Work Text:
Musim semi di kota selalu terasa seperti musik yang belum selesai.
Atau dalam halusinasinya saja. Sesuatu yang bahkan tidak pernah dia benar-benar pahami; realitas—bayangan dalam kepala, suara-suara yang tak pernah selesai. Tapi momen dia menyentuh laki-laki itu; Blanca percaya bahwa dia selalu nyata.
Udara yang dia hirup seharusnya menjadi sesuatu yang cukup segar; andaikata dia membuka jendela hotel dengan cepat dan kembali pada rutinitas di mana dia biasa mengenakan ‘topeng’ terhadap aktingnya yang luar biasa. Tapi pria itu, pria yang mendatanginya di ruang hunian hotel setiap pertemuan khusus tersebut—selalu datang dalam kondisi siap.
Pria itu dulunya hanya seseorang yang berlalu lalang di pertunjukan. Menunjukkan ketertarikan, meski tak ada harapan banyak. Membawa pertemuan yang lebih seperti ‘kebetulan’ itu menjadi kedekatan yang menarik Frederick—dan untungnya; setelah seluruh waktu yang mereka habiskan, pria yang datang kepadanya terus menerus itu menjadi bagian dari keseharian yang hampir tidak pernah terhitung berapa banyak kali kontaknya.
Blanca mengenakan sebuah kalung, menoleh; di saat Frederick memastikan bahwa tubuhnya sendiri telah telanjang dan pintu hotel telah tertutup rapat. Dia mendekat, seperti bagian yang tak pernah terasa hilang. Dan ketika sadar, jarak yang tak lagi membekas membawa sebuah ciuman singkat—pengendalian. Frederick yang menerima dia apa adanya.
“Ah,”
Tatapan itu seperti sesuatu yang—menggugah dalam banyak arti.
Mereka bercumbu, sejenak waktu yang memupuskan banyak hal di dalam kepala. Dalam bayangan itu, Blanca ingin Frederick menarik kalung di lehernya. Mencekiknya ketika mereka bersenggama, menungganginya seperti dia bergantung hidup pada penisnya yang menghancurkan lubangnya. Hanya dengan kecupan itu, sesuatu terus memantik—rasa yang kemudian membuat Frederick terdorong di atas kasur; duduk, masih dengan tangan mengitari pinggang Blanca.
“Ah, apa itu sakit?” Blanca bertanya ketika dia merobek sedikit bagian dari pigmen mulut Frederick—dengan giginya, membuat mulut laki-laki itu dipenuhi darah.
Frederick membalas dengan sebuah gelengan kepala. Dia tidak pernah merasa hal itu sakit. Dengan pakaian Blanca yang terbuka setengah ketika Frederick tak mengenakan apa-apa, angin sore menembus kulitnya—dan Frederick bisa merasakan penis tegang Blanca, beberapa saat setelahnya; bergesek di perutnya.
Ah, Frederick tidak pernah mengenal istilah lain di luar ‘vanilla’ ketika dia belum mengenal Blanca. Tapi intensitas itu; permainan apa pun yang mereka lakukan—meski dengan pisau dan dan kekerasan, dia menyukainya. Dia bisa merasakan tangan Blanca yang halus, menyusuri perut dan membiarkan tubuhnya patuh—masih tetap dalam posisi berpangku di atas Blanca; pinggul yang bergoyang.
Helaan napas berat. Suaranya seperti sebuah musik yang selalu membuat Frederick ingat, dia yang mendamba, dia yang akan mencinta. Rasakan itu. Sensasi ketika dia bisa menyentuh langsung sesuatu yang berdiri—memperhatikan perempuan itu dalam ratapan dalam, libido vulgar.
Mereka di sini untuk bercinta. Hanya karena Blanca berkata sesuatu semacam, “Aku ingin menghabiskan malam bersama.” (Dan dia tidak benar-benar ingat.)
Tatapan Blanca, menenggelamkan. Redup yang membuat punggung Frederick melengkung, tapi dia suka tangan perempuan yang menggelitik ruas punggung. Sensasi yang tertinggal dalam acap rasa yang tidak bisa dijabarkan dalam balok lagu. Asing, mendebarkan—namun menyenangkan di saat yang sama.
