Work Text:
Cut!
Pond menarik bibirnya dari bibir Phuwin dengan napas yang sedikit tersengal. Cahaya lampu studio masih menyilaukan, tapi pandangannya tertuju sepenuhnya pada mata Phuwin yang sayu, basah, dan penuh godaan yang tak terucapkan. Ekspresi itu... terlalu nyata. Bukan akting lagi. Pond tahu itu, karena jantungnya sendiri berdegup kencang, bukan karena adegan, tapi karena Phuwin.
Phuwin tersenyum kecil dalam hati. Ia sengaja mempertahankan tatapan itu lebih lama, hanya untuk melihat reaksi Pond. Dan ya, telinga Pond memerah hebat, lehernya pun mulai memanas. Phuwin suka efek kecil seperti ini—membuat Pond kehilangan kendali sedikit demi sedikit. Tapi kali ini, ia tak menduga balasannya akan secepat itu.
Di balik selimut tebal yang menutupi tubuh mereka untuk adegan intimate terakhir di series "Me and Thee", Pond diam-diam menggesekkan pinggulnya ke depan. Penisnya yang sudah tegang sejak take ketiga tadi, kini menekan kuat ke paha dalam Phuwin. Tebal, berurat, dan panas—Phuwin bisa merasakan setiap denyutnya melalui kain tipis celana pendek yang mereka pakai untuk syuting.
Phuwin memelototkan matanya sebentar, terkejut, tapi tak menolak. Malah, ia sedikit membuka kakinya lebih lebar di bawah selimut, memberi ruang bagi Pond untuk menggesek lebih dalam. "Pond..." bisiknya pelan, suaranya hampir tak terdengar di tengah keriuhan kru yang mulai membereskan set.
Sutradara berteriak dari kejauhan, "Oke, kids! Itu bagus banget take terakhirnya. Kita wrap up hari ini. Besok lanjut promosi!"
Kru mulai berpencar, lampu perlahan redup, tapi Pond dan Phuwin masih terbaring di ranjang prop itu, tertutup selimut, pura-pura istirahat sejenak seperti biasa setelah adegan berat. Tak ada yang curiga. Mereka sudah terkenal dekat di lokasi syuting—chemistrinya on-screen terlalu bagus untuk diabaikan.
Tapi kali ini, berbeda.
Pond tak berhenti menggesek. Malah semakin berani. Tangannya yang tadinya di pinggang Phuwin untuk adegan, kini merayap turun, menyelinap ke balik celana pendek Phuwin. Jari-jarinya menyentuh kulit hangat di sana, lalu langsung membungkus penis Phuwin yang sudah setengah tegang karena gesekan tadi.
"Narahh… Stop... kamu gila ya," bisik Phuwin parau, tapi tangannya malah naik ke dada Pond, meremas kaus ketat yang basah keringat. "Masih banyak kru di sini."
"Biarin," jawab Pond serak, suaranya rendah dan penuh nafsu. Ia menekan lebih kuat, penisnya yang tebal itu kini tergesek langsung ke selangkangan Phuwin.
"Kamu yang mulai duluan. Tatapan kamu tadi... bikin aku gak tahan."
Phuwin menggigit bibir bawahnya, menahan desah saat jari Pond mulai mengocok pelan penisnya. Panas. Licin karena precum yang sudah mulai keluar. Ia balas menggesekkan pinggulnya ke atas, membuat keduanya saling bergesekan di bawah selimut.
Mereka berdua tahu, ini bukan pertama kalinya. Sudah sering terjadi di trailer, di hotel saat overnight shooting, tapi kali ini... di set, dengan kru masih di sekitar, rasanya lebih berbahaya. Lebih panas.
Pond menunduk, mencium leher Phuwin pelan, meninggalkan jejak basah. "Besok promosi... kamu mau aku tahan sampe malam? Ga kasian sama aku??" bisiknya di telinga Phuwin, lalu menatap kekasihnya dengan puppy eyes andalan sambil mempercepat kocokan tangannya.
Phuwin mendesah pelan, mata terpejam. "Enggak...."
Tapi tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat. Seorang staff memanggil, "Pond! Phuwin! Kita take reaction episode 6 dulu ya! "
Mereka berdua membeku. Pond cepat menarik tangannya, Phuwin buru-buru menutup selimut lebih rapat. Penis mereka masih tegang, basah, dan saling menempel.
Pond tersenyum nakal ke Phuwin. "Lanjut di mobil?"
Phuwin mengangguk pelan, mata sayunya kembali muncul. "Cepet."
