Actions

Work Header

Wedding Party...?

Summary:

Dohoon mencondongkan tubuhnya sedikit, mengambil brush yang tadi ia letakkan di mejanya. Lalu, ia berikan pada Youngjae yang kini mengedipkan matanya beberapa kali, bingung dengan apa yang Dohoon maksud. Dohoon tersenyum kecil menyadari ekspresi bingungnya, kemudian membawa tangan yang satunya lagi untuk selipkan helai rambut ke belakang telinga Youngjae. "Mau dong dimakeup-in sama istri aku."

Work Text:

Sejak kejadian yang terjadi di kos Youngjae beberapa waktu lalu, hubungan keduanya menjadi semakin intim. Meski belum ada yang mengutarakan perasaan, tetapi mereka berdua tahu bahwa status hubungan mereka bukan lagi sekedar teman. Entah ingin dinamakan apa, keduanya tak begitu peduli. Dohoon dan Youngjae hanya butuh keberadaan satu sama lain dan itu sudah lebih dari cukup.

Kali ini Youngjae datang ke kos Dohoon, seperti yang sudah menjadi rutinitas keduanya setiap selesai dengan urusannya masing-masing. Oh, rutinitas baru; kini mereka mulai sesekali menginap. Pintu diketuk tiga kali sebelum Youngjae membuka knop pintu dan melangkahkan kakinya untuk masuk.

Dohoon yang tengah duduk di depan cermin dengan mengenakan daster berwarna coklat muda sambil memoleskan blush berwarna peach di pipinya itu menarik perhatian Youngjae. “Eh, mau kemana?” tanyanya heran. Youngjae berdiri mematung di depan pintu, tangannya masih memegang knop. Seolah siap keluar lagi jika Dohoon berkata dirinya akan pergi, tanpa Youngjae tentu saja.

Dohoon membalikkan tubuhnya untuk menghadap Youngjae. “Duduk ih, ngapain masih di situ?” Dohoon berkata sambil terkekeh kecil. “Gak mau kemana-mana, aku lagi centil aja jadinya mau makeup.”

Youngjae manggut-manggut paham, ia juga pernah tiba-tiba merasa centil lalu ingin berdandan dan berpakaian seksi, mengambil beberapa foto dan mempostingnya di sosial media. Rasanya hampir semua perempuan juga pernah merasakan hal yang sama, dan tanpa peduli apakah masih siang atau sudah malam.

“Hoo, aku pikir mau kemana. Cantik, btw,” balas Youngjae. Matanya menatap Dohoon penuh puja. Dohoon hanya membalasnya dengan tersenyum sebelum kembali fokus pada pantulannya di cermin.

Sedangkan Youngjae taruh barang bawaannya di sisi kasur, melepas jaket dan celana panjang yang sengaja ia pakai hanya untuk melapisi pakaiannya saat keluar, lalu ia duduk di atas kasur Dohoon. Ah, karena besok keduanya tidak ada kelas jadi Youngjae memutuskan untuk menginap di sini. Mereka berencana menghabiskan malam dengan menonton serial yang sudah keduanya masukkan dalam daftar tontonan berminggu-minggu lalu, sambil memakan cemilan yang Youngjae bawa dan tentu saja sambil berpelukan. What a perfect night.

“Kamu kayak mau ke party gitu deh,” celetuk Youngjae asal, matanya sedari tadi masih saja memandangi Dohoon. Ya, gimana dong? Dohoon-nya itu cantik banget. Bukan salah Youngjae jika matanya enggan menatap hal lain.

Dohoon tertawa kecil. “Party apaan yang pake daster begini?”

Wedding party sama aku.” Youngjae langsung menutup bibirnya dengan tangan, kaget. Pikirnya ia hanya berbicara di benaknya. “Eh.”

Gerakan tangan Dohoon terhenti, bibir bawahnya dikulum untuk menahan senyum — salting. Ia taruh brush yang dipegangnya, lalu ia balikkan tubuhnya menghadap Youngjae lagi. “Sini deh, Jae.”