Frederick tidak bisa menahannya. Tangan Blanca di pergelangan tangan, dan meskipun dia memiliki kalung yang mengitari leher—Blanca akan selalu berakhir dominan. Kendati pula terkadang dia membiarkan Frederick mencekik, Blanca akan selalu menjadi pemimpin dari permainan. Lidah terjulur, aroma zat besi dari darah yang bercampur—itu hampir membuatnya mabuk dan ingin muntah, tapi gerakan tangan Blanca kepalang membuat kepalanya kosong.
Dia sudah terbiasa dengan cara Blanca menaruh makna pada pigmen eksistensinya. Dia tahu, bagi Blanca, setiap objek adalah semacam jembatan—cara untuk memastikan bahwa pikirannya belum sepenuhnya meninggalkan dunia. Tapi kalau memang perlu diikat, Frederick bilang dia sanggup—karena Blanca yang akan mengatur ritme tersebut, sebab Blanca yang akan membuat semuanya tergugah di antara mereka itu.
Hanya suara jam dinding dan gesekan lembut tubuh mereka yang terdengar. Blanca mengikat tali di lehernya sendiri—dalam makna harfiah. Frederick memandang Blanca yang menegakkan punggungnya, wajahnya tenang tapi tahu kapan dia akan menerkam. Frederick tahu—dia seperti hewan peliharaan yang sadar kalau dia disayangi meski dia tidak bisa berbicara.
Punggung jatuh di atas kasur; kaki Frederick memerangkap di pinggang perempuan itu. Degup jantung tidak lagi terasa teratur, setiap deru napas menempel di kepala seperti sebuah earworm lagu. Tidak perlu ada kebiasaan yang benar-benar harus mereka pahami. Hanya Frederick, menerima—merengkuh, dalam ketidakteraturan, perasaan yang terlalu dalam—dan semua pecah, dalam satu kali dorongan.
“Hngh!”
Sentuhan itu tidak pernah terasa ringan. Frederick tidak bertanya, tidak pernah merasa perlu menolak apa-apa. Ketika penetrasi dimulai, di dalam kepalanya terbentuk pola samar tak beraturan. Besar, terlalu besar—sesuatu yang terkadang membuat Frederick takjub; mengapa dia bisa menerimanya dengan baik selama mereka bercinta.
Kepala Frederick terdongak, perut terasa begitu penuh. Esok pagi, dia pasti akan menemukan tubuh telanjang Blanca di sisinya. Tapi malam hari bukan berarti penuh dengan ketenangan, karena mungkin perempuan itu akan menidurinya semalaman suntuk. Meskipun tubuhnya terlentang, kedua tangannya ditarik kencang—ketegangan yang terasa jelas dari bagaimana dia melihat wajah Blanca yang puas.
“Ukh—ahh!”
Frederick ingin keluar; tetapi bukan cairan itu yang menyeruak—lebih menyerupai air seni, tapi hal itu memalukan jika dia sampai terjadi.
Wajahnya pucat, dan setiap dorongan Blanca membuat seluruh pandangan mata Frederick memutih. Di sanalah, tanpa mereka sadari, dinamika yang terus tumbuh menemukan tempat—kekasaran yang rapuh; Frederick yang hanya ingin memastikan bahwa ada seseorang yang akan tetap di sana, bahkan ketika pikirannya terpecah menjadi ribuan semesta.
Frederick menutup mulut. Dia hampir tidak sanggup. Di sisi lain, Blanca tidak pernah benar-benar menyadari kapan kebiasaan itu berubah menjadi kebutuhan. Dan Frederick, yang selama ini mengira dirinya hanya sebagai pengagum—jatuh terlalu dalam, tepat di mana mereka merasakan neraka ini bersama.
“Blanca—ohh!”
Blanca tidak pernah menghentikan gerakan yang tergesa. Terkadang cinta tumbuh bukan dari kehangatan, tapi dari keteraturan. Dan di dalam tempat yang semestinya sunyi ini, keteraturan berarti keheningan yang dijaga bersama-sama. Bagaimana dia akan menerima. Bagaimana Frederick akan merasakan setiap himpitan yang selaras dengan napas mereka yang terus jatuh beradu. Tubuh gemetar, air yang hampir keluar—hanya sebagian menetes, masih mampu ditahan (dan sebentar lagi tidak akan.)
