Actions

Work Header

We Didn't Know We Needed This

Summary:

Mungkin bagi sejumlah orang, ini hari yang tepat untuk dimaki. Seperti ‘hari sial betulan nggak ada di kalender,’ misalnya. Sayang sekali, Sangwon tidak bisa turut berduka demi teman-temannya hari ini. Dia kepalang girang sambil lari-lari kecil meninggalkan gedung jurusan menuju ke tempat mobilnya disimpan sepuluh menit lalu.

Work Text:

Mungkin bagi sejumlah orang, ini hari yang tepat untuk dimaki. Seperti ‘hari sial betulan nggak ada di kalender,’ misalnya. Sayang sekali, Sangwon tidak bisa turut berduka demi teman-temannya hari ini. Dia kepalang girang sambil lari-lari kecil meninggalkan gedung jurusan menuju ke tempat mobilnya disimpan sepuluh menit lalu.

Kelas yang terjadwal pukul empat sore ini dibatalkan sepihak oleh Profesor yang bersangkutan, terpaksa dialihkan secara daring malam ini sebab panggilan dadakan dari pimpinan fakultas entah untuk agenda apa—Sangwon juga tidak tertarik untuk tahu menahu. Jelasnya, dia hanya mau lari lebih cepat dibantu roda-rodanya untuk menyusul agenda pribadi yang jauh lebih menarik.

Gawai milik Sangwon bergetar tepat saat dirinya mematikan mesin mobil. Sudut bibirnya terangkat saat kontak terlabel ‘Jia’ yang diimbuhi hati berwarna merah mengapung sebagai pemberitahuan. Wah, senyumnya saingi sinar matahari yang mencium wajahnya setelah menilik pesan yang baru saja masuk.

[4:15 pm] Cantik, Sayang…

Begitu komentar Sangwon setelah hadiahkan emoji hati pada foto yang baru saja masuk ke galerinya. Selanjutnya, ia susulkan pesan lainnya:

[4:15 pm] Come see me down here
[4:15 pm] Biar cantiknya lebih HD, hehe

Tak butuh waktu lama bagi sosok cantik yang dinanti untuk muncul dan tempati kursi di samping Sangwon. Usapan lembut di kepala Jiahao sebagai sambutan berhasil buat senyumnya merekah. Tetap, yang nomor satu adalah rasa penasaran. “Kok kamu di sini?” tanyanya.

I kinda drove here, I suppose?” balas laki-laki yang memegang kemudi sembari memulai perjalanan. Sangwon tertawa kecil mendapati kekasihnya memasang wajah masam. “Koordinator program pascasarjana semuanya diundang rapat dadakan sama Dekan, Sayang. Kelasnya diundur nanti malam via Zoom.”

Loh, kemana wajah masam Jiahao pergi? Senyum cerahnya kembali lagi, enggan menyelaraskan kemejanya yang kusut di sejumlah sisi setelah delapan jam menghabisi to-do list pekerjaannya hari ini. “Means you’re staying tonight?”

Mau tak mau, Sangwon ikut tersenyum ketika memberikan validasi atas pertanyaan itu. “Means I’m staying tonight,” ucapnya. Tangan kirinya tidak lagi genggam roda kemudi. Ia lebih suka menggunakannya untuk hangatkan jemari si Cantik.




Very much understood, Prof. Thank you for the elaboration.

Sangwon membisukan microphone Zoom-nya sebelum kembali meraih pipi sosok yang mengistirahatkan kepala di pangkuannya. Koordinator program studi yang kebetulan mengampu mata kuliah yang tengah berlangsung ini menepati janjinya untuk melaksanakan kelas pengganti di malam hari.

Si Sangwon ini cukup kurang ajar, memang, tapi siapa peduli? Selama Jiahao tidak mampir di kameranya sebagai bintang tamu dan selama Sangwon menyimak perkuliahan dengan baik, tak menjadi masalah, bukan? Sudah, anggap saja demikian. Tidak perlu repot-repot melaporkan Sangwon kepada Profesor.

Kelas pengganti dicukupkan ketika seluruh pertanyaan mahasiswa terkait penugasan untuk penilaian tengah semester telah terklarifikasi. Sangwon sibuk membereskan komputer lipat serta catatannya ketika Jiahao hampir bangkit bila yang menjadi alas kepalanya tak sigap menahan. “Kamu mau kemana?” Sangwon mengerucutkan bibirnya ketika bertanya.

“Nanti kamu pegel,” balas si Kekasih. “Kamu mau revisi tesis, kan? Kopi, mau?” sambungnya, dalam rangka menawarkan teman untuk tetap terjaga.

Sangwon hanya suguhkan gelengan sebagai reaksi. “Udah selesai, Sayang. Nih, lihat kantung mata aku!”

Giliran Jiahao yang menggeleng, tak habis pikir. Sangwon belum tidur semalaman dan memilih untuk menjemput dirinya di kantor yang tidak terbilang dekat dari kampus. Lebih lagi, sejauh yang Jiahao ingat, Sangwon telah membuat janji dengan dosen pembimbingnya untuk melaporkan progres proposal tesis besok pagi.

