Actions

Work Header

Sweet Savory Wife

Summary:

Mantan kekasih jadi mama tiri? Jeno punya cara buat bikin Renjun kliyengan mendamba burungnya dibanding punya papanya!

Notes:

ini commision untuk salah satu readerku yang ngerequest tbz (sangmilju) tapi aku buat versi nct dreamnya karena why not🤭

Work Text:

Dalam dua puluh tiga tahun Jeno jadi anak, baru ini dia terkagok-kagok datang ke rumah ayahnya dan menemukan sosok cantik yang pernah mengisi hati di sekolah menengah sedang berdiri di hadapan setelah pintu rumah terbuka. Tinggi beda sepuluh centi, bulu mata panjang nan lentik melambai setiap kali kelopak berkedip, manik selembut mata rubah kini menatap Jeno disertai kerutan tipis di antara kening, hidung mungil bergerak-gerak kecil, dan bibir bawah bervolume tampak terkatup sebelum terbuka menyuarakan keterkejutan.

"Jeno?"

Pertemuan mereka dinilai tak terduga. Jeno tidak pernah menyangka, dia dan mantan kekasihnya akan bertatapan seperti sekarang sejak putus lima tahun silam. Membukakan pintu rumah sang ayah, berpakaian daster lucu dikelilingi renda di bagian yang menjuntai di atas lutut jenjang.

"Oh, sudah datang, Jen?" suara orang ketiga, lebih berat, lebih rendah, terdengar menghampiri mereka. Jaehyun mengulas senyum tipis pada keterkejutan si putra sulung sementara istri tersayang berhasil menetralkan ekspresi seorang. "kenalin, ini istri Papa yang baru."

Asuw. Mungkin Jeno bukan pengumpat, bukan juga pribadi yang meledak-ledak bila ada yang tidak sesuai dengan prinsipnya. Tapi.... tapi ini kan- astaga, memangnya mereka nggak pernah diceritakan? Memangnya Jaehyun tidak cerita kalau dia punya anak, seumuran Renjun, laki-laki, paling banter kasih tahu namanya, biar perempuan ini berpikir dua kali sebelum mengiyakan ajakan membangun rumah tangga. Kenapa akhirnya jadi begini?

Awal mula tidak serumit kehidupan Jeno pada umumnya. Dia anak pertama dari pasangan suami istri dengan rumah tangga harmonis di tahun-tahun pertama. Kehadiran Jeno menambah kebahagiaan serta raut berseri-seri, bak siap melawan sepak terjang dunia manusia nan kejam. Jaehyun dan Roseanne merupakan pasangan penuh cinta dan kasih sayang, dikaruniai putra berparas setampan sang ayah, serta keramahan sang ibu, siapa yang akan menyangka mereka bakal ditimpa masalah?

Kelahiran Jisung di usia pernikahan ketiga rupanya tidak membuat Jaehyun mengurungkan niat memutuskan tali pernikahan mereka. Dia menjadi pribadi yang jarang pulang, selalu sibuk bekerja, serta meninggikan suara apabila Roseanne bertanya. Jeno kecil melihat semua, mengintip dari celah pintu kamar, gemetar dari tangan yang menggenggam tepi benda penghubung tersebut erat-erat seraya menyaksikan bagaimana Jaehyun memaki Roseanne hanya karena wanita itu menyuarakan pertanyaan kenapa sang suami baru pulang. Jaehyun tidak ringan tangan, tetapi suara serta intonasi mencekam yang menjadikan bahan trauma setiap kali ia menutup mata. 

Sebelum Jisung lahir, Jeno hanya punya satu orang tua. 

Roseanne bukan wanita malang, meskipun sewaktu menikah hanya berdiam di rumah mengurus segala keperluan sekaligus menjadi ibu untuk Jeno, Roseanne berhasil menata hidupnya lebih baik bersama kedua putranya setelah persidangan berakhir. Jaehyun tidak diketahui kemana, not that matters bagi Jeno selaku anak yang dewasa sebelum waktunya.

Waktu terkadang kejam, Roseanne meninggalkan Jeno dan Jisung selamanya di usia mereka yang terbilang matang. Wanita itu menitipkan pesan agar terus menjalin persaudaraan, kemanapun atau dimanapun mereka berada, bersama atau berpisah. 

Mengulas balik kisah cinta Jeno di sekolah menengah, Huang Renjun atau kerap disapa Renjun merupakan gadis asal Jilin yang berbeda satu kelas dengan dirinya. Jeno pemain basket, dan Renjun anggota pemandu sorak sewaktu itu. Mereka sering terlibat lirik-lirikan kucing, ditemani semilir rona menghiasi pipi gembil, membuat Jeno terpana dan berhasil menggaet si Cantik. Mereka berkencan selama tiga tahun. Berbagi pengalaman ciuman satu sama lain, berpelukan hangat, atau sekadar menjadi tempat pelipur lara dalam situasi apapun. Tak kurang, tak jua lebih dari itu. Jeno selalu dinasehati sama ibunya, jangan sampai mencoreng harga diri perempuan kalau tidak ingin dicap seperti sang ayah di masa lalu.

Tiga tahun mungkin cukup untuk ukuran cinta monyet. Renjun memutuskan hubungan, kembali ke kampung halamannya tanpa menolehkan pandangan ke Jeno. Lelaki rambut cepak hanya termangu menatap punggung berlekuk terlihat menjauh, menarik napas panjang, kemudian ikut berbalik seolah tidak terpengaruh. 

Kembali ke masa sekarang, Roseanne baru saja dikuburkan tiga hari lalu dan kini Jeno mendapati dirinya berada di depan pintu rumah ayahnya, terbuka lebar memperlihatkan sosok yang pernah singgah di hati masa muda, dan figur orang tua satunya. 

Not in this kind of situation.

"Papa nggak maksa kamu tinggal di sini, tapi kalau memang kamu nggak kepingin cari apartemen lain, rumah Papa selalu terbuka untuk kamu." telinga Jeno bergerak-gerak halus saat mendengarkan perkataan Jaehyun, mata tak lepas memandangi Renjun yang berusaha mengalihkan mata ke arah selain Jeno, dimana ia duduk merapatkan diri di samping Jaehyun seakan mencari perlindungan. 

Pria paruh baya tersebut menyadari tatapan putranya, ia berdehem sehingga atensi sang anak beralih ke dirinya kembali. "Kenapa natapin istri Papa kayak gitu?"

"Dari kapan Papa nikah?" itu saja pertanyaan yang tersembur setelah sekian lama tak bersuara sejak menginjakkan kaki di rumah Jaehyun.

Jaehyun tergelak, merentangkan lengan panjang di sandaran sofa, bak memberikan kenyamanan untuk Renjun yang diam-diam nampak tegang. "Sejak kapan kamu peduli?"

"Cuman tanya." jawab Jeno lagi, kali ini menatap mereka bergantian. Tetapi mungkin lebih lama di Renjun. 

"Tiga bulan lalu," sahut Jaehyun santai, mengambil gelas berisi minuman beralkohol di atas meja tamu, lalu meneguk sedikit demi sedikit. "kami sudah lama saling kenal, daripada ngalor-ngidul nggak ada kejelasan, lebih baik kami menikah, iya kan Sayang?" Renjun ditemukan mengangguk pelan, mendongak ke sang suami sembari mematri senyum tipis. 

"Papa nggak pernah cerita tentang aku?"

"Who cares, Jeno," balas lelaki lebih tua itu mengedikkan bahu, benar-benar tak menghiraukan rahang Jeno yang mengeras sehabis mendengarnya. Renjun juga kalau ditanya ada perasaan takut dan apa ya? nostalgia? pas tahu mantan pacarnya di sekolah adalah anak kandung suaminya, bukankah dia seperti mendapatkan durian runtuh secara cuma-cuma? "kamu sudah besar, jadi sebetulnya nggak perlu diceritain."

"Aku tinggal di sini aja." ucap Jeno memutuskan, entah ada bisikan setan mana yang tiba-tiba membuatnya ingin menetap di hunian orang yang sama sekali tidak ada kontribusi dalam hidupnya selama 18 tahun lamanya. Hanya karena Renjun menjadi istri baru sang ayah, Jeno memiliki niatan lebih untuk melihat sejauh mana wanita rambut pirang itu bertahan dan malah berpaling ke dirinya lagi. Bukan untuk dijadikan pasangan, setidaknya membuat Renjun mempertanyakan keputusannya menikahi duda dengan umur berbeda 23 tahun. 

Alis Jaehyun naik satu, tidak menyadari mata rubah sang istri sudah membulat bagai bola pingpong. Jeno menahan senyum miring, menatap Jaehyun lekat-lekat pertanda ia serius akan perkataan seorang.

"Yah, nggak masalah sih," pria surai cokelat tersebut menyesap minuman kembali, tangan kanan tak berhenti mengelus lengan mulus milik si Cantik di samping, sama sekali tak peduli. "kamu ambil kamar atas."

Jeno menggumam, kini memusatkan pandangan ke Renjun yang terkesiap halus saat mendadak ditatapin intens oleh putra suaminya. "Istri Papa mau aku panggil Tante? atau Mommy?" tanya lelaki rambut hitam seakan memberi penekanan pada kata terakhir. Jaehyun mendengus remeh, menoleh ke Renjun, sementara wanita netra rubah tersebut agak gelagapan. 

"Kamu mau dipanggil apa, Sayang?"

"T-terserah, Mas."

