Actions

Work Header

Digodain_Anak_Owner_Warkop_Pas_KKN.MP4

Summary:

Orang bilang "kalau lagi KKN jangan berbuat macam-macam di daerah yang kalian huni". Tapi, bagaimana kalau misalnya Leehan, mahasiswa KKN, digoda Taesan, si warlok cantik, untuk berbuat macam-macam di siang bolong?

Notes:

So, this is my attempt to meramaikan agenda ihtaes seks bebas, and I had fun writing this fic. Hope you enjoy it as I do!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sebagai ketua kelompok KKN, ada 2 hal yang selalu disampaikan oleh dosen pembimbing dan orang tuanya kepada Leehan agar dirinya bisa survive mengabdi di tempat baru:

1. Jangan bertengkar terlalu lama dengan anggota kelompok, karena itu bisa menimbulkan rasa canggung yang menyiksa dan menghambat jalannya proker
2. Jangan melakukan hal-hal yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan warga sekitar

Cowok gondrong itu dengan mudah menaati peraturan nomor satu. Terima kasih kepada anggota kelompoknya yang mudah diajak bekerja sama, mereka selalu bisa menemukan solusi dari setiap permasalahan yang ada. Semua orang menjalankan tanggung jawab mereka sehingga Leehan sebagai ketua tidak harus repot mengingatkan setiap saat. 

Untuk peraturan kedua pun sama. Mudah bagi Leehan dan teman-temannya menyenangkan hati warga sekitar. Anggota cewek di kelompoknya sering membantu ibu-ibu di sekitar posko, sehingga mereka sering diberi masakan rumahan yang enak sebagai bentuk balas budi. Sedangkan para cowok mudah akrab dengan bapak-bapak serta pemuda setempat karena sering nongkrong di warkop dekat posko. Di hari keempat KKN saja mereka sudah menonton bola bersama hingga subuh di warkop. 

Pada awalnya, kehidupan KKN Leehan berjalan dengan normal. Sampai suatu ketika, kedatangan seorang cowok cantik mengubah segalanya.

Namanya Han Taesan, anak pemilik warkop yang sudah jadi markas bagi kelompok KKN Leehan. Saat ini dia baru saja memasuki musim libur kuliah makanya bisa balik ke rumah untuk membantu Bapak dan Ibu di warkop. Meskipun dia laki-laki, Taesan memiliki wajah yang cantik dan kulit putih mulus seperti anak gadis. Perangainya yang supel membuatnya mudah akrab dengan Leehan dan teman-teman dalam waktu singkat. 

Entah sejak kapan, Leehan suka duduk di warkop sambil memperhatikan Taesan dengan berbagai ekspresinya. Taesan yang pura-pura marah sambil manyun ketika bapaknya iseng bertanya mengenai kehidupan percintaannya di hadapan anak KKN yang sedang istirahat sebelum melanjutkan proker. “Ihhh bapak, emang kenapa sih kalo aku belum punya pacar?” Taesan yang selalu tersenyum ramah setiap menyambut Leehan pelanggan yang datang ke warkop. Taesan yang marah saat melihat adiknya, Woonhak, dijahili oleh pemuda nakal. Apapun ekspresinya, Leehan selalu suka.

Termasuk ekspresi Taesan yang keenakan karena tubuhnya dijamah sana sini oleh tangan dan lidah Leehan.

Kalau ditanya bagaimana mereka berakhir dalam kondisi seperti ini, jawabannya sederhana; dua duanya kepalang dimabuk cinta dan nafsu.

Awalnya, Leehan merasa bosan melihat kondisi posko cowok yang sepi sehabis makan siang. Jungwon, Sunoo, dan Jaehyun sedang tertidur pulas, sedangkan Riwoo dan Sungho asik menonton La La Land bersama. Sempat mereka mengajak Leehan untuk bergabung, namun cowok gondrong itu menolaknya karena sudah bosan dengan film itu dan akhirnya memilih untuk datang ke warkop langganan.

