Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-12-15
Words:
5,845
Chapters:
1/1
Comments:
11
Kudos:
64
Bookmarks:
6
Hits:
528

perfect

Summary:

Jeonghan, pewaris keluarga konglomerat berusia tiga puluh lima tahun, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya penuh jadwal, perjodohan, dan tuntutan yang tak pernah ia inginkan—hingga suatu hari, ia bertemu Jisoo, pegawai minimarket di Seoul yang menyapanya dengan senyum hangat setiap malam. Sejak saat itu, Jeonghan selalu datang hanya untuk membeli sebotol air mineral, sekadar memastikan Jisoo ada di sana.

Jeonghan menyimpan perasaan yang perlahan tumbuh menjadi perhatian yang dalam. Ia resah saat Jisoo tak masuk kerja, cemas saat tahu Jisoo sakit, dan tanpa sadar mulai terlibat dalam hidup lelaki yang bahkan belum benar-benar mengenalnya.

Jisoo, yang hidupnya jauh dari kata mudah, tak pernah menyangka seseorang seperti Jeonghan akan hadir dengan ketulusan yang tak menuntut apa pun sebagai balasan. Di antara jarak usia, perbedaan dunia, dan luka-luka yang tak pernah diceritakan, keduanya belajar bahwa cinta tak selalu datang dengan gegap gempita. kadang ia hadir lewat kebiasaan, kehadiran yang konsisten, dan keberanian untuk menunggu.

Work Text:

Jeonghan berusia tiga puluh lima tahun, usia yang oleh keluarganya dianggap terlalu matang untuk sekadar “mencari-cari perasaan.” Ia lahir dari nama besar, tumbuh di rumah dengan dinding tinggi dan ekspektasi yang lebih tinggi lagi. Hidupnya rapi, terjadwal, dan dipenuhi pertemuan, baik bisnis maupun perjodohan.

Wajah-wajah cantik, latar belakang sempurna, silsilah keluarga terpandang, semuanya pernah duduk di hadapannya. Namun tak satu pun tinggal lebih lama dari secangkir kopi yang mendingin.

Hingga suatu sore, hujan turun ringan di Seoul, dan Jeonghan berhenti di sebuah minimarket kecil di sudut jalan yang bahkan tak tercatat di rutinitasnya.

Ia hanya berniat membeli air mineral.

Dan di balik kasir, ada seorang lelaki dengan senyum sopan dan suara lembut. Tubuhnya mungil, wajahnya manis tanpa dibuat-buat. Saat mata mereka bertemu, lelaki itu membungkuk kecil dan menyapanya, “Selamat datang.”

Jeonghan tidak tahu sejak detik yang mana napasnya terasa sedikit lebih pendek.

Namanya Jisoo—ia tahu itu dari name tag biru yang tersemat rapi di dada seragam minimarket. Sejak hari itu, Jeonghan mulai mampir. Selalu dengan alasan yang sama. Selalu air mineral. Kadang dua botol, kadang satu. Ia berdiri di antrean yang sebenarnya bisa dilewati dengan mudah jika ia mau, hanya demi mendengar suara Jisoo menyebutkan total belanja dan mengucapkan, “Hati-hati di jalan.”

Ia tidak pernah mengajak bicara lebih jauh. Tidak menanyakan apa pun. Ia hanya mengamati cara Jisoo tersenyum pada pelanggan lain, cara tangannya cekatan memindai barcode, cara alisnya sedikit berkerut saat mesin kasir bermasalah. Hal-hal kecil yang entah sejak kapan menjadi penting.

Asistennya, Minjae, tentu menyadarinya.

“Direktur, ini air mineral keempat hari ini,” katanya suatu pagi, saat Jeonghan kembali keluar dengan botol air yang bahkan belum disentuh. “Anda punya kulkas di mobil. Dan di kantor. Dan di rumah.”

Jeonghan hanya melirik botol itu sebentar. “Yang ini dinginnya pas.”

Minjae ingin membantah, tapi ia memilih diam. Muak, iya. Bingung, jelas. Namun di saat yang sama, ia tak bisa menahan rasa kagum yang aneh pada Jeonghan, pria yang tak pernah tergoyahkan oleh siapa pun, kini mengatur jadwalnya demi seorang kasir minimarket.

Suatu hari ketika Jisoo tidak masuk kerja, Jeonghan merasakannya lebih dulu daripada notifikasi rapat yang tertunda. Kasir digantikan pegawai lain. Tidak ada suara lembut itu. Tidak ada senyum kecil yang dikenalnya. Jeonghan berdiri terlalu lama di depan rak minuman, memandangi botol air seolah berharap waktu bisa berbalik.

Ia kembali ke mobil dengan dada terasa kosong.

“Dia libur?” tanyanya pelan, entah pada siapa.

Sejak saat itu, keresahan datang tanpa undangan. Jeonghan mendapati dirinya mencari-cari, melihat jadwal shift di papan kecil dekat kasir, mengingat hari-hari Jisoo bekerja, bahkan sengaja memperpanjang perjalanan pulang demi memastikan minimarket itu masih buka.

Ia rela membatalkan jamuan makan malam, menunda rapat, menukar rencana, hanya untuk berdiri di depan kasir itu selama dua menit.

Minjae akhirnya menyerah mengomel. “Kalau Anda mau,” katanya suatu kali, “saya bisa cari tahu tentang dia.”

Jeonghan menggeleng cepat. “Tidak.”

Ia tidak ingin Jisoo menjadi informasi. Ia ingin tetap menjadi kebetulan kecil yang manis, tempat hatinya berlabuh diam-diam.

Di antara perjodohan yang terus dipaksakan dan hidup yang seharusnya sudah mapan, Jeonghan menemukan sesuatu yang belum pernah ia miliki. Ketertarikan yang sederhana, tulus, dan membuatnya rela menunggu. Bukan pada pesta mewah atau ruang rapat megah, melainkan di balik kasir minimarket, pada lelaki mungil yang setiap hari menyapanya seolah Jeonghan hanyalah pelanggan biasa.

Dan entah sejak kapan, itu sudah lebih dari cukup.

 

◆◆

 

Malam itu hampir pukul sebelas ketika Jeonghan akhirnya melempar map rapat ke kursi belakang mobil dengan desahan kesal.

“Rapat tiga jam cuma buat keputusan yang seharusnya bisa selesai dalam tiga puluh menit,” gerutunya, menyandarkan kepala ke sandaran jok. “Mereka cuma menguji kesabaran.”

Minjae yang duduk di depan hanya terkekeh lelah. “Setidaknya sekarang sudah selesai, Direktur.”

Mobil melambat tanpa perlu instruksi ketika mereka melewati minimarket itu. Lampunya masih menyala, namun pintu teralis sudah diturunkan setengah, tanda klasik bahwa toko hampir tutup.

