Work Text:
Tulip.
Salah satu jenis bunga dengan penampilan cantik dan warna yang indah. Orang-orang menyukai tulip karena bentuk dan warnanya.
Taehyun salah satunya. Tulip adalah bunga kesukaannya. Sejak pertama kali melihatnya saat kecil Taehyun jatuh hati pada bunga tersebut.
Saking senangnya Taehyun punya impian mempunyai sebuah toko bunga dengan tulip sebagai bintang utamanya. Bahkan kamar Taehyun saja penuh dengan dekorasi dan hiasan lucu bertema tulip.
Kenangan paling berkesan bagi Taehyun yang menyangkut tulip adalah ketika dirinya diberi gelang berbandul tulip oleh seorang temannya saat masih kecil.
Anak itu lebih tua satu tahun darinya. Rambutnya mengembang lucu saat berlari. Dia tinggal di seberang rumah Taehyun bersama neneknya.
Taehyun memanggilnya, "kak Bamie!"
Keduanya pertama kali bertemu karena Nenek Choi. Wanita tua ramah itu membawa cucunya untuk diperkenalkan kepada Taehyun supaya keduanya bermain bersama.
Sejak itu keduanya akrab dan selalu bersama. Bamie bahkan membelikan Taehyun gelang tulip saat tahu Taehyun begitu menyukainya.
"Ini punya Tyun, warna pink. Punya Kak Bamie warna biru. Tyun suka?" kata Bamie sembari memberi sebuah gelang sederhana berbandul tulip pink dan setangkai tulip berwarna serupa.
Taehyun mengangguk antusias sebelum menerjang teman kecilnya dengan pelukan. Tyun adalah nama panggilan Taehyun saat masih kecil.
Bamie anak yang baik. Taehyun sangat senang bisa bermain bersamanya. Salah satu kenangan paling berkesannya adalah saat gelang tulip kesayangannya hilang. Gelang pemberian Kak Bamie-nya.
Taehyun panik sampai menangis tersedu. Takut dimarahi dan dijauhi karena kelalaiannya. Nyatanya tidak, Bamie justru membantu mencarinya. Padahal yang menghilangkan gelang kesayangannya adalah anjing nakal milik tetangganya.
Sore itu langit mulai gelap pertanda akan turun hujan. Tapi bocah yang lebih tua sangat keras kepala, dia tidak meninggalkan tumpukan daun itu dan tetap mencari gelang Taehyun. Katanya, "karena gelangnya kesukaan Tyun jadi harus Kak Bamie cari sampai ketemu! Tyun jangan sedih ya~"
Taehyun yang menangis segera menghapus air matanya dan kembali mencari dengan semangat bersama yang lebih tua. Keduanya pantang menyerah dan tetap mencari meski langit makin gelap.
Nenek Choi sampai harus menyusul keduanya ke taman dan memaksa mereka pulang karena langit sudah sangat gelap.
"Tyun gak papa Kak Bamie, ayo kita pulang. Besok kita cari lagi." Taehyun berusaha membujuk bocah yang setia berjongkok di depan tumpukan daun itu. "Tyun sedih kalau Kak Bamie sakit."
Akhirnya Bamie menurut setelah dibujuk oleh Taehyun. Keduanya pulang ke rumah masing-masing.
Malam itu hujan deras sekali, Taehyun duduk di dekat jendela kamarnya. Melamun, mengkhawatiran gelangnya yang mungkin saja hilang saking derasnya hujan.
Keesokan harinya ketika matahari bersinar dengan cerah, Taehyun malah mendapat kabar buruk. Kak Bamie-nya sudah dibawa pulang orang tuanya dan tidak tahu akan kembali kapan.
Nenek Choi memberikan kabar itu pagi-pagi, bersamaan ketika Taehyun akan menyapanya. Dengan senyum sendunya wanita tua itu memberikan Taehyun sebuah gelang berbandul tulip merah muda.
Katanya Bamie bersikeras mencari lagi tak lama setelah keduanya pulang. Berbekal senter dan jas hujan, Bamie mencari lagi gelang itu.
