Actions

Work Header

Clock Out

Summary:

Semua ini gara-gara Typo. Memang sebenarnya salah Haechan karena dirinya tidak fokus. Sampai akhirnya kesalahan yang cukup fatal itu diketahui oleh Mark —direkturnya yang baru saja pulang dinas.

Mark yang harusnya bisa langsung pulang dan istirahat, akhirnya malah...

Work Text:

Mark baru saja tiba di kantornya setelah beberapa hari dinas luar kota. Rencananya sederhana—absen dulu, lalu langsung pulang untuk beristirahat. Tapi langkahnya mendadak terhenti saat melihat secarik kertas menempel di atas mesin absensi sidik jari.

Tulisan dengan spidol hitam tebal itu berbunyi: “Wajib fingering saat clock in dan clock out! —Haechan.”

Mark menatap tulisan itu lama, lalu menghembuskan napas berat sambil menggeleng. Ulah siapa lagi kalau bukan Kepala HR yang kebetulan juga… kekasihnya sendiri.

Rasa malu bercampur jengkel membuatnya ingin langsung mencabut kertas itu, dan memang begitu yang ia lakukan. Ia menariknya dengan kasar, melipat asal, dan menggenggamnya erat. Rencana untuk segera pulang pun ia tunda—ada seseorang yang perlu ditegur.

Langkah Mark berujung di depan ruangan Haechan. Ia sudah bersiap dengan kalimat panjang di kepala, tapi begitu matanya menangkap sosok lelaki itu—alis berkerut, ponsel di tangan, wajah serius—amarahnya mendadak mereda.

“Aduh sebentar, Mbak,” suara Haechan terdengar tegas. “Ini aku cek ulang dulu CCTV-nya, soalnya di data finger print tanggal lima dia nggak ada. Aku nggak bisa asal ubah kehadiran gitu aja. Lagipula dia nggak punya foto real-time pas masuk dan pulang kerja.”

Nada kesal mulai menyelip di setiap katanya. “Ya sudah, soal gajinya yang kepotong biar saya tanggung jawab,” lanjutnya cepat. “Masalahnya bukan cuma dia yang bermasalah, Mbak. Dari tadi saya bolak-balik cek CCTV sendirian, lho. Saya kerja sendiri buat urusin beginian, tapi Mbak masih aja ngeremehin. Jangan banding-bandingin pekerjaan, semua punya beratnya masing-masing. Saya juga tanggung jawab, kok!”

“Ini lagi, anak teknisi ke mana, sih?! Nggak ada satu pun yang mau bantuin gue cek CCTV? Pecah nih kepala!”

Haechan mengumpat frustasi, lalu menjambak rambutnya sendiri sebelum menenggelamkan wajah ke lipatan lengannya di atas meja. Suaranya teredam, tapi nada lelahnya begitu kentara.

Mark hanya bisa menghela napas pelan. Ia mulai mengerti kenapa Haechan sempat menulis pengumuman absurd di alat absensi tadi—bukan karena iseng, tapi karena stres yang sudah menumpuk. Sistem yang error, data yang hilang, dan semua beban kerja yang tidak seimbang itu tampak jelas menekan Haechan.

Akhirnya Mark memilih mundur. Ia melanjutkan langkah menuju ruangannya sendiri, berharap bisa membiarkan kekasihnya menenangkan diri dulu. Namun baru beberapa langkah, ia berpapasan dengan Seulgi—staff HR yang sedang membawa setumpuk berkas di tangannya.

“Pagi, Pak Mark,” sapanya sopan dengan sedikit senyum.

“Pagi, Seulgi,” jawab Mark ramah. “Saya sekalian mau tanya, kerjaan kamu sama Eunsook lagi padat, ya?”

“Saya full meeting, Pak,” ujar Seulgi dengan nada letih tapi tetap sopan. “Soalnya project outing dipegang sama saya, jadi harus terus cek progresnya. Saya juga baru ngurus beberapa kontrak kerja karyawan yang minta diubah karena katanya nggak sesuai kesepakatan awal.”
Mark mengangguk pelan, memahami betul arah pembicaraan itu.

