Work Text:
Tangannya yang ia simpan di saku jaket tebal itu, ia bertanya-tanya, apakah ia mengepal atau menancapkan kukunya di kulit hingga berdarah. Wajahnya yang hampir membeku itu, ia kembali mengingat-ingat, apakah menyembunyikan kebenciannya seperti yang sudah-sudah atau kebahagiaan yang salah waktu. Wajah orang itu di depannya, memohon dan menangis, adalah satu-satunya yang ia ingat. Salju yang terus-terusan turun dari luar tempat bersembunyi mereka–dari apa? banyak hal, ia tak ingat lagi.
Ciuman pertamanya terasa asin karena air mata namun pahit ketika menetes di mulutnya. Kedua tangan orang itu, ia harap tak pernah pergi. Akechi harap ia takkan pernah lupa.
*
Dia bermimpi lama sekali, lama-lama sekali namun tak ada yang berhasil ia ingat, beberapa kenangan terlihat seperti musim panas di studio rekaman, beberapa yang lain adalah dinginnya udara di samping jalan Kichijoji, sisanya adalah hangat dan busuknya darah di telapak tangannya. Hal terakhir yang berhasil ia ingat adalah suara laut–yang aneh karena ia tidak pernah pergi ke pantai–deru ombak yang berkejaran, suara burung-burung yang bersahutan dan bagaimana Aphrodite lahir dari busa-busa laut yang datang menyapa pantai. Merekah di permukaan disambut oleh nyanyian para Nymph, begitu indahnya.
Ketika ia terbangun hal pertama yang ia lihat adalah atap berwarna putih penuh dengan noda-noda kuning dan cahaya matahari yang terlalu menyilaukan mata. Suara deru ombak masih terdengar di telinganya, sisa-sisa dari mimpi itu.
Matanya masih memandang ke atas saat ia mulai dapat menggerakkan ujung jari tangannya, juga jari-jari kakinya. Beberapa suara–selain suara televisi memuakkan itu–juga mulai terdengar, suara obrolan halus dari sebelah kanan, kunyahan keripik dari sebelah kiri, suara mesin yang stabil di dekat kepalanya dan rengekan lirih dari mulutnya sendiri.
Setelah itu semuanya terasa bergerak terlalu cepat.
Ia masih belum dapat merasakan penuh tubuhnya ketika seseorang datang menghampirinya, perempuan dengan rambut panjang terikat berseragam biru memeriksa mata dan mulutnya yang terbuka lalu pergi. Setelah itu beberapa orang berseragam lain, dengan perempuan yang tadi, datang dan memeriksanya. Menyentuh tubuhnya yang penuh rasa nyeri.
Ia seharusnya mati, Akechi Goro seharusnya menjadi mayat busuk entah di pojok dimensi hancur mana, sendirian menghitung nafas-nafas terakhir ditemani bayangan-bayangan orang yang mati dan tertawaan orang yang hidup.
Ia masih ingat saat-saat terakhirnya, lantai yang dingin, badannya yang menggigil, hangatnya darahnya sendiri terasa di mulutnya dan bagaimana hormon endorphine membuatnya tertawa lirih seperti orang sinting giting sebelum ia mulai tak dapat merasakan apapun lagi. Namun sayangnya Akechi Goro memang lahir dengan takdir yang ditulis di tinta emas, dan karena itulah ia diberikan kesempatan kembali untuk hidup–dan menerima semua kutukan yang pantas ia dapatkan.
Beberapa orang masuk ke dalam ruangan, berdiri mengelilinya. Beberapa tangan pergi dan digantikan tangan yang lain, menyentuh dahi, perut dan ketiaknya–dan ia merasa lelah sekali padahal baru bangun dari mimpi yang begitu panjang. Akechi memejamkan mata kembali, mengabaikan pertanyaan dari perempuan di depan wajahnya yang membawa sesuatu dengan cahaya putih di tangan. Mungkin perempuan itu memanggil namanya, mungkin juga melaknat dan memaki, apapun itu ia tidak ingin mendengarnya.
*
Perawat melepas alat pemantau detak jantung beberapa jam setelah ia bangun, melepas selang oksigen tiga hari setelahnya dan memberikannya makanan sungguhan di hari keempat. Pada hari-hari pertama ia bangun, ia menghabiskan waktu mencoba kembali tidur dan menatap langit-langit saat bangun.
Kata pertama yang ia ucapkan adalah ‘terimakasih’ di hari ketujuh kepada perawat yang datang mengganti kantong kateter. Perawat itu berdiri terkejut selama tiga detik–kantong kateter di tangannya terguncang–lalu berjalan pergi.
Selain itu tidak ada lagi yang datang, ia menunggu polisi dengan borgol membawanya pergi dari sini dan membuangnya ke penjara, atau kumpulan preman memukulinya babak belur sampai mati. Namun ia sendirian, di ruangan rawat inap untuk dua orang dengan kelambu penyekat dan suara televisi yang suaranya terlalu keras dan terlalu sering dinyalakan.
Akechi bahkan tidak bisa mengambil botol air di atas nakas–yang ia tidak tahu milik siapa–sendiri. Tangan kirinya ditusuk jarum infus dan tangan kanannya terasa seperti agar-agar. Ada perban di bahu kirinya, gips di kaki kanannya dan plester di dahi atas matanya. Ia tidak bisa banyak bergerak dan memiringkan badan, jadi tidak ada banyak hal yang bisa ia lakukan selain menatap langit-langit dan mendengarkan nafas dan pikirannya sendiri.
Pikirannya yang terlalu penuh, terlalu bising. Seharusnya ia lempar dan pecahkan saja bagian yang berteriak-teriak itu.
