Work Text:
Lampu di markas "teman rahasia Junggo" tempat Seongeun bekerja berkedip pelan, memantul di permukaan meja kaca yang dingin. Seongeun menyandarkan kepalanya ke kursi kerja, memejamkan mata rapat-rapat. Suara gemertak tulang lehernya saat ia menoleh ke kiri terdengar cukup keras di ruangan yang sunyi itu.
"Sial," umpatnya pelan.
Badannya terasa seperti habis dihantam truk kontainer. Sebenarnya, hari ini jadwalnya hanya pertemuan bisnis biasa. Tapi klien tadi siang—seorang pria paruh baya yang merasa uangnya bisa membeli harga diri orang lain—terlalu banyak bicara. Saat pria itu mulai melayangkan makian rasis dan mencoba memukul salah satu anak buah Seongeun, kesabarannya habis.
Seongeun harus "membereskan" pria itu dan ternyata ia membawa banyak sekali pengawal. Akhirnya ia sendiri yang membereskan mereka di lorong yang sempit. Hasilnya? Klien setuju dengan kontrak baru, tapi bahu Seongeun sekarang terasa kaku seperti semen.
𝙋𝙐𝙆𝙆𝙆
Sesuatu yang dingin menempel di pipinya. Seongeun tersentak, matanya terbuka dan langsung menatap tajam ke arah pelaku.
"Wajahmu seram sekali, Seongeun. Nanti keriputnya makin banyak, lho."
Junggo berdiri di sana, menyeringai sambil memegang kaleng kopi dingin. Ia mengenakan kemeja kuning bermotif garis garis yang mencolok.
"Pergi, Junggo. Aku sedang tidak mood meladeni candaanmu," desis Seongeun sambil memijat pangkal hidungnya.
"Wah, galak sekali," Junggo menarik kursi, duduk terbalik menghadap Seongeun. "Kau terlihat seperti kakek-kakek yang butuh koyo."
Seongeun menghela napas berat, tidak punya energi untuk berdebat. "Kliennya tadi rese. Aku hanya ingin cepat selesai."
Junggo menyesap kopinya, matanya berkilat di balik kacamata. "Kau itu terlalu tegang. Tubuhmu itu aset, kalau rusak, siapa yang mau urus bisnis ini? Aku punya saran."
"Saranmu biasanya berakhir dengan aku menghabiskan uang atau memukul orang."
"Kali ini beda," Junggo mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna emas dari saku kemejanya dan meletakkannya di meja. "Pergilah ke tempat ini. Namanya 𝘛𝘩𝘦 𝘎𝘰𝘭𝘥𝘦𝘯 𝘛𝘰𝘶𝘤𝘩. Ini bukan panti pijat biasa. Terapisnya mantan atlet bela diri, mereka tahu persis di mana titik saraf yang tersumbat gara-gara kau terlalu sering menahan amarah."
Seongeun melirik kartu itu dengan ragu. "Aku tidak punya waktu untuk spa mewah."
"Ini perintah dari rekan bisnismu yang paling tampan," Junggo berdiri, menepuk bahu Seongeun dengan keras—sengaja di titik yang paling sakit hingga Seongeun meringis.
"Bilang saja kau temannya Goo Park. Kau akan dapat diskon, atau mungkin pelayanan ekstra kalau kau tidak terlalu galak pada mereka." Junggo berjalan menuju pintu sambil bersiul santai. Sebelum keluar, ia menoleh sedikit.
"Jangan dipaksakan terus, Seongeun. Aku ingin kau tetap bekerja dengan maksimal"
Seongeun terdiam, menatap pintu yang tertutup. Ia mengambil kartu nama itu, jemarinya mengusap permukaan kertas yang mahal. Mungkin, sekali ini saja, ia akan mengikuti saran gila si pirang itu.
***
Seongeun akhirnya menyerah pada rasa sakit di punggungnya. Dengan setelan jas yang sudah sedikit kusut, ia melangkah masuk ke gang tersembunyi di distrik Gangnam, tempat yang tertera di kartu nama pemberian Junggo.
Tempat itu bernama 'The Golden Touch'. Dari luar, bangunannya terlihat minimalis dengan pintu kayu ek yang berat. Begitu masuk, aromanya bukan wangi bunga melati seperti spa pada umumnya, melainkan aroma tajam kayu cendana dan samar-samar bau menthol yang kuat.
"Selamat datang. Reservasi atas nama siapa?" tanya seorang pria berbadan tegap di balik meja resepsionis. Pria itu punya bekas luka kecil di alisnya—jelas bukan pelayan biasa.
"Seo Seongeun. Teman dari Goo Park," jawab Seongeun agak canggung.
Si resepsionis langsung menegakkan punggung. "Ah, tamu spesial Tuan Goo. Silakan lewat sini. Kami sudah menyiapkan ruangan paling privat untuk Anda."
