kulitnya, melewati perut hingga dada, membuat tubuh Xinlong semakin tak karuan.
Setiap gerakan seperti menciptakan gelombang baru dalam dirinya. Panas dan dingin bercampur, seolah seluruh ruangan mengurung mereka dalam pusaran emosi yang sulit dipahami. Xinlong terengah, tenaga terkuras habis setelah berjam-jam latihan, kini bercampur dengan sensasi yang terlalu asing untuk ia kendalikan.
Geonwoo semakin dalam menekan ciumannya, berhasil membuka bibir Xinlong hingga lidahnya mendominasi, menguasai. Xinlong hampir tercekik oleh perasaan bercampur aduk ini, antara lelah, terjebak, sekaligus terpikat oleh cara sang leader mengambil alih kendali.
Dalam benaknya, ia ingin berteriak, ingin menghentikan semua, tetapi tubuhnya tak lagi tunduk pada pikirannya. Yang tersisa hanyalah debar jantung yang berlari kencang, napas yang memburu, dan tatapan Geonwoo yang tak memberinya ruang untuk lari.
Geonwoo melepaskan ciumannya pada Xinlong, lalu tanpa ragu merobek kaos latihan tipis yang melekat di tubuhnya. Kain itu robek dengan mudah, meninggalkan keduanya telanjang dada. Xinlong tersentak, tubuhnya membeku, namun belum sempat bereaksi, Geonwoo sudah memutarnya dengan cepat. Kedua tangan Xinlong dikunci di belakang, sementara dadanya terdorong menempel erat pada cermin dingin yang mulai berembun.
“Ahkh—” suara Xinlong pecah, terdengar lebih sebagai permohonan ketakutan daripada protes. “Hentikan, hyung… aku tidak bisa…”
Geonwoo justru menyeringai, mendekatkan wajahnya hingga napas panasnya menempel di tengkuk Xinlong. “Kau sudah menyalakan api duluan. Kau pikir aku akan membiarkannya padam begitu saja?”
“A-apa maksudmu—ahh!” seruannya terputus, berganti desahan ketika Geonwoo mulai menyerbu tengkuknya. Bibir Geonwoo menyusuri lehernya dengan kasar namun terukur, meninggalkan jejak hisapan panas bercampur gigitan seperti binatang buas yang menemukan mangsanya. Setiap sentuhan membuat tubuh Xinlong bergetar hebat, seolah seluruh tenaganya terkuras.
“Hyung… kumohon…” Permohonannya menguap di udara, ditelan kabut tipis yang menempel di permukaan cermin. Namun Geonwoo tidak mengindahkan, malah semakin menekan tubuh mereka berdua ke cermin.
Tangan Geonwoo mulai menjalar memasuki celana Xinlong dan langsung meremas pantat lembut itu. "G-Geonwoo-hyunghh..." Jari-jarinya mulai menggoda dinding lubang Xinlong yang tampaknya masih perawan itu.
"Ahk! Hyung?! Hentikan... Kumohon! Ahh..." Xinlong meronta saat satu jari Geonwoo mencoba menembus lubang pantat Xinlong yang masih rapat itu. Benar-benar sensasi yang luar biasa bagi Geonwoo, melakukannya dengan yang masih perawan itu bagaikan menemukan harta karun yang sangat langka.
"Aku akan merusak keperawananmu malam ini, He Xinlong." suara rendah Geonwoo mendesis tepat di sebelah telinga Xinlong. Napasnya mendadak memburu, nyaris tersengal. Ia berusaha berteriak, namun telapak tangan Geonwoo sudah menutup mulutnya, menenggelamkan semua perlawanan yang tersisa. Tubuhnya hanya bisa meronta kecil, sementara desakan Geonwoo membuatnya semakin terpojok.
Dalam keheningan remang ruang latihan, suara embusan napas mereka memenuhi udara. Geonwoo akhirnya melepaskan genggamannya sebentar, melangkah cepat mengunci pintu, lalu mematikan lampu utama menyisakan satu cahaya redup yang menyorot tubuh Xinlong yang sudah limbung.
Xinlong merosot ke lantai, napasnya terengah tak karuan. Kesempatan itu hampir bisa ia gunakan untuk kabur, namun terlambat, tatapan tajam Geonwoo kembali mengurungnya, dingin sekaligus membara.
