Work Text:
kak nanon hima:
📢 Good evening, HIMAKOM peeps!✨
Karena besok sudah hari-H Pelantikan Calon Anggota
HIMAKOM angkatan 2025 gue mau ngingetin lagi nih;
- tikum di gapura fikom jam 8 PAGI
- bawa peralatan yang sudah di-brief PJ masing-masing
- bawa obat-obatan pribadi
- jangan lupa sarapan!!
Sangat amat diharapkan untuk peserta pelantikan datang
tepat waktu. Selamat beristirahat!✨
Deretan balasan terima kasih mengikuti reminder dari Kak Nanon dan Hong menutup ponselnya. Jam di lengan kirinya sudah menunjukkan angka 07:32 dan setelah ia memastikan kembali lokasi titik kumpulnya, Hong, dengan dua kotak makan di tangannya, bergegas menghampiri ojek online yang sudah dipesannya.
Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan salah satu kotak makan yang ia pegang kepada driver, Hong menghampiri temannya yang sudah sampai lebih dulu. Ada Alan, Khunpol, dan William yang sedang berdiskusi bersama beberapa kakak tingkatnya, juga Nut dan Tui yang sibuk dengan ponselnya masing-masing tidak jauh dari kerumunan.
Melihat Hong yang berjalan ke arahnya, Nut tersenyum lebar — and smiling even wider saat Hong memberikan kotak makannya, yang ternyata berisikan empat potong sandwich ketika ia buka. Sebagai imbalannya, Nut memberikan segelas iced americano no sugar yang masih penuh pada Hong.
"Thank God lo udah peduli sama gue. Sumpah kenapa jadwal kita pagi banget, sih. Gue kayaknya butuh kopi satu galon, deh,” ucap Hong sambil membawa dirinya untuk duduk di sebelah Nut. Menenggak sekali kopinya, lalu ia menyandarkan kepalanya di bahu Nut kelelahan, seperti baru saja selesai berlari mengitari satu fakultas.
Nut hanya tertawa kecil dan menepuk kepalanya pelan sambil berkata, “Alay.”
“Ini yang dibawain sarapan Nut doang, kah?” sambar Tui bercanda. “Dimana sebenarnya letak keadilan di dunia ini, sih?”
“Bacot banget. Ambil aja itu, si Nut juga nggak bisa kali ngabisin segitu banyaknya.”
“Sotoy lu, kayak yang paling tau Nut aja, dah,” sahut Tui lagi.
“Eh, beneran bacot banget lu, ya. Masih pagi jangan ngajak berantem dulu, please?”
Nut yang duduk diantara keduanya lagi-lagi hanya bisa tertawa, “Ambil aja, Tui, beneran banyak kok ini.”
“Yo, aman, Nut. Gue udah nyarap, kok.”
“Kan, emang kayak tai aja itu orang.”
Hal pertama yang dilakukan setelah mereka sampai di lokasi pelantikan adalah pembagian kamar. Dua kamar dibagikan untuk peserta perempuan, dan satu master bedroom untuk semua peserta laki-laki, sedangkan untuk panitia katanya akan tidur di ruangan mana saja yang sebisa mungkin mereka pakai untuk tidur.
Setelah menaruh barang pribadi di kamar masing-masing, semua peserta diminta berkumpul di ruang tengah untuk pembukaan acara dan pembagian materi debat per kelompok. Hong dengan dua buah tumbler di tangannya berjalan ke ruang tengah diikuti oleh Nut di belakangnya yang memakai name tag berwarna biru 50 ribu dengan tangan yang sibuk mengikat tali pada name tag berwarna hijau gojek.
Nut mengikuti Hong sampai pada barisannya, lalu ia memberikan name tag berwarna hijau gojek yang bertuliskan HONGSHI pada pemiliknya dan berbalik mencari kelompoknya sendiri setelah menerima salah satu tumbler yang dipegang Hong. Setelah semua peserta berkumpul, mereka dipersilahkan duduk dan acara pun dibuka. Dimulai dari sambutan Bang Pond selaku ketua Himpunan, sambutan Kak Jane selaku ketua pelaksana, juga pembagian materi debat untuk siang hari.
Setelah agenda Debat yang dimenangkan oleh kelompok biru 50 ribu dan diikuti kelompok merah pertamina sebagai runner-up, mereka diperbolehkan untuk istirahat 30 menit untuk makan siang, lalu agenda dilanjut dengan pemberian materi himpunan dan bedah AD/ART.