Seongeun dibawa ke sebuah ruangan dengan penerangan remang-remang. Ia diminta melepas jas dan kemejanya. Saat ia berbaring telungkup di ranjang pijat, terlihatlah deretan tato yang memenuhi seluruh tubuhnya.
Tak lama, terdengar suara pintu terbuka pelan. Langkah kaki yang ringan dan familiar membuat Seongeun menegang. Aroma parfum yang ia kenal—
"Maaf membuat Anda menunggu, Tuan."
Suara itu.
Seongeun sontak mengangkat kepalanya, memutar lehernya, lalu matanya membelalak tak percaya saat melihat siapa yang berdiri di samping ranjang pijat.
Kim Gimyung berdiri di sana, mengenakan seragam terapis berwarna hitam yang rapi, dengan rambut yang khas ditata klimis. Wajahnya yang rupawan kini menunjukkan ekspresi yang tak kalah terkejut. Mulutnya sedikit terbuka, matanya melayang dari wajah Seongeun yang terkejut, lalu turun ke punggung bidang Seongeun yang dihiasi tato, hingga ke pinggangnya yang ramping. Sebuah semburat merah tipis muncul di pipinya.
"S-Seo... Seongeun?!" Gimyung tergagap. "Kau... kau Seo Seongeun?"
Seongeun segera bangkit, menarik selimut untuk menutupi bagian atas tubuhnya. "Gimyung?! Apa yang kau lakukan di sini?! Kau... kau jadi terapis?!"
Gimyung masih terlihat sedikit syok, tapi dengan cepat ia menguasai diri. Ia berdehem, lalu dengan profesionalisme yang dibuat-buat, ia mengambil botol minyak pijat. "Seharusnya aku yang bertanya! Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini, Seo Seongeun?"
"Aku pegal! Dan Junggo yang menyuruhku ke sini!" Seongeun menjawab jengkel. "Jadi kau sekarang memijat orang?"
Gimyung mengedikkan bahu, matanya tak bisa menahan diri untuk tidak sesekali melirik badan Seongeun. "Tentu saja. Ini pekerjaan yang jujur. kalau kau mau tahu. Kau beruntung dapat terapis sepertiku."
"Beruntung kepalamu! Aku tidak mau dipijat olehmu!" Seongeun mencoba bangkit, tapi Gimyung dengan cepat menahannya.
"Hei! Kau sudah di sini. Dan aku sudah siap," Gimyung menarik napas dalam, lalu beralih ke mode terapis profesional. "Baiklah, berbaringlah."
Seongeun mendengus, tapi akhirnya menurut. Ia berbaring telungkup lagi, merasakan hawa dingin di punggungnya saat Gimyung menuangkan minyak pijat.
"Jadi, apa kau masih sering bertarung?" Gimyung memulai obrolan, jemarinya mulai menekan otot-otot di bahu Seongeun.
"Tentu saja. Itu pekerjaanku," jawab Seongeun singkat. Ia masih merasa aneh dipijat oleh Gimyung—seseorang yang dulu menjadi teman seperjuangannya, tapi sekarang sudah tidak lagi.
"Hmm, pantas saja. Otot-ototmu kaku sekali. Seperti kawat baja," Gimyung bergumam, sambil sesekali menghela napas kecil. "Tapi... aku harus akui, bentuknya masih bagus. Dulu kau memang yang paling lincah di antara kita semua."
Seongeun merasa pipinya sedikit memanas. "Bisa kau fokus pada pijatnya saja, Kim Gimyung?"
Gimyung tertawa pelan. "Tentu saja, Tuan Seo. Ini adalah pelayanan profesiona."
"Pijat saja," Seongeun menggerutu, namun ia tak bisa menahan diri untuk tidak mengakui bahwa sentuhan Gimyung memang terasa berbeda dari yang ia bayangkan.
"Jadi, bagaimana kabar mu? Masih sibuk mengumpulkan uang?"
"Aku membangun bisnis yang legal, Gimyung. Bisnis hiburan," Seongeun mengoreksi, berusaha terdengar datar meskipun ia merasa aneh sekali membahas pekerjaannya sambil dipijat oleh mantan "teman" nya.
"Oh, ya?" Gimyung terkekeh.
Seongeun tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata, merasakan jemari Gimyung memijatnya nikmat.
Gimyung melanjutkan pijatannya, sesekali bertanya tentang kehidupan Seongeun, tentang pekerjaan barunya, atau tentang teman-teman lama mereka. Seongeun menjawab seadanya, tapi ia tidak lagi merasa setegang di awal. Malah, ada sedikit rasa nostalgia yang menyeruak di antara sentuhan dan obrolan mereka.
Jemari gimyung yang panas mulai menekan pinggang bawah Seongeun dengan ritme yang sengaja diperlambat.
