Work Text:
"Sampe sini doang? We won't be seeing each other for months and I can't send you off properly?"
Rengekan Samudra hari ini lebih menyayat telinga daripada dua besi berkarat yang bergesekan di bawah terik matahari. Bibirnya menekuk manja (lebih maju dari biasanya), sedih, kecewa, sambil menatap melas suaminya yang berada beberapa sentimeter darinya, dengan begitu berharap kaki bersepatu boots itu melangkah menjauh dari lift yang akan memisahkan mereka.
Being a military wife was never on Samudra's bingo list. Not ever. Never once cross his mind even when he's fully aware he's marrying a soldier. Apalagi ketika perutnya makin membuncit, seakan semesta sedang menghukumnya—oh, mungkin ini memang hukumannya dari semesta karena mereka hamil sebelum menikah.
Hey, toilet restoran bintang tiga waktu itu sangat menggoda, harus ada yang mereka lakukan di sana.
Sekarang di posisi ini lah mereka—sebodoh posisi doggy yang mereka lakukan saat itu—atasan Johannes memanggilnya untuk tugas, dan mau tak mau Samudra harus melewati kehamilannya sendirian untuk beberapa waktu kedepan. Bahkan daritadi ia mengelus perut usia empat bulannya agar Johannes berubah pikiran, namun sepertinya suaminya menolak peka. That damn toilet.....
"Kamu capek nanti," Johannes tersenyum lalu mendekat ke Samudra, kedua telapak tangannya meraih rahang tegas Samudra sebelum mengecup pipi suami hamilnya. "Bolak-balik dari parkiran ke lift, dari lift ke unit, belum lagi nangis liat mobilku jalan pergi. And I'm not there to wipe it dry," lanjutnya dalam satu helaan nafas.
Samudra makin menekuk bibirnya, merengek diam-diam sambil menahan air mata yang akan tumpah. Johannesnya akan pergi untuk waktu yang lama dan dia akan sendirian untuk waktu yang sama—sendirian dengan manusia on baking di perutnya, bukankah menyedihkan?
"Kalau aku lagi sange gimana—"
"MULUTNYA—" Johannes buru-buru menutup mulut Samudra, panik meskipun tidak ada orang sama sekali di lorong. "—dijaga yang bener, nanti didengerin adek!!" Lanjutnya sambil memerangi hatinya yang hampir luluh karena rengekan Samudra.
"Tapi, 'kan—"
"Udah gausah manyun-manyun, udah tua."
Belum sempat Samudra melayangkan jotosan di wajah tengil suaminya, telinganya menangkap gema langkah kaki dari sol sepatu mahal yang akhir-akhir ini sering ia dengar.
"Pagi, tetangga," Samudra buru-buru menurunkan tangan ringannya. "Tumben pagi-pagi udah ribut, biasanya agak siangan."
Joshua namanya. Temen SMA Johannes yang tiga bulan lalu pindah ke unit yang bersebelahan dengan milik Samudra dan Johannes. Mereka pernah bertemu dan kenalan di pernikahannya untuk sebentar. Orangnya baik, badannya bagus, pinter, soft spoken, ganteng, jomblo lagi. Jujur-jujuran aja, semisal Johannes gugur di medan perang, Samudra siap mengajarkan anaknya cara memanggil Joshua menggunakan kata 'papi'. Tapi bercanda.
"'Pa kabs, brodi," Samudra memutar bola matanya malas, untung saja suaminya ini cukup tampan untuk menutupi kejametannya. Amit-amit anaknya memanggil dirinya pakai kata 'mamski'.
"Amann," Joshua menangguk mantap, senyumnya merekah seperti bakpao kacang ijo, pikir Samudra. Jadi pingin, deh. "Ributin apa, nih, kalau boleh tau?"
"Ehhh, ini gue ada panggilan tugas malah ditahan-tahan sama bini gue, siap by one sama atasan gue katanya,"
"Ngomong lagi," ketus Samudra sambil mencubit pinggang Johannes pelan, mengganti cengiran Johannes menjadi rinngisan sakit.
"Oalah, dipanggil juga lo, Han. Ga nyangka gue mereka butuh prajurit lempeng kayak lo," Samudra tertawa keras, sementara Johannes menggerutu malas. Semenjak berkenalan dengan Joshua, Samudra sadar bahwa pepatah api dibalas api itu benar adanya, buktinya hanya Joshua yang bisa membuat Johannes kesal ketika diejek. Samudra harus belajar dari Joshua, sudah muak sekali dirinya malah ditertawai ketika mencoba melawan Johannes.
