Work Text:
Sudah puaskah Minhyung menghukum Haechan setelah menangkap basah mainan kesayangan sedang mengeram dua batang kemaluan lelaki lain dalam dua liangnya?
Jawaban yang benar adalah tidak.
Renjun sebetulnya tidak sudi mengingat kembali bagaimana Minhyung mengocok meki tembemnya menggunakan jari, atau menjebloskan penis berurat secara kasar hingga dinding satin tersebut kagok membuka jalan. Mereka seakan tidak terima, kenapa bukan Little Yed? Kenapa bukan Nana? Kenapa terasa asing dan pendek pula.
Well, dibilang pendek sih nanti Minhyung tersinggung, jadi anggap saja hanya beda 2 atau 3 centi dari si kembar Dreamis.
Setiba di kamar, Renjun merebahkan punggung pelan-pelan, refleks menurunkan celana pendek yang dipasang asal-asalan biar keluar kamar Haechan tidak dihakimi CCTV lorong hotel, diikuti helaan napas berat. Jeno tidak kemana-mana selain ikut melepaskan pakaian santai. Beringsut mendekati tepat di antara kedua kaki jenjang yang tertekuk, memandang netra rubah lelah tersebut penuh kasihan.
"Kak Minhyung jahat."
Jeno menggumam setuju, membawa tubuhnya maju, kemudian mencium bibir Renjun lembut. Sedetik ketika bibir mereka menyatu, air mata si Cantik jatuh, menyisakan rasa asin serta isak halus.
"Kasian.. hiks.. Bear.."
"Tapi kita nggak bisa berbuat apa-apa, Sayang." ucap Jeno mengusap tulang pipi Renjun nan tembem menggemaskan, gembil persis sama kemaluan di selangkangan.
Renjun mengulurkan tangan tepat di tengkuk Jeno, memeluk erat, mendekap figur kekar tersebut kuat-kuat selayaknya boneka Moomin kesayangan. "Renren sakit, Aegi.."
"Hmm? Sakit dimana, Sayang?" lengan Jeno terulur ke bawah, jemari-jemari maskulin itu menari di atas jembut si organ, mengusapkan parasan telunjuk tepat di kelentit tersembunyi. Renjun meringis, entah sakit, atau keenakan karena Jeno yang melakukan, tapi mudah-mudahan yang kedua ya. "di sini?"
"He eumm.." jawab Renjun mengangguk kecil, kemudian bergetar sedikit kala Jeno menyingkap lipatan kenyalnya, membuat udara berlomba-lomba menyapa kelentit mungil. "nghh.. gosok.. Yed.."
"Iya, Cantikku." panggilan Jeno selalu membuat Renjun meleleh, ditambah usapan bertempo acak pada klit tidak tahu malu, ia meraih Little Yed nan setengah tegang dalam genggaman seorang agar kepuasan tersalurkan. Benar saja, lelaki di hadapan meloloskan erangan, bersama-sama membuai titik ero di selangkangan, mulai menerpa napas hangat pada wajah satu sama lain.
"Yed.. nghh.. ilangin sakitnya."
"Baring, Aegi." bisik lelaki surai hitam sembari menghentikan usap, Renjun sedikit kecewa tetapi tidak terlalu lama ketika ia berbaring seraya membuka kaki supaya Jeno leluasa memposisikan diri di antaranya. Si Cantik bahkan menekuk lutut hingga ke dada, menatap sayu tepat ke manik tajam bersabit di sudut. "so pretty, Aegi."
Kepala Renjun mengangguk, bibir bawah tergigit kecil, mencoba membuka tudung penutup klit biar terekspos siapapun yang memandang sekarang. "Mau Yed di sini, mmh.."