"Kau tahu, Seongeun..." bisik Gimyung, suaranya kini serak dan rendah, nyaris seperti geraman. "Bagian ini adalah yang paling tegang. Kau menyimpan terlalu banyak beban di sini."
Jari-jari Gimyung mulai menyusup lebih dalam ke balik pinggiran handuk yang melilit pinggul Seongeun. Dengan gerakan yang sangat pelan, ia menarik kain itu sedikit demi sedikit. Seongeun hanya bisa membenamkan wajahnya ke bantal pijat, tangannya mencengkeram sisi ranjang hingga buku jarinya memutih. Sebuah lenguhan lolos dari bibirnya.
"𝘕𝘯𝘨𝘨𝘩... Gimyung, hentikan..." gumam Seongeun, tapi tubuhnya justru melengkung menyambut tekanan tangan Gimyung.
"Hentikan? Tapi tubuhmu bilang sebaliknya," balas Gimyung. Ia melirik nakal ke arah pantat Seongeun yang kencang, matanya berkilat penuh obsesi yang sulit disembunyikan.
Gimyung memberikan satu tekanan kuat pada otot di pangkal paha Seongeun, sebuah titik picu yang membuat seluruh tubuh Seongeun tersentak. Bersamaan dengan itu, Gimyung dengan sengaja menarik ujung handuk yang sudah longgar itu.
𝙎𝙍𝙀𝙏𝙏
Handuk abu-abu itu melorot sepenuhnya, jatuh ke lantai dingin, mengekspos seluruh bagian bawah tubuh Seongeun yang selama ini tertutup. Ruangan itu mendadak terasa jauh lebih panas. Gimyung terdiam sesaat, matanya melongo lebar, benar-benar kehilangan kata-kata saat melihat pemandangan di depannya secara utuh.
Gimyung menelan ludah dengan susah payah. Pemandangan di depannya benar-benar menghancurkan sisa-sisa profesionalismenya sebagai terapis. pantat sintal Seongeun yang kencang dan padat, kini berkilau karena sisa minyak pijat yang meluber dari punggungnya.
Seongeun yang merasakan udara dingin menyentuh kulitnya yang polos. Wajahnya merah padam sampai ke telinga. Ia mencoba menoleh dengan tatapan tajam yang campur aduk antara marah dan malu.
"Kim Gimyung! Handuknya—"
"Maaf," potong Gimyung cepat, tapi ia sama sekali tidak berusaha memungut handuk itu. Alih-alih menjauh, ia justru mencondongkan tubuhnya lebih dekat, tangannya yang masih berlumur minyak kini mendarat tepat di atas kulit polos Seongeun tanpa penghalang sedikit pun. "Tangan kotor ini tidak sengaja menariknya. Tapi bukankah pijatannya akan terasa lebih nikmat?"
Seongeun hanya bisa mengumpat dalam hati, menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam jebakan Gimyung.
Gimyung tidak bisa menahan diri lagi; tangannya kembali bergerak, tapi kali ini bukan untuk memijat.
Telapak tangan Gimyung yang besar kini meremas pelan gumpalan daging kenyal itu, merasakan tekstur kulit Seongeun yang panas.
"𝘕𝘯𝘨𝘨𝘩.. Gimyung... apa yang kau lakukan?!" Seongeun tersentak, suaranya parau. Ia mencoba memberontak, tapi otot-ototnya yang baru saja dilemaskan terasa lemas seperti jeli.
"Memastikan tidak ada yang terlewat, Seongeun" bisik Gimyung.
Gimyung mulai bermain-main, jemarinya menelusuri belahan sensitif itu dengan ritme yang menyiksa. Ia melebarkan pantatnya ke kanan dan ke kiri, membuat lubangnya yang berkedut terekspos.
Seongeun bisa merasakan napas panas Gimyung yang berhembus tepat di lubangnya. Dan sebelum Seongeun sempat memaki lagi, ia merasakan sesuatu yang basah dan hangat menyentuh lubangnya yang masih tertutup rapat.
𝙇𝙄𝘾𝙆, 𝙇𝙄𝘾𝙆, 𝙇𝙄𝘾𝙆
"𝘈𝘏!" Seongeun memekik, tubuhnya melenting kaget. Lidah Gimyung menyapu area sensitif itu dengan gerakan berani, menjilati dan membasahinya seolah-olah itu adalah santapan paling lezat yang pernah ia temui. Sensasi kasar namun lembut dari lidah Gimyung membuat Seongeun seakan meledak.
Ia mulai memasukkan lidahnya, maju mundur dan memutar. Menyapu dinding anal yang sempit. Gimyung mendongak sedikit, melihat reaksi Seongeun yang kini gemetar hebat. Sambil tetap memberikan rangsangan dengan lidahnya, ia meraih botol minyak pijat yang tersisa, menuangkannya ke jemarinya sendiri.