“Hah?” Youngjae panik.

“Siniiii,” rengek Dohoon kecil.

Rengekan Dohoon layaknya mantra yang buat tubuh Youngjae bangkit seketika, kemudian ia mendekat menghampiri temannya yang masih setia duduk di depan cerminnya. Youngjae berdiri tepat di samping tubuh Dohoon, dan menatapnya bingung. Namun, belum sempat Youngjae melontarkan pertanyaannya, pinggangnya sudah ditarik hingga dirinya duduk di atas pangkuan Dohoon.

Kaget, Youngjae reflek memegang bahu Dohoon. Wajah keduanya kini sejajar dan begitu dekat, dengan mata yang saling menatap satu sama lain dengan penuh damba. Nafas keduanya memberat, paham bahwa nafsu mulai memengaruhi akal sehat. Namun, tidak ada satu pun dari keduanya yang bergerak maju untuk menyatukan bibir.

Dohoon mencondongkan tubuhnya sedikit, mengambil brush yang tadi ia letakkan di mejanya. Lalu, ia berikan pada Youngjae yang kini mengedipkan matanya beberapa kali, bingung dengan apa yang Dohoon maksud.

Dohoon tersenyum kecil menyadari ekspresi bingungnya, kemudian membawa tangan yang satunya lagi untuk selipkan helai rambut ke belakang telinga Youngjae. “Mau dong dimakeup-in sama istri aku.”

Youngjae gigit bibirnya cukup kencang, salah tingkah. Ia tepuk bahu Dohoon main-main. “Ih kamuuuu.”

“Apa, aku kenapa? Ayo makeup-in aku, cantik. Nanti tambah malem kita malah gak jadi nonton,” balas Dohoon pura-pura tidak mengerti, usil.

Youngjae antara menyesal dan bersyukur dirinya keceplosan. Menyesalnya hanya 1%, sih? Ia cuma tidak tahan digoda seperti ini, rasanya mau menghilangkan eksistensinya dari hadapan Dohoon. Terlalu malu. Namun ia bersyukur karena ia berakhir dipangku Dohoon, dipanggil istrinya, dan mendapat kesempatan untuk merias wajah cantiknya itu.

Kemudian Youngjae melanjutkan riasan mata Dohoon yang belum selesai. Ia bawa brush itu mewarnai kelopak mata indah milik Dohoon dengan mengikuti garis lipatannya, berusaha untuk buat mata si Aquarius terlihat lebih cantik. Sedangkan Dohoon hanya duduk diam, matanya terpejam dan lengannya melingkari pinggang ramping Youngjae. Sesekali ia menahan nafas tiap Youngjae sedikit mencondongkan tubuhnya, ia tak bisa terus-terusan menghirup wangi tubuh dan parfum si cantik yang sedang duduk di atas pangkuannya ini.

Oh, sudah Dohoon sebutkan belum? Youngjae mengenakan piyama tanpa lengan yang celananya juga hanya sampai di atas lutut. Celananya sedikit tertarik hingga kini tampilkan paha mulus Youngjae. Dohoon nyaris gila.

“Jae,” panggil Dohoon.

“Hm?”

Dohoon buka matanya begitu dirasa Youngjae menyelesaikan pekerjaan di kedua matanya. Keduanya bersitatap beberapa detik sebelum Dohoon mendekatkan wajahnya ke garis rahang Youngjae, dikecup berkali-kali lalu perlahan turun ke lehernya. “Kamu wangi banget, sumpah.”

Youngjae yang kedua tangannya penuh dengan palet eyeshadow dan brush berusaha menahan untuk tidak menjatuhkannya, meski tangannya sudah lemas dan hanya ingin bertumpu pada bahu Dohoon. Walau begitu, ia jenjangkan lehernya, beri ruang lebih untuk Dohoon bubuhkan ciuman dan berikan tanda merah keunguan di sana.

“Nghh…” desah Youngjae pelan. Pinggangnya secara reflek tersentak maju, yang tentu saja buat payudaranya menubruk tulang selangka Dohoon.