Jeno nggak perlu basa-basi bila menyangkut urusan jilat-menjilat meki. Semenjak mereka mengasur bersama, hal seperti ini tak pernah dilewatkan sekalipun, bahkan ia sering menghangatkan organ becek sang pujaan kurang lebih sejam-dua jam sampai pemiliknya mengerang malu sebab selalu kedutan saat dilahap lelaki lebih muda. Lidah lihai memperlihatkan fungsi utama, bergerilya di sekitar kelentit, menjilat naik turun sisi sampingnya. Satu tirai kenyal Jeno jepit pakai bibir lalu dikenyot lembut seakan sedang mengempeng dot, itu semua ia lakukan seiring mata elang mengadu tatap. Membuahkan lendir bening yang berkumpul di pintu liang membasahi dagu maupun sekitaran mulut.
"Ohh.. mmhh.. Y-Yed.. aahhh.." Renjun mencengkram seprei, tak luput jua menggenggam helaian surai lebat pemudanya, selagi Jeno mengisap bak menyedot nyawa dari sana, ia mengerang lepas dengan kelopak terkatup-katup didera kenikmatan tiada duanya.
Bunyi seruputan menjadi bukti bahwa Jeno menyenangi pekerjaan saat ini. Sekujur bibir membengkak, makin ia tenggelamkan hampir seluruh muka. Jeno selayaknya penyelam, mengambil napas sedikit demi sedikit sebelum membenamkan hidung dan rongga makan buat menyicip apapun yang tersajikan.
"Ohh! Nghh! Y-Yedd keluar! Nghh!" teriakan Renjun beserta kuatnya otot vagina menjepit lidah Jeno mempercepat lelaki tampan itu menghantarkan sang pujaan pada klimaks pertama. Pancuran deras menyeruak keluar dari lubang kemih, mangap-mangap berbarengan dua lubang lain. Seakan sedang mengerling menggoda pada Jeno, minta dicicip dan dipuaskan seperti biasa.
Wajah tampan tersiram cuma-cuma, namun Jeno sama sekali tidak tampak memberi protesan. Justru dia berbangga, selayaknya dengan adik berpuncak jamur yang menjunjung tinggi keadilan, semakin keras bila dipegang, menunjukkan keperkasaan. Renjun gemetaran tiada henti, liang merah berkedut manja, tidak sabar hendak digaruk tanpa pengaman.
"Masih sakit, Sayang?" Renjun menggeleng terhadap pertanyaan, rona merah menjalar di seluruh permukaan kulit seputih tahu sehingga menambah paras ayu menjadi-jadi di mata Jeno sekarang. "fuck- kamu cantik banget, Aegi, serius deh."
"Kalau cantik berarti masukin." ajak Renjun mematri cengiran, manik rubah yang semula berkaca-kaca menahan kesedihan sesudah dipaksa oleh Minhyung kini memancar penuh jenaka serta nafsu nan membara.
"Cantik nggak cantik, tetap aku masukin kok." Jeno tergelak seraya membimbing pangkal keras tepat di lipatan. Palkon bersundulan dengan kelentit, saling menyapa sebelum ia melewati terowongan. Kedua insan berbeda kemaluan saling mendesah keenakan, terus-terusan menyapukan kepala gendut dan daging penuh saraf, sampai akhirnya Jeno tidak tahan lalu mendorong si puncak jamur ke dalam liang.
"Ughhh!" punggung si Cantik melengkung sejenak, Jeno sontak merengkuh pinggang ramping seiring centi demi centi dia memajukan pinggul. Pijatan sedap membungkus batang panas, rasanya mau digenjot aja secara ugal-ugalan. Renjun nampak memeluk Jeno erat, mengecupi bahu tegap, tak sengaja menancapkan kuku pendeknya di punggung selebar lapangan [hiperbola].
"Ohhh!"
"Aegi-ya.." bisik Jeno merdu di telinga, rambut kemaluan Jeno sudah menyapa perinium maupun selangkangan Renjun, pertanda lelaki itu masuk sepenuhnya, sedalam ia menjangkau. "kamu becek banget, hangat, sedap, mmmh.. aku suka banget dihangatin kamu."
Renjun mengerang pas-pasan dinding saluran dia menjepit burung Jeno lebih erat. Lelaki surai hitam menggeram, mulai memaju-mundurkan pinggul, menghentak tulang panggul senyaring telinga manusia menangkap.
"Ah! Ahhh! Yed!! Nghhh! Enak banget! Yeeddd!"