“Loh, hari ini tutup?” Gumam Leehan yang bingung melihat warkop ditutup namun pintu rumah yang punya tempat masih terbuka lebar. Penasaran dengan keadaan, cowok itu mencoba mencari perhatian orang di dalam rumah. 

“Permisiiii!”

“Iyaaa, sebentar!”

Ternyata yang muncul adalah Taesan si cowok cantik dengan penampilan yang hampir bikin Leehan ngences di tempat. Bagaimana tidak? Siang itu Taesan mengenakan kaus lengan panjang fit body crop top warna broken white yang sangat pas memeluk tubuhnya, serta celana panjang berwarna khaki. Bibirnya sedikit pink karena dipoles lip balm dan, oh– wangi melati yang menguar dari tubuh Taesan membuat Leehan mulai merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya.

“Halo, Leehan. Sorry agak lama nunggu di luar, tadi aku lagi mandi.” Taesan muncul dengan senyuman khasnya. 

“Pantesan, lo wangi banget.” 

Leehan refleks menepuk mulutnya yang keceplosan. Goblok, nanti dia risih. Namun pemikiran buruknya musnah ketika melihat respon Taesan yang justru merona karena dipuji.

Oh, he likes the compliment.

“San, ini warkop kok tumben lagi tutup?” Leehan kembali mengangkat topik yang membuatnya penasaran. 

“Oohhh iyaa, hari ini tutup soalnya Bapak sama Ibu pergi keluar kota mau jenguk saudara yang sakit. Kalau si Woonhak lagi sekolah, ntar sore udah pulang kok dia.”

Pantesan sepi, gumam Leehan dalam hati. Rupanya si cowok cantik sedang sendiri di rumahnya. 

“Eh, mau masuk dulu, nggak? Kalau mau jajan bisa kok ngambil dari dalam.” Penawaran Taesan terasa seperti rayuan menarik di telinganya. Tentu saja Leehan tidak menolak dan dia berakhir menduduki sofa panjang di ruang tamu Taesan. 

“Leehan mau minum apa? Es kopi hitam kayak biasa, atau mau yang lain?”

“Tau banget nih apa kesukaan gue?” Leehan iseng menggoda Taesan di hadapannya. 
Yang digoda pun tersenyum bangga dengan tebakannya sendiri.
“Tau dong! kan aku yang selalu bikinin kopi kamu semenjak datang kesini.”  

Gantian Leehan yang tersenyum bangga sambil menaikkan sebelah alisnya. Ada perasaan senang merasa diistimewakan oleh Taesan. 

“Pintar deh lo ngeraciknya. Kopinya enak, makasih ya, cantik.”

Cantik.

Taesan menutup wajahnya karena salah tingkah, sedangkan Leehan semakin senang karena pujiannya berhasil mengundang reaksi memuaskan. “Yaahh, malu dia hahaha.”

“Aku kan cowok, masa dibilang cantik sih, Leehan.”

“Tapi suka nggak dipanggil cantik?”

“Suka…”

Something shifted in Leehan’s brain. Taesan yang suka dipanggil cantik. Taesan yang menawarkan Leehan masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu. Taesan yang muncul dengan penampilan menggoda. Taesan yang memancing Leehan secara halus untuk memusatkan perhatian kepada dirinya.

“Leehan jadinya mau minum apa?”

Ah, persetan dengan es kopi hitam kesukaannya. Leehan lebih tertarik dengan sosok Taesan yang tengah bertanya sambil menunduk di hadapannya. Entah cowok itu sadar atau tidak, bajunya yang berkerah rendah membuat Leehan bisa mengintip tulang selangka dan belahan dadanya sekilas. Karena sudah kepalang nafsu, ditariknya pinggang si cantik hingga cowok itu jatuh terduduk di atas pangkuannya.

“Taesan, lo sengaja ya godain gue?”

“Hah?”

