Work Text:
Hujan lebat membasahi bumi sore itu. Bagi sebagian orang, cuaca seperti ini adalah anugerah—kesempatan untuk tidur lebih lama, merapatkan selimut, atau sekadar meromantisasi dingin yang turun bersama rintik hujan. Namun tidak bagi Mahesa.
Seharusnya sekarang ia sedang menggauli semen di tapak rumah majikannya, bukannya berdiri bengong di depan gedung Bisnis seperti patung hidup. Ia sudah hafal betul tabiat Pak Suci—kalau hujan turun selebat ini, kerja pasti dibatalkan demi keselamatan. Artinya, satu hari tanpa upah.
Mahesa mendongak, menatap jutaan titisan hujan yang jatuh tanpa ampun. Terlalu lebat untuk direda. Biasanya jas hujan selalu ada di dalam tas kesayangannya, tapi hari ini—sialnya—ia tidak membawanya. Semua gara-gara Cahaya. Temannya yang tolol itu yang terlupa membawa tugasannya ke universitas, dan meminta Mahesa untuk menghantarkan tugasnya . Mahesa menuruti, kerana ia memang sebodoh itu kalau soal teman. Dan sekarang, ia yang menanggung akibatnya.
Ia melirik ke arah parkiran. Jaraknya tidak jauh, tapi hujan membuatnya terasa mustahil. Ia tidak mau membasahi bajunya, itu berarti mencuci, dan ia tidak punya waktu untuk itu. Jadi berdirilah ia di sana, di depan gedung Bisnis, merasa semakin bodoh dari menit ke menit. Setidaknya kalau di gedung Teknik, ia masih bisa menyapa wajah-wajah yang dikenalnya.
Mahesa hanya bisa bengong, menunggu hujan reda sedikit, agar ia bisa berlari ke parkiran tanpa tampak terlalu menyedihkan.
Di tengah kebosanannya, sebuah BMW putih berhenti tak jauh darinya. Berani juga pakai mobil putih di hujan begini, pikir Mahesa sekilas. Ia tak menghiraukan—paling juga anak Bisnis yang dihantar sopir. Dari mobilnya saja sudah ketebak.
Namun bunyi klakson tiba-tiba memecah suara hujan. Mahesa mengernyit.
Apaan sih? Gajelas. Tinggal masuk gedung aja kenapa? Salah gua berdiri di sini? Gedung umum, bro. Free will.
Klakson itu berbunyi lagi. Dan lagi. Kesabarannya menipis. Sudah hujan, ditambah orang tidak tahu adat.
Tak sampai satu menit, kaca kursi penumpang depan diturunkan. Dari balik tirai hujan, Mahesa melihat sosok pemandu—samar, tapi jelas menatap ke arahnya.
“Masuk!” teriaknya, berusaha mengalahkan deras hujan.
Alis Mahesa kembali bertaut. Aneh. Tahun 2025 masih ada juga modus penculikan semacam ini, ya? Ia menggeleng, jelas menolak.
Pemandu itu tampak tidak senang. Dari tempat Mahesa berdiri, ia bisa melihat lelaki itu mendengus kesal. Detik berikutnya, klakson kembali berbunyi—kali ini tanpa henti.
Mahesa panik. Tatapan orang-orang mulai mengarah. Dengan terpaksa, ia membuka pintu dan masuk ke dalam mobil orang asing itu. Demi ketenteraman anak-anak Bisnis.
Please appreciate, yak. Dan doakan Mahesa tidak diculik beneran..
Begitu pintu tertutup, mobil langsung melaju. Mahesa menatap jalanan universitas, sengaja tidak menoleh ke samping.
“Sudah makan?”
Suara itu lembut. Terlalu lembut untuk ukuran orang yang baru saja mengklaksoninya seperti orang kesetanan.
Mahesa menoleh. Mulutnya terbuka sejenak sebelum ia cepat-cepat menutup ekspresi kagetnya.
Di sampingnya duduk lelaki yang sering Sena sebut sebagai si ganteng. Dan—sialnya—memang benar. Wajah itu tidak adil. Terlalu rapi, terlalu tenang. Mahesa langsung merasa mengecil.