Jeonghan menegakkan punggungnya seketika.

“Aish, sialan,” gumamnya. “Aku jadi terlambat, kan.”

Minjae melirik ke spion, sudah hafal pola ini. “Kita pulang saja, besok—”

“Aku turun sebentar.”

Kalimat itu jatuh cepat. Pintu mobil terbuka sebelum Minjae sempat menyelesaikan ucapannya.

Jeonghan melangkah mendekat, sedikit menunduk untuk melewati celah teralis. Lonceng pintu berbunyi pelan. Udara minimarket terasa lebih sunyi dari biasanya, rak-rak sudah rapi, dan lantai tampak basah mengilap.

Lalu suara itu terdengar.

“Maaf—minimarketnya sudah tutup.”

Jeonghan mendongak.

Jisoo berdiri beberapa langkah darinya, memegang gagang pel, rambutnya sedikit berantakan, seragamnya tampak lebih longgar tanpa rompi kerja. Di jam selewat ini, tanpa antrean dan hiruk-pikuk pelanggan, Jisoo terlihat… lebih nyata. Lebih dekat.

Jeonghan hanya menatap.

Untuk sesaat, ia lupa bagaimana caranya bereaksi. Wajahnya tetap datar seperti kebiasaan, namun di dalam dadanya, sesuatu bergetar hebat. Ia bahkan tidak sadar bahwa ia berhenti bernapas sampai dadanya terasa sesak.

Jisoo tersenyum, senyum yang sama ramah dan hangatnya seperti siang hari, seolah jam sebelas malam tak membuatnya lelah.

Ia meletakkan pel ke samping dan melangkah mendekat, memiringkan kepala sedikit. “Oh?”

Matanya menyipit samar, mencoba mengingat.

“Kamu yang biasanya beli air mineral, kan?” katanya, nada suaranya terdengar cerah. “Ah—aku masih punya satu. Kamu mau?”

Jeonghan merasa dunia berhenti bergerak.

Ia… diingat.

Bukan sebagai pelanggan anonim. Bukan sekadar pria yang mampir. Tapi sebagai dirinya— pria yang selalu membeli air mineral.

Jeonghan membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Kata-kata menguap begitu saja. Akhirnya, ia hanya bisa mengangguk pelan, seperti seseorang yang kehilangan kemampuan berbicara karena satu pikiran sederhana: Jisoo mengenalinya.

Jisoo tersenyum lebih lebar, lalu berbalik, mengambil sebotol air dari bawah meja kasir. Ia menyerahkannya dengan kedua tangan, gerakan kecil yang terasa begitu tulus.

Jeonghan meraih dompetnya dengan refleks. “Aku—”

“Nggak usah,” potong Jisoo lembut sambil menggeleng. “Aku nggak nyuruh kamu beli. Aku cuma… takut kamu haus.”

Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa, rasanya seperti sesuatu yang hangat menyusup ke sela-sela dada Jeonghan.

Ia berhenti, lalu menurunkan dompetnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, senyum kecil muncul di wajahnya. Begitu tipis, nyaris tak terlihat, tapi nyata. “Terima kasih,” ucapnya pelan, suaranya lebih lembut dari biasanya.

Jisoo mengangguk, tampak puas, lalu kembali ke pekerjaannya. Jeonghan berbalik dan melangkah keluar, lonceng pintu kembali berbunyi pelan di belakangnya.

Saat ia masuk ke mobil, senyum itu masih bertahan.

Minjae meliriknya sekilas, lalu menghela napas panjang. “Direktur… Anda kelihatan seperti orang yang baru menang lotre.”

Jeonghan tidak menjawab. Ia hanya memegang botol air itu dengan hati-hati, seolah benda tersebut rapuh dan berharga.

Mereka tidak langsung pergi.

Mobil tetap terparkir di seberang jalan. Jeonghan menatap minimarket itu tanpa berkata apa-apa, menunggu sampai lampu dipadamkan, sampai Jisoo menurunkan teralis sepenuhnya, mengunci pintu, dan berjalan menjauh dengan tas kecil di pundaknya.

Baru setelah ia yakin Jisoo benar-benar pergi dengan aman, Jeonghan bersandar ke kursinya.

“Ayo pulang,” katanya pelan.

Dan untuk pertama kalinya setelah hari yang panjang dan melelahkan, malam itu terasa… sempurna.

 

◆◆

 

Sore itu, minimarket terasa lebih ramai dari biasanya, bukan karena jumlah pelanggan, melainkan karena jantung Jeonghan yang berdetak terlalu cepat sejak ia melangkah masuk.

Dari kejauhan, ia langsung melihat Jisoo yang sedang menata minuman di rak pendingin. Lelaki itu berjongkok di depan kulkas, menyusun botol-botol dengan telaten, seolah dunia di sekitarnya tak lebih dari deretan label dan suhu dingin.

Jeonghan menelan ludah.

Aneh sekali. Ia tak pernah setegang ini. Bukan di ruang rapat, bukan di depan investor asing, bukan saat menandatangani kontrak bernilai miliaran. Namun berdiri di lorong sempit minimarket, hanya beberapa langkah dari Jisoo, membuat bahunya terasa kaku dan pikirannya kosong.

Ia berdiri di samping Jisoo tanpa suara.

Jisoo mendongak, matanya langsung bertemu dengan mata Jeonghan. Senyum itu muncul lagi  tanpa beban. “Kamu mau beli air mineral?”

Tanpa menunggu jawaban, Jisoo meraih satu botol dari barisan paling belakang kulkas dan menyerahkannya pada Jeonghan. “Yang di belakang suhunya lebih dingin,” katanya sambil tersenyum. “Lebih enak.”

Lalu ia kembali menata minuman, seolah barusan tak melakukan apa-apa yang luar biasa.

Jeonghan, di sisi lain, lagi-lagi hampir lupa cara bernapas.

Ia menatap botol air di tangannya, dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang tak masuk akal. Diperhatikan dengan cara yang begitu sederhana dan begitu wajar, hal yang pasti dilakukan Jisoo pada banyak pelanggan lain. Namun otak Jeonghan memilih untuk berlebihan, membesarkan setiap detail kecil sampai terasa istimewa.

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Jeonghan berjongkok.

Jisoo terhenti dan menoleh, jelas bingung. “Cari minuman lain?”

Jeonghan menggeleng. Mulutnya terbuka sedikit, lalu menutup lagi. Ia ingin bicara. Ingin mengatakan sesuatu, apa saja, namun rasa gugup itu menahan kata-katanya di tenggorokan. Ia takut terdengar canggung, takut lidahnya justru mengkhianatinya dengan kalimat yang patah.

