Actions

Work Header

Janari

Summary:

Saat insomnia melanda Dowoon dan ia mencoba mencari kegiatan di tempat terbuka dan Wonpil melihat sesuatu yang tidak diduganya ... beberapa hal yang diinginkan bisa terjadi.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Yoon Dowoon menggerutu di atas kasurnya. Ia menoleh kepada jam dinding yang berbunyi setiap satu detik. Jarum pendeknya menunjuk kepada angka tiga, sementara jarum panjangnya baru saja melampaui angka dua belas.

Sudah beberapa malam ia tak bisa tertidur. Jika terlelap pun, selang satu atau dua jam ia akan terbangun lagi, lalu akan kesulitan mengistirahatkan matanya kembali. Bagi mahasiswa tingkat akhir sepertinya, tentu menghabiskan malam-malam tanpa kepulasan sudah lumrah. Namun siapa pun memerlukan istirahat, tidak setiap malam begadang harus dihabiskan dengan menyelesaikan tugas akhirnya

Dowoon mengangkat selimutnya yang tipis, menunjukkan tubuh mulusnya yang telanjang bulat—ia memang suka tidur tanpa pakaian sehelai pun—lalu beranjak dari ranjangnya. Tanpa mengenakan celana dalam, ia mengenakan celana pendek dan kaus tipis yang ketat. Lalu, sebungkus rokok yang isinya hanya tersisa beberapa batang diambilnya, beserta pemantik api dan ponsel yang tergeletak di mejanya. Ia memutuskan untuk keluar dan menikmati malam dalam balutan pakaiannya yang  menunjukkan lekuk badannya yang indah.

Keluar dari kamarnya, ia menaiki tangga menuju atap bangunan indekosnya. Biasanya atap tersebut ramai oleh penghuni indekos yang merokok dan bercengkerama dengan satu sama lain. Namun saat itu kebanyakan penghuni sedang menikmati libur panjang, dan Dowoon hanyalah satu dari sedikit orang yang tetap tinggal di situ. Dowoon yakin, sisa penghuni yang ada dapat dihitung dengan jari oleh satu tangan.

Benar saja, tidak ada siapa pun di atap. Hanya ada seonggok sofa tua dingin, menandakan bahwa tiada yang mendudukinya malam itu. Di depannya, sebuah meja kopi yang kosong dan bersih, yang biasanya dipenuhi beberapa gelas kopi, asbak, dan bungkus camilan setengah isi.

Dowoon menjatuhkan tubuhnya di atas sofa tersebut. Rasa dingin menempel pada kulitnya yang mengenai permukaan sofa tua itu. “Tiga lagi,” gumamnya saat membuka bungkus rokoknya. Ia mengambil satu, menyelipkan kenikmatan sembilan senti di antara kedua bibirnya, dan menyalakannya.

Sembari merokok, ia menikmati langit malam yang dipenuhi bintang. Beberapa kali ia merasa kerlap-kerlip bintang itu tampak bergerak, tapi tak ia hiraukan. Mungkin, otaknya memang sudah tidak beres berkat insomnia yang dideritanya. Sesekali ia membuka ponselnya, membuka berbagai aplikasi media sosial yang dimilikinya. Namun, sepertinya semua orang tertidur. Tidak ada siapa pun yang tampak aktif berjejaring sosial.

Merasa bosan, ia pun mengaktifkan VPN di ponselnya. Ia membuka peramban dan mengetikkan huruf-huruf yang jarang ia ketikkan di muka umum: pe-o-er-en-.... Beberapa video di laman tersebut menarik perhatiannya, namun tidak merangsang birahinya. Bagaikan seorang kurator yang sedang menentukan karya mana yang akan dinikmati di sebuah galeri, ia menelusuri halaman demi halaman untuk mencari sesuatu yang menurutnya layak dinikmati.

Tanpa sadar, ketiga batang rokok yang dimilikinya telah habis dihisapnyanya. Dowoon mendengus. Ia belum mengantuk, tetapi tidak tahu juga apa yang harus dia lakukan. Sekejap kemudian matanya tertuju kepada sebuah cuplikan video berjudul "asian jerking off in public". Ia mengekliknya dan menonton seorang pria beretnis Asia Timur tanpa busana bermasturbasi di tempat umum.