Dari dulu ia bertanya-tanya–hentikan–apakah jika ia menjadi lebih tua, lebih dewasa dan lebih mengerti apa yang terjadi, jika begitu ia akan mengerti alasan ibunya pergi. Memutuskan untuk tidak hidup kembali, hidup dengannya di rumah dan kebahagiaan kecil mereka. Apakah jika ia cukup bijaksana, hasil dari buku-buku yang ia baca selama ini, ia akan menemukan jawabannya.
Seharusnya ia sekarang lebih mengerti atau malah mungkin ia lebih tersesat daripada sebelum-sebelumnya, ia tidak tahu. Ia mencari ke dalam hatinya, mencari kebencian dan kemarahan yang telah membentuknya selama ini dan tak menemukan apapun. Sudah tidak ada, semuanya sudah hilang.
Ada hari-hari dimana ia memimpikan tubuh di bawah kakinya, perlahan kehilangan nafas, mulut yang tak henti-henti meminta ampun. Lalu ia akan berkata, “Titipkan salamku pada Ibu, aku akan menyusulnya setelah ini.” Itu lucu, karena mereka berdua akan dibakar hingga akhir waktu di neraka yang membara. Ibunya tidak akan bertemu dengannya lagi, anaknya yang tidak ia kenal lagi, yang tangannya berbau busuk dengan hati yang tenggelam dalam dendam.
Namun, tidak ada yang berarti lagi sekarang. Tubuhnya yang terpaku kaku di atas kasur berbau apek. Ia pejamkan matanya, menghirup nafas lembut dan berhitung pelan-pelan. Ia ingin tertidur dari kekalahan yang tak dapat ia hadapi ini tanpa terbangun lagi.
Bajingan brengsek Kurusu Akira.
Keparat anjing.
Dasar babi tolol tanpa otak
*
Ia terbangun dari tidur tanpa mimpi, mungkin karena sudah tak ada angan-angan yang ia inginkan. Jadi ia mencoba tertidur kembali, menghitung lagi pelan-pelan di kepalanya. Menanti kabut yang akan menenggelamkannya. Suara televisi yang terlalu keras di sebelah kiri lagi-lagi dinyalakan oleh orang di sebelah, terdengar suara pembawa acara yang dilembut-lembutkan, dipanjang-panjangkan. Bukan suara berita, bukan sesuatu yang penting. Hanya candaan dan gurauan. Tidak menyebut nama yang ingin sekali ia dengar, dihukum mati ditembak satu pasukan atau ditusuk orang tak dikenal di penjara. Bukan nama lain, orang-orang itu, yang tidak ingin ia dengar.
Matanya terbuka kembali.
Langit-langit ruangan itu menyilaukan mata ketika kekehan keluar dari mulutnya. Dadanya yang naik-turun. Rasa pahit yang kembali muncul di tenggorokan diikuti emosi-emosi yang ia cari-cari sebelumnya telah muncul kembali. Dasar bangsat, apa orang itu sedang berkumpul bersama keroco-keroconya, entah di restoran atau malah prasmanan? Bergelimang kemenangan, wajah penuh tawa dan mungkin sedang merencanakan petualangan mereka selanjutnya. Orang-orang heroik, kesatria dan lain-lain apapun itu–tidak ada gelar yang cukup bijaksana untuk menggambarkan mereka.
Hal-hal yang ia miliki dan tak ia miliki. Hal-hal yang mungkin menyelamatkannya namun kemungkinan besar hanya akan membunuhnya perlahan.
Tentu saja Kurusu Akira akan menang. Tentu saja ia akan berhasil. Tidak ada jalan yang tak dapat ia tempuh. Ia tidak akan berakhir di ruangan berisik berbau apek ini, menelan kekalahan yang terlalu pahit di mulut.
Ia seharusnya sudah tahu dari awal, sejak pertemuan mereka di musim panas memuakkan itu. Ia seharusnya sudah menangkap petunjuk-petunjuk kejatuhannya di pertemuan-pertemuan membosankan mereka. Catur, kopi, biliar, Darts–semua memori itu kembali lagi dan emosi kembali menenggelamkannya. Jadi mengapa ia masih melakukannya, berkali-kali. Menyempatkan diri di jadwalnya yang mencekik jika pada akhirnya ia hanya menggali kuburannya sendiri.
Kepalanya mulai pening jadi Akechi mengatur kembali nafasnya, merasakan ketika dentuman jantung perlahan-lahan tidak lagi memenuhi telinganya. Rasa pahit itu belum hilang di tenggorokan, ia takut rasa pahit itu tidak akan hilang. Ia takut tidak ada apapun yang bisa ia lakukan.
Memang tidak ada lagi yang bisa ia lakukan sekarang.
Ia kembali memejamkan matanya, menanti kabut menenggelamkannya. Melupakan kasur bau apek dan televisi yang lagi-lagi berubah acara, masih sama-sama berisik. Ia berhitung. Mengulanginya dari awal, ia berhitung lagi. Ia berhitung lagi.
Akechi Goro mengabaikan tatapan yang ada di samping kepalanya. Tepat di samping matanya, tidak terlalu jauh untuk dia raih atau dia pukul hingga pergi. Tatapan itu tidak seperti yang biasa ia terima–terkagum-kagum, penuh ingin tahu, mencemooh, mengecilkan. Tatapan itu sendu, hampir putus asa. Sangatlah aneh, bukankah begitu Kurusu Akira? Karena ia seharusnya menjadi pemenang saat ini, terbuai mabuk kepayang dalam perasaan itu.