"Kau sangat sempit, Seongeun. Padahal kau baru saja dipijat sampai lemas," ejek Gimyung. Tanpa peringatan, Gimyung mendorong satu jarinya masuk.
"NGGHHH—KIM GIMYUNG!" Seongeun mencengkeram sprei ranjang pijat itu sampai robek.
Gimyung tidak berhenti. Ia mulai melakukan 𝘧𝘪𝘯𝘨𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨, menggerakkan jarinya keluar-masuk dengan perlahan, mencari titik kenikmatanya. Minyak pijat yang licin mempermudah gerakannya, menciptakan suara basah yang bergema di ruangan sunyi itu.
"Sstt... diamlah. Jika kau berteriak seperti itu, nanti orang di luar dengar 𝘚𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨." bisik Gimyung sambil menambah jari kedua, meregangkan lubang Seongeun dengan paksa.
"Nikmati saja. Bukankah ini alasan Junggo mengirimmu ke sini? Untuk mendapatkan pelayanan ekstra?"
Seongeun hanya bisa mengerang tidak berdaya, wajahnya terbenam di bantal, sementara Gimyung terus mengeksplorasi bagian terdalam dirinya dengan nafsu yang sudah memuncak.
Gimyung semakin gila. Suara basah dari gesekan jarinya yang terlumuri minyak kini memenuhi ruangan, beradu dengan napas Seongeun yang makin memburu. Gimyung menambah jari ketiga, meregangkan lubang Seongeun dengan gerakan memutar.
"Lihat dirimu, Seongeun... kau gemetar hebat hanya karena jari-jariku," bisik Gimyung. Ia membenamkan wajahnya di antara belahan pantat Seongeun, menghirup aroma keringat dan minyak pijat, lalu kembali "makan" area sensitif itu dengan lidahnya yang liar, menghisap kulit di sekitarnya hingga meninggalkan tanda kemerahan yang kontras dengan warna kulit Seongeun.
Seongeun sudah kehilangan harga dirinya. Ia hanya bisa melenguh panjang, tubuhnya bergetar setiap kali lidah Gimyung menyentuh titik yang paling dalam.
"Balik badanmu. Sekarang," perintah Gimyung dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Dengan sisa tenaga yang ada dan tubuh yang lemas luar biasa, Seongeun membalikkan tubuhnya. Kini ia berbaring terlentang, menatap langit-langit dengan mata yang sayu dan wajah yang merah padam. Segalanya terekspos—termasuk penisnya yang sudah menegang sempurna, berdenyut menuntut pelepasan.
Gimyung melongo lagi. Melihat Seongeun dalam posisi pasrah seperti ini Seongeun semakin cantik. Ia merangkak naik, berlutut di antara kedua paha lebar Seongeun.
Tanpa membuang waktu, Gimyung menunduk. Ia melingkarkan jemarinya di pangkal kejantanan Seongeun, lalu perlahan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"𝘕𝘯𝘨𝘨𝘩𝘩! G-Gimyung...!" Seongeun menyentakkan kepalanya ke belakang, tangannya refleks menjambak rambut pirang Gimyung saat merasakan kehangatan mulut pria itu menyelimutinya.
Gimyung melakukan 𝘣𝘭𝘰𝘸𝘫𝘰𝘣 dengan sangat mahir, menggunakan lidahnya untuk memberi tekanan di bagian ujung, sementara matanya tetap menatap tajam ke arah Seongeun, menikmati ekspresi pria yang biasanya sangat angkuh itu. Ia menghisapnya kuat, membuat Seongeun merasa seolah jiwanya sedang ditarik keluar.
Ruangan itu kini hanya diisi oleh suara isapan yang basah dan erangan berat Seongeun yang semakin tidak terkendali.
Sambil terus menghisap kejantanan Seongeun, tangan kanan Gimyung meraba ke bawah, mencari kembali lubang yang tadi sudah ia persiapkan. Tanpa melepaskan mulutnya, Gimyung menusukkan dua jarinya sekaligus kembali ke dalam lubang Seongeun.
"𝘔𝘔𝘔𝘗𝘏—!!"
Seongeun tersentak hebat, tubuhnya melengkung ke atas seperti busur. Sensasi ganda itu terlalu berlebihan; mulut Gimyung yang panas, ditambah dengan jari-jarinya yang bergerak liar menusuk titik prostatnya di belakang. Seongeun merasa seolah-olah otaknya meleleh. Ia tidak bisa lagi berpikir jernih.
Gimyung semakin mempercepat tempo jarinya, menusuk bagian terdalam dengan gerakan memutar yang sengaja, sementara mulutnya memberikan hisapan. Ia bisa merasakan otot-otot paha Seongeun menegang keras dan bergetar hebat.