“Anjing,” umpat Dohoon sebelum semakin turun hingga bibirnya tepat berada di sekitar dadanya. Sebelah tangannya ia bawa turun tali piyama Youngjae, buat payudaranya semakin terlihat menyembul.

Youngjae yang semakin lemas akhirnya menarik kepala Dohoon untuk menjauh, sisa-sisa akal sehatnya masih ingat akan benda penting di kedua tangannya. Takut kalau-kalau ia jatuhkan nanti buat Dohoon marah, meskipun sebenarnya salah Dohoon juga sih?

“S-sebentar,” ucap Youngjae terengah-engah. Ia dengan cepat menaruh palet dan brush itu di meja, lalu kembali menatap Dohoon yang juga menatapnya lapar.

Youngjae buka piyamanya dan ia lempar sembarang. Kini di hadapan, di pangkuan Dohoon adalah perempuan cantik setengah telanjang.

“Fuck.” Dohoon mengumpat sekali lagi. Ditatapnya buah dada Youngjae yang rasanya memanggil-manggil namanya untuk segera sentuh dan mainkan.

“Jangan diliatin aja…” Youngjae bawa tangannya ke belakang kepala Dohoon, menarik karet yang mengikat rambut hitam sebahunya.

Dohoon mengerang sambil mengusap pinggang telanjang Youngjae, lalu perlahan tangannya naik hingga tepat di bawah buah dadanya yang masih terbungkus bra. “Cantik banget istri aku. Seksi. Rasanya mau aku pake sampe pipis-pipis.” 

Youngjae memejamkan mata, kepalanya dilempar ke belakang, pinggulnya digerakkan maju dan mundur — menggesek kemaluannya yang mulai basah ke paha Dohoon, belah bibirnya terbuka dan merengek manja. “Mau… Mau dipake sama kamu… Please…”

Diminta seperti itu buat Dohoon bertindak tanpa kata. Tangannya menelusup masuk dan menangkup salah satu payudara Youngjae yang cukup besar, tak muat di tangannya yang terbilang kecil. Kemudian ia bawa keluar dari bra-nya. Kini payudara Youngjae terpampang jelas di mata Dohoon, sampai rasanya liurnya baru saja menetes.

Meskipun Dohoon sudah tidak sabar untuk melahap puting yang sudah mencuat itu, ia masih ingin mengerjai Youngjae terlebih dahulu. Tangannya meremas payudara Youngjae lembut, kemudian ibu jari dan jari telunjuknya mencubit putingnya — dimainkan, dipilin, ditarik, digaruk ujungnya hingga si empunya menggelinjang nikmat.

“Ahh… D-Dohoon!” Youngjae menggeliat di atas pangkuan Dohoon, buat daster Dohoon pun berantakan dan semakin tersingkap.

“Iya, sayang,” jawabnya lembut. Bertingkah seolah tangannya tidak sedang mengerjai salah satu titik sensitif Youngjae.

Youngjae menegakkan tubuhnya dan membusungkan dadanya, hingga payudaranya tepat berada di depan wajah Dohoon. Tangannya mengeluarkan payudaranya yang satu lagi. Lalu, ia dorong belakang kepala Dohoon mendekat sampai ia bisa merasakan nafas Dohoon di sekitaran payudaranya. “Nenen ke aku…” pintanya lirih.

Dohoon pening. Tak menyangka temannya yang kelihatan manis dan polos itu ternyata sangat agresif di situasi seperti ini.

Tak mau menahan diri lagi, Dohoon membawa tangan yang sebelumnya meremas sensual pinggang Youngjae itu naik ke punggungnya. Ia buka kaitan bra dan melepasnya dengan cepat, membuangnya asal. Lalu, ia kecup sekitaran payudara Youngjae sebelum menangkup salah satu gundukan tersebut dan membawanya bertemu lidahnya.

Dohoon jilat puting Youngjae yang sudah tegang, benda tak bertulang itu berputar main-main di aerolanya — menggoda si empunya.