Sayangnya Bamie tidak bisa mengucapkan selamat tinggal bahkan memberikan gelangnya secara langsung karena orang tuanya tiba-tiba datang pada malam harinya. Tidak menyapanya ataupun Nenek Choi. Hanya bergerak cepat mengemasi barang-barang bocah itu dan membawanya pergi.
Sejak hari itu Taehyun tidak pernah melihat lagi Kak Bamie-nya. Bocah itu seolah hilang ditelan bumi. Nenek Choi saja tidak tahu bagaimana kabar cucu kesayangannya itu.
Taehyun menatap gelang kesayangannya yang ia simpan dalam kotak kecil. Senyum manis terukir di bibirnya. Mengingat kenangan indahnya dulu.
Dering ponsel membuyarkan lamunan Taehyun. Segera ia raih ponselnya di atas nakas.
"Halo, Kai." sapa Taehyun.
"Taehyunieee~"
Kai balas menyapa. Pemuda blasteran itu merupakan teman dekatnya.
Melirik jam di sudut kiri atas layar, pasti temannya itu menunggunya untuk berangkat sekolah bersama.
"Ayooo, aku di depan!"
Taehyun terkekeh sejenak. "Iya, aku ke depan."
Taehyun keluar kamarnya dan disambut keheningan. Seperti biasanya, ibunya sudah berangkat bekerja. Bahkan sebelum Taehyun sempat membuka matanya ibunya sudah pergi bekerja.
Tanpa membuang waktu Taehyun segera menghampiri temannya setelah memastikan rumah terkunci rapat.
"Pagi, Taehyuniee~!" sapa Kai lagi, kali ini lengkap dengan pelukan erat. Pipinya menempel dengan pipi Taehyun.
"Cukup cukup Kai, ayo berangkat. Jangan sampe kita telat!"
Kai menurut dan menyudahi kegiatannya. Keduanya menaiki bus menuju sekolah setelah berjalan sebentar dari rumah Taehyun.
Seperti hari-hari lainnya, pagi Taehyun akan dihiasi celotehan Kai. Pemuda jangkung itu akan terus mengganggu Taehyun selagi belum bertemu kekasihnya.
✧・゚: *✧・゚:*
Orang bilang dunia itu sempit. Mungkin benar adanya karena dari sekian banyaknya orang kekasih Kai adalah Choi Yeonjun, teman dekat Choi Beomgyu.
Pemuda tempramental yang tidak memberi ampun bagi siapun mangsanya. Namanya sering dipanggil untuk menghadap kedisiplinan karena ia suka berkelahi, baik dengan anak sekolahnya maupun anak sekolah lain.
Beomgyu baru dipindahkan seminggu dan sudah menghebohkan satu sekolah karena memukul guru olahraga yang terkenal galak. Sejak itu rumor tidak mengenakan selalu terdengar disetiap langkahnya.
Sementara Kai menikmati waktunya bersama Yeonjun, Taehyun terduduk kaku di samping Beomgyu. Kursinya bahkan berjarak jauh dari pemuda itu. Tangannya menggenggam sendok dengan kaku dan berusaha fokus pada makanannya. Tanpa menyadari Beomgyu yang diam-diam memperhatikannya.
Notifikasi dari ponselnya mengalihkan perhatian Taehyun, diliriknya sekilas notifikasi tersebut sebelum buru-buru menghabiskan makanannya.
"Kai, Kai!" Taehyun menepuk-nepuk pundak Kai yang sibuk mendusal pada bahu Yeonjun. "Aku duluan ya."
"Mau kemana, Taehyun? Kenapa cepet banget?" tanya Yeonjun, biasanya Taehyun akan tetap duduk bersama mereka sebelum kembali ke kelas bersama Kai.
"Hehe, mau ke perpus dulu. Dah semuanya."
Taehyun terburu-buru pergi sampai melupakan dompetnya. Beomgyu menyadari itu dan berniat memberi tahukan Kai, namun pemuda itu malah asik bercanda dengan Yeonjun.
Malas menonton sepasang kekasih itu, Beomgyu beranjak pergi membawa dompet Taehyun. Akan ia berikan sendiri kepada si pemuda mungil, biarkan saja sepasang kekasih itu.
