Work Text:
William tidak pernah keluar dalam durasi lama saat pergi ke birthday party sebelumnya. Tidak, sampai Est menginjakkan kaki ke rumahnya dan berpamitan dengan keluarga William.
“Emang mau kemana?”
“Loh, temen-temenmu itu lagi party di tempat Daou? Kamu mau diem di rumah?”
“No—bukan kayak gitu.”
“Yaudah. Ikut aja.”
Lalu mobil Est melaju pada jalanan padat. Sesekali William mengganti saluran radio pada mobil Est. Atau bertanya siapa sajakah yang akan turut serta dalam so-called-birthday-party. itu. Lalu Est bilang dengan entengnya, “Temen-temen kamu juga di sana, kok.”
William mengernyitkan dahi. Seingatnya memang ada Nut mengajaknya tadi, tetapi laki-laki itu tidak mengatakan bahwa Est juga akan turut serta. Jadi William tidak berpayah-payah berpikir untuk pergi.
“Udah sampai.”
Dentuman musik merambat ke gendang telinganya begitu mereka tiba. Orang-orang berdesakan kanan dan kiri, sebagian tertawa, berbicara keras-keras, dan tentu saja—menari mengikuti irama musik. Lampu warna-warni menyorot dari segala arah. Ada kue besar di tengah ruangan, balon, dan dekorasi meriah. Tapi kepala William hanya terisi satu hal:
Could he even survive here?
“Kak? Ini gimana?”
“Kayak biasa. Kita tahun kemaren juga, 'kan? Kaya kamu sama temen kamu kemaren. Joget ayo.”
Kikuk. “Kak? Serius?”
Bukan William tidak mengerti, tetapi di hadapannya sekarang adalah Est. Yang bukan lagi Est yang sama seperti yang dikenalnya setahun lalu. Est juga tidak sama seperti teman-temannya yang lain—Nut, Tui, Hong, atau Lego.
Di hadapannya sekarang, Est menggerakkan badannya menyesuaikan irama lagu. Berdansa, menghentakkan kaki, kanan lalu kiri. William pelan-pelan mengikuti. Ia nyaris mengutuk dirinya sendiri because where the fuck his confidence goes now? Dia ini performer di atas panggung, tetapi kenapa sekarang berdansa kecil saja terasa kaku?
“Est!” Seseorang memanggil. William mengalihkan pandangan, Daou, ternyata.
“Enjoy ya, lovebirds!” William mengernyitkan dahi, saat dia lihat orang di sebelahnya, Est hanya menyengir kecil. “Pacaran, 'kan?”
Sekitarnya ramai, tetapi kepalanya mendadak berhenti berproses. Kosong. Hilang. Melompong. “Huh?” alisnya mengernyit. Lagi. Ia menoleh ke depan, Est hanya tertawa kecil.
Pacaran, katanya.
Kemudian satu dua orang lewat, menyapa Est dan sesekali menoel William kecil. Menawarkan segelas wine yang dengan senang hati diambil oleh Est.
Mereka masih menurut ritme acak mengikuti iringan lagu yang terdengar sepanjang festival. Sesekali menyesap teguk di gelas yang diberikan oleh temannya tadi. Est terlihat sangat menikmati semua ini, berbeda dengan William. Dia mungkin dapat memakai topeng layaknya dia menikmati setiap irama dentuman yang dinyanyikan.
“William,” Est menggantungkan sapanya. “Are you okay?”
Dan, ya, sebaik apapun skill William menyembunyikan semburat tidak nyamannya. Maka Est adalah orang yang pertama yang mengetahui.
“Aman, Kak.”
Wajah Est berubah menjadi serius. Ototnya berhenti melenturkan pinggulnya sesuai dengan dentum musik.
“Are you sure?”
“Kamu gak nyaman?”
“I'm just... not used to it.”
“You're the fucking idol, William. How are you not used to this?”
“Ya, kan beda, Kak. Ini kan sama kakak.”