Ibu jari kanan Leehan terangkat mengusap bibir Taesan yang terpoles rapi.

“Perasaan dari kemarin gue nggak pernah tuh liat lo pakai riasan di bibir.” Dikecupnya sisa produk yang menempel di atas jari. Ada rasa strawberry yang membuat Leehan tidak sabar untuk menjelajah bibir manis itu nanti. 

Kemudian tangannya turun mengelus pinggang Taesan sambil memainkan ujung kaus yang tidak menutupi seluruh tubuh cowok itu. 

“Biasanya lo selalu muncul pakai kaos band atau jersey bola, kok sekarang pake baju seksi gini, sih?” Tangan Leehan mulai masuk ke dalam kaus untuk mengelus perut dan punggung Taesan. 

Melihat Taesan yang mulai kewalahan karena sentuhannya, Leehan semakin agresif melancarkan aksinya. Cowok itu mengendus leher Taesan yang wangi serta membisikkan pujian sensual. “Parfum yang lo pakai sekarang bikin gue ngaceng loh, Taesan. Manis banget wanginya.” 

“Lo sengaja ya, dandan kayak gini karena tau gue yang dateng? Nggak mungkin kan, lo muncul begini buat nyambut orang random yang pengen nongkrong di sini?”

“H-hnggh…”

“Kalau ditanya tuh jawab, Taesan. Bukannya mendesah doang.”

“I-iya…”

“Iya apaan, cantik? Yang jelas ngomongnya, dong.”

"Iya, m-mau dandan cantik di depan Ihaann AAHHHH!” Taesan melenguh keras ketika Leehan memainkan puting kanannya setelah mendengar jawaban yang dia harapkan. Panggilan baru yang keluar dari mulut Taesan membuat hasrat Leehan semakin naik. “Mau godain Ihan… hnggghhh biar Ihan lihat akuuhh.”

Mendengar jawaban Taesan yang kelewat jujur dan caranya memanggil nama Leehan dengan manis membuat cowok itu merasa diberi lampu hijau untuk melangkah lebih jauh. Tangannya naik untuk melepas pakaian Taesan dan membuangnya ke sofa yang tidak diduduki. Taesan yang berada di atas pangkuannya refleks menutupi dada karena malu.

“Ngapain ditutupin gitu. Kayak anak gadis perawan aja, lo.”

Harusnya Taesan marah karena diledek seperti sejak tadi. Tapi komentar itu justru membuat nafsunya semakin naik. Tanpa sadar dia menggesekan bagian bawahnya agar beradu dengan milik Leehan. Melihat kelakuan Taesan, Leehan pun semakin pongah.

“Taesan, Taesan, gimana ya kalau misalnya Woonhak tiba-tiba pulang terus dia lihat abangnya kayak kucing birahi gini?” Perlahan tangan Leehan menyusup ke dalam celana Taesan untuk memancing reaksi cowok itu.

“Nggaakk mauu, aku malu donggghh.” Susah payah Taesan menjawab karena tubuh dan pikirannya kewalahan. Ada rasa malu memikirkan skenario terpergok sekaligus berdebar menanti pergerakan Leehan selanjutnya.

“Ohhh malu ternyata. Kalau gitu udahan aja ya, San. Kasihan lo nanti tambah malu gitu.” Ujar Leehan dengan senyuman usil. Mana sudi dia mengakhiri semua ini di saat gundukan di selangkangannya sudah berdiri tegak. Cowok itu cuma ingin mengusili si cantik di pangkuannya.

“Jangan udahan, please…
“Nanti kedengaran tetangga loh, Taesan.”

“Hnnggghh di kamarku aja, Ihaaann.” Taesan merengek frustasi sambil kembali menggesekan tubuhnya berusaha mencari kenikmatan. “Gak bakal kedengaran kok…”

Diberi penawaran menarik tentu saja Leehan tidak mau merugi.

“Kamar lo yang mana, cantik?”

