Actions

Work Header

baby, ride me to the darkness

Summary:

Apa yang dilakukan idol di sela-sela jadwal manggung demi menghibur penggemar?

Rehearsal?
Soundcheck?
Fitting?
Make up?
Atau beristirahat?

Jeno dan Donghyuck juga melakukan itu semua kok, meski ditambah dengan kegiatan lain.
Kegiatan yang panas dengan adrenalin mengalir deras.

Notes:

btw ini headcanon cabul saya aja
jangan sampai terbawa ke dunia nyata 😀☝🏻

btw lagi, judul diambil dari lirik lagu The Weeknd feat Anitta - São Paulo
selamat membaca dan tetap dukung nohyuck (dan 7dream) 🩵

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Tolong behave dikit lah, Jen, Hyuck. Ini masih di tengah tur loh, jadwal ke depan masih padet. Kalian masih perlu jaga stamina, jaga performa. Please banget ini.”

Sesungguhnya itu sudah peringatan kesekian kalinya yang disampaikan manajer kepada Jeno dan Donghyuck. Perusahaan memang tidak bisa berbuat banyak untuk memisahkan Jeno dan Donghyuck, sebab mereka adalah teman satu grup yang pasti terus menjalin kerja sama, setidaknya sampai ada yang mengakhiri kontrak. Yang bisa dilakukan sejauh ini hanya membuat Jeno dan Donghyuck tidak banyak memiliki jadwal pribadi bersama, perusahaan cenderung mengirimkan mereka ke agenda promosi berbeda. Namun di luar itu, termasuk interaksi mereka di luar panggung, jelas tak bisa dikendalikan sepenuhnya.

Apalagi karena Jeno dan Donghyuck sama-sama mengaku tidak menjalin hubungan spesial, jadi perusahaan juga tidak bisa mengambil tindakan yang lebih serius dan otoriter. Mereka hanya berdalih berteman akrab, walau semua orang juga bisa menilai ada yang berbeda dalam keintiman Jeno dan Donghyuck.

Intimasi yang sejatinya sudah bergerak ke ranah lebih intim lagi. Jeno dan Donghyuck sudah di fase saling mengenal luar dalam —dalam arti sebenar-benarnya, tetapi perusahaan tak bisa berbuat banyak karena mereka tetap bekerja profesional sebagai idol.

Bukankah pada akhirnya perusahaan hanya perlu menilai output mereka sebagai idol pencetak cuan?

Karena itulah, perusahaan hanya bisa memerintahkan manajer untuk memperingatkan Jeno dan Donghyuck agar tidak bertingkah kelewat batas, sebab meminta tolong leader Mark atau member yang lain juga sudah tak bermakna mengingat ketujuhnya sepakat untuk menghormati batas privasi masing-masing.

Namun apakah peringatan dari manajer berdampak untuk intensitas keintiman Jeno dan Donghyuck?

Jelas tidak, sekalipun mereka tak lagi terang-terangan menunjukkan sexual tension itu di atas panggung. Namun di luar sorotan lampu dan kamera, Jeno dan Donghyuck bisa tiba-tiba menghilang, yang biasa diikuti dengan binar tak biasa yang kompak mereka perlihatkan keesokan harinya.

Persis seperti sekarang.

Jeno dan Donghyuck duduk bersebelahan dengan aura yang berbeda, dan tidak ada yang perlu lelah menerka penyebabnya. Lebam yang sedikit mengintip di perpotongan bahu dan leher Donghyuck sudah menjadi jawaban, sepertinya titik itu terlewat untuk disamarkan dengan concealer.

“Jenoooo…”

Dan rengekan pelan Donghyuck terdengar memecah keheningan suasana sarapan pagi ini. Biasanya mereka memang makan sendiri-sendiri, tetapi adanya rapat penting yang harus dihadiri dengan para petinggi di kantor pusat membuat para member akhirnya memutuskan sarapan bersama sembari mengikuti Zoom Meeting.

“Hm?”

Jeno hanya menjawab dengan dehaman, tetapi fokusnya terarah utuh hanya untuk Donghyuck. Tak perlu instruksi verbal, Donghyuck hanya menunjuk side dish berbahan lobak yang terletak cukup jauh darinya dan Jeno dengan sigap mengambilkannya.

“Makasiiih…”

Jeno lagi-lagi hanya berdeham, walau tak ada yang bisa menyangkal manisnya senyuman yang terukir karena setelahnya Donghyuck menyandarkan kepala di bahu kekarnya, bahkan menggeleng-geleng manja, bertingkah seolah dirinya seekor kucing yang mencari perhatian dari pemiliknya.

Donghyuck memang kadang bertingkah tak ubahnya seekor kucing manja yang selalu memerlukan atensi. Namun momen ketika dia menjilat kecil batang kemaluan Jeno adalah momen yang dirasa lebih cocok untuk menyamakan Donghyuck dengan kucing.

Kittenish lick, begitulah biasanya Jeno mendeskripsikan jilatan maut penuh goda Donghyuck di alat vitalnya. Jilatan yang selalu berhasil memancing gairah Jeno hingga naik ke ubun-ubun dan membuatnya langsung membanting Donghyuck sebelum melesakkan kemaluannya dalam sekali hentakan keras.

Baiklah, ini sudah berlebihan. Jeno tidak mau mengotori pikirannya dengan sisa-sisa pergumulan panas semalam, sebab dalam beberapa jam ke depan, dia dan Donghyuck harus kembali menyapa para penggemar dari atas panggung tur konser.