"Udah-udah, gausah banyak omong," sekali lagi, Samudra memutar bola matanya. Siapa coba yang memulai ribut ini?
"Taxiku hampir dateng, aku berangkat dulu, ya, sayang," Johannes menangkup pipi Samudra, dikecupnya bibir, pipi, kening, hingga air mata yang hendak jatuh lagi. Bisa Samudra dengar dari nada Johannes bahwa suaminya sendiri juga sama sedihnya.
"Beneran pergi?"
"Sampai aku bisa by one sama atasanku, aku harus tetep pergi, 'kan? Cuma 3 bulan, kok. Kamu jaga kesehatan, makannya dijaga, olahraga teratur, jangan banyak males-malesan," suara Johannes bergetar sedikit, tangannya turun ke perut buncit Samudra lalu di elus perlahan. "Adek juga jangan rewel, ya. Kasian mama sendirian."
Samudra tidak akan gengsi lagi, air matanya jatuh ke punggung tangan Johannes. Meskipun tengilnya minta ampun, Samudra lebih memilih Johannes nganggur di rumah main Roblox seharian daripada ninggal dia ke Barak.
"Kalau ada apa-apa telfon aku, atau telfon papa bunda," Samudra mengangguk pelan, air matanya dihapus Johannes menggunakan ibu jari sebelum dikecup sayang.
"Oh, iya, Shua," Samudra menengok ke belakang pundaknya. Pria yang sedari tadi cemberut menonton kesedihannya langsung tersenyum lembut kala namanya dipanggil. "Tolong jagain Samudra, ya, selama gue pergi."
Joshua tidak berkata apapun, ia hanya tersenyum makin lebar dan mengangguk dengan pasti. Samudra jadi tidak enak dititipkan pada orang seperti ini, mengingat bagaimana hormon kehamilannya membuat Johannes pusing tujuh keliling apalagi orang yang baru ia kenal. Namun sekiranya memang perlu bantuan Joshua, Samudra sudah sangat percaya bahwa Joshua akan sigap menolongnya.
"Kalau aku kenapa-napa—"
"JANGAN GITU!!"
_________________________
Sudah tiga minggu semenjak kepergian Johannes, dan Samudra makin sedih tiap harinya. Meskipun sudah berbicara lewat telfon setiap hari, video call malam-malam sampai Johannes dimarahin kapten timnya, ngobok-ngobok memeknya pakai foto gagah Johannes berseragam, dia tetap merasa tidak puas. Johannes harus pulang sekarang atau Samudra yang nyamperin ke sana. Tolol pikirnya, sudah diberi pemberitahuan bahwa dia sedang hamil tetapi atasan bangsat suaminya itu tidak mau tahu, Johannes harus tetep bekerja.
Untungnya Joshua si tetangga selalu stand by untuk membantu Samudra saat terjadi apa-apa. Seperti kemarin ketika perutnya sakit tidak karuan, Joshua lah yang mengantarnya ke rumah sakit; lalu saat colokan kabelnya meledak, Joshua juga yang membantu Samudra membenarkannya. Masa iya seperfect ini gaada yang minat? Samudra sendiri klepek-klepek.
Aduh, ngapain mikirin cowok lain!? Samudra udah bersuami! Bawa anak, juga!
'Fokus, kocak, udah nikah gausah ngegatel!' Ketus Samudra pada dirinya sendiri sambil lanjut menonton video yoga yang ia pasang di TV.
Benar juga, Samudra bisa mendapatkan bibit Johannes juga karena dia jago ngegatel. Waktu itu di satu malam di club murahan dengan lampu warna-warni dan musik keras yang merusak dua dari panca indranya. Ia ingat sekali bagaimana tubuhnya menempel-nempel pada Johannes seperti kelinci birahi saat keduanya mengobrol, berkenalan karena memesan minuman yang sama. Hanya mereka dan Tuhan yang tahu sejorok apa obrolan mereka sampai-sampai di malam yang sama ia putus dengan pacarnya dengan sperma Johannes mengalir dari memek ke pahanya.
Duh, inget-inget masa indah itu bikin memek Samudra tiba-tiba becek.
"Yaelah—" buru-buru Samudra berdiri dari duduknya sebelum ia membasahi matras yoga warna birunya. "Maaf, ya, dek, kalau nanti adek sering kebangun gara-gara suara maksiat mama sama papa."
