Work Text:
I. Meeting of Two Stars
Brazil, São Paulo.
Musim kedua Mark Lee di Formula 1. Langit tampak muram, awan kelabu hiasi trek dengan rintik air yang membasahi arena Interlagos.
But Mark doesn’t dwell on it that much.
One light off.
Second.
Mark prays.
Last light off.
Showtime.
Lima lap terakhir terasa begitu mencekam—deru ban yang nyaris kehilangan grip beradu dengan trek yang basah oleh hujan di arena. Tiap tikungan yang Mark lalui terasa bagai hidup dan mati, berusaha menahan mobil lawan yang mengekori dengan ketat.
Menunggu kekeliruan perhitungan Mark, kesalahan sekecil apapun adalah ruang untuk merebut kesempatan pertamanya untuk raih gelar juara dunia.
Tangan Mark dingin. Gemetar, menggenggam setir begitu kencang. Race engineer-nya mengucap, “Stay calm, Mark. Just two more corners.”
Mark menggertakkan gigi. Fokusnya tetap tajam tertuju pada titel yang sudah menunggu di depan mata. Pada perjuangannya dari awal season, mengumpulkan poin hingga detik penentuan World Driver’s Championship pertamanya sebagai rookie driver di tanah Brazil, homebase dari lawannya.
I have to win this.
I need to.
I must.
And win, he does. A brilliant turn that takes all his focus, flying through the last turn like lightning, almost as if out of control. When that finish line is crossed and the World Driver’s Champion title now belongs to him; Mark is numb. From all the adrenaline, euphoria, the shoutings, celebrations, camera clicks.
Mark Lee, sang rookie yang berhasil raih juara dunia pertamanya hanya dalam season keduanya.
The star-born driver Mark Lee. Pengamat mengakui talenta dan kemampuannya yang jauh diatas rata-rata. Media menaruh atensi, masyarakat tanamkan ekspektasi.
Satu di antara hal yang disoroti, tentunya, adalah hidup personalnya.
Di tengah kerumunan, Lee Haechan tersenyum—jauh lebih berkilau dari trofi yang menunggu Mark di podium. Penyanyi kelas dunia itu tampil sederhana, kaos putih oblong dan celana jeans, seolah ingin menunjukkan bahwa hadirnya bukanlah sebagai seorang selebriti, melainkan pasangan dari seorang pembalap yang hendak merebut titel juara.
Haechan fokus amati jalannya race dengan tangan terkepal erat. Wajahnya murni khawatir, kesal, frustasi; sama sekali tidak diatur agar terlihat baik di kamera. Hingga akhirnya melompat bahagia bersama tim Mark atas kemenangannya.
Setelah Mark menyalami keluarganya, senyumnya melebar, tertawa bahagia lihat Haechan yang masih menangis penuh haru.
“Kenapa kamu yang nangis?” tanya Mark lembut.
Tangis Haechan semakin menguar. “I’m so goddamned proud of you, you know that?”
Mark rasakan dadanya membuncah dengan perasaan cinta. Ia menghampiri, raih tubuh Haechan dalam peluknya. Saat ciuman mereka bertemu, shutter kamera terdengar bersahutan, abadikan momen yang akan penuhi media sosial dalam lima menit ke depan.
The world saw the couple as a romance straight out of a fairytale.
Mark thought so too at first.
II. Different Paths Chosen
Lima tahun berlalu, berjalan bergandengan tangan dengan perkembangan mereka di jalan masing-masing. Mark bukan lagi rookie—juara dunia telah ia raih kembali. Wajahnya muncul di berbagai brand global, billboard, media, majalah. He became one of the most skillful drivers in the standings for these few years.
Haechan, on the other hand, had stood on the very peak of his career. Lagu-lagu yang mendunia, world tour, album demi album yang mencetak rekor dan penghargaan.
But fame always comes with a price.
Saat itu, Mark berumur dua puluh tujuh. Haechan tiga puluh dua.
Mark melihatnya—he always does. Bagai bayangan yang menolak hilang. Tatap dan senyum tertahan Haechan setiap mereka melewati etalase cincin. Senyum yang kaku terangkat saat satu per satu temannya menikah, disusul pertanyaan klasik yang dijawab dengan ‘doain aja, ya’, dan tawa yang tak miliki arti.
“Mau sampai kapan sih lo mau jalan di tempat gini sama cowok lo?”
Suara itu milik teman Haechan.
Mark pergi sebelum mendengar jawaban kekasihnya.
Mark tahu. Tentu saja ia tahu.
Dating an older guy with fame level already far above him, karir Haechan bukan lagi berada di tahap memperjuangkan pengakuan. Brands search for him, awards shouts his name. Haechan’s career is already settled; just doing his routine, maintaining fame and creating music.
Sementara Mark masih berlari, masih mengejar, masih meyakinkan dirinya bahwa nanti akan ada waktu yang tepat.
Just not now.
“Kamu nggak mikirin nikah sama aku?” Haechann dulu bertanya, jahil dan penuh canda. Pipi lembut itu bersandar di dada Mark yang mengelus rambutnya.
“Ya mikir dong sayang,” balas Mark, jujur.
“Mikir doang, no action,” Haechan mencibir, lalu tertawa—dan Mark menciumnya, menutup topik yang belum sanggup ia buka.
Mark selalu menunda. Membiarkan waktu yang berjalan untuk mereka.
Dua tahun berlalu.
Saat itu, Mark berumur dua puluh sembilan. Haechan tiga puluh empat.
Season itu, Mark kembali raih juara dunia. Pesta, sorotan kamera, pelukan, ciuman—the routinity that Mark plays by the book. Pertanyaan demi pertanyaan ia lewati dengan senyuman. Dari media. Dari keluarga.
Dari Haechan.
Walau ia tak bersuara, Mark bisa rasakan gerak pikirnya.