Bagi Beomgyu sebenarnya Taehyun itu lucu, menggemaskan. Pemuda itu sudah lucu tanpa harus berusaha. Sehingga sulit mengabaikan keberadaannya.
Terkadang Beomgyu ingin mengajaknya bicara tapi Taehyun seperti kucing kecil. Ia menjauh ketakutan duluan bahkan sebelum Beomgyu sempat berkata apapun.
Begitu memasuki perpustakaan kesunyian menyambutnya. Beomgyu berkelana mengikuti kemana kakinya melangkah sembari menebak ada di mana Taehyun.
Tanpa disadari kakinya berhenti di rak paling ujung. Di ujung sana Taehyun duduk dengan buku ditangannya. Kacamata bertengger di hidung mancungnya. Cahaya matahari yang menerobos jendela menerpa wajah manisnya. Menyinari rambut coklatnya yang lebat.
Beomgyu terpaku di tempatnya. Tidak sanggup bergerak, tidak tega mengusik ketenangan Taehyun. Akhirnya dompet itu dia berikan pada penjaga perpustakaan dan berkata dia menemukannya di pintu masuk.
Nyatanya karakter seseorang tidak sama dengan penampilannya.
✧・゚: *✧・゚:*
Sore hari setelah sekolah adalah waktunya Taehyun bekerja paruh waktu. Ia bekerja di toko bunga milik seorang wanita cantik bernama Jangmi.
Kebaikan Taehyun menolong Jangmi saat hujan deras menerpa tokonya membuat Jangmi sangat menyayanginya. Wanita itu bahkan lebih dulu menawari Taehyun pekerjaan di tokonya saat tahu Taehyun menyukai bunga.
Toko bunga milik Jangmi tidak terlalu besar namun memiliki dua lantai. Lantai dua bisa digunakan untuk istirahat sedangkan lantai satu sepenuhnya berisi bunga. Ada satu sepeda di samping toko, kadang Taehyun menggunakannya untuk mengantar pesanan.
Denting bel berbunyi nyaring, begitu masuk Taehyun disambut aroma teh kamomil dan sapaan ceria Jangmi.
"Halo, Taehyun!"
"Hai, Kak Jangmi!"
"Ayo ganti baju dan minum dulu. Hari ini banyak pesenan, nanti kamu anter pake sepeda, jangan lupa bawa jas hujan sekarang udah musim hujan soalnya."
Taehyun hanya terkekeh sambil mengangguki ucapan wanita yang lebih tua. Terkadang Jangmi seperti mengisi peran ibu bagi Taehyun. Wanita itu penyayang dan sangat baik, Taehyun diberi banyak padahal mereka belum lama saling mengenal dan tidak punya ikatan keluarga.
"Kak Jangmi sehat? Jangan terlalu banyak nerima pesenan ya, aku kan gak 24 jam di sini." ucap Taehyun sembari mengemasi pesanan bunga.
"Hei hei anak muda, aku yang harusnya nasehatin kamu ya. Lagian kamu gak perlu di sini 24 jam, kamu perlu main sama temen-temenmu dan belajar yang rajin."
"Iya, halmeoni." ejek Taehyun sembari berlari keluar toko.
"Heh, enak aja! Sini kamu, Taehyun! Awas ya kamu!" amuk Jangmi. Ia segera berlari keluar menyusul Taehyun. Namun pemuda itu sudah jauh, ia dengan semangat mengayuh sepeda tua milik Jangmi.
"Huh, dasar anak itu."
✧・゚: *✧・゚:*
"Terima kasih, jangan lupa beli lagi ya!"
Taehyun tersenyum senang. Hari ini berjalan baik, semua pesanan sudah diantar dan dibayar serta ia mendapat pelanggan-pelanggan baik. Beberapa bahkan memberinya uang lebih.
Taehyun kembali mengayuh sepedanya, bersiap kembali ke toko. Terlalu semangat Taehyun sampai tidak menyadari langit makin gelap. Matahari sudah berganti tempat dengan bulan.
Kakinya segera mengayuh pedal dengan cepat, tidak mau membuat Jangmi khawatir. Terlalu cepat hingga hampir menabrak sesorang saat berbelok.
