Work Text:
Ada banyak label yang diberikan manusia kepada sesamanya. Jika melahirkanmu, maka labelnya ibu. Jika menikahi ibumu, maka labeli dia ayahmu. Jika bermadu kasih denganmu, sebutlah ia pacarmu. Jika kasih diikat janji, jadilah ia pasanganmu.
Lantas jika putus darimu? Jadilah label yang paling Geonwoo benci di dunia ini— Mantan.
Mantan itu, diikat oleh stereotip buruk. Seolah setelah putus, hubungan jadi macam Jimin BTS dan Jeongyeon TWICE di mata publik— kayak ada dendam kesumat. Padahal mah, Geonwoo biasa aja. Nggak ada tuh, rasanya dia pengen Sangwon nggak nikah-nikah. Dia juga nggak pernah merapal doa malapetaka untuk Sangwon. Geonwoo legowo. Yang berlalu, biarlah berlalu.
Geonwoo udah move on, beneran—
“Ternyata nih, Yo.”
Mulai.
“Gue selama ini nggak doyan mixue, gue cuma demen liatin Sangwon makan mixue depan gue.”
Leo mau banting kepalanya ke meja. Kalau ada challenge sepuluh detik tanpa bahas mantan pasti Geonwoo kalah di detik pertama.
“Bodo amat anjing. Gue sih doyan.” Tukasnya kesal sambil melahap sesendok eskrim. Mendengarkan keluh kesah galau kawannya juga butuh tenaga, loh.
Geonwoo makin suntuk. Diaduk-aduknya eskrim yang mulai cair itu.
Sangwon lagi apa ya…
Nih ya, Geonwoo. Sangwon sebenernya lagi—
“Kurangh— kurang gedee…”
Sangwon meringis. Dildo bergerigi keluar masuk di memeknya. Akhir-akhir ini dia macam omega lagi heat. Birahi nggak tuntas-tuntas.
Gini ya, teman-teman. Emangnya kalau kalian sudah pernah dientot mas-mas tampan soft spoken terus badannya bagus kayak Kim Geonwoo, kalian bakal bisa move on dari kontolnya? Nggak kan? Itulah yang dirasakan Sangwon sekarang.
“Mas Geon…” Ucapnya sambil terisak. Kalau sama mantannya itu pasti Sangwon cuma disuruh tiduran aja. Jadi pillow princess.
Tapi, karena ngggak ada Geonwoo, Sangwon sekarang tengah mengangkang lebar di kasur tanpa sehelai kain pun tutupi badannya. Mendesah putus asa diiringi isakan tangis. Pinggulnya naik-naik sesekali, kejar nikmat yang diberikan oleh dildo itu. Memeknya udah merah dan becek. Itilnya tegang mampus minta dimanja sembari lubangnya asyik menelan dildo
Sangwon bayangkan tangan kasar Geonwoo dorong-dorong dildo ke memeknya. Bayangan wajah Geonwoo bikin memek Sangwon kedutan. Lendirnya menetes ke kasur. Dildonya enak garuk-garuk dinding memeknya yang gatal, tapi tetap saja masih kurang.
“Mau sama Mas Geon— hh..”
Sangwon maju mundurkan dildo itu di memeknya. Tangannya gemetar dan lemas. Daritadi dia nggak bisa bucat. Memeknya cuma makin megap-megap. Pentilnya udah kebas karena dia mainin terus dari tadi. Tapi tetap saja, Sangwon nggak bisa capai klimaksnya.
Tiga puluh menit yang lalu, Sangwon lagi nangisin Geonwoo— lagi. Pelototin layar HP yang tampilkan profil WhatsApp Geonwoo yang sudah dia blokir. Sangwon mau ketemuan, mau peluk, mau balikan. Tapi untuk telepon— bahkan unblock pun rasanya gengsi. Plus, apa yang harus dibicarakan kalau telponan sama mantan?
Jadi, setelah frustrasi tak berujung, Sangwon sampai pada sebuah solusi: puaskan diri biar galaunya hilang, lalu tidur.
Tapi, bukannya selesai masalahnya, justru kegiatannya berakhir dengan dirinya yang nggak bisa bucat-bucat.
Kalau sedang nafsu, manusia memang suka lakukan hal impulsif. Untuk kasus Sangwon, yang ia lakukan adalah..
Nelpon mantannya.
“Nggak kuat…” Rengeknya. Tangannya raba-raba kasurnya, cari-cari ponsel yang entah ia letakkan di mana. Ia ambil lalu ia nyalakan.