Januari di London datang dengan sunyi yang amat dikenali. Biasanya, Mark menghabiskan masa off-season bersama Haechan, lost amidst a warm body and late-night giggles.
Namun, off-season itu tidak hadir seperti yang lain. Bulan itu juga datang mengetuk pintu Mark dengan berita buruk di pangkuan.
“Can we talk, Mark?”
Di luar jendela apartemen London itu, kota tetap bergerak seperti biasa—lampu-lampu jalan yang menyala, mobil melaju, dan kehidupan yang tidak menunggu bagaimana suatu hubungan akan berlalu.
“Sure,” Mark mengangguk pelan, walau dadanya sudah lebih dulu menegang.
Mark memperhatikan bagaimana Haechan menautkan jemari. Pundaknya kaku, dan senyumnya tak menunjukkan diri.
“Aku capek, Mark.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan marah. Tidak juga dengan tangis. A long-overdue feeling that’s already been felt and simmered down to tiredness.
A choice that’s been considered long ago.
Capek.
Mark mengulang kata itu di kepalanya. Tidak, Mark tahu lelahnya bukan karena menunggu Mark di paddock, atau mengikuti race Mark dari satu negara ke negara lain, melompat dari satu media interview ke interview lainnya.
Lelahnya adalah berjalan di tempat dengan Mark selama bertahun-tahun.
Mark menunduk. Tangannya meremas lututnya sendiri. Ia ingin berkata bahwa ia juga lelah—lelah dengan tekanan, ekspektasi, dan ketakutannya sendiri.
Namun Mark tahu, lelah mereka tak sama.
“Sama aku, ya.” ucap Mark pelan. Mengucapkan tanya yang jawabannya sudah mengendap di dada.
Haechan hanya sunggingkan senyum kosong. Matanya menunduk, fokus pada jemarinya yang mungkin lebih menarik dari Mark dan ketidakmampuannya mengambil keputusan.
“You know I love you so much, right? You’re always one of my priorities.” Mark mengucap lirih.
Haechan melirik seolah ia sudah lelah mendengar cinta yang tak menuntunnya kemana-mana. “That’s the problem, isn’t it? I don’t want to be one of your priorities, Mark. Our relationship isn't some factor you can brush off kalau kamu mau.”
Kekasihnya itu bangkit dari duduknya. Langkahnya terhenti di jendela raksasa apartemen yang menampilkan gemerlap kota London.
“You don’t love me enough to take me to another step in this six years of relationship, hm?”
Mark ingin menyangkal. Ingin bilang bahwa semua yang ia lakukan—semua latihan, semua race, semua ambisi—adalah demi masa depan. Demi stabilitas. Demi sesuatu yang lebih baik.
Demi mereka.
“Aku cuma belum siap, sayang. You know our marriage is always on the table.” Mark berdiri, menghampiri. Trying not to sound too desperate.
Haechan melirik ke arahnya, menoleh ke belakang. “Siap itu kayak apa, ya, Mark?”
Mark terdiam.
Siap.
Kata itu selalu terasa abstrak di kepalanya. Kata yang ambigu, hadir di lidah hanya untuk menunda waktu.
“There’s just… so many things that I still need to focus on. I’m not mentally ready. Karir aku belum stabil, Haechan—”
“Belum stabil? You already had four WDC titles already,” potong Haechan.
“I know. But I feel like it’s not enough. Kamu kan tahu, Haechan, how much this sport means to me…”
Haechan menghela napas kasar. “Of course I know. Your passion is what draws me to you. Aku senang setiap kamu podium, aku bangga kalau kamu pegang trofi. I’m there when you need someone to hold in your loss, when you have anxiety before race time. Aku nggak pernah minta kamu berhenti balapan, Mark.
Mark menatap lantai. Ia merasa kecil. Pengecut.
“Aku nggak pernah minta kamu berhenti balapan,” ulangnya. Matanya memicing, sedih dan kecewa. “Aku cuma capek merasa jadi pilihan kedua. Hidup aku cuma nunggu kamu selesai sama mimpi kamu.”
Kalimat itu menghantam Mark lebih keras dari kritik media mana pun.
Takut, pikir Mark.
Ia selalu takut.
Takut kehilangan fokus.
Takut gagal.
Takut tidak cukup baik sebagai pasangan sebagaimana ia cukup baik sebagai pembalap.
“Aku cuma butuh waktu,” ucap Mark, memohon.
Haechan menggeleng pelan. “And time I gave you. Six years going seven. I’m not that young anymore..”
Haechan kembali berjalan, matanya berpendar ke penjuru ruangan. “All these glamours. Championships. Tapi, masih belum cukup. Rasanya, orang yang aku sayang nggak pernah tahu kapan dia bakal sampai ke arah yang sama kayak aku.”
Mark meremas jarinya. Berusaha alihkan sakit di dadanya. “Aku minta maaf.”
Saat Haechan menoleh. Mata bulat yang manis itu basah, penuh air mata. But one thing that Mark fears—is the certainty in his eyes.
Like he had already chosen what he’ll do with this relationship.
“Well, then, Mark. I’m afraid I can’t continue this.”
Mark sudah berkali-kali hadapi perdebatan ini. Namun untuk pertama kali, the finality in Haechan’s voice scares him.
As if Haechan is finally giving up for good.
“You’re ending this…?” suara Mark nyaris pecah.
Haechan mengangguk pelan. “Aku mau berhenti nunggu.”
Mark panik. Ia melangkah maju dengan buru-buru, meraih tangan Haechan. “Please. Haechan, sayang, of course I see a future with you. Just… not now.”
Dan di situlah Mark tahu—kalimat itu adalah kesalahan terakhirnya.
Haechan menatapnya sendu. Kecewa.
“Maaf. Aku capek nunggu orang yang nggak lihat masa depan sama aku. Kalau kamu gak bisa kasih aku kepastian, aku yang harus kasih certainty di hidup aku sendiri.
Ia melepaskan genggaman Mark dengan lembut. Gentle and calm, but breaks Mark in so many ways.