Penisnya menegang dan mulai terasa sesak di dalam celana pendeknya. Dowoon memutuskan untuk melucuti pakaiannya sendiri, seolah terinspirasi oleh tontonannya. Ia sembarangan menaruh celananya di lantai dan kausnya dibiarkan tergeletak begitu saja di sofa. Ia berdiri di tepi atap, melihat jalanan, dan mendelik sekitarnya. Ia bertanya-tanya, apakah ada yang melihatnya telanjang seperti ini. Diam-diam, ia ingin tubuh indahnya dihargai dan dinikmati orang lain juga.

Semilir angin malam yang sejuk bertiup mengelus tubuhnya yang indah. Dowoon sendiri pun sangat menyukai tubuhnya. Ia meraba setiap senti kulitnya yang sensitif, memberikan rangsangan kepada kejantanannya yang semakin mengeras. Begitu mudah baginya untuk terangsang dengan tubuhnya sendiri. Mungkin suatu tendensi narsisme, Dowoon pikir, tapi bagaimanapun, ia sendirilah yang bekerja keras untuk membentuk tubuhnya.

Ia semakin menikmati sentuhan-sentuhan sensual di tubuhnya sendiri. Perlahan, Dowoon mengelus dadanya, perutnya, hingga jemarinya mencapai area pubisnya yang belum lama ia cukur. Kemudian, ia melingkarkan jemari tangan kanannya di sekitar penisnya. Dowoon mendesah pelan. Selagi tangan dominannya memainkan batangnya, tangan kirinya mengusap bagian-bagian tubuh lainnya yang sensitif. Ia mencubit putingnya, menggelitik perutnya, dan mengelus buah zakarnya. Semakin lama, Dowoon semakin tenggelam di dalam kenikmatan yang memuaskan berahi lelaki muda. Desahannya semakin keras dan ia semakin hilang dalam nirwana syahwat. Dowoon tidak berpikiran untuk berlama-lama memuaskan nafsunya. Ia hanya ingin mencapai orgasmenya saja. Ia mendesah, mengerang, dan melenguh. Tanpa ia sadari, selama ini ada yang mengawasinya di ambang pintu atap.

Dialah Kim Wonpil, seorang mahasiswa astronomi yang gemar mengamati gemintang dari atap indekosnya. Ia terbangun dan teringat bahwa malam itu ada hujan meteor yang akan berakhir sekitar pukul tiga dini hari. Sesampainya di atap, hujan meteor yang menunjukkan kerlap-kerlip cahaya putih yang berjatuhan ke bumi telah usai. Ia malah disuguhkan pemandangan tetesan cairan putih yang berjatuhan ke lantai atap dari penis seseorang yang telanjang dan memijat penisnya.

Menonton adegan panas di malam yang dingin secara langsung tidak menolong siapa pun di malam itu. Wonpil justru terangsang juga, kemaluannya menegang dan ia pun mulai meraba penisnya. Tanpa disadari, ia mendesah.

Dowoon yang masih terlena dengan kenikmatan orgasme seolah dijatuhkan ke bumi dari kahyangan ketika mendengar desahan Wonpil. Seseorang telah melihatnya memuaskan nafsunya, dan kini sedang mencoba untuk memuaskan berahinya. Ia merasa sedikit malu, tetapi tidak sanggup berkata-kata dan tidak bisa bergerak. Wonpil sadar bahwa Dowoon telah kembali ke alam nyata.

“Gak apa-apa,” kata Wonpil, “gua juga suka coli di sini kalo sepi.”

Dowoon tersipu. Ia mencoba menutupi kelamin dan dadanya dengan tangannya.

“Gak usah malu kali, gua udah liat lo ngocok juga. Lo punya badan bagus sama kontol gede, gak usah ditutupin. Yang ada lo harus bangga nunjukkin aset lo,” lanjut Wonpil. Kemudian ia pun menanggalkan kausnya dan melepas celananya, menunjukkan penisnya yang ereksi.

Badan Wonpil lebih kurus dan lebih pendek daripada Dowoon. Hal yang lazim karena Dowoon rajin berolahraga. Namun tubuh Wonpil begitu ramping dan indah di mata Dowoon. Pemandangan yang membuat Dowoon ereksi kembali.