“Itu, yang dibalik ruang tamu.”

And that's how they ended up in Taesan’s bedroom. Pakaian mereka berdua sudah berserakan di lantai. Kondisi mereka sudah kacau balau. Tubuh Taesan penuh dengan bercak kemerahan dari Leehan dari atas sampai bawah. Lipbalm yang dia pakai sudah hilang karena belepotan di sekitar area mulutnya maupun Leehan akibat ciuman mereka. Cowok gondrong itu juga sama kacaunya. Rambutnya sudah acak-acakan karena dijambak Taesan yang keenakan, ada beberapa kissmark yang ditinggalkan si cantik di tulang selangkanya karena dia tidak mau kalah dari Leehan. Gemes banget kayak kucing, begitu isi kepala Leehan saat melihat Taesan melancarkan aksinya.

“Hhhh m-masuk…masukin aja Ihannghh.”
Not yet, princess. We need to make sure you're prepared enough so the pain will be less.”

Tiga jari Leehan sudah masuk dan Taesan kewalahan parah. Rasanya nikmat tapi sakit di waktu yang bersamaan. Melihat Taesan yang merintih, Leehan pun menyusu di dada kirinya untuk mengalihkan Taesan dari rasa sakit. Diperlakukan seperti itu membuat Taesan mabuk kepayang. Tangannya semakin keras mencengkram bahu Leehan. Mungkin cowok itu akan pulang dengan bekas cakaran tapi siapa peduli, yang penting sekarang ada bagaimana caranya menuntaskan nafsu birahi masing-masing.

“Haahhh j-jangan keras-keras…nanti bengkak."

“Biarin, nanti makin seksi kalau dadanya gede."

“Ihan aaahhh!” Taesan merengut mendengar jawaban Leehan yang serampangan, namun tangannya menekan kepala cowok itu agar tidak menyudahi kegiatannya dalam waktu singkat. Leehan sih senang banget bisa nyicipin kedua dada Taesan yang cukup berisi.

“H-han udahan pakai jarinya….aku mau kontol kamu.”

Melihat Taesan yang sudah tidak tahan pun membuat Leehan mencabut ketiga jarinya. Dia juga tidak ingin kalau mereka berdua harus keluar tanpa merasakan kehangatan satu sama lain. Tanpa basa-basi, Leehan pun memasukkan kontol besarnya ke lubang sempit Taesan.

“AAAHHHNGHH s-sakiitt.”

“Tahan dikit ya, cantik.” diketuknya ujung bibir Taesan dengan jari telunjuk dan tengah miliknya. Paham dengan kode tersebut, cowok itu langsung memasukkan kedua jari Leehan ke dalam mulutnya untuk dimainkan sebagai pengalihan sekaligus menjaga suaranya agar tidak bocor sampai ke rumah tetangga.

Leehan pun semakin mempercepat tempo pergerakannya, begitu juga dengan Taesan yang berusaha menyeimbangi permainannya. Lubangnya semakin ketat menjepit kontol Leehan sambil tetap memainkan jari Leehan di mulutnya. 

“Han, k-keluar di dalem ya.”
“Nanti lo hamil gimana, dong?” 

“Nggghhh– nggak papaaa.” Sialan, jawaban ngawur Taesan bikin Leehan semakin semangat merodok lubang lelaki itu habis-habisan. “Mau dihamilin Ihan… Mau dikontolin sampai mentok– Ahhh!”

As you wish, baby.”

Keduanya terus bergerak mengejar kenikmatan hingga akhirnya mereka keluar di waktu yang bersamaan. Leehan pun mengubah posisinya menjadi berbaring di sebelah kanan Taesan sambil mencabut penisnya.

“Haahhh, banyak banget…Penuh.” Ujar Taesan sambil melihat bekas sperma yang menempel di kasur dan tubuhnya.

“Kalau lo cewek pasti bakalan hamil sih, Taesan.”
“Ihan jangan gitu, aku malu!” Taesan merengek sambil memukul ringan dada lelaki di sebelahnya. 