Xinlong mundur sampai punggungnya menempel ke dinding. Geonwoo ikut berjongkok, menatap lurus dengan senyum samar yang sulit ditebak. Xinlong memeluk lututnya, menunduk, namun wajahnya segera ditangkup paksa, dipaksa menatap langsung ke mata lawannya.
“G-geonwoo hyung... apa yang kau lakukan?” suaranya bergetar, campuran antara takut dan bingung.
Geonwoo terkekeh pelan. “Kau pikir aku tidak menyadarinya? Dari awal kita satu tim, aku tahu kau selalu mencuri pandang padaku. Kau tak bisa lagi menyangkalnya, Xinlong.”
Mata Xinlong membesar, jantungnya seolah berhenti sesaat. Ia ketahuan.
Geonwoo tersenyum miring, lalu tanpa aba-aba melepas celana latihan Xinlong, menariknya dengan cepat. Tubuh Xinlong ditengkurapkan ke lantai, lalu dengan cekatan Geonwoo menindihnya, kedua tangan Xinlong diikat ke belakang punggung dengan celana yang barusan direnggut darinya.
"Hyung! Hentikan... Kumohon..." Xinlong meronta, tapi tenaganya sudah habis. Yang tersisa hanyalah degup jantung yang berdentum keras, dan perasaan terperangkap dalam permainan berbahaya yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Geonwoo perlahan berdiri, melepaskan celana yang masih menempel di tubuhnya. Dalam sekejap, keduanya kini sama-sama tanpa sehelai kain pun, hanya tubuh yang telanjang menghadapi dinginnya ruangan berembun itu.
Xinlong, yang masih berlutut, menoleh sekilas dan pandangannya membelalak. Nafasnya tercekat, tubuhnya bergetar hebat saat menyadari betapa besar, keras, dan panjangnya penis milik Geonwoo. Xinlong membayangkan betapa hancur tubuhnya jika Geonwoo menusuknya paksa dengan penis monster itu membuat jantungnya memukul-mukul dadanya dengan keras, seakan ingin meloncat keluar.
Geonwoo menunduk, tatapannya tajam, lalu menarik Xinlong agar benar-benar berlutut menghadapnya. “Kau sangat cantik, Xinlong-ah...” gumamnya pelan, meringis puas. Ia memperlakukan Xinlong dengan cara yang membuat yang lebih muda tak berdaya, hanya bisa menggertakkan gigi dan menahan harga dirinya yang terkoyak.
Tangan Geonwoo kemudian menangkup wajah Xinlong, memaksanya menatapnya. Tatapan keduanya bertemu, Xinlong bergetar hebat, matanya sudah berkaca-kaca, sementara Geonwoo justru semakin menikmati keadaan. Perlahan, Geonwoo memaksa mulut Xinlong terbuka, menuntunnya pada posisi yang tak mungkin ia elakkan.
“Buka mulutmu,” ucap Geonwoo, nada suaranya rendah namun penuh perintah.
Xinlong terpaksa menuruti, meski tubuhnya menegang. Lansung saja Geonwoo memasukkan penis besarya itu secara paksa ke dalam mulut hangat Xinlong. Geonwoo menjambak rambut merah itu, mengendalikan setiap gerakan kepala Xinlong maju-mundur dengan tempo yang ia inginkan. Sensasi hangat, basah, dan ketat pada mulut Xinlong membuatnya menggila.
"Ahrghh..." Suara berat Geonwoo terdengar samar, bercampur dengan desahan puas yang membuat Xinlong semakin sulit menahan diri. Tenggorokannya terasa terbakar, air mata jatuh satu per satu di pipinya.
Xinlong mencoba menggeleng, melawan dengan sisa tenaganya. Namun Geonwoo justru semakin menekan, semakin dalam, seakan ingin memastikan tak ada ruang tersisa untuk perlawanan. Nafas Xinlong tersendat, dadanya naik turun mencari udara yang seolah enggan masuk.