Jam di tangan kiri Hong menunjukkan pukul tujuh malam. Agenda Fun Cooking malam ini adalah salah satu agenda yang ditunggu-tunggu oleh Nut dengan argumen kayaknya seru, padahal ia tidak bisa memasak. Penanggung Jawab masing-masing kelompok sudah menginstruksi semua peserta untuk membawa bahan makanan yang akan dibuat malam ini.
Kelompok hijau gojek sepakat untuk membuat pasta salad. Sedangkan Nut hampir ditimpuk ketika ia menyarankan steak sebagai hidangan kelompok biru 50 ribu. Padahal Nut berpikir bahwa steak dan mushroom sauce akan cocok dihidangkan dengan pasta salad kelompok Hong, juga mudah dimasak. Lalu kelompoknya sepakat untuk membuat sayur bening yang mana mudah dimasak, kaya akan serat, dan hangat — cocok untuk malam hari.
Nut rasa mereka juga akan makan sesuai kepercayaan masing-masing, jadi ia tetap membawa empat potong daging siap masak; satu untuknya, satu untuk Hong, dan sisanya untuk siapa saja yang mau mencicipi. Untuk bumbunya, selain unsalted butter yang Nut minta untuk Hong bawa, ia percaya akan menemukannya entah milik kelompok siapa. Sedangkan untuk mushroom sauce, ia bawa yang instan saja.
Setelah Nut selesai membantu kelompoknya (re: diusir) ia berkelana untuk mencari bahan masakan yang ia butuhkan. Saat ia berjalan dari dapur dan kembali ke halaman villa dimana Fun Cooking dilaksanakan, Nut tidak sengaja melihat dua botol minum di atas meja ruang tamu yang ia ingat belum beranjak dari dua jam lalu. Dibawanya botol berwarna biru dengan stiker bertuliskan HONGSHI, sedangkan botol yang berwarna hitam dengan beberapa sticker band rock kesukaannya ia tinggal.
“Ciw,” panggil Nut meminta perhatian Hong yang sedang sibuk meniriskan pastanya. Tidak menerima balasan, Nut memanggilnya lebih keras. “Woi, Hongciw!”
“Ha?” jawab Hong seadanya. Kelompoknya tidak ada yang membawa strainer, jadi ia meniriskan pasta hanya bermodalkan garpu dan tekad yang kuat.
“Mau butter gue, dong,” pinta Nut.
“Bentar, ah, lagi sibuk.”
“Gak apa-apa, gue tungguin,” balas Nut lalu meletakkan bahan makanan yang dibawanya ke meja di depannya lalu menegak air dari tumbler yang ia bawa tadi. Setelahnya Nut menopang tubuhnya dengan tangan yang sudah kosong tersebut dan memperhatikan Hong bekerja.
Setelah menumpahkan pastanya ke dalam mangkuk besar, tugas selanjutnya diambil oleh Acare — teman sekelompoknya. Lalu dengan senyum bangga akan pekerjaan yang baru saja ia selesaikan, perhatiannya ia alihkan pada Nut yang masih memperhatikannya dengan seksama. “Kenapa?” tanyanya.
“Mau butter gue, dong,” ulang Nut. “Gue mau masak, nih.”
“Oh, iya,” ucap Hong lalu ia mengambilnya dari tote bag yang ia simpan di bawah meja. “Baru mau masak, Nut?”
“Buat gue doang. Eh, sama buat lo juga, deh. Kalo sisa baru bagi-bagi. Bukan masakan kelompok. Kelompok gue bikin sayur bening, anjir. Bayangin makan pasta pake sayur bening?” jelas Nut yang hanya dibalas anggukan oleh Hong. “Nih, minum, Ciw. Kayaknya dari sore botol minum lo masih disitu-situ aja, nggak berubah tempat.”
“Thanks, Nut,” jawab Hong mengambil botol minumnya. “Kan ada nasi juga, anjir, nggak salad gue doang.”
“Ya udah buat round two aja sayur beningnya. Lo udah selesai belum?”
“Udah, sih, kayaknya. Nggak tau mau dimasukin kulkas atau nggak. Ada yang prefer adem soalnya, gue sabeb.”
“Nah, pas banget,” sahut Nut dan Hong langsung memicingkan matanya, perasaannya tidak enak. “Tolong masakin saosnya, dong, Ciw. Hehe.”