Cuih. Jeno hendak meludahi tetapi mencoba menahan diri. "Oke, Mommy boleh?"

Renjun meringis, dilanjutkan kepala mengangguk kecil. "Iya, boleh."

Akhirnya seringaian yang selama ini Jeno tahan benar-benar muncul menghiasi wajah tampan. Ia dapat melihat Renjun mengerjap-ngerjapkan mata seolah terpana, kemudian tak sadar menegak gumpalan liur di kerongkongan. "Baiklah kalau gitu, senang bisa bertemu dengan.. Mommy."

Renjun tahu lambat laun Jeno tidak akan mungkin melepasnya dalam waktu dekat setelah dia yang pergi mengakhiri hubungan mereka.

.

.

.

***

Ada-ada saja kelakuan Jeno setelah menjadi penghuni ketiga di hunian Jeong. Saat Jaehyun lengah di waktu sarapan pagi, Jeno melipir ke dapur berniat menontoni Renjun masak sambil menyandarkan pinggul di meja terdekat. Pertamanya cuman melihat, lama kelamaan Renjun risih kemudian mematikan kompor.

"Mau apa?"

Jeno memiringkan kepala, "Kenapa? Liatin doang." si Cantik mendengus, kembali menyalakan api, sesekali membolak-balikan roti ala prancis yang aromanya sangat wangi ketika melewati hidung mancung anak tiri. "jago masak ya ternyata?"

Renjun tidak menjawab, melainkan sibuk menekan-nekan permukaan roti kecokelatan menggunakan spatula, menulikan pendengaran. Jeno tidak kehabisan akal, ia bergerak menjauh dari meja, mengambil posisi tepat di belakang sosok lebih pendek, mendapati tubuh montok berapron merah muda itu menegang seketika.

"Kita lihat, Ren.." ujar si Tampan tepat di telinga kanan seraya merayapkan telapak jumbo serta kelima jari panjang di paha belakangnya, menangkap keterkejutan, serta netra rubah berkilat-kilat takut ditangkap basah. "sampai mana kamu bertahan suka sama pria brengsek kayak dia." sehabis itu, Jeno meremas bantalan empuk tersebut hingga Renjun terjengit ke atas, mengundang tawa remeh serta menghilangnya Jeno keluar.

Jantung Renjun berdegup kencang, berpacu macam derap kaki kuda, menumbuk rusuk kiri bak hendak meloncat meninggalkan peraduan. Dia menarik napas dalam-dalam, menghembuskan pelan demi menetralkan sebelum akhirnya menata diri seakan tidak pernah diganggu oleh anak sang suami.

Itu baru hari pertama. Hari-hari selanjutnya, Renjun benar-benar kagok tidak bisa melawan.

Jaehyun bilang dia pulang agak malam, dikarenakan masih ada kantor cabang yang hendak dikunjungi sebelum supervisi pusat datang memeriksa. Renjun sebagai freelancer yang lebih senang bekerja di rumah tentu mengiyakan, bahkan mengingatkan Jaehyun untuk tidak melewatkan makan malam. Sekilas ia bak tak ingat kalau bukan hanya dia yang tinggal di rumah, Jeong Jeno a.k.a mantan kekasih dan kebetulan anak Jaehyun pun juga terlihat keberadaannya.

"Sudah lama kamu kenal sama Papa?" makan malam tiba, Renjun mendapat pertanyaan dari Jeno di kursi helat meja panjang. Wanita surai pirang tersebut memperbaiki helaian rambut yang menghalau pandangan, tak lupa menggumam sebagai jawaban. Jeno, tidak puas atas reaksi tersebut, ia bertanya lagi. "berapa lama?"

"Setahun." jawab Renjun seperlunya, tangan lentik menyuap nasi bercampur daging tumisan.

"Gimana caranya?"

"Bukan urusanmu."

Jeno menyeringai, menatap Renjun lamat-lamat. "Butuh duit ya?"

Renjun refleks menyiram air di gelas ke arah lelaki surai hitam setelah mendengar sahutan kurang ajar tersebut. Jeno tidak marah, malah menertawakan ketika menemukan raut marah Renjun terutama hidung kembang-kempisnya.

"Biasanya kayak gitu kan? Nikahin duda kaya demi hartanya."

"Jaga mulutmu, Jeno."

"Kamu juga kalau kuentot pasti langsung klepek-klepek." Renjun hendak berdiri mengambil air buat menyiram Jeno lagi, tetapi rasanya membuang-buang energi meladeni perkataan orang sinting. "say, Ren. Did his cock better than anyone?"

"Shut up."

"Ayolah, Ren. Kita waktu pacaran nggak pernah sampai ranjang, masa sekarang aku kalah sama Papaku yang sudah ngentotin kamu," telinga Renjun memerah, dua-duanya, entah karena kesal, emosi, atau malu mendengar omongan kompor dari sang mantan yang tidak tahu kenapa seakan ingin membawa Renjun ke ranjang jua. "mumpung Papa telat pulang, yuk ngasur dulu sama aku."

Si Cantik mengepalkan tangan, menatap Jeno yang memandangnya balik dengan tatapan jenaka, bahkan punya nyali memainkan alis ulat bulu tersebut naik turun. The nerve of this man, bukankah Jeno dulu tidak seperti ini? Kemana lelaki kalem dan lembut saat mereka masih bersama huh? Kenapa Renjun malah mendapati pribadi tengil laki-laki ini. Namun, di sanubari seorang terselip penasaran bagaimana rasanya berhubungan dengan pemuda tinggi di hadapan? Jeno benar tentang mereka yang belum pernah menuju sampai ke sana sewaktu berkencan di sekolah menengah. 

Melihat kebimbangan si ibu tiri, Jeno melebarkan senyuman, sedikit lagi ia mengompori, dipastikan kepala bersurai kepirangan tersebut akan mengangguk menyetujui. "Dia nggak akan tahu, Ren- atau haruskah aku panggil kamu Sayang kayak waktu kita pacaran?" panggilan bernada lembut itu semestinya tidak mempengaruhi pikiran Renjun untuk berbalik ke masa lalu, tapi pada dasarnya Jeno memang punya mulut semanis gula, terkutuklah dia yang bangkit dari kursi kemudian berjalan menyeret langkah secara ringan menuju kamar. 

Jeno awalnya memiringkan kepala, bingung lebih tepatnya. Sesaat ia menangkap Renjun menoleh ke belakang bertepatan mata mereka saling beradu pandang, di situlah lelaki rambut hitam meloncat dari tempat duduknya.

"Tenang, Sayang.." saat mereka tiba di ujung kasur berukuran lebih besar untuk dua orang, pemuda itu berbisik merdu sesekali meniup leher jenjang sekalian cuping telinga Renjun hingga si perempuan menggeliat kegelian, "it will be our little secret."

Uh oh, apa Renjun berhasil menyangsikan hal itu?

.

.

.

Mungkin sebagian orang akan berpikir betapa murahnya Huang Renjun sekarang begitu membiarkan diri larut dalam permainan nakal anak kandung suaminya. Dia acuh tak acuh sih, lantaran memang terselip rasa penasaran kenapa dia dan Jeno tidak sejauh itu waktu pacaran. Mengingat Jeno merupakan putra Jaehyun, yang mana sang suami memancarkan aura maskulin dan lelaki ini pun juga memilikinya, Renjun menendang moral sejauh mata memandang sebab bibir Jeno yang pernah singgah di bibir masa muda, kini mengait tak sabaran seiring sentuhan tangan gratil melepaskan seluruh pakaian. 

Jeno tiba-tiba terkekeh di sela-sela tautan, membuahkan alis ulat bulu milik si wanita tampak curam bersamaan deru napas terdengar berat. Lelaki sebayanya mengecup bibir nan tipis berulang-ulang, manik kucing berkilat jenaka, tidak meruntuhkan cengiran sama sekali.

"Apa?" ia menyuarakan pertanyaan, lama-lama jengah melihat ekspresi menyebalkan tersebut.

Tangan penuh nadi tak tahu malu bertengger di salah satu pipi pantat, menyebabkan tubuh Renjun terjengit kecil, sebelum diganyang-ganyang layaknya mengadon roti. "Nggak papa, lucu aja lihat kamu se-putus asa gini, Papaku kurang ya?"

Sontah wajah Renjun memerah, hampir menyelimuti keseluruhan, "Bacot, just get into it before he's back!"

Alhasil, tawa Jeno semakin besar dan lantang, bagai orang kesetanan. Sambil melumat bantalan kenyal milik Renjun kembali di antara belah bibir seorang, ia mendorong tepat ke atas kasur hingga figur perempuan rambut pirang itu memantul di alas empuk. Renjun menarik rahang Jeno agar tidak terlalu lama melepaskan sambungan. Lidah bergabung menyusuri garis bibir Jeno supaya diberi akses untuk mengeksplor dan bermain dengan sekawan. 

"Mmh.. J-Jeno.." desahan Renjun sangat halus diselingi tubuh gemetar kala Jeno mengecupi permukaan kulit seputih susu. Pemuda itu tidak tanggung-tanggung dalam mencicip rasa asin karena keringat, padahal seingatnya, kamar utama ini punya pendingin ruangan setara suhu di Kutub sana. "unghh.." hidung mancung bertengger di belahan dada, telapak tangan menangkup si gunung kembar yang terlalu padat untuk ukuran wanita langsing sepertinya.