Sekitar sepuluh menit, Samudra sudah mengganti bajunya yang bau keringat dan celananya yang basah karena lendir dengan daster ibu hamil warna cherry pinkbusuk yang belum dicuci lima hari. Matras yoga juga sudah disimpan rapi di belakang sofa, TV diganti ke acara berita siang yang tidak menarik. Bokongnya jatuh ke sofa sambil jarinya menggulir layar handphone untuk mencari nomor telfon penjual lalapan sebrang gedung apartemennya. Lapar—ngidam, kali? Masa ngidamnya Johannes pulang bawa lalapan lele 99 terus ngentot 25 jam?
Lama berkutat dengan buku kontak yang tidak menarik, dirinya berpindah menggulir foto-foto suaminya.
"Adek, 'kan, yang kangen?" Fitnahnya pada janin di perutnya. Tangannya membelai perutnya lembut, lalu lanjut menyibak dasternya sampai terangkat ke pinggang. Ia gesek-gesek area paha dalamnya, tekstur kain celana dalamnya menggelitik kulitnya yang sensitif. Lalu makin turun, ke selangkangannya yang hangat. Jari telunjuknya menekan labianya tak sampai terbuka, ditekan-tekan terus sampai lenguhan keluar dari mulutnya. Belum juga otaknya menyuruhnya untuk masturbasi di sofa, bel pintu berdering menusuk telinganya, badannya sontak membeku karena takut membuat suara.
"Siang, Samudra. Ada di rumah, ga?"
Sial. Itu Joshua.
Mulutnya bergerak sebelum otaknya, dengan bodoh ia menyahut daripada tetap diam. "Iya, sebentar!" Entah mengapa ia berpikir untuk tetap diam, berpura-pura sedang tak ada di rumah ketika tidak ada hal privat yang akan ia lakukan.
Ia membenahi dasternya yang terangkat, bagian kerahnya ia tarik sampai menutupi tulang selangkanya. Gak lucu kalau tetangganya melihat belahan dadanya secara cuma-cuma. Setelah mengatur nafas dan raut muka, ia membuka pintu.
"Eh, Joshua, kenapa mampir?" Ucap Samudra setelah membuka pintu dan mendapati Joshua memakai setelan jas kantor, lengkap dengan ID cardnya mengalung jatuh ke dadanya. Di tangan kirinya ada kresek dengan logo minimarket berwarna merah, keliatan cukup berisi. Ini masih pertengahan bulan, wajar, 'kan, kalau Samudra berekspektasi bahwa itu untuk dirinya?
"Mumpung lunch break, aku sempetin beli belanjaan yang diminta Johannes—" Samudra sontak membuka mulutnya untuk meminta maaf. "—dua bulan lalu." Oalah, bangsat.
"Ohh, barangnya Johannes sendiri, ya?" Ucapnya untuk meyakinkan dirinya sendiri, dan Joshua mengangguk mantap. "Masuk dulu, Shua. Aku barusan masak ayam kecap, kamu belum makan, 'kan?"
Hampir tiga menit Samudra berdiri di depan rice cooker untuk mengambil nasi untuk Joshua yang sedang menunggu di meja makan. Pikirannya sibuk bergelut dengan akal sehatnya, di satu sisi ia malu sekali karena tidak etis menerima tamu kalau tidak ada suami (dan beberapa saat lalu ia hampir masturbasi), tapi di sisi lain ia ingin berkenalan dengan Joshua lebih lanjut. Sebagai sahabat Johannes, ia pasti menyimpan aib Johannes saat SMA dulu, 'kan? Samudra ingin balas dendam ketika suaminya pulang!
Samudra menggeleng pada dirinya sendiri, untuk sekarang perlakukan Joshua sebagai tamu dulu. Joshua juga sebentar lagi, 'kan, kembali ke kantor.
"Nih, Josh, makan dulu," senyumnya sambil meletakkan sepiring nasi di depan Joshua. Piring sayur dan lauk ia dekatkan ke arah Joshua sebelum duduk di seberangnya. Senyumnya merekah ketika melihat mata Joshua terbelalak takjub setelah memasukkan sesendok nasi dan lauk ke mulutnya.
"Eh, enak, loh. Resep sendiri?"
