Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Character:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-12-27
Words:
1,516
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
98
Bookmarks:
10
Hits:
4,653

lose my mind

Summary:

RAW. next question.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“Hngh- Ah! Ta… Ta, udaah… I might get pregnant at this point... Nnh….”

Si cantik hanya bisa melenguh, mendesah, sembari menahan kepalanya yang hampir terjeduk dipan kasur kayu di ruangan kotak yang di dominasi putih tersebut. Kedua tangannya lemas, suaranya parau, rambutnya acak-acakan. 

Messy. Not only her, but him as well.

Acara ulang tahun yang awalnya berjalan dengan ceria dan positif, menjadi awal dari hilangnya kewarasan lelakinya itu. Satoru, salah seorang senior di sekolah menengah atas tempat lelakinya menimba ilmu dulu—menawarkan penawaran yang sepertinya menggugah hati dan pikiran tiap individu yang mendengarnya. 

Katanya, Ia akan membelikan minuman ke semua orang yang datang ke acara ulang tahunnya itu. Oh, tentu saja, banyak yang akan memanfaatkan kesempatan ini.

Tidak terkecuali lelakinya. Okkotsu Yuuta.

Mereka berdua pun berakhir menghabiskan malam bersama di penginapan terdekat yang tidak jauh dari bar tempat birthday party itu berlangsung.

Suasana di dalam kamar yang remang itu terasa begitu sesak dan panas walaupun AC di ruangan hotel mencapai angka 18 derajat celcius. Yuuta sudah melepas kaus hitam polosnya dengan gerakan kasar, membuangnya entah ke mana. Kini tubuhnya terekspos sempurna—memperlihatkan otot-otot lengan, perut, dan punggung yang terbentuk karena rutin mengunjungi gym di waktu luangnya sejak beberapa tahun yang lalu.

Tatapannya kini terlihat mematikan, gelap akan gairah yang terpacu oleh alkohol yang Ia konsumsi tadi. Si lelaki mengunci pandangannya dengan si cantik, seolah Ia adalah satu-satunya mangsa dihadapannya.

Dorongan yang si cantik terima belum berhenti sedari tadi, entah jenis minuman apa yang sudah dikonsumsi lelakinya beberapa jam yang lalu itu—namun sekarang, Yuuta total hilang akal.

“Sayang.. hnh… enak banget… hamil ya… hamil anak aku, ya?”

Si lelaki mencium bibir si cantik yang sudah kelelahan setelah keluar entah berapa kali.

Mereka berdua kotor, dan acak-acakan.

Rasa alkohol dan bau rokok masih dapat dirasakan dari bibir si lelaki—walaupun samar. Semakin si lelaki mencium bibir perempuan tersebut, semakin dalam dan kencang dorongan yang si cantik terima dibawahnya.

Si lelaki memberikan stimulasi yang mulai membuat si cantik kehilangan kewarasannya. Tangan besarnya yang kasar sibuk menjelajahi lekuk tubuh kekasihnya itu, memberikan sentuhan-sentuhan yang sengaja membuat si cantik melenguh nikmat. Setiap kali jemari si lelaki menekan area sensitifnya, si cantik merasa seolah ada aliran listrik yang menyengat sarafnya dan sesuatu ingin keluar dari dalam dirinya.

Tanpa sadar, si cantik mencengkeram bahu kokoh kekasihnya itu. Kuku-kukunya menekan kulit si lelaki saat Ia mulai menciumi lehernya dan dengan sengaja meninggalkan tanda kemerahan di sana.

Tangannya tidak tinggal diam, Ia bawa satu tangannya dan Ia pilin puting cokelat yang sudah menegang itu. Double combo, menurutnya. Udara dingin dari AC yang menyala, dan juga rangsangan yang terus diberikan si lelaki.

“Pake… kondom… pake kondomnya….” Ucap si cantik sembari melepaskan ciuman dan meremat rambut hitam lelakinya itu.

Si lelaki melihat kekasihnya yang cantik dan berada dibawahnya itu. Cantik. Cantik sekali. Ia tidak menghiraukan ucapannya dan mulai mendekatkan wajahnya lagi. Ia kecupi pipi, leher, tulang selangka, dan dada perempuannya itu. Tidak lupa memberikan tanda agar semua orang tahu bahwa perempuannya itu sudah ada yang punya. Miliknya. Milik Okkotsu Yuuta. 