"Kadang aku mikir, kenapa aku segoblok ini nggak rasain kamu pas kita pacaran, Jae." gumam Jeno mengadu tatap dari tempat ia bertumpu, pada mata rubah yang berkaca-kaca akan nikmat yang menyebar ke seluruh peredaran, "who's taking your virginity, Sweetheart?"

"Ahh~" Renjun membusungkan dada sebelum menjawab, isi otak mendadak lumer bak mentega dipanaskan sebab Jeno tampak tidak memberi ruang untuk berbicara ketika lelaki rambut cepak itu malah sibuk memainkan pentil kanan sembari meremas-remas susu kiri. Kombinasi luar biasa menggetarkan saraf di otak, memacu darah lebih cepat ke daging di bibir bawah, melumasi liang sendiri dengan banyak cairan. 

"Jawab." tegur Jeno tega mencubit kecil si pentil mungil. Renjun terpekik, badan menggeliat ke sana kemari, tidak dapat kemana-mana lantaran postur bongsor sang anak tiri menahan laju gerak sendiri. 

"J-Jaemin.. ngh." mendengar nama yang tidak asing tersebut cukup berhasil membulatkan mata Jeno. Na Jaemin, teman sekelas Renjun yang setahu Jeno memang pernah punya rasa sewaktu mereka berkencan. Jeno tidak menyangka kalau lelaki itu yang mengambil kesempatan merasai Renjun pertama kali. 

"Kapan, huh? Sebelum kita putus atau sesudah?" tanya Jeno menyambikan jari-jemari panjang menyusuri perut gembil, sensasi geli menyebar di kulit Renjun, membuahkan erangan frustasi semakin nyaring serta beceknya bibir kemaluan ketika Jeno tiba di sana. "oh fuck, kenapa basah banget, hmm?"

Renjun menggigit bibir bawah kuat-kuat, tampak berusaha tidak terpengaruh tapi parasan jempol Jeno yang besar itu malah berputar-putar tepat di lapisan kenyal yang menyembunyikan klitnya, sengaja belum disibak untuk bersentuhan langsung, sengaja menggoda Renjun terlebih dahulu. "Mmph.. nghh.." rintih perempuan surai pirang mendadak mengapitkan paha biar Jeno tidak menjauhkan kontak.

"Kalau Papa tahu kelakuan istrinya kayak gini.." si Tampan menyeringai, akhirnya membuka sisi labia hingga klit semerah darah tersebut terpampang nyata bersamaan liang berkedut manja, Renjun terkesiap, merasakan lendir kewanitaan menyembur kecil melalui lubang yang sedang menganga. "aku nggak bisa belain kamu ya, Ren."

Si Cantik tidak dapat membalas pakai kalimat lantaran tersedak udara kala Jeno menyusupkan dua jemari secara brutal. Bunyi schlok menggema di gendang telinga akibat kondisi yang dihasilkan. Renjun hanya bisa mengerang, merintih memanggil nama Jeno berulang, sesekali pinggul ikut bergerak mengikuti irama digit panjang.

"Ohhh shit.. mmh.. shit J-Jeno! Fuckkk!" ia berteriak kencang begitu orgasme pertama menyeruak keluar berbentuk pancuran. Jeno mengocok lebih cepat, terlalu cepat. Menyebabkan perih melanda sisi liang kemerahan, beserta gesekan panas seperti terbakar. Lubang kemih tampak berkontraksi membentuk semburan, membasahi Jeno yang tengah berhadapan.

Jeno kelihatan tak ingin memberi ampun. Selepas gelombang klimaks menghantam bak ombak di pantai, lelaki itu tetap memaju-mundurkan dua digitnya sampai Renjun merinding disko. Ruas telunjuk dan jari tengah licin diselimuti pelumas alami sementara ibu jari tak kuasa mencolek-colek si daging rentan yang berkedut tidak keruan.

"Seandainya Papa nggak pulang, sudah pasti kamu teler sepanjang malam, Ren." kata Jeno melepaskan tautan jemari seorang. Liang kawin itu nampak terbuka bak hendak memamerkan isi dalamnya, membuat ia menjilat bibir kemudian mengocok kejantanan sendiri sekalian melumasi dengan si lendir.

Indra pendengaran Renjun seolah tidak berfungsi sesaat ia melepaskan ketegangan. Dia mengatur napas besar-besar, terkesiap kembali begitu Jeno menaikkan kedua tungkai tepat di dada sembari menyapukan palkon gendut di antara bibir kenyal yang menutupi. "Ahh.. Jeno."

"Sayang banget kita nggak bisa lama-lama-" punggung Renjun membusur sesaat Jeno menyusupkan kejantanan melewati pintu liang. Dinding vagina seketika menjepit keberadaan puncak, menyebabkan Jeno menggeram keenakan, "fuck! Aku pikir memekmu bakal longgar, Sayang." karena waktu mereka terbatas, dan Jaehyun bisa datang kapan saja, Jeno memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk menghentak maju sepenuhnya. Pangkal bertemu bagian luar liang, si palkon gendut berhasil mencium mulut rahim di sana. Renjun bergetar hebat terhadap sensasi yang memenuhi saluran, tak sengaja mengetatkan liang, sama-sama mendesah akan kenikmatan yang dibawakan.

"Ohh! J-Jeno! Nghh.. nghh!" desahan Renjun makin kencang sekuat dinding beceknya memijat penis Jeno yang keluar masuk tanpa jeda. Bola kembar nampak menampar-nampar pantat sintal, seiring buah dada bergoyang menyita pandangan. Jeno menggeram rendah sembari menangkup kedua susunya, meremas-remas bak mainan squishy, terkadang pentil diraup layaknya bayi kehausan.

Renjun kembali gemetaran bak diterpa gempa lokal, tungkai terbuka lebar seiring kuku lentik menancap di sprei berantakan akibat pergerakan mereka. Jeno memelintir salah satu pentil tegangnya membuahkan jeritan nikmat semakin lantang mengiringi permainan. Decitan kasur memantul ke penjuru ruangan, lama-lama mengganggu kemaslahatan makhluk gaib di sekitar.

"Ah! Jeno! Ngaahh please please jangan di dalam!"

Jeno menyengir, kelihatan sekali tidak mau mengindahkan sehingga rasa panik tumbuh di rongga dada si perempuan. Lelaki itu tidak sebodoh yang Renjun pikirkan. Ketika ia mencapai klimaks kedua berupa pancuran deras, Jeno sontak melepaskan penyatuan lalu terburu-buru mengocok penis kerasnya tepat di belahan dada istri ayahnya.

Untaian per untaian kental mengotori sekeliling gunung kembar seiring sang pemilik tersengal mencari napas. Jeno memandangi mahakarya yang telah dibuat, sama sekali tidak meruntuhkan cengiran menyebalkan.

"Tambah cantik kalau kena peju."

Renjun berusaha menyingkirkan badan bongsor di atasnya, ia bangkit dari kasur mencari pakaian, lalu memasang serampangan.

"Gimana Ren? Enakan punyaku atau punya Papa?"

Si Cantik tidak menjawab, melainkan memberi tatapan sinis pada pemuda sebaya sebelum angkat kaki menuju kamar mandi di ruangan. Jeno setia mematri seringaian, geleng-geleng kepala, tak lupa kembali mengenakan pakaian, bertepatan deru mesin mobil terhenti di garasi rumah, pertanda sang ayah telah tiba.

"This is gonna be good." gumam Jeno sudah memikirkan ide gila apa lagi yang akan ia coba ke istri papanya.

.

.

.

***

"Sinting," Jisung berkomentar acak, Jeno nyaris menyemburkan minuman yang disesap setelah menjatuhkan kabar di hadapan adik semata wayang, segera mengelap bibir belepotan. "he did what? Married?"

"Unfortunately, he did." jawab Jeno cuek bebek. Selagi dia masih ditampung di rumah, selagi dia dibebaskan melakukan apa saja termasuk menggoyang Renjun sebagai agenda keseharian tanpa sepengetahuan Jaehyun, Jeno tidak mengacuhkan status pernikahan mereka.

Jisung melongo, tak mempercayai sepenuhnya pada kabar yang dihembuskan lelaki lebih tua. "Terus Abang ketemu sama istrinya?"

"Coba tebak, gongnya apa."

"Apa?" desis sang adik tidak sabar, Jeno menyeringai, menyeruput kembali americano tanpa gula bak belum ingin menjawab. "bah! Apa Bang?!"

Semilir gelak mengalun renyah, disertai kepala Jeno geleng-geleng lantaran masih tidak menyangka. "Istri Papa si Renjun."

Kalian dapat membayangkan betapa ikoniknya manik bulat Jisung terbelalak setelah menangkap nama familiar di belakang kata "istri papa". Ia tidak menampik keberadaan wanita itu di kehidupan kakaknya semasa sekolah menengah. Perbedaan 3 tahun antara ia dan Jeno bukan menjadi penghalang ia mengenal pacar sang abang.

"No way!"

"Yes way."

Jisung cengo lagi. Mulut mangap-mangap layaknya ikan koi, menambah intensitas gelak Jeno sebab kelucuan mendapati lagak adiknya seperti ini. "Goblok."

"Tapi susunya besar loh, Ji."

"The fuck, Bang? Dari sekian banyak informasi, cuman itu yang Abang perhatiin?" Jisung menggeleng-gelengkan kepala, punggung tersandar dramatis di kursi, kemudian menatap sang kakak lamat-lamat. "terus respon dia ketemu Abang gimana?"