“Aku harus pilih diri aku sendiri,” ucap Haechan. “Karena kamu nggak pernah benar-benar pilih aku.”
Mark membeku.
Haechan mengambil jaketnya, kunci mobilnya, tenang, tidak terburu-buru. Karena hatinya sudah selesai jauh sebelum malam ini.
“Good luck with your career. I hope you got everything you worked hard for.”
Dan pintu itu tertutup. Click. A simple sound, yet it feels louder than any podium wins.
Mark mematung di depan pintu. Apartemen itu kembali temui sunyi yang mencekam. Di luar, London masih indah. Yang berbeda hanya hubungan mereka yang akhirnya temui akhir.
Mark dengan kaku berjalan ke balkon, tatap langit malam. Jalanan London di bawah sana terus bergerak dengan manusia yang terus berjalan, Haechan salah satu dari sekian banyak.
Mark mengepalkan tangan. Mencoba meyakinkan diri bahwa ini semua demi kariernya.
Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri—apakah semua kemenangan itu sepadan dengan kehilangan satu orang yang selalu menunggu di garis finish?
Dan untuk pertama kalinya, Mark tidak punya jawaban.
Mark menutup matanya, merasakan sakit tajam. Ia rasakan bulir air mata mulai mengalir di pipinya. Ia kembali teringat wajah tenang Haechan.
Keputusan Haechan meninggalkan Mark bukanlah karena cinta yang hilang, namun cinta yang terlalu lama menunggu. Keputusan yang pastinya sudah Haechan yakini setelah mempertanyakan posisinya di hidup Mark untuk kesekian kali.
Bahwa ia hanya butuh jawaban Mark atas kepastian—one more chance—yang sayangnya gagal Mark berikan.
Pagi hari, dengan tirai setengah terbuka dan cahaya kota yang belum sepenuhnya padam, Mark duduk di tepi ranjang.
This is inevitable. We had different goals.
It has to end for the better of us.
Haechan deserves someone who’s brave enough to settle down and give him certainty.
Ia mengulang kalimat itu seperti mantra—like those encouraging words Haechan used to whisper before his races.
Hubungannya dengan Haechan memang terlalu banyak menunda. Mungkin, akhir seperti ini memang yang terbaik.
Kemudian, satu pesan singkat dari managernya masuk.
Mark. They want you in the headquarters. Something about testing the new engine for this year’s season.
A whole new season in front of him.
Mark menarik napas panjang, bangkit dari kasur. He did his routine robotically: mandi, kenakan jaket tim, mengambil kunci mobil, berangkat ke HQ. Tossing aside his feelings, his sadness, the loss of a partner aside for an ambition he’s still hungry for.
And the world keeps spinning.
III. A Pathetic Win
“Ayo, Mark. Media room lima menit lagi.”
Suara engineer-nya terdengar seperti datang dari kejauhan. Mark mengangguk, tapi tidak langsung bergerak. Ia masih duduk di paddock, helm tergeletak di lantai.
“You okay?” tanya Jeno, teammate-nya, bersandar di ambang pintu. “You look… somewhere else.”
Mark tersenyum singkat. “Just tired.”
Jeno mendengus pelan. “You just won WDC again. You’re supposed to look invincible.”
Invincible.
Mark doesn’t really feel invincible. Invincible is Haechan behind the gates, waiting to hug him. Invincible is Haechan praying for him in the paddock. Invincible is Haechan screaming his name on his wins.
Mark berdiri. Bertemu dengan sorot silau lampu kamera yang bersahutan memfoto, dengan pertanyaan yang datang bertubi-tubi.
Until one question left Mark’s world in a halt.
“So, what’s gonna be your next goal? Another WDC?”
Mark tertegun. Yes. what’s his next goal?
WDC doesn’t even feel that exciting anymore without a certain person being proud of him.
Malamnya, kamar hotel kembali temui Mark dengan sunyi. Ia duduk di lantai, bersandar ke ranjang dengan ponsel di tangan.
He looks pathetic for someone who just won a WDC title. Seperti biasa, hari-harinya ditemani lantunan lagu Haechan; satu-satunya cara penuhi sunyi dengan suara yang paling ia cinta kembali.
Ia membuka galeri—foto lama yang seharusnya sudah dihapus.
Haechan, berselonjor di sofa apartemen dan rambut berantakan. Tersenyum ringan pada Mark dengan teh hangat di tangan.
Haechan, bersandar di dadanya sebelum tidur menjemput mereka.
Haechan, di bawah salju pertama dengan wajah bahagia.
Tawa manis yang menghiasi rekaman video yang Mark ambil.
Ia menutup matanya yang terasa panas. Membuka room chat Haechan yang sudah sepi. Mengetik pelan.
‘Sayang, I won today.’
Pesan tidak terkirim. Nama itu sudah lama tidak bisa ia sentuh.
Blocked.
‘Sayang, aku harusnya lagi selebrasi sama kamu. Our favorite champagne, then making love together…’
Tidak terkirim.
Mark menghela napas panjang, menekan kepalanya ke lutut. Perasaan rindu yang menusuk dan terlalu keras terkadang menyelimuti. Seperti sekarang.
Beberapa hari kemudian, nama Haechan muncul lagi. Sayangnya, nama itu muncul bukan di layar ponselnya, melainkan di media berita.
“Hey,” sapa Jeno. “You saw this?”
Hati Mark rasanya jatuh ke lantai. Badannya bergetar, dingin. Like the world had crumbled down on his shoulder.
Di layar ponsel Jeno, nama Lee Haechan disandingkan dengan seorang aktor dengan judul ambigu, di bawahnya ada foto keduanya yang begitu dekat, tertawa seolah dunia milik berdua.
Mark had never once considered Haechan to find another. And god it feels so hurtful that Mark had to shut his eyes a little.
Mark menghela napas kasar. “Good for him.”