Ia tidak mungkin salah mengira pemilik tatapan itu, tidak jika berurusan dengan dia. Pada akhirnya, ia biarkan Kurusu Akira tetap menatapnya. Akechi kembali berhitung.
*
Dia bisa mendengar keributan di bilik-bilik ruangan yang ia lewati. Buku dan map yang dibuka tergesa-gesa, lari-lari kecil orang-orang yang melewatinya dan teriakan wartawan-wartawan di luar yang terdengar sampai dalam. Ia berjalan lurus, begitu juga tekadnya. Berjalan menuju penutup cerita, tirai yang ditutup, sayangnya tidak akan ada tepuk tangan meriah.
Tapi ini bukan malam itu, ia tidak akan salah kira, karena tidak ada dentuman jantung memenuhi telinganya penuh rasa euforia. Juga karena tidak ada rasa asam di mulutnya yang ia tahan-tahan dari kemarin malam. Ia tidak merasakan apapun sekarang, hanya hadir di tubuhnya yang bergerak dengan sendirinya.
Ia menarik nafas sekali, menegapkan bahunya dan membuka pintu besi. Sesuai rencana yang sudah ia putar-putar di kepalanya seminggu terakhir, tidak ada seorangpun di ruangan itu. Berbeda dengan ruangan sebelah yang hanya dipisahkan oleh cermin dua arah. Ia tahu siapa yang ada di sana. Apa yang akan ia lakukan, apa yang akan terjadi pada orang itu.
Ia berjalan masuk, melewati tiga kursi yang berserakan begitu saja seakan orang yang mendudukinya pergi terburu-buru. Jarinya menekan beberapa tombol. Sejenak mengangkat matanya ke cermin dua arah, orang itu duduk dengan kepala tertunduk, punggung yang goyah dan dua tangannya di atas meja. Ia bisa membayangkan apa saja yang bajingan-bajingan kotor berseragam itu lakukan padanya. Bagaimanapun sebentar lagi semuanya akan berhenti, semuanya selesai di sini. Ia berjalan keluar dari ruangan dan masuk ke ruangan sebelah.
Ruangan di sebelah sama gelapnya, sama dinginnya. Ia tidak ingat kapan ia merebut pistol dari bajingan tengik itu, menambahkan peredam dan menembaknya mati. Tangannya yang bergerak cepat dan tepat. Suara tembakan dari pistol dengan peredam itu terdengar di telinganya keras sekali hingga ia tidak bisa mendengar perkataan yang ia siapkan untuk menjadi kalimat terakhir yang orang itu dengar. Selongsong peluru jatuh.
Suara tembakan kedua terdengar, lebih keras dari yang pertama hingga membuatnya pening. Untuk sesaat hanya ada cahaya putih menyilaukan matanya. Segalanya berubah menjadi putih, statis dan mungkin ia terperangkap di sana cukup lama. Besi pistol terasa dingin di tangannya, kakinya yang mulai terasa kram.
Sampai semua memudar dan yang ada di hadapannya adalah orang itu, masih duduk di kursi yang sama, dengan isi kepalanya yang hangat dan menjijikkan memenuhi ruangan. Orang itu tersenyum begitu memuakkan, kakinya yang dengan angkuh ia silangkan, kedua tangannya yang ditata di atasnya. Ia bisa melihat orang itu mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa mendengarnya. Seakan-akan memberitahunya, pertunjukan belum selesai, tirai belum ditutup. Brengsek.
Hidungnya dipenuhi oleh bau amis darah dan otak yang hancur–dasar menjijikkan. Namun matanya masih bisa melihat orang itu duduk dengan kesombongan di wajahnya. Jadi ia mengangkat tangannya lagi, membidik pistol dengan peredam itu sekali lagi, lagi dan lagi. Hingga ia pergi, hingga semua ini berakhir. Telinganya dipenuhi suara tembakan yang semakin dan semakin keras setiap kali ia menembak. Mengangkat tangannya, menggigit dinding dalam mulutnya. Kepalanya bertambah pusing dan pening, hingga ia tidak bisa membuka kedua matanya.
Ruangan itu dipenuhi suara tembakan yang memekakkan, amis darah dan organ manusia yang bertebrangan hingga ke tubuhnya. Saat ia selesai dan menurunkan tangannya, ia dapat melihat sekujur dirinya berwarna merah dari cermin. Menutupi seragamnya, menetes dari ujung rambutnya dan menggumpal di genggaman tangannya.
Ia bisa melihat dadanya yang naik turun, dentuman jantung yang perlahan memenuhi telinganya, tetapi tidak ada lagi yang ia rasakan. Akhirnya semua ini selesai. Semuanya sudah selesai.
Memang benar tidak ada tepuk tangan bahkan ketika tirai akhirnya tertutup.
Ia terbangun. Dadanya yang masih naik turun, jantungnya yang masih berdentum kencang. Masih tersisa bau amis di hidungnya dan rasa asam naik di tenggorokannya sebelum ia muntah dan mengeluarkan semua yang ada di perutnya–air, air dan asam lambung.
*
Ia mulai bisa menggerakkan jarinya dan juga kakinya. Plester di dahinya sudah diambil, menyisakan beset tipis tapi cukup besar, memenuhi hampir setengah dahinya. Ia bisa merenggangkan kaki setiap pagi atau setiap ia bangun dari tidur sebelum ia mencoba tidur lagi, tapi sayangnya ia masih belum bisa turun dari ranjang. Ia sudah bisa mengganti posisi tidur. Berubah-ubah dari menghadap kiri ke kanan. Ia juga sudah bisa menutup tirai penyekat keras-keras jika orang di sebelah lagi-lagi menyalakan televisi terlalu keras.