“Eunsook hari ini juga full interview, Pak. Dari kemarin dia jadi supervisor anak-anak intern,” lanjut Seulgi, kini suaranya sedikit menurun. “HR lagi banyak banget problemnya. Saya aja bahkan udah dua hari nggak berani nyapa Mas Haechan. Soalnya tiap kali lewat depan ruangannya, pasti kedengeran suara barang dibanting atau teriakan dia bilang kepalanya mau pecah.”

Mark tak bisa menahan diri untuk tidak meringis kecil, entah antara jengkel atau kasihan. Ia tahu Haechan memang temperamental kalau sudah di ujung batas—tapi tetap saja, mendengar cerita itu dari stafnya membuat rasa malu dan khawatir campur aduk dalam dada.

“Ya sudah,” ucapnya akhirnya, berusaha terdengar tenang. “Lanjutkan pekerjaanmu, ya. Urusan Haechan biar saya yang handle nanti.”

“Baik, Pak. Saya permisi dulu.”

Mark membalas dengan anggukan sebelum melangkah masuk ke ruangannya sendiri. Ia menutup pintu perlahan, seolah ingin meninggalkan segala hiruk-pikuk kantor di luar sana.

Dengan satu gerakan lelah, ia melepas jasnya dan meletakkannya di sandaran kursi, lalu melepaskan ikat pinggang yang terasa terlalu mengekang. Napasnya mengembus pelan. Tubuhnya masih berat dari perjalanan dinas, pikirannya pun masih penuh laporan yang menumpuk.

Ia menuju kamar kecil di sisi ruangan—tempat yang sengaja ia desain sendiri beberapa tahun lalu. Sebuah ruang kecil yang hanya digunakan ketika lembur, atau saat dunia kantor terasa terlalu ramai untuk dihadapi.

Tempat itu kini seakan memanggilnya untuk sekadar diam sebentar.

 

***

Haechan menatap jam di layar ponselnya yang retak. Retakannya membentuk pola acak di sudut kanan, bekas dari beberapa kali amarah yang ia luapkan hari ini. Ia menghela napas panjang, lalu membuka aplikasi di ponselnya—aplikasi absensi untuk para petinggi. Dengan wajah lelah, ia menatap kamera depan dan mengambil selfie cepat sebagai bukti kehadiran.

Kebijakan itu sudah lama berlaku: para kepala divisi tidak absen lewat fingerprint, melainkan melalui foto real-time. Tujuannya agar para atasan memberi contoh disiplin. Ironisnya, justru aturan itu membuat mereka rajin datang pagi dan pulang paling malam. Sebab selama belum ada foto absen pulang, direktur—Mark akan mengira mereka masih di kantor—dan tak jarang memberi tugas tambahan.

Tok tok tok.

Ketukan di pintu memecah kesunyiannya.

“Hei!” suara itu familiar, membuat kepala Haechan sontak terangkat.

“Pak Mark!” serunya spontan, dengan binar lega di matanya.

Mark hanya menatapnya sambil berdecak pelan, bibirnya menahan senyum yang nyaris muncul. Nada “Pak” di depan namanya selalu membuatnya geli—apalagi mereka berdua tidak sedang di ruang rapat atau depan staf.

“Haechan,” ujarnya lembut, melangkah mendekat. Tanpa banyak kata, Mark menarik tubuh kekasihnya ke dalam pelukan. Haechan sempat terkejut, tapi segera larut dalam dekapan hangat yang begitu ia kenal.

“Aku kangen kamu,” bisik Mark, suaranya berat, nyaris seperti gumaman yang hanya ingin didengar oleh Haechan.

Haechan terkekeh kecil. “Utututuuu… bayi besar kangen, ya?” candanya ringan. Ia bisa merasakan kepala Mark mengangguk pelan di ceruk lehernya.

Setelah beberapa detik dalam keheningan yang nyaman, Mark perlahan melepaskan pelukannya. “Kamu bawa mobil?” tanyanya, suaranya kini kembali datar seperti biasanya.

Haechan mengangguk, “Iya, soalnya aku pikir kamu langsung pulang ke rumah.”

“Mana kuncinya?”

Mark menadahkan telapak tangannya di depan Haechan. Tanpa banyak tanya, Haechan mengambil kunci dari saku celananya dan meletakkannya di tangan Mark—dengan senyum kecil yang mulai tumbuh di wajahnya.

“Mari, Tuan! Saya akan menyupiri Anda sore ini.”

