Work Text:
Di jaman dulu, umumnya para hybrid dipelihara untuk tujuan fungsional dan rekreasi. Pada mulanya ada beberapa hybrid yang sengaja dibiakkan untuk membantu berburu, senjata berjalan dalam peperangan, bertani bahkan bertarung. Tetapi seiring perkembangan jaman menuju modern, kepopuleran hybrid dalam membantu pekerjaan manusia tidak lagi diunggulkan. Manusia cenderung beralih pada perkembangan teknologi mesin ketimbang menggunakan bantuan tenaga hybrid, kini hybrid mulai dianggap ’ketinggalan jaman’ dan tidak dibiakkan untuk urusan pekerjaan yang fungsional lagi.
Kini hybrid lebih banyak didomestikan dan menjadi peliharaan bagi pemilik mereka untuk tujuan rekreasi; menjadi teman hidup, menemani saat-saat kesepian dan bahkan... ekhm, rekreasi dalam konotasi lain. Hal-hal semacam itu dilegalisir dan diatur secara hukum. Kini popularitas hybrid lebih dikenal sebagai makhluk yang kurang fungsional bagi manusia dan hanya sebagai makhluk rekreasional saja.
Tetapi sampai sekarang masih ada beberapa hybrid yang dipelihara untuk membantu secara fungsional dalam kehidupan manusia, meskipun kurang populer dibanding hybrid domestik seperti hybrid anjing, kucing, kelinci, rusa bahkan tanuki. Beberapa yang lain ada yang dibiarkan membentuk koloni liar sendiri di pedalaman dan hidup berkelompok bagi hybrid binatang buas seperti serigala, rubah, harimau dan beruang.
Keluarga Mark sendiri adalah pemilik peternakan sukses di tepi pedesaan. Peternakan mereka cukup maju dan luas, usaha keluarga Mark telah berjalan cukup lama dari generasi ke generasi hingga diturunkan kepada pemuda itu. Walaupun mengelola usaha keluarga yang diturunkan orang tuanya, Mark tidak bermalas-malasan. Ia adalah pemuda yang sangat rajin sehingga usahanya berjalan dengan mulus. Namun terkadang hewan-hewan ternaknya juga sering mendapat gangguan dari beberapa kawanan hybrid serigala yang tinggal di pedalaman hutan tak jauh dari lokasi peternakan keluarga mereka.
Karena masalah tersebut, keluarga Mark memutuskan untuk memelihara beberapa hybrid anjing untuk menjaga hewan ternaknya. Jeno adalah ketua pack hybrid yang dipelihara keluarga Mark. Mereka mengadopsinya bahkan dari Jeno masih kecil. Ia dan Mark tumbuh bersama, sehingga dapat dikatakan sebagai teman baik. Selain Jeno dan beberapa hybrid anjing lainnya, keluarga Mark juga mengadopsi salah satu hybrid rare yang sangat jarang ditemui awam. Mereka memiliki hybrid sapi perah bernama Haechan. Hybrid sapi adalah jenis hybrid yang amat langka, bahkan bisa dikatakan hanya tersisa beberapa di dunia.
Tidak seperti Jeno dan kawanannya yang berbadan kekar serta besar-besar, tubuh Haechan lebih berisi dan montok. Sebab walaupun Jeno dan pack hybridnya banyak diberi makan, tapi mereka juga bekerja keras dan berolah tubuh dalam pekerjaan sehari-hari. Sementara Haechan hanya makan banyak, tidur, bersolek, dan menggoda para hybrid peternakan dengan parasnya yang menggemaskan dan memikat hati.
Tetapi hal itu bukan berarti kalau Haechan bukan hybrid fungsional bagi peternakan. Haechan adalah hybrid yang paling ’disayangi’ keluarga Mark. Sebab, walaupun makannya banyak, tetapi Haechan menghasilkan produk yang paling unggul dan dicari-cari banyak pedagang setiap bulannya. Haechan adalah sejenis hybrid omega jantan dari sapi Braunvieh, sapi siap perah dengan rambut keemasan dan daging gemuk. Walaupun ia pejantan, tetapi ia memiliki kelenjar susu karena masih seorang hybrid omega yang setiap semester akan tetap memroduksi susu meski tidak habis beranak. Susu murninya lah yang merupakan produk unggulan dari peternakan keluarga Mark.
Setiap pertengahan dan akhir tahun adalah waktu pemerahan buat Haechan, yang bisa memproduksi susu murni hybrid hingga berember-ember. Tetapi karena waktu pemerahannya yang jarang dan sumbernya yang langka, susu segar hybrid jika dijual akan berharga fantastis. Meski begitu, peminatnya sangat banyak sebab susu murni hybrid sapi memiliki nutrisi yang paling kaya dari susu jenis apapun. Nutrisinya lebih kaya dari susu sapi biasa dan susu hewan dairy manapun, terutama kandungannya yang paling mendekati dengan kebutuhan nutrisi manusia. Salah satu penelitian akhir-akhir ini bahkan menemukan potensi susu hybrid sapi dapat menjadi obat kesuburan dan kebugaran bagi manusia.
Oleh sebab itu, Haechan diperlakukan dan dirawat sebagai kesayangan di peternakan keluarga Mark. Tugasnya hanya makan, tidur, dan diperah. Disamping hal itu, Haechan sebagai seorang hybrid peliharaan peternakan mereka memiliki kepribadian yang menyenangkan dan lucu. Parasnya juga cantik dan menggemaskan dengan pipi penuh dan wajah bulatnya yang mungil. Rambutnya ikal kecoklatan dan mata yang cantik, kakinya jenjang namun di bagian paha, perut hingga dada, semua kencang dan montok.
Setiap akhir dan pertengahan tahun, tugas pemerahan diserahkan pada Mark yang sudah bertahun-tahun menangani Haechan. Lagipula, hybrid itu bilang sendiri kalau ia hanya nyaman ditangani oleh tuannya yang tampan itu. Bagi Mark, itu bukan masalah dan ia dengan senang hati membantu. Dan bagi Haechan sendiri, ia punya alasan tersendiri untuk permintaannya itu.