"Xinlong-ahh... Aku keluar! Ahrghh..." Ketika akhirnya suara rendah Geonwoo pecah, ruangan seakan bergetar oleh desahan panjangnya. Xinlong tercekat, mulutnya dipenuhi rasa asing dari cairan kental yang membuat wajahnya memerah menahan perih dan jijik. Ia ingin memuntahkannya, tapi Geonwoo belum membiarkannya.
Tangan sang leader meraih dagu Xinlong, mendongakkan kepalanya hingga mata mereka kembali bertemu. Senyum tipis namun dominan menghiasi bibir Geonwoo, kontras dengan air mata yang masih menetes di wajah Xinlong.
“Telan semuanya,” bisiknya tajam, nyaris seperti perintah mutlak.
Xinlong terisak, namun tak ada pilihan lain. Dengan tubuh gemetar, ia akhirnya menuruti. Geonwoo menghela napas panjang ketika akhirnya melepaskannya, merasa puas.
Xinlong hampir ambruk, pikirannya dipenuhi harapan bahwa semua ini sudah selesai karena Geonwoo sudah klimaks. Tapi Geonwoo hanya tersenyum samar, mendekat kembali, menunduk ke telinganya dan berbisik dingin, “Itu baru pemanasan, Xinlong. Malam ini masih panjang.”
“Kumohon, hyung… hentikan. Aku tidak mau melakukannya…” Suara Xinlong pecah, nyaris serupa rintihan. Napasnya bergetar, matanya berkaca-kaca, tapi Geonwoo hanya berdecak, menyeringai samar.
“Hei, kau ini tidak menyenangkan. Aku masih sanggup melakukannya Xinlong-ah… bahkan sampai pagi kalau aku mau.” Nada suaranya rendah dan teredam, namun penuh penekanan yang membuat bulu kuduk Xinlong berdiri.
Tenggorokan Xinlong tercekat. Ia menelan ludah dengan gugup, tubuhnya gemetar setengah mati. Rasa takut bercampur dengan sesuatu yang asing, membuat pikirannya semakin kacau.
Geonwoo kemudian mengubah posisinya dengan kasar. Pantat Xinlong sudah menjulang tinggi, sementara dadanya menempel erat di lantai dingin. Ia terjebak, tak punya ruang untuk kabur. Tamparan keras mendarat di pantatnya membuat suara berat Xinlong lolos dari bibirnya tanpa bisa ditahan.
“Hhh—!” Xinlong meracau, wajahnya memanas, suaranya terdengar berat dan terputus-putus. Geonwoo menyukainya. Tatapan matanya memantulkan kepuasan, seakan setiap reaksi Xinlong adalah bahan bakar bagi dirinya.
"Ahh!" Tamparan kedua menyusul, membuat kulit Xinlong perih dan panas, meninggalkan bekas samar yang berdenyut. Tubuhnya semakin gemetar, sementara Geonwoo hanya menunduk, memperhatikan ekspresi bingung dan putus asa di wajah yang lebih muda.
Tiba-tiba, sensasi asing menjalari tubuh bagian bawahnya, tepatnya pada dinding lubang pantatnya itu. Lembut, hangat, basah juga geli yang membuatnya spontan meronta. “A-apa… ini…?” pikirnya kalut. Nafasnya tercekat, kepalanya menoleh setengah, dan benar saja, Geonwoo sedang melahap pantatnya dengan nikmat, ini pertama kalinya Xinlong di rimming.
“Hyung, hentikanhh!” serunya panik. Namun suara itu tak digubris, justru tamparan lain mendarat, membuat tubuhnya kembali terlonjak.
“Ahhk—!” pekiknya terlepas, kali ini lebih keras. Ia ingin menahannya, menutup bibir rapat-rapat, tapi tubuhnya tak patuh. Sensasi menggelitik, asing, dan memabukkan itu terus menyeruak, menyerang pertahanan terakhirnya.
Xinlong menggeleng cepat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Tidak… tidak… aku tidak bisa… Ahh... Hnghh...” desahnya bergetar. Ia menangkupkan bibirnya dengan gigi, berusaha menahan suara yang hendak pecah, tapi tubuhnya terus berkhianat.
Geonwoo mendengus keras, napasnya semakin berat, jelas dibuat makin bergairah oleh suara Xinlong. Ada kilatan ganas di matanya. “Suaramu… luar biasa,” gumamnya rendah, hampir seperti bisikan yang menelan sisa-sisa keberanian Xinlong.