Dan melemparkan tiang infus, mungkin, waktu ia sudah bisa berdiri turun dari ranjang ini.
Satu hal yang tidak berubah, Kurusu Akira masih menatapnya, masih di tempat yang sama–di samping mata kanannya, terlalu dekat dan seharusnya ia banting saja ke luar jendela. Ia masih sama tidak menghiraukan. Tidak menoleh, tidak berteriak membentaknya untuk enyah, ia juga tidak bertanya.
Karena Akechi tahu mengapa dia disini, mengasihaninya, melihatnya tergeletak di jurang dan bahkan tidak mencoba untuk bangkit. Jika tatapan itu bisa memberitahu Kurusu Akira yang asli, mungkin dia sudah berlari bertelanjang kaki ke sini untuk menyelesaikan tugasnya, hal yang entah mengapa dia rasa harus dia lakukan. Kurusu Akira akan datang dan menyelamatkan keadaan, memperbaiki kehidupan teman-temannya, bersama-sama hingga mereka dapat bangkit kembali.
Tetapi Akechi tahu tidak ada lagi yang bisa Kurusu lakukan, tidak untuknya. Dia tidak bisa menunjukkan jalan yang lebih baik, karena sejak awal jalan itu tidak ada. Dia tidak bisa berada disampingnya berbagi penderitaan ini bersama, karena Akechi lebih memilih dikuliti perlahan daripada membiarkan itu terjadi. Akechi berjalan maju satu arah tanpa berbalik dengan pistol di genggaman tangannya dan pistol orang lain membidik tepat di belakang kepalanya. Ia tahu apa yang ia lakukan, ia tahu apa yang akan terjadi sejak awal.
Jadi ia membiarkan tatapan itu. Membiarkannya merenungi keputusan yang Akechi ambil sendiri. Membiarkan dia memilih untuk pergi karena tidak ada yang bisa ia temukan di sini.
Akehi kembali berhitung dan menutup matanya. Membiarkan kabut, membiarkan suara perlahan menghilang. Langkah-langkah yang terlalu sering ia lakukan akhir-akhir ini.
Untuk pertama kalinya sejak ia bangun dari koma, ia kembali bermimpi. Pistol mainan di tangannya, layar di depan matanya, orang itu di sampingnya. Ia menegakkan tubuhnya serius, tidak membiarkan orang itu menang. Suara permainan terdengar keras sekali, tapi tak sekeras rasa kepuasan di dadanya dari tantangan yang saling mereka ucapkan. Mereka bermain lama sekali, mengulang permainan yang sama berulang-ulang. Angka-angka yang muncul sudah mulai tidak terbaca dan masuk akal. Ia tidak dapat melihat waktu, ia memiliki semua waktu yang ia inginkan di sana dan rasanya seperti seminggu atau tiga bulan ia tetap berdiri di tempat yang sama di Arcade.
Ketika ia terbangun, ia melupakan apa yang ia bicarakan di mimpinya–apa ia tertawa atau ia bidikkan pistol mainan di tangannya ke kepala orang itu. Saat ia merenggangkan kaki, ia melupakan semua yang terjadi di mimpi itu. Tidak tersisa perasaan penuh kepuasan di dadanya. Langit-langit ruangan itu putih, suara televisi kembali terdengar.
*
Hari-hari berikutnya datang tanpa kesan berarti. Perawat datang setiap pukul enam pagi dan memeriksa suhu tubuhnya, bertanya apakah ia merasakan sesuatu dan Akechi hanya menggeleng, bahkan tidak membuka mulutnya untuk mengatakan ‘tidak’. Perawat yang sama juga akan membuka tirai tipis yang membentuk penyekat di antara ia dan orang berisik menyebalkan di samping kirinya. Ia akan menutup tirai itu keras-keras setelah perawat itu pergi dalam hitungan kelima.
Ia melihat tangan kirinya, berusaha mengangkat tangannya, yang mulai membengkak karena cairan infus, perlahan. Jarum yang menusuk di punggung tangannya mulai terasa berdenyut, apalagi ketika ia mencoba menggerakkan jari-jarinya–menggenggam, merentangkan tangan. Ia perlu meminta perawat melepasnya setelah ini.
Satu-satunya jendela di ruangan itu ada di sebelah kirinya, tepatnya di samping depan orang kurang ajar itu. Dia sedang tidur, membalikkan badan darinya dan Akechi tidak dapat melihat wajah perempuan itu dengan jelas. Terlihat masih muda, sekitar awal dua puluhan atau mungkin seorang perempuan dewasa yang mungil dan pendek, ia tidak yakin. Rambut panjangnya terlihat lengket dan kering berserakan, bajunya tersibak di sana-sini dan seperempat selang infusnya berwarna kemerahan karena darah yang naik dari tangannya.
Mungkin jika Akechi berhasil mengambil remot televisi dan membuangnya keluar jendela, ia akan merasa lebih baik. Namun, ia tidak menemukan remot itu dimanapun, dan ia juga masih belum bisa turun dari ranjangnya sendiri.
Ia tidak tahu sudah berapa lama ia disini, berapa lama ia koma, berapa lama ia tidur. Ia dapat melihat keluar jendela dan menemukan bagian atas pohon yang masih belum tumbuh daun baru dan langit pagi kelabu yang membosankan. Musim dingin yang terasa lama, musim semi yang masih jauh datangnya.
Tatapan di sampingnya terasa lebih dekat daripada kemarin-kemarin. Seakan dia bisa merasakan helaian rambut ikal dan dingin plastik sepasang kacamata menyentuh samping dahinya–dasar bajingan kurang ajar. Jadi ia menutupi tangan kirinya yang membengkak, membalikkan tubuhnya, mencari-cari selimut yang ia tendang entah kemana pagi ini. Menyembunyikan dirinya sendiri.