"Resepnya ibukku, Josh, kebetulan beliau buka warung dan ayam kecapnya selalu laris," jawab Samudra. Bibirnya melengkung senang ketika menceritakan kehebatan ibunya, rindu karena sudah lama tidak makan masakan ibu. "Tapi Johannes malah gasuka ayam kecap, katanya trauma pernah makan ayam isi belatung. Bener itu, Josh?"
Joshua mengangguk sembari menelan kunyahannya. "Iya betul. Dulu kalau diajak anak-anak makan ayam kecap di kantin, dianya nolak terus, mending beli batagor katanya."
Samudra mengangguk-ngangguk, ternyata suaminya memang tidak bohong. Ia jadi merasa bersalah karena selama ini selalu memaksa Johannes makan ayam kecapnya. Sial banget, deh, punya suami yang gasuka makanan ibunya! Padahal enak banget! Pulang nanti Samudra akan paksa Johannes satu kali lagi, siapa tahu bisa menyembuhkan trauma Johannes!
"Kamu kalau sendirian ngapain, Sam?" Pertanyaan Joshua membuyarkan fokus Samudra dari rencana jahatnya. Ia memutar otaknya mengingat aktifitas apa saja yang ia lakukan selama ditinggal Johannes.
"Ga banyak, sih. Tidur, mandi, belanja, masak, yoga, kadang nyuruh temen kesini buat nemenin, kadang ke studio juga lihat-lihat," jawab Samudra, sedikit tersenyum.
"Ohh.....iya, ya, aku denger dari Johannes kamu itu produser. Betul?"
"Iya betul! Tapi ga sendiri, semacam tim gitu tiga orang termasuk aku. Kayaknya emang aku gasuka sendirian, hehe."
"Gasuka sendiri malah ditinggal sendirian, ya? Jahat banget itu Johannes."
"Ya, 'kan! Padahal dia sendiri tau aku gasuka ditinggal!"
"Main sendiri juga ga enak, ya? Mau aku temenin aja, nggak?"
Bibir Samudra berhenti tersenyum, di lima detik pertama wajahnya memanas dan berubah pucat. Keringat dingin perlahan membasahi jidatnya setelah mendengar ucapan Joshua. Detak jantungnya berpacu seperti kuda ketika ia melihat raut wajah Joshua berubah.
Samudra berdehem, tertawa canggung, mungkin ia salah mengartikan. "M–main gimana maksudnya, Josh—"
"Aku denger, Sam. Emang kamu, tuh, gabisa diem, ya? Rameee banget."
Joshua tetap tersenyum menatap Samudra, menakutkan. Tangannya bergerak memotong ayam kecap Samudra dengan telaten, dentingan antara sendok dan piring membuat Samudra makin susah menegak ludahnya. Semua pasang mata yang tak ada seakan sedang menghakimi perbuatannya, terutama Joshua. Sorot mata pria di depannya (dengan sangat kurang ajar) lembut, tenang, tak pernah terputus darinya yang menatap kosong meja di depannya, meminta ampunan ke setan. Wajahnya panas namun darah tak pernah mencapai atas sana, otaknya seakan berhenti bekerja.
"Josh, itu—"
"Apa, deh, katamu waktu itu?" Joshua memiringkan kepalanya perlahan, mencari netra Samudra yang bergetar. "Yang kemarin—minggu kemarin, ya? 'Johannes, Johannes! Kamu gapapa, 'kan, kalau aku dibagi sama Joshua!' Gitu, ya? Saking terlalu seru main aku hampir ga denger kamu ngomong apa, haha."
Telinga Samudra berkedut, panas. Seluruh sistem tubuhnya seakan berhenti bekerja ketika Joshua menangkapnya basah. Berarti benar dugaan Samudra waktu itu, Joshua sempat mendengarnya sebelum mengetuk pintu apartemennya. Dengan mulut manisnya Joshua bilang pintunya tidak terkunci dan sedikit terbuka, ingin memastikan keamanan Samudra, padahal sudah mendengar Samudra bermain selama sepuluh menit di bingkai pintu. Lenguhannya, rengekannya, tangisan mohon ampun pada yang tidak hadir, hingga pada yang seharusnya tidak hadir di kehidupan pernikahannya.
"Joshua, aku nggak—"
"Gapapa, kok, cantik," kursi Joshua berdecit dan terdorong ke belakang, pemakainya berdiri tegap di depan Samudra. Badannya menghalangi lampu dan langit-langit menciptakan bayangan yang menutup wajah Samudra sepenuhnya. Samudra merasa kecil.