“How could it be any different with me, Liam?”
Est menggamit tangan William, mengusapnya pelan. Pupil matanya menatap William lembut. Kontradiktif dengan suasana ribut nan ramai sekitarnya. “Mau pulang?”
William menggeleng. “You love to be here, why should I leave?”
“Will...,”
“Kak...,”
Est menarik gamitan lengan William. Menariknya pelan. Sentuhan itu menepikan jarak, bukan hanya secara fisik, tetapi juga diam-diam menghapus sekat-sekat ragu yang mungkin masih tersisa.
Deru napas Est mengalun pelan, kalah dengan lagu populer yang sedang diputar sebagai pengiring pesta. Deru napasnya menjadi musik favorit William malam itu—ritmenya menenangkan. Ketika Est mendekatkan wajahnya ke sisi kanan kepala William, waktu terasa melambat. “Hey,” Est mendaratkan dagunya pada belah ceruk leher William. Ia tersenyum. Menghirup dalam aroma pada ceruk leher William.
“Santai.” Est melonggarkan pelukannya, masih menggamit tangan William, membawanya bergerak pelan menyesuaikan irama dan deru musiknya.
Tubuh William ikut hanyut dalam dentuman irama yang memantul di udara. Mereka tertawa saat Est sedikit tersandung balon yang terlepas ke lantai. Kadang mereka kesusahan melihat dengan jelas karena minimnya penerangan beradu dengan lampu kelap-kelip Est menatapnya lembut.
Mereka menari tanpa ritme pasti. Est melompat kecil, William mengikut. Mereka saling menyiram air, tertawa seperti anak-anak yang bebas dari beban. Sesekali membisikkan sesuatu. Bibir Est yang kadang menyentuh ujung telinga William membuat William sedikit bergidik.
“Coba, sayang, sini tangannya.” Est menuntun tangan William pada dekat rengkuh lehernya. Menekan pinggang William dekat pada tubuhnya.
Sayang. William mengerjap, mengulang kata gila itu karena gila saja siapa yang tidak jadi bodoh kalau dipanggil seorang Est Supha dengan sebutan “sayang”?
Ya, persetan dengan kata lain yang menempel pada kalimatnya.
“Huh?”
“Sini tangannya, William.” Lalu otak William yang sisa seperempat itu baru bisa berfungsi.
Ia menaruh harapan pada manik mata Est yang mulai sayu. Antara mabuk atau tidak. Namun dia tau, alcohol tolerance Est lumayan tinggi. Yang payah adalah dirinya. Karena bagaimana dia bisa tahan setelah dicekoki oleh teman-teman Est yang seenaknya menuntunnya menegak bergelas-gelas seakan itu adalah air mineral kemasan?
William tersipu ketika tangan Est meremat pinggangnya. Menekan titik di pinggulnya menggunakan jari jempolnya. Salah tingkah. Karena mata cantik milik Est seakan siap menghanyutkan seluruh dirinya.
“Makasih, ya. Sudah nemenin aku.” Est memperdalam tatapannya. William mengangguk. “Sama-sama, Kak.”
“You know.” Est mendekat. Sekarang mereka berpelukan. Ia berbisik, “It's cold out here... but why does it feel kinda hot right here?” Suaranya rendah tapi jelas, seolah setiap kata sengaja dijatuhkan perlahan.
William mengerutkan alis. Dia masih banyak bingungnya. Mereka mendorong jarak sampai di titik tersempitnya. Lalu ujung mancung hidung Est dan William saling bersentuhan dengan milik Est.
Yang bisa direkam hanya bagaimana hangatnya napas Est memburu bawah kulitnya. Membuai dengan sentuhan dari ujung hidungnya ke seluruh mukanya. Cantik. Benar cantik. William enggan mengetup matanya bahkan saat Est sudah bermimpi entah ke negeri mana.
“Wow, loverbirds, go get the room. Ambil kiri, lurus, found, kamar tamu. There.”
“Thank you.”