“Kan lo yang minta dihamilin, cantik.”
“Ih, tapi kan itu tadi pas lagi seks.” Perlahan rasa malu mulai menguasai Taesan mengingat kelakuan binalnya dari tadi. “Sekarang udah selesai… Aku malu…” Lelaki cantik itu menyembunyikan wajahnya di dada Leehan. Melihat Taesan yang bertingkah menggemaskan, Leehan tidak bisa menahan senyumnya.

“Nggak perlu malu, Taesan. Gue udah lihat semuanya kok, you're doing well, sweetheart.” Diberikannya kecupan ringan di pipi dan hidung bangir Taesan sebagai bentuk afirmasi.

“Ihan… Mulutnya jangan terlalu manis dong.”

“Hmmm, kenapa?”

Ada keheningan sejenak sebelum Taesan menjawab dengan salah tingkah.

“Nanti aku makin naksir… Emang kamu mau tanggung jawab…?”

Tawa besar mengalun dari mulut Leehan. Imut banget buseeetttt, bisa gila gue. Susah payah Leehan menahan dirinya agar tidak kebablasan melanjutkan ronde kedua. Ditatapnya cowok manis yang tengah menanti jawabannya dengan wajah bingung sekaligus penuh harapan.

“Jangankan perasaan, San. Lo minta tanggung jawab kalo hamil beneran pun juga gue iyain.”
“Udah nggak sih ngomong hamil-hamilnya!” 
“Awwww, iya iya ampun hahaha. Galak banget sih kayak kucing hitam.”
“Hey!”

“Tapi serius. Gue mau kok, tanggung jawab sama perasaan lo. Because the feelings are mutual, Taesan.”
“Ihan nggak bercanda kan…?”

“Ya ampun, Taesaaann.” Dicubitnya pipi cowok cantik itu dengan gemas. “Emang muka gue keliatan kayak playboy yang suka bercandain perasaan orang, kah?”

“Habis kamu daritadi usil terus sama aku!” Taesan menggembungkan pipinya pura-pura sebal, meskipun usahanya gagal karena tidak bisa menahan senyum usai mendengar pengakuan Leehan.

“Serius Taesan, gue mau kok lanjut lebih sama serius sama lo. Walaupun kita seringnya ngobrol ramean sama yang lain, gue ngerasa cocok kok sama obrolan kita selama ini. Poin plus kita berdua punya interest yang sama di bidang seni musik. I think we can take our relationship into the next step while get to know each other.”

“Harusnya kita pacaran dulu nggak sih baru begini, Han?”
“Kata orang yang godain gue duluan?”

“Tapi kamunya juga kegoda, kan?” Dengan cepat Taesan mengubah posisinya menjadi di atas tubuh Leehan. Matanya berkilat usil seperti kucing yang senang menjahili majikannya.

“Cuma orang tolol yang nggak tergoda liat kamu kayak gitu, Taesan. Also, I like the way you call my name, it’s cute.” Jawab Leehan mantap.
“Sekarang kamu turun dulu ya, sayang, sebelum aku keburu ngaceng lagi dan kita lanjut ngentot sampai Bapak Ibumu pulang besok.” Taesan yang masih merasa pegal pun langsung kembali ke posisi awal karena salah tingkah mendengar ide gila Leehan serta panggilan aku-kamu yang digunakannya.

“So…are we dating now?”

“Kamu nggak keberatan aku ajak pacaran dalam kondisi lagi kacau begini?”
Nope, aku senang selama itu sama Ihan.”

Then, the answer is yes. We’re officially dating from now.” Balas Leehan sambil meraih tangan kanan Taesan untuk dicium dan dimainkan jari-jarinya. “Can’t wait to start a new day with you, cantik.”

“I love you, Ihan.
"I love you, too, Taesan.”

Notes:

Don't try this during KKN ya, guys ♡