Jisoo menunggu sebentar, lalu mengangkat bahu kecil dan kembali bekerja.

Keheningan itu membuat Jeonghan memberanikan diri.

“Namaku Jeonghan.”

Jisoo menoleh lagi, tersenyum hangat. “Aku Jisoo.”

“Aku tahu,” sahut Jeonghan refleks, tanpa sempat memikirkan kalimatnya.

Jisoo tertawa kecil, paham. “Name tag-ku kelihatan jelas, ya.”

Jeonghan ikut tersenyum kaku.

“Terus,” lanjut Jisoo sambil menyusun botol terakhir, melirik ke arah Jeonghan yang masih jongkok di sebelahnya, “kenapa jongkok di sini? Mau bantu aku nata minuman?”

Nada itu jelas bercanda. Namun entah kenapa, Jeonghan menanggapinya dengan sangat serius.

“Boleh?”

Untuk sesaat, Jisoo terdiam, lalu tertawa lagi, kali ini lebih lepas. Tawa itu merdu, mengalir begitu saja, dan entah bagaimana membuat dada Jeonghan terasa hangat. Ia tak bisa menahan senyumnya sendiri. Jisoo memang sangat manis. senyumnya cantik, mata yang menyipit itu terasa candu untuk dipandangi terlalu lama.

Jisoo tertawa melihat reaksi Jeonghan, dan tanpa sadar, ada rasa bangga kecil yang menyelinap di dadanya. Ia tak tahu kenapa, tapi melihat seseorang tersenyum karena dirinya terasa… menyenangkan.

Lalu, tanpa peringatan, Jeonghan bertanya, “Kamu punya pacar?”

Tawa Jisoo terhenti. Ia mendengus pelan, pura-pura kesal. “Nggak ada yang mau pacaran sama orang sibuk kayak aku.”

Jeonghan, dengan pikiran sempitnya yang terlalu jujur, langsung menimpali, “Aku mau.”

Hening sepersekian detik.

Lalu Jisoo tertawa lagi, lebih keras kali ini, menganggapnya candaan ringan di sore hari. Ia tak tahu, sama sekali tidak tahu, bahwa Jeonghan tidak sedang bercanda.

Dan Jeonghan hanya menatapnya, dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan, menyadari satu hal sederhana namun berbahaya. Bahwa ia sudah terlanjur jatuh terlalu dalam, pada seseorang yang bahkan belum menyadari keseriusan itu.

 

◆◆

 

Malam berikutnya, Jeonghan kembali datang ke minimarket dengan kebiasaan yang sama. Ia melangkah dengan tenang, botol air mineral sudah terbayang di tangannya. Namun begitu ia masuk, sesuatu terasa salah.

Jisoo tidak ada.

Jeonghan berhenti di depan kasir lebih lama dari seharusnya, matanya menyapu ruangan, berharap senyum itu muncul dari balik rak atau pintu gudang kecil. Tapi tidak ada. Hanya pegawai lain yang sibuk menghitung uang.

Pandangan Jeonghan jatuh pada papan kecil di samping kasir, sebuah jadwal kerja.

Hari ini bukan hari libur Jisoo. Ia tahu itu. Terlalu tahu, karena setiap hari, tanpa disadari siapa pun, ia membaca jadwal itu diam-diam, menghafalnya lebih baik daripada agenda rapatnya sendiri.

Dadanya mengencang. Ia mulai khawatir.

Jeonghan kembali ke mobil dengan langkah cepat. Begitu duduk, ia langsung menoleh ke Minjae. “Tanya ke pegawai minimarket,” katanya singkat. “Di mana Jisoo.”

Minjae menghela napas panjang. “Direktur, ini sudah kelewatan.”

“Bilang apa saja,” potong Jeonghan. “Bilang kalau kamu sepupu jauh. Teman lama. Apa pun. Aku mau tahu.”

Minjae mendengus, tapi tetap turun dari mobil. Dari balik kaca, Jeonghan hanya bisa menunggu dengan gelisah, jari-jarinya mengetuk lutut tanpa ritme.

Beberapa menit terasa terlalu lama.

Akhirnya Minjae kembali, membuka pintu mobil dengan ekspresi aneh. “Saya dapat alamatnya.”

Jeonghan menoleh tajam. “Kok bisa?”

“Saya beri sedikit uang ke pegawainya,” jawab Minjae datar. “Dan… dia nggak ragu kasih alamat Jisoo.”

Jeonghan terdiam, antara terkejut dan tak percaya. “Kamu gila. Tapi pegawai itu lebih gila."

“Dia cuma butuh uang,” sahut Minjae. “Dan katanya Jisoo sakit.”

Tanpa berpikir panjang, Jeonghan berkata, “Ke alamat itu. Sekarang.”

Mobil melaju menembus malam Seoul, meninggalkan lampu-lampu kota menuju kawasan yang lebih sunyi.

Rumah itu sederhana, dengan atap rendah, cat dinding yang mulai pudar, dan gerbang kecil yang tampak sering berdecit. Jeonghan hanya bisa duduk diam di dalam mobil. Ia tidak mungkin turun dan mengetuk pintu. Mereka bahkan belum bisa disebut teman. Hanya dua orang yang saling tahu nama.

Lalu pintu rumah itu terbuka.

Jisoo keluar perlahan.

Jeonghan menahan napas.

Wajah yang biasanya cerah kini pucat. Jisoo mengenakan jaket tebal dan beanie yang hampir menutupi matanya. Kedua tangannya terlipat di depan dada, tubuhnya sedikit membungkuk seolah menahan dingin. Pemandangan itu membuat dada Jeonghan terasa perih. Ia ingin turun. Ingin mendekap tubuh mungil itu, mengusir dingin yang membuatnya menggigil.

Namun ia tidak bergerak.

“Direktur, apa saya turun saja,” ujar Minjae pelan.

“Jangan,” kata Jeonghan cepat.

Jisoo hanya berjalan ke dekat gerbang untuk membuang sampah. Saat hendak masuk kembali, suara seorang perempuan tua terdengar nyaring.

“Jisoo!”

Langkah Jisoo terhenti.

“Mana uang buat bayar sewa?” suara itu keras, tajam. “Udah hampir dua bulan kamu nunggak!"

Jisoo menunduk. “Maaf, bu… minggu depan aku bakal bayar sekaligus. Janji."

“Alasan kamu itu-itu terus,” dengus perempuan itu. “Jangan janji-janji lagi.”

Jeonghan mengepalkan tangan di dalam mobil. Amarah naik begitu saja, bercampur dengan rasa tak tega. Bagaimana bisa perempuan itu berbicara kasar pada Jisoo yang jelas sedang sakit dan menggigil di udara malam?

Begitu perempuan itu pergi, Jeonghan membuka pintu mobil.