Siang itu Mark baru saja selesai memberi pakan ke kandang-kandang hewan ternaknya, mulai dari kuda, sapi, kambing hingga babi. Kemudian ia mengecek ladang domba dan menemui Jeno beserta kawanan packnya yang sedang berjaga menggembala domba. Setelah memastikan semuanya aman, ia pergi ke rumah para hybrid yang terletak agak ke belakang di pekarangan ternak keluarganya.
Ia masuk tanpa mengetuk pintu. Rumah terlihat kosong, tetapi ia langsung melangkahkan kaki ke bagian belakang dan masuk ke salah satu ruangan. Disitu ia melihat Haechan yang mengenakan kaus rumahannya yang kebesaran tampak sedang tertidur di sofa kulit. Hybrid itu tampak sangat menggemaskan dalam tidurnya yang tenang, lengkap dengan tanduk sapinya yang kecil di antara rambut ikal emasnya yang halus serta kalung lonceng di leher cantiknya.
Mark mendekat dan menyentuh pipi gembil sang hybrid. Karena sentuhan hangat di kulitnya yang kedinginan, Haechan terbangun, ia mengerjap beberapa kali sebelum tersenyum melihat kehadiran Mark.
”Mel sudah datang~”
”Maaf membuatmu menunggu,” Mark duduk di sebelahnya, di depan mereka sudah tersedia ember-ember susu yang masih kosong di atas meja kecil. Haechan tampak sudah sangat siap namun wajahnya nampak kuyu sehabis bangun tidur ”apa kau lelah? Tidak apa jika kita menunggu sampai kau siap. Tidak usah dipaksakan. Jika melakukannya dengan terpaksa, produk yang akan kau hasilkan nantinya tidak akan bagus.”
Haechan merengek, ia memegangi tangan Mark yang masih membelai pipinya. Ia mengusalkan pipi chubbynya di telapak tangan Mark yang lebar dan kasar hasil dari kerja kerasnya setiap hari.
”Aku sudah sangat siap Melk, sehabis sarapan tadi Haechan menunggu Mel lama sekali,” Haechan berujar dengan suaranya yang mendayu ”Haechan sudah hampir melakukannya sendiri tapi tidak mau kalau Melk tidak ada disini.”
Mark tersenyum, hybrid ini benar-benar menggemaskan sekali di matanya.
”Benarkah? Kalau begitu kita bisa melakukannya sekarang atau kau harus bersiap terlebih dulu?”
Hybrid itu menggeleng ”Haechan sudah siap-siap setelah selesai sarapan tadi, tetapi lalu ketiduran disini. Jadi sekarang aku sudah siap untuk melakukannya! Cepat lakukan Mel~ Karena akhir-akhir ini tubuhku sudah mulai terasa aneh...”
Mark tersenyum dan menyingkirkan tangan Haechan ke masing-masing sisi, ia memutar tubuh hybrid itu agar membelakanginya dan menegakan punggung anak itu. Haechan mengerang kecil saat tangan Mark mulai menyentuh pucuk dadanya yang membengkak dari luar kaus.
”Itu pasti, karena ini sudah waktunya susumu diperah. Kalau tidak, badanmu pasti akan kewalahan menampung semua cairan alami ini.”
Suara rengekan Haechan mulai terdengar ketika jemari Mark semakin berani menekan dan mengitari areolanya. Ia meringis keenakan, sentuhan Mark kini jauh lebih keras.
”Bahkan putingmu sudah lebih bengkak dari biasanya. Apa sudah ada yang menetes sebelumnya?”
Haechan menggeleng ”tidak ada... tidak mau keluar kalau belum dipijat Mel..”
Pemuda berambut oreo itu menyeringai ”itu bagus, jadi tidak ada susu segarmu yang terbuang sia-sia.”
Tanpa ijin, Mark segera mengangkat kaus longgar Haechan dan meloloskannya dari kepala membuat hybrid itu kini setengah telanjang. Tidak ingin membuang waktu, Mark kembali memijat dada montok Haechan untuk menstimulus kelenjar susunya.
”Seperti biasa, putingmu masuk ke dalam sehingga kita harus memijatnya agar dia menyembul keluar. Karena kalau ia terus-terusan tenggelam, susunya tidak akan deras mengalir keluar.”
Haechan bahkan tidak fokus mendengarkan ucapan Mark, kepalanya sudah pening atas friksi geli yang diberikan jemari kasar Mark di pucuk dadanya yang lembut dan sensitif. Mark melebarkan puting tenggelam Haechan dengan dua jari dan kemudian menggunakan telunjuknya untuk menjawil pucuknya keluar, tapi sayangnya hal itu belum membuahkan hasil. Sementara Haechan makin tak berdaya menyender di dada bidang Mark. Rasanya sedikit sakit oleh gerakan Mark yang kasar, tetapi Haechan menikmatinya.
”Apa yang harus kita lakukan? Apa harus menggunakan alat milking atau nipple puller seperti waktu itu untuk menyedot putingmu keluar?”
Haechan mendongak dan meremat kemeja flanel Mark, ia menggeleng. Matanya sudah berkaca-kaca dengan bibir gemetar.
”Jangan... i-itu sak-it..”
”Lalu bagaimana? Kalau begini terus susunya akan benar-benar sulit untuk keluar.”
Mark berpikir dengan wajah serius yang mana membuat dirinya seribu kali lebih tampan di mata Haechan. Hybrid itu melenguh saat Mark kembali menjawil putingnya yang masih tenggelam dengan sedikit kasar. Telunjuknya masuk ke dalam lipatan putingnya dan mengorek disitu, pucuk dadanya tergores kuku Mark yang sedikit panjang.
