Actions

Work Header

Ingin Kuhapus Bekas Bibirnya di Bibirmu dengan Bibirku

Summary:

Heeseung diam-diam naksir Sunghoon, teman dekatnya sejak masa ospek. Dia bahkan menulis lagu tentang perasaannya untuk Sunghoon. Masalahnya, Yeonjun mulai gigih mendekati Sunghoon dan kalau dirinya terus diam, bisa-bisa Sunghoon "dicuri" darinya.

Notes:

Yup, you didn't read it wrong. Untuk fanfic ini, aku sengaja pakai judul itu, yang terinspirasi dari cerpennya Hamsad Rangkuti yang judulnya "Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?" dari kumpulan cerpen beliau yang berjudul sama (read it, guys!). Untuk plotnya beda yaa, aku cuma pinjam judulnya aja.

Chapter Text

Ruang latihan bagaikan rumah kedua bagi Heeseung. Ruangan itu kecil, salah satu dari selusin ruangan identik di gedung musik, tapi kedap suara dan jauh dari gangguan. Saat itu baru jam 8 pagi di hari Selasa, tapi dia sudah berada di sana dengan gitar di pangkuannya, memainkan rangkaian chord yang sudah terngiang di kepalanya selama beberapa hari.

Dia sudah bermusik sejak SMA, tapi kegiatan itu jadi lebih intens sejak dirinya kuliah di College of Music Universitas Yonsei dan bergabung dengan band. Bandnya, Crimson Hour, awalnya sekadar kegiatan isengnya bersama beberapa mahasiswa lain dari program studi Composition di sela-sela kuliah. Tapi mereka menjadi semakin dikenal, cukup dikenal sehingga mereka diminta untuk tampil di festival Akaraka yang akan datang, acara terbesar tahunan di Universitas Yonsei.

Festival Akaraka ini sangat legendaris dengan tiga hari pertunjukan, stan makanan, dan segala jenis kehebohan, dengan mahasiswa dari setiap departemen berpartisipasi. Bagi sebuah band kampus, mendapatkan slot di panggung utama adalah hal yang luar biasa. Itu berarti mereka akan mendapat perhatian dari kerumunan yang padat, perhatian dari blog musik lokal, bahkan terkadang pencari bakat dari perusahaan hiburan.

Heeseung seharusnya merasa gembira. Dan memang, ia merasa gembira. Hanya saja semua lagu terbarunya bercerita tentang hal yang sama. Orang yang sama. Park Sunghoon.

Heeseung menyingkirkan gitarnya dan mengeluarkan buku catatannya, membolak-balik halaman lirik. Lirik-lirik itu sangat transparan di mana semuanya tentang kerinduan dan hasrat yang tak terucapkan, metafora tentang menginginkan hal-hal yang berada di luar jangkauan. Rekan-rekan bandnya memuji karya terbarunya, mengatakan bahwa karya itu memiliki kedalaman emosional yang lebih besar dari biasanya. Ah, andai saja mereka tahu.

Ponselnya berdering karena ada pesan masuk.

Sunghoon: Kamu lagi di ruang latihan, ya?

Heeseung: Iya, yang paling pojok sebelah kiri.

Sunghoon: Aku bawain kopi. Jangan ke mana-mana.

Heeseung berdebar kencang seperti biasanya setiap kali ada Sunghoon. Dia mencoba fokus pada progresi chord-nya, tapi perhatiannya sudah terbagi, mendengarkan langkah kaki di lorong.

Heeseung dan Sunghoon bertemu saat orientasi mahasiswa baru. Mereka tergabung dalam kelompok tur kampus yang sama dan menjalin persahabatan karena sama-sama bingung dengan peta kampus. Tiga tahun kemudian, mereka tak terpisahkan.

Di suatu titik, perasaan Heeseung telah bergeser dari persahabatan menjadi sesuatu yang lebih dalam dan lebih rumit. Awalnya dia mencoba mengabaikannya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanyalah kekaguman terhadap Sunghoon, apresiasi terhadap wajahnya yang rupawan dan intensitasnya yang tenang. Tapi penyangkalan hanya berhasil untuk sementara waktu.