Frederick mulai menyadari sesuatu: setiap kali dia mencoba mendorong, Blanca tertanam semakin dalam. Dan dari hal itulah, dia kalut dalam kenikmatan yang terbalut dalam kabut. Dia bisa mendengar. Setiap suara. Sentuhan yang tak berkesudahan. Tangan di lehernya; gerakan pinggul yang brutal—penisnya yang masif, menginvasinya seperti vaginanya itu adalah milik.
Blanca, yang biasanya tenggelam dalam pikirannya sendiri, akan menatapnya seolah pria itu adalah jangkar. Jangkar yang membuatnya waras; atau dalam istilah lain jauh lebih kompleks dari apa yang dia pikir. Cinta, apa pun—kepala Frederick penuh. Dia tidak bisa melihat. Tidak dengan Blanca yang terus menekan garis nikmatnya, lalu menjerembabkannya dalam libido yang tak lagi pernah mampu dibendung.
“Frederick,” katanya halus, “Lihat aku.”
Perut terasa penuh. Sesuatu mengalir deras. Kaki tegang, ujung mata berair—perempuan yang wajahnya memerah, tapi dia sanggup menjadi poros dari permainan. Perintah sederhana. Tapi di detik itu, udara di antara mereka menjadi lebih padat, seolah waktu berhenti menunggu responsnya.
Blanca menatap—mengembuskan napas perlahan, dan senyum samar itu muncul di ujung bibirnya. “Kau tahu,” katanya pelan, “Aku suka kalau kau mencengkramku seperti itu. Aku bisa keluar—sebanyak apa pun yang kau butuh.”
Frederick tidak menjawab. Dia hanya menarik napas, tidak mencoba berdiri, kaki masih di pinggang sang perempuan. Separuh kewarasannya sudah lari entah ke mana. Dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan—antara rasa memiliki dan kasih yang terlalu dalam.
Dia tahu Blanca tidak sedang berakting. Ini bukan permainan peran. Ini kebutuhan yang aneh dan tulus, lahir dari ketakutan kehilangan diri. Blanca pulang dari panggung kecil tempat dia tampil dengan mengenakan pita hitam di lehernya. Pita yang kini berpindah mengikat tangan Frederick, membuatnya tidak bisa melakukan apa pun ketika Blanca memaksanya mengangkang. Tubuh dibalik, setengah menungging—dan Frederick bisa merasakan apa pun masuk dalam proses persenggamaan itu. Sekalipun dia sudah merasa lemas, malam ini pun masih akan terasa sangat panjang.
Frederick merintih, dan sesuatu di dalam dirinya bergetar. Detik itu, dunia terasa seperti berubah bentuk. Blanca, pujaan—semua, dalam kepala; distorsi yang terlalu agung. Pecahan tak beraturan.
Blanca menarik napas. Setelah itu, dia memberi jeda untuk melihat bagaimana Frederick yang penuh memuntahkan kembali cairan yang telah dia keluarkan di dalam laki-laki itu, ketika menarik penisnya sejenak. Kembali membuat perutnya kosong—dan banyak mani yang mengalir, membasahi kasur. Napas terengah, dan itu yang membuat pria dengan rambut perak itu merasakan ada hal yang hampa. Blanca, memegang penisnya—menggesekkan kembali kemaluan mereka, belum sepenuhnya kembali memasukkan. Tangan Blanca menggaris kembali di dada Frederick dari arah belakang, kuku yang menancap di beberapa titik—Frederick berjengit, mungkin—hanya mungkin, setelah ini darah akan kembali keluar dari tubuhnya yang letih.
“UGH!”
Frederick terkesiap, Blanca berada di antara bokongnya ketika dia menungging. Mengisap apa yang tersisa, dengan pandangan memabukkan yang membuat Frederick reflek menarik tali yang menyatu pada kalung leher Blanca. Tapi itu tidak segera membuat Blanca pergi; berkebalikannya, dia membuat Frederick mengangkang lebih lebar lagi.
Ah. Laki-laki itu; dengan vagina yang terbuka lebar dan mengeluarkan cairan—dihisap dalam oleh Blanca. Frederick kembali merasakan ketegangan yang tak putus; napas yang berantakan—setiap hal yang perempuan itu sentuh terlalu jauh dengan jemari, seperti Blanca tidak ingin Frederick menyembunyikan apa pun; setiap lapisan dirinya ditampilkan seperti puisi yang dia baca tanpa filter.