‘But not for you,’ tatap mata Jeno mengisyaratkan.
What a gift for his glorious WDC title.
Mark scrolls obsessively on his jet all the way home. He scrolls through—artikel demi artikel, foto demi foto. Tidak ada yang benar-benar intim—tapi cukup untuk menumbuhkan hal yang lebih berbahaya dari sebuah fakta: kemungkinan.
And that scares the hell out of him.
Di depan headquarters minggu berikutnya, seorang reporter menyenggolnya ringan. “Mark, any comment about your ex being linked with someone new?”
Mark tersenyum kecil. “I don’t comment on rumors. But anything that makes him happy, I’m of course proud of him.”
Di dalam helmnya, pikirannya berisik.
Someone new.
Someone else.
Rasa takut mendalam itu datang tiba-tiba—lebih kuat daripada ketakutan akan pernikahan yang dulu selalu ia hindari.
Ia tidak takut berkomitmen.
Ia takut kehilangan Haechan.
Dan kesadaran itu membuat dadanya sesak.
Malam itu, Mark kembali temukan dirinya di balkon apartemennya di London—where they end things for good. Angin dingin menyapu wajahnya.
“Aku salah ya?” gumamnya, seolah Haechan duduk di sampingnya.
Ia bisa membayangkan jawabannya.
You’re not wrong, just late.
Mark tertawa pahit. Haechan tidak pernah menghalanginya. Tidak pernah memintanya berhenti. Tidak pernah menyuruhnya memilih. Haechan hanya ingin stabilitas. Kepastian. Tempat pulang yang tidak selalu dijanjikan nanti.
Dan Mark baru mengerti—kehilangan itu jauh lebih menyakitkan daripada prospek menikah yang dulu terasa menakutkan.
IV. No Longer Late
Mark tidak pernah temukan off-season setelah titel WDC yang begitu menyedihkan.
Ia berbaring dalam hening di apartemen. Piala kemenangannya berdiri di meja, pantulkan cahaya lampu kota.
Biasanya, pada jam seperti ini, Haechan sudah mengirim pesan—pendek, sederhana, tapi selalu tepat waktu.
‘Sayang, aku otw kesana. Kamu udah makan?’
‘Aku hari ini nginep yaaa. Pinjem baju, hehe.’
Mark membuka ponselnya lagi. Jempolnya berhenti di aplikasi yang sudah terlalu sering ia tutup dan buka lagi akhir-akhir ini.
Instagram.
Entah apa yang mendorongnya. Mungkin sisa champagne yang masih menguar di tubuh, bermanifestasi menjadi tindakan berani yang bisa dinilai bodoh bagi beberapa orang.
He uploads a story.
Haechan bersandar di kamar hotelnya yang berada di jantung kota Milan. Mendesah pelan setelah performa konser yang panjang dan akhirnya selesai. Niatnya adalah untuk beristirahat—namun notifikasi tanpa henti dari ponselnya buatnya mengurungkan niat.
Pesan singkat dari Taeyong. ‘Lo udah liat story mantan lo? The internet is in an uproar.’
Haechan merengut. Saat ia membuka media sosial, berita itu sudah muncul di halaman pertama dengan engagement luar biasa.
‘Mark Lee shares a heartwrenching story after his win, a sign of broken heart after his ex finds someone new?’
Lalu Haechan melihatnya.
Unggahan Mark adalah foto dari jendela apartemen yang terlalu Haechan kenali. Lampu kota terlihat buram akibat tangkapan yang tak fokus. Salah satu lagu Haechan digunakan sebagai latar, dan tulisan kecil yang buat Haechan rasakan sesak:
‘Some things don’t feel like a win.’
Pegangan Haechan pada ponselnya mengencang. Tentu ia tahu Mark baru saja memenangkan titelnya. Walau tidak lagi hadir secara langsung, Haechan masih setia menonton satu demi satu race Mark, masih berdoa, masih berseru bahagia.
Hanya saja, Mark is no longer on the receiving end of these ministrations.
“Kenapa sekarang?” gumamnya pelan.
Ia menutup aplikasi itu. Memasukkan ponsel ke tas. Mencoba kembali ke rutinitas. Tapi sepanjang hari, sesuatu terasa mengganjal. Seperti gangguan kecil yang tidak berisik, tapi cukup untuk merusak fokus.
Keesokan paginya, Haechan menyerah. Ia perlahan membuka room chat-nya dengan Mark; nama yang sudah lama ia blokir dan sembunyikan.
Haechan menatapnya lama. Terlalu lama. Seolah jari itu menimbang sesuatu yang seharusnya sudah selesai.
Akhirnya, ia menekan satu tombol.
Unblock.
Sebelum akal sehatnya kembali dan menahannya, Haechan menekan tombol lain—telepon.
Only five dreading seconds before Mark answers.
“Kamu ngapain, sih?” Haechan memulai.
Suasana di seberang hening, hingga akhirnya ada kalimat lirih. “...aku kangen.”
Haechan menggigit bibirnya. Tak menyukai bagaimana kalimat sederhana itu berhasil buat pipinya memanas. “Ngapain bikin heboh media begitu?”
“Jangan sama dia,” balas Mark pelan. Tak mengindahkan teguran Haechan. “Aku—aku gak bisa.”
Haechan mendengus. “Gitu? Karena ada cowok lain baru kamu heboh sendiri? Takut karena ada saingan?”
“Aku takut dia bisa kasih kamu apa yang aku gak bisa,” bisik Mark. Begitu terluka, begitu sepi.
“Ya bagus, dong. You can’t be angry with me for choosing someone who’s able to fulfill what you can’t.”
A low blow. God, Haechan bahkan tak berteman akrab dengan aktor yang dirumorkan dengannya. Ia hanya ingin menekan mantan kekasihnya.
“...Kamu dimana?”
Haechan rasakan jantungnya berdebar hebat. Ia biarkan hening menyelimuti panjang, dengan Mark setia menunggu jawabannya.