"Ya kaget, syok mungkin, kayak lihat pocong bangkit dari kubur." bila mengingat kembali ekspresi Renjun tempo lalu perihal kemunculan mendadaknya di depan pintu, rasa geli menggerogoti peredaran nadi lantaran raut tidak percaya Renjun terasa layak buat diukir dalam memori. Kayak.. "Surprise, Bitch!"

Sang adik mendengus kecil, memain-mainkan sedotan di gelas sendiri, masih mencerna berita terkini.

"Terus, Abang mau ngapain?"

Mendapat pertanyaan, Jeno membeberkan segala hal yang ia telah lalui sesudah tinggal sehari. Air muka Jisung benar-benar tercampur aduk antara kagok dan kagum atas kelakuan kakaknya di rumah ayah mereka bersama istri barunya. Mendengar Jeno berhasil menggoda Renjun di ranjang tempat Jaehyun tidur, Jisung memukul-mukul meja sambil terbahak-bahak.

"Abang gila!"

Jeno menyengir, patut berbangga diri atas pencapaian seorang. "Kalau nggak gitu, tinggal di sana nggak seru."

Memang betul apa yang diucapkan Jeno. Setelah permainan kecil-kecilan mereka sebelum Jaehyun pulang, dia dan Renjun selalu terlibat situasi panas meskipun cepat. Ada satu momen waktu istri papanya lagi buatin makan malam, Jaehyun jelas-jelas duduk di ruang makan sambil melanjutkan pekerjaan lewat laptop, tidak tahu menahu soal Renjun terbungkuk di atas meja dapur dan digoyang Jeno tanpa ampun.

Pakaian mereka lengkap, Jeno hanya perlu menurunkan celana kaosnya untuk membebaskan batang kemaluan sementara daster Renjun tersingkap sampai tulang ekor. Yang penting mereka sama-sama menyatu, bergerak lawan arah demi menemukan titik kenikmatan di antara adrenalin terpacu.

"Mmphh.. mmphh!" Renjun membekap mulut selagi Jeno memaju-mundurkan pinggul, puncak jamur menabrak selaput dekat mulut rahim, dirasa terlalu dalam bagi si cantik.

Jeno di belakang sebisa mungkin menahan geraman serta bunyi tamparan antara paha dan pantat montok yang bergoyang. Dia menangkup salah satu belahan pipi menggoda iman, menarik ke samping hingga terdengar desisan keenakan pada peregangan.

"Oh! Mmmphh!" liang kewanitaan selain becek tak terkira, rupanya memijat penis Jeno kuat-kuat. Sebentar lagi Renjun mencapai puncak, dirasa dari tungkai gemetar serta kedutan dinding yang menyelimuti kejantanan.

Jeno pun sendat jua. Bersamaan Renjun menggapai klimaks, dia tak sengaja muncrat di dalam. Wanita surai pirang terbelalak begitu menyadari, refleks menoleh ke belakang sambil melotot marah.

"Fuck.. intens banget." gumam lelaki rambut cepak menggenjot halus, merasakan milik Renjun meneteskan berbagai cairan. Dia langsung mencabut begitu saja, meninggalkan kehampaan serta pintu liang nan longgar. Krim putih bertengger membentuk tetesan kecil, seketika ia menyunggingkan seringaian. "oops."

"Bajingan!" umpat Renjun di sela-sela gigi merapat kemudian bergegas bangkit buat merapikan penampilan. Celana dalam diangkat naik, ia meringis kala mendapati liangnya terus-terusan mengeluarkan sperma Jeno di sana. Rasanya terlalu becek, dan longgar, tetap berkedut karena terlalu sensitif sehabis menggapai klimaks.

Makan malam berjalan sempurna menurut dua insan sebaya. Jaehyun sibuk meresapi pekerjaan sehingga tidak mempertanyakan kenapa masakan Renjun agak lama dari biasanya, terlebih pula dia tidak mengacuhkan keberadaan sang putra, lantaran laptop dinilai penting dibanding anak seorang.

Agenda kucing-kucingan terus berjalan. Entah Jeno menggoyang ibu tirinya di kamar sendiri, atau di kamar mandi, atau di dapur seperti yang kuceritakan tadi, bahkan sofa ruang tamu pun juga digilir. Jeno benar soal keinginan dia ingin membuat Renjun teler, khususnya mendamba burungnya saja daripada milik sang papa.

Renjun sendiri nggak bisa memilih karena mereka punya teknik masing-masing. Jaehyun yang lebih tua, memancarkan aura maskulin dan dominasi, Renjun selalu patuh pada apapun yang dia inginkan, berujung mengencingi kasur mereka tiap kali bermain. Berbeda dari Jeno, mulutnya kasar, suka mengolok Renjun meski pinggulnya maju mundur secara cepat dan terburu-buru. Bersama Jeno, Renjun merasakan hormon adrenalinnya berpacu bak kuda berlari, kepanikan apabila suatu hari ditangkap basah Jaehyun menjadi pemicu dia memancur setiap digenjot mantan kekasih.

Suatu hari pula, aku ceritakan lagi. Jisung ikut mencicipi. Anak itu datang tanpa memberitahu siapapun, tiba-tiba saja dia muncul bertepatan Jaehyun membuka pintu. Anehnya, lelaki tua tersebut tidak mengenalinya, not that he cares though, karena sesungguhnya kalau bukan karena Jeno yang menceritakan pengalamannya selama tinggal di rumah ayah mereka, Jeong Jisung tak sudi mampir untuk mengunjungi.

"Cari siapa?"

Jisung tersenyum sopan, membungkuk sedikit, "Salam, Pak. Saya mau ketemu Jeno."

Jaehyun menaikkan satu alis, "Ada urusan apa?"

"Kebetulan saya adik kelasnya di kampus, saya mau pinjam buku catatannya yang dia bicarakan tempo lalu." Jaehyun menggumam mengerti, mempersilakan Jisung masuk sembari ia memanggil nama Jeno. Diam-diam Jisung memperhatikan gerak-gerik serta postur sang ayah. Dari segi penampilan, Papanya nggak tua-tua amat meski berumur 40an, masih gagah, rupawan, badan tegap bak tentara militer dan aura kebapakannya begitu kuat. Dia jadi paham kenapa Renjun sampai klepek-klepek, wong ternyata Jaehyun memang semaskulin itu bagi kesan pertama si bungsu.

"Loh?" Jeno memiringkan kepala saat menemukan adiknya, ia nyaris membeberkan identitas asli Jisung apabila tidak menangkap kode yang dilayangkan manik sang adik. "oh, Jisung-ah, tumben ke sini?"

"Iya, Bang. Mau pinjam buku catatan."

Jaehyun menyaksikan interaksi kedua lelaki tersebut, berusaha menelisik antara pahatan wajah Jeno dan Jisung, merasa familiar pada pemuda lebih pendek dari putra sulung.

"Papa ada urusan siang ini, kamu sama temanmu makan siang di luar aja. Mommy kamu lagi istirahat di kamar."

Jeno dan Jisung saling melirik, ingin menertawakan di bagian panggilan "Mommy" untuk Renjun tapi tidak hendak mengacaukan akting picisan mereka saat ini. Jaehyun menatap Jisung sekali lagi, lekat-lekat bagai ingin menguliti, sementara si bungsu mempertahankan senyum sopan, barulah Jaehyun melangkah pergi.

Meninggalkan mereka bersama sang istri.

Asyik.

Renjun memang sedang beristirahat. Dia nampak merebahkan badan sembari menonton televisi di kamar. Wanita cantik itu sama sekali tidak menyadari keberadaan orang ketiga di rumah, tiba-tiba saja terkesiap saat Jeno menerobos masuk bersama pemuda yang dikenali.

"J-Jisung?"

"Hai, Kak." sapa Jisung menaik-turunkan alis sembari mematri cengiran jahil. "fancy seeing you here, as our Mommy."

Si Cantik meneguk ludah, pelan-pelan menarik selimut hingga menutupi dada. "M-mau apa kalian?"

"Papa lagi keluar, yuk threesome." ajak Jeno tanpa babibu menanggalkan kaos rumah serta menurunkan celana pendeknya. Renjun melongo, memandang dua kakak beradik itu bergantian, terutama si bungsu yang mengikuti jejak sang sulung.

"Apa-apaan!"

"Udah, terima aja," ucap Jisung mendekat duluan, sekali tarik, selimut yang melingkupi figur montok tersebut langsung lenyap gugur ke lantai. Belahan dada Renjun sontak terpamerkan, mengundang lelaki paling muda menjilat bibir bawah, lalu terulur meremas salah satu dari gunung kembar. "shit, mujur banget Abang Jeno!"

Jadi begitulah Renjun berakhir diapit dua lelaki berbeda tinggi namun berhasil membawanya ke surga duniawi.

Jisung belum muluk-muluk kok. Kalau kakaknya mau di bawah, dia kedapatan sodok kerongkongan juga nggak masalah. Dia hanya ingin melihat seberapa putus asa Renjun saat mulut dan vaginanya kena sumpal penis tebal. Pasti tidak bisa menjelaskan perasaan campur aduk ketika anak-anak tiri suaminya mengambil kesempatan.

Bunyi tenggorokan sekaligus penyatuan dua kemaluan di selangkangan memantul di penjuru kamar utama, Renjun tidak dapat merangkai kalimat selain dengan desahan. Badan tertandak-tandak mengikuti irama genjotan, manik mengadu pandang ke Jisung di hadapan.