Saat ia mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia jatuh cinta pada sahabatnya, sudah terlambat untuk melakukan apa pun. Ketakutan akan merusak persahabatan mereka membuatnya tetap diam, menyimpan semua perasaan itu terkunci rapat, yang hanya terungkap dalam lagu-lagunya.

Terdengar ketukan, lalu Sunghoon menerobos masuk sambil membawa dua cangkir kopi dan tas kameranya tersampir di bahu. Ia mengenakan pakaian serba hitam dan rambutnya sedikit berantakan seolah baru bangun tidur. Dia tampan, dan Heeseung benar-benar jatuh cinta.

"Kamu pagi banget datangnya," kata Sunghoon sambil menyodorkan salah satu kopi kepadanya. "Lagi latihan buat Akaraka, ya?"

"Iya. Lagi finalize setlist-nya." Heeseung menyesap kopinya dengan lega. Sunghoon sudah menghafal pesanan kopinya, americano dengan satu sendok gula. "Tumben kamu jam segini ke kampus? Ada kelas pagi?"

"Nggak bisa tidur. Jadi aku ke kampus aja buat ambil foto dikit sebelum kelas." Sunghoon duduk di lantai di samping Heeseung, cukup dekat hingga lutut mereka hampir bersentuhan. "Aku mau di sini dulu bentar."

Mereka terdiam dalam suasana nyaman. Sunghoon menelusuri foto-foto di kameranya sementara Heeseung mencoba fokus pada gitarnya. Namun, sulit untuk berkonsentrasi dengan Sunghoon yang berada di sana, memancarkan kehangatan dan aroma kayu cedar yang familiar dari parfumnya.

"Yang ini bagus," kata Sunghoon, sambil memutar kamera untuk menunjukkan kepada Heeseung. Itu adalah foto lapangan kosong saat matahari terbit, bayangan panjang membentang di atas rumput. "Foto yang cuma bisa aku dapet kalau aku nggak males bangun pagi."

"Iya, bagus. Kamu jeli, deh."

Sunghoon terkekeh. "Kamu gugup, nggak, sih? Soal festival ini?"

"Dikit. Baru kali ini band aku tampil di acara gede."

"You'll be amazing. You always are."

Kepercayaan diri dalam suara Sunghoon membuat dada Heeseung berdebar kencang. Sunghoon hampir selalu hadir di setiap pertunjukan mereka, selalu berada di antara penonton, selalu memberikan dukungan. Dia bahkan membantu mendesain poster promosi mereka.

"Kamu datang, kan?" tanya Heeseung, meskipun dia tahu jawabannya.

"Iya lah. Kan aku ngeliput buat majalah kampus. Aku dapet tugas motret yang di panggung utama." Ekspresi Sunghoon sedikit berubah malu. "Lagian aku nggak akan ngelewatin kamu manggung."

Heeseung harus memalingkan muka sebelum Sunghoon bisa melihat semua yang tertulis di wajahnya. "Haha, that’s good."

Ponselnya berdering lagi, kali ini dengan pesan di grup chat band.

Jay: Latihan jam 6 nanti? Harmoninya perlu disempurnain lagi, guys.

Jake: Oke, siap.

Sungchan: Bisa.

Heeseung: Oke, aku juga bisa.

"Latihan band malam ini?" tanya Sunghoon sambil membaca pesan di grup chat dari balik bahu Heeseung.

"Iya. Festivalnya tinggal dua minggu lagi."

Heeseung meletakkan ponselnya dan mereka menghabiskan satu jam lagi di ruang latihan. Heeseung memainkan lagu-lagu sementara Sunghoon mengedit foto di laptopnya. Suasananya damai, namun membuat dada Heeseung terasa sesak.

Andai saja semuanya bisa selalu seperti ini. Andai saja Heeseung bisa mengulurkan tangan dan memperpendek jarak di antara mereka, bisa menarik Sunghoon lebih dekat dan mengatakan semua yang selama ini dipendamnya. Namun dia tidak bisa. Jadi dia tidak melakukannya.

===

Latihan band malam itu sangat intens di mana mereka berlatih setlist mereka tiga kali. Jay semakin teliti soal harmoni sementara Jake dan Sungchan berdebat tentang isian drum. Heeseung lebih fokus pada permainan gitarnya, mencoba menyempurnakan solo di lagu penutup mereka.