Nada Mark terdengar dibuat-buat, seolah sedang berakting dalam drama klasik. Haechan tak kuasa menahan tawa, bahunya sampai ikut berguncang.

Keduanya berjalan berdampingan menuju parkiran. Kantor sudah nyaris sepi—waktu menunjukkan hampir pukul delapan malam. Lampu-lampu di beberapa ruangan sudah padam, hanya tersisa cahaya pucat dari koridor panjang. Namun bahkan jika kantor masih ramai, Mark dan Haechan tak akan keberatan menunjukkan sedikit kemesraan. Mereka selalu punya cara membuat dunia sekitar terasa seolah tak ada.

“Hati-hati, Tuan,” ujar Mark sambil membukakan pintu mobil untuknya. Tangannya menahan pintu hingga Haechan benar-benar duduk di kursi penumpang.

Diperlakukan dengan manis seperti itu membuat hati Haechan yang seharian kusut perlahan melunak.

Begitu ia selesai memasang seatbelt, Mark duduk di kursi pengemudi. Tapi anehnya, mobil tak kunjung bergerak. Hanya suara mesin dan desiran AC yang memenuhi ruang sempit di antara mereka.

“Kenapa, Mark?” tanya Haechan, menatapnya heran.

Mark tidak segera menjawab. Ia menoleh perlahan, matanya menatap Haechan dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran lembut, serius, dan sedikit menyelidik.

“Ada masalah di kantor akhir-akhir ini?” tanyanya akhirnya, suaranya datar tapi sarat makna.

Haechan tersenyum kecil, lalu menggeleng pelan. “Nggak ada. Semua lancar kok. Buktinya aku udah bisa pulang, kan?”

Mark hanya mengeluarkan suara ck pelan, tatapannya sedikit menajam. Ia tahu Haechan berbohong—bahasa tubuhnya terlalu mudah dibaca bagi seseorang yang sudah mengenalnya bertahun-tahun.

“Lalu,” lanjut Mark, kali ini suaranya lebih rendah, “kamu ada salah nggak selama aku pergi?”

Kening Haechan berkerut. “Setahuku sih nggak ada.”

Mark mencondongkan tubuhnya perlahan, jarak di antara mereka menyusut drastis. Napasnya terasa hangat di udara dingin mobil. Mata mereka saling menatap, intens tapi tetap lembut.

Haechan gugup setengah mati. Meski hubungannya dengan Mark sudah lama, tetap saja—ini masih lingkungan kantor. Mobil memang terparkir di basement, tapi melihat beberapa mobil lain masih tersisa membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Mark mencondongkan tubuh, jemarinya perlahan membuka seatbelt yang melingkari tubuh Haechan. Lalu, tanpa berkata apa pun, ia menurunkan sedikit sandaran kursi penumpang. Gerakan kecil, tapi cukup untuk membuat Haechan makin gelisah.

“M-Mark… mau ngapain sih??” tanyanya gugup, matanya bergerak mencari tahu maksud Mark.

Mark hanya tersenyum tipis, senyum yang terlalu tenang untuk tidak mencurigakan. “Saat datang dan pulang, karyawan wajib apa, Haechan?”

Haechan mengerjap bingung. “Fingerprint? Absen?”

Mark menggeleng pelan, menahan tawa yang hampir pecah. “No… Fingering. Right?”

Ia melemparkan secarik kertas yang sedari tadi ia simpan ke pangkuan Haechan.

Begitu Haechan melihat tulisan di sana, wajahnya langsung memanas. Ia buru-buru membuka kertas itu dan mendesah panjang, seakan seluruh hari buruknya berpuncak pada momen itu.

“Oh, astaga…” gumamnya, menutup wajah dengan satu tangan. “Aku typo.”

Mark terkekeh pelan, akhirnya tak bisa menahan diri. “Karyawan lain pasti udah sempat baca sebelum kamu sadar.”

Haechan berdecak pelan, kesal karena Mark memojokkannya. “Yaudah sih!”

Mark menatapnya lama, masih dengan seringai kecil di sudut bibir. Lalu dengan nada lembut tapi menggoda, ia berbisik, “Aku mau absen pulang, babe.”

Dan sebelum Haechan sempat bereaksi, Mark menunduk sedikit, menyentuh bibirnya — ringan, hangat, tapi cukup untuk membuat dunia di sekitar mereka terasa berhenti sejenak.