"Oke juga nih sepongannya," komentar lelaki termuda memegangi kepala Renjun agar dia yang bergerak mencari kenikmatan, "jago kayaknya."

Jeno di belakang Renjun nampak cengengesan, mengulurkan lengan panjang tepat di gunung kembar, sambil diremas acak ia menggeram ketika Renjun mengetatkan liang. "Anjing! Sedap banget, cok!"

"Next time boleh dong aku coba, Bang." Kewanitaan Renjun refleks menjepit burung Jeno lagi, menambah seringaian lebar terpampang di wajah tampan.

"Eh seneng memeknya, Ji. Dia memang suka dilonggarin dontol." Kedua bersaudara terbahak-bahak tanpa dosa walau sekarang mereka setia menggoyang insan perempuan di tengah ranjang. Rahang Renjun mulai kram karena kebanyakan menganga, tenggorokan sudah tidak nyaman lantaran palkon sedari tadi menubruk selaput mukosa di dalam. Belum lagi pelumas alami mengepul di liang kewanitaan, tumpah ruah setiap kali Jeno bergerak mundur, bercampur anak mani lelaki sepantaran.

"Mmph! Ughh.. ughhh!" Jeno mengumpat pelan ketika Renjun kembali mengetatkan otot saluran, bunyi becek penyatuan semakin lantang, disusul gempa lokal menerpa tubuh molek akibat pancuran deras yang datang. Jisung terpana melihat pinggul Renjun menukik ke bawah, sengaja membenamkan muka ibu tirinya ke area selangkangan hingga hidung mancung melesak di rambut kemaluan.

"Bzir, memeknya bocor."

Jeno sempat meloloskan tawa, mengayun pinggul lebih kuat menyebabkan tubuh Renjun makin terjorok ke depan seiring burung adiknya bersemayam di kerongkongan. "Mana puas cuman satu, ya kan Mommy?" Si cantik tidak menjawab lantaran tersedak kembali pada pergerakan acak Jisung. Lelaki termuda di sana menggeram nyaring, menikmati gerak peristaltik serta air liur nan tumpah ruah lalu akhirnya tak ketinggalan menyemburkan si putih melewati saluran makan.

"Ohok! Ughh! Kkkhhh!"

Jisung mendorong kepala Renjun agar kuluman terlepas, raut sang ibu tiri benar-benar berantakan namun tetap membangkitkan syahwat seorang.

Mereka melakukannya bergiliran. Sehabis Jeno melepaskan benih pertama, Jisung meluncur jua mengambil posisi sang kakak. Ketiga insan mendesah berbarengan terhadap sensasi basah yang mendera permukaan kulit selain keringat.

Renjun tidak dapat berbuat apa-apa. Kepala mendadak kosong, hanya menerima perlakuan dua anak tirinya. Susu bergoyang mengikuti irama genjotan, ditangkup satu persatu oleh telapak besar. Ah sudahlah, ia nggak bisa melawan selain memasang raut ahegao, mulut belepotan ludah, lidah terjulur seiring bola mata terputar ke belakang.

Selanjutnya yang ia tahu sebelum kehilangan kesadaran ialah kelopak perlahan-lahan menutup manik rubah yang berpendar redup.

.

.

.

***

Apa dampak dari kelakuan Jeno kepada Renjun selama tinggal beberapa pekan terakhir?

Ya. Dambaan.

Si cantik sebetulnya ingin mengelak, sumpah! Dia berselingkuh di belakang Jaehyun dengan anak sulungnya, yang kadang-kadang si bungsu juga ikutan kalau tidak ada kesibukan. Jeno benar-benar berhasil menanamkan doktrin bahwa Renjun tidak bisa berpaling darinya, mau itu lewat ucapan kotor saat mereka bersenggama, atau peninggalan bekas cairan ekskresi si tampan di liang vagina.

Sungguh. Renjun berulang kali hendak menghentikan, namun setiap kali Jeno mendekat, ia selalu berakhir mengangkang.

"Gimana kerjaanmu, Sayang?" ia tersadar dari lamunan sementara kala menangkap pertanyaan sang suami. Hari itu mereka mengadu kemesraan di ranjang sesudah makan malam. Jeno sudah naik ke kamar seorang, tak lupa mengocok Renjun menggunakan jari di dapur hingga sang ibu tiri mengotori lantai keramik dengan pancuran deras. 

"Nggak banyak kok, Mas," jawabnya beringsut memeluk Jaehyun demi melenyapkan gemuruh kerisauan di sanubari. Lelaki lebih tua itu tersenyum, mengusap kepala bersurai pirang, menduselkan hidung tepat di pipi tembem yang bersemu. "Mas gimana di kantor?"

"Capek, pastinya," Lelaki rambut hitam memperbaiki posisi, menahan separuh beban tubuh molek sang istri di atas badan sendiri. "tapi setiap pulang disambut sama kamu, rasa capeknya langsung hilang."

"Tsk, gombal banget." gerutu Renjun mengerucutkan bibir tetapi berkebalikan dengan semilir rona merah yang menghiasi pipi. Jaehyun tergelak, mendekap si cantik erat, tak lupa mendaratkan kecupan manis tepat di bagian wajah mana saja. Sejenak Renjun hanya dapat tertegun ketika merasakan bibir suaminya menempel sebagai bentuk kasih sayang, padahal ia tak sepatutnya diperlakukan seperti permata terindah bila sudah main belakang.

"Mas ngomong apa adanya, tau. Makanya Mas nggak mau kamu kerja di luar supaya setiap Mas pulang, ada cantik Mas yang nungguin dan nyambut Mas antusias." 

Renjun tampak getir mendengar ucapan Jaehyun meski tak memperlihatkan. Betul selama ini dia tidak pernah absen menyambut kedatangan sang suami setelah selesai bekerja, namun tak memungkiri jua apa yang telah ia lakukan di rumah sepanjang Jaehyun tidak ada.

"Mas." panggilnya pelan. Jaehyun menggumam di ceruk leher tempat membenamkan wajah, menyebabkan rasa gelitik merayap di sekujur permukaan. "make love, yuk."

Jaehyun tertawa, langsung saja menarik Renjun agar sepenuhnya duduk di atas figur kekar sekaligus mendaratkan telapak tepat di pantat sintal. "Nggak mungkin Mas nolak." 

Untuk malam ini, biarlah ia memikirkan Jaehyun. Hubungan intim mereka tidak memudar walau Renjun digenjot Jeno habis-habisan. Tiap Jaehyun merayapkan jari-jemari kasar di balik daster pendek sang istri, Renjun selalu berakhir menangis saking nikmatnya ia menghangatkan burung lelaki dambaan. 

Seperti saat ini. Kala bibir beradu dalam tautan lembut sedikit tak sabar, kala lidah lunak menyusup di salah satu rongga makan, sepuluh jari tidak berniat menghentikan elusan maupun sapuan di badan telanjang. Jaehyun menggerayangi sisi kiri kanan dari lekukan tubuh indah wanita di bawahnya, meremas pipi pantat yang bergoyang, kemudian dengan mudahnya menyelip buat menyapa kemaluan. 

"Ahhh.. Mas.." erang Renjun mesti memutuskan sambungan bibir keduanya. Manik rubah merem-melek akan kehadiran tangan Jaehyun di organ, mengusak cepat liang nan basah, sesekali dicelup pakai jari tengah. "nghhh!!"

"Always wet," puji Jaehyun menatap Renjun dari tempatnya, menemukan rahang sang istri terjatuh sesuai gravitasi, rona merah menutupi sebagian muka, serta air liur tak sengaja menetes di dagunya, selalu menegangkan adik di antara paha. "always tight."

"Ohh.. Mas.." si cantik tersengal-sengal, mencoba menggerakkan pinggul senada tempo jari tengah sekalian bergesekkan dengan penis keras suaminya. "Mas ohh please masukin banyak-banyak."

Satu tamparan gemas mendarat, Renjun terpekik kaget, bukan kesakitan melainkan keenakan. Dia minta pantatnya ditampar sambil dikocok pakai jari, biar klitorisnya digesekin ke penis sang suami. Gurat nadi di sekujur batang tegak itu berkedut sama-sama si itil, rasanya kurang puas apabila tidak dalam tempo secepat mungkin. 

Renjun menggelinjang sekalian membusungkan dada ke arah Jaehyun, rupanya pingin pentil seorang dimanja bak tombol remote. "Mas.. nete cepet mmhh.."

Jaehyun tergelak, tentu mengabulkan dengan meraup sepenuhnya. Desahan Renjun makin lantang meresapi dinding kamar, samar-samar tembus ke kamar Jeno di lantai atas, menangkap secara seksama pakai pendengaran super. 

"Aahh! Masss.. lagi! Ungh!! Lagii hisap lebih kuat!" Mulut Jaehyun bekerja melebihi vakum, mengalahkan bayi rakus. Meski tidak keluar asi, puting bulat nan ranum tersebut dikenyot kuat-kuat sesekali si gunung yang bebas diremas bagai mainan kenyal. Renjun mengerang lebih nyaring, ada keinginan Jeno dapat mendengarnya sambil mendadak mengocok sendiri di atas sana. Membayangkan si sulung yang sering menggoyang tiba-tiba menempelkan telinga di lantai setelah sayup-sayup menangkap desahan sang ibu tiri, makin membuat liang seorang becek saat Jaehyun memompa empat jari di sana.