“Lo seneng banget, ya, liat gua, sampe ngaceng lagi,” Wonpil tertawa. Telinga Dowoon memerah. Angin malam yang dingin kembali berembus. Wonpil mendekati Dowoon yang masih tidak bisa bergerak.

“Dingin, ya. Kita main bareng gimana?” Wonpil menggoda.

Dowoon tercekat. Ia memberanikan dirinya bersuara, “Bentar! Gimana kita main bareng, kalo kita gak saling kenal?”

“Oh, lo tipe yang gak bisa main sama stranger ya?”

Dowoon memang pemalu. Tapi sebenarnya, ia cukup agresif dan isi kepalanya dipenuhi berbagai fantasi seksual. Ini terbukti melalui jawabannya yang diutarakan sembari mengedipkan sebelah matanya, “Bukan gitu, nama siapa yang bakal gua teriakin kalo gua lagi keenakan?”

Wonpil kaget dibuatnya. Ia semakin mantap mendekati Dowoon dan menyentuh tubuhnya. Dowoon pun menyentuh tubuh Wonpil dan kini mereka ada di pelukan satu sama lain.

“Gua Wonpil,” bisik Wonpil di telinga Dowoon, “Lo bisa teriakin nama itu kalo keenakan.”

Lalu Wonpil mengecup telinga Dowoon yang memerah. Dowoon menjawab, “Gua Dowoon. Please panggil nama gua kalo lo keenakan.”

Dowoon pun mengecup pipi Wonpil dan menjilatnya. Kedua lelaki muda tersebut lalu mencium satu sama lain dengan ganasnya. Keduanya agresif dan berusaha memenangkan posisi sebagai dominan dalam hubungan yang akan mereka nikmati. Tak dapat lagi dijabarkan tangan siapa melakukan apa dan di mana, karena keduanya saling membelai satu sama lain, memastikan setiap inci tubuh pasangannya telah terlewati oleh sidik jarinya.

Sesi foreplay tersebut tak berlangsung lama karena pada akhirnya, Wonpil mendorong Dowoon ke atas sofa. Dowoon kini berbaring telentang, menghadap langit, sementara Wonpil memunggungi gemintang. Seumur hidupnya Wonpil tertarik pada bintang, tetapi malam ini saja ia ingin memandangi mata lelaki yang bernama Dowoon.

Fuck me, gua udah douching, kok,” Dowoon mendesah. Bukannya menyetubuhi Dowoon, Wonpil malah mendekati kepala Dowoon dan menyodorkan penisnya ke mulut Dowoon. Dowoon mengerti. Dengan lihai memainkan lidahnya di sekeliling penis Wonpil. Beberapa kali ia meludahi batang kemaluan pasangannya, lalu diratakan dengan lidahnya. Wonpil mendesah, menikmati hangatnya mulut Dowoon yang membasahi kemaluannya. Ia menjambak rambut pasangannya dan menguasai isi mulutnya dengan kejantanannya.

Kedua lelaki muda itu merasa panas, meski semilir angin malam tetap bertiup. Dowoon tetap mengisap dan menerima hujaman batang lelaki yang baru ia kenal malam itu. Wonpil meracau, “Fuck you, Dowoonkamu jago banget bikin aku keenakan.”

Beberapa waktu berlalu seperti itu, hingga Wonpil mengerang, “Dowoon, AHHHH! STOP!”

Setengah memaksa, Wonpil melepaskan batangnya dari cengkraman mulut lelaki seksi di bawahnya. Ia berdiri, berjalan ke sebuah sudut, dan merogoh suatu celah di balik sesuatu. Seolah bocah yang memamerkan permennya, ia memamerkan barang yang diambilnya kepada Dowoon sembari menyeringai, “Aku nyimpen lube di sini.”

Ia pun mendekati Dowoon dan memosisikan dirinya kembali. Ia mengangkat kedua kaki Dowoon, yang menguak lubang yang diidam-diamkannya. Ia mengendus lubang itu, menciumnya, dan menjilatnya. Dowoon terkaget. Tentu saja ia pernah berhubungan seks sebelumnya, tetapi itu pertama kalinya ia merasakan rimming.

