Actions

Work Header

Nirantara

Summary:

Karena mungkin begitulah adanya waktu: nirantara. Ia pergi, ia kembali, dan selalu menemukan jalannya pulang.

Chapter 1: ZERO.

Chapter Text

Thu, 12/09/XX

Restoran bintang empat dengan gemerlap lampu kota jadi latar malam itu; cahaya keemasan terasa hangat, lilin di atas meja bergoyang pelan ditiup pendingin udara. Lelaki dengan setelan rapi dan rambut tersisir sempurna sudah menyiapkan semuanya—reservasi sejak seminggu lalu, kotak kecil beludru hitam tersembunyi di saku jas. Malam ini seharusnya jadi bab terakhir dari lima tahun perjalanan mereka, menuju sebuah sekuel. Seharusnya.

Ia menatap seberang meja. Wajah dengan riasan tipis namun manis, yang ia kenal betul, melempar senyum tipis. Perempuan yang menemaninya dalam momen terbaik dan terburuk. Dadanya penuh, sesak oleh harap.

You look gorgeous today, sayang,” ujarnya sembari merapikan helai rambut kekasihnya ke belakang telinga.

Cassie tertawa kecil, menggulir gelas wine di tangannya. “Kebiasaan.”

“I mean it, Cass.”

Cassie Autumn.

Heeseung bertemu dengannya enam tahun lalu, saat pertukaran pelajar di Tennessee. Pertemuan pertama mereka jauh dari romantis; Cassie memergokinya merokok di atap gedung kemahasiswaan dan mengancam akan melaporkannya. Tapi justru sejak itu, Heeseung sering mendapati tatapan curi-curi pandang dari tribun basket, sebotol minuman dingin usai latihan, permen kecil yang diselipkan setiap kali tangannya gatal ingin meraih rokok. Cassie tidak pernah memaksa, tapi dengan perlahan ia menjauhkannya dari kebiasaan buruk.

Dan Heeseung? Turut jatuh dalam pesona si anggota pemandu sorak dengan banyak penggemar. Semenjak melangkah bersama Cassie, ia benar-benar belajar. Bukan hanya membuka mata dan menjalani hari. Ia belajar untuk hidup dalam momen. Lima tahun bukan waktu singkat untuk menuliskan kisah di lembaran kosong, dan malam itu ia mantap melangkah ke bab baru bernama masa depan.

“Gimana hari ini? Bosmu masih nyebelin?” tanya Cassie, menyendok satu slice black forest premium, sengaja mengalihkan dari gombalan cheesy kekasihnya.

“Ya, kayaknya dia nggak akan pernah berubah, kecuali bulan Februari mendadak jadi tiga puluh. Hampir disuruh lembur lagi kemarin, tapi aku pura-pura capek biar dia kasihan.”

Tawa kembali memenuhi meja. Atmosfer kian menghangat seakan dunia di luar tak sebanding dengan intimasi yang membendung. Heeseung memejamkan mata sebentar, upaya meyakinkan diri kalau ia akan melangkah malam ini. Kotak cincin yang bersemayam dalam saku jasnya sejak satu jam lalu hendak dirogohnya, namun urung kala ponsel di tas Cassie berdering. Singkat, tapi cukup untuk membuat Heeseung mengernyitkan alis.

Buru-buru, Cassie mengambil ponsel miliknya; layar menyala terang di tengah lampu temaram, dan Heeseung membaca sekilas nama yang muncul. Carlos. Bukan nama seorang yang ia kenal, bukan nama teman, bukan keluarga. Nama seorang pria yang asing baginya. Jemari perempuan itu memencet tombol decline dengan refleks, tapi terlambat sudah sebab tatapan Heeseung mengunci gerakannya.

“Siapa?”

Cassie menggeleng, menjawab terlalu cepat dan terlalu mudah untuk diterima sebagai sesuatu yang mencurigakan. “Cuma… kolega kerja. Nggak penting, kok.”

Heeseung terpaku beberapa detik, menimbang sebelum meraih tangan Cassie dan menatap matanya dengan sisa kepercayaan yang ia pikir sebentar lagi akan menguap.

“Serius? Don’t lie to my face right now, Cass.”

Kala manik biru Cassie bertemu dengan obsidian gelap miliknya, perempuan itu akhirnya menarik tangan, menunduk, Bisiknya lirih, “Heeseung … I can’t.”

“Nggak bisa apa?” Suaranya meninggi satu oktaf. Harap penuh sesak kini berganti beratnya kotak cincin yang masih tersembunyi dalam saku. “Kamu tau nggak, udah lima tahun aku di sini sama kamu? I’ve prepared all of this for you, only you, Cass. I—

“I love you, Heeseung, I do … it’s just— not in the same way anymore.” Kalimat itu runtuh bagai palu yang menghantam kepalanya berulang kali. “Aku … aku ketemu seseorang, and I— stupidly have fallen into him.

Tawa getir terdengar dari lelaki yang masih tampak menyangkal apa yang baru saja didengarnya. Udara terasa hilang dari paru-parunya, pisau bagai menghujam figurnya dari berbagai sisi. “You’re … are you joking? Did you cheat on me?” suaranya pecah di penghujung kalimat.