Jangan mendekat, jangan melihat lebih dekat.
Rambutnya yang lengket, berkilauan dengan keringat dari tidur kemarin malam. Kulitnya yang kering dan belum mandi, kakinya yang kusam karena jarang digerakkan. Tali baju pasiennya yang longgar tidak bisa ia benarkan sendiri. Celananya yang tidak nyaman karena selang menjijikkan itu.
Mengapa dia masih di sini, Akechi ingin berteriak. Tidak ada yang bisa dia lakukan, dia perbaiki atau dia selamatkan.
Langit kelabu dari luar jendela yang terasa kosong dan hampa tanpa salju turun. Tirai penyekat masih belum ia tutup keras-keras. Ia masih berusaha menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal musim dingin bercorak polkadot biru, tapi hanya berhasil menutupi separuh atas badan dan kepalanya. Menarik-narik selang infus saat ia membuat kericuhan–jarum itu terasa berdenyut sakit lagi, sialan.
Semua orang pergi, Akira, jadi kau bisa pergi juga sekarang.
Ia mengingat bagaimana ia mencoba menyaringkan tangisannya dulu, memastikan tidak ada seorangpun yang tidak mendengarnya. Saat-saat setelah ibunya pergi dan ia hidup bersama belasan anak-anak nakal dan beberapa kakak-kakak dan ibu-ibu yang terlihat lelah setiap saat. Ia akan menarik-narik rambutnya keras, membuka mulutnya lebar-lebar dan meneruskan tangisannya hingga ia lelah dan berhenti sendiri. Ia ingin semua orang tahu ia sedih, dan mereka harus menyesal lalu meminta maaf. Tetapi tidak ada yang menghampirinya, tidak ada yang menenangkannya.
Ia ingat bagaimana ketika ia tumbuh lebih tinggi dan ia pergi dari tempat itu ke rumah kecil dengan dua kamar tidur yang bukan punyanya, dan keluarga yang juga bukan miliknya. Ia akan tidur di ruang tengah dengan lampu yang padam, mendengar tetesan air dari pencuci piring sebagai lagu tidur. Meringkukkan badan di selimut futon yang terlalu pendek, menahan tangisannya ketika ia merindukan rumah, merindukan apa saja yang ia miliki sebelumnya.
Ia tidak memiliki apapun sekarang, Akira, jadi tidak ada hal yang bisa ia berikan.
Akira tidak akan mendapatkan apapun darinya. Tidak watak yang ia bangun pelan-pelan penuh kehati-hatian, yang berisi senyum palsu, lima belas ekspresi yang pantas digunakan dan gestur tubuh yang ia latih di depan cermin. Tidak teka-teki yang ia masukkan dalam ucapannya, menantang untuk dibuka dan diselesaikan. Tidak cerita sedih yang sudah ia persiapkan untuk menumbuhkan rasa empati–yang ia sendiri tidak yakin seberapa besar yang ia rencanakan dan yang muncul begitu saja dengan bodohnya.
Namun tentu saja Kurusu Akira lebih maju dua langkah, ia sudah melihat semua sisi dan wataknya. Tidak ada yang bisa ditutupi kembali. Tentu saja ia begitu, tentu saja ia masih mengerti, masih tidak pergi, masih tidak menginginkan apapun darinya.
Kepalanya yang tertutup selimut mulai terasa berat. Matanya yang tidak menangkap cahaya mulai menutup. Menyantaikan alisnya yang mengernyit sedari tadi. Akechi berhitung kembali. Merasakan nafasnya yang mulai melambat.
Di dalam mimpinya, ia memimpikan sebuah pelukan hangat. Kepala orang itu berat di bahunya, terisak-isak tak berhenti. Tangan orang itu mendekapnya begitu erat dan Akechi membiarkannya. Membiarkan setiap sel dari tubuh mereka menyadur dan bersatu. Tangannya sendiri menggantung tak bergerak di sisi tubuhnya, menahan diri dari meraih sesuatu yang tidak akan pernah jadi miliknya.
Mungkin ia takut, mungkin begitu, jika ia sudah merasakan hal yang terlalu baik, hal-hal buruk akan datang setelahnya. Takut jika ia tidak bisa menahan diri dan meminta untuk lebih. Tahu bahwa kesempatan kedua tidak pernah datang kepadanya.
Ia ditinggal dengan perasaan lapar, kerakusan yang berkumpul di dada kirinya. Ia ingin merasakan semua hal dari kehangatan itu lalu menyimpannya dalam botol kaca yang ia simpan di bilik jantungnya. Sesuatu yang bisa ia miliki, ia rindukan, akhirnya. Namun, tangannya tetap bergelantung tak bergerak, tak mencoba.
Ia terbangun dengan sisa-sisa suara isakan di telinganya dan panas di sekujur tubuhnya. Bukan karena selimut tebal itu, yang sekarang ia cari sedang tergeletak menyedihkan di bawah kasurnya–tak bisa ia ambil sendiri, sialan–tetapi karena hal lain. Tatapan itu sekarang lebih dekat dari sebelum-sebelumnya, dan bukan cuma itu, Akechi juga bisa merasakan sentuhannya, pelukannya.
Akechi terbaring di atas kasurnya, matanya melihat langit-langit ruangan yang putih sekarang sedikit gelap karena lampu yang dimatikan setiap malam. Kelambu di samping kasurnya ditutup, menyisakan lampu tidur kecil dan redup berwarna kuning dari atas kepalanya. Telinganya sudah tidak lagi dipenuhi suara isakan, namun dengungan yang tak pergi-pergi. Ia masih merasakan kehangatan yang sama dari mimpinya, sentuhan di lengan dan kakinya yang tidak diberi gips.