“Doh, Dohoon… Please. Masukin, AHH!” Tepat begitu Youngjae meminta, Dohoon langsung kulum puting itu. Ia goda dengan menggesekkannya pada gigi, lalu ia jilat lagi, sesekali ia hisap hingga pipinya cekung ke dalam. Gerakan tersebut ia ulang berkali-kali.

Selesai mengerjai yang satu, kini ia pindah untuk mengerjai payudaranya yang satu lagi. Mengulang pekerjaan yang sebelumnya. Youngjae sendiri tak kuat dikerjai tanpa jeda, tubuhnya bergetar nikmat, kepalanya didengakkan dan punggungnya melengkung, tangannya meremas rambut Dohoon sambil sesekali mendorongnya agar ia semakin tenggelam di payudaranya. Hingga kini dua payudara Youngjae merah dan basah akan liur Dohoon. Seksi.

Dohoon tarik kepalanya menjauh, memandangi hasil karyanya di sepanjang leher dan dada temannya. Youngjae seperti kanvas dan Dohoon sang pelukis — ia bubuhkan warna di atas tubuh putih nan polos Youngjae, menghasilkan karya paling cantik yang pernah ada. Kalau bisa dipajang dan dipamerkan, mungkin Dohoon akan melakukannya, except it will only be shown for her. No one would be able to see this beauty, no one is allowed.

Satu yang Dohoon tidak sadari. Youngjae sedari tadi bergerak mencari friksi di pahanya, menggesek memeknya yang sudah becek, buat celana dalamnya juga agak terjepit di belahan memeknya. Sampai ternyata Youngjae keluar hanya dengan payudaranya yang dimainkan dan memeknya yang bergesekan dengan paha Dohoon.

Tubuh Youngjae ambruk ke depan, jatuhkan kepalanya pada bahu yang lebih tua. “Dohoon… Aku keluar…” bisiknya sambil terengah-engah.

Dohoon yang mendengarnya kemudian membawa tangannya ke selangkangan Youngjae, merasakan basah di tengah celana piyamanya. Tubuh Youngjae berjengit tak nyaman, ia masih sensitif. Fuck, Dohoon jadi tambah sange.

“Lucu banget, cantik. Enak ya aku mainin nenennya?”

Youngjae semakin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Dohoon. Malu.

Tangan Dohoon yang masih di selangkangan Youngjae kini menggerakkan jarinya ke atas dan bawah, menggoda memek si cantik. “Kalo aku kobelin memeknya gimana coba? Langsung pipis jangan-jangan?” bisik Dohoon tepat di telinga Youngjae.

“Nghh..” Pinggul Youngjae bergerak lagi, mengikuti gerakan jari Dohoon.

“Padahal aku mau makan memek kamu juga, Jae. Mau gesekin memek juga. Kamu bakal muncrat berapa kali coba ini, sayang?” Dohoon berkata sambil jemarinya tak henti bermain di bawah sana. Tangannya mulai menyelinap masuk ke dalam celana Youngjae, menggoda dari luar celana dalam.

“Mau… Mau semuanya. Mau dibikin muncrat terus. Dohoon please…” Youngjae angkat kepalanya untuk tatap Dohoon dengan kedua matanya yang sudah bergelinang air mata.

Jari Dohoon kemudian mengesampingkan celana dalam yang dikenakan si cantik, lalu ia sapa memek Youngjae yang sudah becek. Pertama ia usap labianya dengan jari tengah, ia bawa jarinya naik dan turun dengan perlahan — sengaja menggoda Youngjae.

“Mmmh. Please…” Youngjae tak tahu harus berkata apalagi selain memohon. Sumpah ia hanya ingin memeknya dijari oleh Dohoon, kenapa temannya itu suka sekali menggodanya.

Bukannya mengabulkan permintaan Youngjae, Dohoon malah membawa ibu jarinya bermain di klitoris Youngjae, yang kemudian membuat tubuh Youngjae terlonjak. Semakin Dohoon mainkan, semakin kuat pula remasan tangan Youngjae di bahu Dohoon.

