Chapter Text
To define is to limit. Ranya percaya bahwa memberi definisi pada sesuatu sama saja dengan menetapkan batasan. Kutipan dari Oscar Wilde ini seperti sebuah penopang hidupnya kala ia mengalami krisis identitas dua tahun yang lalu, ia memutuskan untuk tak perlu susah payah melabeli dirinya apa, atau membatasi dirinya untuk melakukan sesuatu, ia membebaskan dirinya dari semua itu ketika membaca kutipan tersebut. Kini hidupnya jauh lebih baik. Kesibukannya hanyalah sekolah, selain itu ia hanya menghabiskan waktu luangnya untuk bercocok tanam dan memberi makan kucing-kucing asing yang sering mampir ke rumahnya.
Namun akhir-akhir ini yang membuatnya semakin merasa bahagia adalah karena ia sedang dekat dengan seseorang, seorang pria imut yang tampan dan terlihat polos seringkali membuat Ranya terus kepikiran pada malam hari. Awal pertemuan mereka adalah ketika pria itu sedang menggambar, Ranya memperhatikan bagaimana ia begitu hati-hati menggambar agar tidak keluar dari garis tepi yang ia buat.
“Kenapa kau takut?”
“Huh?” Pria itu yang tadinya sedang fokus menunduk menatap sketsanya kini menoleh ke kanan mendapati Ranya sedang melihat sketsanya juga.
“Kau terlihat hati-hati sekali agar tidak keluar dari garis tepi.”
“Tentu saja,”
“Kenapa?”
“Agar rapi?” jawab pria itu dengan nada ragu.
“Bukankah seorang seniman biasanya tak peduli dengan hal seperti itu?”
“Aku bukan seniman …”
“Tapi kau berbakat,” ucap Ranya sembari duduk di samping pria itu. “Jangan takut pada hal bisa ditemukan dengan solusi, lebih baik kau fokuskan untuk mengembangi bakatmu dengan tidak memberikannya batasan.”
Pria itu termenung sambil menatap sketsanya, tiba-tiba tangan Ranya terulur. “Aku Ranya.” Tangan gadis itu terbalas, dengan senyuman sang empu. “Aku Rafayel.”
Setelah itu Ranya terbiasa menghabiskan jam istirahatnya bersama Rafayel, ia memakan bekalnya sambil melihat Rafayel mengisi buku gambarnya, terkadang karena Rafayel terlalu sibuk menggambar ia lupa untuk makan hingga akhirnya Ranya menyuapi Rafayel. Jika perut sudah terisi, Ranya suka mendengarkan bagaimana Rafayel menceritakan berbagai hal yang ia gambar atau dalam perspektifnya hal tersebut sangat unik. Ranya juga tak hanya diam saja, ia akan ikut bercerita tentang hal-hal yang ia pelajari dan Rafayel selalu tampak antusias mendengarkannya, membuat gadis itu merasa senang melihatnya.
“Rafayel.”
“Ya?”
Rafayel menghentikan menggambarnya, ia tahu jika Ranya hanya memanggil namanya saja makanya biasanya itu adalah sesuatu yang serius. Pria menutup buku gambarnya dan menatap Ranya yang kini sedang menatapnya juga dengan senyuman tipis.
“Apakah kau akan menolakku?”
“Huh?” Pipi pria itu sontak saja memerah. “A-apa kau berencana melakukannya? Bukankah seharusnya aku?”
Ranya sempat bingung dengan apa maksud Rafayel tapi gadis itu kembali memasang wajah semulanya, “apa kau berpikir aku akan menembakmu?”
“Kau tidak akan melakukannya? Kau tidak menyukaiku? Aku kira kau menyukaiku, jujur saja Ranya, aku menyuka—”
Tiba-tiba saja Ranya memberikan kecupan pada bibir Rafayel, muka pria itu semakin memerah bahkan hingga ke telinganya. “Kurasa hal semacam itu tidak penting, kita berdua tahu bahwa kita menyukai satu sama lain. Jadi untuk apa lagi?”
Rafayel hanya mengangguk. Ranya terkekeh, gadis itu mengambil tangan Rafayel untuk digenggam. “Yang ingin aku tanyakan adalah apakah kau mau tinggal bersamaku?”
Pria itu terkejut mendengarnya, kini Ranya dapat merasakan genggaman Rafayel menguat. “Orang tua sering berpergian, dan saat ini juga baru akan pulang akhir tahun kan? Jadi daripada kau sendirian di rumah, bagaimana jika tinggal di rumahku saja? Kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama.”
Saat Rafayel masih tampak ragu, Ranya kembali membuka mulutnya. “Kau ingin bahwa aku tinggal sendiri bukan? Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.”
Setelah berpikir sejenak, Rafayel pun mengangguk dan Ranya langsung memeluk Rafayel. Hari itu, Rafayel merasa bahwa ini adalah puncak bahagianya. Meski pikirannya berkata waspada dengan badai yang mungkin akan datang setelahnya, Rafayel memutuskan untuk menikmati kebahagiaan ini. Live for the moment.