Setelah syuting selesai, Pond yang sudah berganti kostum dan membawa tasnya disertai tas Phuwin langsung menggandeng Phuwin saat pria cantik itu baru saja keluar berganti pakaian.
Nafsu Pond benar-benar bisa Phuwin rasakan, mati sudah lubangnya malam ini.
Kru dan staff tak ada yang heran dengan Pond yang tiba-tiba menarik Phuwin. Malah mengucapkan selamat tinggal dan menyuruh mereka berhati-hati. Dengan tergesa Pond menarik tangan Phuwin menuju lift.
Jackpot. Lift itu kosong.
"Pond, santai aja kenapa si- Umhhh.."
Kejadiannya begitu cepat ketika pintu lift tertutup Pond langsung menyambar bibir Phuwin yang masih terlihat bengkak pasca scene ciuman tadi. Tangan Pond pun tak tinggal diam, dia ikut meremas pantat sintal Phuwin membuat sang empunya mendesah tertahan.
Ting! Pintu lift terbuka ke arah basement, beruntung tidak ada siapapun.
Pond tak membuang waktu sedetik pun. Begitu pintu lift terbuka di basement, ia langsung menarik Phuwin keluar, tangannya masih menggenggam erat pergelangan pria itu. Langkahnya cepat, hampir berlari kecil menuju mobil van hitam yang sudah menunggu di sudut parkiran—mobil pribadi mereka yang selalu dipakai untuk pulang bareng setelah syuting malam.
Phuwin tersengal, bibirnya masih terasa panas dan basah dari ciuman singkat tapi ganas di lift tadi. Pantatnya pun ia rasa akan memar karena remasan Pond yang tak kenal ampun. Ia tahu malam ini bakal panjang. Pond lagi dalam mode “kelaparan” yang jarang banget muncul—biasanya sih Phuwin yang memancing, tapi kali ini tatapan dan gesekan di set tadi sepertinya benar-benar membakar nafsu Pond sampai habis.
Sopir sudah terbiasa, langsung men starter mesin begitu melihat mereka mendekat. Pond membuka pintu belakang sendiri, mendorong Phuwin masuk lebih dulu, lalu ikut masuk dan langsung menutup pintu keras. Sekat kaca buram antara kursi belakang dan sopir langsung dinaikkan oleh Pond tanpa perintah.
Begitu mobil mulai melaju keluar dari basement, Pond sudah menyerang lagi.
Ia menarik Phuwin ke pangkuannya dengan kasar, membuat pria itu duduk mengangkang di atas pahanya. Bibir mereka bertemu lagi, kali ini lebih dalam, lebih liar. Lidah Pond menyusup masuk, menari ganas dengan lidah Phuwin yang langsung balas menantang. Tangan Pond merayap ke mana-mana—meremas pinggang, naik ke dada, mencubit puting Phuwin melalui kaus tipis yang baru dipakai setelah ganti kostum.
“Narahhh.. Anghh– tunggu… kita belum sampe rumah,” desah Phuwin di sela ciuman, tapi suaranya malah terdengar seperti godaan. Pinggulnya sendiri sudah mulai bergoyang pelan di atas pangkuan Pond, merasakan penis tebal yang sudah tegang keras itu menekan celah pantatnya melalui celana jogger mereka.
“Aku gak bisa nunggu,” geram Pond serak. Ia menarik kaus Phuwin ke atas, melepaskannya kasar sampai terlempar ke kursi sebelah. Mulutnya langsung turun ke leher Phuwin, menggigit dan menghisap keras sampai meninggalkan bekas merah. Satu tangannya menyelinap ke belakang, masuk ke dalam celana Phuwin, langsung meremas bokong telanjang—ternyata Phuwin tadi buru-buru ganti baju sampai lupa pakai boxer.
“Sengaja ya? Gak pake daleman?” Pond tertawa kecil di leher Phuwin, suaranya gelap dan penuh nafsu. Jari tengahnya langsung menyusup ke celah pantat, menggosok pelan lubang yang masih kering itu.
Phuwin mendesah keras, kepalanya terjatuh ke belakang. “Ahh… Nara… pelan… belum ada pelicin…”
“Tahan bentar,” bisik Pond sambil terus menggigit cupping di dada Phuwin. Ia merogoh tas kecil yang dibawa tadi—tas Phuwin—dan langsung menemukan benda yang ia cari: botol kecil lube yang selalu dibawa Phuwin “untuk berjaga-jaga”.