Haechan menangkup payudaranya sendiri yang berukuran besar dan cukup berlemak, sehingga nampak tak muat bahkan di genggamannya sendiri. Ia ikut berpikir dengan otaknya yang tinggal setengah. Dengan wajah sayu dan desah tertahan, ia sedikit berbalik menghadap Mark dan menyodorkan nenen montoknya itu ke depan wajah Mark.
”Mel bisa menyedotnya keluar dengan mulut lebih dulu... jadi tidak akan sesakit dengan menggunakan alat sedot yang mengerikan itu.”
Wajah Mark langsung berubah cerah, ia menyetujui ide tersebut. Dengan semangat, ia mendorong tubuh Haechan hingga telentang di depannya. Wajahnya turun sejajar dengan dada gemuk hybrid sapi tersebut.
”Ide bagus, kita bisa mencobanya. Terus pijat payudaramu supaya putingnya bisa segera menyembul keluar.”
Haechan mengangguk setengah lemas, ia menangkup kedua buah dadanya dan menjpitnya tepat di hadapan Mark. Untuk sesaat ia merasa seperti tersengat sensasi nikmat sewaktu Mark menggigit salah satu areola bengkaknya dan yang satu lagi tetap distimulus oleh jemari kasar Mark yang masih menjepit dan mengorek putingnya keluar. Saat Haechan merasakan lidah Mark terus-terusan menggali puting tersembunyinya, ia membantu dengan memijat lemak susunya dari bawah.
Wajah Haechan memerah ketika menyadari posisi mereka. Wajah Mark seperti terkubur di payudaranya dan membuat Haechan keras di bawah sana. Diam-diam ia sedikit menjepit kedua pipi Mark di bongkahan lemaknya itu dan menggeseknya disana. Haechan mencari kenikmatannya sendiri terutama saat merasakan stimulasi kenyotan mulut Mark di putingnya yang semakin basah.
Haechan dapat merasakan pucuk dadanya mulai berdenyut dan akan menyembul keluar, di saat itu Mark melepaskan hisapannya dan beralih pada putingnya yang lain. Haechan melenguh nikmat ketika jemari Mark menjepit dan mengurut areolanya yang bengkak agar putingnya segera menyembul.
”Nnhh! Hha... Hhngg, sensitif.. U-uhhnn! Semakin sensitif!”
Namun Mark nampak tuli, fokusnya untuk membantu Haechan mengeluarkan putingnya yang tersembunyi tidak tergoyahkan. Ia semakin giat mengulum dan mengenyot payudara Haechan saat putingnya sudah hampir keluar. Desahan Haechan makin heboh, dan memekik keras ketika akhirnya kedua putingnya menyembul dengan bebas sambil menyemprotkan sedikit cairan putih.
”Aaahh! Hhnn.. en-hhakk....”
Haechan nampak kacau dan rusak. Pandangannya kabur dan mulutnya yang terus mendesah sedikit mengeceskan air liur karena keenakan. Tak hanya itu, celana bokser pendek yang ia kenakan juga sudah mulai menggelap di bagian tengah, tetapi Mark tidak menghiraukan itu semua.
”Nah, sekarang dadamu sudah benar-benar siap! Kita bisa langsung memulai prosesi pemerahannya.”
Haechan melenguh lemah ketika Mark menarik tubuhnya untuk bangun. Selagi Haechan mempertahankan posisinya yang sedikit limbung, Mark mengambil beberapa peralatan dari lemari yang tak jauh dari sofa tempat mereka duduk tadi. Saat menghampiri Haechan lagi, ia mengarahkan hybrid itu untuk berlutut di samping meja dan menempatkan ember susu tepat di bawah abdomennya.
”Karena kau tidak pernah nyaman diperah menggunakan alat milking maupun breeding-milking brench, jadi untuk permulaan kita akan melakukannya dengan konvensional. Katakan padaku jika sakit atau kau tidak nyaman.”
Haechan hanya mengangguk, sekali lagi menuruti apapun yang akan Mark lakukan padanya.
Mark menuangkan minyak khusus di tangannya lalu duduk di sofa mengangkangi tubuh lemas Haechan dari belakang. Ia mengarahkan dada hybrid sapi itu ke dalam ember susu dan mulai memijat perlahan. Gerakannya sudah sangat ahli dan terlatih. Memijat dari pangkal hingga ke ujung, kemudian sedikit memencet di gumpalan areola Haechan yang gendut, sehingga cairan berwarna putih yang cukup pekat muncrat dari puting sang hybrid.
”Nhyyaa!!”
Sudah berkali-kali Haechan diperah oleh Mark tetapi sensasinya selalu bisa membuatnya hilang akal. Ia tidak suka diperah sejak dulu karena rasanya tidak nyaman dan sejujurnya ia tidak rela memberikan nutrisi susunya kepada orang lain selain anak-anaknya kelak, tetapi setiap kali Mark yang melakukan entah kenapa rasanya sangat enak dan bahkan memuatnya ketagihan. Ia sendiri dengan sukarela menyerahkan diri pada laki-laki itu. Semenjak dipelihara di peternakan keluarga Mark, Haechan menjadi hybrid perah yang subur dan produktif. Haechan tak keberatan menukarkan susu murni yang diperah langsung dari tubuhnya demi mendapatkan sensasi nikmat ini setiap bulan dari Mark selaku tuannya.
Ia meringis nikmat dan sudah hampir menangis, Mark berkali-kali meremas dan memijat nenen gendutnya hingga memerah selama kurang lebih 15 menit. Semakin lama susu yang keluar dari puting Haechan semakin sedikit, hingga tinggal tersisa beberapa tetes saja.
Haechan menggigit bibir bawahnya. Putingnya mulai linu tetapi susu yang ia hasilkan baru sepertiga ember.
”Tahap pertama sudah selesai, kini kita bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya.”
Belum selesai mencerna perkataan Mark, tubuh Haechan lebih dulu diangkat dan didudukan di pangkuan Mark. Wajah manis Haechan memerah dan tersenyum malu saat merasakan tangan Mark melingkar di perutnya, memeluknya dengan hangat dari belakang.