Ia seharusnya berteriak, histeris akan kejadian aneh yang ia terima, tetapi jantungnya berdetak normal dan rasa familiar merekah di dadanya. Ia membiarkan tatapan–atau sentuhan, atau pelukan, atau orang–itu melakukan apapun semaunya.
*
Suara tertawaan bergema di kepalanya—mengecilkan, mencela, merendahkan—dan ia terbangun seketika. Membanting tubuhnya dari berbaring ke duduk. Suara tertawaan itu tidak berhenti, mengalir ke seluruh nadi tubuhnya, menghardiknya untuk diam. Semua ini adalah mimpi, katanya pada diri sendiri dengan tangannya yang terkepal menyakitkan. Akechi mengatur ulang nafasnya. Ia sudah bangun, ia baik-baik saja.
Ia mulai merasakan udara dingin jatuh ke kulitnya, membuatnya menggigil. Jendela ruangan terbuka lebar dengan sembrono, dan perempuan itu berdiri di depan jendela dengan kepalanya di luar. Berbicara sendiri aneh sekali dasar sinting, membiarkan televisi menyala tanpa penonton—setidaknya sampai Akechi bangun.
Akechi berhenti melirik dengan mata menghujat ke perempuan itu dan kembali menata dirinya sendiri. Ia bangun terlambat, ruangannya sudah terang oleh matahari. Sarapannya masih terbungkus plastik belum dibuka di nakas, berembun dan sudah dingin. Ia meraih kembali selimut tebalnya yang jatuh dan menata bantalnya yang dipenuhi rambut rontok. Tangannya yang bengkak belum membaik mencoba meraih piring sarapan ketika ia akhirnya mendengar lebih jelas suara dari televisi, berita pagi.
Nama orang itu diucapkan dengan pasti dan ia menoleh ke layar televisi. Tayangan menunjukkan rekaman ruang sidang yang meriah, nyala Flash kamera yang bersaut-sautan. Orang itu, menunduk seperti pendosa tidak mengucapkan apa-apa dituntun untuk duduk di sisi meja pengadilan. Akechi mendengus, melepaskan kepalan tangannya yang ia tahan sejak bangun tadi.
Tayangan kembali berubah, sekarang mereka berada di dalam studio berwarna biru terang dengan pembawa acara dan tamu dalam jas hitam. Ia mengerutkan dahinya, mengenali orang bau tengik itu dari pertemuannya yang lalu. Orang-orang Shido, komplotan politikus yang penuh kebohongan selayaknya politikus. Orang itu duduk dengan tegap di kursi tamu, omongannya yang halus dan dipanjang-panjangkan tidak memberi arti sama sekali.
Mereka berbicara tanpa arah. Penangkapan ini, sitaan itu, ujaran saksi ahli, penemuan barang bukti, politikus, penjabat daerah, preman-preman kota. Memutar-mutar skenario dan mencari celah hukum dari semua hal yang Shido utarakan di depan masyarakat dan meja pengadilan. Orang bau sangit itu bilang, Shido hanya melakukan semua ini untuk kebaikan orang banyak. Menutup-nutupi dosanya, menaik-naikkan citranya.
Akechi meludah darah dalam mulutnya. Bajingan cari untung sendiri! Ia bergerak berusaha berdiri. Tidak ada kebenaran dari ucapan yang keluar dari mulutnya saat ini, ia hanya merakit kembali kapal karam yang tenggelam. Menyedihkan dan memuakkan. Akechi melepas selang infus di tangannya, selang lain dari tengah kakinya dan berlari keluar. Bajingan brengsek, bisa-bisanya mencoba mengibuli semua orang. Apakah ini bagian dari rencana Shido, masih berjuang dari balik penjara. Apakah hal yang mereka lakukan tidak berhasil, tidak permanen? Atau memang jiwa yang busuk dari dalam tidak akan dapat diperbaiki.
Ia seharusnya membunuh orang itu, dengan pistol di kopernya, lalu dengan pisau menusuknya berkali-kali. Hingga tidak bertubuh, hingga ia benar-benar mati. Ia seharusnya tidak berhenti, tidak membiarkan dirinya berdiam diri seperti saat ini. Akechi berlari kencang, sekencang yang ia bisa dengan kakinya yang masih terbungkus gips, kaku dan berat kaki kanannya. Lorong rumah sakit terlihat sepi, cahaya matahari bersinar dengan terang, semuanya mendukungnya melakukan adegan terakhir penutup cerita ini.
Ia tidak bisa merasakan nyeri mendalam di kakinya, sakit seperti tusukan di perut bawahnya atau luka terbuka di tangannya bekas tusukan infus yang meneteskan darah di sepanjang lorong. Hormon adrenalin memenuhi kepalanya bersama dengan amarah yang kemarin meredam menghilang. Api itu memicunya berlari lebih kencang, berlari menuju pintu keluar rumah sakit.
Ada tangga menurun di depannya, namun ia tidak melihatnya saat ia tenggelam dalam kemarahan. Membuatnya terjatuh memalukan, terpelanting turun di jalan yang kotor basah karena salju. Rasa sakit itu menyadarkannya ketika ia terbalik dengan rasa sakit di kepala dan di seluruh tubuhnya. Suara orang-orang berteriak di sekitarnya dan berlarian ke arahnya. Ia mencoba menarik tubuhnya berdiri lagi, sebuah usaha yang mengecewakan karena ia kembali berguling roboh.