William menarik tangan Est. “Shall we?”
Est hanya mengangguk, membiarkan pinggangnya dijaga dan dituntun dengan baik menuju tempat sepi. Mungkin kali ini dia harus berterima kasih kepada Daou.
Pintu dengan gegabah dibuka dan ditutup kembali. Ujung jari William meningkap kaos longgar milik Est Supha. Menampilkan putih kulitnya yang nyaris William sentuh sepenuhnya saat shooting. Matanya menyalak saat Est memegang pinggangnya. Melantakkan baju yang dikenakannya. Sekarang dingin air conditioner merayu birahinya. Est menuntun tangannya menelusuri dada bidangnya. Atlet renang itu jelas punya badan yang bagus dan kencang. William ternganga ketika Est mengudarakan desah ah ah uh william! ke udara. Ini bukan apa yang William biasa liat dalam mimpi basahnya.
Ya, bohong jika William tidak pernah memimpikan bagaimana Est Supha mengerang dalam kungkungannya.
“Kak, what's with that sound? What do you think of me?” tanya William penasaran sembari melucuti resetling celana Est dan membiarkannya teronggok di lantai bersama dengan baju milik mereka.
William ternganga, lagi. Entah keberapa kalinya. Mungkin ini yang menakjubkan kedua setelah apa yang William lihat dalam mimpinya. Sekarang nyata di hadapannya, Est bertelanjang bulat, mengepit pahanya, William tahu mungkin Est masih malu ketika batang penis canti putih itu mencuat seperlu lacur.
Sedang Est yang ditatap merasa disetubuhi lewat mata. Bagaimana tidak, sekarang ia tanpa busana, Est yakin beberapa titik tubuhnya sudah memerah karena desir aneh yang dia tahan sedari tadi. William lama banget, sungutnya kesal. Dia kan sudah membayangkan digagahi berondong yang 4 tahun jaraknya dari dirinya. Hancur hancur. Apa gue ngangkang aja ya biar dia mikir?
“Ditelanjangin aja nih? Kamu gak mau sentuh aku?” Est merengek. Ia cemberut sembari memoncongkan bibirnya. William hanya terkekeh dan balas mengecup bibir Est. “I've always wanted to touch you,” tangan William bergerilya lihai, ia membayang mimpi tak wajar yang ada Est di dalamnya sebagai bantuan. Mencium bibir, dagu, leher hingga lolongan seksi itu kembali mengudara. "Here," William mencium puting susunya yang sudah tegak minta disentuh. Lanjut menjilat dan menggigit areolanya dengan gerakan memutar. Kanan dan kiri.
Tepat ketika William turun menjilat perutnya, Est membusung. Seperti menuntut untuk lebih cepat menuju bagian bawahnya yang sudah memerah menyedihkan karena tidak disentuh. Tapi yang lebih muda malah bermain diantara pahanya. mencium paha kanan dan kiri bergantian. "Sayang, aku buka ya?"
Est mengangguk, mendesah dan meracau kala ia merasakan tangan William membuka paha dalamnya. Dinginnya udara membuatnya semakin terangsang. Dan mungkin William memang juara 1 membuat Est geram. Karena sudah menyedihkan pun William tetap memilih menjilat dan mencium paha dalamnya daripada melakukan sesuatu dengan penisnya.
Frustrasi, Est meraih penisnya sendiri, gak perlu malu, kalo malu ga dientot, begitu racaunya di dalam hati. Karena ini hanyalah salah satu cara Est agar William mau menyetubuhinya.
William terkejut ketika yang lebih tua memilih menekan batang cantik yang sengaja ditaruhnya sebagai pesembahan paling akhir. Ia melihat dengan cermat bagaimana Est mengocok sendiri miliknya dan mendesah jauh lebih kencang dan porno daripada yang sebelumnya. Cantik.
"Kamu gini ya tiap aku tinggal?"
"Gak kamu tinggal--uhm--juga, aku kayak gini di kamar mandi sendiri."