“Anhh, u-udah… Nanti keluar lagi, mmh!” Salah satu tangan Youngjae turun ke belakang tubuhnya, menggapai tangan Dohoon dan melingkari pergelangan tangannya.

Dohoon menuruti, namun ia tarik tangannya keluar dari celana Youngjae. Terlihat beberapa jarinya basah akibat lendir yang dikeluarkan Youngjae, lalu ia masukkan ke dalam mulutnya sendiri, dijilat hingga bersih.

“Kenapa dikeluarin…” rengek Youngjae.

“Lho, katanya udahan?”

“Ih, Dohoon.”

Dohoon terkekeh, lalu ia bawa wajahnya mendekat. Dikecupnya bibir Youngjae. “Iya, sayang. Pindah ke kasur dulu ya. Even though I love seeing you sit on my lap, aku lebih suka sambil tiduran biar lebih gampang enakin kamunya.”

Youngjae tersipu, masih tidak biasa mendengar Dohoon berkata jorok seperti itu padanya. Ia mengangguk menyetujui, lalu melingkarkan lengannya di leher Dohoon. “Tapi gendong ke kasurnya.”

“As you wish, my lady.” 


Dua perempuan sebaya itu kini sudah telanjang bulat, pakaian yang sebelumnya dikenakan berserakan di sekitar kasur. Sedangkan sang pemilik masih asik bergumul dan berbagi kenikmatan.

Youngjae berbaring di kasur dengan kakinya yang dibuka lebar, tunjukkan memeknya yang basah dan berkedut itu pada sang teman, seakan memanggil Dohoon untuk melakukan sesuatu, yang tentu saja segera Dohoon kabulkan. Jari tengah dimasukkan ke dalam lubangnya, dan tanpa menunggu waktu lama ia gerakkan jarinya keluar dan masuk. Mengerjai liang kewanitaan si cantik yang kini semakin melahap jarinya, menjepit dengan kuat. Lalu, ibu jarinya diletakkan di atas klitoris Youngjae, membuat gerakan memutar yang tentu saja buat pinggul Youngjae tersentak ke atas.

“Hhnngh, Dohoon… Dohoon…” Youngjae panggil namanya di tengah desahan lirih. Kedua tangan Youngjae yang di sisi kepala dibuat meremas sprei hingga kusut, salurkan kenikmatan yang ia terima.

Dohoon tambahkan jari telunjuk dan manisnya ke dalam memek Youngjae, buat si pemilik menjerit tertahan. Kemudian ia langsung gerakkan jarinya keluar dan masuk, mencoba menyentuh titik nikmat Youngjae. Sedangkan si rambut coklat sudah total kacau, rasanya ia sudah tak punya kontrol akan tubuhnya sendiri. Pinggulnya terhentak-hentak seiring gerakan jemari Dohoon, kedua pahanya mengangkang semakin lebar — perlihatkan dengan jelas bagaimana dua jari Dohoon terjepit di lubang memeknya.

Tak butuh waktu yang lama untuk membuat Youngjae memuncratkan cairannya diiringi dengan teriakan yang segera diredam karena Dohoon mencium bibirnya. Cairan Youngjae mengalir membasahi seluruh jemari Dohoon serta kasur di bawahnya.

“Mmmhh..” Youngjae melenguh ketika Dohoon menarik kepalanya menjauh bersamaan dengan jemarinya yang juga ditarik keluar.

Keadaan Youngjae sudah jauh dari kata rapi. Tubuh telanjang yang kini dipenuhi bercak merah keunguan di beberapa tempat, keringat yang membasahi wajah dan rambutnya bercampur dengan air mata yang masih juga mengalir, bibirnya masih terbuka mengeluarkan lenguhan, matanya terpejam, kepalanya miring ke kanan dan kiri, salah satu tangannya meremas seprei dan sebelah lagi menangkup payudaranya sendiri. Belum lagi pahanya yang masih terhentak-hentak kecil, memeknya yang basah total itu berkedut-kedut dalam kekosongan. Semua itu karena Kim Dohoon.