Hampir saja ia terlena dengan sentuhan Mark yang selalu membuatnya nyaman, tak lama tangan berurat Mark sudah lebih dulu menurunkan celana boksernya hingga penis kecil Haechan yang menegang kini terbebas. Ia menggigil antara kedinginan dan malu, ia telanjang bulat di pangkuan Mark sekarang. Penisnya yang mengacung sedikit becek di lubang pipisnya karena precum yang tak bisa ia tahan dari sesi sebelum ini.
”Wow, bahkan ’keran’ bawahmu juga sudah mulai mengeluarkan susu , ya?”
Haechan merengek akibat ejekan itu. Mark menyentuh penisnya dengan telunjuk dan jempol kemudian mulai mengocoknya dengan lembut. Haechan semakin gelisah dan kelojotan di pangkuan Mark.
”E-e-eehnn... Hnggg Meell~”
”Penismu sudah sangat tegang, sapi nakal. Kau memang sangat sensitif, tapi kita belum membutuhkan ini untuk sekarang..”
Haechan memekik ketika jemari Mark pindah semakin ke bawah, menyapa ke lubang analnya yang sudah sedikit longgar karena persiapannya tadi. Dengan mudah, dua jari Mark yang entah sejak kapan sudah licin dengan cairan lube memasuki lubang hangatnya.
”Sangat sempit, kau selalu membuatku kesulitan mencari letak prostatmu yang begitu dalam,” Mark sedikit mengerutkan alis saat mengorek-ngorek anal Haechan, tak lama ia menemukan sebuah daging kenyal. Tangannya yang lain mencengkeram kencang pinggang ramping Haechan agar tak beranjak dari pangkuannya ”tetapi kita perlu menemukan prostatmu untuk merangsang produksi air susunya keluar lagi.”
”H-hyya!! Ahh! L-lagi.. lebih d-dal-lam... Hhngg!!”
Mark menggeram merasakan hangatnya lubang anal Haechan memeluk jemarinya. Begitu gemas ia mendengar lenguhan manja dari hybrid cantik itu begitu pula dengan wajah manisnya yang memerah sayu. Mark memang selalu bekerja dengan profesional, namun pada akhirnya pertahanannya runtuh juga.
Ia menggigit telinga Haechan dan mengulumnya dengan gemas. Haechan makin kelabakan di atas pahanya. Saat dua jemari pemuda itu menyenggol prostatnya yang lembek, Haechan menangis keras.
”H-hhngg!! M-mell, disit-uuhh!”
Kepala Haechan mendongak dan mulutnya terbuka dengan lidah sedikit menjulur. Ini begitu nikmat, membuat kepalanya pening. Jemari Mark dengan lihai menekuk dan menggeliat di dalam, menyentuh segala sisi dinding anal Haechan dan berkali-kali menekan titik terdalamnya. Air liur Haechan mengalir keluar, benar-benar seperti hewan birahi yang siap dikawini.
Ciuman Mark turun dari telinga hingga ke leher belakangnya, lalu semakin turun ke bahu Haechan yang telanjang. Persis saat Mark menggigit bahu dan menggesek prostatnya di dalam, Haechan merasakan putingnya kembali berdenyut. Ia menangkup payudaranya sendiri dan mengarahkannya pada ember susu yang masih terisi setengah, kali ini ia memuncratkan begitu banyak susu sampai ember itu terisi penuh. Ia menangis sampai gemetar sambil terus memijat payudaranya yang masih terasa penuh, sedangkan jemari Mark masih menstimulasi prostatnya.
Cukup lama bagi Haechan untuk mengosongkan kelenjar susunya untuk yang kedua kali. Putingnya kini jadi lebih sensitif dan ia berkali-kali mencoba menjepit kedua pucuk dada itu agar susunya makin deras keluar. Haechan berusaha memenuhi ember perah itu dengan susunya, dan malah keenakan sendiri saat memerah dadanya yang nyut-nyutan. Sementara di belakang, Mark masih memijat prostatnya dengan dua jari. Haechan gemetar keenakan setiap kali susunya muncrat dari puting bengkaknya itu. Ia melakukannya sampai susunya kering dan sulit dikeluarkan lagi. Badannya lemas setelah memerah susunya sendiri selama kurang lebih lima belas menit.
Payudara Haechan sudah belepotan susunya sendiri saat ia ambruk ke pangkuan Mark. Pemuda itu pun memeluk hybrid peliharaannya tersebut dari belakang dan mendusal di pipinya yang lembut. Haechan melenguh lemas dan balas mencium rahang Mark, sesuatu yang amat sering ia lakukan di hari-hari biasa. Mark sedikit salah tingkah namun segera melanjutkan pekerjaan. Ia menyingkirkan ember susu yang sudah penuh ke sudut ruangan lalu mengambil ember baru yang masih kosong.
”Dadamu masih terasa penuh?”
Haechan mengangguk lemas. Tangannya terangkat untuk mengelus rahang Mark yang sedikit kasar oleh janggut yang baru dicukur sedangkan Mark kembali ambil posisi untuk memangkunya. Haechan makin manja mendusal di atas pangkuan Mark.
”Kita akan mengosongkannya hari ini, jangan khawatir.”
Haechan merengek untuk mencium Mark, sehingga manusia tulen itu menyanggupi. Ia mendekatkan wajahnya pada Haechan dan merasakan bibir kenyal menyentuh miliknya. Haechan menjilat bibir Mark sebelum melumat bibir pemuda tampan itu. Ketika Haechan mulai menyesap bibir Mark, si peternak itu kembali memasuki lubang Haechan dengan dua jemari dan segera mengocoknya dengan kencang.