Mereka sedang beristirahat, berbaring santai di lantai ruang latihan sambil minum minuman energi dan makan camilan ketika pintu terbuka dan Sunghoon masuk.

"Hei," katanya sambil memegang kamera. "Aku boleh sekalian ngambil foto-foto kalian pas latihan, nggak? Buat majalah."

"Boleh, boleh," kata Jay. "Pas banget kita lagi mau berlatih lagu baru. Lagu bikinan Heeseung."

Perut Heeseung terasa mual. Lagu baru berjudul Between the Lines itu mungkin adalah lagu yang paling transparan yang pernah ia buat. Lagu itu tentang keinginan untuk mengatakan sesuatu tapi terlalu takut akan konsekuensinya, tentang mencintai seseorang yang tidak tahu bahwa diri kita ada.

"Oh, mau denger dong," kata Sunghoon sambil bersandar di dinding dengan kameranya.

Mereka mengambil posisi. Heeseung berusaha untuk tidak memikirkan Sunghoon yang sedang memperhatikan, berusaha fokus pada musik. Tapi saat dia mulai bernyanyi, dia merasa sangat menyadari setiap kata, setiap lirik yang pada dasarnya adalah sebuah pengakuan.

"I write you into every melody 

Paint you in the spaces between chords

You're the song I can't stop singing

The words I've never said."

Ruang latihan itu tiba-tiba terasa terlalu sempit. Heeseung terus menatap gitarnya, jari-jarinya yang bergerak di atas fret, ke mana pun kecuali ke Sunghoon. Setelah mereka selesai, ada keheningan sejenak sebelum Jake mulai bertepuk tangan.

"Dude, that's incredible. Seriously, your best work yet."

"Liriknya beneran kayak jujur banget," tambah Sungchan. "Pasti nanti banyak yang suka, deh."

Heeseung akhirnya memberanikan diri melirik Sunghoon. Dia masih duduk bersandar di dinding, kamera diturunkan, ekspresi wajahnya sulit ditebak.

"Gimana?" tanya Heeseung, berusaha agar suaranya tetap santai.

"Bagus," kata Sunghoon pelan. "Bagus banget. Ini... tentang seseorang, ya?"

Pertanyaan itu menggantung di udara. Semua orang kini menatap Heeseung, menunggu jawaban.

"Cuman... perasaan secara umum aja," elak Heeseung, yang mungkin merupakan kebohongan terpayah yang pernah ia ucapkan. "You know, universal experiences."

Sunghoon menatapnya lama, dan Heeseung bertanya-tanya apa yang dilihatnya di sana. Tapi kemudian Jay memanggil mereka kembali untuk berlatih, dan momen itu berlalu. Mereka memainkan setlist dua kali lagi sebelum mengakhiri malam itu. Heeseung sedang mengemasi gitarnya ketika Sunghoon muncul di sampingnya.

"Balik bareng, yuk."

"Oke."

"Eh, Sunghoon!"

Mereka berdua menoleh dan melihat Yeonjun memasuki ruang latihan. Choi Yeonjun tergabung dalam program studi Contemporary Dance, tinggi dan karismatik dengan senyum ramah. Dia juga, seperti yang diperhatikan Heeseung dengan rasa jengkel yang semakin meningkat, terus-menerus berusaha menarik perhatian Sunghoon.

"Yeonjun," sapa Sunghoon dengan nada yang terdengar kurang ramah. "Lagi ngapain?"

"Nyariin kamu sebenernya." Senyum Yeonjun semakin lebar. "Kamu yang nanti fotoin performance dance crew aku di festival, kan? Kami nanti tampil di panggung utama."

"Iya, aku yang ditugasin buat ngeliput panggung utama."

"Bagus, deh." Yeonjun mendekat ke Sunghoon hingga lengan mereka hampir bersentuhan, yang membuat rahang Heeseung mengencang. "Kamu udah makan belum? Keluar sama aku, yuk. Sekalian bahas foto-fotonya nanti?"

"Nggak bisa—"

"Ayo dong, makan malam aja kok. Ada tempat bagus di Hongdae yang pengen aku lihatin ke kamu."

"Tapi aku sibuk banget sama persiapan festival—"

"Kalau ngopi gimana? Besok siang?"