“Direktur—” Minjae terlambat.

Jeonghan sudah berdiri di belakang Jisoo, menepuk pundaknya dengan hati-hati. Jisoo tersentak, berbalik dengan wajah terkejut.

“Jeonghan?” suaranya serak.

“Jisoo. Kamu udah ke dokter?” tanya Jeonghan langsung.

Jisoo menggeleng kecil. “Besok pagi juga sembuh,” katanya pelan. “Aku sudah beli obat.”

Jeonghan menghela napas kasar, frustrasi, sementara Jisoo hanya menatapnya bingung. Mereka memang tidak sedekat itu, namun bahkan Jisoo bisa merasakan kekhawatiran yang jelas di wajah pria di depannya.

Jeonghan akhirnya berkata dengan tegas, “Aku mau beli bubur. Tunggu di dalem rumah. Kalau nanti ada yang ketuk pintu, itu aku.”

“Tapi—” Jisoo terdiam, ragu, tapi akhirnya mengangguk.

Ia masuk ke rumah, sesekali menoleh ke belakang, melihat Jeonghan berlari kecil ke mobil dan pergi.

Jeonghan menyuruh Minjae menyetir cepat. Mereka berhenti di sebuah restoran sederhana, membeli bubur dan sup hangat, lalu kembali ke rumah itu dengan cepat.

Jeonghan mengetuk pintu.

Dan benar. Jisoo membukakan pintu.

Jaket dan beanie-nya sudah dilepas. Hal itu membuat Jeonghan sedikit kesal, karena ia tahu Jisoo tadi kedinginan. Namun begitu ia melangkah masuk, ia menyadari rumah itu begitu hangat. Lantainya mengalirkan kehangatan halus dari penghangat yang dinyalakan.

Jeonghan membuka bungkusan makanan, menata semuanya tanpa bertanya, bahkan mengambil mangkuk milik Jisoo tanpa permisi. Jisoo terlalu lelah untuk protes. Ia membiarkan saja, lalu duduk di lantai ruang tengah.

Tak ada sofa. Tak ada kursi. Hanya karpet tebal yang cukup hangat.

Jeonghan ikut duduk di hadapannya, menyodorkan mangkuk bubur dengan hati-hati.

Dan di ruang kecil itu, di antara keheningan dan uap makanan hangat, jarak yang selama ini mereka jaga perlahan mulai menghilang.

“Kenapa kamu tiba-tiba di sini?” Nada suara Jisoo lirih, tapi pertanyaannya beruntun. “Kok tahu rumahku di sini? Terus… kok tahu aku sakit?”

Ia menatap Jeonghan penuh tanda tanya, alisnya berkerut, matanya masih terlihat sayu karena demam. Namun Jeonghan tidak menjawab. Ia hanya mendorong mangkuk bubur itu lebih dekat.

“Makan,” katanya singkat.

Jisoo tidak bergerak. Ia tetap duduk, memeluk lututnya, jelas ingin jawaban lebih dari sekadar perintah. Keheningan menggantung beberapa detik, membuat Jeonghan berdecak pelan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Jeonghan mengambil mangkuk itu, mengaduk buburnya perlahan hingga uapnya sedikit berkurang. Ia menyendok satu suapan penuh, lalu mengangkatnya ke depan mulut Jisoo.

“Makan,” ulangnya, lebih tegas.

Jisoo merapatkan bibirnya, menggeleng kecil. Bahunya naik, seperti anak kucing yang terpojok.

Jeonghan menatapnya tajam, namun tatapan itu segera runtuh ketika ia benar-benar melihat wajah Jisoo.

Pucat. Lelah. Dan mata itu… penuh waspada, penuh takut, seolah Jisoo tak tahu apakah ia aman atau tidak.

Jeonghan melemah.

Ia menurunkan sendok itu perlahan, lalu menghela napas panjang. “Aku tanya temanmu di minimarket,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah. “Aku minta alamatmu.”

Jisoo terkejut, matanya membulat sedikit.

“Aku dengar kamu sakit,” lanjut Jeonghan, tanpa menatapnya. “Cuma itu.”

Ia meletakkan mangkuk kembali di depan Jisoo. “Sekarang makan dulu. Habis itu minum obat.” Jeonghan menatapnya serius. “Kalau kamu mau tahu apa pun, nanti aku jelasin. Aku janji. Tapi setelah kamu makan.”

Jisoo terdiam.

Beberapa detik berlalu, lalu ia perlahan mengulurkan tangan, mengambil sendok itu. Gerakannya lemah, tapi nyata. Ia menyendok bubur dan memakannya pelan-pelan, seolah setiap suapan membutuhkan tenaga ekstra.

Jeonghan mengembuskan napas lega yang sejak tadi ia tahan.

Ia tidak berkata apa-apa lagi. Hanya duduk di sana, menatap Jisoo dalam diam, melihat betapa rapuhnya lelaki itu saat ini, betapa sunyinya ruang kecil ini, betapa dunia di luar sana tampak terlalu keras untuk seseorang seperti Jisoo.

Dan di dalam hati Jeonghan, satu keinginan tumbuh semakin kuat dan tak terbantahkan,

Ia ingin melindungi Jisoo. Dari dingin. Dari kesepian. Dari dunia yang terlalu kejam untuk senyum selembut itu.

Mereka membiarkan sunyi membentang di antara mereka, menjelma teman yang tak menuntut apa-apa. Jisoo masih berusaha menghabiskan buburnya, menyendok pelan, sementara Jeonghan sibuk memperhatikan cara tangan Jisoo sedikit bergetar, cara bahunya naik turun setiap kali ia menelan, cara wajahnya mengeras menahan mual.

Saat isi mangkuk tinggal setengah, Jisoo mendorongnya menjauh. “Aku nggak bisa makan banyak,” katanya jujur. “Kalau perutku kepenuhan, aku bisa muntah.”

Jeonghan tidak memaksa. Ia hanya mengangguk, lalu meraih tablet obat yang tadi diletakkan di samping, membuka kemasannya dengan cekatan, dan menyodorkannya bersama segelas air.

“Minum dulu obatnya.”

Jisoo menurut saja. Ia sendiri bingung, kenapa ia begitu patuh pada Jeonghan, orang yang bahkan belum ia kenal sepenuhnya.

Setelah itu, hening kembali turun.

Jeonghan akhirnya berkata pelan, “Tidur. Kamu harus istirahat.”

Jisoo menggeleng. “Kamu udah janji,” katanya lirih. “Aku boleh tanya apa aja.”

Jeonghan menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pasrah. Ia tahu ia tak bisa menghindar lagi.

“Sandaran ke tembok ya,” katanya. “Biar nggak capek.”