Saat dirasa Haechan terlena dengan cumbuannya, dengan lihai tangan Mark membuka kancing celana bahan Haechan dan menarik zippernya turun.

Haechan berjengit kaget kala kemaluannya sudah terjamah oleh tangan besar Mark. Walau masih di bagian luar saja dan terhalang satu lapisan kain.

“Mmnhh… Ahhh!”

Celana Haechan terus dipaksa lepas dari kaki mulusnya. Begitu pula dengan celana dalam warna merah miliknya. Kini, hawa dingin dari AC menyapa permukaan vaginanya.

Ya, Haechan cukup spesial lahir dengan jenis kelamin laki-laki tapi memiliki vagina. Kasus yang langka tapi memang ada.

Mark mencolek milik Haechan itu untuk ia lihat reaksinya. Mata merem melek dan napas yang tersendat membuat Mark kembali menyunggingkan senyumannya. Ia lepas jas miliknya yang ia kenakan, lalu menutupi kemaluan Haechan yang sudah mulai merasa kedinginan.

Mark menjalankan mobilnya, suara lembutnya memecah keheningan di antara mereka. Ia menatap kaca spion sejenak sebelum melajukan mobil keluar dari basement kantor. Di gerbang keluar, Mark menempelkan kartu akses, lampu sensor menyala hijau, dan palang otomatis perlahan terangkat.

Mobil itu pun meluncur ke luar, meninggalkan gedung yang kini hanya menyisakan cahaya temaram di balik jendela-jendela tinggi. Begitu tiba di jalan raya, suasana langsung berubah—hiruk-pikuk ibukota menyambut dengan deru klakson, sorot lampu kendaraan, dan langit malam yang diselimuti polusi serta cahaya neon.

Mark menggenggam setir dengan tenang, sementara di sampingnya, Haechan bersandar, memandangi jalanan yang penuh.

Haechan merasakan rasa gatal pada kemaluannya, gatal ingin digaruk, gatal ingin disentuh. Haechan memakai kembali seatbelt dan tetap pasrah pada kondisinya saat ini. Karena Haechan tau, jika ia tidak bisa melawan Mark begitu saja.

“Mark~”

Tangan Haechan mencoba menarik lengan Mark agar mengasihani kondisinya saat ini. Tapi Mark memilih abai, ia hanya berdeham kecil sebagai balasan.

“Sayang~~” suaranya lirih namun mendayu.

Cukup untuk membuat ujung mata Mark melirik kepadanya. Haechan tersenyum, ia mengelus pipi tirus Mark dengan gerakan yang cukup sensual. “Memeknya gatel nih…”

Haechan semakin melebarkan kakinya, bergerak gelisah. Ingin sekali jari-jari lentiknya menjamah dan memainkannya. Tapi tidak mungkin, Mark pasti akan marah. Dan Haechan takut dengan itu.

Mark melihat jalanan di depannya yang masih macet. Kini ia mengalihkan atensinya pada sang kekasih. Menyingkirkan jas mahalnya yang langsung jatuh ke bawah kaki Haechan.

Mark awalnya hanya menangkup vagina merah merekah itu dengan tangan besarnya. Haechan lalu melenguh pelan. Ia merasakan hangat yang menjalar, tapi membuat miliknya semakin gatal.

“Garukin, please… sayang… gatelhh bangett!!”

Haechan menatap Mark dengan tatapan memohon, Mark mengucup bibir itu lalu melumatnya sebentar. Membuat dirinya semakin terangsang.

“Unghh.. gelihhh!”

Mark beberapa kali mencolek clit Haechan untuk menggodanya. Pinggul Haechan sedikit maju, meminta lebih. Kepalanya mendongak merasakan sensasi geli ketika klitorisnya dimainkan. Pahanya hendak ia rapatkan Karena menahan sensasi itu, tapi cengkraman Mark menggagalkan.

Tin Tin

Mark kembali mengalihkan atensinya pada jalanan depan yang sudah berjarak. Ia hanya melepas rem kakinya dan menjaga setirnya agar tetap jalan lurus.

Basah, tangan kiri Mark yang masih bermain dengan vagina Haechan kini sudah basah dengan cairan. “Disenggol berkali-kali aja memeknya langsung basah,”

‘PLAK’

“Memeknya baperan, ya?” tanya Mark sambil mencubit clit yang sekecil kacang itu untuk membuat Haechan keenakan.