Pijatan pada sekujur digit tebal Jaehyun berdenyut kuat, pertanda Renjun akan mencapai puncak. Paras jemari telunjuk membelai mesra g-spot paling dalam, disambut pancuran deras menyembur keluar bersamaan Jaehyun tega mencabut seluruh jarinya. "AAANGHH!!" pinggul Renjun bergetar hebat, seiring punggung membusur indah serta tangan mencengkram lengan atas Jaehyun sebagai pegangan hidup. Byur sekali, byur dua kali, sampai lendir putihnya ikut membasahi sprei sendiri.

Jaehyun nggak perlu nunggu lama buat langsung menjeblos istri tersayang, setelah hormon Renjun reda, menyisakan ia tersengal-sengal, lelaki lebih tua dua kali lipat dari umurnya mengusap palkon gemuk itu di lipatan kenyal. Renjun makin teler, tak sadar mengedutkan pintu liang, mengerang manja biar segera dicoblos.

Begitu Jaehyun menyatukan kemaluan, pelan-pelan, tetapi berhasil buat Renjun melayang, bibir mereka kembali saling bertautan diselingi lidah membelit maupun menghisap seakan melenyapkan dahaga. Jaehyun memajukan pinggul, menggeram rendah di tautan bibir ketika lorong sedap nan basah tersebut membuka jalan hanya untuk burungnya. Renjun juga tak kalah nyaring merengek, merasa terlalu sensitif hingga menggelinjang geli akan setiap inchi gesekan kulit panas dari penis suaminya terhadap dinding vagina seorang.

"Fuckk.. mmhh.. enak.. Mas.." desah si Cantik patah-patah, terutama kala Jaehyun mulai menggenjot tanpa ampun. Dia langsung saja bergelantungan bak anak koala, mengangkang lebar seolah menyambut gerakan sang suami, terhentak-hentak mengikuti tempo yang dikasih. "aahh! Uwahh! Nghhhh!!"

"Enak Sayang?" Jaehyun mematri cengiran, setitik keringat di pelipis terjatuh mendarat di hidung bangir langsung saja ia jilat sekaligus garis bibir tipis yang terbuka agar pemiliknya dapat bernapas. 

"Ba..nget.. nghh.."

Genjotan Jaehyun makin kuat, plak- plak- plak. Renjun tambah sensitif luar dalam, bahkan itil yang menyembul tak tahu malu pun tidak perlu digosok saking puncak serupa jamur daritadi menumbuk sisi mulut rahim tiada ampun. Namun, Jaehyun tidak begitu mengabaikan kehadiran si mungil, daging penuh saraf tersebut dijentik-jentik kecil, lalu diusap pakai parasan jempol kiri. 

"Aahh fuck- fuck- fuckk! Maass ini terlalu.. fuckk!!" teriakan Renjun lagi-lagi bersamaan pancuran yang mau tak mau mengharuskan Jaehyun mencabut kemaluan. Burungnya menggeliat, basah diguyur air seni yang membludak. Jaehyun tertawa kesenangan melihat kesensitifan istrinya, buru-buru melesakkan organ dan mendesah barengan pada sensasi yang dirasakan.

"Ah.. Mas jadi deket nih Sayang."

"Iyah Mas! Iyaa Ren mau peju pleaseee!" 

Sahut-menyahut pasangan di ranjang yang berdecit menabrak dinding kamar mungkin terdengar sampai ke telinga tetangga seberang rumah, palingan Jeno juga curi-curi dengar, lalu secara diam-diam ikut mengocok burungnya senada tempo Jaehyun menggenjot Renjun. 

"Ugh! Mass! Aahhhnn!" sehabis ia memikirkan Jeno masturbasi di atas sana, saluran ketat gadis rambut pirang itu basah, licin, becek tidak terkira bahkan lendirnya menetes melalui sisi penis Jaehyun meski sedang menyumbat dan bergerak teratur. Pria rambut hitam yang menggoyang ranjang dengan performanya juga terdengar mendesah nikmat terhadap sensasi cenat-cenut di sekujur batang, seiring tulang panggul menghentak keras, disusul untaian putih seakan meledak membanjiri liang. 

Renjun gemetaran seperti ada yang menggelitik permukaan badan, aliran urin tidak dapat ditahan, membentuk pancuran tinggi kemudian perlahan mengecil bak kemih pada umumnya. 

Main sama Renjun memang seperti itu.

Basah kuyup kayak disiram seember air.

Sedap dijepit. 

Lendir bening maupun putih tumpah ruah karena tekanan orgasme sang pemilik.

Jaehyun tidak pernah bosan menggauli istri cantiknya sampai menangis. Meski usia sudah kepala empat dengan anak laki-lakinya seumuran Renjun, tidak menampik goyangan pinggul serta hentakan kasarnya membuahkan kenikmatan surga dunia.

Kedua insan bertaut kemaluan mengadu bibir dalam cumbuan lembut. Tergelak kecil akan permainan mereka malam itu, sebelum akhirnya pergi tidur. 

Tanpa sepengetahuan pasangan tersebut, Jeno tentu mendengar dari awal hingga akhir sembari menempelkan telinga di pintu kamar mereka, tak lupa genggaman jumbo melingkupi batang keras, dipenuhi untaian putih yang meletus bak lahar gunung panas. 

"Sialan," gumam Jeno memandangi telapak nan kotor. samar-samar masih tertangkap ketawa manja Renjun yang mungkin sedang didekap sang ayah, menumbuhkan rasa sebal dan ingin memberi pelajaran. "awas kamu Ren, tunggu habis ini."

Uh oh. Apa yang akan dilakukan Jeno setelah Renjun membuatnya masturbasi betulan, hm?

.

.

.

***

 

Semua berjalan normal seiring kehidupan Jeno di rumah ayah dan ibu tiri slash mantan pacar. Dia tetap kedapatan menggenjot Renjun disaat papanya nggak ada, berlagak seperti tidak tahu apa-apa ketika Jaehyun pulang kerja. Jisung pun kadang tidak mau ditinggal, ada waktu luang, bertanya ke Jeno apakah Renjun ada di hunian, lama-lama menumbuhkan rasa ketagihan.

Ada yang gila malam ini.

Jeno mengendap-ngendap pelan tepat di hadapan pintu kamar orang tuanya. Tiba-tiba terlintas dalam benak, keinginan untuk memberi Renjun pelajaran meskipun tahu akan berujung kemana-mana. Pada pukul 11 malam, ketika semua penghuni termasuk Jaehyun dan sang istri sedang terlelap pulas, Jeno menurunkan ganggang pintu secara hati-hati agar tidak berbunyi nyaring.

Penerangan cahaya bisa dikatakan minim, hampir gelap tetapi masih ada sedikit bantuan dari sinar rembulan yang menembus tirai tipis jendela kamar. Renjun tertidur membelakangi pintu, memberi punggung kepada Jeno, memudahkan ia berjingkat-jingkat bak perampok profesional. Dia memastikan Jaehyun mendengkur halus, pertanda ayahnya tertidur layaknya orang mati bertahun-tahun.

Renjun bukan tipikal pengantuk kelas berat. Setitik kecil pergerakan di sekitar, mengakibatkan saluran mimpi terputus menyisakan keterkejutan akan hawa panas melingkupi sekeliling badan. Deru napas hangat Jeno tepat sekali menerpa tengkuk, serta gerakan lihai mantan kekasihnya yang tiba-tiba menyusup di belakang figur nyaris membuahkan pekikan kaget.

"Sshh.." bisik Jeno tega membekap bibir tipis kesukaan. Renjun membelalakkan mata, menatap Jaehyun di hadapan, diafragma dada naik turun lantaran takut tertangkap basah. Jeno menyeringai meski tidak terlihat, tapi Renjun yakin lelaki surai cepak ini sangat menyukai situasi mencekam di antara mereka sekarang. Terasa dari kerasnya tenda yang terbentuk di belahan pantat.

Ia mencoba menggeleng, pelan agar pergerakannya tidak dicurigai. Jeno merapatkan tubuh, menyelipkan gundukan penuh ketegangan sesekali menggesek tepat pada kain sutra daster mini milik ibu tirinya. 

"J-Jeno ngapain sih?" desis Renjun samar-samar, manik rubah mendelik ke belakang, sedikit demi sedikit mulai terpengaruh akan gesekan asoy yang diberikan.

"Mau ngentot lah."

"Tapi nggak-" Si Cantik kini melotot, melirik ke figur Jaehyun bergantian dengan sorotan jenaka dari mata Jeno. "nggak sekarang juga!"

"Sshh, Papa nggak bakal bangun kalau kamu nggak ribut." 

Renjun menahan napas kala tangan besar Jeno berhasil merayap dalam balutan daster hitam miliknya, jari-jemari yang sering mengocok memek basahnya sampai termuncrat kini dirasa meremas susu yang dapat digapainya. Dia hampir menjerit antara kaget dan kegelian, tanpa sengaja meliukkan pinggul supaya mereka makin erat bak prangko.

"Kan apa kubilang," gumam Jeno meremas si nenen, memainkan puting ranum menggunakan jempol dan telunjuk serta tak lupa menjilati sekitaran cuping telinga Renjun yang memerah. "kamu suka kan?" 

Kepala si Cantik bergerak acak, entah menggeleng atau mengangguk, tapi lembabnya kewanitaan seorang tidak munafik mengatakan bahwa Renjun sangat menikmati perlakuan Jeno sekarang. 