Dan kini mereka duduk berdampingan, punggung bersandar pada dinding yang hangat. Jisoo menoleh, menatap profil Jeonghan dengan ragu.

“Sebenernya… kamu punya maksud apa sama aku?” tanyanya akhirnya. “Kenapa repot-repot datang pas aku sakit?”

Jeonghan terdiam lama, mencari kata yang tepat. Pada akhirnya, ia berkata pelan, “Aku cuma… ngerasa harus.”

Jawaban itu jelas tidak memuaskan, tapi Jisoo memilih tidak mendesak. Ia mengalihkan pertanyaan, tentang pekerjaan Jeonghan, tentang umurnya.

Ketika ia tahu siapa Jeonghan sebenarnya, Jisoo terkejut. “Terus… kenapa kamu selalu beli air mineral?” tanyanya. “Kamu pasti punya stok sendiri di mobil atau kantor kan.”

Jeonghan tersenyum kecil. “Aku nggak butuh air mineral.”

“Terus?”

“Aku cuma mau lihat kamu, Jisoo.”

Jisoo terdiam, bingung. Jeonghan menunduk, suaranya menjadi lebih pelan. “Aku mulai perhatiin kamu sejak dua bulan lalu.”

“Dua bulan?” Jisoo mengerutkan dahi. “Aku pikir kamu cuma kerja di sekitar situ, jadi sering datang.”

Jeonghan menggeleng. “Lebih dari itu.” Ia menarik napas. “Aku nggak mau deketin kamu dengan cara murahan. Aku mau kamu ingat aku karena kebiasaan, bukan karena aku yang maksa. Aku mau kamu kenal aku karena kamu sendiri yang mau.”

Ia tersenyum pahit. “Tapi hari ini gagal. Aku terlalu ikut campur. Padahal kamu bahkan baru tahu namaku.”

Jisoo menyimak dalam diam.

Jeonghan menoleh padanya. “Jisoo, sebenernya ada banyak orang yang orangtuaku kenalkan,” katanya jujur. “Mereka mau aku menikah.”

Jisoo tak tahu harus bereaksi bagaimana dengan informasi itu.

“Aku jatuh cinta sama kamu sejak pertama kali dengar suara kamu, Jisoo,” lanjut Jeonghan. “Aku nggak pernah ngerasa kayak gini sebelumnya.”

Ia menggeser tubuhnya sedikit, menghadap Jisoo. “Tapi jangan jadiin ini beban. Aku cuma jawab pertanyaan kamu. Aku nggak butuh kamu suka sama aku sekarang. Aku nggak butuh kamu balas perasaan aku.”

Jeonghan menatapnya dengan sungguh-sungguh. “Tapi… boleh nggak kalau aku kenal kamu lebih dekat? Aku mau buktiin kalau aku nggak main-main.”

Jisoo menatapnya lama. “Jeonghan…” hanya itu yang keluar dari bibirnya.

Jeonghan tersenyum lembut. “Aku bakal lindungin kamu mulai sekarang. Aku mau jadi orang yang selalu ada buat kamu. Dan aku bakal pastiin kamu suka sama aku... tanpa paksaan.”

Entah kenapa, kalimat itu terdengar menggelikan bagi Jisoo. Ia terkekeh kecil, lemah, tapi tulus. Ia tidak membantah. Tidak juga mengiyakan.

Ia hanya berkata, “Terima kasih.”

Jeonghan mengangguk pelan, meski ia sendiri tak tahu pasti arti dari ucapan itu.

 

◆◆

 

Tiga hari setelah itu, sore turun bersama hujan yang rintiknya rapat dan dingin. Dari dalam mobil, Jeonghan menyuruh Minjae menghentikan laju tepat di depan minimarket, seolah tempat itu adalah tujuan utama dari seluruh perjalanan panjangnya.

Sepanjang jalan dari bandara, Jeonghan tak berhenti mengoceh.

“Aku kayaknya mau meninggal deh..., soalnya udah tiga hari nggak lihat Jisoo,” keluhnya untuk kesekian kali. “Tiga hari, Minjae. Padahal aku cuma ke Jeju, tapi rasanya kayak jauh banget.”

Minjae hanya menghela napas, sudah kebal. Ia tahu, bisnis di Jeju berjalan lancar. Yang tidak lancar hanyalah hati bosnya yang ditinggal tiga hari penuh.

Begitu mobil berhenti, Jeonghan langsung membuka pintu dan berlari kecil, menunduk menghindari hujan. Jaketnya sedikit basah saat ia masuk ke dalam minimarket, napasnya masih tertahan oleh rintik yang mengejarnya.

Dan di sana, pemandangan pertama yang ia lihat adalah punggung Jisoo.

Jisoo berdiri di depan rak makanan ringan, menyusun jajanan dengan fokus, rambutnya sedikit lebih panjang dari terakhir kali Jeonghan melihatnya. Entah kenapa, pemandangan sederhana itu cukup membuat Jeonghan tersenyum kecil.

Ia berdiri di samping Jisoo, lalu berdehem pelan.

Jisoo menoleh.

Senyumnya langsung merekah begitu melihat siapa yang ada di sebelahnya. “Oh.”

Jeonghan merasa dadanya menghangat. “Apa kabar?”

Jisoo terkekeh kecil. “Aku udah sehat banget.”

Matanya lalu turun, memperhatikan Jeonghan yang tampak sedikit lelah, rambutnya tak serapi biasanya, lingkar mata samar terlihat. “Kamu dari mana aja, Jeonghan?” tanyanya. “Tiga hari kamu nggak mampir.”

Itu dia. Jeonghan menunggu pertanyaan itu. Ia pun tersenyum lebar, seperti anak kecil yang akhirnya mendapat aba-aba untuk bercerita. “Aku ke Jeju, Soo. Ada urusan kerja.” Ia memiringkan kepala sedikit. “Kenapa? Kamu cariin aku? Kamu kangen ya?”

Jisoo mendengus pelan, pura-pura sibuk menata jajanan agar tak perlu menatap Jeonghan terlalu lama. “Ge-er,” gumamnya.

Reaksi itu justru membuat Jeonghan gemas.

“Kamu selesai shift jam berapa?” tanyanya.

Jisoo melirik jam digital di dinding, lalu kembali menatap Jeonghan. “Tiga puluh menit lagi.”

Jeonghan tersenyum puas, seolah baru saja mendapatkan sesuatu yang penting. “Oke,” katanya ringan. “Aku tunggu di mobil. Nanti pulang sama aku, ya.”

Jisoo tidak bertanya kenapa. Tidak pula menolak. Ia hanya mengangguk kecil, lalu tersenyum. Senyum yang sederhana, namun terasa seperti lampu hijau yang menyala terang di dada Jeonghan.