“Anghhh iyahhh memek ak-akuhh baperan kalo…” Haechan kesulitan menyelesaikan kalimatnya kala jari besar Mark mulai menggesek-gesek di bawah sana. “kalo dimainin nghhh! s-sama kamuhh! Ahhh!!”

Tangan Mark yang bergerak memutar, menggoda Haechan dari atas ke bawah. Seluruh labia vagina merah muda itu benar-benar dimainkan oleh si Tuan.

“M-Markhh!! Mnhhh! G-gelihhh ugh enakk ahh!”

Jari-jari Mark mengucek di bawah sana dengan gerakan yang sangat kacau. Membuat Haechan menggelinjang hebat. Merasakan dirinya akan klimaks. Padahal jari besar itu belum memasuki dirinya. Tapi Haechan sudah dibuat kewalahan. Pinggulnya beberapa kali tersentak nikmat, selalu menuntut lebih. Bahkan tangan kiri Mark sudah mulai becek akan cairannya yang terus keluar.

Saat Haechan akan sampai pada pelepasannya, Mark menarik tangannya dari bawah sana dan lanjut mengendarai mobilnya seolah tak terjadi apa-apa.

Sial, Haechan padahal sebentar lagi menjemput klimaksnya tapi gagal karena jalanan di depan sudah renggang. Mau tidak mau Mark harus jalan karena akan dimarahi orang jika diam di tengah jalan.

“Jangan cemberut, ini emang hukuman kamu karena udah bohong sama aku.” Mark melirik ke arah Haechan yang kini bersedekap, bibirnya mengerucut lucu seperti anak kecil yang sedang dihukum. “Hukuman kamu juga karena typo itu,” ujar Mark, menahan tawa.

Haechan menunduk, wajahnya memanas. Ia benar-benar ingin menghilang saat mengingat tulisan itu—dan fakta bahwa namanya sendiri tercetak jelas di bawahnya. Semua orang pasti tahu siapa pelakunya.

“Yaudah sih…, aku baru nempel tadi pagi,” ujarnya lirih, mencoba membela diri. “Jadi mungkin nggak banyak yang lihat.”

“Lain kali, baca dulu sebelum nempel pengumuman. Kamu tahu kan satu kantor bisa kacau kalau hal kayak gitu kejadian lagi?”

Haechan mendengus pelan, masih cemberut. “Iya, iya… aku tahu. Tapi kamu juga jangan ngeledek terus.”

Mark menggelengkan kepalanya lalu tangan kiri itu dibiarkan bermain di paha mulus Haechan. Laki-laki itu mengerang kala ia kembali merasa gatal. Memang masih gatal sih, sangat gatal sejak tadi.

Haechan cukup kecewa karena dia gagal mendapat pelepasannya. Maka saat ini dirinya mencoba bersikap jual mahal dengan merapatkan kembali kedua kaki mulusnya.

Mark terkekeh melihat itu, ia menunggu waktu yang pas untuk bermain lagi dengan kekasihnya. Pikiran licik itu sebenarnya sudah dari tadi. Mark memilih rute memutar dan macet untuk jalan pulang. Ia juga tau bahwa beberapa lampu merah di jalanan itu akan berhenti cukup lama.

Biasanya Mark tau soal ini untuk menghindari jalannya saat rush hour, tapi kali ini ia memanfaatkan jalanan untuk bermain dengan Haechan.

Tepat di depannya, lampu lalu lintas baru berwarna merah. Tangan Mark membuka paha Haechan untuk mengangkang lebar. Haechan hanya bisa melenguh pasrah kala jari besar milik Mark kembali bermain pada miliknya yang sudah sangat merah.

“Hnghh…. M-Markhh! Ungh…say-sayanghh hahh!”

Haechan meraih pundak Mark untuk ia cengkram kala dua jari Mark masuk dengan gampangnya. Mengobrak-abrik vaginanya yang sudah basah. Haechan merasa tubuhnya sangat panas dan ia sudah tidak tahan lagi.

“Mark! Aakhh! Ma-mauhh cum..”

Tanpa berniat menghentikan atau menjeda kegiatannya, Mark sedikit mendongak. Melihat wajah sange kekasihnya, ugh sangat sexy di matanya.