Sementara itu, Xinlong hanya bisa terpuruk, tubuhnya gemetar, wajahnya memerah antara malu dan putus asa. Ia merasa pikirannya makin jauh dari kewarasan, seolah suara dan tubuhnya tak lagi miliknya.
“Cuih!” Geonwoo meludahi dinding lubang Xinlong, tepat di belahannya. Xinlong tersentak, matanya membelalak kaget. “Hyung, kau sudah gila!” suaranya pecah, penuh campuran marah dan takut.
Alih-alih tersinggung, Geonwoo justru tertawa rendah, menunduk mendekat hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Xinlong. “Ya… aku memang gila. Dan tahu kenapa? Karena kau yang membuatku begini. Jadi, kau harus bertanggung jawab… kembalikan aku pada kewarasanku.”
Xinlong mendelik, berniat membalas ucapan itu, namun sebelum sempat, teriakan kerasnya pecah. Penis Geonwoo tiba-tiba menghantam paksa masuk ke pantat Xinlong, menembus lubang perawan itu tanpa memberi jeda. Tubuh Xinlong bergetar hebat, lututnya hampir ambruk.
“Ahhhkk—!” jeritnya pecah, diikuti isakan. Matanya memanas oleh air mata, tubuhnya seakan terbakar oleh sensasi yang datang sekaligus, panas, sesak, perih, dan asing. “Hyung… hentikan… lepaskan aku…! Sakit...” rintihnya.
"Ahrghh! Diam saja!" Namun Geonwoo hanya menggeram, rahangnya mengeras. Ucapan Xinlong tak lagi ia hiraukan.
Ikatan di tangan Xinlong dilepas, tapi bukannya membebaskan, Geonwoo malah menarik kedua tangannya ke belakang, membuat tubuh ramping Xinlong melengkung ke belakang. Posisi itu membuat Xinlong semakin tidak berdaya, sementara Geonwoo berlutut di belakangnya, menguasai penuh.
“Ahhh… ahhh… hnghh…!” suara Xinlong pecah-pecah, bergema di seluruh ruangan. “Xinlong-ah… kau membuatku gila... Hnghh...” racau Geonwoo dengan suara parau, dekat sekali di telinganya. Nafasnya membakar. “Kau bahkan lebih rapat dari yang kubayangkan…”
Tubuh Xinlong terhentak-hentak mengikuti irama yang dipaksakan padanya. Sekuat apapun ia menolak, tubuhnya berkhianat, mengeluarkan suara-suara yang justru membuat Geonwoo semakin liar.
"Geonwoo-hyunghh... Ahh... Akh! Ah... Ahh..."
Satu tangan Geonwoo melepas cengkeraman, namun bukan untuk memberi kebebasan. Tangannya meraih rambut merah Xinlong, menarik kepalanya ke belakang hingga wajah Xinlong terangkat, lehernya terekspos. Tubuh mereka semakin rapat, dada bertemu punggung, napas panas Geonwoo mengalir di telinga Xinlong.
“Kau menikmatinya, bukan? Katakan, Xinlong… kau menyukainya, hm?” suara berat itu menghantam telinganya, menusuk langsung ke kepalanya.
"A-Aku tidak tahu... Anghh! Hyunghh... Ini aneh... Ahh... Ahhh..." Xinlong menggigit bibirnya, ingin menyangkal, tapi suaranya sudah tak bisa ia kendalikan. Hanya racauan, isakan, dan namanya yang berulang kali ia serukan. Semua itu justru mendorong Geonwoo semakin cepat, semakin keras, hingga tubuh Xinlong terguncang habis-habisan.
Gesekan keras dengan lantai membuat lutut Xinlong memerah, bahkan mungkin lecet. Namun rasa itu tak lagi dipedulikannya, tenggelam oleh sensasi berlapis yang memaksa dirinya kehilangan kendali.
Ruangan latihan itu kini hanya dipenuhi gema dari suara mereka, benturan tubuh, hembusan napas kasar, dan seruan tak terkendali.
""Ahkhhh!" Hingga akhirnya, saat keduanya mendesah bersamaan, Geonwoo merapat erat ke tubuhnya, dan kehangatan membanjiri perut bagian dalam Xinlong.