Pond menyeringai nakal. “Udah siap-siap dari tadi ya, sayang?”
Phuwin cuma bisa mengangguk lemah, matanya sudah sayu lagi seperti di set tadi. Ia merasakan jari Pond yang sudah dilumuri lube dingin itu mulai menyusup masuk—satu jari dulu, pelan, memutar dan membuka lubangnya yang langsung mengkerut kegirangan.
Mobil masih melaju di jalan malam Bangkok yang ramai, tapi di dalam van ini, dunia mereka berdua saja. Pond menambah jari kedua, menggunting pelan sambil terus mencium dan menggigit leher Phuwin. Penisnya sendiri sudah bocor, basah di ujung, menekan keras ke pantat Phuwin yang mulai bergoyang lebih cepat.
“Pond… masukin aja… aku udah gak tahan,” rintih Phuwin, tangannya turun membuka resleting celana Pond, mengeluarkan penis tebal berurat yang sudah merah dan berdenyut itu. Ia mengocok pelan, merasakan panas dan kekerasannya di telapak tangan.
Pond menggeram, menarik jarinya keluar, lalu mengangkat pinggul Phuwin sedikit. Ia melumuri penisnya sendiri dengan lube yang tersisa, lalu mengarahkan ujungnya tepat ke lubang Phuwin yang sudah menganga kecil.
Begitu kepala penisnya masuk, Phuwin langsung mendesah panjang, tubuhnya gemetar. Pond tak kasih ampun—ia tekan pinggul Phuwin turun perlahan tapi pasti, sampai seluruh panjangnya tertanam dalam lubang sempit yang langsung mengkerut kuat di sekelilingnya.
“Ahh… fuck… ketat banget,” erang Pond, kepalanya terjatuh ke sandaran kursi. Ia mulai dorong pinggulnya ke atas, pelan dulu, lalu semakin cepat.
Phuwin menutup mulutnya sendiri dengan tangan, menahan jeritan kecil setiap kali Pond menghantam prostatnya. Mobil bergoyang pelan mengikuti irama mereka, Sang sopir hanya pura-pura tak tahu dan tidak mendengar apa-apa. Mereka baru separuh jalan ke rumah, dan Pond sudah seperti binatang yang tak bisa dikendalikan lagi.
"Nghhhhhhh..... Ahhh... Ahh... mmmhhh...."
Desahan Phuwin bak lagu merdu di telinga Pond. Lubang pink yang sejak Pond mencoba itu rasanya tidak berubah, bahkan lebih enak. Tangannya yang kosong memilin puting pink Phuwin yang sudah memerah karena sejak tadi dicubiti oleh Pond.
Phuwin benar-benar mabuk semabuk mabuknya akan penis besar Pond. Sweet Spotnya dimanjakan dengan tumbukan mantap dari penis Pond. Ia dibawa terbang saking nikmat nya, ia tak peduli lagi jika supir mendengar desahannya. Yang pasti ia hanya ingin sperma Pond memenuhi dirinya.
"AHHHH!!.... NARAHHHHH.... YEAHHH..... SUKAAA..... DISITU....." Desah Phuwin sambil terisak, ia kewalahan dengan rasa nikmat bertubi-tubi ini.
Pond menyeringai lebar, matanya gelap penuh nafsu saat melihat Phuwin yang sudah benar-benar kehilangan kendali di atas pangkuannya. Wajah Phuwin memerah hebat, bibirnya terbuka lebar mengeluarkan desahan-desahan yang semakin keras, tak peduli lagi mobil ini bergerak di jalan raya Bangkok yang masih ramai meski malam sudah larut.
“Suka ya diginiin? Suka pentilnya dimainin gini?” bisik Pond serak, suaranya rendah tapi penuh ejekan nakal. Jarinya kembali menyentil puting Phuwin yang sudah bengkak dan merah, lalu memilinnya keras sampai Phuwin menjerit kecil.
“Ahh! Narahh… jahat… ahh… enak banget… jangan berhenti…” Phuwin terisak, air matanya sudah menggenang di sudut mata karena nikmat yang terlalu intens. Pinggulnya bergerak sendiri, naik-turun mengikuti irama Pond yang terus menghantam prostatnya tanpa ampun. Penis besar itu terasa semakin tebal di dalamnya, setiap uratnya bergesekan dengan dinding lubang yang sudah basah licin oleh lube dan precum Pond.