“Mau cum? Nanti kotor mobil kamu sayang..”

Haechan menggeleng ribut, ia tidak peduli mobilnya kotor. Haechan hanya ingin pipis, dan semua ini karena ulah sodokan Mark di bawah sana terlalu cepat.

“Ahh! Ahhhnghhh sayang! Mau ke-keluar.. Ahhhhhh!”

Basah sudah tangan Mark karena pelepasan pertama Haechan. Seluruh tubuhnya masih bergetar masih menyesuaikan pasca klimaksnya. Nafasnya pun masih tersengal-sengal dan Mark tersenyum puas melihat kondisi Haechan yang sangat amat berantakan.

Mark mencium sudut bibir Haechan dan menepuk gemas vagina becek itu.

'Plak’

“Mmnhh!”

Haechan tersentak. Kini matanya menatap tajam ke arah Mark. Yang ditatap malah cengengesan. Haechan melirik ke arah countdown lampu merah di depannya. Dan tersenyum ketika sebentar lagi sudah beralih ke warna hijau.

Mark pun menyadari hal itu. Dirinya mengambil tissue lalu membersihkan telapak tangan kirinya dulu. Mark kembali fokus menyetir mobil.

“Kok kita kayak muter-muter ya, Mark?” Haechan menatap jalanan yang tidak asing baginya.

Mark terkekeh kecil, “Kamu baru sadar? Baru ngeh pas udah keluar ya? Dari tadi di otakmu cuma minta dipuasin kan?”

Haechan memanglingkan wajahnya, ditanya begitu malah membuat dirinya malu. Mark melirik sebentar dan melihat Haechan yang malu-malu malah membuatnya semakin ingin menjahili kekasihnya itu.

Mark kembali menekan kuat klitoris bengkak Haechan dengan ibu jarinya. Hanya iseng saja, melihat Haechan hanya diam daritadi. Haechan berjengit kaget dan kembali merapatkan pahanya.

“Eunghh! Ahhh!”

“Mulut kamu emang cuma bisa desah doang ya?” Mark kembali menarik tangannya. Haechan merasakan kehilangannya. Ia sudah kembali terangsang oleh perilaku Mark.

“Eng-enggak! Aku kesel aja, kenapa lama banget gak nyampe-nyampe daritadi.”

“Alasan, padahal daritadi juga kamu yang keenakan.” Melihat Haechan yang berusaha kembali abai dari perkataannya membuat Mark sedikit kesal. Ia kembali mengusak labia vagina becek itu dengan berantakan.

“Anghh!! Markkhh!”

Mata Haechan kembali terpejam, ia merasakan miliknya sudah ingin keluar lagi. Karena memang masih sangat sensitif. Haechan menahan tangan Mark dan menatapnya dengan sangat memohon.

“U-udah.. Ahh! S-stophh…pleaseeh!”

Mark menoleh sebentar dan berusaha bersikap abai, tapi tangannya sudah ia tarik kembali menjauh dari jepitan paha mulus Haechan. Haechan kembali bernapas sedikit lega. Tapi hal itu berlangsung tidak lama. Karena ia melihat di depan jalanan sangat macet. Malam Sabtu yang menyebalkan untuknya. Mark menyeringai kala ia melihat raut pasrah dari Haechan.

Mobilnya sudah berhenti tepat di belakang mobil yang juga terjebak macet. Mark membisikkan sesuatu di telinga Haechan yang membuat dirinya semakin ingin bermain dengan jarinya Mark.

“Lihat di sebelah kamu, motornya pas banget ada di samping. Kalo aku buka jendelanya pasti dia juga sange ngeliat kamu yang kayak gini.” Ucapan itu sengaja Mark ucapkan persis pada telinga Haechan.

Sejujurnya milik Mark juga sudah tegang daritadi. Cuma karena jarak apartemen Haechan masih lumayan, jadi untuk memuaskannya masih bisa nanti.

Bukannya takut, Haechan malah menggigit bibirnya sensual. Seperti sedang menggoda. Mark mencengkram paha Haechan dan kembali melebarkannya.

“Mau diacak-acak Mark lagi~~” Tangan Haechan membelai pipi Mark dengan lembut. Lalu ia kecup bibir Mark sebagai bentuk permohonan.