Sudah kepalang sange, Sangwon nggak bisa mikir.
Nomor Geonwoo ia tekan, unblock, lalu ia tekan ikon telepon di kanan atas,
berdering.
Sangwon lanjutkan kegiatannya sambil lihatin foto profil Geonwoo. Dildo bergerigi itu dengan lancar keluar masuk memek basahnya. Memeknya kedutan tanda akan klimaks sebentar lagi. Sangwon mendesah pendek-pendek. Tubuhnya menggeliat tanpa sadar karena banyaknya stimulasi.
Sangwon bahkan nggak sadar teleponnya sudah diangkat.
“Won…?”
Sangwon mendesah. Ia suka namanya dipanggil begitu sama Mas Geonwoo. Suara si mas yang berat bikin Sangwon tambah birahi. Si cantik dengan semangat sodokin memeknya sendiri. Cairannya nyemprot dikit-dikit ke kasur.
Di sisi lain, Geonwoo wajahnya memerah padam. Dia baru saja sampai kos setelah makan bareng Leo. Tiba-tiba mantannya nelpon dan langsung… desah?
“Mamas…” Panggil Sangwon dari telepon. Anjing. Geonwoo kenal banget sama mode suara Sangwon yang begini.
“Sangwon.. anu, lagi apa..?” Geonwoo tanya. Suaranya tercekat.
Sangwon sendiri sekarang udah nggak tahu malu. Desah-desah sambil dengerin suara Geonwoo di telepon. Bayangan masnya ada diantara kakinya, lamotin memeknya lalu bantu sodokin dildonya, bikin Sangwon pusing.
“Mikirin… nnh…—aah Mas, enakh!”
Geonwoo melotot. Ini… mantannya lagi colmek?
Walah, Geonwoo ngira barusan mau diajak balikan. Padahal dia sudah siap-siap cari topik, ternyata si cantik udah dapet topik panas duluan.
Nggak lama kemudian, desahan kecil-kecil Sangwon makin tinggi nadanya. Diiringi isakan yang tandanya ia sudah diujung pelepasan.
“Mas… bantuinh..”
“Aku dari tadi nggak bisa bucat, sakit…” Rengeknya. Geonwoo sendiri walaupun kaget juga udah ngaceng dengerin suara Sangwon yang seksi itu.
Nggak. Dia nggak boleh begini. Tapi apa boleh buat? Kim Geonwoo tentunya bukan termasuk orang alim yang tahan godaan. Apalagi jika godaan tersebut berupa mantan cantiknya yang minta dienakin lewat telepon. Jadi Geonwoo biarkan dirinya jatuh ke lubang yang dibuat Sangwon.
“Mau dibantuin gimana, sayang?”
Ucapnya. Masih ragu. Namun tangannya sudah elus-elus gundukan kontolnya sendiri. Bayangkan tangan lentik Sangwon yang menyentuhnya.
“Terserah mas… yang penting aku— hh… bucat…”
Geonwoo gigit bibirnya. Tahan desahannya sendiri. Ia buka celananya, biarkan kejantanannya yang sudah tegang keluar dari celana.
“Sekarang kamu lagi apa?”
Sangwon, di ujung telepon sana, tahan dildonya dalam-dalam. Tepat di titik enaknya. Isi memeknya ia pijat-pijat sambil dengerin suara Geonwoo.
“Lagi make dildo… nh.. yang dikasih Mas...”
Fuck. Geonwoo tambah cepat elus kontolnya. Bayangan Sangwon yang putus asa dan coba sampai ke klimaks dengan barang pemberiannya bikin Geonwoo tambah nafsu.
“Pinter, sayang. Pasti nggak enak ya nggak bisa bucat?” Ucapnya sambil kocok kontolnya sendiri. Tangannya naik turun sesuai ritme desahan Sangwon.
“Iyaah- Mas— mas Geon…” Sangwon merengek lagi.
“Pelanin dulu aja nyodoknya, sayang. Bayangin mas lagi rojokin memek kamu.”
Geonwoo rasa dirinya sudah gila. Tapi biarlah. Kepalang nafsu.
Sangwon menurut. Rojokannya ia pelankan. Bikin dildo bergerigi itu perlahan membelah memek tembamnya. Setiap inci dindingnya digaruk nikmat. Bikin Sangwon kelojotan. “Mas…” Desahnya. Pinggulnya menggeliat gelisah karena kurangnya stimulasi. Tapi ia nggak cepatkan sodokannya. Ia mau menurut sama Geonwoo.