Geonwoo mendengus panjang, puas, seolah semua gairah gilanya tersalurkan. Xinlong ambruk, tak kuasa menahan tubuhnya yang lunglai. Ia jatuh ke belakang, langsung ditangkap oleh lengan kokoh Geonwoo yang merengkuhnya dari belakang.
Keduanya terdiam, hanya suara napas mereka yang berat dan tidak teratur. Tubuh mereka basah oleh keringat, lengket, licin, namun tetap saling melekat.
Napas mereka berdua terengah-engah, beradu dalam ruang yang kini pengap oleh panas tubuh. Keringat mengalir, membasahi kulit yang saling menempel tanpa jarak. Xinlong merasa kepalanya berputar, dada naik turun tak beraturan. Ini… pengalaman pertamanya. Ia sendiri bahkan tidak tahu apa sebenarnya yang ia rasakan, apakah sakit, nikmat, atau justru hampa. Yang ia tahu, tubuhnya sudah kelelahan, pikirannya ingin percaya bahwa semua ini telah berakhir.
Namun dugaan itu keliru. Geonwoo masih enggan melepaskannya. Penis Geonwoo masih menancap dalam lubang Xinlong, membuatnya merasa penuh, sesak, dan nyaris tercekik oleh sensasi yang tak kunjung reda.
“Hyung…” suara Xinlong serak, hampir tak terdengar. Ia pikir lelaki itu akan berhenti. Namun detik berikutnya tubuhnya diangkat, diputar tanpa peringatan. Seketika ia terguncang, terkejut, kedua kakinya refleks melingkar erat pada pinggang Geonwoo, lengannya menaut di lehernya, seperti seekor koala yang terpaksa mencari pegangan.
“Ah—!” Xinlong tersentak, matanya melebar. Perubahan posisi itu membuat dirinya semakin tak berdaya. Penis besar Geonwoo semakin menekan dan menusuk di dalam lubangnya, begitu dalam hingga ia merasa seolah menembus hingga ke usunya.
“Lepaskan, Hyung! Aku tidak sanggup lagi… kumohon…” isak Xinlong pecah, tubuhnya meronta, namun genggaman Geonwoo tak tergoyahkan. Justru yang terdengar hanya tawa rendah lelaki itu, disusul dengan senyum tipis yang membuat darah Xinlong semakin berdesir takut.
“Lihatlah…” bisiknya, menggerakkan dagu Xinlong agar menoleh ke arah cermin besar di hadapan mereka.
Xinlong menatap dan nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Rambutnya berantakan, wajahnya basah oleh keringat dan air mata, tubuhnya gemetar tak beraturan. Ia tampak begitu kacau, begitu telanjang, begitu rapuh, sementara Geonwoo di belakangnya, menempel erat, sepenuhnya menguasai.
“Kau tidak pernah menyangka, kan?” Suara berat Geonwoo terdengar jelas di telinganya, mencengkeram pikirannya lebih dalam daripada genggaman tubuhnya. “Bahwa aku… orang yang merebut keperawananmu.”
Mata Xinlong berkaca-kaca, nyaris pecah oleh tangisan yang tertahan. Ia tidak tahu lagi harus menolak atau merelakan. Tubuhnya lelah, suaranya patah, pikirannya kosong. Ia hanya bisa diam, membiarkan Geonwoo memainkan dirinya seperti boneka yang kehilangan daya.
Geonwoo akhirnya membawa Xinlong bersandar pada dinding, tubuhnya masih terangkat dalam gendongan itu. Pergerakan Geonwoo yang naik turun membuat tubuh Xinlong terhentak-hentak tak beraturan, setiap hentakan membuat suara tercekat lolos dari bibirnya.
“Ahh… hyung… Geonwoo-hyung… Terlalu dalam! Akhh!” racau Xinlong dengan suara bergetar, kepalanya menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang penuh rasa malu. Namun suaranya tetap pecah, bergema di ruang yang sepi.
Di telinganya, suara berat Geonwoo terdengar begitu dekat, nyaris mendesah, “Xinlong-ah… kau masih saja begitu ketat… begitu menyesakkan.” Nada itu bercampur geraman rendah yang membuat tubuh Xinlong semakin gemetar.