“Won ... ahhh ... Wonpil ... fuck ... ummmmhhhhhhhh ... enak bangeeeet ...," desah Dowoon. Ia merasa mulut dan tenggorokannya mengeluarkan suara-suara yang ia tidak ketahui dapat dibuatnya sementara Wonpil memasukkan ujung lidahnya ke dalam lubang Dowoon dan menjilat-jilatnya. Melihat pasangannya yang larut dalam kenikmatan, Wonpil tidak bisa menahan nafsunya lagi.

Wonpil mencabut lidahnya dan meludahi lubang Dowoon. Ia pun mengeluarkan cairan pelumas dan meratakannya di sekitar lubang Dowoon, perlahan jarinya pun memasuki lubang itu. Dowoon mendesah pelan, ia protes, “No.

Tetapi Wonpil tak mengindahkan protes itu, satu jari dimasukkannya lagi. Kedua jari itu pun bermanuver di dalam lubang Dowoon, mencari titik sensitifnya. Ketika Dowoon berteriak, Wonpil tahu ia sudah menemukan apa yang ia cari. Ia memainkan jarinya di titik itu, sementara Dowoon kewalahan.

Just put it in,” pinta Dowoon sambil terengah-engah, “gak apa-apa, kemarin baru mainin dildo.”

Wonpil menyeringai. Ia kembali melebarkan paha Dowoon dan menempatkan kepala penisnya di depan lubang Dowoon. Ia meneteskan cairan pelumas ke batangnya, yang ia ratakan dengan menggosok-gosokkannya ke pantat Dowoon. Kemudian, dengan gerakan yang halus, ia memasukkan ujung kemaluannya ke lubang anus Dowoon. Ia mendorong pinggulnya dengan hati-hati agar penisnya masuk secara menyeluruh ke dalam tubuh Dowoon.

“AH FUCK WONPIL!” Dowoon berteriak, penis Wonpil ternyata lebih besar dari dugaannya. Dowoon menarik napas panjang berkali-kali selagi Wonpil memenuhinya. Mungkin saja Dowoon berteriak, tapi sebenarnya, dia sangat menyukainya.

“Aku masukkin pelan-pelan, ya, sayang,” Wonpil menenangkan Dowoon, membelai rambutnya, dan mengelus pipinya.

Just ... fuck me hard. Malam ini aku sepenuhnya punya kamu, sayang. Fuck me hard and torture me,” Dowoon terbata-bata.

Wonpil sedikit ragu, namun Dowoon kembali memintanya. Ia pun mendorong tubuhnya ke bawah, memasukkan keseluruhannya. Kini kedua insan telah menjadi satu. Wonpil merendahkan tubuhnya untuk memeluk Dowoon. Keempat mata saling bertatapan sementara pinggul Wonpil pelan-pelan bergerak menyetubuhi pasangannya. Semakin lama ritme antara keduanya semakin cepat. Mereka masih memeluk satu sama lain, menciumi satu sama lain, dan menggerayangi satu sama lain. Namun keduanya masih menggerakkan pinggulnya secara sinkron. Dowoon hilang dalam kenikmatan. Desahannya begitu keras, mungkin bisa membangunkan seisi indekos jika penghuninya menempati ruangannya. Untungnya malam itu hanya ada mereka berdua di situ.

Entah berapa lama mereka menikmati pergumulannya, desahan, racauan, kecupan, semuanya liar dilakukan mereka. Hingga Dowoon berkata, “Wonpil ... ahh ... anjing ... enak banget ... kontol kamu .... enaakkk ...” Dowoon melengking.

“Kamu lebih enak, Dowoon sayang,” kata Wonpil, sambil mempertahankan ritme dan kedua tubuh mereka membuat suara plok-plok-plok yang jelas.

“Pe- ... pengen pipis ...,” Dowoon meracau. Ia merasa bahwa ia akan mencapai puncak hubungan seks sebentar lagi. “A- ... aku ma- ... mau kelu- ... -aar.”

Wonpil pun mendesah mendengar suara Dowoon yang dalam dan seksi, dibumbui dengan kenikmatan seks yang ia berikan. “Keluarin, aja, sayang. Aku juga sebentar lagi keluar.”