“Kalau mas disana, pasti mas tahan pinggang kamu biar nggak gerak-gerak. Pantat kamu mas angkat biar bisa disodokin lebih dalem. Sangwon suka dimentokin kan?”
Sangwon mendesah. Matanya menyayu dan bergulir ke belakang, sisakan putihnya saja. Pertanyaan Geonwoo dibiarkan menggantung begitu saja karena si cantik udah teler, nggak bisa jawab.
Sesuai perintah Geonwoo, dildo itu dilesakkan dalam-dalam. Sundul bundelan sensitifnya bikin dia ngerasa enak. Ia bayangkan dildo itu adalah kontol Geonwoo. Memeknya makin terasa gatal. Mau dikobelin Geonwoo. Dikontolin Geonwoo. Dilamotin Geonwoo. Apa aja yang penting sama masnya itu.
“Sekarang keluarin pelan-pelan, sayang. Sisain ujungnya aja di memek kamu.”
Sangwon menurut. Dildo itu ia tarik perlahan sampai sisa ujungnya saja. Ia merengek ke telepon karena hilangnya stimulasi— padahal sebenarnya kan Sangwon sendiri yang pegang dildonya. Tapi entah kenapa, rasanya tetap Geonwoo yang pegang kendali.
“Mas— masukin lagiih…. Memek aku udah gatel pengen diisi sama mas..”
Lonte. Sangwon lonte banget. Geonwoo kocok kontolnya semangat. Desahan rendahnya bikin memek Sangwon tambah gatal.
“Masukin lagi sekarang, sayang.”
Dalam satu hentakan, seluruh badan dildo itu masuk ke memek kedutan Sangwon. Dindingnya sambut dildo itu dengan baik, memijatnya dan menahannya agar tetap didalam. Ujungnya selalu telak kena titik enaknya yang bikin Sangwon geli sekaligus enak.
“Sempit banget pasti memeknya, sayang. Banjir banget.” Bisik Geonwoo di telepon. Di pikirannya terbayang memek Sangwon yang udah berkali kali dia jamah itu. Pasti cairannya meler sampai kasur. Sangwon itu gampang banget becek, seingatnya. Diajak ciuman aja langsung banjir.
“Jangan lupa dimainin itilnya, cantik. Bayangin jari mas teken itil kamu. Biar tambah banjir.”
“Aah!” Melalui perintah Geonwoo lewat telepon, Sangwon rasakan nikmat di tubuhnya.
“Angh… enak..” Racaunya tak jelas. Liurnya udah ngences sampai kena bantalnya sendiri. Perutnya terasa panas. Kakinya gemetar berusaha tahan posisi mengangkangnya. Memeknya panas dan gatal. Mau bucat.
Memeknya mulai berkedut. Desahannya makin kencang, dan Geonwoo segera sadari bahwa Sangwon sebentar lagi bucat,
“Sekarang coba gerakin dildonya yang cepet. Kayak biasanya mas rojokin kamu kalau kamu udah mau crot.” Ucap Geonwoo. Matanya ia pejamkan. Bayangkan memek tembam Sangwon yang dengan lahap menelan dildo.
Sangwon udah nangis. Enak banget. Seluruh tubuhnya gemetaran. Dildo itu hantam titik manisnya dengan telak. Ujungnya sundul bundelan sensitif yang bikin Sangwon kebelet pipis.
“Mas- Mas Geon…”
Geonwoo naik turunkan tangannya sendiri di kontolnya yang terus keluarkan precum. Dengan modal desahan Sangwon dan friksi dari tangannya sendiri, Geonwoo rasakan dirinya mendekat pada putihnya.
Di sisi lain, Sangwon sudah lemas total. Ponselnya jatuh disamping kepalanya. Tangannya lesakkan dildo dalam-dalam. Dirojok cepat ke memeknya yang lagi keenakan.
“Mamas.. mau pipis…” Ucap Sangwon lirih. Napasnya sudah putus-putus. Suara ‘ah, ah ah’ kecil terdengar dari si cantik. Otaknya nggak berfungsi dengan benar lagi. Cuma ada suara Geonwoo dan rasa enak di memeknya.
“Boleh, sayang. Itilnya sambil dikucekin ya biar enak.” Ucap Geonwoo tertahan. “Kalau mas disitu pasti mas lamotin sampai bucat, biar pipis kamu kemana-mana.”
“Nnh— mauu, mau Mas!”
Sangwon mendesah heboh di telepon. Isakannya terdengar kencang di speaker ponsel Geonwoo.