Dahinya yang pening menatap lantai aspal dan kakinya yang sulit ia gerakkan ketika dua tangan mengangkatnya—dua perawat berseragam biru. Seorang laki-laki berlari dengan kursi roda datang ke arahnya. Ia diangkat dengan kepalanya akhirnya menghadap ke atas dan didudukkan ke kursi roda. Perawat-perawat itu berbicara ke satu sama lain, berbicara juga dengannya namun tidak ada suara yang masuk ke kepalanya.
Ia tidak bisa di sini lagi, ia harus pergi. Sebelum politikus-politikus sangit itu mulai berbicara macam-macam. Sebelum bawahan-bawahan mereka mulai melakukan sesuatu. Sebelah tangannya menopang dirinya untuk berdiri, sebelahnya menepis tangan perawat yang mencoba meraihnya.
“Akechi!” Akechi berhenti mengguncang tubuhnya untuk berdiri dan mencari suara itu di arah belakangnya. Bukan teriakan untuk berhenti, bukan juga panggilan penuh kerinduan—hanya ucapan yang tenang dan terkontrol. Nijima Sae berdiri di belakangnya, masih terlihat tidak tersentuh seperti biasanya. Bajunya yang disetrika rapi, hitam dan rapat. Ia menyentuh bahu Akechi dan berkata “Akechi, duduk,” lalu menoleh ke perawat yang berdiri di sampingnya untuk membawa Akechi kembali ke ruangannya lagi.
Ia tidak bisa berkata apapun. Kepalanya masih menoleh, membalikkan tubuhnya tidak percaya melihat Nijima Sae berdiri di sana. Seorang perempuan muda di samping Nijima menyerahkan segenggam dokumen kepada seorang perawat yang lain, Akechi tidak mengenalinya. Ia dibawa berbelok lorong, meninggalkan area pintu keluar. Dibawa masuk kembali ke ruangan putih pengap dan dingin itu.
*
Tangan kirinya yang membengkak tidak lagi dipasangi infus, begitupun juga tangan kanannya dan kedua kakinya. Begitu juga yang dikatakan seorang dokter yang datang—laki-laki berumur empat puluh tahunan yang pertama kali ia temui—bahwa ia diperbolehkan pulang. Semoga cepat membaik, sembuh dan dimohon pergi ke rumah sakit dalam lima minggu untuk pengecekan patah tulang kakinya serta bawa dokumen-dokumen yang telah diberikan. Lalu dokter itu pergi, Akechi tidak mengucapkan terimakasih atau apapun.
Perawat lalu datang beberapa kali, beberapa orang berbeda. Menandatangani dokumen ini dan itu, menerima tiga buah kantong obat dan sirup. Terakhir, Sae-san masuk—sendirian. Menarik kursi pengunjung yang sejak awal tidak tersentuh dan duduk sambil menghela nafas dalam. Akechi yang sudah malas berbaring duduk di atas ranjang, tangannya bergerak lemah melipat selimut.
“Selamat pagi, Sae-san. Apa kabarmu setelah terakhir kali kita bertemu? Sayangnya aku tidak ingat kapan itu terjadi dan berapa lama kita tidak bertemu. Namun, kuharap kau baik-baik saja,” ucapnya masih melipat selimut di tangannya.
“Kabarku baik-baik saja, terimakasih banyak. Bagaimana kabarmu, Akechi? Dan selamat keluar dari rumah sakit, tentunya.” Akechi menghentikan gerak tangannya yang mulai tak berarti. Ia menoleh ke arah lawan bicaranya itu, “Lumpuh, seperti yang bisa kau lihat.” Sae hanya mengangguk dan beranjak berdiri.
Televisi dalam ruangan masih menyala sejak tadi pagi, masih berada di saluran yang sama dan lagu acara yang sama memuakkannya, ditinggalkan oleh perempuan gila itu sendiri. Sae-san berjalan memutari ruangan sejenak, melihat seberapa kosong dan memuakkan tempat ini dengan warnanya yang putih kosong.
“Kau pasti sudah dengar apa yang diberitakan pagi ini, Akechi.”
“Pastinya semuanya aman terkendali di kota besar Tokyo.”
“Benar, mereka bahkan tidak terguncang sekalipun ketika detektif pangeran mereka hilang begitu saja.”
“Lalu mengapa mencariku, Sae-san. Tidak ada yang dapat kuberikan untuk kepolisian, mereka tentunya sudah selesai dengan semua penyelidikan sekarang—atau kau memang datang mencariku sendiri, merindukanku?”
Nijima tidak terpancing oleh kata terakhirnya itu. “Intuisimu ternyata masih bagus bahkan setelah sebulanan terperangkap di sini. Sayangnya akan lebih aman jika kepolisian yang mencarimu, Akechi. Ada pergerakan dari lingkar dekat Masayoshi Shido, yang sekarang ditahan di penjara tanpa kontak dengan siapapun, dilaporkan mereka mencari seorang anak laki-laki. Anak kandung dari hubungan sah dengan perempuan yang dinikahinya dua puluh tahun lalu namun kehilangan kontak hingga akhir-akhir ini mereka bertemu kembali. Bagusnya, anak laki-laki ini sudah bekerja di kepolisian untuk kepentingan masyarakat, dan juga pujaan hati semua orang. Pastinya mereka bergerak cepat setelah tahu berita baik ini.”
Akechi mendengus keras, mendongakkan kepalanya tidak percaya. “Omong kosong dari pantat siapa itu. Jangan mudah percaya politikus, Sae-san. Lihat, apa aku ada mirip-miripnya dengan orang itu?” Sae menggeleng pelan dan memberikannya segenggam kertas dalam map plastik putih.