Joshua berjalan memutari meja, suara langkah kakinya tidak gagal membuat Samudra merinding sebadan-badan. Entah apakah boleh untuk seorang bumil merasakan tegang seperti ini, namun tampaknya Joshua (yang selama ini selalu hati-hati pada Samudra) menolak menenangkannya. Ditambah ketika Joshua berdiri di belakangnya, satu tangannya memijat pelan pundak Samudra sementara ibu jari yang lain membelai lembut tengkuknya. Punggungnya melengkung kaget, air mata Samudra yang tanpa sadar ia tahan mencekiknya.
Samudra ingin melawan, jari-jari kakinya menekuk takut, kepalan tangan di pahanya makin erat hingga kukunya menyakiti telapak tangannya. Tetapi Samudra tidak bisa, tidak ada di kepalanya yang bisa menyuruhnya untuk berpikir jernih. Jantungnya berdetak kencang tak karuan. Samudra takut, Samudra gelisah. Ia benar-benar tak bisa lari.
Maka bibir bawahnya ia gigit gemas, ujung bibirnya terangkat sedikit.
"Aku gak marah. Lagian, dari dulu aku sama Johannes sering berbagi barang. Sayang kalau yang ini gak dibagi juga," bisik Joshua. Tangan yang sebelumnya berada di pundaknya berpindah ke dagunya, kepalanya ditolehkan menghadap yang tengah berkuasa. Memek Samudra kedutan gak karuan ketika matanya menangkap Joshua mengeja kata 'cantik' dengan bibir manisnya. Bibir bawah plumpynya dibelai lembut dengan ibu jari Joshua, dijejaki tiap retakannya dan perlahan makin masuk ke dalam mulutnya. Ibu jari Joshua menabrak gigi Samudra, kukunya menciptakan bunyi ttak! yang samar Samudra dengar. Jari bangsat itu membuat jalan masuk melewati gerbang gigi Samudra hingga lidahnya dapat merasakan asin kulit Joshua. Rengekan kecil lolos dari tenggorokan Samudra.
"Mau, ya, aku temenin main?"
Alih-alih menjawab, menolak, berteriak, seperti orang waras yang sedang diserang, Samudra menggigit ibu jari Joshua gemas, dijilat manja. Ia melenguh dengan keras, air liurnya menetes ke dagu dan alisnya menekuk takut seolah-olah Joshua lah yang tengah menyentuhnya dengan tak sopan. Siapapun yang melihat aksi Samudra akan melayangkan tinju pada Joshua yang tak melakukan apa-apa.
"Joshuaah~"
Joshua melongo akan fitnah Samudra, netranya fokus pada bagaimana mulut Samudra memanjakan ibu jarinya. Setelah hampir setiap malam diberi makan kontol oleh suaminya, Samudra tahu betul cara menggunakan organ tak bertulangnya ini. Samudra jadi penasaran dengan rasa kontol Joshua, katanya kalau bersahabat karib keduanya akan seperti anak kembar. Cengkraman pada pundak Samudra mengerat dan ia mengeraskan rengekannya, air mata palsu jatuh ke pipinya ketika ia memejamkan matanya. Tanpa Samudra sadari, ujung bibir lawannya berkedut, menyunggingkan senyum pada pertunjukan Samudra.
Semua yang ada di dunia ini sudah gila.
Samudra tersentak saat Joshua mendorong jari telunjuk dan jari tengahnya masuk ke dalam mulutnya, sementara ibu jarinya keluar untuk mengapit dagunya. Jari-jari cantik itu mengejar tenggorokannya, semakin dalam menekan lidah belakangnya hingga ia hampir tersedak. Samudra pusing, ia ingin batuk namun jari Joshua tak mengizinkan. Rasanya aneh karena Johannes tak pernah sekasar ini dengannya, untuk kali ini Samudra benar-benar takut.
"Gila lo, Sam," geram Joshua. Tangannya yang menganggur menyibak daster Samudra hingga paha mulus gemuknya terekspos. Tangannya menyelinap jahil ke selangkangan Samudra, lalu sambil terkekeh menarik-narik renda celana dalam Samudra. "Tahu gini, dari gue pindah harusnya udah gue garap lo. Biar jadi kembar di perut lo, satu punya Johan satu punya gue. Mau, kan, lo."