Cassie menggigit bibir, untuk pertama kembali menengadah dan menatap Heeseung. Matanya berkaca-kaca. “I didn’t mean to hurt you…”

“Oh, fuck that!” Tawa pahitnya meletus, hampir mencekik dirinya sendiri. “Kamu nggak berniat nyakitin aku, but you did this? After five fucking years? You know I’ve planned this for months, right? I—” Belum usai ia menuntaskan kalimat, tangannya mengepal. “I’ve already prepared a ring to propose, damn it.”

Kotak kecil dijatuhkan ke meja, membuat peralatan makan dan lilin turut bergetar karena lemparannya. Bunyi thud kecil mengisi jeda hening penuh kepahitan antara mereka. Cassie menutup mulut dengan tangannya, bersamaan dengan tetes air mata yang jatuh perlahan membasahi pipi.

“Heeseung…”

“Do you know what it feels like? Selama ini aku kurang apa? I gave you everything, Cass, the whole world. I’m there for you when you needed me, ternyata masih kurang, ya? I thought we’re—fuck, I thought we’re gonna get married. I thought you’re the one. Turns out I’m just a goddamn fool, right? Great.”

Ia meraih kotak hitam itu, bangkit. Kursinya berderit keras, menarik perhatian beberapa pengunjung lain hingga mereka menoleh, tapi Heeseung sama sekali tidak peduli. Matanya panas, wajahnya memerah sebab amarah dan sakit hati yang berpadu.

“I don’t need to know when or how you meet him, so enjoy your new fucking boyfriend,” katanya dingin, sebelum berbalik meninggalkan meja dan melangkah keluar restoran. Meninggalkan Cassie yang berlinang tangis dan Heeseung bahkan tidak yakin apakah penyesalan benar-benar ada di matanya.

Seisi restoran berputar di sekeliling saat langkahnya menyeret keluar. Malam yang seharusnya menjadi awal yang baru dan indah, justru jadi titik runtuh. Di balik amarah yang menumpuk dalam diri, hanya ada satu kenyataan pahit yang bahkan Heeseung masih belum mengerti bagaimana ia harus melupakan; ia tidak tahu bagaimana caranya hidup tanpa Cassie.

Udara malam menampar wajahnya begitu pintu tertutup. Heeseung berjalan gontai tanpa arah, napasnya memburu pendek. Kotak cincin masih di genggaman, segera diselipkan lagi seakan bisa menghilang kalau ia tidak melihatnya. Ia tidak pergi ke rumah siapa pun, tak kembali menuntut jawaban atas apa yang terjadi. Mungkin, dirinya terlalu naif dan bodoh telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk Cassie. Mungkin, Cassie tidak pernah mencintainya. Mungkin, ia harus menerima fakta bahwa ia takkan pernah menemukan cinta. Untung apartemennya hanya tiga blok dari restoran, sehingga awan hitam itu tak perlu berlama-lama menindih.

Ia pulang. Menginjakkan kaki ke apartemennya yang sepi seakan tak berpenghuni.

Di pojok meja dapur, botol wiski setengah isi menunggu; sisa kebiasaan lama yang tadinya sudah ia tinggalkan. Tangannya gemetar meraih gelas, menuang tanpa hitungan, tanpa berpikir. Cairan cokelat itu meluncur deras, mengisi gelas bening, membasahi tenggorokan. Seakan menyapa teman lama yang lama tak dijumpa.

“Shit…” geramnya, melepas jas hitam dan melemparnya asal. Dua kancing kemeja putih ditanggalkan. Tubuhnya lantas jatuh begitu saja di kursi, kepala menunduk dengan petir masih menyambar di pikirannya.

Satu gelas jadi dua. Dua gelas jadi tiga. Malam kian bergulir, hanya ada dengung pendingin yang lama-lama memekakkan telinga, sementara kepalanya riuh seperti statis di radio rusak. Wajah mantan tunangannya—ya, mantan, meski bahkan Heeseung tidak sempat melamarnya—muncul bagai mimpi buruk yang berulang, dering telepon yang masuk, suara pengakuan itu.

Suaranya semakin nyaring, dan Heeseung muak mendengarnya. Ia kembali berdiri, langkah lunglai menuju ruang tamu dan merogoh laci meja kecil di pojok ruangan. Sebungkus rokok yang berbulan-bulan tak disentuh akhirnya muncul. Ditatapnya lama si kawan lama kedua dengan jari masih bergetar, sebelum menarik sebatang dan dinyalakan.

Tubuhnya terhempas di sofa abu ruang tamu. Asap pertama menyeruak, memenuhi paru-parunya dengan sensasi yang dulu begitu familiar. Terlarang, tapi menenangkan. Ia terkekeh satir, mengangkat gelas sekali lagi. “Cheers, Heeseung,” katanya bermonolog, pedih. “Welcome back to square one.”

Cahaya kota menelusup dari jendela besar, mencetak bayangan panjang tubuhnya di lantai. Di antara asap rokok dan wiski yang kian menipis, ia sadar satu hal; ia sudah jatuh ke lubang gelap yang sama. Dan kali ini, tak ada seorang pun yang akan meraih tangannya. Tidak malam ini, tidak esok, tidak lusa.