“Aku lagi tour. Jauh dari London.”
Mark’s answer never waver. “I know, you’re in Milan for your tour. Kamu di hotel? Aku bisa kesana.”
Haechan mendengus. “Sini kalau berani. Sekarang.”
Ia menutup panggilan sebelum Mark sempat menjawab.
Haechan tidak berniat serius. Or at least, tidak sepenuhnya. Ia mengira itu akan berakhir sebagai ancaman kosong, drama sesaat yang akan reda begitu Mark kembali sibuk.
Namun di malam hari, ponselnya dihebohkan kembali dengan foto-foto seorang pembalap dunia yang hadir di bandara Italia.
‘Mark Lee spotted in Italy amid reconciliation rumors.’
‘Is a reunion of the two star-crossed lovers going to happen in Milan?’
Haechan duduk tegak di ranjang, matanya terbelalak kaget. “Idiot,” gumamnya pelan.
Ada campuran perasaan yang sulit ia deskripsikan. Kaget, kesal, bingung. Sayangnya, tidak berhenti di situ. Rasa hangat dan rindu juga begitu bebal mengganggu.
Namun kali ini, Haechan membiarkan. Rasa penasaran akan apa yang hendak dilakukan Mark juga membuncah.
Mungkin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mark tidak lagi ingin menunda.
Ia tidak tahu bagaimana akhir dari ini.
Ia hanya tahu satu hal.
Kali ini, Mark tidak datang terlambat.
V. You, Again
Haechan benar-benar tak menyangka hari ini tiba. Setelah seluruh janji untuk tak lagi mengontaknya dan benar-benar berhenti, Mark masih berdiri kembali di pintu hotelnya.
Sama seperti dulu.
Maybe old habits die hard, after six to seven years of having an on-and-off relationship.
Wajah Mark masih sama, masih merupakan pria yang sudah hampir satu dekade Haechan cinta tanpa jeda. Pakaiannya serupa dengan foto-fotonya yang berseliweran di bandara, lengkap dengan satu tas yang menggantung di bahunya.
So he came straight here from the airport.
Bulu kuduk Haechan meremang rasakan tatapan Mark yang jatuh padanya—tenang, jujur, isyaratkan hal yang jauh lebih dalam dari sekedar rindu.
He’s always so honest with how he feels.
Haechan berdeham pelan. “So. You really came.”
Mark mengangguk kikuk, matanya melirik kesana-kemari. Haechan despises seeing how good he looks. “Am I… allowed in?”
Haechan bergeser dari posisinya, beri ruang bagi Mark untuk memasuki kamar hotelnya. Mark duduk di kursi suite, Haechan beberapa jarak di sebelahnya.
“You look tired,” Mark memulai percakapan.
Haechan mengangkat bahu. “Lagi tour gini, emang repot. You don’t look that tired for someone who flies around the globe.”
“I'm fine…” jawab Mark cepat. “Kamu masih kurang tidur?”
Haechan menatapnya lebih lama, alis matanya mengkerut. “Why? Do I look like a zombie?”
Mata Mark membesar panik. “God, no! Of course not! You look beautiful as always!”
His face turned beet red after realizing what he just blurted out. Haechan hated how he still finds his clumsiness hot and cute.
Ia berdeham pelan. “Terus ada apa kesini?”
Hening kembali jatuh. Kali ini lebih berat.
Mark menarik napas panjang, kemudian bergeser mendekat. Not touching, yet enough to feel the tension in the air.
“Aku takut nikah,” Mark memulai. “Because you feel real. You are the only one that I regard highly in my life selain jadi race car driver. Dan dulu aku jadi mikir, aku belum bisa pilih kamu. Karena I will want to give you all of me, and it would put too much at stake in my career.”
Haechan menghela napas pelan. Mengangguk, berikan Mark waktu untuk mencari kata-kata yang tepat.
Jemari Mark meremas lututnya pelan, menggigit bibir. Matanya bergerak liar, kemanapun asal bukan pada Haechan.
Ia mendesah kasar, tertawa datar. “I know hubungan kita putus nyambung, tapi gak pernah soal masalah kayak gini. Aku tahu waktu kamu putusin aku, it would be final. The way you act and talk makes it hurt like crazy.
My last WDC win feels hollow and strange. Hell, it wasn’t even the first race season I went through without you, tapi karena aku ngerasa kita gak ada harapan lagi, it scares the hell out of me.”
Haechan rasakan pipinya memanas saat tatap Mark naik padanya. Mark kembali bergeser, duduk lebih dekat. Haechan biarkan kedua paha mereka bersentuhan.
Feeling a good sign, Mark continues.
“Aku kepikiran. What if from now on it’s going to be like this? Gak ada kamu di samping aku setiap naik pesawat ke negara tempat aku race. Gak ada lagi konser dan awards kamu yang bisa aku datengin lagi. Gak ada kamu yang doain aku di paddock dan cheering me on.
and the worst part? Gak ada kamu yang sambut aku lagi di apartemen dan spend time sama aku—both race and off season.”
Haechan rasakan matanya memanas. Mark kini menatapnya, serius. “I realized that racing and you is not something I should choose. You make my performance better. You are the catalyst to my success, not an obstacle.”
Tangan Mark bergerak pelan, menyentuh jari Haechan. Haechan berjengit. Mark menatapnya, mencari tanda penolakan.
Saat ia rasa nihil, perlahan Mark menangkup tangan lembut itu.
Hangat. Buat Haechan kembali bertemu dengan rindu yang ia kubur rapat-rapat.
“Aku minta maaf karena bikin Haechan merasa gak dipilih, nungguin aku lama-lama tanpa ada kejelasan. Aku nggak bermaksud bikin kamu merasa kurang, it’s just me and my insecurity. You don't deserve those from me. You deserve calm and certainty.” ia mengelus punggung tangan Haechan lembut.