Dan sore yang basah oleh hujan itu, tiba-tiba terasa jauh lebih hangat dari seharusnya.

Tiga puluh menit berlalu cepat.

Pintu minimarket terbuka, dan Jisoo melangkah keluar dengan pakaian yang sudah berganti. Ia mengenakan sweater besar yang membuat tubuhnya terlihat semakin kecil, ransel hitam tersampir rapi di punggungnya. Rambutnya masih sedikit lembap, entah karena hujan atau sisa keringat setelah bekerja.

Jeonghan menurunkan kaca jendela mobil. “Jisoo.”

Jisoo berlari kecil, membuka pintu, lalu duduk di kursi belakang, tepat di samping Jeonghan. Ia sempat mencondongkan badan ke depan, menyapa sopan, “Halo,” pada Minjae yang berada di balik kemudi.

Minjae mengangguk singkat. “Halo, Jisoo.”

“Anggep aja dia nggak ada,” ujar Jeonghan santai.

Minjae hanya menggeleng-gelengkan kepala, sudah terlalu lelah untuk membalas.

Mobil melaju, namun arah yang ditempuh bukan jalan menuju rumah Jisoo. Lampu-lampu kota berganti menjadi deretan bangunan sederhana. Jisoo tidak bertanya. Ia hanya duduk tenang, mengikuti saja, mempercayakan dirinya pada arah yang dipilih Jeonghan.

Mereka akhirnya berhenti di sebuah restoran barbeque sederhana. Lampunya hangat, jendelanya sedikit berembun oleh asap panggangan.

Mereka turun bertiga.

Jisoo baru menyadari sesuatu ketika mereka duduk bersama di satu meja.

Jeonghan memesan satu set barbeque lengkap. Dan saat daging datang, Minjae langsung berdiri, mengambil penjepit, dan mulai memanggang dengan cekatan. Alasan Jeonghan mengajak Minjae makan bersama mereka pasti agar ada yang memenggangkan daging.

Jisoo menoleh ke Jeonghan, lalu ke Minjae, akhirnya tertawa kecil. “Oh… jadi aku tamu, ya.”

Jeonghan tersenyum puas. “Kamu makan aja.”

Minjae melirik Jeonghan datar. “Saya ini asisten, tapi kadang jadi chef dadakan juga.”

“Minjae itu multitalenta, Soo." sahut Jeonghan tanpa dosa.

Jisoo hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala. Menyebalkan, jelas. Jeonghan memang aneh. Tapi entah kenapa, ia tidak kesal. Justru ada rasa hangat yang muncul, melihat dua orang itu duduk bersamanya, seolah ia memang sudah termasuk dalam dunia mereka.

Dan di tengah asap barbeque yang mengepul, tawa kecil yang sesekali lolos, Jisoo menyadari satu hal sederhana, ia merasa nyaman.

 

**

 

Beberapa jam setelah itu, mereka sudah berada di rumah Jisoo.

Minjae diusir pulang tanpa banyak perlawanan, hanya dengan satu tatapan datar dan ucapan singkat dari Jeonghan. Kini, rumah kecil itu kembali sunyi, hanya diisi oleh mereka berdua dan udara malam yang dingin.

Di lantai ruang tengah, mereka duduk berhadapan dengan dua gelas soju.

“Biar anget,” kata Jeonghan beberapa saat lalu.

Jisoo menurut saja. Entah sejak kapan ia berhenti mempertanyakan keputusan-keputusan kecil saat bersama Jeonghan.

Pandangan Jeonghan lalu tertuju ke sudut ruangan. Sebuah gitar bersandar di sana, terlihat sering dipakai. “Kamu bisa main gitar?”

Jisoo mengangguk cepat, dagunya sedikit terangkat. “Bukan bisa,” katanya, lidahnya mulai agak berat. “Aku jago.”

Jeonghan terkekeh. Gemas sekali. Cara Jisoo berbicara saat tipsy terasa jujur dan polos, tanpa disaring.

“Boleh aku pakai?” tanya Jeonghan sambil meraih gitar itu.

Jisoo mengangguk antusias.

Jeonghan duduk lebih tegak, memposisikan gitar dengan nyaman, lalu mulai memetik senarnya. Nada pertama terdengar lembut, tenang. Ia menyanyikan Perfect dari Ed Sheeran dengan suara rendah dan hangat. Caranya memetik gitar tidak berisik, tidak berlebihan. Seolah lagu itu memang diciptakan untuk ruangan kecil ini.

Jisoo terdiam.

Ia terpaku, matanya tak lepas dari Jeonghan. Dari cara jemarinya bergerak, dari senyum kecil yang muncul setiap jeda lirik, dari tatapan yang tak pernah benar-benar berpaling darinya, seolah dunia hanya berisi mereka berdua.

Seolah lagu itu… memang untuknya.

Jisoo tak bisa menahan senyum. Dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang hangat dan asing. Ia bersumpah, di detik itu, ia benar-benar percaya... bahwa Jeonghan jatuh cinta padanya.

Saat lagu berakhir, Jisoo langsung bertepuk tangan, senyumnya lebar. Jeonghan tertawa kecil, tampak malu-malu.

“Gimana?” tanya Jeonghan.

“Bagus,” jawab Jisoo cepat. “Banget.”

Jeonghan menyombongkan diri balik. “Aku juga jago, kan?”

“Oke. Aku setuju.”

Mereka saling melempar senyum, diam-diam menikmati perasaan yang tumbuh tanpa perlu dinamai.

Jeonghan memperhatikan pipi Jisoo yang mulai memerah. Matanya sedikit lebih sayu dari biasanya. Oh, si manis mulai mabuk.

Dengan gerakan pelan, Jeonghan mengusap pipi Jisoo. Jisoo tidak menghindar. Ia hanya menatap Jeonghan, bingung namun nyaman.

“Padahal kamu udah dua puluh tujuh,” kata Jeonghan pelan sambil terkekeh, “tapi muka kamu kayak bayi.”

Bukan gombalan. Ia benar-benar mengatakannya dengan serius. Jisoo memang terlihat menggemaskan. Terlalu menggemaskan.

Jeonghan suka. Sangat suka.

Jisoo hanya tersenyum, tak tahu harus membalas apa.

“Orangtua kamu tinggal di mana?” tanya Jeonghan hati-hati.

“Andong,” jawab Jisoo. “Aku ke Seoul buat kuliah. Tapi habis lulus… susah cari kerja.” Ia tertawa kecil, getir. “Jadinya ya… aku cuma kerja di minimarket.”

Jeonghan terdiam sejenak. Lalu berkata pelan, “Kerja di perusahaanku aja.”

Jisoo menggeleng cepat. “Sebenernya aku nggak mau kerja.”

Jeonghan terkejut. “Kenapa?”