Samudra menggerutu, pahanya mengapit tangan Joshua sambil menggesekkan dirinya pada telapak tangan Joshua yang kini menekan-nekan memeknya. Kedua tangannya menahan Joshua. Yang keliatannya seperti menolak, sebenarnya sedang meminta lebih. Aktingnya sudah mirip aktor film porno saja.
"Shuaa~" Samudra mati-matian menahan senyumnya. Ia tak mengatakan apa pun selain mendesahkan nama tetangganya, mengirim sinyal ambigu untuk sang predator.
"Lo najis banget, Sam."
Lengan Joshua ditarik kembali dari selangkangannya, dengan satu gerakan semua piring yang ada di meja disingkirkan ke pinggir hingga hampir jatuh. Untung saja semuanya terbuat dari plastik. Jantung Samudra berdetak dengan cepat kala Joshua mengangkat badannya dengan mudah lalu ditidurkan di meja. Samudra memekik ketika kakinya dibuka lebar-lebar, dari cara Joshua menatap lama selangkangannya, sudah pasti Joshua senang melihat celana dalam berrenda warna merahnya. Celana dalam itu bahkan belum dilihat Johannes, seharusnya untuk ulang tahun Johannes—tapi sudahlah, biarkan sahabatnya tahu lebih dulu.
Tanpa berkata apa-apa, Joshua masuk ke dalam daster Samudra, sontak tangannya menjambak rambut Joshua untuk menahan kepala itu masuk lebih dalam lagi. Namun apa daya, ia tak benar-benar ingin Joshua berhenti. Bibirnya leluasa tersenyum sambil mengerang, badannya meliuk-liuk tak nyaman, pahanya mengapit kepala Joshua yang tengah susah payah melepas celana dalamnya menggunakan giginya. Rambut pubisnya yang tidak ia cukur semenjak hamil dapat merasakan hembusan nafas Joshua. Badannya sontak merinding ketika Joshua berhasil melepas celana dalamnya, dingin AC ruangan langsung menerpa memeknya.
Samudra terengah-engah, jari kakinya menekuk ngeri. Joshua muncul dari balik dasternya sambil menggigit celana dalamnya. Kain lembab dan bau berwarna merah itu menggantung di sudut seringaian Joshua dengan pas, terlihat natural. Seperti sedang merokok, seperti sudah sering melakukan ini. Dan Joshua melihatnya dengan tatapan sombong. Badan Samudra panas, pemandangan di depannya sangat seksi sampai memeknya kembali mengeluarkan lendir dengan deras.
"Tolol Johannes itu," Samudra mengerucutkan bibirnya mendengar nama suaminya keluar dari mulut Joshua. Celana dalamnya jadi jatuh dari bibir manis itu. "Istrinya masih bocor gini malah ditinggal. Sengaja kayaknya, ya, Sam? Lo mau dikasihkan ke gue."
Lutut Samudra naik, kaget, ketika telapak tangan Joshua menyibak dasternya dan menyentuh memeknya lagi, kini ia dapat merasakan kulit dingin Joshua dengan lebih intim. Jari tengah Joshua mengetuk pintu memeknya beberapa kali, memancing rengekan dari Samudra sebelum benar-benar masuk. Samudra memekik, matanya berair karena benda asing di dalam lubangnya. Jari Johannes itu panjang, lebih cepat menemukan prostatnya yang jauh di dalam, namun jari Joshua lebih gemuk daripada milik suaminya. Tekstur kulit Joshua jauh berbeda dari Johannes, ia mampu menggesek dinding yang hampir tak pernah Johannes beri perhatian jika tidak ingin jahil. Pertanyaannya, Samudra lebih suka yang mana? Dua-duanya, dong. Siapa, sih, yang ga suka di kobelin?
Samudra mendesah tak karuan, ini baru jari Joshua dan itu masalahnya. Ia lemah akan sensasi baru. Kepalanya mendongak ketika Joshua menambah jarinya dan menubruk prostatnya, tangannya mengepal pada taplak meja putih di bawahnya karena menahan rasa nikmat. Joshua gila, dia tak menunggu Samudra, tidak memperkira apa-apa sebelum bergerak buas layaknya dikejar deadline. Memeknya disogok-sogok dengan tanpa kasih sayang hingga Samudra merasakan perih di lubang kawinnya. Lendirnya yang tak berhenti mengucur keluar tak membantu sama sekali, rasanya daripada sedang melonggarkan Samudra, Joshua sedang memanen lendir memek Samudra. Perih, namun kelentitnya yang bengkak tak bisa membohongi, Samudra sangat menikmati permainan Joshua. Prayers for his future partner.