Ia hanya bisa mengangguk tidak jelas, tubuhnya lemas, kepalanya terkulai di bahu Geonwoo, mencoba bersembunyi dari kenyataan bahwa ia tidak bisa lagi menahan reaksi tubuhnya sendiri. Setiap kali Geonwoo menghentak, titik rapuh dalam dirinya tersentuh tanpa ampun. Hingga akhirnya, tubuhnya bergetar hebat, napasnya patah, dan ia tak mampu lagi menguasai diri.
“Akhhh! Geonwoo-hyung… hyunghhh… ahhh…” Suara Xinlong bergetar, terputus-putus, setiap kali tubuhnya tersentak oleh hentakan. Rasanya seperti ada gelombang yang tak henti-henti menerjangnya lubangnya, membuatnya nyaris hilang kendali. Tubuhnya gemetar hebat dan napasnya tercekat, hingga pada akhirnya Xinlong klimaks dengan sendirinya, cairan putih kental itu itu datang dengan sendirinya mengenai dada dan perut Geonwoo.
Geonwoo hanya terkekeh rendah, menatap pemandangan di hadapannya dengan sorot penuh kemenangan. “Kau benar-benar menikmatinya, hm?” ujarnya dengan nada menggoda dan menyindir, seolah puas melihat Xinlong kehilangan kendali.
Wajah Xinlong seketika memanas, rasa malu menelannya bulat-bulat. Ia menunduk, berusaha menutupi wajahnya yang memerah. “Sialan kau, hyung…” gumamnya pelan, suaranya sarat dengan rasa kesal sekaligus malu yang bercampur jadi satu, wajahnya merah padam, malu bercampur putus asa.
Seluruh image dirinya sebagai sosok idol yang maskulin, dingin, dan berwibawa runtuh seketika. Kini ia hanya seorang anak muda yang sedang diperkosa pria yang lebih tua hanya dua tahun darinya, tak berdaya menghadapi kenyataan bahwa tubuhnya bereaksi di luar kendali.
“Geonwoo-hyung… bertanggung jawablah padaku… aku… aku tidak sanggup lagi… Ahh...” racau Xinlong di sela desahan, suaranya terdengar semakin kacau.
Geonwoo hanya mendengus, tubuhnya bergerak semakin cepat dan semakin dalam memenuhi lubang ketat Xinlong, seolah ingin menuntaskan semua sisa gairah yang masih membara. Detik berikutnya, tubuhnya menegang dan sebuah hentakan terakhir membawa mereka pada puncak.
"Ahrghh!! Ahhh..." Napas Geonwoo pecah keras, menyatu dengan desah panjang Xinlong yang hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Peluh bercampur, mengalir di sepanjang kulit yang saling menempel. Cairan hangat itu mengalir deras memenuhi lubang Xinlong dengan rasa berat namun sekaligus menenangkan, seakan merasuk jauh hingga ke inti dirinya. Tubuhnya bergetar hebat, hampir tak mampu menahan kesadaran penuh, sementara pikirannya kosong hanya menyisakan nama Geonwoo.
Xinlong merasa seolah seluruh dirinya penuh, sesak, panas, hingga pikirannya hampir kehilangan arah. Saat Geonwoo akhirnya menarik dirinya keluar dari posisi itu, tubuh Xinlong merosot lemah, meski tetap berpegangan erat di leher Geonwoo karena kakinya sudah tak mampu menopang.
Geonwoo mendekapnya erat, menopangnya seolah menjaga agar ia tidak jatuh. “Terima kasih, Xinlong… kau sudah bekerja keras hari ini,” ucapnya tenang, seakan semua yang baru saja terjadi hanyalah bagian dari rutinitas mereka.
Xinlong hanya mengangguk lemas, suaranya serak. “Kalau begitu… kau harus merawatku dengan baik, hyung. Kalau tidak… aku akan melaporkanmu pada PD-nim…”
Geonwoo terkekeh, pelan tapi penuh arti. “Lakukanlah kalau bisa,” balasnya ringan, lalu mengeratkan pelukan seolah memastikan Xinlong tak pergi ke mana pun.