Heeseung memperhatikan ekspresi Sunghoon yang berubah dari sopan menjadi tidak nyaman, melihat bagaimana dia mundur selangkah dan menciptakan jarak. Tapi Yeonjun sepertinya tidak memperhatikan atau peduli.

"Aku beneran nggak bisa," kata Sunghoon tegas.

"Kalau gitu besoknya lagi?"

"Yeonjun." Heeseung melangkah maju, menyela di antara mereka. "Dia udah bilang dia sibuk. Jangan maksa, lah."

Yeonjun melirik ke arahnya, ada sesuatu yang tajam dalam tatapannya. "Aku lagi ngomong sama Sunghoon."

"Dan dia udah ngasih jawaban. Bahkan berkali-kali, in case kamu nggak paham."

Yeonjun terdiam, sepertinya mencoba menenangkan diri. Senyumnya kembali, tapi tidak sampai ke matanya. "Ya udah deh. Aku tunggu di festival nanti, ya, Sunghoon. Ngobrolnya di sana aja."

Dia pergi sebelum salah satu dari mereka sempat menjawab. Heeseung menoleh dan mendapati Sunghoon tampak lelah dan frustrasi.

"Thanks," kata Sunghoon. "Nggak ngerti kenapa dia maksa banget."

"Udah berapa lama dia kayak gitu?"

"Beberapa minggu ini. Dia terus ngajakin aku keluar dan aku selalu nolak, tapi dia kayaknya nggak paham." Sunghoon meraih tas kameranya. "Ayo, balik."

Mereka berjalan kembali ke asrama dalam keheningan. Kampus itu indah di malam hari, lampu-lampu hias menerangi jalan setapak, para mahasiswa tersebar di lapangan dalam kelompok-kelompok kecil. Udara musim semi terasa hangat, membawa aroma bunga sakura dari pepohonan yang berjajar di sepanjang jalan setapak.

"Lagu yang tadi," kata Sunghoon tiba-tiba. "Between the Lines. Aku suka deh lagunya."

"Thanks."

"Menurut kamu... " Sunghoon ragu-ragu. "Apa menurut kamu orang yang dimaksud tahu? Soal perasaan kamu."

Jantung Heeseung tiba-tiba berdebar. "Nggak. Kayaknya nggak."

"Kenapa kamu nggak ngasih tahu dia?"

"Karena beberapa hal lebih baik dipendam sendiri aja. Lebih aman."

"Lebih aman buat siapa?"

"Buat semua pihak yang terlibat."

Mereka telah sampai di persimpangan jalan tempat mereka biasanya berpisah, asrama Sunghoon di sebelah kiri sementara asrama Heeseung di sebelah kanan. Mereka berdiri di sana di bawah lampu jalan, pertanyaan itu menggantung di antara mereka.

"Gimana kalau dia ngerasain hal yang sama?" tanya Sunghoon pelan. "Gimana kalau kalian berdua malah... nunggu satu sama lain buat ngomong duluan?"

Heeseung kini menatap Sunghoon, benar-benar menatapnya. Ia memperhatikan bagaimana cahaya memantul di mata gelapnya, pada kerentanan dalam ekspresinya. Untuk sesaat, ia membiarkan dirinya membayangkannya. Memberitahu Sunghoon tentang perasaannya. Mendengar bahwa Sunghoon merasakan hal yang sama. Namun kemudian dia tersadarkan bahwa tidak semua hal akan berjalan sesuai bayangannya. Akan ada kecanggungan, potensi hilangnya persahabatan mereka, semuanya.

"Aku duluan, ya," katanya. "Besok ada kelas pagi."

Sesuatu terlintas di wajah Sunghoon yang sepintas seperti kekecewaan. "Ya. Oke. Sampai ketemu besok."

Heeseung memperhatikan Sunghoon berjalan pergi dengan tangan dimasukkan ke dalam saku, dan merasakan kerinduan yang familiar menyelimuti dadanya. Dia mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi Notes, lirik sudah mulai terbentuk.

"I'm writing you another love song

That you'll never know is about you

Another confession disguised as melody

Another chance I'll never take."

Heeseung sepenuhnya menyadari dirinya benar-benar dalam masalah besar.