"Shua-udah......stop......," rengek Samudra lagi, tidak lupa melakukan tugasnya sebagai istri yang sedang diserang, dan Joshua malah tertawa. Nyatanya tidak ada yang bisa ia kelabuhi sekarang.
Sebagai 'wife-sitter' yang baik, Joshua menurut apa kata Samudra. Memeknya kembali kosong setelah dibor oleh jari Joshua, namun itu tak lama karena Joshua langsung melesakkan kepala kontolnya ke dalam lubangnya. Entah kapan Joshua melepas celananya, itu tak penting sekarang. Kepala Samudra terpental ke belakang, mulutnya menganga lebar ketika lubangnya perlahan disumpal, diterobos, senti per senti oleh kontol besar tetangganya. Joshua bergerak pelan, sangat pelan, menyikut prostat yang dilewati dan terus begitu sampai mentok. Panas yang ia rasakan di dalam sana membuat Samudra menangis. Desahannya patah-patah, semuanya terlalu tiba-tiba hingga ia bisu. Kontol Joshua terasa sesak di dalam sana, dindingnya menangkap tiap inci urat kontol yang berkedut-kedut panas, seperti sudah menunggu lama untuk momen ini. Bibir rahimnya mencium kepala kontol Joshua, mirip Johannes sekali (ah, tapi kalau Joshua agak sedikit ke kiri. Sementara Johannes ke kanan). Jantung Samudra berpacu, ia imajinasikan jika saja kontol itu bergerak, pasti sudah mencium kepala janinnya. Tanpa Samudra rasakan, ia orgasme untuk pertama kalinya. Memeknya menembakkan cairan beningnya ke kontol dan perut Joshua hingga mengolam di bawahnya.
Joshua membungkuk, mendekatkan wajahnya pada Samudra yang memerah karena malu. Keduanya ngos-ngosan. "Enak banget, ya, Sam? Kontol orang?" bisik Joshua tepat di telinga Samudra, susah payah Samudra menelan salivanya sampai ia cegukan. "Baru masuk udah crot, gimana kalau gerak?"
Samudra memekik sangat keras ketika Joshua tiba-tiba bergerak dengan cepat, tak ada tahapan, seperti anjing di masa kawin. Badan Samudra terhentak-hentak di atas meja, kuah ayam kecap tumpah menodai taplak meja putihnya, desahannya tak terbendung dan ia tak peduli untuk membendungnya lagi. Tiap hentakan Joshua mengantarkan Samudra pada putihnya, rahimnya meronta untuk diisi lagi tiap kepala kontol Joshua mengecup bibir rahimnya. Ia hampir bisa merasakan kontol Joshua di tenggorokannya, seperti sedang mendorong keluar rintihannya. Persetan tetangga yang lain bisa mendengarnya, 'cause they should. So they know this man is good. So they would go after him. So he can stop thirsting over this man, 'cause it's 'wrong'.
"Joshua....perutku....," Joshua meringis sambil mengejar pelepasannya. Kakinya dikalungkan ke pinggang Joshua sebelum dihentak lagi, makin dalam Joshua masuk. Samudra tak bisa apa-apa lagi selain mendesah keenakan. Matanya bergulir ke belakang kepalanya, stimulasi yang diberikan Joshua bukan main-main.
Samudra mendesah keras, ia keluar untuk kedua kalinya, diselingi Joshua yang keluar di dalamnya. Lubangnya diisi putih, panas, sampai tumpah, mengolam di bawahnya bercampur dengan miliknya. Samudra menghela nafas panjang sembari didudukkan oleh Joshua, perutnya ia sanggah, rasa basah di bawahnya membuatnya meringis. Lalu di waktu itu juga, handphone Joshua berdering di meja. 'Dika Sayang<3' tertulis di sana. Seketika darah di tubuh Samudra disedot habis, keringat dingin membasahi jidatnya dengan jantung yang berpacu takut. Joshua tidak benar-benar jomblo?
"Bentar, ya," ucap Joshua dengan nada yang tenang, seakan tidak baru saja mengkhianati Johannes dan kekasihnya. "Iya, sayang, kenapa? Oh, kamu di kantor? Sebentar, ya, aku ada urusan sama klien......." lalu Joshua melenggang pergi, menjauh dari TKP.
Gila. Semuanya sudah gila.