Dohoon mendekat, mengusap pipi Youngjae dengan punggung tangannya lembut. Lalu, ia bubuhkan kecupan di sana. “Youngjae, sayang. Kamu masih mau lanjut?” tanya Dohoon memastikan. Meski ia masih ingin melakukan banyak hal porno pada temannya itu, ia tak ingin melakukannya tanpa izin.

Youngjae membuka matanya dan menatap Dohoon yang di atasnya. “Mau. Aku mau ngenakin kamu juga,” jawabnya sambil tangannya meraih pipi si perempuan berambut sebahu.

Dohoon tersenyum. “Mau enakin aku kayak gimana tuh?”

Youngjae kemudian memutar balik tubuh keduanya, kini ia yang berada di atas Dohoon. Lalu ia angkat salah satu tungkai temannya dan ditaruh di bahunya. Selanjutnya Youngjae bawa tubuhnya mendekat hingga memeknya bertemu dengan milik Dohoon.

“AHH —  J-Jae!” jerit Dohoon kaget. Tidak menyangka perempuan itu akan mengambil alih kontrol, bahkan melakukan hal yang sedari tadi ingin Dohoon lakukan. Matanya terpejam sambil kepalanya dilempar ke belakang.

Youngjae menghentak pinggulnya cukup kencang, kembali mempertemukan kedua kewanitaan itu. Lalu, ia bergerak naik dan turun buat itil keduanya bergesekan yang tentu saja menyebabkan tubuh mereka bergetar nikmat.

“L-lagi, Jae. Lagi… Nghh, enak — Aahh!” Dohoon mendesah berisik. Pinggulnya bahkan ikut bergerak naik dan turun menyesuaikan gerakan Youngjae.

Youngjae juga tak kalah berisik, memanggil nama Dohoon di tiap gerakan pinggulnya yang kian lama makin cepat. Keduanya total lupa kalau kamar ini tak kedap suara dan sudah dapat dipastikan para tetangga sudah mendengar suara mereka berdua. Tapi, siapa yang peduli dengan itu saat ini? Dohoon dan Youngjae sibuk mengejar nikmat mereka dengan mengulangi kegiatan tersebut sampai seisi ruangan hanya terdengar desahan mereka yang bersahutan dengan suara decakan nyaring akibat basahnya memek mereka yang bertemu.

“Dohoon! M-mau pipis… Nghh, sayang… Mau…” rengek Youngjae yang gerakannya kini semakin tak beraturan.

“Keluarin, mmh! Keluarin, sayangku. Pipisin akunya.” Dohoon menjawab sambil tangannya meraih pinggang Youngjae untuk membantunya bergerak.

Setelah beberapa hentakan, Youngjae memuncratkan cairannya untuk yang ketiga kalinya malam ini — membasahi seluruh tubuhnya dan tubuh Dohoon. Ia menjatuhkan tubuhnya, melupakan fakta bahwa Dohoon belum keluar.

Dohoon sendiri tak hiraukan Youngjae. Ia lanjut menghentakkan pinggulnya ke atas dan mendorong pinggang Youngjae, buat yang berbaring di atasnya itu merengek. Hingga beberapa detik setelahnya, Dohoon juga mengeluarkan putihnya. Menambah kekacauan pada tubuh keduanya serta kasur di bawah mereka.

Dohoon lalu pindahkan tubuh Youngjae berbaring ke sebelahnya, dibawanya ke dalam pelukan. Youngjae ikut menenggelamkan tubuhnya di dalam dekapan Dohoon, menaruh kepalanya sedikit di atas payudara Dohoon yang sintal.

“Gak mau bersih-bersih dulu?” tanya Dohoon sambil mengusap rambut Youngjae.

“Mau, tapi nanti. Mau kayak gini dulu.”

Dohoon tersenyum, lalu memberikan kecupan-kecupan ringan di pucuk kepala yang lebih muda.