Seperti kata manajer mereka, Jeno dan Donghyuck memerlukan stamina untuk menunjukkan performa terbaik sebagai seorang idol. Ada sejumlah dance break yang harus mereka eksekusi dan membuat Donghyuck lelah karena digempur dalam torsi tinggi tak masuk dalam logika Jeno.

Waktu pun terus bergulir dengan mereka masing-masing menikmati waktu di kamar sebelum memasuki masa persiapan pra-konser. Setidaknya mereka tidak perlu rehearsal seserius kemarin karena sekarang sudah hari kedua konser, hanya perlu sedikit membiasakan diri dengan panggung sebelum bersiap untuk sesi soundcheck.

Selama waktu itu pula Jeno dan Donghyuck memilih untuk berpisah. Donghyuck memilih untuk beristirahat di kamar, sedangkan Jeno disidang oleh sang manajer.

“Bisa loh mainnya nanti aja, kan besok udah nggak jadwal konser, kalian bisa lebih leluasa.”

Jeno pun berdecih pelan, “Yang penting kan aku sama Donghyuck tetap oke waktu tampil, Hyung.”

“Awas aja kalau Donghyuck sampai nggak bisa dance maksimal ya.”

“Aman, Hyung,” balas Jeno tanpa beban, sebab dia tahu sendiri, Donghyuck-nya lebih dari tangguh dan kuat untuk dapat menyelesaikan tanggung jawab sebagai penampil serba bisa di atas panggung.

Jawaban itu membuat sang manajer tidak bisa lagi berargumentasi. Faktanya Jeno dan Donghyuck selalu tampil luar biasa, menyamarkan semua konsekuensi yang semestinya mereka tanggung setelah memacu adrenalin lewat persenggamaan.

Dan faktanya lagi, bukan hanya Jeno yang kena sidang. Donghyuck ikut disentil, kali ini oleh coordi noona yang beberapa kali berdecak setelah melihat penampakan tubuh sang idol dalam balutan tank top hitam sebagai pakaian dalam di balik kostum panggungnya kelak.

“Boleh nggak cupangnya jangan berlebihan gini?” keluh sang coordi noona. “Harus ekstra banget nutupinnya.”

“Enggak usah ditutupin aja gimana?”

Tentu saja keluhan itu dibalas dengan jahil oleh Donghyuck, membuat lengannya kemudian dipukul gemas oleh penata busana dan make up-nya.

“Sembarangan,” ujar make up artist-nya. “Untung bajumu banyak yang tertutup, jadi nggak banyak yang harus ditutupi pakai make up. Kamu nggak se-beringas ini kan ke Jeno?”

“Aman…” sahut Donghyuck enteng. “Kita main aman kok.”

Meski standar aman ala Jeno dan Donghyuck sepertinya tidak sesuai dengan ekspektasi para pekerja di balik layar tersebut.

Walau sebenarnya Donghyuck berucap fakta, dia bermain aman dengan hanya meninggalkan jejak di paha dalam Jeno. Kalaupun Jeno tinggal memakai brief boxer, lebam tanda cinta dan gairah itu tak akan terlihat di depan khalayak.

Memang Jeno lah yang sedikit tidak bisa dikontrol semalam. Bibirnya mampir di banyak titik tubuh Donghyuck, menghadiahkan tanda-tanda birahi yang kini membuat make up artist harus bekerja ekstra memberi cukup foundation dan concealer.

Kesadaran itu membuat Donghyuck tanpa sadar tersenyum, sebab benaknya dengan lancang memutar kembali pertukaran gairah nan panas yang dilakoninya bersama Jeno semalam.

Bagaimana Jeno dengan pongah mendongakkan kepala dan memandang rendah Donghyuck yang berlutut sembari mengulum kemaluannya. Peluh tampak mengucur dari pori-pori kulit Jeno, sementara desah menguar tanpa sadar dari belah birainya yang sedikit terbuka.

Tak hanya itu, memori Donghyuck juga dengan lancang memainkan kembali momen ketika Jeno memegang erat kedua sisi pinggang rampingnya sebelum mendorongnya kuat sehingga alat vitalnya melesak sempurna dalam sekali hentakan. Donghyuck hanya bisa terbelalak dan menjerit tertahan, tak kuasa dengan friksi luar biasa yang dirasakan prostat, pun alat vitalnya sendiri yang tergesek hebat di atas liatnya kotak-kotak otot perut Jeno. Sementara itu, Jeno hanya bisa menggeram penuh gairah, selalu nikmat merasakan jepitan hangatnya lubang surgawi Donghyuck, tak peduli sudah seberapa sering mereka melakukannya.

Ugh…

Ingatan cabul itu membuat Donghyuck menggeliat geli sendiri di atas kursi riasnya. Kemaluannya seperti dipelintir, desak birahi di dalam sana membuat jantungnya bergemuruh sendiri.

Beruntung sesi make up-nya kini sudah selesai. Coordi noona juga sudah meninggalkannya sendiri, sehingga Donghyuck bisa dengan leluasa menggunakan ponselnya tanpa harus khawatir diintip oleh perias yang bekerja di belakangnya.

To: Yed

Quickie yuk?

Dan sepertinya bukan hanya Donghyuck yang kalah oleh libido, karena tidak perlu waktu lama untuk Jeno membalas pesan mesum dari temannya tersebut.

From: Yed

Di toilet deket ruangan tempat nyimpen outfit

Aku liat tadi dipasang tanda rusak, jadi harusnya ga akan ada yang ganggu kita

5 menit lagi, deal?

Notes:

meet me di X @morningelv 👋🏻