"𝘕𝘯𝘨𝘨𝘩𝘩𝘩! Gi—Gimyung! Aku... aku akan...!!" Seongeun mengerang parau, suaranya pecah di udara ruangan yang pengap.
Jari Gimyung menghantam titik sensitif itu berulang kali dengan brutal, bersamaan dengan lidahnya yang memutar di ujung kejantanan Seongeun. Seongeun sudah mencapai batasnya. Matanya memutar ke atas, jari-jemarinya mencengkeram rambut Gimyung dan bahu pria itu dengan sisa tenaga terakhir.
"𝘈𝘒𝘏𝘏—!!"
Seongeun akhirnya keluar. Cairan hangatnya menyembur, memenuhi mulut Gimyung dan sebagian mengenai seragam terapisnya yang rapi. Tubuh Seongeun ambruk kembali ke ranjang pijat, napasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru saja lolos dari maut. Seluruh ototnya lemas total.
Gimyung perlahan melepaskan mulutnya, menjilat sisa cairan di sudut bibirnya dengan tatapan yang sangat puas—bahkan cenderung haus akan lebih. Ia menatap Seongeun yang masih terengah-engah dengan mata sayu.
"Wah, Seongeun, kau berantakan sekali," bisik Gimyung. "Bagaimana? Pegalnya sudah hilang, kan?"
Seongeun hanya bisa menutup wajahnya dengan lengannya, terlalu malu dan terlalu lemas untuk membalas ejekan itu, sementara Gimyung hanya terkekeh pelan sambil mengusap sisa minyak di tangannya ke dada Seongeun yang bidang.
Gimyung tidak membiarkan Seongeun beristirahat lama. Dengan seringai kemenangan yang belum pudar, ia beranjak dari antara paha Seongeun dan berjalan memutar, berdiri tepat di belakang kepala Seongeun yang masih terbaring lemas.
Dari posisi atas, Gimyung menunduk, menatap wajah Seongeun yang berantakan dengan rambut yang basah oleh keringat. Jemari Gimyung yang masih licin oleh minyak dan sisa cairan tadi kini mendarat di dada montok Seongeun. Ia mulai memilin dan memainkan puting Seongeun dengan kasar, membuat pria di bawahnya itu tersentak dan mendongak secara refleks.
"Jangan tidur dulu, Seongeun. Aku belum puas" bisik Gimyung seraya membuka ritsleting celananya.
Kejantanan Gimyung yang sudah menegang keras sejak tadi kini menampar wajah Seongeun. Aroma maskulin yang kuat menyeruak. Tanpa perlu diperintah dua kali, Seongeun yang sudah terlanjur tenggelam dalam kabut gairah itu membuka mulutnya, menyambut milik Gimyung sepenuhnya.
𝙂𝙇𝙀𝙂
Seongeun mendongak maksimal, berusaha menelan milik Gimyung sedalam mungkin. Dari sudut pandang Gimyung di atas, pemandangan itu benar-benar gila. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana jakun Seongeun bergerak naik turun, dan bagaimana miliknya yang besar menciptakan tonjolan yang terlihat jelas di leher jenjang Seongeun saat ia melakukan 𝘥𝘦𝘦𝘱𝘵𝘩𝘳𝘰𝘢𝘵.
"Sial... kau hebat juga, Seongeun," desis Gimyung. Tangannya semakin asyik meremas dan mencubit otot dada Seongeun, memberikan sensasi perih yang justru menambah gairah.
Seongeun tidak tinggal diam. Sembari mulutnya sibuk memuaskan Gimyung, tangan kanannya meraih miliknya sendiri yang kembali mengeras karena stimulasi di dada dan tenggorokannya. Ia mulai mengocok miliknya sendiri dengan ritme cepat, menciptakan suara gesekan kulit yang basah dan licin.
Gimyung benar-benar kehilangan kendali. Dari atas, ia bisa melihat bagaimana wajah Seongeun kini dipenuhi air mata yang mengalir di sudut matanya akibat tekanan di tenggorokannya. Gimyung meremas dada Seongeun yang menjadi pegangan lebih kuat, memandu setiap hantaman pinggulnya agar masuk lebih dalam, menghujam dasar kerongkongan Seongeun tanpa ampun.
"S-Seongeun... aku sudah di ujung!" geram Gimyung.
Dengan sisa tenaga, ia mencubit puting Seongeun dengan sangat keras, menariknya hingga kulit di dada bidang itu ikut tertarik ke atas.
Seongeun melenguh tertahan di dalam mulut Gimyung, tenggorokannya bergetar hebat saat ia merasakan miliknya yang ia kocok dengan liar sudah mencapai titik didih. Kecepatan tangan Seongeun di bawah sana kini tak beraturan, licin oleh minyak dan keringat yang bercampur aduk.
"𝘕𝘯𝘨𝘨𝘩𝘩—!!"