Taehyun segera menghentikan sepedanya. Ia segera menghampiri pemuda yang hampir ditabraknya. "Maaf, kamu gak papa? Tadi aku buru-buru jadi gak merhatiin jalan."
"Ck, makanya yang bener kalau naik sepeda. Untung gak lecet!"
Taehyun menunduk takut. Baru menyadari ada beberapa anak di depannya. Mereka bertubuh besar dan berpenampilan urakan. Dari seragamnya mereka terlihat seperti anak sekolah sebelah.
"Sekali lagi maaf, aku gak sengaja."
Taehyun membungkuk pelan sebelum berbalik pergi. Namun baru saja berbalik ia merasakan tarikan pada pergelangan tangannya.
"Eits, mau kemana huh? Enak banget lo, main pergi aja."
"Lepas!" Taehyun mencoba memberontak. Ia memukul tangan pemuda itu, mencoba melepaskan cengkramannya yang terlalu kuat. Sepertinya akan meninggalkan bekas pada pergelangan tangan Taehyun.
Sibuk dengan cekalan di tangannya, Taehyun tidak menyadari dua pemuda lainnya mengelilingi dirinya. Kedua pemuda itu bersiap memegangi Taehyun ketika sebuah kaleng minuman mendarat di kepala mereka.
"Cemen banget 1 lawan 3."
Ketiganya menoleh ke asal suara dengan emosi. Taehyun ikut menoleh dan terkejut mengetahui itu Beomgyu.
Pemuda itu berdiri tak jauh darinya, masih dengan penampilan urakannya seperti saat di sekolah tadi. Di tangannya ada kaleng bekas minuman bersoda. Mata tajamnya menatap ketiga pemuda yang mengelilingi Taehyun dengan remeh.
"Cih si brengsek ini lagi. Belom kapok lo dihajar hah?"
"Oh atau sekarang lo mau nyelamatin pacar lo ini? Ups!"
Beomgyu terkekeh sinis. Ia lemparkan kaleng di tangannya pada pemuda yang mencekal lengan Taehyun, tepat mengenai kepalanya. "Berisik banget. Sejak kapan tempat sampah bisa ngomong?"
Tersulut emosi, ketiga pemuda itu melepaskan Taehyun dan beralih menghajar Beomgyu. Tanpa diduga ketiganya tumbang hanya dalam beberapa serangan dari Beomgyu.
Taehyun terdiam kaku di tempatnya, tidak tahu harus melakukan apa. Sementara Beomgyu bersiap pergi setelah memungut tasnya.
"Tunggu, Kak!"
Keduanya berakhir di supermarket terdekat setelah Taehyun memaksa Beomgyu untuk mengobati lukanya sebagai ucapan terima kasih.
Taehyun meringis tiap kali ia mengoleskan obat pada luka Beomgyu sementara yang diobati fokus memperhatikan tiap detail wajah Taehyun. Jantung Beomgyu berdetak kencang, ini pertama kalinya ia berjarak sedekat ini dengan Taehyun.
"Ok, selesai. Nanti Kakak harus obatin tiap hari abis mandi ya biar lukanya cepet sembuh." nasihat Taehyun. Ia berdehem, mencoba menghilangkan ketegangan yang dirasakannya.
"Kamu cerewet juga ya."
Ucapan itu keluar begitu saja tanpa sempat Beomgyu cegah. Ia bahkan melotot terkejut, tidak percaya dirinya benar-benar mengutarakan isi pikirannya.
Taehyun terkekeh. "Hehe aku emang cerewet, kadang. Semoga Kakak gak keberatan."
"Saya gak pernah keberatan."
Taehyun melotot terkejut untuk kedua kalinya. Sementara Beomgyu dengan percaya diri menatap manik bulat Taehyun. Bibirnya bahkan mengukir senyum tipis. Menciptakan semburat merah di pipi Taehyun.
Sejak kejadian itu tanpa sadar keduanya menjadi dekat. Beomgyu akan menemani Taehyun di perpustakaan dan Taehyun akan mengajari Beomgyu pelajaran yang tidak dimengertinya.
Kai dan Yeonjun kebingungan, bahkan sempat mencurigai Beomgyu. Tapi setelah mendengar pembelaan Taehyun keduanya percaya dan keempatnya makin sering bersama. Di kantin pun sudah tidak ada kecanggungan di meja mereka.