“Ngangkang yang lebar, sayang. Biar semua orang tau beceknya memek kamu karena tangan aku.” Haechan mengangguk.

Ia dengan sukarela melebarkan kakinya. Bahkan ia sudah menekuknya agar vagina becek itu bisa terlihat dengan jelas oleh mata Mark.

Tenang saja, kaca mobil Haechan punya protection yang sangat bagus. Jadi apapun yang mereka lakukan sekarang tidak terlihat dari luar. Memang sengaja Haechan membuat mobilnya seperti itu, karena kejadian seperti ini pasti bisa terjadi kapan saja.

“Sayangggg! Ugh, enak bangett… Ahnghh!!”

Jari Mark memutar, menyusuri seluruh bagian dari vagina merekah itu. Digesek-gesek jarinya dari bawah ke atas. Mark kembali mencolek itil Haechan yang nampak menggemaskan di matanya.

Haechan geleng-geleng kepala merasakan seluruh rasa nikmat yang dirasakan.

“Mmhhnghh!”

Tuk, spion motor yang ada di samping mobilnya itu mengenai jendela seolah ingin tau apa yang sedang dilakukan oleh kedua orang yang ada di dalamnya.

Haechan melotot karena kaget, Ia sempat menarik tangan Mark agar menjauh tapi tenaganya kalah. Mark malah tersenyum dengan bangganya.

“Penasaran itu dia, mau juga mainin memek kamu yang tembem ini.” Haechan kembali meremang kala Mark mempermainkan klitorisnya dengan sangat baik. Sambil menatapnya lekat, berusaha meremehkan.

“S-sayangghh! Ud-udahhh!”

“Udah? Belum ah, kamunya belum kelojotan gitu.” Mark memasukkan tiga jari besarnya ke dalam liang basang itu. Haechan sontak mendongak merasa bahwa lubangnya penuh.

“Unghh! S-sensih..sensi-tifhh, Ahh! Mark!” Haechan semakin mendesah keras saat jari kekasihnya mengenai titik kenikmatannya.

Melihat reaksi Haechan, Mark semakin gencar memaju-mundurkan tangannya. Ditusuk, disodok, pokoknya diacak-acak sampai Haechan hanya bisa pasrah mendesah dan menikmati enaknya semua perlakuan Mark.

“AHH! M-MARK BER-BERHENTIHH! SSHHH-SABAR”

Haechan kembali meremat bahu Mark kala dirinya sangat ingin pipis. Tidak, dirinya tidak mau pipis disini. Cairan squirt-nya pasti sangat banyak.

“Kenapa? Pipis aja, gak ada yang larang kamu.”

“Mauhh mnhhh! Mau p-pipishh!”

Mark semakin mempercepat kucekannya dan saat pinggul Haechan sudah bergetar dan terus mengangkat naik. Mark mencabut tangannya dari sana dan cairan squirt Haechan muncrat setelahnya. Seperti air mancur kecil.

Gila, Haechan semakin merasa gila ketika Mark malah asik menepuk-nepuk kucuran squirtnya seperti sedang bermain dengan keran air.

“Akhh! Sshh! Sayang, masih sensitif tau!!” Haechan mendorong tubuh Mark agar menjauh darinya. Untung saat itu mobil di depan mereka sudah berjarak. Mau tidak mau Mark kembali menjalankan mobilnya.

“Lurus loh, sayang. Kamu kalo belok lagi aku tabok beneran nih!” Haechan sudah mengangkat tangannya sebagai gestur bahwa dirinya tidak main-main.

Mark mengerucutkan bibirnya. “Tapi punyaku masih keras, Chan.”
Haechan memutar bola matanya malas. “Ya udah sini aku bantu.”

Mata Mark membelalak. “Gila kamu, aku lagi nyetir. Nanti kita bisa tabrakan loh. Bahaya, sayang.”

Haechan tidak peduli. Ia melepas seatbelt-nya. Daritadi saja dirinya sudah dikerjai oleh Mark. Masa sekarang dirinya tidak bisa membalasnya. Toh, ini biar cepat pulang. Haechan menepis tangan kiri Mark dan menahannya. Sedang tangan yang satu lagi mulai membelai gundukan yang sudah menyembul dari balik celana.

“Sshh!” Mark sudah bergerak tak nyaman ketika Haechan dengan gampangnya membuka resleting celana Mark. Setelahnya, jemari lentik itu mengeluarkan penis miliknya yang sudah keras itu keluar dari sesak celana kerjanya.