Dari mulut Dowoon, hanya desahan dan racauan nama Wonpil yang keluar. Sejurus kemudian, tanpa ada yang menyentuh penisnya, Dowoon mengeluarkan sperma untuk yang kedua kalinya malam itu. Semprotannya jauh hingga mengenai mukanya, meski kebanyakan cairan kenikmatannya mendarat di perut sixpack miliknya.

Melihat ekspresi Dowoon saat orgasme dan cucuran sperma di mukanya, membuat Wonpil semakin ingin mengejar klimaksnya. Ia menggerakkan pinggulnya lebih cepat, ia pun hanya bisa mendesah dan melantunkan nama Dowoon. Tak berapa lama, tubuhnya menukik menuju tubuh Dowoon, disertai dengan desahan yang kencang. Penisnya berkontraksi dan mengeluarkan semprotan mani di dalam tubuh Dowoon.

Keduanya masih mendesah dan menciumi satu sama lain. Setelah orgasme keduanya mereda, Wonpil menarik batangnya dari Dowoon. Dowoon pun merasakan lelehan cairan hangat yang turut keluar dari lubangnya. Cairan yang berasal dari penisnya pun mulai meleleh di dada dan perutnya.

“Anjing, aku kotor banget ....” batinnya. Ia tertawa kecil, begitu pun Wonpil. Wonpil merendahkan tubuhnya lagi dan mencium bibir pasangannya. Ia berbisik, “That was so hot, Dowoon.”

Wonpil pun berdiri, menjauhi sofa, dan memungut celana dalamnya. Ia mengelap pantat dan tubuh Dowoon dengannya.

“Kamu gila, sih," celetuk Dowoon, "Tiba-tiba ngajak ngentot. Kan jadi enak.”

Wonpil tertawa. Ia menjilat sperma Dowoon di tubuhnya dan mengelap bekas air liurnya dengan celana dalamnya. Wonpil membalas, "Kamu ya lebih gila. Malem-malem telanjang sambil coli. Bikin aku sange aja."

Wonpil masih mengelap Dowoon dengan bagian celana dalamnya yang masih kering. “Gak akan bersih ...,” gumamnya, “Kamu ikut ke kamar aku aja, yuk.”

“Gak mau!” Dowoon bercanda sambil berlagak marah. Ia bangkit dan duduk di sofa lalu melanjutkan, "Nanti diperkosa kayak barusan."

"Kalau kamunya mau mah bukan diperkosa, lah!” Wonpil duduk di samping Dowoon, mengelus mukanya yang tampan. “Tapi beneran deh, kamu ngapaiin malem-malem coli di sini?” Wonpil bertanya dengan rasa penasaran.

“Tadi gak bisa tidur. Kamu sendiri? Jangan-jangan emang niat mau coli ya? Kamu eksib ya?” Dowoon menuduh, tentu saja dengan penuh canda.

“Tadinya mau liat hujan meteor. Eh malah ada hujan peju,” Wonpil menyeringai. Ia pun meneruskan, “Kamu tidur bareng aku aja. Katanya tidur telanjang bareng orang lain tuh bisa bikin tidur lebih nyenyak,” sarannya.

“Kalau aku tidur sama kamu ...,” Dowoon berdiam sejenak, “Pasti gak akan tidur sih. Pasti sange kalau cuddle sama orang secakep kamu.”

“Nah, kan, siapa coba yang mau merkosa!” Wonpil membalikkan kata-kata Dowoon yang disambut dengan tawa kecil.

Dowoon merangkul Wonpil, “Iya, nggak. Ya udah, kita tidur bareng. Aku ikut ke kamar kamu ya,” pintanya dengan manja.

Wonpil memberikan kecupan kecil di bibir Dowoon dan menjawab, “Oke.”

“Tapi ada syaratnya,” ujar Dowoon sembari menatap Wonpil.

“Apa?”

“Aku masih punya satu fantasi ....” Dowoon terdiam sejenak.

“Gampang, pasti aku kasih,” Wonpil meyakinkan pasangannya. Ia kembali bertanya, "Tapi fantasi apa?"

Dowoon ragu sejenak, lalu menjawab, “Aku ... pengen dientot pas aku tidur. Gimana?”

Notes:

Sebenernya, AU ini udah pernah diterbitin beberapa tahun lalu di platform lain. Upload ulang ke AO3 biar bisa dibaca lebih banyak orang. Semoga suka!