Beomgyu makin dekat dengan Taehyun. Dirinya mengantarkan Taehyun ke toko bunga Jangmi. Bahkan sampai Jangmi mengenalinya dan mengajaknya ikut untuk menemani Taehyun.
Awalnya Beomgyu menolak tapi lama-lama dirinya luluh. Meski tidak sesering Taehyun, Beomgyu sering membantu di toko bunga milik Jangmi. Ia sering mengerjakan tugas-tugas berat dan memaksa Taehyun mengerjakan pekerjaan ringan.
Diluar sekolah dan toko bunga pun keduanya sering bertemu. Keduanya suka bermain di arcade dan berjalan di taman.
Hingga suatu hari Taehyun dikejutkan dengan kalung yang dipakai Beomgyu. Kalung itu berbandul tulip biru.
Tidak ingin terlalu berharap, Taehyun memilih berbasa basi dengan bertanya mengenai kalung tersebut.
"Kak Beomgyu, kalau boleh tau, Kakak dapet kalung itu darimana?"
Beomgyu terdiam sejenak. Tangannya reflek menyentuh bandul kalung tersebut dan tanpa sadar dirinya terkekeh.
"Ini sebenernya gelang. Tapi karena udah kekecilan saya jadiin kalung. Bagus gak?"
"Bagus. Bagus banget."
Malam itu Taehyun antusias sekali. Sampai dirinya bingung dan tak sempat mengatakan bahwa dirinya punya gelang yang sama.
Ketika sampai di rumah, Taehyun melompat-lompat antusias dan segera mencari gelangnya. Ia memeluk gelang itu sepenuh hati masih sambil melompat-lompat.
Taehyun berpikir untuk segera memberi tahu Beomgyu, tapi sebuah suara dalam kepalanya memberinya ide untuk mengejutkan Beomgyu.
Taehyun pun memulai aksinya dengan menaruh setangkai tulip merah muda di meja Beomgyu. Hanya setangkai tanpa catatan apapun atau hadiah lainnya.
Beomgyu kebingungan namun tetap menyimpan bunga tersebut. Ia merasa familiar, seperti pernah terjadi namun entah di mana.
Tulip kedua datang dengan catatan, "hari ini cerah tapi tidak secerah senyumanmu."
Terdengar berlebihan namun nyatanya Beomgyu tersenyum. Merasa lucu membaca catatan kecil itu.
Tulip ketiga datang tak lama setelahnya dengan catatan berbentuk bintang bertuliskan, "tulip itu indah tapi tidak seindah dirimu."
Beomgyu penasaran namun tetap sabar mencari siapa pengirim tulip ini. Terkadang Beomgyu bertanya pada Yeonjun atau Kai, namun ketika akan bertanya pada Taehyun pertanyaan itu selalu hilang. Seolah Beomgyu melupakannya ketika menatap manik bulat Taehyun.
Tulip keempat datang dua hari kemudian bersama catatan terlipat rapi, kali ini bertuliskan, "penasaran tidak aku siapa?"
Beomgyu dengan semangat menulis balasannya namun ia berhenti di tengah jalan karena bingung bagaimana cara memberikannya pada orang yang bahkan ia tidak tahu siapa.
Akhirnya Beomgyu memutuskan menyembunyikan surat itu di mejanya, tidak terlalu tersembunyi dan masih bisa terlihat. Dengan harapan si pengirim bisa menemukan suratnya.
Tulip kelima datang lebih cepat dari dugaan. Kali ini isi catatannya, "temui aku di taman kota, malam ini, pukul 7."
Beomgyu senang bukan main, entah kenapa. Mungkin karena kesabaran dan rasa penasarannya akhirnya akan hilang setelah mengetahui siapa pengirim tulip ini.
✧・゚: *✧・゚:*
Angin malam berhembus kencang menerpa membuat Beomgyu bergidik. Ia merapatkan jaketnya dan meniup telapak tangannya. Biasanya dirinya tidak selemah ini terhadap angin malam, seperti karena sudah hujan udara jadi makin dingin
"Lama juga ya dia." gumam Beomgyu.