“I love you, Haechan. You deserve my certainty, my loyalty. Dan kalau kamu mau… kalau masih ada sedikit rasa kamu buat aku, I am willing to try this again. Now, with you no longer questioning where you stand.
Nikah sama aku, Haechan.”
Haechan mematung.
Kalimat itu menggema di kepalanya, repeated like a broken record. Seperti lagu-lagunya yang tiba di nada klimaks setelah digantung beberapa bait.
Haechan menunduk, tatap tangan mereka yang masih saling menggenggam. Tangan yang dulu ia lepaskan sendiri karena lelah menunggu; sekarang hadir kembali, tanpa ragu berikan kepastian.
“You know the scariest part, Mark?” ia mengusap tangan Mark pelan. “Percaya lagi. Buka hati lagi buat kamu. Ngasih diri aku ke kamu dengan keyakinan kamu nggak bakal pergi.”
Haechan mendekat. Mark kembali meremas tangan mereka, needing a handhold. “Yet you’re here. All the way from London. And now, you’re not telling me to wait.”
Mata Haechan kini berlinang air mata. “Ternyata, aku masih pengen denger proposal itu dari kamu.”
Haechan tatap Mark yang mengangguk, his eyes glassy with tears himself. Akhirnya Haechan mengangguk. “Yes, Mark. I’d love to marry you.”
Mark mematung. Tak langsung beri reaksi. Seolah hadir tanpa ekspektasi bahwa ajakan cerobohnya tanpa cincin akan ditepis begitu saja. Ia menatap Haechan lamat-lamat.
“Kamu beneran…? Yakin…?”
Tawa Haechan lepas bersamaan dengan tetes air mata. “Aku nunggu kamu hampir sepuluh tahun. Kalau ini bukan yakin, I don’t know what.”
Mark tertawa kecil, napasnya bergetar, lalu bergerak tanpa pikir panjang. Tangannya naik ke wajah Haechan, menyentuhnya lembut.
And God, Haechan missed this so much. Ia ikut merangsek maju, kikis jarak yang sudah terlalu lama terbentuk antara mereka.
Ciuman itu datang dengan pelan.
Tidak tergesa. Tidak menuntut. Seolah tahu, kini waktu tak lagi mengejar mereka.
Bibir lembut itu temui kecup demi kecup Mark, satu kecupan lebih lama dan dalam. Ia memegang tengkuk kepala Haechan, memiringkannya untuk memperdalam ciuman. Haechan mengerang manis, mencengkeram bahu Mark untuk mendukung tubuhnya yang melemas karena cium yang begitu dalam.
“Mark…” bisiknya lirih. Matanya sayu, nadanya mendayu.
And Mark knows what the siren call is for.
Ia menciumi pipi dan telinga Haechan. Like two dancers who’s all too familiar with each other, Mark mengangkat Haechan dari bawah pahanya. Haechan immediately locks his leg on Mark’s hips, menggantung di tubuh kuat Mark yang membopongnya ke kasur.
“Mmm… miss you,” Haechan berbisik manja, biarkan liur menetes setiap bibirnya dan Mark berpisah untuk mengambil napas dan berciuman kembali. Lidah Mark tanpa ampun mengabsen ruang bibir Haechan, buat tubuh Haechan semakin lemas.
Mark rebahkan tubuh Haechan pelan, dengan tubuhnya sendiri mengukung yang lebih tua. Ia menggeram pelan, “Miss you too, baby. How do you get sexier each time you get older…?”
Haechan harus merapatkan kedua kakinya, too excited as he saw Mark hotly took off his watch, and each layer of his clothing, leaving him only with his chiseled bare chest, all still looking down at Haechan in that handsome, handsome face.
“Prettiest darling of all…” Mark berbisik, suaranya begitu dalam.
Tubuh Haechan sempurna menegang, meremas rambut Mark yang sudah membuat jejak di kuping dan lehernya. Tulang lunak itu membasahi kulit Haechan hingga ke dada, geli dan menyenangkan, dengan penis besar yang begitu Haechan rindukan mulai ia rasakan di tengah-tengah kakinya.
“Ah… Mark…” desahnya penuhi ruangan, always so melodic like an angel getting thoroughly pleasured.
“Ah…!” Mark tersenyum miring. Tangan besarnya mulai nakal menyusuri dada Haechan, buatnya memekik saat tangan itu meremas puncak dadanya sebelum perlahan membuka kancing piyamanya.
“Pervert…” Haechan terkulai lemah, kepalanya naik menatap plafon saat bibir Mark kembali bertemu dengan puncak dadanya, menyedot dan menjilat, lapping on each nipple like a baby feeding hungrily.
“Your pervert,” Mark tertawa kecil, menatap Haechan dengan sayu—buat pipi Haechan merona atas wajah tampannya dengan lidah yang masih bertemu dada.
Haechan mengerang berantakan, jemarinya ia kubur di rambut tebal Mark yang masih setia mengemut dan menjawil dadanya.
Tangan kiri Mark perlahan turun ke celananya, melucuti celana itu, tanggalkan seluruh dari Haechan dari atas hingga bawah.
Mark menatapnya. Hot, blazing, predatory as he rakes Haechan’s naked body from head to toe. Soft, pretty skin for Mark to stare, to kiss, to put marks on…
“Mmm… kamu juga…” lirih Haechan manja, menarik celana Mark, perlahan membuka kancingnya. Matanya mengerjap lucu—all too adorable for someone who’s going to be fucked crazy.
“Kamu tuh cantik banget, sayang.” panggilan itu kembali, menciumi pipi dan bubuhi leher sensitif Haechan dengan tanda. Tangan itu menyentuh dan meremas apapun dari tubuh Haechan yang ia temui—lengan, dada, turun ke paha dan bokongnya. Until there are no skin of Haechan’s that he hasn’t touched.
“Mm…” Haechan kembali menutup mata, sensasi bibir dan tangan Mark di tubuh polosnya terlalu memabukkan. Ia temukan tangannya tak mau kalah, mengabsen otot dan punggung tegas Mark yang begitu ia cintai.