Keduanya sudah terbaring di ranjang queen-sized kepunyaan Jiahao sesaat setelah dirinya menyadari keperluan Sangwon esok hari. “Kamu bukannya besok bimbingan pagi? Apart aku jauh ke kampus, Awon.” Seolah akan mengubah sesuatu, Jiahao mempertanyakan hal itu.

Sangwon menghadapkan tubuhnya ke samping ketika merasakan adanya pergerakan dari orang yang terjebak di lengannya. Bukan perkara rumit, menurut Sangwon. Solusinya jelas: “Kan ada kamu.” Selanjutnya, dengan senyum percaya diri, ia usulkan, “besok, waktu mau siap-siap kerja, kamu bangunin aku juga!” Jangan lupa tawa kecil yang rajin ikuti ucapannya.

Jiahao bergidik kala mendengar masukan mengerikan dari laki-laki itu. “Ih, nggak mau! Kamu dibanguninnya susah!”

Berikutnya, hanya gelak tawa dan rayuan Sangwon yang ditimpali rengekan si Cantik atas ide kontroversial yang baru saja Sangwon usulkan.




Hal terakhir yang Sangwon bawa ke dalam mimpinya tak lain adalah suara si kekasih yang sukarela menjadi pengantar tidurnya malam tadi. Ia kerjapkan mata beberapa kali untuk dapat membaca dengan jelas waktu yang tertera pada jam analog di nakas: pukul dua pagi. Indra penglihatnya kemudian menangkap si Cantik yang masih di ada di sampingnya, hanya saja dalam posisi duduk bersandar.

Jiahao meregangkan otot-ototnya penuh hati-hati. Setelah singkirkan perangkat kerjanya dari pangkuan, ia meluruskan kaki seraya mengembuskan nafas lega. Jantungnya hampir merosot ketika laki-laki yang ia percayai telah berlayar ke pulau mimpi sejak tadi tiba-tiba meraih kakinya untuk memberinya pijatan ringan. “Sayang, maaf. Keyboard aku berisik, ya?”

Sangwon tersenyum kecil. “Nggak, kok! Aku kebangun sendiri,” jelasnya sambil unjuk gigi. “Kamu bawa pulang kerjaan?”

Anggukan pelan menjadi respons pertama yang Jiahao lemparkan, baru kemudian menerangkan perihal itu. “I wanted to see you, jadi aku batalin niat lembur di kantor.”

“Kenapa nggak bilang? Harusnya tadi aku yang nawarin kopi, atau aku bisa temenin kamu begadang, Sayaangg.”

“You slept like a baby. Orang gila mana yang tega bangunin?”

Sangwon mengusap kepala kekasihnya gemas sebelum menarik Jiahao ke dekapannya. “You’ve been working really hard lately. Aku takut kamu kecapekan.”

Look at you! Saking sibuknya kita sama hidup masing-masing, kita jadi jarang quality time, tau!”

Sangwon sedikit terkesiap mendengar ucapan laki-laki di pelukannya. Yakin, ini pertama kalinya ia mendengar protes tersurat darinya setelah menjalani hubungan sebagai pasangan selama tiga tahun. Bukan pertanda buruk, sama sekali bukan. Pelukannya semakin kuat menyadari hal itu akhirnya terjadi. “Sayang, protes terus, please!”

Jangankan sepatah kata, Jiahao bahkan gagal untuk sekadar memproses ekspresi apa yang harus ia kenakan untuk menanggapi permohonan unik dari pacarnya itu.

That means a lot to me, Sayang. Equals an ‘I love you’!”

Mendengar penjelasan yang demikian dari lawan bicara, Jiahao membalas pelukan hangat itu. “Awon, listen,” pintanya, membuat dua pasang netra bertemu saat itu juga. “I love spending time with you. I love talking to you. Dan kamu tau, nggak, apa yang paling penting?”

Lelaki yang dilempari pertanyaan hanya diam, menunggu kunci jawabannya.

I love having you in my life, Awon.”

Tentu bukan Jiahao yang menjadi pihak pertama yang memutus kontak mata. Sangwon tidak ingin si Cantik melihatnya menangis seperti anak kecil.

Jiahao justru menangkup wajah Sangwon untuk mengusap air di pelupuk matanya sebelum sempat basahi pipi. “I know you look pretty when you cry, tapi jangan nangis! Masa aku bikin anak orang nangis?!”

Dua sejoli itu terkikik menertawai satu sama lain. Sesi tak terduga yang baru saja terjadi sama sekali tidak ada dalam prasangka mereka malam ini. Ucapkan terima kasih pada segala jenis kesibukan yang mendorong mereka melewati malam ini.

You will always have me, Sayang,” pungkas Sangwon sebelum dibungkam lembut oleh ranum kekasihnya.

Hari baru dimulai. Tapi bagi sejumlah orang, tidak demikian. Dua insan di ruang tertutup itu menunda untuk awali hari masing-masing dengan melanjutkan rehat yang diperlukan tubuh mereka.