𝘾𝙍𝘼𝙏𝙏𝙏
Gimyung meledak lebih dulu. Cairan hangatnya menyembur deras, memenuhi mulut dan membasahi tenggorokan Seongeun. Gimyung tetap menekan kepalanya di sana, memaksa Seongeun menelan setiap tetes maninya.
Hanya berselang beberapa detik, Seongeun ikut menyusul. Tubuhnya menegang kaku, jemarinya mencakar paha Gimyung saat ia menyemburkan pelepasannya yang kedua. Cairannya memuncrat tinggi, membasahi perut dan dadanya sendiri yang masih terus diremas oleh Gimyung. Seongeun akhirnya terlepas, ia terbatuk pelan saat Gimyung menarik miliknya keluar.
Gimyung tidak membiarkan ketenangan itu bertahan lama. Bukannya menjauh untuk membersihkan diri, ia justru merangkak naik ke atas ranjang pijat yang sudah berantakan dan basah itu. Lututnya menekan kasur di sisi pinggang Seongeun.
"G-Gimyung... sudah cukup..." Seongeun mencoba memprotes, suaranya parau dan serak akibat aktivitas sebelumnya.
"Belum, Seongeun. Terapis tidak akan berhenti sebelum kliennya benar-benar 'puas', kan?" Gimyung menyeringai.
Dengan gerakan kasar, Gimyung meraih kedua pergelangan kaki Seongeun. Ia menariknya lebar-lebar, memaksa Seongeun untuk ngangkang sepenuhnya di depannya. Posisi itu membuat bagian bawah Seongeun yang masih sensitif dan berlumuran sisa minyak serta cairan tadi terekspos secara vulgar di bawah lampu remang-remang ruangan.
Gimyung berlutut di antara kedua paha lebar itu, matanya berkilat saat melihat lubang Seongeun yang masih sedikit terbuka dan berdenyut akibat "permainan" sebelumnya. Tanpa membuang waktu, Gimyung mengarahkan miliknya yang masih keras dan panas ke mulut lubang tersebut.
"𝘕𝘯𝘨𝘨𝘩... tunggu! Kim Gimyung!" Seongeun mencengkeram sprei, matanya membelalak saat merasakan ujung kepala penis Gimyung yang besar mulai menekan masuk.
"Rileks, Seongeun... atau ini akan terasa sangat sakit," bisik Gimyung.
Gimyung memberikan dorongan perlahan. Ia menekan pinggulnya ke depan, membiarkan miliknya perlahan-lahan melesak masuk ke dalam Seongeun yang sempit.
Seongeun mendongak, lehernya menegang, dan sebuah lenguhan panjang yang penuh tekanan lolos dari bibirnya saat ia merasakan tubuhnya dibelah dua.
"𝘈𝘩... 𝘈𝘬𝘩! Gimyung... pelan-pelan, sialan!"
Gimyung tidak mempedulikan umpatan itu. Ia terus mendorong hingga pangkal paha mereka bertemu dengan suara 𝙋𝙇𝘼𝙋 yang basah. Ia berhenti sejenak, membiarkan Seongeun menyesuaikan diri dengan ukurannya, sementara tangannya kembali ke dada Seongeun, meremas otot-otot di sana untuk mengalihkan rasa sakit menjadi nikmat yang baru.
"Kau sangat ketat... luar biasa," desis Gimyung, mulai melakukan gerakan maju-mundur yang dangkal untuk merilekskan Seongeun.
Gimyung tidak memberikan waktu bagi Seongeun untuk sekadar menarik napas. Begitu ia merasakan otot-otot Seongeun mulai melunak, menyedot miliknya dengan pasrah, Gimyung mulai memacu pinggulnya dengan tempo yang semakin brutal.
𝙋𝙇𝘼𝙋 𝙋𝙇𝘼𝙋 𝙋𝙇𝘼𝙋
Suara benturan kulit mereka bergema di ruangan yang kedap suara itu, bercampur dengan suara decitan ranjang pijat yang seolah akan patah. Gimyung menghujam dalam, setiap dorongannya mengincar titik terdalam yang membuat Seongeun kehilangan fungsi otaknya.
"𝘕𝘎𝘎𝘏𝘏𝘏𝘏! G-GIMYUNG! TERLALU... TERLALU DALAM!" Seongeun memekik, tangannya yang kekar kini mencakar bantal pijat sampai robek. Tubuhnya tersentak-sentak mengikuti irama hantaman Gimyung yang tidak mengenal ampun.
Gimyung semakin gila melihat ekspresi Seongeun. Ia membungkuk, meraih kedua tangan Seongeun dan menguncinya di atas kepala pria itu dengan satu tangan, sementara ia membungkuk untuk menghisap puting seongeun. Menjilat atas bawah, menggigit kecil, dan menariknya dengan gigi.