Kini ia menyelipkan satu lagi jemari di lubang ketat Haechan. Ia menekan-nekan dan menggosok prostat Haechan dengan keras membuat hybrid itu berkali-kali berjengit dan kelepasan menggigit bibir atau lidah Mark. Saat Haechan melepaskan ciuman hingga saliva menjuntai di antara mulut panas mereka, bibir Mark sudah tampak berdarah dan sedikit terluka. Haechan tidak menyadari hal tersebut, karena ia sudah lebih dulu didera gelombang kenikmatan lagi yang bahkan kini membuat penisnya berdenyut.
Ia ingin mengocok kelaminnya yang sudah sangat tegak itu tetapi Mark menampar dan kemudian menekan tangannya di atas perut sang hybrid yang bergelambir. Haechan merengek ketika sensasi itu bahkan membuatnya makin ingin pipis.
”Kumohon... tolong, tolong biark-hhan akuu...”
”Belum waktunya, Haechan. Kita harus melakukannya secara bertahap.”
Mark menjilat bibirnya yang agak kering dan merasakan sedikit rasa besi dari noda darah yang timbul karena gigitan sang hybrid. Ia menyeringai puas. Ia semakin menekan tangan Haechan ke atas perut gembilnya itu dan mempercepat kocokan di anal Haechan.
Haechan menangis sambil menggelengkan kepala, ia merasa sangat kewalahan saat ini. Tubuhnya gemetar, dan Mark melihat putingnya kembali berdenyut meneteskan beberapa cairan putih.
”Sudah bisa diperah lagi?”
Haechan mengangguk cepat.
Dengan sigap Mark menunggingkan tubuh Haechan di atas meja lalu menahan pinggulnya dengan sebelah tangan, sedangkan sebelah lagi menahan bahu Haechan agar sedikit tegak. Ia berucap dengan suara beratnya yang tegas.
”Perah payudaramu sendiri. Penuhi ember itu dengan susu murnimu yang lezat.”
Haechan melenguh dan berupaya keras untuk mengurut susunya agar keluar. Mark menahan pinggul Haechan agar tidak ambruk sambil terus menyiksa prostatnya di dalam. Gerakan jemarinya semakin kasar dan cepat. Kaki Haechan sampai gemetar dan berkali-kali menghimpit walau gagal karena Mark akan menahan tungkai hybrid itu untuk terus menungging di hadapannya selama pemerahan.
Pada awalnya susu Haechan mengucur dengan deras dari putingnya yang membengkak dan tegang, tetapi lama-lama ‘keran’ susunya semakin mengecil, lalu tinggal sisa beberapa tetes. Ember kedua baru terisi setengah.
Ckleng!
Haechan terkesiap saat Mark menarik choker lonceng di lehernya dan menyuruhnya untuk semakin menungging, membuat Haechan harus menahan berat tubuhnya sendiri di atas meja dengan ember tepat berada di bawah payudaranya yang menggantung. Di belakang, Mark mulai mendesis penuh nafsu. Melihat tubuh montok Haechan yang sudah basah kuyup mengucurkan susu berliter-liter membuatnya konak juga.
Ia meremas kejantanannya sendiri sambil terus mengelus anal Haechan dan mengocok prostatnya di dalam. Haechan melolong keenakan, sesekali memerah payudaranya yang terus meneteskan susu walau sedikit-sedikit. Prostatnya mulai linu, dan analnya gatal ingin dimasuki sesuatu yang lebih memuaskan.
“Mel~ Mel….”
Mark mendesis dan mengeluarkan jemarinya untuk menampari pipi pantat Haechan bergantian, kiri dan kanan sama kencangnya. Haechan hanya bisa mendesah manja.
“Ada apa?”
“Susunya sudah tidak keluar lagi. Ayo kita lanjut ke tahap selanjutnya saja.. aku sudah tidak sabar~”
Mark berdecih melihat Haechan yang menggoyangkan pantat dengan tak tahu malu di hadapannya, lututnya berada di ujung meja dan tangannya memegang erat sudut meja seberang sehingga ia menungging begitu saja di atas meja perah yang berkaki rendah itu. Pemuda itu tertawa, Haechan adalah hybridnya yang sangat nakal dan genit.
Setelah mengusap kasar anal gemuk Haechan dan menamparnya beberapa kali sampai Haechan mendesah keenakan, Mark mengambil empat borgol yang telah ia siapkan. Ia mengikatkan kaki kanan Haechan di kaki meja kanan dan yang kiri di sisi satunya. Begitu juga dengan pergelangan tangan Haechan yang dikaitkan ke masing-masing sisi kaki meja. Kini Haechan tak bisa kemana-mana lagi. Tak hanya itu, ia juga memasang sebuah tiang rangka kecil yang dapat menyangga bahu dan abdomen bawah Haechan kemudian memasangnya di atas meja. Kabar buruknya, tiang itu amat menekan perut Haechan di bagian bawah tepat di bagian kantung kemihnya.
“Hhngg? Lepaskan ini… Tidak nyaman, tidak suka.”
“Pakai ini atau tidak kumasuki sama sekali, Haechan. Kau yang menentukan.”
Mendengar hal itu Haechan hanya merengut sedih dan meringis sedikit akibat tiang pancang itu menekan perutnya yang gendut dan membuatnya semakin ingin pipis. Ia merasakan penisnya memuncratkan beberapa tetes susu tetapi ia harap Mark tidak melihatnya.
Di belakang, Mark telah melepaskan celana beserta dalamannya. Kini penis tegangnya terbebas dari sangkar, sedari tadi ia merasa sesak dan gerah akibat memandangi tubuh molek Haechan yang gendut dan montok. Ia kembali menghujam anal becek Haechan dengan tiga jarinya langsung sehingga Haechan memekik kaget.
Mark kembali mengobrak-abrik lubang sempit Haechan dengan tempo sedang, sementara tangannya yang lain sibuk menuangkan lubrikan ke penis mengacungnya lalu mengocoknya pelan sebelum menggesekan kejantanan besar itu di pantat Haechan yang bulat dan lembut.
“Mmnnhh!! Ayo masukan sekarang Mel~!”
Mark terkekeh “sabar, sapi cantik.”