Kan. Pake hehe lagi.
“Guys, abis ini kalian langsung tidur, ya. Nanti sekitar 30 menit lagi keamanan bakal cek kamar kalian satu-satu. Yang belum tidur nanti ada konsekuensinya, yang punya masalah tidur bisa lapor ke Kak Jane,” dengan itu Kak Nanon membubarkan barisan dan meminta peserta kembali ke kamar masing-masing.
Hong bersama William memasuki kamar mereka yang langsung disambut oleh teriakan Lego yang baru saja keluar dari kamar mandi, “Guys, gue tag kasur, ya. Bisa berdua atau bertiga, kok, ini. Sorry gue gak bisa tidur di kasur bawah soalnya.”
“Aman, Leg. Gue juga kasur atas, deh, belum ada yang nempatin lagi, kan?” sahut William.
“Belom, sih. Lo tidur dimana, Hong?” Belum sempat Hong memikirkan jawabannya, Lego kembali angkat suara, “Eh, Nut, lo bisa tidur di kasur bawah gitu, nggak?”
Nut yang masih berusaha menutup pintu kamar menggunakan kakinya, mengarahkan pandangannya pada Lego lalu beralih ke Hong dengan tatapan bertanya dan dijawab anggukan kecil oleh Hong. “Dimana aja gue aman, kok,” ujarnya seraya meletakkan tumbler bertuliskan HONGSHI di meja dekat Hong berdiri.
Teh hangat yang baru saja ia ambil dari dapur juga ia berikan pada Hong, lalu ia mengambil sikat gigi dan facial wash dari ranselnya dan bergegas ke kamar mandi. Hong mendudukan dirinya di ujung kasur yang akan menjadi alas tidurnya dan menyesap kecil teh di tangannya. “Ini yang tidur di kamar segini doang? Atau ada lagi?”
“Alan sama Copper di kamar kayaknya, kalo Tui sama Khunpol tadi katanya di luar, sih,” sahut William.
“Oh, okay. By the way, nanti kalo ada yang ngorok gue minta maaf, ya. Sorry in advance, nih.”
“Santai, Hong. Manusiawi, kok.”
Nut keluar dari kamar mandi bersamaan dengan Hong menyelesaikan tehnya, lalu ia beralih pada tumbler yang sudah diisi penuh kembali oleh Nut tadi. Setelah Nut merapikan ranselnya, ia menghampiri Hong yang sedang menyodorkan tumbler yang tutupnya masih terbuka dan bertanya, “Ini gelasnya balikin ke dapur, nggak? Apa di sini aja?”
“Balikin, aja, biar gak dibilang nggak bertanggung jawab,” balas Nut setelah meneggak minumnya.
“Bejir, oke.” Hong bangkit dan membawa gelas itu ke dapur. Saat ia kembali ke kamar, ia langsung mengambil sikat gigi juga facial wash miliknya setelah melihat kamar mandi yang sudah kosong.
Nut, William, dan Lego sudah bergelung di bawah selimutnya masing-masing, sedangkan Alan dan Copper juga sedang mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Alan yang mengambil sofa yang cukup luas untuk dijadikan tempat untuk tidur, dan Copper yang mengambil tempat di sebelah Lego.
Saat Hong keluar dari kamar mandi, semua orang terlihat sudah terlelap dalam tidurnya. Kecuali Nut dengan ponselnya yang masih menyala. Dengan cepat Hong memposisikan dirinya di sebelah Nut dan menarik selimut yang dipakai Nut (yang ia rasa Nut ambil dari duffel bag milik Hong).
Nut mematikan ponselnya dan mengubah posisi tubuhnya menghadap langit-langit kamar dan berbisik pelan, “Ciw, gue takut, deh, mau tidur.”
“Lah, kenapa?” jawab Hong seadanya. Kalau boleh jujur, Hong capek banget hari ini karena sudah beraktivitas dari pagi hari. Sekali ia memejamkan mata pun, Hong rasa ia bisa saja langsung terlelap.
“Ya … biasa …” balas Nut ragu.
“Udah gue kasih disclaimer tadi, kata William santai, manusiawi. Tidur aja, Nut,” jawab Hong yang tidak sampai satu menit kemudian sudah memasuki alam mimpinya. Nut mau tidak mau juga ikut terlelap, karena bagaimanapun juga, tubuhnya butuh istirahat.