Mungkin Beomgyu yang terlalu bersemangat sehingga sudah tiba setengah jam lebih dulu dari janji temu mereka. Beomgyu bahkan masih menggunakan seragam sekolah dan hanya memakai jaket untuk menghalau dinginnya angin malam.
Sejenak Beomgyu merenungi kejadian-kejadian yang terjadi padanya, seolah memutar film lama.
Selama ini hanya ada rasa sepi, Beomgyu kesepian sejak kecil. Orang tuanya sibuk bekerja sampai melupakan dirinya dan jarang pulang.
Setelah beranjak remaja bahkan dewasa Beomgyu membuat kekacauan untuk mendapatkan perhatian orang tuanya namun yang ia dapat hanya teguran lewat asisten orang tuanya.
Dulu temannya hanya Yeonjun, namun sekarang bertambah dengan Kai dan Taehyun.
Ah, Taehyun.
Rasanya Taehyun bukan lagi teman baginya. Beomgyu semakin yakin karena jantungnya selalu berdebar tidak karuan saat menatap manik bulatnya yang berbinar. Mata itu selalu menatapnya dengan kilauan indah.
Jika diperbolehkan Beomgyu ingin memilikinya untuk dirinya sendiri.
Lamunannya terputus saat melihat bayangannya makin panjang disusul teriakan kencamg milik seseorang yang sangat ia kenali.
"BEOMGYU!"
Hal yang selanjutnya ia ingat adalah dirinya didorong sampai terguling cukup jauh.
Beomgyu bangun dengan panik. Manik bergetarnya meneliti sekitar dan menemukan sebuah tubuh tergeletak tak jauh dari mobil yang sudah menabrak pohon.
Jantung Beomgyu berdetak kencang. Langkahnya terasa berat tiap dirinya mendekat pada sosok yang terbaring tak berdaya itu. Sebelum akhirnya benar-benar berhenti selangkah di dekat sosok itu.
"Tae.... Taehyun! Taehyun!" panggil Beomgyu dengan panik. Sebelah tangannya berusaha menopang tubuh Taehyun, sebelah lagi ia gunakan untuk menelepon ambulans.
Begitu selesai menelepon ambulans, kedua tangan Beomgyu bergerak panik mencoba menekan darah yang mengalir deras dari tubuh Taehyun.
"Taehyun bangun, kamu harus bertahan. Please, saya mohon."
Dada Beomgyu naik turun berusaha mengatur nafasnya yang kacau. Tangannya yang bergetar masih bergerak kesana kemari berusaha menolong Taehyun sebisanya. Bibirnya terus bergumam bersama air mata yang tak hentinya turun membasahi pipinya.
Tiba-tiba jemari kecil menyentuh pipinya. Beomgyu menoleh pada Taehyun, maniknya membulat. Taehyun masih membuka matanya.
"Kak Bamie." panggil Taehyun lirih.
Dunia Beomgyu seolah terhenti mendengar panggilannya saat kecil meluncur dari bibir Taehyun. Tidak ada yang memanggilnya begitu selain neneknya dan anak kecil di seberang rumah sang nenek.
"Tyun...."
Taehyun tersenyum. Dielusnya pipi tirus Beomgyu. Ibu jarinya bergerak perlahan menghapus air mata Beomgyu.
"I love you."
Air mata Beomgyu berderai makin deras membasahi wajahnya sampai menetes pada wajah Taehyun. Ia menempelkan dahinya dengan dahi Taehyun. Kedua lengannya memeluk tubuh mungil itu dengan makin erat.
"I love you too. I always do."
Taehyun tersenyum manis sebelum menutup matanya. Jemarinya perlahan jatuh lemas di sisi tubuhnya. Menambah deraian air mata Beomgyu. Pelukannya sangat erat meski tubuh dingin itu tak bisa lagi membalas pelukannya.
Malam itu sangat dingin. Langit terasa lebih gelap dari biasanya. Angin berhembus kencang menerbangkan aroma sebuket tulip merah yang tergeletak di tepi jalan. Di tengah buket itu sebuah benda kecil bersinar terkena cahaya bulan, sebuah bandul berbentuk tulip.