Haechan sedikit meringis ketika tiang itu semakin membuat perutnya sakit, tetapi sensasi kontol berurat Mark yang menggesek anal mengkerutnya bikin Haechan terlanjur kepayang. Ia ikut menggerakan pantatnya, berharap menemukan ujung penis Mark dan dapat menjepit kepala jamur itu untuk segera memasukinya.
Kini jemari Mark telah keluar dari lubang surgawi Haechan dan digantikan dengan penis besar beruratnya yang tebal. Haechan melolong keenakan begitu Mark memasukan keseluruhannya dalam sekali hentak. Kontol Mark begitu memenuhi anal Haechan, bahkan panjangnya sampai melewati titik manis Haechan yang sudah benyek dari tadi.
“H-hyyngg… Dalam, dalam sekal-iihhhnngg!!”
Haechan meringis, kepala Mark sedikit menusuk pangkal analnya tetapi bukan Haechan namanya kalau ia tidak menyukai sensasi gila ini. Saat ia membuka matanya yang berkaca-kaca, bola matanya bahkan sudah bergulir ke belakang. Dan Mark, merasakan kenikmatan yang sama. Tangannya yang sudah tak perlu menyangga pinggul ramping Haechan karena sudah menggunakan tiang pancang, kini meremas pantat gemuk itu sampai terlihat memerah akan bekas kuku Mark yang menusuk di kulit lembut sang hybrid. Itu sakit, jujur saja. Tapi sekali lagi, Haechan itu memang hybrid yang sedikit gila sebab ia menyukai seluruh rasa sakit yang diberikan Mark padanya.
Mark mulai bergerak, awalnya pelan namun lama-lama temponya naik. Pantat Haechan yang gemuk dan bergelambir berkali-kali disodok oleh hujaman Mark yang keras dan tegas. Suara tamparan kulit yang becek memenuhi ruang pemerahan hybrid, dan hal itu hanya membuat kepala Haechan semakin terasa kosong dan hanya terisi oleh suara-suara cabul saja. Ia mendesah makin tak tau malu, dan Mark makin terpancing akan ulahnya. Lonceng di lehernya bahkan hingga bergoyang keras menimbulkan bunyi ribut.
“Aah~ ahh~ ah~ a-ahh~ Ahnngg!! En-hhakk!! Enyhaakk!! Lebih keras, uhgg! Lebih dalam Markk.”
Mark bergerak semakin liar dan menggila akan perasaan hangat dan licin yang melingkupi penisnya. Rasanya seperti urat yang bermunculan di kontol gigantiknya dipijat oleh dinding lubang Haechan. Anal Haechan terus menjepit kejantanannya, membuat nikmat dari pusat tubuhnya itu memancing Mark untuk mengejar puncaknya dnegan semakin gila.
“Fuck, sempit sekali pantatmu. Sialan, ngghh!! Enak sekali, ahh. Seharusnya aku hamili saja kau supaya kelenjar susumu memproduksi semakin banyak untuk peternakan kami dan anak-anakmu. Fuck, fuck!!”
Mark mulai merasa gerah, gerakan liarnya membuat tubuhnya mulai berkeringat. Ditambah siang hari ini pendingin ruangan di ruangan pemerahan hybrid tidak bekerja begitu baik. Tubuh mereka sudah penuh akan keringat dan beberapa cairan tubuh yang sempat keluar sejak tadi. Jadi Mark membuka seluruh kancing kemeja flanel khas peternakan tanpa mencopotnya, hanya membiarkannya terbuka di bagian depan memamerkan perut kotak-kotaknya yang ramping dan dadanya yang berbulu halus.
Haechan mulai merengek, ia merasakan tubuhnya mulai bereaksi lagi. Ia menoleh ke belakang dan melihat penampilan Mark… tanpa sadar ia langsung pipis.
“Ahnngg!!”
Mark berdecak karena penis Haechan yang menggantung dan berayun tak tau malu setiap kali anal hybrid itu disodok, mulai mengucurkan cairan being kemana-mana. Ia menggenggam kejantanan mungil itu dan menahan lubang kencingnya. Haechan menangis sejadi-jadinya.
“Tolong lepas-hh! Ahh… A-a-aahh! Hngg, aku m-mau k-kel-luar-hhngg. Mel~”
Mark memijat penisnya, tetapi masih menahan lubang kencingnya dengan erat. Sebelah tangan Mark yang lain menjambak rambut ikal keemasan Haechan agar anak itu mendongak, beberapa kali menarik tanduk sapi Haechan membuat isak Haechan semakin keras karena kesakitan.
Walau begitu, Mark merasakan anal Haechan berkali-kali memijat pangkal penisnya. Mark tau hybrid itu menyukai ini.
“Tidak ada cum sebelum ember ketiga ini terisi,” Mark berkata dengan nada dingin, tepat di belakang telinga Haechan dengan abdomennya yang mengungkung punggung melengkung Haechan “keluarkan susumu dan kau baru akan mendapatkan hadiah.”
Haechan meringis dan merengek lemah. Ia mencengkeram ujung meja tanpa bisa bergerak banyak. Hybrid itu semakin ingin menangis saat merasakan Mark melepas eratan di tubuhnya untuk mengambil sebuah alat. Ia memejamkan mata saat Mark memasangkan alat itu di genitalnya.
“A-aku tidak pernah suka memakai alat-alat ini…”
“Sayang sekali, kita tetap harus menggunakannya sayang.”
Kini gembok penis itu telah terpasang di kemaluannya. Penisnya yang kecil dan gendut itu bengkak memerah dan mengedut-ngedut di balik besi dingin yang menahannya untuk klimaks. Haechan merengek merasakan kemihnya yang ditekan oleh rangka tiang penyangga kini semakin tersiksa karena tidak bisa muncrat seenaknya.