"Sialan... Seo Seongeun! Suaramu indah sekali" geram Gimyung. Ia menambah kecepatannya, mengubah hantaman lambat menjadi gedoran yang cepat dan beruntun.
Seongeun sudah tidak bisa lagi berbicara. Matanya berair, lidahnya sedikit terjulur keluar saat ia merasakan sensasi panas yang membakar di perut bawahnya. Setiap kali Gimyung menghantam prostatnya, Seongeun melenguh panjang, tubuhnya melengkung ke atas, menyambut penis yang menghancurkan harga dirinya.
"𝘈-𝘈𝘒𝘏! AKH! GIMYUNG... AKU... AKU AKAN 𝘊𝘜𝘔!"
"Jangan berani-berani keluar duluan sebelum aku menyuruhmu!" Gimyung membentak, tatapannya dipenuhi nafsu yang meluap. Ia menarik pinggul Seongeun agar terangkat lebih tinggi.
Seongeun hanya bisa pasrah, membiarkan tubuhnya dihancurkan dengan penuh kenikmatan, merasakan sensasi luar biasa yang belum pernah ia rasakan dari siapapun sebelumnya.
Gimyung benar-benar menjadi iblis di atas ranjang. Melihat Seongeun yang sudah di ambang batas, ia justru sengaja menyiksa Seongeun. Setiap kali Seongeun akan mencapai puncaknya, Gimyung tiba-tiba memperlambat temponya atau menekan ujung kejantanan Seongeun dengan jarinya, menahan pelepasan itu dengan paksa.
"𝘕𝘯𝘨𝘨𝘩𝘩! Gimyung... jangan ditahan... kumohon... keluarkan!" Seongeun merintih, suaranya pecah dan memelas. Tubuhnya gemetar hebat, otot-otot perutnya yang kotak-kotak menegang keras sampai urat-urat di lehernya menonjol.
"Belum, Seongeun. Kau harus merasakan ini lebih lama lagi," bisik Gimyung tepat di telinganya, lidahnya menjilat daun telinga Seongeun yang merah padam.
Gimyung kembali menghantam dengan kekuatan penuh.
𝙋𝙇𝘼𝙋 𝙋𝙇𝘼𝙋 𝙋𝙇𝘼𝙋
Suara itu makin nyaring saat Gimyung mengangkat kaki Seongeun lebih tinggi, menyampirkannya di bahunya yang lebar agar ia bisa masuk sampai ke titik yang paling sensitif.
"𝘈𝘩! 𝘈𝘬𝘩! Gimyung! Sialan... kau benar-benar... 𝘈𝘩𝘩𝘩!" Seongeun mendongak, matanya memutar ke atas hingga hanya terlihat bagian putihnya saja. Ia merasa seolah-olah seluruh isi perutnya diaduk-aduk oleh milik Gimyung yang panas dan besar.
"Lihat dirimu sekarang Seongeun" ejek Gimyung, napasnya memburu di leher Seongeun.
"Katakan, Seongeun milik siapa yang ada di dalammu sekarang? Siapa yang sedang membuatmu gila?"
Seongeun tidak bisa menjawab, ia hanya bisa melenguh panjang dengan air mata yang terus mengalir. Ia merasa penuh dan sesak di saat yang bersamaan. Setiap kali Gimyung bergerak, Seongeun merasakan gelombang nikmat yang menyiksa karena ia dilarang untuk 𝘤𝘶𝘮.
"Teruslah menatapku, Seongeun. Lihat siapa yang ada di dalammu sekarang" Gimyung menggeram, GImyung memacu pinggulnya dengan kecepatan yang tak masuk akal, membuat Seongeun hanya bisa pasrah.
"Kau milikku malam ini, Seongeun. Hanya milikku!" pelepasan Gimyung sudah sangat dekat.
"Gimyung... kumohon... biarkan aku... keluar... 𝘈𝘒𝘏𝘏!" Seongeun memohon dengan suara yang nyaris hilang, tangannya mencengkeram lengan Gimyung begitu kuat hingga kuku-kukunya meninggalkan bekas kemerahan.
"Katakan namaku, 𝘚𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨. Memohonlah padaku!" Gimyung membentak, memberikan satu hantaman yang sangat telak pada prostat Seongeun sampai tubuh pria di bawahnya itu tersentak hebat.
"Gimyung... Kim Gimyung, Please! 𝘈𝘒𝘏𝘏𝘏!" Seongeun akhirnya berteriak.
Mendengar namanya disebut, pertahanan Gimyung akhirnya runtuh juga. Ia tidak lagi menahan diri. Ia melepaskan cengkeramannya pada penis Seongeun.
"Sekarang, Seongeun! Keluar bersamaku" Gimyung menggeram rendah.
Ia mencengkeram pinggul Seongeun, mengangkatnya tinggi-tinggi agar ia bisa menanamkan miliknya sedalam mungkin untuk yang terakhir kalinya.