Akechi membaca laporan-laporan yang ada di sana. Riwayat telepon, sadapan percakapan dan beberapa nama yang ia kenal menyebutkan namanya, mencari keberadaannya sekarang. Lalu nama lain, nama yang sudah lama tidak disebutkan siapapun, jarinya bergerak lembut menyusuri deretan huruf itu. “Sepertinya banyak kesalahpahaman dari pihak mereka, biarkan mereka saling mengejar buntut satu sama lain, Sae-san—hal ini tidak ada hubungannya denganku.”
“Terserah kau saja.” Sae berjalan keluar meninggalkannya sendirian keluar ruangan dan Akehi hampir mengangkat tangan memintanya untuk kembali.
Ia menggeser kakinya kesusahan, mencoba menurunkan tubuhnya ke lantai dan berdiri menyandar ke ranjangnya saat ini. Kaki kanannya yang kaku karena gips, kaki kirinya yang pegal dan kebas setelah perilakunya pagi ini. Kebohongannya yang terlalu mudah diucapkan pasti menjengkelkan Nijima. Dia benar, apa yang tertulis di laporan-laporan itu adalah hal yang genting. Orang-orang itu sedang bergegas, rencana sudah mulai dijalankan. Entah siapa yang mengumpulkan semua informasi ini—ia tahu ini bukan dari kepolisisan, mereka tidak akan melakukan hal serinci dan seberbahaya ini—Akechi yakin ia tidak aman lagi. Ia tidak akan kembali ke tangan dan kuasa orang-orang menjijikkan itu.
Ia tidak bisa keluar lewat pintu depan yang sama. Mungkin ia harus berputar, pastinya ada pintu belakang milik karyawan di rumah sakit ini. Dia sudah kehilangan banyak hal, bahkan dirinya sendiri. Semuanya ia lakukan untuk menjatuhkan Shido ke neraka bersamanya, sekarang adalah waktu yang tepat. Akhir dari cerita ini, sejak awal dia tahu bagaimana ini akan berakhir.
Kaki kirinya yang telanjang berhasil menyentuh dinginnya lantai, ketika Nijima masuk kembali ke ruangan diikuti oleh perawat laki-laki yang datang mendorong kursi roda—mengernyitkan dahinya terang-terangan melihat ia turun dari ranjang.
“Semua berkas dan dokumen sudah selesai. Ambil semua barang-barangmu, Akechi. Lalu aku akan mengantarmu pulang.”
*
Jalanan malam yang ramai di malam tahun baru dan mereka berdua terjebak macet di dalam mobil dengan penghangat yang dinyalakan. Nijima meminta perempuan yang datang dengannya untuk pergi lebih dulu tadi, mengucapkan selamat tahun baru dan selamat berlibur. Ada selimut di atas kaki Akechi dan sebotol air minum yang belum terbuka di tangannya. Akechi mendengarkan lirih suara radio, dua pembawa acara yang sudah mendoakan tahun baru tujuh belas kali sejak perjalanan ini dimulai.
“Akechi, aku antar ke apartmenmu dulu, ambil beberapa hal penting dari sana cepat-cepat lalu aku antar keluar Tokyo. Sudah tahu mau pulang kemana?”
Nijima menanyakan hal yang sama siang ini, saat ia baru masuk mobil, yang membuatnya terdiam sepanjang perjalanan mereka. Tidak ada tempat pulang, tidak ada yang menunggu pulang—itu yang ingin ia katakan sejak tadi. Namun ia malah berkata, “Inaba, Sae-san. Maaf memintamu membawaku jauh-jauh ke sana—sekitar dua jam perjalanan dari apartmenku, seharusnya.”
Nijima tidak membalas ucapannya cukup lama. Mereka berhenti di lampu merah yang ramai dengan orang-orang yang menyebrang jalan. Cahaya merah dari lampu lalu lintas memasuki mobil, hampir membutakan Akechi.
Nijima melepaskan tangannya dari kemudi dan menoleh ke arahnya, “Sebenarnya, Akechi. Ini permintaan maafku selama ini. Untuk ketidak pedulianku hingga akhir, hingga semuanya telah terjadi seperti ini. Aku selalu berpikir, aku seharusnya lebih mengenalmu daripada siapapun. Namun, nyatanya aku tidak tahu apapun.”
Cahaya merah berganti ke warna kuning, lalu ke hijau. Nijima kembali menghadap ke depan dan membawa mereka pergi. Akechi masih mengulang-ulang apa yang ia katakan sebelumnya. Ucapan minta maaf, ia tidak memerlukan itu.
“Itu tidak benar, Sae-san. Tetapi, terimakasih.”
Ia membiarkan tubuhnya bersandar ke kursi yang lembut, dengan kehangatan yang mengelilinginya—dari penghangat ruangan, selimut di kakinya dan tatapan sentuhan yang tidak pernah pergi.
*
“Akechi, tempat yang di Inaba masukkan ke navigasi biar kita langsung ke sana.”
“Emm, tempatnya di belakang bukit. Dekat sungai kecil yang depannya ada sekolah. Lalu, ada jembatan di sebalah kiri sekolah.”
“Kamu nggak ingat tempatnya ya, Akechi?”
Akechi terdiam, tangannya yang di depan layar navigasi mengambang di udara. “Aku masih delapan tahun waktu keluar dari sana.”
“Kalau gitu, aku tanya teman kamu aja—Sakura-chan. Ambilkan tasku di kursi belakang, tolong?”
“Sae-san, aku tidak yakin Sakura bisa tahu tempat panti asuhanku dulu.”
“Sebenarnya, aku yakin Sakura-chan sudah tahu semua riwayat hidupmu sekarang, Akechi. Tasku di kursi belakang, tolong.”