Mark kembali merojok prostat Haechan dengan telak, membuat lonceng yang menggantung di choker hybrid itu berbunyi pada tiap hentak pinggulnya. Haechan hanya mampu mendesah tanpa bisa menutup mulut, sehingga liur menetes dengan tak tau malu dari bibir cantiknya. Desahannya semakin mengeras ketika kedua tangan Mark menangkup payudara gendutnya yang menggantung dan bergoyang acap kali tubuhnya dihentak penis sang peternak.
“Sepertinya susumu sudah bisa diperah lagi,” Mark menyeringai “bersiaplah.”
Haechan memekik ketika Mark memijat payudaranya, dari pangkal hingga ke ujung. Begitu sampai di ujung, jemarinya mencubit puting gemuk Haechan yang mengacung dan menariknya keras. Sekali lagi, susu mengucur dari pentil Haechan dan mengisi ember kosong yang telah disediakan di bawah tubuh Haechan. Mark melakukannya berkali-kali hingga puting Haechan semakin membengkak dan memerah.
“Euhngg… Ahh! Hnngg Markk~”
Pelan-pelan, Mark juga masih memompa penisnya di dalam anal Haechan untuk menggoda prostat sang hybrid dengan kepala penisnya. Hal itu membuat dada Haechan terus menerus mengucurkan susu, hingga kurang lebih 20 menit mereka melakukan hal itu. Terkadang Mark juga akan memelintir dan menggaruk pentil Haechan supaya susu yang keluar lebih deras lagi.
Tepat saat Mark menghujam penisnya kuat-kuat untuk yang terakhir kali dan memenuhi lubang sang hybrid dengan spermanya, susu murni yang muncrat dari dada montok Haechan tersisa hanya beberapa tetes. Haechan benar-benar lemas dan baal di seluru tubuhnya. Lubang pantatnya perih, pentilnya linu, dan penisnya yang terasa paling kebas. Tak terhitung sudah berapa kali Haechan ejakulasi kering saat Mark menyetubuhinya dengan keras sambil memerah susunya.
“Kerja bagus, Haechan. Haahh, embernya terisi penuh. Huhh.”
Mark menjauhkan diri dari tubuh sang hybrid kemudian mengusap keringatnya yang jatuh di dahi, masih mengatur nafas dari kegiatan panas yang ia lakukan barusan pada hybrid ternaknya. Ia tersenyum puas saat mencabut penis dari lubang kenikmatan Haechan. Begitu banyak benihnya yang mengisi anal Haechan, bahkan sampai ada yang luber keluar.
“Aku akan menepati janji, kau mendapatkan hadiahmu Haechan.”
Pertama-tama Mark menyingkirkan ember susu yang sudah terisi penuh dan menaruhnya di tempat yang sama dengan dua ember sebelumnya. Kemudian ia kembali untuk melepaskan seluruh borgol dan tiang rangka yang menyangga tubuh montok sang hybrid, membuat Haechan langsung terjatuh dan terkapar lemas di atas meja pemerahan itu. Selanjutnya, Mark melepakan gembok penis Haechan hingga kemaluan gemuk yang sedikit mengkerut itu berkedut mengeluarkan cum sedikit-sedikit, sudah tidak bisa muncrat banyak karena terlalu lama dipaksa ejakulasi kering.
Tubuh Haechan berkali-kali berjingkat saat Mark menampari penis gemuknya. Ia tidak pernah suka setiap Mark melakukan ini padanya, tetapi ia sudah terlampau lemas untuk melawan dan menolak. Ia juga tidak mempunyai niat untuk melarang Mark melakukan apapun pada tubhnya sekalipun itu adalah hal yang tidak ia sukai.
Saat Mark masih asik menyiksa tubuhnya, suara dering telepon terdengar.
“Aku harus menjawab telponnya dulu,” Mark segera pergi menjauh dari tubuh terkapar sang hybrid sementara Haechan sudah tak peduli apapun, otaknya masih rusak.
Beberapa saat ditinggal Mark yang tengah berbincang dengan seseorang di telepon membuat Haechan akhirnya dapat memulihkan kondisi dan terduduk di atas meja. Ia melihat ke sudut ruangan, ada tiga ember peternakan yang telah terisi penuh oleh susunya. Ia tersenyum bangga dengan wajah sayu, ia masih setengah lemas.
Tak lama Mark kembali. Haechan tersenyum manis pada laki-laki itu dan memejamkan mata saat merasakan tangan Mark mengusap kepalanya dengan lembut.
“Kerja bagus, sayang. Kau melakukannya dengan baik. Apakah dadamu masih terasa penuh?”
Haechan menunduk untuk melihat kondisi payudaranya. Sudah memerah, terdapat bekas gigitan dimana-mana, dan membengkak di pentilnya. Tetapi ia memang merasa masih penuh, juga masih tak nyaman. Beberapa tetes juga masih keluar dari putingnya yang mengedut.
Malu-malu Haechan mengangguk, dan Mark tampak berpikir sejenak.
“Sayang sekali, aku harus pergi untuk mengecek kerusakan baru yang disebabkan oleh sekawanan hybrid serigala liar di kandang babi. Aku pergi tidak lama, tapi kita tetap harus melakukan sesuatu.”
Haechan hanya mengesah lemah dan memandangi Mark yang kini mengumpulkan kembali borgol yang sempat dilepas dari tubuhnya.
Manik Haechan bergetar panik, ia beringsut dan memandang Mark dari bawa.
“...A..pa… Mau apa lagi..?”
“Kita tidak bisa membiarkan susumu terbuang sia-sia. Lihat, bahkan masih ada yang menetes keluar.”
Haechan menyilangkan tangan di depan dadanya dan beringsut menjauh. Namun Mark lebih kuat menarik tangannya dengan kasar dan memborgol masing-masingnya, kemudian ia merebahkan Haechan di atas meja perah hanya untuk mengikatnya kembali ke masing-masing sisi kaki meja.
“Tidak..! Sudah cukup, eungh, dadaku masih sakit! Putingnya.. putingnya sudah kebas!”