“Aku mau tidur di rumah seharian,” kata Jisoo jujur, matanya berbinar karena alkohol, “terus dapat uang tanpa ngapa-ngapain.”

Jeonghan tertawa pelan. Gemas sekali. Jisoo jelas mabuk, dan itu sangat lucu.

“Ada satu cara,” kata Jeonghan tiba-tiba.

Jisoo memiringkan kepala. “Apa?”

Jeonghan mengusap rambut Jisoo dengan lembut, jari-jarinya menyelip di antara helaian yang hangat. “Menikah sama aku.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Begitu tenang, tanpa tawa, tanpa ragu.

Jisoo membeku.

Ia menatap Jeonghan lama, mencoba memproses. Alkohol membuat dunia terasa lambat. Lalu ia terkekeh kecil dengan suara pelan. “Kamu aneh,” katanya.

Jeonghan tersenyum, matanya lembut. “Aku serius.”

Dan di rumah kecil itu, di antara soju yang hampir habis dan gitar yang tergeletak di lantai, sebuah kalimat sederhana mengubah arah segalanya, meski Jisoo belum sepenuhnya sadar.

 

◆◆

 

Keesokan harinya, tepat pukul enam sore, Jeonghan sudah berada di minimarket seperti kebiasaan yang tak pernah ia lewatkan. Ia tahu betul jam itu, jam pulang Jisoo. Karena itu pula ia ada di sana sekarang, seolah seluruh harinya hanya menunggu satu waktu itu tiba.

Pintu kecil disebelah kasir terbuka, dan Jisoo keluar sambil merapikan lengan bajunya. Begitu matanya menangkap sosok Jeonghan, ia terkejut sesaat, lalu wajahnya langsung berbinar. Tangannya terangkat dan melambai dengan ceria.

Jeonghan yang baru saja selesai membayar di kasir melirik ke arahnya, lalu tersenyum tipis.

Mereka keluar bersamaan. Di depan pintu, Jeonghan menyodorkan sebatang cokelat yang tadi ia ambil dari rak, dibayar bersama air mineralnya sambil menunggu.

“Buat kamu,” katanya ringan.

Jisoo menerimanya dengan senyum senang, seolah itu hadiah besar. “Makasih.”

Mereka pun masuk ke mobil. Jisoo menoleh ke depan, lalu ke belakang. “Minjae ke mana?”

“Aku lagi nggak mau diganggu,” jawab Jeonghan singkat.

Jisoo terkekeh kecil.

Mobil segera melaju, meninggalkan minimarket yang perlahan tenggelam dalam cahaya senja. Setelah beberapa menit hening yang nyaman, Jisoo bertanya, “Kenapa sih kamu maksa banget jemput aku pulang?”

Jeonghan tidak langsung menjawab. Ia menatap jalanan di depannya, lalu berkata pelan dan jujur, “Sebelumnya, aku selalu nyempetin waktu buat ketemu kamu di sini. Walaupun cuma dua menit.” Ia tersenyum kecil. “Sekarang aku bisa ketemu kamu lebih lama. Mana mungkin aku nggak ambil kesempatan ini sebaik-baiknya.”

Jisoo terkikik. Jawaban itu persis seperti yang ia duga. Ia memang sengaja bertanya, hanya untuk mendengar kejujuran Jeonghan dari mulutnya sendiri.

Ia lalu bertanya lagi, lebih pelan, “Apa sih yang kamu suka dari aku?” Jisoo menelan ludah. “Gimana kalau aku ternyata bukan orang baik? Gimana kalau nanti kamu sakit hati… atau menyesal karena suka sama aku?”

Jeonghan menoleh sekilas ke arahnya, lalu kembali fokus ke jalan. Nada suaranya tenang, tanpa dramatisasi.

“Itu poinnya,” katanya. “Aku suka kamu tanpa alasan apa pun.” Ia menghela napas kecil. “Artinya, mau kamu penjahat, mau kamu mata-mata Korea Utara, aku nggak peduli. Aku suka kamu karena kamu itu Jisoo.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada romantis. Tidak lembut berlebihan. Tidak penuh janji manis.

Namun dada Jisoo terasa sesak.

Ia menatap ke luar jendela, menahan sesuatu yang hampir tumpah. Selama ini, ia tak pernah benar-benar percaya bahwa ia layak dicintai, apalagi oleh seseorang seperti Jeonghan, yang hidupnya begitu jauh dari miliknya.

Jisoo tersenyum kecil, matanya sedikit berkaca.
“Terima kasih,” katanya tulus.

Jeonghan tidak menjawab. Ia hanya tersenyum samar, tetap mengemudi, seolah mengerti bahwa kalimat itu berarti lebih dari sekadar ucapan sopan.

Dan di dalam mobil yang melaju pelan itu, dua orang dengan dunia yang sangat berbeda mulai berjalan di arah yang sama.

Beberapa menit kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah rumah besar.

Jisoo refleks menegakkan punggungnya. Matanya membesar, menatap gerbang tinggi yang perlahan terbuka, memperlihatkan halaman luas dengan lampu taman yang temaram. Rumah itu berdiri megah. Bersih, modern, dan terlalu indah untuk sekadar disebut “rumah.”

“Woah…” gumam Jisoo tanpa sadar.

Jeonghan tertawa kecil, jelas menikmati reaksinya. “Masuk yuk.”

Jisoo masih sempat terpaku beberapa detik sebelum akhirnya turun dari mobil. Begitu melangkah masuk, pintu besar itu terbuka dan dua perempuan yang sedang membersihkan rumah menoleh, lalu tersenyum sopan.

“Selamat datang, Direktur.”

Jeonghan mengangguk singkat, lalu melirik Jisoo. “Ini Jisoo.”

Mereka ikut menyapa, membuat Jisoo refleks membungkuk kecil, canggung. Kepalanya masih penuh oleh satu pikiran, rumah ini milik Jeonghan?

Jeonghan tak memberinya waktu untuk tenggelam lebih lama. Ia langsung mengajak Jisoo naik ke lantai atas. Jisoo mengikutinya begitu saja, matanya sibuk mencuri pandang ke segala arah. Ke lukisan besar di dinding, tangga yang mengilap, lorong panjang dengan lampu-lampu hangat. Ia bahkan lupa bertanya ke mana mereka akan pergi, atau kenapa.

Baru ketika pintu kamar Jeonghan tertutup di belakang mereka, Jisoo berhenti.

Ia menoleh pelan, menatap Jeonghan dengan wajah tak percaya. “Jeonghan… kamu anak raja?” tanyanya polos.

Jeonghan terkekeh, suara tawanya ringan. “Bukan.”