Wajahnya yang berada di bagian tengah perempuannya itu di angkat, diciumnya pinggang itu sebentar, lalu Ia lihat ke arah si cantik.

Can we do it raw… this time, baby?” Balasnya, dengan suara yang sedikit serak.

“Ta… you know your pull out game is weak. Udah ah… pake aja….” Ucap si cantik sembari melihat ke arah bawah. Merasa sedikit geli karena Yuuta menciumi bagian perutnya terus.

Yuuta terdiam sebentar sebelum membuka mulutnya lagi. “Emang kamu nggak mau… ngerasain… hangatnya aku disini?” Ucapnya, yang diikuti dengan belaian tangan di perut si cantik yang membuat badannya sedikit bergelinjang geli.

Ia mengangkat badannya, lalu Ia dekatkan wajahnya ke indra pendengaran kekasihnya itu, “I wanna fill you up, sayang…” Lanjutnya, “boleh, ya?”

You’re completely drunk,” Jawab si cantik, sambil meremas pelan rambut belakang lelakinya itu, “ngelantur banget, ah.”

Walaupun begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa si cantik cukup terangsang mendengar perkataan yang keluar dari lelakinya itu. 

Kekasihnya menjawab dengan cepat, “No, no, I’m still sober, kok, cantik. Cuma fly dikit aja.” Lalu tertawa pelan. “Sekali ini aja, babyI want to be inside you, completely raw this time. Don’t you want it too?”

Ada sedikit jeda disitu. Sejujurnya, ini merupakan salah satu fantasi rahasia yang dimiliki si cantik. Maka saat kekasihnya melontarkan pernyataan tersebut, itu mulai membuatnya goyah. 

Cause deep, deep, down—she wanted it too.

“Aku belum beli morning after pill tau…” Ucap si cantik dengan lembut, Ia mulai memikirkan untuk menyetujui permintaan lelakinya itu.

Yuuta yang mendengar itu tersenyum kecil dan mencium ujung bibir si cantik, “Aku ada, sayang, tadi dikasih sama Bang Sug. Kayaknya dia udah nebak, hahaha.”

Si perempuan membuka bibirnya sedikit, ck ck ck.

“Ih, pantes aja, kamu ngebet banget. Dasaar.” Balas si cantik, lalu menyentil kening lelakinya dengan pelan.


Waktu berjalan dengan cepat, dan keduanya sudah tidak peduli jika tetangga kamar hotel mereka dapat mendengar suara lenguhan mereka berdua.

Si cantik akhirnya menyetujui pertanyaan lelakinya untuk tidak memakai pengaman malam ini. Sedikit gila, tapi Ia menyukai sensasinya.

Yuuta menarik bagiannya secara perlahan yang daritadi sudah berada di bagian dalam si cantik, lalu Ia memintanya untuk berbalik arah. 

Yuuta memintanya untuk menungging. 

Si cantik mengekspos lekuk tubuhnya yang indah di bawah remang lampu hotel ini. Si lelaki tidak ingin membuang waktu—sudah mendapat lampu hijau dari kekasihnya, maka Ia tanamkan kembali bagiannya yang keras di dalam tubuh perempuannya itu. 

Si lelaki menghujam si cantik dari belakang dengan tempo yang jauh lebih cepat dari sebelumnya. Setiap hujaman yang Ia berikan kini terdengar seperti hantaman yang kotor dengan suara plak-plak yang memenuhi kamar. Melakukan kegiatan dewasa tanpa pengaman ini terasa sangat amat intim dan nyata—si cantik bahkan dapat merasakan setiap denyut dan suhu panas milik kekasihnya yang masuk ke dalam dirinya itu.

“Shit, you’re so tight… padahal udah sering ngentot sama aku… masih aja sempit kayak gini?” Ujarnya sambil melihat bagaimana alat vitalnya masuk ke dalam lubang indah milik si cantik setiap kali Ia mendorong pinggulnya itu. 

Si cantik tidak bisa menjawab pertanyaan kekasihnya karena sensasi ini belum pernah Ia rasakan sebelumnya. “Ahh… Ta... slowly… pelan-pelan...." Pintanya sambil mendesah, kepalanya terbenam ke bantal, namun tubuhnya melengkung ke belakang seakan menuntut lebih banyak dari kekasihnya itu.