"𝘈𝘏𝘏𝘏𝘏𝘏𝘏𝘏!!"
Seongeun meledak. Cairannya bening menyembur deras, memuncrat hingga mengenai wajahnya sendiri dan dada Gimyung, tubuhnya melengkung kaku dalam orgasme yang paling hebat seumur hidupnya.
Hanya selisih satu detik, Gimyung pun mencapai puncaknya. Ia mengerang keras, membenamkan wajahnya di leher Seongeun saat ia menyemburkan seluruh benihnya jauh ke dalam perut Seongeun. Dinding-dinding di dalam Seongeun berdenyut menjepit milik Gimyung.
Hening mendadak menyelimuti ruangan. Hanya suara napas mereka yang terengah-engah dan berat yang terdengar. Penis Gimyung tidak langsung keluar, ia tetap berada di dalam seongeun, membiarkan tubuh mereka yang masih menyatu perlahan-lahan merileks.
Seongeun terbaring lemas dengan mata terpejam, air mata sisa kenikmatan masih mengalir di pelipisnya. Dadanya yang naik-turun menunjukkan betapa brutalnya "𝘴𝘦𝘴𝘪 𝘱𝘪𝘫𝘢𝘵" kali ini. Gimyung perlahan mengangkat kepalanya, menatap Seongeun dengan tatapan yang lebih lembut, meskipun sisa-sisa nafsu masih terlihat di sana.
"Pijatannya... selesai, seongeun" bisik Gimyung parau, sambil mengecup dahi Seongeun yang basah.
Seongeun hanya bisa bergumam tidak jelas, terlalu lemas bahkan untuk sekadar mengumpat. Malam ini, harga diri nya benar-benar habis tak bersisa, dan anehnya ia tidak merasa menyesal sedikit pun.
***
Keesokan harinya, Seongeun melangkah masuk ke tempatnya bekerja. Langkahnya tidak lagi kaku seperti kemarin, tapi ada sesuatu yang berbeda, ia berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya.
Kemejanya sudah rapi kembali, tapi kancing paling atasnya sengaja ia buka, memperlihatkan rona kemerahan yang samar di pangkal lehernya.
"Yo! Si kakek sudah pulang!"
Park Junggo berada di sana, duduk santai di atas meja kerja Seongeun sambil memutar-mutar kacamatanya. Ia menoleh, menyeringai lebar saat melihat Seongeun masuk.
"Wah, wah... lihat wajah itu. Sepertinya saran dariku bekerja sepuluh kali lipat lebih baik dari dugaanku, ya?" Junggo melompat turun dari meja, berjalan mendekati Seongeun dengan tatapan menyelidik.
Seongeun hanya mendengus, mencoba berjalan melewati Junggo menuju kursinya. "Pijatannya lumayan. Ototku sudah tidak kaku lagi."
"Lumayan?" Junggo tiba-tiba berhenti tepat di depan Seongeun.
"kenapa wajahmu merah begitu, Seongeun? Apa terapisnya terlalu cantik sampai kau malu?"
Seongeun membuang muka, mencoba tetap tenang. "Terapisnya pria."
"Pria, ya?" Junggo menyipitkan mata, lalu tawanya pecah. "Hahaha! Jangan bilang kau bertemu Kim Gimyung di sana!."
Seongeun tersentak, tangannya refleks meraba lehernya yang tadi sempat menjadi sasaran bibir Gimyung. "Kau... kau sudah tahu kalau dia ada di sana?"
"Tentu saja! Dia dulu temanmu kan? Apakah pijatannya sangat enak sampai membuatmu malu?"
"Diamlah, Junggo. Aku mau kerja," desis Seongeun, suaranya parau.
"Kerja? Dengan kaki yang gemetar begitu?" Junggo mengikuti Seongeun yang duduk di kursinya dengan hati-hati karena bagian belakangnya masih terasa panas.
"Gimyung memang hebat. Lain kali, jangan lupa beri dia 𝘵𝘪𝘱 yang besar. Atau kau mau aku pesankan jadwal lagi minggu depan?"
Seongeun mengambil tumpukan dokumen dan menaruhnya di depan wajah Junggo untuk mengusirnya. "Keluar dari ruanganku sekarang, atau aku akan menghancurkan kantor ini."
Junggo tertawa terbahak-bahak sambil berjalan menuju pintu. "Oke, oke! Selamat menikmati masa pemulihanmu Seongeun hahaha"
Setelah pintu tertutup, Seongeun menyandarkan punggungnya ke kursi, menarik napas panjang. Ia memejamkan mata, dan seketika bayangan Gimyung yang berada di atasnya kembali muncul. Ia menyentuh bibirnya sendiri, merasakan sisa-sisa kegilaan malam itu.
"Sialan kau, Kim Gimyung," gumamnya pelan.