Saat Mark mengangkat kepalanya, puas dengan tubuh polos yang sudah ia warnai dengan presensinya, Mark bangkit dan menarik tas yang ia bawa.
Wajah Haechan memerah padam lihat Mark keluarkan kondom dan botol pelumasnya. “So you came prepared!”
“Of course, sayang… lihat kamu setelah satu tahun pisah, aku mana tahan kalau ketemu kamu tanpa nyentuh kamu?” Mark kembali duduk, menarik kedua kaki Haechan hingga merosot ke paha Mark dengan satu tangannya.
Haechan felt drunk on his display of power.
“Kangen banget… this pretty hole. Baby, tahu nggak aku kepusingan banget gara-gara setahun ini cuma bisa dipuasin sama tangan aku dan video-video lama kita?” Mark membuka botol itu.
“Ah..!” Haechan mengepalkan tangannya, rasakan dingin di lubangnya dengan jari-jari besar yang ia rindukan. “K-kamu masih… simpen video kita…?”
Mark merangkak, kembali mengukung tubuh Haechan dan menciumi dadanya. Tangan kanannya perlahan mengisi lubang Haechan, addicted with seeing how Haechan jerks and twitches every time he pressed in the right place. “Iya, lah. Kamu doang yang bisa bikin aku sange, tau gak? Gak ada yang lebih seksi dari kamu.”
Haechan pouts in-between the haze of the feeling of Mark’s fingers inside him. “Mm… gombal… kamu kan banyak yang ngejar pasti…”
Hangat napas Mark menyapa tengkuk Haechan. Ia mendesah panjang rasakan lidah itu menjilat tengkuknya sebelum menjawab.
“Hng... Mark, Mark…!” air mata Haechan perlahan jatuh, rasakan nikmat terangat sangat dari jemari tebal Mark yang masuk dan menekan dengan sempurna.
“Aku cuma sukanya sama yang lebih tua. Yang badannya semok, suaranya seksi, pipinya gembul…” Mark jahil menekan jarinya lebih dalam, masuk dan keluar dengan irama yang tak berikan ampun.
“Mark… need you now… please…”
And that’s all it takes for Mark to unbutton his pants and let his cock sprung free, laughing at the way Haechan’s dazed face twinkle, focusing on that part and that part alone.
“Kangen sama dia gak, sayang?” bisik Mark, memeluk tubuh hangat Haechan. Ia tuntun tangan Haechan untuk menyentuh penisnya.
“Ah… that feels good, sayang.” Mark groans as Haechan expertly touched his cock—starting from bottom to the tip, jemari lembut itu mengelus dan meremas pelan, letting Mark’s precum spurt slowly through the tip.
Haechan whimpers softly, hands working faster as Mark’s cock felt hard and full in his hands. Mark’s rhythm of ‘ah, sayang, enak, lebih kenceng, sayang…’ felt like music to his ears, encouraging.
Saat Haechan hendak duduk, Mark buru-buru menghentikannya, dengan lembut menyuruhnya berbaring.
“No, sayang. As much as I want it that sinful lips in my cock, I need to be inside you now,” Mark says urgently, menahan tangan Haechan. Saat Haechan mengerang protes, ia tertawa. “Nanti, ya. Habis ini boleh blowjob banyak-banyak. Tapi I want to fuck you first. Thoroughly. Letting you feel how much I missed you.”
Haechan stares at Mark like he hung the stars and moon. Mengangguk ringan, menurut.
“Now, be a good pretty boy and…” Mark berbisik di telinganya, buat Haechan mengerling manja dan goyangkan pinggulnya saat rasakan kepala penis Mark di mulut lubangnya. “Let me reunite with your body.”
“Hn…! You’re… inside…” Haechan felt his eyes roll when Mark’s full cock immediately fills his hole, slow and sure, letting Haechan adjust.
Mark terus biarkan bibirnya menjilat dan menghisap tengkuk leher Haechan, pinggulnya perlahan mendorong masuk ke hangat lubang Haechan, needing to be inside his home.
“Iya, sayang… I’m inside you. Feel that? Sayang, your hole molds perfectly for me, letting me in nicely… pinter banget, sayang.” Mark bawa dua jarinya pada dagu Haechan, yang lebih tua dengan otomatis membuka bibirnya, miringkan kepalanya. Beri Mark akses sempurna untuk dengan liar menciumnya.
“Oh…! So full… so… much…” Haechan dug his nails on Mark’s back, overwhelmed by the fullness in his hole after so long. Dizzy as his own cock spurts precum at the addicting sensation.
“Ha… kangen… banget.” Mark groans, shaky and deep in Haechan’s ears, the sheer dominance of it making Haechan’s body tremble in excitement.
“Aku kangen juga,” lirih Haechan, feeling overwhelmed by emotions and pleasure as Mark slowly thrusts inside him. Bibirnya terbuka sempurna dengan mata tertutup, desahan dan suara kulit yang menyatu memenuhi ruangan hotel itu. “Ah, sayang…”
“You’re so addicting. I can’t get enough of you. So pretty, so good, so sexy,” Mark mengabsen dengan pinggang yang ia hentakkan, penisnya membesar sempurna, ia bawa masuk dan keluar, terhimpit di sarangnya hangat. “I’m obsessed with you.”
“Nh…” Haechan mendesah lembut saat tubuh yang menimpanya itu memberi jarak. Matanya panas dan tajam menatap Haechan, like he wants to eat him whole.
“I’m so fucking crazy for you,” lirih Mark. Picking up his pace, thrusting deep and hard as Haechan shuts his eyes entirely, screaming pleasure, filling the room with his pretty, pretty moans.
“Buka matanya, sayang. I want to see your eyes when I pleasure you.”
Haechan perlahan membuka. Mata bulat itu penuh air mata, bibirnya bengkak dan memerah sempurna dengan tubuh penuh tanda.