Jeno menarik satu tungkai Renjun untuk dikecupin, mata kaki, tumit, jari-jari kaki, serta jempol tak luput dikulum Jeno bak permen manis selagi pinggul membuat gelombang dalam menghentak Renjun dan isi saluran. Bunyi squelch.. squelch bergabung plak- plak- plak menggantikan suasana yang awalnya suram menjadi kenikmatan tiada duanya.
Renjun merasakan simpulan klimaks kembali memenuhi abdomen bawah, dia berteriak, memanggil nama Jeno, memeluk lelaki itu lebih kuat, "Pipis lagi! Aahh nghh!! Sayang!"
Lelaki kelahiran April tak pernah berhenti. Makin kencang ia menamparkan kulit sesama kulit, makin nyaring ia menggeram rendah akan kontraksi yang dibuat dinding satin. Jeno bersumpah, melihat Renjun memancur deras saat ia masih menggoyang, rupanya membangkitkan keinginan testis juga hendak melepaskan mani di dalam.
Rambut merah muda Renjun terhempas badai di atas bantal, deru napas lelaki cantik itu tidak terkendali seiring badan terhentak-hentak mengikuti tempo yang Jeno berikan. Lendir bening miliknya menetes bak kran bocor di sela-sela sumpalan, menyelimuti sekujur penis yang keluar masuk hingga tampak licin saking banyaknya.
"Yed.. keluarin di dalam.. ya.."
"On it, Babe."
Jeno mempercepat gerakan, dia sudah di ujung nih. Sebentar lagi mani akan memenuhi saluran vagina, mentok mencium mulut rahim kalau seandainya Renjun punya. Jeno tidak dapat mengontrol gerakan saking orgasme mulai dekat. Dia menghentak keras, bersamaan aliran kental berhasil mendekam dalam saluran becek yang dihuni.
"Aah... hahh.. Aegi.." desah Jeno menyamakan wajah mereka sekarang. Renjun mengusap bulir keringat di pelipis lelaki surai hitam, sama-sama bernapas melalui mulut, merasa lebih cepat dibanding lewat hidung. Bibir kembali menyatu demi tautan lembut, bibir Jeno mengait di bibir bawah Renjun, begitupupa sebaliknya. Sesama hidung bangir tidak saling bertabrakan sebagaimana yang diharapkan orang-orang. Mereka berpagutan sangat mesra, bagai tak ada anomali yang akan memaksa mereka memutuskan sambungan tersebut.
Usai tautan terlepas, senyum manis terkembang pada wajah masing-masing. Jeno bahkan menampilkan sabit kesukaan Renjun di ujung matanya, menambah ketersipuan si Cantik, serta lebarnya cengiran diikuti pancaran berbinar dari manik rubah nan cantik.
"No need to worry Bear, okay? Selagi si Dakjal yang memimpin, aku nggak mau kamu punya resiko diperlakuin kayak tadi."
Captain's order. Kalau kata Renjun setiap kali Jeno bersuara memberi perintah. Dia nggak pernah membantah, membangkang, dia selalu menurut pada apa yang dikatakan Jeno. Bila Jeno tidak mengizinkannya ikut campur demi keselamatan seorang, siapa Renjun berani mematahkan hal itu, huh?
"Nana gimana?" tanya Renjun pelan. "dia pasti sedih banget."
Jeno mendekap Renjun erat sembari mengganti posisi mereka jadi miring berhadapan tanpa melepaskan penyatuan di selatan. Si Cantik menyamankan kepala di dada bidang, telunjuk lentik membuat gerakan memutar pada areola kecoklatan. "Nana nggak selemah yang kamu pikirin, ada nanti saatnya dia berani maju buat kasih Kak Minhyung pelajaran."
Saat mereka dihadapi oleh situasi rumit dalam industri gila, Renjun dan Jeno lebih baik cari aman dibanding menghadapi manusia titisan dakjal seperti Lee Minhyung yang merasa punya segalanya, termasuk membuat mereka menderita jika berani merusak kesenangan.
.
.
.