William melotot. "Oh gitu? Emang gimana biasanya kamu mikirin akunya?"
"Uhm--gini." Est bangkit duduk, memindah posisi membelakangi William dan dengan kesadaran yang setengah itu ia menungging.
Demi Tuhan, ini serius Est Supha yang pernah menolak dirinya di depan layar kaca secara terang-terangan?
Est menarik bantal asal, menyesakkannya di bawah penisnya, ia kemudian bergerak maju mundur seakan benda itu bisa membantunya menuju kepuasan. Lalu tangannya bertumpu pada kasur dan tangannya yang lain mengarah tepat ke lubang senggamanya. "Aku selalu berharap kamu call atau buka kamarku pas aku lagi kayak gini," ucapnya sayu.
William diujung tanduk. "Kalo mau, balik dulu, copotin celanaku
--pakai gigi kamu."
Est hencap berbalik, benar-benar lacur, ia mendongak pada William sembari melepaskan resetling celana. Kain itu sekarang ikut bergabung di bawah. Kemudian Est lanjut menarik karet celana dalam William, sengaja ia menjilat kain itu dari luar. William mengerang, gila gila gila. Ia mendesah kencang ketika Est berhasil mengeluarkan kejantanannya dari celana dalamnya--dan menjilatnya seperti anjing yang lapar.
William lagi-lagi mengudarakan desahan, "Ah!" "Kakak enak banget" "Jago, kak" "Kalo tau seenak ini kakak aku pake dari lama" begitu ujarnya. Est semakin sange. Jujur, badan William sudah terbentuk. Mungkin tidak sebesar Joss atau temannya yang lain, tetapi tetap saja menyentuh semua bagian kulit William menjadi hal yang paling didambanya.
Est melenguh di bawah sana, udara sekitar terasa semakin tidak bersahabat, mereka mengadu antara desahan dan suara basah cabul dari kuluman Est Supha pada batang kejantanannya. “Kak, ayo gantian." William mengajak, tidak tahu jika Est di bawah sana sudah menanti ini. William mengarahkan Est terlentang di ranjangnya. Sembari memeta ciumannya pada paha dalam Est, dia menaikkan dua belah pahanya, membuat yang punya badan malu bukan main. Bukannya tadi dia nekat menunjukkan lubang senggamanya dan main solo di hadapan William, mengapa saat William ambil alih dan mendominasinya Est rasanya semakin panas saja? Seluruh badannya memerah sekarang, di bawah sana William masih asyik maju mundur memanjakan miliknya dalam kulumannya, gila ya mulut penyanyi pas dipake nyepong kagak berhenti berhenti!
Kini giliran desahan Est mengudara. "William cepetin aja gapapa! Jangan digodain gitu akunya, mana tahan!" Est berteriak sedikit kewalahan, bingung antara harus mendesah gila atau bilang dia maunya diapain oleh yang lebih muda. Hingga Est menjemput puncaknya terlebih dahulu karena William tidak hanya mengulumnya, tapi menjilatinya telaten sembari menonton wajahnya. Sekali lagi, sembari menonton wajahnya yang kepalang buas. "Willy, aku--ah! sayh-anghhh, malu banget aku crot di muka kamu!"
William terkekeh, "Cantik banget deh kalo cerewet gini. Boleh gak aku sepong setiap hari?"
Anjing, mau banget.
"Kakak bersih, kan?" tanya William memastikan sehabis dia mencium pucuk kepala penis milik Est yang sudah penuh dengan cum. Ia dengan lihat membalurkan itu ke permukaan telapak tangannya. Dua jarinya sudah bergerilya memutar pada lubang milik Est, "I don't have lube and condom, should we stop? Kamu udah keluar juga." Est langsung menggeleng sebagai respon. Sudah kepayahan begini masa gak masuk? pikirnya.
"I can handle raw sex."
And there's no way back for William being all soft and lovely. That night will be unintentionally ... rough.