“Belum, manis. Putingmu masih belum selesai menyelesaikan pekerjaannya. Masih ada susu yang harus dikuras. Sekarang, jadi anak baik dan buka kakimu.”
Haechan sedikit meronta dengan lemas saat Mark dengan mudah menarik kakinya dan mengikatnya dengan borgol lagi, sama seperti kedua tangannya, di masing-masing kaki meja. Ia mengambil sepasang alat, terlihat seperti alat penghisap, yang memiliki selang di ujungnya untuk terhubung dengan sebuah tabung besar. Haechan familiar akan benda itu.
“Tidak! Tidak mau! Tidak mau pakai alat milking itu Mark~!”
“Sayang sekali, Haechan. Kita tetap harus melakukannya. Tidak ada pilihan lain.”
Mark memakaikan alat itu pada kedua payudara Haechan yang montok, membuat putingnya terasa dikokop dan kemudian, saat Mark menyalakan tombol di tabung khusus itu, dada Haechan serasa dipijat dan pentilnya disedot kuat. Haechan memekik ribut.
“Ahnggg! Hngg sak-k-itt. Melk, lepaskan~”
“Tidak sayang, tidak sampai aku kembali dan tabung ini terisi penuh,” Mark tersenyum sambil mengusap tabung yang setinggi pinggang itu membuat Haechan bergidik ngeri di tengah rasa nikmat yang menderu payudara gemuknya.
Haechan memang selalu menolak memakai alat ketika dilaktasi, sebenarnya bukan karena benar-benar sakit, tapi ia tidak suka diperah dengan cara yang bukan konvensional dan menginginkan Mark yang hanya menyentuh tubuhnya. Ia bilang itu sakit, tetapi Mark lebih paham dari siapapun kalau sebenarnya Haechan juga menikmati ini, walau tidak senikmat saat ia yang melakukannya. Tapi tidak ada jalan lagi, ia punya urusan penting yang mengharuskannya pergi sebentar meninggalkan hybrid kesayangannya yang masih harus diperah.
“Karena aku baik dan sebenarnya, aku sangat tidak tega meninggalkanmu begini Haechan... maka aku akan memberikanmu bantuan.”
Haechan tidak dapat fokus lagi untuk mendengar omongan Mark dan hanya dapat mendesah ribut setiap kali alat pumping itu menyedot putingnya dengan kuat hingga susu mengucur lagi dan mengalir ke dalam selang untuk mengisi tabung di samping meja pemerahannya. Ia tidak tau apa yang Mark lakukan sampai merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh anal kerutnya yang masih becek dan belepotan oleh sperma Mark.
Haechan mengangkat kepala dan melihat Mark sedang memasang sebuah alat, seperti mesin dildo yang dapat bergerak seperti pompa, tepat di tengah kakinya yang diborgol untuk mengangkang. Haechan panik dan berusaha menjauh, meski sia-sia karena kaki dan tangannya terikat.
“Tidak sayang, jangan takut. Ah, mungkin aku harus menambah ikatannya.”
Haechan makin histeris saat Mark mengambil sebuah tali pipih yang terbuat dari kulit dan memasangnya di perut Haechan yang diikat ke atas meja. Haechan semakin tidak bisa bergerak banyak, dan di saat itu Mark melumuri lube kental pada dildo di mesin pompa itu dan di anal Haechan sebelum memasukan penis sintetis tersebut dalam sekali hentak.
“Melk! Mel~ Kau jahat!” Haechan menangis, ia tidak mau dimasuki oleh apapun kecuali si lelaki leo tersebut. Ia menangis keras dan Mark berusaha menulikan telinganya “aku tidak mau! Hiks, lepaskan! Keluarkan penis karet inii!”
Tetapi Haechan terdiam dan kembali mendesah ribut saat Mark menyalakan mesinnya dan… prostat Haechan kembali disetubuhi, kali ini dengan penis imitasi dan mesin pompa dildo yang terus terusan menyemprotkan cairan kental menyerupai sperma dalam interval waktu berkala. Haechan kelimpungan menerima semua cairan itu di lubang hangatnya yang semakin lama makin bengkak dan becek. Otaknya yang terus dipenuhi oleh rasa ingin dihamili tampak semakin terbuai pada kenikmatan yang diberikan oleh mesin dildo itu. Pun payudaranya yang terus disedot oleh alat pumping otomatis itu membuatnya gelinjangan di atas meja, Mark tau alat-alat ini akan memuaskan tubuh kepanasan Haechan yang sedang dalam masa laktasi.
“See you in 30 minutes, Haechan. Maaf aku harus pergi sebentar.”
Haechan bahkan sudah tidak menyadari ciuman lembut yang diberikan Mark pada kening, pipi dan bibirnya sesaat sebelum laki-laki itu keluar kamar. Ia sudah lebih dulu tenggelam dalam kenikmatan yang diberikan oleh alat-alat di tubuhnya ini hingga membuatnya terus menerus memproduksi dan mengucurkan air susu hingga memenuhi tabung laktasi itu sampai 2 jam kedepan karena Mark yang tidak menepati janji untuk kembali dalam waktu 30 menit. Urusannya diperpanjang dan ia baru sempat mengunjungi Haechan lagi 2 jam kemudian.
Saat Mark kembali, Haechan bahkan sudah pingsan dan terus-terusan menggelinjang nikmat dalam tidurnya oleh seluruh rangsangan pada tubuhnya. Susunya tak dapat terbendung terus mengucur dari payudara gendut Haechan yang berjam-jam dipijat alat pumping hingga tabung itu terisi penuh oleh susu murni sang hybrid, yang jelas saja akan membawa keuntungan besar bagi peternakan keluarga Mark karena harga fantastisnya jika dijual ke pasaran.
Benar-benar hybrid cantik kebanggaan Mark! Dapat dipastikan Haechan akan mendapatkan hadiahnya saat ia bangun di pagi hari esok atas ganjaran seluruh nikmat dan keuntungan besar yang ia bawa untuk bisnis peternakannya!