Frederick tidak sanggup menutup mulutnya; setiap sensasi yang keluar—terasa jauh lebih pekat dan berbahaya dari apa pun yang berada di atas panggung. Blanca memutar tubuhnya, mereka menghadap; mengarahkan tangan Frederick di sisi wajahnya, seperti izin jika dia butuh sesuatu untuk berpegangan, Frederick bisa menarik rambutnya dan menenggelamkan kepala perempuan itu lebih jauh untuk berada di sana. Tapi Frederick ingin menolak—tetap terkendali, tetap waras, tapi kemudian—dalam helaan napas yang tidak lagi bisa teratur, dia menarik perempuan itu.
“Hahh …—”
Blanca; perempuan yang sempurna. Atau setidaknya, bagi Frederick. Tidak semata bersinar di atas panggung. Blanca, segala sesuatu yang dia miliki. Blanca, yang menghadirkan visual penuh ketegangan rapuh yang tak pernah dia pahami. Blanca, Blanca—
Frederick memohon perempuan itu mendekat. Dan Frederick mencium bibirnya. Blanca menarik tubuhnya. Satu kali tunggangan lain, mereka duduk dalam satu arah yang sama—Blanca di belakang, penetrasi dari bawah. Frederick yang bertumpu tangan pada kedua sisi paha Blanca, menaikturunkan tubuh seperti esok hari tidak pernah ada.
Wajah Blanca mendekat; sampai pada sisi bahunya. Dia mengulurkan tangan, menyentuh dada pria itu, merasakan getarannya di antara jarinya. Di puting dadanya yang tegang, di klitorisnya yang keras—sentuhan tangan yang memainkan, tidak berhenti untuk membuat Frederick mendapatkan ketegangan.
Blanca tidak mundur—satu detik pun. Justru sedikit memiringkan kepala, seperti seseorang yang menikmati sentuhan bukan karena sensualitas, tapi karena makna. “Kau suka?” tanyanya.
“Aku—”
Keluar. Lebih banyak. Lebih padat—sejak malam mereka memulai permainan itu, setiap kali Blanca merasa pikirannya mulai menjauh—ketika hal-hal tak kasat mata mulai memanggil namanya, atau suaranya sendiri terasa asing—dia akan mendominasi di dekat Frederick. Merengkuhnya mungkin. Meniduri, menyiksa—apa pun. Meski kadang bahkan tak berkata apa-apa, hanya memejamkan mata sambil menggenggam Frederick, memastikan dirinya menempel pada sesuatu yang nyata.
Dan Frederick belajar mengenali pola itu.
Kebiasaan. Sentuhan. Rasa nikmat yang mengakhiri kariernya untuk menjadi seseorang yang selalu terbatas dalam kata ‘lembut.’ Dan dia tidak menanyakan alasan. Dia hanya akan menaruh tangannya di kepala Blanca, dengan lembut, mengelusnya—peliharaan, padahal Frederick yang selalu patuh.
Dia cinta perempuan itu.
Napasnya yang terlalu hangat. Sentuhannya—apa pun yang bisa Frederick hirup dari aroma tubuh perempuan itu. Segalanya.
Sebuah ritual kecil antara pemilik dan makhluk yang mempercayakan dirinya, bukan karena rendah diri, tapi karena percaya bahwa cinta bisa hadir lewat ketaatan sukarela. Detik yang terasa jatuh. Pinggul yang bergerak tidak berhenti—Blanca lihat punggung Frederick yang berpeluh; dan dia rasakan lagi sensasi Frederick yang menjepitnya begitu kuat.
Aliran itu; dia tidak tahu sebanyak apa lagi yang mereka butuhkan. Tapi itu tidak pernah lagi terasa penting. Selagi dia bisa menjadi bagian dari perempuan itu; selagi dia bisa—
Blanca menggigit leher Frederick. Dia akan ciptakan darah di sana. Jika di sini ada pisau, dia akan gunakan untuk mencungkil sedikit kulitnya lagi. Atau pecut—sesuatu yang akan dia gunakan untuk menyakiti Frederick, membuat tanda kemerahan yang tidak terfokus pada leher.
“Ah, ahh!”
Frederick naik turun; seiring napasnya yang tidak beratur. Dia tidak jatuh. Tidak selama Blanca akan menangkap tubuhnya, menggunakan kembali miliknya untuk membawa Frederick semalaman akan terjaga. Dan di sisi lain, mungkin hanya dalam angan yang tertinggal di dalam kepala—kedamaian kecil itu; dia suka.