“Hnhh… I… I can’t, pretty,” Ucapnya dengan terenguh-enguh, “fuck, enak banget… you’re so wet….” Ia meraih rambut si cantik, sedikit menariknya ke belakang dengan pelan agar Ia bisa melihat wajah kekasihnya yang sudah kacau karena nikmat itu.

This is heaven.

Di matanya, Ia melihat betapa si cantik benar-benar berada di bawah kendalinya. Dengan satu tangan besarnya, si lelaki meraih bagian depan tubuh kekasihnya itu, memberikan stimulasi tambahan yang membuatnya berteriak. Ia memaju-mundurkan dan memijat klitoris perempuannya yang menegang. Tubuh si cantik bergetar hebat, otot-otot di dalamnya kini menjepit milik Yuuta dengan erat—semakin membuatnya nyaris mencapai batasnya.

“Oh, fuck... baby… mmh… I will come…” Erangnya, sambil memposisikan kedua tangannya di pinggang si cantik. “I will come inside you, okay? Kamu mau, kan? Mau hamil anak aku, kan?”

Si cantik hanya bisa mengangguk lemas, Yuuta dan omongan joroknya memang combo yang tidak tertahankan. 

Melihat itu, maka Ia tidak menunggu apa-apa lagi. Yuuta mempercepat gerakannya menjadi sangat dalam dan keras. Napasnya berubah menjadi geraman kasar saat Ia merasakan sensasi panas di alat kelaminnya yang mulai naik ke atas—seakan ingin meledak saat itu juga. 

Lalu dengan satu dorongan terakhir yang sangat kuat hingga tubuh si cantik semakin terdorong ke depan—Yuuta melepaskan semuanya. Ia menanamkan spermanya, cairannya, ke dalam tubuh si cantik.

Ia mengerang keras, membenamkan wajahnya di punggung si cantik saat Ia merasakan cairannya yang hangat memenuhi bagian terdalam kekasihnya itu. Tubuhnya menegang sempurna, sebelum akhirnya ambruk di atas tubuh si cantik yang masih gemetar karena orgasme.

Seketika, ruangan itu mendadak sunyi. Menyisakan suara napas mereka yang sangat terengah-engah seperti orang yang baru saja berlari maraton.

Dalam keadaannya yang setengah mabuk, si lelaki memastikan bahwa setiap inci dari tubuh kekasihnya itu merasakan kehadirannya—membuat kegiatan mereka kali ini menjadi sesuatu yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh mereka berdua.


Mereka berdua masih terengah-engah, tubuh si lelaki yang berkeringat dan berat kini menindih si cantik sepenuhnya. Ia membiarkan kepalanya jatuh di leher kekasihnya itu dan memberikan ciuman kecil di kulitnya tersebut.

Setelah beberapa saat, akhirnya si lelaki mengangkat tubuhnya sedikit—bertumpu pada kedua sikunya. Tatapannya masih terlihat mabuk, namun ada kepuasan sendiri dalam dirinya saat Ia melihat wajah kekasihnya yang berantakan itu karena ulahnya.

“Fuck… that was so good….” Ucapnya dengan pelan.

Ia perlahan mulai menarik dirinya keluar. Karena tidak menggunakan pengaman sama sekali, sensasi saat Ia terlepas dari dalam tubuh kekasihnya itu terasa licin dan basah. 

Begitu semua bagiannya keluar, pemandangan yang Ia lihat sangatlah panas.

Cairan putih kental yang tadi Ia semburkan dalam jumlah banyak di dalam diri kekasihnya itu mulai mengucur keluar. Cairan itu mengalir perlahan, melewati kulit paha si cantik

“Woahyou’re so full of me....” Gumamnya dengan suara yang rendah, “Bahkan sampe tumpah gini, mm? How is it? Enak?”

Ada jeda disitu sebelum si cantik mengangkat kepalanya dengan sisa energi di tubuhnya. “That was… insanely amazing….” Balasnya dengan pelan. Ia melihat kekasihnya itu dengan mata yang sayu, lalu mengangguk pelan. 

Enak. Enak banget.

Mungkin kapan-kapan mereka harus coba lagi.

Ups.

Notes:

akhirnya draft yang udah lama diem di notes ini bisa ke post juga… enjoy <3