He looks thoroughly wrecked and pleasured, just how Mark likes it. Mark preens at the pornographic view just below him.
Mark tangles their hands together, dengan tangan Haechan di kedua sisi kepala, sempurna di bawah kungkungan Mark. Biarkan Mark mengambil alih sempurna, terus dan terus menghentak dan bawanya berciuman panas.
“Barengan sama aku,” bisik Mark saat rasakan dirinya sudah di ujung kenikmatan. Tangannya pelan mengocok penis Haechan, sesuaikan irama. “Keluar sama aku, sayang.”
Haechan mengangguk, menurut, memeluk Mark yang menindihnya erat. Rasakan tubuhnya perlahan membantu, mengetatkan lubangnya, buat Mark mengerang panjang. “Gila… ngejepit banget… Sayang, keluar bareng, sayang. My Haechan, my love, my life, my fiancé. I love you, sayang.”
“Ahh… my fiancé…! I love… you… ah… too…!” that title had made Haechan completely and thoroughly done.
And as they both groan low and long, Mark lets go of his cock on Haechan’s hole, spurting cum through his condom as his hands feels strings of Haechan’s cum. Ia sempurna rubuh di samping Haechan.
Ruangan itu kembali sunyi, diisi hanya oleh napas yang berusaha kembali temukan ritmenya. Lampu kota Milan menyelinap lewat celah tirai, memantulkan cahaya pada seprai yang kusut.
Mark bergeser lebih dekat, meraih Haechan ke dadanya.
Their favorite post-sex routine: cuddling with Haechan laying on his chest.
Telapak tangannya mengusap punggung Haechan perlahan, berulang, menenangkan.
Seperti dulu. Seperti selalu.
“Are you okay?” tanyanya lembut, suara serak.
Haechan mengangguk kecil, pipinya merona, menempel di dada Mark. Ia mendengarkan detak jantung itu—calm, grounding. Present.
Mark menghela napas lega. Ia menunduk, mengecup rambut Haechan.
Mereka terdiam. Ada ribuan hal yang bisa dibicarakan—jadwal balapan, konser Haechan yang masih berjalan, apartemen yang dulu sunyi, rencana yang belum sempat diselesaikan. Tapi untuk malam ini, keduanya sepakat untuk tidak terburu-buru.
Haechan mencium rahang tegas Mark lamat-lamat. “Stay,” katanya.
Ada kecupan di pelipis, di pipi, lalu di bibir—pelan, tanpa tuntutan. Ciuman yang mengatakan kita punya waktu sekarang. Tangan Mark menemukan jemari Haechan lagi, saling mengunci, hangat dan akrab.
Mark tersenyum jahil. “Of course I’m staying. You’re not getting rid of me, now that I’m your soon-to-be husband.”
Haechan preens at the title. The one title he’s been waiting for so long. Ia bangkit, menarik Mark kembali dalam ciuman panjang.
Malam itu tidak berakhir. Ia melambat, melebar, dan menjadi saksi atas reuni mereka yang kembali terjadi. Sentuhan yang kembali menemukan iramanya, kembali pulang pada satu sama lain dengan kepastian yang sudah lama ditunggu.
Dan di balik tirai yang tetap terbuka, kota Milan masih hidup—sementara mereka memilih untuk saling pulang, lagi dan lagi, dari larut hingga dijemput pagi.
Epilogue
Setelah itu, dunia kembali dengan ritme awal: reuni Mark dan Haechan yang sekali lagi menghebohkan, tak pernah berhenti menjadi drama klasik baik di sirkuit maupun industri musik.
Haechan membaca berita itu di pagi hari, sambil duduk di meja makan apartemen mereka yang baru. Kali ini, mereka memilih Monaco.
Judul-judulnya artikel itu menarik, seperti biasa.
Back together?
More than that?
Is a wedding now on the horizon?
Ia mendengus pelan, letakkan ponselnya. Bangkit untuk memeluk Mark dari belakang, menciumi bahu kekasihnya yang sedang menyeduh kopi.
Mark berbalik, memeluk pinggang Haechan erat. Bubuhkan kepalanya dengan ciuman.
“Banyak berita lagi, ya?”
Haechan mendengus. “Lagian, kamu ngasih jawaban ambigu gitu ke reporter.”
Mark tertawa renyah, menggigit pipi Haechan. “Biarin aja, it’s good to play with them a little. Salah sendiri, pengen tahu banget.”
Haechan temukan dirinya tersenyum jahil. “Well, time to give them something newsworthy.”
And newsworthy, it is.
Media dan internet kembali dihebohkan—bukan oleh Mark yang hadir bergandengan dengan Haechan, melainkan cincin berlian yang berpasangan di jari manis mereka.
Di depan kamera, Mark meraih tangan Haechan, memutar cincin itu perlahan. Kemudian mencium jemari itu, buat orang-orang di arena berseru tertahan, penuh dengan tanya yang butuh jawaban.
“Ladies and gentlemen, meet my fiancé. Haechan Lee.”
Sorakan yang menggelegar meledak seperti percikan api yang menyentuh bahan bakar lama. Kamera berkilat tanpa jeda, dengan headline yang Haechan sudah bisa perkirakan akan hadir setiap menit berikutnya.
Unggahan penuh teori, spekulasi, dan potongan video yang diputar ulang berkali-kali—cincin, ciuman di jemari, hingga satu kalimat yang mengunci semuanya. Riuh tersebar di dunia maya, dengan Mark dan Haechan sebagai karakter utama.
Mark dan Haechan tetap berdiri tenang, saling bertukar pandang. Dua tangan itu saling menggenggam, saling memiliki.
And Mark wins another race.
Yet this time, seeing Haechan’s proud and radiant smile in the paddock beside his team feels a lot more like a win.
Bagi mereka, ini adalah akhir dari penantian panjang—dan awal yang akhirnya dipilih bersama.