Lego yang merasa belum lama tidurnya dan sudah diganggu, duduk dengan gusar. Ia melihat sekelilingnya; Alan di atas sofa yang sedang melihat langit-langit kamar sambil menghela napasnya kasar, Copper yang sudah tidak ada ditempatnya, dan William yang masih memejamkan mata seraya berusaha menutup telinganya. Lego menendang kaki William pelan, “Tidur, Will?”
“Mana bisa, anjir.”
“Copper mana?”
“Keluar, kayaknya. Gak bisa tidur kalo di sini.”
“Emang anjing, ya, si Thanat Thanat itu,” ucap Lego emosi. Ia mengedarkan pandangannya ke arah Nut yang mendengkur keras dan Hong yang memejamkan mata dengan tenang. “Hong, tidur nggak?”
Hong tidak membalas pertanyaannya, ataupun panggilan yang Lego lontarkan berkali-kali setelahnya. “Anjir, si Hong bisa aja lagi tidur di samping toa masjid?”
“Demi apa?” sahut William.
“Nggak ngerti juga gue, Will.”
“Kok bisa …”
Dengan berat, Lego kembali merebahkan tubuhnya dan berusaha kembali ke alam mimpi walaupun tidak bisa. Tidak lama kemudian Bang Joong memasuki kamar mereka dan memberitahu Alan, yang dilihatnya sudah bangun, untuk membangunkan rekannya dan mengikuti kegiatan post-to-post. Mereka yang tidak bisa tidur juga langsung mendudukkan dirinya.
Lego duduk di ujung ranjang lalu menendang kecil kaki Nut yang berada persis di bawahnya sebagai upaya membangunkannya. Ia merasa tidak sudi untuk membangunkan Nut pelan-pelan. “Nut, bangun. Abis ini ada post-to-post. Bangunin Hong juga, tolong, dia dari tadi susah dibangunin,” ucapnya saat melihat Nut sudah berhenti mendengkur dan membuka mata.
Nut memproses sebentar ucapan Lego, lalu memanggil nama Hong yang langsung dibalas dengan dehaman. “Bangun, mau ada post-to-post.”
“‘Kay …” Hong mengerjapkan matanya dan mendudukkan dirinya.
“Lah … langsung bangun …”
Hong sedang di ruang tamu villa bersama Lego yang sedang sarapan dan William dengan gitar di pangkuannya ketika Nut melewatinya bersama Tui dan Alan. Shirtless dan hanya memakai celana pendek serta cengiran lebar di wajahnya. Asumsinya, sih, mereka akan berenang karena panitia juga sudah konfirmasi kalau sudah memasuki jam bebas agenda. Dengan cekatan ia menarik pergelangan tangan Nut dan berkata, “Udah makan belum?”
“Belum, tapi-”
“Sarapan dulu,” potong Hong cepat.
“Iya, makanan gue udah di luar, kok, Ciw. Tinggal dimakan aja.”
“Okay.” Hong melepas genggamannya dan mengalihkan perhatiannya kembali pada gitar yang digenjreng William.
Lego yang melihat interaksi tersebut pun terheran, “Eh, Hong. Lo sama Nut itu ya?”
“Hah? Apaan?” sahut Hong.
“Pacaran?” jelas Lego
“Ya, gitu deh.”
“Eh, sumpah? Udah lama?” tanya William yang langsung mengabaikan gitarnya setelah mendengar jawaban dari Hong.
“Nggak, kok. Baru.”
“Oh, baru berapa lama?”
“Dua tahun … ?”
“Itu baru apanya konyol,” sahut Lego keras, melempar kerupuk yang diambil dari piringnya ke arah Hong yang nyengir lebar.
William ikut mengambil kerupuk dari piring Lego dan dilemparkan juga ke arah Hong. “Anjing, pantesan tahan dia tidur di samping Nut begitu. Udah biasa, anjir.”
“Semalem kan gue udah minta maaf, guys,” bela Hong.
“Masalahnya dia ngorok kagak manusiawi, ye, Hongshi. Copper sampe keluar kamar, asal lo tau,” marah Lego.
“Gue rasa juga Bang Joong heran, deh, kok anak-anak taat banget udah pada bangun sebelum dibangunin,” tambah William. “Acare sama Sangt juga nanya ke gue, Hong sama Nut tuh kenapa deh? Gue kata, gosip aja dah, lo pada. Ternyata emang kenapa-napa, anjir.”
“Gue nggak kenapa-napa, anj, pacaran doang.”
