Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Anonymous
Stats:
Published:
2025-12-19
Words:
612
Chapters:
1/1
Comments:
7
Kudos:
180
Bookmarks:
12
Hits:
9,052

Morning Routine

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Aku menguap, tidak sengaja membuka mata sebelum alarm yang biasanya akan menyala pada pukul enam tiga puluh pagi, sangat malas dan banyak rasa ingin mendekam seharian di kasur namun tahu bahwa harus pergi sekolah. Kelas satu sekolah menengah atas, namaku Keonho—usia enam belas tahun dan punya satu orang kakak bernama Juhoon, kelas dua—berusia tujuh belas. Alasan aku memperkenalkan kakakku yang pertama adalah karena anak lelaki cantik itu sedang tertidur di sebelah sambil memeluk pinggangku, nafasnya teratur dan dada telanjangnya yang pucat naik turun dengan tempo yang teratur. Masih ada sisa tiga puluh menit lagi sebelum Mama mengetuk pintu kamar kami dan aku tidak mau membuang kesempatan yang ada. 

Ada sebuah kebiasaan yang aku lakukan sejak lama, mungkin sejak kelas tiga sekolah dasar karena terlalu banyak main rumah-rumahan dengan Kak Juhoon. Aku ingat Kak Juhoon tidak suka menjadi Papa, dia lebih suka menjadi Mama dan membiarkan teman yang lain, bahkan teman perempuan untuk mengambil peran itu dan dia akan sangat gembira untuk berpura-pura memasak kemudian menyambut ‘Papa’ yang pulang bekerja. Dalam peran itu dia tidak punya anak, tidak ada anak yang lebih muda dari mereka dan tidak ada teman seumuran yang bersedia memenuhi permintaannya, jadi dia memintaku untuk melakukan. Aku adik yang merangkap jadi anak saat bermain, namun tidak mengapa karena Kak Juhoon akan menyusui aku sebagai bayarannya. Kak Juhoon sangat suka dengan peran menjadi seorang Mama sampai dia akan benar-benar membuka pakaian dan memasukkan putingnya ke dalam mulutku, “menyusui Keonho seperti Adik bayi …” katanya suatu hari sambil tersenyum dan membelai dahiku pelan. 

Itu berlanjut hingga kami tumbuh menjadi remaja. Hampir setiap hari aku akan minta Kak Juhoon supaya membuka pakaiannya dan mulai menyusui, bahkan jika kami tidak sedang bermain rumah-rumahan. Kak Juhoon tidak keberatan, aku juga senang terutama karena puting lembut itu sungguh kenyal dan terasa memuaskan untuk lidah. Banyak waktu aku yang meminta puting itu, namun di waktu-waktu yang lain bahkan di sekolah, Kak Juhoon tidak segan-segan memintaku untuk ke toilet sebentar karena katanya puting itu gatal sekali, “mau susui Keonho seperti ketika masih kecil.” Jadi kami melakukan itu sampai sekarang, siapa juga yang mau menolak Kak Juhoon dan putingnya yang menggemaskan, termasuk hari ini. Aku menghitung waktu dan mungkin sudah membuang beberapa menit hanya karena menceritakan kilas balik ini, sekarang waktunya minum susu. 

Aku bergerak, berusaha sangat pelan supaya tidak terlalu mengganggu Kak Juhoon yang masih terlelap, kemudian menyingkap selimut dari tubuh kecil itu dan menemukan dua pucuk dada yang sudah keras seolah menantang, aku mendesah tertahan. Aku menghidu kulitnya yang harum, campuran dari parfum dan sabun lalu—aromaku yang bercampur dengannya karena ejakulasi semalam. Puting susu Kak Juhoon berwarna coklat dan aku menyenangi benda itu karena dia membesar seiring waktu aku selalu menghisapnya, kali ini aku juga akan menghisapnya dan mungkin—ketika kami akhirnya menikah nanti, dia akan menyusui anak kami dengan puting ini yang mengeluarkan susu. Jauh sekali memang apa yang aku pikirkan, namun sebelum itu … aku yang akan menikmati benda ini. 

Aku memasukkan puting itu ke dalam mulut, satu tanganku memilin puting yang lain dan memperlakukannya seolah pelepasan stress yang nikmat. Lidahku turut membantu, jadi puting Kak Juhoon aku hisap dan jilat bersamaan dengan tempo pelan karena aku yakin Kak Juhoon masih dalam tidurnya yang lelap. Biasanya aku menyusu kurang lebih lima belas menit, aku akan puas dan mencumbu kemaluan di bawah lalu mengajaknya mandi. Oh, kami biasanya bermain di kamar mandi karena Kak Juhoon menduduki penisku dan kami akan panik ketika Mama sudah mengetuk pintu khawatir kami akan terlambat ke sekolah. Kak Juhoon cantikku, kami melebur dalam batas yang sudah tidak lagi tampak entah itu saudara atau kekasih, namun aku yakin dia adalah kekasihku dan tidak seorangpun berhak menghakimi apa yang sedang kami jalani. 

Notes:

next chapter: here