“Pipisin sekarang, sayang.”
Di kamarnya, Sangwon rasakan memeknya kedutan parah, siap keluarkan cairannya. Dan setelah Geonwoo beri izin, Sangwon langsung pipis banyak, basahi kasur dibawahnya. Memeknya yang memerah keluarkan pipisnya sampai membuat genangan pada kasur. Tubuh si cantik menegang, punggungnya membusur dan matanya sampai berputar ke belakang saat akhirnya ia capai klimaks yang dinanti. Dildo yang ia pegang sampai terpaksa keluar saking derasnya.
Si cantik desahkan nama Geonwoo kuat-kuat. Suara seksinya hantarkan Geonwoo pada klimaksnya. Putihnya keluar juga kenai tangannya sendiri.
“Ngh… mas…” Sangwon masih hilang akal dalam orgasmenya. Posisinya masih mengangkang perkara terlalu lemas untuk pindah. Cairannya masih menyemprot sedikit-sedikit, seiring kejang di tubuhnya. Lubangnya masih berkedut manja sesekali.
Geonwoo sibuk atur napasnya. Kontolnya ia berikan satu dua kocokan terakhir sebelum benar-benar selesai. “Kalau kamu disini, pasti muka cantik kamu yang Mas kotorin pakai peju.” Ucapnya setelah turun dari klimaks.
Mendengarnya, Sangwon mendesah manja. “Jangan ngomong gitu ih, memek aku kedutan lagi tau..”
Geonwoo tertawa kecil. Jatuhkan kepalanya ke bantal. Untuk sementara diantara mereka tak ada yang bicara. Canggung kembali dirasa perkara nafsu sudah dituntaskan. Kini mereka berdua baru sadari keabsurdan momen ini— they’re exes, aren’t they?
Maka Geonwoo coba buka suara. “Yaudah, Won. Mas matiin ya teleponnya.” Feel free to block me again. Pikir Geonwoo. Miris juga hidupnya, sudah pede ditelepon mantan ternyata cuma disuruh bantuin colmek.
Sangwon, di sisi lain, gigit bibirnya gugup. Ia kutuk dirinya sendiri yang nggak tau mau ngomong apa alias mati topik. Tapi jujur, dia juga kangen sama Masnya itu. Things escalated too fast ketika mereka putus. Rasanya masih banyak hal yang belum Sangwon dengar dan jelaskan. Banyak kalimat rumpang dalam hubungan mereka, terpotong oleh ego yang ingin cepat-cepat diberi makan. Maka kata putuslah yang saat itu Sangwon ucapkan— kata yang sebenarnya cuma untuk lindungi dirinya yang enggan disalahkan.
“Mas— bentar,”
“Hm?”
Sangwon melipat bibirnya kedalam. Ia masih suka meragukan lisannya dalam menyuarakan pikirannya. Ia takut akan kalimat yang belum ia katakan, takut akan kemungkinan-kemungkinan yang belum kejadian.
Tapi satu hal dorong Sangwon untuk bicara. Ia takut, paling takut,
Takut kehilangan Geonwoo sepenuhnya bila ia tutup telepon ini.
“Mas..
Besok mau temenin aku ke mixue ngga?”
Sangwon tarik napas gugup. Sebelum menambahkan. “Kalau Mas nggak mau gapapa,” Soalnya Mas pasti masih sakit hati sama aku, maaf ya. Begitu isi pikiran Sangwon— yang entah kenapa belum bisa ia suarakan.
Tapi jawaban yang Sangwon dengar betulan sulit dipercaya bahkan oleh telinganya sendiri.
“Boleh Won. Jam berapa?”
Sangwon tersenyum sampai pipinya sakit. Sungguhan? Geonwoo nggak tolak ajakannya?
“Maleman aja, biar santai.” Ucap Sangwon. Duh, hatinya berbunga-bunga sekarang. Walaupun masih ada gugupnya. “Soalnya aku mau ngomong banyak sama Mas.”
Sementara Geonwoo? Nggak bohong, dia juga senang mau ketemu Sangwon lagi. Tapi nggak bisa dipungkiri ada juga rasa takut. Bagaimana jika semuanya berakhir salah lagi?
Ia gelengkan kepalanya. Setidaknya walaupun nggak balikan, ia harus berikan Sangwon kesempatan untuk bicara, bukan? Agar nggak ada selisih diantara mereka. Geonwoo cuma mau jaga kedamaian, kok— sekalian balikan kalau bisa.
“Oke, besok Mas jemput ya.”