Dengan tergesa-gesa Jeno membebaskan adik yang sesak. Palkon gemuk berwarna merah menyala tersebut menampar perut kotak-kotak. Daster Renjun disingkap sampai ke leher, memamerkan buah dada padat yang terjatuh karena gravitasi serta liang tembem yang mulai basah tak terkira.

"Buka dikit pahamu, Sayang."

Jantung berdebar kencang lantaran sedang berhadapan dengan sosok mendengkur kencang, Renjun menaikkan paha kiri agak terbuka agar Jeno dapat menyelipkan burung di antaranya. Ia menggigit bibir kuat-kuat, menggelinjang kecil saat batang panas berurat tersebut kini menggesekkan sekeliling organ pada miliknya. 

"Mmmh.." Renjun menyemburkan lendir kala palkon menubruk pintu masuk, klit berkedut-kedut dalam tempat persembunyian, mengirim sinyal kenikmatan ke otak berkabut sang empunya.

"Gimana kalau Papa bangun terus lihat istri cantiknya dientot anak sendiri, hm?"

"J-jangan, Jeno.." pinta Renjun memelas, abdomen bawah perlahan-lahan membentuk simpulan erat, ingin sekali dilepaskan sehingga menyebabkan kekacauan, "please, cukup masukin."

"Oh maunya gitu?" Jeno nggak pakai aba-aba, langsung aja melesakkan kejantanan ke terowongan hangat nan basah. Renjun refleks menegang sekaligus mengencangkan dinding saluran, hampir membuat Jeno meloloskan geraman enak. "fuck, masih sempit aja kamu, Ren."

Kening Jaehyun berkerut begitu telinga menangkap suara sang anak, tapi ia tidak begitu mengindahkan sebab setia mengusik alam mimpi. 

Berbeda sama Renjun, dia justru mulai risau sewaktu menemukan gurat-gurat keheranan tersampir di raut tampan sang suami walau tengah terlelap pulas. Dengan pelan ia menampar paha Jeno supaya tidak menimbulkan suara saat mulai menggenjot dirinya. 

"Tsk, bilang aja kamu tambah sange kalau kegep sama Papa kan? Ahhh fuck.." seiring Jeno mengejek, lendir kewanitaan meluber di sekeliling batang hingga menetes di sela-sela sumbatan. Renjun merasa ingin meluncurkan kemih bila Jeno terus-terusan membuatnya gusar, belum lagi lelaki surai cepak itu tidak menggoyang kayak biasa, menyisakan kefrustasian bersarang lebih lama di liang.

"Please please genjot aku Jeno." erang Renjun meliukkan pinggul demi merapatkan penyatuan mereka, Jeno menenggerkan telapak jumbo sebelah kiri di pantat sintal sementara yang kanan asyik meremas-remas si gunung kembar. "nghh.."

"Sshh.. katanya diem, kok malah berisik sih? Sengaja ya, biar kegep?"

Jeno tidak menunggu lama. Istri ayahnya sontak digenjot sesuai irama sendiri. Renjun berusaha menahan agar tak terlalu banyak bergerak, tetapi karena Jeno yang menentukan, dan pancuran sudah di ujung urethra, ia pun hanya dapat menerima perlakuan.

"Mmph.. mmfff.." 

Jaehyun telah terusik dari mimpi. Kelopak setia terpejam lantaran ingin tahu apa yang sedang terjadi di kasurnya dan istri. Mendengar suara Renjun yang merintih, serta besarnya gaya gerak ranjang padahal dia tidak merasa ngapa-ngapain, tentu membuahkan tanda tanya besar di dalam hati.

"This is what you wanted, right?" Lelaki tertua cukup terkejut menemukan suara anak sulungnya. Sekejap dia sudah tahu apa yang dilakukan Jeno, tetapi anehnya tidak terbersit rasa marah atau ingin memaki sang putra lantaran meniduri ibu tirinya. "kamu mau Papa bangun, terus ikut ngentotin kamu juga kan? Kamu suka kan dijejali dua kontol? Kayak aku sama Jisung, kadang di mulut, kadang di memek, tapi ajaibnya memek kamu nggak pernah lober loh, Sayang."

"Mmhh.. ngghh.. Jeno.. jangan keras-keras, Papa.. mmhh tidur.."

"Kamu bilang jangan keras tapi memekmu bocor nyaring banget, nih denger sendiri." Memang benar yang diucapkan Jeno walaupun tengah berbisik, bunyi schlop.. schlop ditambah plak- plak pelan menggema di telinga tiga insan, dimana Jaehyun mendengarkan diam-diam. Oh tidak, kenapa dia mendadak terangsang cuman dengan mendengar istrinya digoyang putra seorang? Dan sudah berapa lama mereka melakukan ini huh?

"Ohh.. mmphh! Mmmphhh!!" bunyi byurr! yang keras meluncur dari lubang kencing si cantik hingga penyatuan mereka terlepas. Percikan bekas orgasme pertama nan deras membasahi kaki Jaehyun yang tertutupi selimut tebal. Jantung Renjun serasa merosot ke selangkangan, namun kelentit malah berkedut cepat akibat hormon yang dibebaskan.

"Kalau Papa tahu kelakuan istrinya kayak lacur gini," Jeno tertawa remeh, spontan menjebloskan kembali, menyebabkan Renjun mengerang halus biar tidak didengar selain mereka berdua. "entah bakal diapain."

"Makanya.. udahan.. jangan sekarang.." pinta Renjun patah-patah senada pinggul Jeno bergerak maju mundur. Tangan wanita surai pirang tak sengaja mendarat ke selangkangan Jaehyun, buru-buru menjauh sejenak kala menangkap desisan pelan serta tegangnya burung kesayangan. "e-eh."

Rupanya Jeno tidak menyadari, sibuk menggoyang istri orang sampai dia meraih pelepasan sendiri. Renjun mencoba melirik Jaehyun, mendapati suaminya masih tertidur dengan mata terpejam, membuahkan rasa heran kenapa organ pria paruh baya tersebut malah keras seakan menyadari perilaku tak bermoral.

Jaehyun pura-pura tertidur supaya dapat mendengarkan terus. Penis seorang sesak tiada tara, terbungkus kain boxer hitam setengah paha yang sempit bukan main. Desahan Renjun yang teredam benar-benar mempengaruhinya, ingin rasanya dia membuka mata lalu ikut melesakkan kejantanan di liang yang kata Jeno longgar.

"Fuck.. fuck! Aku deket." Sekali semburan panas memenuhi saluran vagina, Renjun menggelinjang sekali lagi lantaran melepaskan kemih yang masih tersisa. Penis Jeno masih berkedut di dalam sana, dijepit kuat dan basah seluruhnya. Renjun mendaratkan tangan tepat di gundukan Jaehyun, benar menemukan tenda keras menyembul dibalik material kemudian membelai secara perlahan.

Bukannya Jaehyun nggak mau langsung ikutan, tapi rasanya aneh aja dia tetiba bangun dan mengejutkan kedua insan. Mending ia menahan diri terlebih dahulu, membiarkan mereka menyelesaikan permainan lalu akhirnya meminta penjelasan tentang apa yang sedang terjadi di hunian.

"Sepongin Ren."

"Ughh sana ke kamar!"

Jeno nggak acuh, setelah mencabut penyatuan, dia mengukung kepala Renjun sambil memposisikan penisnya di mulut ranum sang mantan. Wanita rambut pirang mengernyitkan kening, tetap membuka belah bibir tipis seolah membiarkan Jeno masuk buat dihisap.

Jaehyun semakin tertarik pada apa yang dia dengar walau dua insan sebaya itu berusaha memelankan bunyi yang mereka ciptakan. Namanya dia terlanjur bangun, masa pura-pura nggak dengar sih? Apalagi saat ini benda pusaka terlindung dalaman sudah keras bukan main.

"Fuck yes.. mulutmu, Ren."

Renjun membalas dengan suara tersedak, bahkan tidak dapat bersua sekalipun lantaran palkon tebal terus-menerus menabrak dinding kerongkongan. "Ohok- ughh.."

Lelaki lebih tua mengintip perlahan, lewat remang-remang pencahayaan kamar, ia menangkap siluet sang sulung sedang memaju-mundurkan pinggul dengan penis keluar masuk dari mulut istrinya. Tidak ada yang menyadari gelagat Jaehyun, Renjun terfokus pada pergerakan Jeno serta mencoba bernapas teratur meski sedang diinvasi batang berjembut.

Secara hati-hati, tanpa sepengetahuan dua orang di samping, Jaehyun mengulurkan tangan menuju selangkangan sang istri, membelai mesra kulit dibalik daster Renjun yang tersingkap, kemudian menyapu pelan parasan telunjuk tepat di kelentit tegang.

"Hmpph!" Renjun terbelalak, merasa Jeno tak memegangnya karena dua tangan lelaki sepantaran tengah berpegangan di dinding, ia melirik ke sebelah kanan. Paha refleks menjepit telunjuk Jaehyun kala mereka beradu pandang. "mmh.."

"Have fun, Sayang?"

Suara berat khas bangun tidur milik Jaehyun sukses membuat genjotan Jeno sendat. Buru-buru putranya menoleh ke arah dia, menemukan kelopak mata Jaehyun sudah terbuka seiring tangan kiri mengarah ke organ gadis rambut pirang.

"Sejak kapan Papa bangun?"