“Ke gedung teknik aja,” jawabnya cepat, asal. Yang ditanya apa, yang dijawab apa. Gugupnya tidak ketulungan.
“Motor gua di sana,” tambahnya, seolah itu penjelasan paling masuk akal.
“Kan hujan. Nggak bisa dikendarai juga.”
Mahesa mengeluh pelan. Ia hanya ingin segera keluar dari mobil ini sebelum jantungnya benar-benar lompat.
“Makan ya?”
Nada itu memujuk. Sial. Mahesa tahu ia tidak punya iman setinggi itu.
“Iya,” jawabnya malas—setidaknya terdengar malas. Padahal dadanya sudah berdegup tidak karuan.
Lelaki itu tersenyum.
“Aku Gemini.”
Mahesa menyandarkan tubuh ke kursi empuk BMW itu. Enak juga, pikirnya. Ia melirik sekilas ke arah laki-laki disebelahnya sebelum kembali menatap jalan. Mereka sudah keluar dari kawasan universitas.
“Gua Libra,” balas Mahesa santai.
Gemini tertawa lepas.
Mahesa mengernyit. Lah? Gua Libra kan? Apa Cahaya nipu soal zodiak sign gua?
“Namaku Gemini,” ujar lelaki itu lagi, masih tersenyum.
Oh.
Kontol.
Mahesa hanya mengangguk, panas wajahnya bukan main. Suasana jadi canggung dengan cara yang memalukan.
Sepuluh menit kemudian, BMW itu berhenti di depan sebuah restoran. Dari luar saja, Mahesa sudah bisa menebak—makanan termurah di sana mungkin setara dengan kos tiga bulan hidupnya.
Ia menghela napas. Paling nanti pesan air putih. Tempe dan nasi bisa dimakan di rumah. Lagipula hujan sudah tinggal rintik.
Mahesa mengikuti langkah Gemini. Jersey England edisi terbaru, celana hitam, topi biru muda. Dari belakang saja sudah kelihatan ganteng yang luar biasa.
Mahesa melirik bajunya sendiri—kaos hitam polos dan jeans hitam ketat. Tipikal. Perbedaan mereka seperti langit dan bumi.
Gemini menarik kursi dan duduk menghadapnya, tepat di tepi kaca restoran. Jalanan sibuk terlihat jelas di luar sana.
Pelayan datang.
“Air put—”
“Spaghetti carbonara with chicken katsu, onion rings, cheesecake, dan Sprite for both of us”
Mahesa terdiam. Otaknya berhenti.
Siapa yang bayar itu semua?
Pelayan mengangguk dan pergi setelah Gemini mengucapkan terima kasih.
“Gua nggak bisa bayar,” ucap Mahesa jujur, menatap Gemini.
“Pasti mahal.”
“Tidak ada yang minta kamu bayar,” jawabnya santai.
“Aku traktir.”
Mahesa mengernyit. Cowok ini memang hobi ngasih makan orang random atau wajah Mahesa kelihatan sangat kelaparan?
“Makasih,” ujarnya akhirnya, tulus. Baru kali ini ia duduk di restoran seperti ini tanpa rasa takut dompetnya menangis.
“My pleasure.”
Gemini tersenyum.
Mahesa salting.
Cowok ini sadar nggak sih kalau senyumnya bahaya?
Sepanjang makan, mereka hampir tidak banyak bicara. Anehnya, Mahesa tidak merasa canggung. Untuk pertama kalinya, ia merasa aman bersama orang asing. Tidak merasa direndahkan. Tidak merasa kecil, meskipun jelas lelaki di depannya hidup di dunia yang jauh lebih mudah.
Ia menikmati setiap detik dalam diam. Tenang. Sesuatu yang jarang ia rasakan di hidupnya yang selalu ribut.
Perut kenyang, hati ikut hangat.
Kata-kata Cahaya terngiang di kepalanya: kalau perut bahagia, hati ikut bahagia.
Kini Mahesa mengerti.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa— ia tidak sendirian.