Pond tertawa pelan, napasnya tersengal. Ia menaikkan kecepatan, tangannya yang satu memegang pinggul Phuwin erat-erat, membantu pria itu naik-turun lebih dalam. Setiap kali Phuwin turun, penisnya masuk sampai pangkal, bola-bola Pond menampar kulit pantat Phuwin dengan suara basah yang cabul.
“Kamu– hhhhh ketat banget… ahh… aku bisa keluar cepet kalo lubang kamu terus ngisep penis aku kaya gini–,” geram Pond, kepalanya terjatuh ke belakang. Ia menarik kepala Phuwin mendekat, menciumnya ganas sambil terus dorong dari bawah.
Lidah mereka saling bertarung, Phuwin bahkan menggigit bibir bawah Pond karena tak sanggup menahan nikmat. Phuwin merasakan penisnya sendiri sudah bocor hebat, mengotori perut Pond yang masih tertutup kaus. Ia ingin menyentuh dirinya sendiri, tapi Pond menepis tangannya.
“Siapa yang suruh main sendiri? Hmmm? Keluar bareng aku…. FUCK– Phuwintang lubang kamu enak banget….,” perintah Pond tegas, suaranya seperti mengaung. Ia memelintir puting Phuwin lagi, lebih keras, sambil menghantam lebih dalam.
“Aku penuhin mau?? Penuhin sampe kamu nangis-nangis hmmm??”
Phuwin hanya bisa mengangguk lemah, suaranya sudah hilang. “Mau… ahh… fill me up Narahhh–… too deephh… m-mau…”
“Mau apa?”
Phuwin menitikan air matanya, ia rasa kepalanya bisa pecah karena kenikmatan yang terus Pond pompa didalam analnya. Matanya sudah juling ke atas, kepala penis Pond terus menerus menekan titik manisnya, urat-urat kasar itu menyapu dinding analnya cepat. Panas, enak, dan ngilu disaat yang bersamaan.
Pond menggeram keras mendengar itu. Ia mempercepat dorongannya, mobil ikut bergoyang lebih keras. Sopir pasti sudah tahu apa yang terjadi di belakang, tapi tetap diam seperti biasa—mereka sudah terlalu sering begini.
Tiba-tiba Pond menegang, otot-ototnya mengeras. “Phu… aku mau keluar… ahh…”
Phuwin mengangguk cepat, lubangnya mengkerut kuat mengunci penis Pond di dalam. Beberapa detik kemudian, Pond mendorong terakhir kali dengan keras, menahan pinggul Phuwin turun sampai benar-benar tak ada celah.
Phuwin panik, “Ahhh…ahhh…ahhh….wait– jangan disitu ahhh…” ia bisa saja mengeluarkan air mani dan spermanya disaat yang bersamaan.
“AHHH… FUCK…!” Pond menggeram panjang, tubuhnya bergetar saat sperma panasnya menyemprot deras ke dalam Phuwin. Satu, dua, tiga semprotan kuat—Phuwin bisa merasakan setiap denyutnya, panas dan kental mengisi lubangnya sampai terasa penuh.
Rangsangan itu cukup untuk membuat Phuwin ikut klimaks tanpa disentuh. Penisnya berdenyut keras, menyemprotkan sperma putih kental ke perut dan dada Pond, bahkan sampai ke lehernya.
“Nghhhh… Pond… ahhh… keluar… banyak banget…” Phuwin terisak, tubuhnya ambruk ke dada Pond, napasnya tersengal-sengal. Paha sampai kaki si cantik masih gemetar karena overstimulasi yang dirasanya.
Pond memeluknya erat, penisnya masih tertanam dalam di dalam anal Phuwin, menikmati sisa-sisa getaran lubang ketat milik Phuwin yang mengkerut pelan. Ia mencium kening Phuwin yang basah keringat, tersenyum puas.
“Enak banget sayang, aku mau lagi please….,” bisik Pond lembut, jarinya mengusap punggung Phuwin pelan.
Phuwin hanya tersenyum lemah, kepalanya berkunang-kunang ia masih mabuk nikmat.
“Dirumah aja gimana?, aku masih sensitif…..”
Pond tertawa kecil, matanya kembali gelap. Ia menggoyang pinggulnya pelan, membuat Phuwin mendesah lagi karena penisnya yang masih setengah keras mulai bereaksi di dalam lubang yang sudah banjir sperma.
“AHH– NARA!”
“Hehehehe.….”
Mobil terus melaju menuju apartemen mereka, dan di dalam kegelapan kursi belakang, nafsu mereka baru saja terpuaskan… yeah setidaknya untuk sementara.