Jaehyun tidak langsung menjawab, melainkan bangkit demi meregangkan badan kemudian menyingkap selimut tebal agar berhenti menghalangi gerakan. Renjun mendadak gemetar, takut lebih tepatnya. Mereka ketangkap basah kan? Lantas nasib Renjun sekarang gimana?

"Senang ya kamu angetin burung selain punya Mas?"

"Mas.. bukan gitu- ma-maaf Mas.." Si cantik nampak terbata-bata, tetapi Jaehyun yang sekarang berada di antara dua paha sintal malah membuka kaki Renjun lebar-lebar supaya lebih leluasa duduk di sana.

Jeno menatap ayah dan ibu tirinya bergantian, menanti hal yang tidak pasti, mengantisipasi kalau dia tetiba dikuliti.

"Kamu nakal, Sayang. Bikin Mas sange malam-malam."

"Mas, maafin aku.. maafin aku!" ucap Renjun berulang-ulang, ia berupaya menyingkirkan Jeno, lalu meloncat ke pangkuan Jaehyun sambil memohon maaf. Jaehyun tetap bergeming, mengukir senyum tipis sesekali membelai punggung berlekuk sang istri secara lembut.

"Tanggung jawab."

"Huh?"

"Iya, kamu harus tanggung jawab udah bikin Mas sange."

Renjun memiringkan kepala pertanda kebingungan, menoleh ke Jeno dan Jaehyun, mata menyiratkan tanda tanya super besar. "Mas.. mau aku gimana?"

"Kamu hisap Jeno sambil nungging."

"Hah?!" kali ini anak pertamanya memekik heboh. Wadaw, si papa kena angin apa nih jadi dia juga kedapatan?! Bukankah harusnya Jaehyun mengamuk dan mengusirnya dari rumah? Jeno padahal siap loh angkat kaki hilang tempat bila seandainya bapaknya memergoki mereka berhubungan.

Tapi ini? Menyuruh istri moleknya menyepong Jeno? Sungguh di luar nalar.

"Mas serius? Mas harusnya marah dong."

Jaehyun mengangkat bahu, "Belum ada niatan marah, kamu mau Mas marah atau lakuin yang Mas suruh?" opsi pertama tentu tak mau dijalankan oleh mereka. Menyisakan pilihan kedua yang membuat Renjun berbalik menjadi posisi menungging ke arah Jeno yang sudah siap berlutut kemudian kembali membenamkan kemaluan berurat tersebut ke dalam mulut.

"Good girl." puji Jaehyun telak mendaratkan tamparan gemes tepat di pantat montoknya. Renjun terjengit kaget tanpa melepaskan kuluman, menikmati esensi batang panas beraroma maskulin tersebut di rongga makan sesekali dijilat bak es krim. "sekarang giliran Mas godain kamu, oke?"

Saat ini dinding kamar menjadi saksi bisu permainan erotis yang dilakonkan tiga orang. Jeno selaku penerima sepong tentu merem-melek karena ulah kerongkongan Renjun yang menjepit tak kalah sedap dari memeknya, Renjun juga mendapatkan kenikmatan serupa kala Jaehyun memakan bagian intimnya, sementara pria paruh baya sangat menyukai aroma wangi kewanitaan sang istri yang menempel erat di sekitar bibir hingga belepotan lendir kebeningan.

"Mmh.. mmphhh.."

"Fuck.. yeah Ren.. kayak gitu, dalem-dalem, sedakin Ren, sedakin!"

Slurp.. chup.. "Hmmm.."

Renjun mulai kehilangan konsen begitu lidah dan mulut Jaehyun bekerja bak penghisap debu, or in this case, penghisap meki. Sensasi benda lunak yang bergerak memutar-mutar, entah di antara labia, atau langsung ke itil, bahkan mengobok-ngobok liang seorang rupanya membangkitkan klimaks Renjun perlahan-lahan. Simpulan yang terbentuk berbondong-bondong memenuhi abdomen bawah, semakin Jaehyun mempercepat gerakan lidah, atau Jeno yang mencengkram helaian pirang supaya ia tidak melupakan cara memuaskan lelaki itu, menyebabkan Renjun tak sabar hendak meledak membasahi ranjang.

"Mmphh! Mmphh!" suara disumpal titit menjadi peringatan, sedikit lagi.. sedikit menuju urethra, otot perut berkontraksi siap menyemburkan cairan, Jeong Jaehyun dengan tega menjauhkan mulut sembari menjepit erat lipatan kenyal agar tiada yang keluar. "Mmmhhhh.."

Si cantik melepehkan kejantanan hingga air liur meluber kemana-mana. Dia berusaha mengambil napas panjang, paha gemetaran menahan badan, mendapatkan orgasme kering karena sengaja ditunda suaminya.

"Hhh.. haahh.. Masss.. kenapa begitu?" rengek Renjun menoleh ke belakang dengan manik rubah berkaca-kaca. Jaehyun menyunggingkan senyum miring, tanpa aba-aba mendorong masuk dua digit jemari, mengejutkan seisi saluran hingga Renjun menjerit disusul pancuran deras akibat tekanan mendadak. "AHH!"

Jeno mengocok miliknya agak cepat, memanfaatkan sisa ludah Renjun di sekeliling batang sambil menontoni pinggul wanita itu terhentak-hentak hebat seiring lendir maupun air seni membludak. "Sshh.. fuckk.. hot banget."

"Udah berapa lama kalian begini, hm?" tanya Jaehyun terdengar santai, tega menepuk-nepuk meki yang bocor bak tetesan air hujan, kemudian menyusupkan jemari buat digaruk sebentar.

"Dari aku tinggal sini." jawab Jeno tak kalah santai jua. Renjun di tahap nggak bisa membalas apapun selain mendesah dan menerima perlakuan. Dia bahkan hanya mengeluarkan suara kecil ketika Jaehyun berhasil menyusupkan kejantanan layaknya burung pulang ke sarang. "tsk, Papa nggak mau masukin bareng apa?"

"Too gay." sahut Jaehyun memutar mata malas, beliau menarik sang istri agar dapat dipangku seraya menghadap ke Jeno. Hentakan pinggul Jaehyun sangat statis tetapi tepat menumbuk mulut rahim. Renjun teler tidak keruan, cuman bisa memamerkan raut ahegao selagi dirinya ikut terloncat-loncat akan ulah suami seorang. "kamu ngocok aja sambil liatin Mommy kamu nangis."

Jeno sebetulnya nggak mau tapi dia juga agak merinding kalau disuruh menggesekkan penisnya sama punya sang ayah. Benar juga, agak homo aja gitu. Jadi, dia menggenggam burung sendiri pakai tangan jumbo, menatap nafsu ke arah Renjun yang susunya naik turun mengikuti goyangan Jaehyun.

"Hisap pentilnya, Jen."

Dengan tergesa-gesa, Jeno meraup puting ranum sang ibu tiri layaknya bayi rakus, tidak ketinggalan pula tete sebelah kiri ia remas, pijat, atau ditampar-tampar kecil tanpa menghentikan kocokan di titit.

"Unghh! Aahh! Aahh Mass! Jeno! Mmmhhh!" Tubuh Renjun mengejang sesaat bertepatan gelombang orgasme ketiga meluncur keluar melepaskan penyatuan. Sekujur paha Jaehyun sebagai tempat memangku pantat padat tersebut basah bak disiram air seember. Jeno tetap menyusu meski tak ada susu, biarlah dia menikmati pentil-pentil tegang ini, karena menunggu giliran dia menggenjot si cantik.

Jaehyun kembali melesakkan kejantanan, menggeram rendah, memuji kesempitan serta jepitan yang terlalu sedap membungkus kejantanan, dia nyaris langsung keluar saking nikmatnya milik istrinya. Pelan-pelan mulai bergerak menghentak ke atas, lalu menjadi cepat sebab untaian siap meluncur buat membanjiri sarang.

"Oh! Ohhh.. ahh! Mas.. peju.. mau peju."

"Perasaan tadi sudah dipejuin Jeno, masih kurang ya?" Kepala Renjun mengangguk-ngangguk, menoleh ke Jaehyun buat minta cium sekalian mendorong Jeno biar tetap pada posisi menetenya. Lelaki lebih tua menjulurkan lidah kala Renjun membuka mulut, tautan basah penuh pertukaran ludah mempercepat klimaks Jaehyun maupun Jeno.

Genjotan mulai sendat, sinyal Jaehyun segera melepaskan simpulan. Jeno mengerang jua dengan pentil terselip di bibir, di waktu hampir bersamaan, bapak dan anak itu berhasil meraih klimaks di peraduan masing-masing. Jaehyun di mulut rahim, Jeno di tangan lalu diarahkan ke perut gembil si cantik.

Malam yang menurut Renjun gila karena Jeno punya nyali menidurinya di samping sang ayah, menjadi malam awal Renjun mendapatkan dua kemaluan mereka sekaligus. Dia sudah cemas Jaehyun akan murka lalu mengusir dari rumah, akan tetapi kekhawatiran tersebut tidak pernah terjadi sewaktu lelaki lebih tua itu terbangun ditengah-tengah ia mengulum Jeno dan digenjot tak kalah brutal oleh suaminya sesudah berhasil membuat terangsang di larut malam.

Sepertinya usaha Jeno membuat Renjun berpaling ke dirinya lagi tidak terlihat membuahkan hasil lantaran wanita cantik nan molek tersebut malah mendamba miliknya dan sang papa sekaligus. Oh. Bonus punya Jisung tentu saja.

.

.

.


End

©️Finn