Dan Frederick tahu—melarangnya berarti merampas satu-satunya cara Blanca menjaga keseimbangannya. Dia menempelkan punggungnya pada dada Blanca, melingkarkan tangan di leher perempuan itu—satu cumbuan lain; getaran beruntun yang diiringi oleh satu kali ejakulasi lain—Frederick merasa penuh dan lemas, tapi malam bukan berarti sepenuhnya berhenti untuk mereka.
“Hahh—Blanca,”
Dia tidak lagi membutuhkan apa pun.
Musik, terdengar jauh—dan mereka, malam itu pun menghabiskan waktu dalam jarak yang tidak lagi menjadi penghalang dari penyatuan. Frederick bisa merasakan salivanya turun dari bibir—selaras dengan darah, yang menggaris di punggungnya kini.
Pagi berikutnya, Frederick menemukan Blanca tertidur di lantai, kepalanya bersandar di kakinya. Pita di lehernya sedikit terlepas, dan gantungan logam kecil itu bergetar lembut setiap kali dia bernapas.
Detik itu, Frederick menatapnya lama.
Oh, Blanca. Perempuan yang selama ini tidak dia bisa raih; kendati hari itu dia datang dan akar obsesi ini dimulai. Dia menyentuh wajah cantik; mata yang masih terpejam dalam embusan napas teratur yang menandakan dia—sampai detik ini; masih hidup. Kepemilikan itu nyata. Mau bagaimanapun posisi mereka. Ah, Blanca—dia ingin mencium bibirnya, tapi bila itu membangungkannya, Fredrick pikir dia bisa menahan apa yang menjadi damba.
“Tuan Frederick. Apa yang membuatmu begitu dekat denganku sekarang ini, huh?”
Ah.
Siapa yang menyangka perempuan itu ternyata telah terbangun; dalam jarak beberapa senti yang mungkin membuat mereka berciuman—Frederick menarik wajahnya. Sedikit tersipu. Mungkin Blanca akan berkomentar atas tindakan beraninya. Siapa yang tahu itu.
Dia tidak pernah merasa sepenuh ini sebelumnya. Membuat mulutnya menerima begitu banyak hal yang membuatnya bisa kalut, tidak terkendali, dan yang lebih penting—menunggangi ‘peliharaan’-nya itu adalah bagian menyenangkan yang paling dinikmati.
Tapi itu tidak masalah, tidak ada yang pernah mempertanyakannya. Apa pun yang terjadi hingga sekarang, selama mereka bisa bersama—Frederick rasa, dia tidak benar-benar butuh apa-apa. Dia menatap perempuan itu, lagi—sungguh. Sebanyak apa pun Blanca menyakitinya, Frederick menikmati karya seni indah bernama Blanca untuk selalu menjadi bagian dari hidupnya. Dan rasanya—yang kemarin malam, meski dia mendapati beberapa luka di bagian tubuh ataupun kasur basah karena mani dan air kencing mereka, rasanya dia masih ingin lebih banyak.
Frederick menunduk, membisikkan sesuatu yang hampir tak terdengar: “Maaf. Aku hanya berpikir … tentang alasan kenapa aku begitu mencintaimu.”
Diam. Blanca menggeliat sedikit, matanya kemudian terpejam geli—tapi senyum kecil muncul di wajahnya. Yang mana pun Frederick maksud untuk ‘mencintai’ itu, Blanca tidak mempermasalahkannya. Apa pun yang tumbuh di antara mereka; permainan—kepemilikan, cinta, kepuasan—obsesi, rengkuh dan sesuatu yang terlalu semu. Segalanya; Frederick bagi Blanca—merupakan semesta yang terasa selamanya abstrak itu.
Wujudnya, apa pun itu—Blanca tidak akan melepaskannya. Baginya, kebersamaan dengan Frederick adalah bentuk cinta yang menemukan wujudnya sendiri—dalam diam, dalam tanda, dalam kebutuhan untuk memastikan bahwa keduanya tidak hilang dari dunia yang terlalu besar ini. Pagi itu ditutup dengan Blanca yang melingkarkan tangan di leher Frederick—disemai dengan ciuman terakhir di bibir. []