“Tapi rumah kamu—” Jisoo kembali teringat semuanya. “Lukisan di ruang tamu itu mahal, kan? Aku pernah lihat di berita. Terus... pelayan di rumah kamu banyak banget, kayak di drama-drama. Di halaman juga ada kolam renang lagi.” Ia menghela napas kagum. “Wah, Jeonghan…”

Jeonghan duduk di tepi kasur, hanya tersenyum sambil mendengarkan. Ia tidak menyela, tidak membenarkan, tidak juga merendahkan. Ia hanya menikmati cara Jisoo berbicara. Ia suka melihat mata itu berbinar, tangannya yang bergerak tanpa sadar, seperti anak kecil yang baru melihat dunia yang selama ini hanya ia dengar dari cerita.

“Rumah kamu gede banget,” lanjut Jisoo pelan, nadanya berubah sedikit lebih hati-hati. “Kayak… beda sama duniaku.”

Jeonghan menepuk sisi kasur di sebelahnya. “Soo…”

Jisoo terhenti. Ia menatap tangan itu sejenak, lalu wajah Jeonghan. Ada senyum di sana. Senyum yang begitu tenang, hangat, tanpa jarak. Akhirnya, Jisoo duduk di sampingnya.

Jeonghan menoleh, menatapnya lembut. “Rumah ini cuma bangunan,” katanya pelan. “Yang penting itu orang yang ada di dalamnya.”

Jisoo tersenyum kecil, tapi matanya terlihat sedikit goyah. “Aku nggak biasa di tempat kayak gini.”

“Aku tahu,” jawab Jeonghan cepat. “Makanya aku mau kamu nyaman.”

Ia tidak menyentuh Jisoo lebih jauh, hanya duduk dengan dekat, cukup dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan. “Kamu nggak perlu jadi siapa-siapa di sini. Nggak perlu kagum, nggak perlu minder.”

Jeonghan menatap lurus ke depan, lalu kembali ke Jisoo. “Buat aku, kamu tetap Jisoo yang sama. Yang kerja di minimarket. Yang senyumnya bikin aku datang tiap hari.”

Hening turun perlahan, tapi terasa begitu hangat.

Jisoo menunduk, tersenyum sambil mengusap ujung sweater besarnya. Di dada, ada perasaan asing. Mungkin antara canggung, haru, dan sesuatu yang mulai terasa aman.

Untuk pertama kalinya, berada di tempat semewah itu tidak membuatnya merasa kecil.

Karena Jeonghan duduk di sampingnya, menatapnya seolah dunia Jisoo adalah satu-satunya yang penting.

Setelah beberapa saat hening, Jeonghan kembali menatap Jisoo. Tatapannya lebih lembut dari sebelumnya, namun ada kegugupan yang tak bisa ia sembunyikan.

“Soo,” katanya pelan, nyaris berbisik, “aku mau kamu dengerin ini. Jangan disela, ya. Aku cuma mau kamu dengerin tanpa harus mikir apa-apa.” Ia berhenti sebentar, lalu tersenyum kecil. “Oh iya… jangan ketawain aku.”

Jisoo mengangguk pelan. Wajahnya tenang, tapi matanya penuh tanda tanya.

Jeonghan menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian yang selama ini ia simpan. Saat ia mulai bicara lagi, suaranya jujur dan tak ada kepura-puraan. Ia bilang bahwa perasaannya bukan main-main. Bahwa ia benar-benar menyukai Jisoo, sesuka itu, sampai pada titik di mana rapat penting sekalipun bisa ia tinggalkan jika Jisoo memanggilnya. Ia mengaku, ia pernah berjanji akan menunggu tanpa memaksa, dan ia masih memegang janji itu. Meski ia telah lama memperhatikan Jisoo, ia sadar betul Jisoo baru mengenalnya sebentar. Karena itu, ia tak ingin mendorong, tak ingin membuat Jisoo merasa dikejar.

Jeonghan ingin terlibat dalam hidup Jisoo, dalam hal-hal kecil yang mungkin tak berarti bagi orang lain. Ia ingin menjadi orang pertama yang Jisoo ceritai tentang hari yang melelahkan, tentang hal-hal sepele yang membuat Jisoo tertawa, juga tentang kesedihan yang kadang datang tanpa alasan. Ia ingin ada di sana, bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai seseorang yang memilih tinggal.

“Aku nggak peduli kamu siapa,” lanjutnya lirih. “Keluargamu seperti apa, hidupmu seperti apa… aku cuma peduli kamu itu Jisoo.”

Ia tersenyum tipis, sedikit pahit, sedikit pasrah. “Dan kayaknya… aku udah nggak bisa suka sama orang lain lagi.”

Tangannya bergerak pelan, menyentuh jemari Jisoo. Hangat. Hati-hati. Seolah takut jika ia menggenggam terlalu kuat, Jisoo akan menghilang. “Kalau kamu nggak suka aku deketin kamu kayak gini,” katanya lagi, kali ini lebih pelan, “bilang, ya. Sebelum aku kelewatan.”

Jisoo tak menjawab. Ia hanya menatap Jeonghan lebih lama. Tatapan itu kosong, namun juga penuh, penuh sesuatu yang bahkan Jisoo sendiri belum bisa menamai.

Jeonghan menelan ludah, cemas mulai menyusup. Genggamannya menguat tanpa sadar.

“Soo,” katanya sambil terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana, “ngeliat kamu duduk di kamarku gini… rasanya pengen banget nikahin kamu sekarang juga.”

Ia tertawa pelan, menertawakan dirinya sendiri. Namun ketika Jisoo tetap diam, senyum itu perlahan memudar. Detik-detik berikutnya terasa panjang. Terlalu panjang. Jeonghan mulai berpikir ia sudah melangkah terlalu jauh, terlalu jujur, terlalu berharap. Kata maaf hampir keluar dari bibirnya—

Namun Jisoo bergerak lebih dulu.

Tubuh itu condong perlahan, seolah masih ragu pada keberaniannya sendiri. Jarak di antara mereka menyempit, napas saling bertemu, dan kemudian, bibir Jisoo menyentuh bibir Jeonghan.

Singkat. Lembut. Sedikit bergetar.

Jeonghan tertegun. Dunia seakan berhenti berputar di satu titik itu. Ia tak langsung membalas, hanya membiarkan dirinya merasakan kehangatan, ketulusan, dan jawaban yang tak terucap.

Saat Jisoo akhirnya menjauh, pipinya memerah, matanya berkilat.

Jeonghan tersenyum perlahan, penuh lega. Ia tahu. Tak perlu kata-kata lagi.

Itu jawaban Jisoo. Dan untuk pertama kalinya, Jeonghan sadar, ia benar-benar menang, bukan karena Jisoo memilihnya, tapi karena Jisoo akhirnya berani membuka hati untuknya.

 

End.