Actions

Work Header

Servis

Summary:

Alasan kenapa Keeho dinobatkan sebagai si paling rajin servis motor, atau sebenarnya dia servis yang lain?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Entah alasan apa lagi yang akan digunakan Keeho untuk bisa servis motor di bengkel ujung jalan itu. Mungkin sekarang sudah bukan perihal motornya lagi, tapi hanya nafsunya untuk melihat montir kesayangannya dengan wajah berkeringat dan tangan terhias bercak oli motor.

 

"Si Beti ada masalah apa lagi hari ini, mas?" Ucap Jiung sambil menghampiri Keeho dan Beti—motor matic yang setia menemani dia dari awal SMA hingga kerja.

 

"Tadi pagi susah dinyalain, Ji," jawab Keeho sambil mencuri pandang sedetik lebih lama ke Jiung.

 

Jiung sedikit mengangkat alisnya, dia menyadari tatapan Keeho yang tidak asing tersebut, "oh iya, coba dicek dulu." Dirinya berjongkok di dekat mesin motor, berusaha fokus ke pekerjaannya meskipun ia bisa merasakan Keeho yang ikut menunduk di sampingnya. Nafas hangat menyapu daun telinganya membuat Jiung harus menahan gidikan geli di punggung.

 

Keeho merunduk lebih dekat ke Jiung sambil menunjuk salah satu bagian mesin motor, "tadi siang sempet gue coba utak-atik bagian sininya sih."

 

Jiung melirik, Keeho sangat dekat—terlalu dekat, seakan memberi tahunya bahwa motor ini sebetulnya tidak perlu diperbaiki, ada hal lain yang perlu diperbaiki. Dengan jarak segini, Jiung bisa mencium wangi parfum dan keringat Keeho yang menjadi favoritnya itu—terlebih lagi jika nanti ia yang membuat Keeho berkeringat.

 

"Iya, ini udah waktunya ganti oli kayaknya," Jiung menoleh ke arah Keeho yang sudah berjongkok di sampingnya, "sama ini..." Jiung terdiam untuk sesaat, memberikan lirikan ke bagian bawah Keeho, "rantainya terlalu tegang, mau dikendorin sekalian?"

 

Mata Keeho sekilas melirik mengikuti lirikan Jiung, memahami kata-katanya yang tersirat, "boleh."

 

Jiung kembali melihat wajah Keeho, lutut mereka saling bersentuhan mengirimkan sinyal yang hanya mereka berdua bisa pahami, "mau liat-liat olinya dulu di belakang?"

 

Kalimat tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak kalimat yang mereka gunakan, dan setiap kali kalimat-kalimat tersebut dilontarkan, seketika saja mereka sudah saling beradu nafas di gudang belakang bengkel. Gudang remang-remang yang menjadi saksi bisu kegiatan mereka di beberapa bulan terakhir ini. Rutinitas Keeho biasanya dimulai dari mencium bibir Jiung tanpa ampun sembari mendorongnya ke dinding beton.

 

"Mmh..." Lenguhan tertahan keluar dari mulut kecil Jiung. Keeho suka—sangat suka ketika montir berotot yang diidamkan banyak pelanggan wanita itu tidak berdaya di bawah sentuhannya. Kaos jiung yang lepek akan keringat menempel di dadanya, menunjukkan dua gundukkan yang sangat pas digenggaman Keeho.

 

Lidah Keeho melesak masuk, tidak memberikan jeda sang montir untuk mengambil nafas. Sedangkan Jiung meraba-raba punggung Keeho, menarik kemejanya yang juga basah akan keringat di ruangan sesak ini. Jiung sempat menggumam, "lepas, ganggu."

 

Tanpa ragu Keeho melepas kemejanya sambil terkekeh di mulut Jiung, "buru-buru banget, sih? Udah sange ya?"

 

"Berisik, aku masih ada shift abis ini."

 

"Kalo kangen diewe bilang aja, cantik, gausah gengsi gitu," Keeho menggoda sembari menyebarkan ciuman di sepanjang leher Jiung. Tangannya tidak diam, diabsennya seluruh kulit perut dan dada Jiung, tidak lupa kedua puting yang sudah mengeras. Saat tangan, dan mulutnya bekerja, paha besarnya juga terdorong naik ke selangkangan Jiung, merasakan gundukan keras di balik celananya. Jiung pusing, baru disentuh begini saja rasanya dia sudah kewalahan. Tapi, baginya ini masih belum cukup. Jiung butuh lebih, dia dia mau merasakan Keeho.

 

"Keeho-" nafasnya tersendat saat Keeho mencubit kedua putingnya dengan keras, "ah-! Buruan..."

 

"Hmm..." Keeho yang tidak menghiraukan rengekan Jiung malah menghisap putingnya dengan keras, tangannya melesak masuk untuk meremas bokong sintal Jiung. Jiung berusaha menahan lenguhannya agar tidak terlalu keras, meskipun ujungnya gagal juga saat satu jari Keeho memaksa masuk ke lubang analnya.

 

"A-ahh...," kering dan perih, tapi buat Jiung ini sensasi yang membuat ketagihan. "L-lagi..."

 

Layaknya anjing yang penurut, Keeho melesakkan lagi satu jarinya, kini membuat gerakan menggunting, "nghhh- fuck, Keeho..."

 

Jujur saja, milik Keeho sudah sangat sesak di dalam celananya, minta untuk disentuh. Tapi melihat Jiung lemas hanya dengan jarinya menimbulkan kepuasan sendiri baginya. Sudah tiga jari di dalam Jiung, dan sesuatu di perutnya mulai bergejolak, tapi Jiung tidak mau seperti ini. Ia mau merasakan milik Keeho di dalam tubuhnya sebelum bucat. Jiung menggenggam pengelangan Keeho, "ah... udah, gamau pake jari."

 

Keeho menengadah, "trus maunya pake apa, cantik, hm?"

 

Jiung memerah, memangnya harus ya dia mengatakannya? Sudah berapa kali mereka melakukan ini tapi Keeho selalu menggodanya, "berisik ah, udah buruan." Jiung memutar tubuhnya menghadap tembok, bokong sedikit menungging ke arah Keeho.

 

"Gamau kalo kamu ga bilang pake apa."

 

"Anjing, Keeho," Jiung bukan orang yang sabar, dia menurunkan celana dan dalamannya hingga bokong mulusnya terekspos sempurna, kemudian meraih milik Keeho yang masih terbalut celana, "mau ini..."

 

Keeho sengaja mendorong pinggangnya ke arah Jiung, "Apa, cantik?"

 

Jiung terdiam sebelum akhirnya mengatakan, "...mau kontol kamu."

 

Nafsu Keeho memuncak. Diturunkannya celana sekaligus dalamannya, membebaskan penis yang panjang dan sudah tegak berdiri. Jiung menenggakan ludah saat melihat milik Keeho, tidak sabar untuk diisi penuh. Namun, bukan Keeho jika tidak menggoda Jiung sampai batasnya, dia mulai menggesekkan ujung penisnya ke lubang Jiung yang berkedut. Lirihan keluar dari mulut sang montir, "mmh... cepetan..."

 

"Apanya? Coba minta yang bener dong."

 

"Ah... buruan masukin kontol kamu... aku ga tahan..." bokongnya reflek terdorong ke belakang mencari sensasi gesekan, atau apa saja yang bisa memuaskan rasa gatal di dalam dirinya.

 

"cantik, mau aku mentokin?" Keeho masih menggoda Jiung sembari membasahi penisnya dengan ludah.

 

"Mhh... mau, please... mau dimentokin sampe perut..."

 

Tanpa aba-aba, penis Keeho melesak masuk ke lubang anal Jiung dalam satu hentakan. Jiung tidak bisa berteriak, rasanya seperti seluruh suaranya dirampas habis oleh sensasi panas dan perih di lubangnya, ia hanya bisa membuka mulutnya dengan nafas tersengal dan kaki bergetar hebat.

 

"Anjing, sempit banget kamu," Keeho menampar salah satu belahan Jiung, menimbulkan pekikan kecil dari sang empu, "udah berapa kali aku entot masih ketat gini aja, pinter deh."

 

Keeho mendesis saat menarik penisnya sebelum menghantam kembali lubang sempit tersebut, tangannya menggenggam erat pinggang ramping Jiung sebelum mulai meningkatkan kecepatan genjotannya.

 

"Ahh... keeho... cepetin lagi..." nafsu Jiung sudah di ubun-ubun, dia tidak mau memikirkan apapun selain penis Keeho di dalam lubangnya. Persetan dengan shift kerjanya, dia hanya mau dipakai semaunya oleh pelanggan setianya itu. Keeho menuruti permintaan Jiung, temponya meningkat, suara kulit basah yang bertubrukan semakin nyaring. Nikmat, terlalu nikmat.

 

Keeho merunduk, memeluk tubuh Jiung yang lengket akan keringat. "Enak ga cantik? Hm? Kontol aku dalem banget, lho" tangannya menyusur perut Jiung, kemudian menekan bagian tepat di atas penisnya.

 

"Ngghhh! Fuck-" tubuh Jiung menegang, tekanan yang diberikan Keeho hanya mempercepat gelombang orgasmenya untuk datang. "Ah- jangan diteken... ngh-"

 

"kenapa? Bukannya enak aku teken begini?"

 

"Ah... berisik, udah genjot aja ngh- gausah teken..."

 

Keeho hanya bisa terkekeh mendengarnya, "oke, bawel." Keeho menegakkan kembali tubuhnya. Tangannya mencengkram kuat pinggang Jiung saat ia mulai menggenjot dengan kuat dan dalam, menumbuk prostatnya tanpa ampun.

 

"Ah! Ah... mmhh... ah, Keeho! Enak banget, bangsat... nghh.." Jiung mendesah, meracau, bahkan teraedak liurnya sendiri beberapa kali karena gerakan Keeho yang sangat intens. Kakinya mati rasa, lubangnya berkedut kencang, penisnya bengkak dan memerah, rasanya seperti tubuhnya bukan miliknya lagi.

 

Tidak lama gelombang klimaks Jiung mendekat, "ah! mau keluar..."

 

Tak ada sedetik setelah Keeho mendengar kalimat tersebut, tangannya meremas penis Jiung, menutup lubang ejakulasinya dengan jempol kuat-kuat, "sabar, cantik, keluarnya bareng aku."

 

Jiung merengek, penisnya perih sekali, ditambah tekanan dari jemari Keeho, "anjing, keeho... ah... mau keluar, aku mau keluar..."

 

"Sabar, ya, tahan," Keeho mengecup leher dan punggung jiung penuh sayang, tangannya tidak meregang barang sedikit pun dari penis Jiung.

 

Jiung menggeleng, ia ingin menangis rasanya karena tidak diperbolehkan ejakulasi yang sudah di ujung tanduk, "ga tahanhh... ah! mau keluar... please..."

 

Keeho mengernyit saat merasakan dirinya juga mendekati klimaks, genjotannya semakin tidak karuan, mengejar puncak kenikmatan, "aku crot di dalem, boleh? Aku penuhin perut kamu pake peju, ya?"

 

"Ah! Mau, mau peju kamu... penuhin- penuhin sampe luber... mnghhh-"

 

Keeho menghentakkan pinggulnya beberapa kali, "fuck, Ji-" sebelumnya akhirnya klimaks, bersamaan dengan ia melepaskan genggamannya pada penis Jiung. Jiung memuncratkan ejakulasinya ke dinding dan lantai, berantakan. Badannya mengejang kuat, lubangnya apalagi, mengurut penis Keeho yang masih tertanam sampai habis. Keeho menggeram dan berbisik, "enak banget, cantik, anget memek kamu kena peju aku..."

 

Jiung di sisi lain tidak bisa merespon, suaranya tersendat, lirihan lemahnya terdengar karena stimulasi yang berlebihan. Keeho menangkup wajah Jiung dengan satu tangan dan menolehkannya, matanya sembap dan sayu, bekas air liur terlihat di ujung mulutnya. Cantik.

 

Keeho meraup bibir merah Jiung, menghisap lidah dan bibir bawahnya hingga membengkak. Ia perlahan menarik penisnya keluar, rengekan Jiung segera terdengar karena kekosongan yang muncul. Keeho hanya bisa menggigit bibir saat melihat ejakulasinya mengalir dari lubang Jiung, merangsang penisnya untuk menegang kembali.

 

Keeho mendudukkan badannya sembari menarik lengan Jiung hingga terhoyong dan mendarat di pangkuannya. Tikar gudang oli yang lusuh dan tipis itu bukan penghalang bagi Keeho untuk menyetubuhi Jiung lagi. Keeho menciumi dada Jiung, menghisap putingnya yang sudah memerah dan sensitif.

 

"Ngghhh... perih, keeho...." Jiung menjambak rambut Keeho untuk semakin kuat menghisap, berbanding terbalik dengan keluhan perihnya itu. Tangannya meremas-remas bokong sintal Jiung, menamparnya beberapa kali.

 

"Ini kalo keluar susu gimana ya? Apa aku harus bikin kamu hamil dulu?"

 

"mau.."

 

"Mau aku hamilin?" Keeho mengangkat bokong Jiung, menggesekkan ujung penisnya ke kerutan ranum tersebut.

 

"Mhhh... mau, sampe penuh, sampe hamil..." rengeknya, tidak peduli walau hal tersebut mustahil secara biologis, pun kalau mungkin Jiung dengan senang hati dihamili Keeho.

 

Keeho menghentakkan badan Jiung turun ke penisnya, tubuh putihnya menegang dan melengkung indah. Penis Keeho terlampau nikmat sampai bola matanya memutar ke atas, Jiung berani sumpah dia nyaris melihat surga saking nikmatnya. Keeho menggeram saat anal Jiung mengapitnya lagi, "bisa semaleman kita ngh- di sini kalo kamu ngetat banget kayak gini."

 

Keeho menaik-turunkan badan Jiung dengan tempo brutal, penisnya masuk lebih dalam dari posisi berdiri sebelumnya, badan jiung yang setengah jatuh ke belakang menambah gairahnya, "ahhh... mmh... keeho... kee-NGH! Ah! Enak bangethh... gila- gila kamu.. haahh... nghh!"

 

Jiung mengangkat badannya dan melingkarkan lengan ke leher Keeho, menciumnya berantakan karena gerakan naik turun yang diperbuat, beberapa kali bibir mereka meleset dan gigi mereka beradu. Decapan basah memperkaya simfoni lenguhan yang keluar dari kedua insan yang tenggelam dalam birahi. Peduli setan dengan pintu reyot yang bisa ditembus cahaya di beberapa titik itu, satu bengkel mungkin sudah bisa mendengar suara senggama hebat mereka dari belakang sini.

 

Bulir saliva mengulur sampai dagu Jiung saat ia menjauh, menatap wajah tegas Keeho yang mengernyit nikmat. "Ganteng- ah! Muka kamu... enak ga, kyo?" Racau Jiung yang kehilangan kemampuan menyusun kalimatnya itu.

 

"Enak, fuck! Enak banget, Ji, rapet... kontol aku panas banget.. haahh... pinter kamu genjotnya, udah jago sekarang ah- karena aku entot terus, ya?" Mau berapa kalipun Keeho menyetubuhi Jiung, rasanya semakin nikmat, membuatnya ketagihan. Lubangnya selalu pas untuk penis Keeho, meremat saraf-saraf di sepanjang batang kemaluannya, sungguh pas—seakan Jiung memang untuk Keeho pakai sesukanya.

 

Lutut jiung yang bergesekan dengan garis-garis tikar tak sedikitpun membuatnya menurunkan kecepatan. Tidak cukup, kurang, lagi—hanya ini yang ada di kepala Jiung. Tidak mampu berpikir, hanya merasakan sensasi demi sensasi mengaliri seluruh tubuhnya yang menggeliat tidak karuan di pangkuan Keeho, "Kyo- ah! Mau keluar lagi..."

 

"Sama, aku juga," Keeho segera mengocok penis Jiung yang merah padam, menaikkan lagi kecepatannya yang sudah seperti orang kesetanan.

 

Jiung merasakan gelombang yang sedikit berbeda dengan sebelumnya, "Bentar, kyo- ngh! Bukan crot... ini mau pipis... ah! Janganhh- gamau, ntar pipis... nghh... stop-"

 

Perkataan Jiung hanya membuat Keeho semakin gencar mengocok penisnya, "Gapapa, cantik hah- pipis aja, keluarin."

 

"Gamau nghh... please, stop- anjing, kyo- AH!" Jiung dekat, dan Keeho juga sangat dekat. Dinding anal Jiung yang mengerat tanda sebentar lagi dia akan klimaks.

 

"Mau crot dalem kamu, mau hamilin kamu... ah... Jiung...," Keeho memanggil nama Jiung berulang bak rapalan sembari mencium dada Jiung yang membusung. Klimaksnya sudah di ujung tanduk, penisnya seperti akan meledak kapan saja.

 

"Keeho... anjingghhh... stop- ah! Keluar, aku- NGHHHH!" Dalam dua hentakan terakhir Jiung ejakulasi bersamaan dengan Keeho, dan tentu saja bukan cairan sperma yang keluar dari Jiung, melainkan cairan bening yang banyak dan muncrat ke berbagai arah. Dada dan dagu Keeho ikut menjadi korban luapan cairan Jiung yang menggenangi tikar di bawahnya. Jiung bergetar hebat, nafasnya tersendat, kepalanya menengadah dengan mulut terbuka tanpa suara, matanya sempat melihat putih sesaat ketika ejakulasi, ia tidak pernah merasa senikmat itu sebelumnya.

 

Setelah habis seluruh cairan ia keluarkan, Jiung ambruk ke pundak Keeho dengan nafas tersengal. Kecupan ringan Keeho daratkan di sepanjang bahu dan leher Jiung, "cantik, montirku yang paling cantik."

 

Jiung yang mulai kehilangan kesadarannya hanya bisa bergumam, "...berisik."

 

Kekehan kecil lepas dari mulut Keeho, "tapi kamu suka kan? Aku ewe sampe pipis gini."

 

Jiung terdiam sesaat, kemudian merespon dengan mengeratkan lubangnya yang masih diisi oleh penis Keeho. Keeho mendesis, "curang, jawabnya pake mulut dong, Ji." Ucapnya membalas dengan meremas belahan bokong Jiung.

 

"Nanti di kos aja jawabnya," gumam Jiung di pundak pria yang lebih besar.

 

Keeho mengangkat alis, "ada yang ketagihan dientot sama pelanggan bengkel, nih?"

 

Jiung menggerakkan sedikit pinggangnya, "diem ah-."

 

Keeho menghela nafas, merasakan penisnya bangun kembali akibat gesekan tersebut, "nakal banget, emang pengen dientot sampe goblok ya hari ini?"

 

Mau jawab di kos apanya? Keeho bahkan tidak diberi kesempatan untuk bisa pulang ke kosan. Sisa shift Jiung dihabiskan bersenggama di ruang penuh botol oli motor itu, berharap siapapun tak mengingat keberadaannya. Lagipula Jiung lebih berminat untuk memeras habis Keeho sampai malam dibanding mengganti kampas rem, meski risikonya ia harus jalan sempoyongan ke kontrakan tiga petak miliknya. Apa Jiung tarik saja Keeho ke kontrakannya? Ah, itu urusan nanti, mau di kos atau di kontrakan atau di belakang pohon pisang pun Jiung tidak masalah—karena tiap bersama Keeho, dirinyalah yang di-servis hingga puas

Notes:

I tried yall... i hope its kampung enough for so-called bokep kampung