“Wow, gede banget sih. Jadi makin suka lihatnya,” Mark terkekeh mendengar pujian Haechan dengan ucapan frontalnya.

Tangan Haechan sedang memberi usapan halusnya pada batang penis Mark yang sangat tegak menegang itu. Mark sesekali menggeram nikmat ketika Haechan bergerak mengocoknya dengan tangan. Kulit lembut yang bergesekan dengan urat-urat miliknya sangat merenggut kewarasan Mark.

“Sayang, s-sayangghh!”
Mark mencengkram setirnya ketika cairan pre-cum nya keluar dan Haechan dengan senang hati menjilatinya seperti sedang makan ice cream kesukaannya.

Mark mendesis, sungguh nikmat permainan kekasihnya di bawah sana. Mark sangat keras mencoba fokus dengan jalanan. Bahkan dirinya menaikkan kecepatan agar sampai dengan cepat. Setidaknya di parkiran pun sudah cukup.

“Mmnhh!” Mark sedikit tersentak ketika Haechan dengan intens menjilat seluruh batangnya dengan sensual. Mark melirik Haechan ke bawah.

Fuck, I'll fuck him until he beg me to stop.

Mark tentu saja harus kembali fokus pada jalanan dan untungnya kawasan apartemen Haechan sudah di depan mata.

Setelah menempelkan kartu akses milik Haechan, Mark langsung mencari parkiran kosong. Sesekali menggeram nikmat ketika Haechan mulai mengulum penis besarnya.

“Eummhh! Mnnmhh!” Haechan sangat asik di bawah sana.

Memaju-mundurkan kepalanya, sesekali menghisap sampai pipinya mengempout. Mark bahkan memukul setirnya ketika ia merasa seperti akan keluar sebentar lagi.

Mark berhasil parkir dengan selamat. Entah miring atau tidak, Mark sungguh tidak peduli.

“Uhmpp! Mmhhpp!” Haechan sedikit tersedak ketika tangan Mark memaksa kepalanya untuk mengulumnya lebih dalam. Haechan sebenarnya sudah biasa melakukan ini. Tapi dengan ukuran penis Mark yang cukup besar, tentu saja akan sangat menyodok tenggorokannya bila dilakukan cukup kasar.

“Nghhh! Chan, a-aku mau cum.”

Bukan melepaskan kulumannya, Haechan malah semakin cepat memaju mundurkan kepalanya. Sesekali lidahnya mencoba menggoda Mark agar cepat keluar juga. Penis Mark semakin membesar di dalam mulutnya. Dan—

“ARGHHH!!”

Cairan putih milik Mark memenuhi mulut mungil Haechan. Mark mengusap surai lembut kekasihnya sebagai pujian.

“Pinter, Haechan pinter banget sekarang muasin punyaku.”

Plop

Haechan menjauhkan mulutnya dari milik Mark dan langsung mencium bibir kekasihnya. Tidak lama, hanya ciuman singkat sebagai tanda terima kasih saja. Hal yang selalu mereka lakukan ketika sudah merasa terpuaskan satu sama lain.

“Mark, celana aku basah.” Mark ikut melirik ke arah Haechan. Celana itu basah karena terkena squirt-nya.

“Gapapa, nanti aku gendong aja.” Mendengar itu Haechan tersenyum.

Mark merapikan celananya dan keluar dari mobil setelah mematikan mesinnya. Ia berjalan ke arah Haechan. Haechan sudah melepas jas miliknya untuk dijadikan sebagai penutup bagian bawahnya. Mark menggendong Haechan dengan gampang.

Haechan melirik ke sekitar dan mendapati seseorang juga sedang berjalan ke arah yang sama. “Mark, ada orang.” Bidiknya pada telinga Mark.

Bukannya mempercepat jalan, Mark malah meremas pantat Haechan. “Bukannya kamu suka dilihatin orang apalgi kondisinya berantakan karena aku?”

Haechan memukul punggung Mark cukup keras, tapi Mark malah tertawa kecil karenanya. Haechan ini malu-malu padahal kadang dirinya sangat binal. Mereka akhirnya masuk ke dalam lift dan dengan cepat menekan tombol agar tertutup setelahnya.

Series this work belongs to: