Work Text:
Jam menunjukkan pukul sembilan malam saat Woonhak baru saja selesai dengan sesi gym nya. Hari itu ia kembali lebih cepat dari biasanya, hampir setiap malam ia menghabiskan waktu di gym apartemen tempat tinggalnya, terkadang sampai tengah malam. Di sana, selain berolahraga, ia juga sering berinteraksi dengan beberapa orang yang kebetulan sevisi dalam menjaga tubuh tetap fit.
"Aku pulang." Woonhak membuka pintu unitnya dan disambut dengan lampu yang masih terang di ruang tengah.
"Kok udah pulang?" Suara dari ruang tengah itu menyambut Woonhak, yang baru saja meletakkan tas gym di meja.
"Lagi sepi di tempat biasa, tadi juga aku nggak ngambil banyak set." Ia berjalan ke dapur dan melihat sekeliling, semuanya sudah dalam keadaan bersih. "Bomie udah tidur?" tanya Woonhak.
Jaehyun, yang tadinya hanya menyapa Woonhak, mengangguk singkat. "Udah, rewel banget pas mau tidur. Aku baru bisa rebahan sekarang..." Keluh Jaehyun sambil merebahkan tubuhnya di sofa, menghempaskan lelah.
"Bomie makan apa tadi?" tanya Woonhak, sembari membuka botol air isotonik yang dibawanya.
"Makan bento! Bomie udah mulai pinter makan sayur loh." Jaehyun bercerita dengan antusias, wajahnya tampak cerah saat berbicara tentang anak kecil yang dia sayangi. "Dia juga main bareng Sungho tadi. Anak itu semangat banget!"
Woonhak hanya tersenyum mendengar cerita itu. Dia senang melihat Jaehyun begitu antusias, dan memilih untuk tidak memotong ceritanya, memberi waktu untuk Jaehyun bercerita sepuasnya.
Namun, saat matanya melirik ke meja makan, dia melihat ada makanan yang seperti belum disentuh.
"Kamu belum makan?" Woonhak bertanya tanpa sadar, matanya terfokus pada makanan yang tampak sudah dingin di atas meja.
Jaehyun sepertinya tak mendengar, masih asyik bercerita tanpa henti.
"...Bomie tadi ketawa terus..." Jaehyun melanjutkan, masih tidak menyadari pertanyaan Woonhak.
"Jaehyun." Woonhak memanggil nama itu pelan, cukup untuk menarik perhatian.
"...terus aku sama Sungho..."
"Sayang?"
"...Bomie ada beli..."
"Kim Jaehyun."
Jaehyun terdiam seketika dan menoleh, wajahnya terlihat bingung sejenak sebelum fokus pada Woonhak yang berdiri dengan dekat meja makan, memperhatikannya. Woonhak menatap Jaehyun dengan tatapan serius, mencoba memahami ekspresi yang sulit ia baca.
"Jadi, belum makan?" tanya Woonhak sekali lagi, nada suaranya kali ini lebih tenang.
"Iya! Aku belum makan." Suara Jaehyun agak meninggi, tampak sedikit kesal karena dia tahu Woonhak sering mengingatkannya hal yang sama. "Aku nggak nafsu makan."
"Kamu lupa berat badanmu belakangan ini turun terus," jawab Woonhak, tetap dengan nada lembut, berjalan mendekati Jaehyun yang kini duduk dengan ekspresi cemberut di sofa.
Woonhak sedikit jongkok di depan Jaehyun dan meraih tangan Jaehyun yang terkulai di paha. "Kenapa kamu nggak makan, sayang?"
Jaehyun menoleh, matanya masih agak menunduk. "Aku beneran nggak mood makan. Nafsu makanku belum balik kayak dulu..." ucapnya, dengan nada manja yang khas agar Woonhak tidak memarahinya.
Woonhak menggenggam tangan Jaehyun, menatap dalam ke mata suaminya, berusaha menenangkan dan mengerti tanpa terburu-buru memarahi.
Jaehyun kembali diam, akhirnya tangannya sedikit menggenggam balik tangan Woonhak. Wajahnya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang lebih dalam. “Aku sempet mau makan setelah itu, tapi Bomie rewel banget. Aku lebih fokus buat nemenin dia tidur, jadi... lupa.”
Woonhak menatapnya dengan lembut, jarinya mengusap punggung tangan Jaehyun. “Aku ngerti kamu capek, tapi tubuh kamu juga perlu makan, sayang.”
Jaehyun terlihat kesal tapi juga tahu Woonhak benar. “Bomie tuh hari ini udah makan banyak banget... aku liat dia makan sampe seneng banget. Setiap aku suapin, dia langsung lahap makan nya. Aku kan ikut kenyang cuma liat dia bisa makan sayur...”
Woonhak tersenyum mendengarnya, meskipun sedikit cemas. “Kayak kamu, ya... kalau nggak disuapin pasti makan nya pilih-pilih banget.”
Jaehyun mengerutkan kening, lalu dengan cepat mengambil bantal yang ada di sampingnya dan memukul Woonhak. "Kenapa dibahas terus sih! Kamu tuh nyebelin!"
Woonhak hanya tertawa kecil, tidak melawan, membiarkan Jaehyun memukulinya. "Aku cuma ngomongin hal yang bener."
"Nyebelin! Nyebelin!" Jaehyun terus memukuli Woonhak, sampai akhirnya Woonhak berhasil merebut bantal dari tangan Jaehyun dan mengunci kedua tangan Jaehyun.
“Nah, sekarang aku tanya,” ucap Woonhak lembut tapi tegas. “Kamu mau makan bento yang di meja?”
Jaehyun langsung menggeleng cepat. “Aku nggak mau! Pasti udah nggak enak!” jawabnya sambil mengerutkan kening, membayangkan betapa tidak enaknya makanan itu.
"Terus, kamu mau makan apa?" tanya Woonhak, mengangkat alis.
"Makan kamu." Jaehyun menyeringai nakal, senyum jahilnya muncul begitu saja. "Kan Hakie habis nge-gym, pasti badan Hakie enak banget~"
Woonhak menggeleng pelan, seakan tidak habis pikir dengan pikiran Jaehyun. "Aku serius tanya, bukan bercanda."
Jaehyun mendengus, lalu dengan cepat jatuh ke pelukan Woonhak. Gerakan Jaehyun yang cepat itu membuat Woonhak terkejut, tetapi dia langsung memeluknya balik.
"Jaehyunie? Aku belum mandi tau." Suaranya terdengar seperti mengeluh, namun hangat.
"Aku juga belum mandi, lagian aku suka bau badanmu." jawab Jaehyun dari balik pelukan, suaranya nyaris seperti bisikan. Dia menempelkan hidung ke leher Woonhak, mencium samar aroma keringat bercampur sabun dari kulitnya.
Jaehyun suka seperti ini, selalu ingin berada dekat dengan Woonhak, selalu ingin dimanja.
Woonhak tidak kaget dengan sikap Jaehyun, dia sudah terbiasa. Dia mengusap punggung Jaehyun dengan lembut. "Mau tidur aja?"
Jaehyun mengangguk sambil menatap Woonhak, lalu memberikan kecupan singkat ke bibir Woonhak. "Gendong aku," pintanya dengan manja.
"Sekarang?"
"Sekarang."
Woonhak menghela napas kecil sambil berdiri, lalu mengangkat Jaehyun tanpa banyak usaha. Pelukannya otomatis menguat di leher Woonhak, dan dia bisa merasakan dada Jaehyun yang naik turun pelan.
"Kan bener feeling-ku, badan kamu sekarang enteng banget," goda Woonhak dengan senyum lebar di wajahnya.
Jaehyun, yang sudah terbiasa digoda, langsung mencubit lengan Woonhak. "Stop godain aku gitu!"
Woonhak hanya tertawa pelan, langkahnya terasa ringan saat menuju kamar mereka berdua. Di dalam kamar, kasur kecil di sudut ruangan menampung sosok mungil yang sudah tertidur pulas, anak mereka.
Woonhak berhenti di sisi kasur, masih menggendong Jaehyun di tangan, matanya terkunci dengan mata Jaehyun yang sedikit mengantuk namun penuh dengan keinginan. Untuk sesaat, mereka berdua saling menatap dalam diam, dan kemudian, seperti tak ada jarak di antara mereka, kepala mereka hampir bertemu.
Namun, sebelum bibir mereka sempat menyentuh, terdengar suara tangisan lembut yang memecah keheningan. Woonhak dan Jaehyun membeku, menoleh ke arah sumber suara. Bomie, anak mereka, terbangun dan mulai menangis lagi.
"Aku lupa ada Bomie di sini," gumam Woonhak, seiring dia meletakkan Jaehyun perlahan di atas kasur. Keduanya tertawa pelan, penuh pengertian. Woonhak mengecup kepala Jaehyun dengan lembut, lalu bangkit menghampiri anak mereka.
Dia menggendong Bomie yang masih terisak, dan dengan lembut menepuk punggungnya. “Sstt tenang anakku cantikku, sama Papa dulu ya,” Woonhak berbicara dengan suara pelan, menenangkan anak yang tampaknya masih bingung dan rewel.
Bomie masih terisak di pelukannya. Woonhak tahu, biasanya Jaehyun yang bisa menenangkannya. Tapi malam ini, Jaehyun sudah terlihat kelelahan. Jadi ia ingin menggantikan peran itu, membiarkan Jaehyun beristirahat.
“Bomie sayang, yuk tidur lagi,” ujarnya lembut sambil menepuk punggung mungil anaknya. “Biar Papi bisa istirahat juga. Kamu juga harus istirahat, ya.”
Jaehyun hanya memperhatikan dalam diam. Ia tak sadar bibirnya melengkung tipis, menatap punggung Woonhak yang lebar dan tangan hangat yang menimang anak mereka. Pemandangan sederhana itu selalu membuat dadanya penuh dengan perasaan hangat, rumahnya ada di sana.
Perlahan tangisan Bomie mereda, berganti helaan napas tenang. Woonhak memastikan anaknya benar-benar tertidur sebelum meletakkannya di kasur kecil. Setelah menatapnya sejenak, ia berbalik ke arah Jaehyun yang kini tampak tertidur lelap.
Woonhak berjalan mendekat, ia menunduk dan mengecup pelan dahi Jaehyun. “Aku mandi dulu ya,” ucapnya hampir berbisik.
Namun baru saja ia beranjak, tangan Jaehyun dengan cepat menahan pergelangan tangannya. Suaranya pelan, serak, nyaris tidak terdengar. "Tidur... aja…”
Woonhak berhenti. “Kenapa, sayang?” tanyanya sambil mendekatkan wajahnya
Jaehyun membuka sedikit matanya, tatapannya berat karena kantuk. “Mau peluk…”
“Nanti ya. Aku mandi dulu, sebentar aja.” Woonhak membelai kepala Jaehyun, mencoba untuk meyakinkan bahwa hanya sebentar dia akan pergi.
Namun Jaehyun menggelengkan kepala lemah, suaranya hampir seperti bisikan. “Mau peluk… mau cium… tidur aja ya? Ya, sayangku..."
Woonhak menghela napas pelan, merasa tak mungkin menolak permintaan Jaehyun. Dengan sedikit senyum, ia duduk kembali di sisi kasur dan memeluk tubuh Jaehyun yang semakin mendekat. "Yaudah, kita tidur sekarang," katanya, sambil menyelipkan tangannya di pinggang Jaehyun.
Jaehyun langsung tersenyum lebar, memeluk erat pinggang Woonhak. "Yeay!!! Aku sayang kamu!" katanya dengan nada ceria, wajahnya kini penuh kebahagiaan.
Woonhak perlahan merebahkan dirinya di sebelah Jaehyun, tubuh Jaehyun langsung mendekat ke tubuh Woonhak. “Aku juga sayang kamu, Jaehyunie,” bisik Woonhak pelan, memeluk tubuh Jaehyun lebih erat.
Jaehyun masih tersenyum, ia menyandarkan kepalanya di dada Woonhak. Suara detak jantung itu menenangkannya. Woonhak belum memejamkan mata, tangannya terus mengusap punggung Jaehyun perlahan, seperti kebiasaan yang ia lakukan tiap malam.
Beberapa menit kemudian, Jaehyun membuka matanya sedikit. Ia menatap wajah Woonhak yang masih terjaga. “Hakie... kamu sayang aku nggak?”
Woonhak menatapnya, lalu mengusap lembut pipinya yang sedikit berisi. “Sayang dong.”
“Sayang banget?”
“Sayang banget.”
Jaehyun menggigit bibir bawahnya, matanya mencari sesuatu di wajah Woonhak. “Kalau gitu... aku cantik nggak?”
Woonhak tersenyum, nadanya pelan tapi yakin. “Cantik, sayang. Selalu cantik.”
“Kalau anak kita?”
“Cantik juga.”
“Terus… lebih cantik aku atau Bomie?” tanya Jaehyun, sedikit memajukan wajahnya dengan ekspresi yang membuat Woonhak nyaris tertawa.
Woonhak menaikkan alisnya, pura-pura bingung. “Kamu cemburu sama Bomie?”
“Kalau dia lebih cantik dari aku, iya!” Jaehyun memajukan sedikit bibirnya, kesal tapi manja.
Tawa kecil lolos dari mulut Woonhak. Ia mencondongkan tubuh, lalu mengecup wajah Jaehyun berkali-kali—dahi, pipi, ujung hidung—sambil berucap di sela setiap kecupan, “Kamu cantik. Ini cantik. Semuanya cantik.”
Jaehyun tertawa kecil, pipinya merona. Setiap kalimat dari Woonhak membuatnya merasa disayang sepenuhnya.
“Aku sayang kamu. Aku sayang Bomie. Aku sayang keluarga kecil kita,” kata Woonhak yang menutup semua kecupannya dengan satu ciuman panjang di bibir Jaehyun. Lembut, penuh cinta, dan terasa dalam.
Jaehyun tersenyum lebar saat bibir mereka berpisah. Ia menatap mata Woonhak yang hangat. “Aku juga sayang kamu… dan keluarga yang kita bangun bareng."
Woonhak menariknya lebih dekat, pelukannya rapat hingga nyaris tak berjarak. Bibirnya menyentuh dahi Jaehyun. “Aku bahagia…” gumamnya pelan.
Jaehyun menyandarkan wajahnya di leher Woonhak, membiarkan napasnya menyatu dengan irama nafas orang yang dicintainya.
“Aku juga bahagia,” jawabnya lirih, sebelum akhirnya keduanya tenggelam dalam kehangatan yang sunyi, sehangat cinta yang mereka jaga setiap malam.
