Actions

Work Header

2-1

Summary:

One thing led to another, sekarang Tee mendapati dirinya berada di tengah-tengah permainan dengan dua bersaudara ini. Who's keeping score anyway?

or

Joss, Dew, Tee ngewe ber-tiga.

(dirty local porn words, non-locals can use translation).

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Keringat mengucur perlahan, membasahi kaos oblong hitam tipis yang lekat menempel di punggung Tee. Panas siang yang terik seolah membakar kulitnya yang pucat dan halus, warisan darah Tionghoa-nya, saat ia mendorong pagar rumah keluarga besar Dew. Ia sudah memiliki janji untuk me-nongkrong santai di rumah pacarnya itu selagi orang tua Dew sedang berada di luar kota. Tee mengetuk pintu dua kali, lalu langsung membukanya, izin yang diberikan karena dia sudah dianggap keluarga disana.

“Sayang??” panggilnya dengan suara manja, sambil melepas sepatu.

Sepi. Hanya dengungan AC yang memenuhi ruangan. Tee melangkah masuk ke ruang keluarga, lalu mendengarnya, suara air mengalir dari kamar mandi ground floor. Dew lagi mandi, pikirnya. Senyum nakal merekah di bibirnya yang merah alami. Dengan hati-hati, seperti kucing, ia mendekat ke pintu kamar mandi yang terbuka setengah.

Namun, suara yang terdengar bukan suara Dew yang lembut. Itu suara berat, serak, dan garang yang hanya bisa berasal dari satu orang yaitu Joss. Kakak Dew. Tee membeku. Apa yang Joss lakukan di sini? Biasanya dia belum pulang di jam segini.

Rasa penasaran mendorongnya. Perlahan, ia mengintip dari celah pintu.
Napasnya tercekat.

Joss berdiri membelakangi, telanjang torso di depan wastafel. Hanya celana basket longgar yang menggantung rendah di pinggulnya. Otot punggungnya yang lebar dan terpahat tegang, basah oleh percikan air. Tetesan air mengalir pelan di sepanjang alur tulang belakangnya. Bukan pemandangan yang biasa. Tanpa sadar, Tee menelan ludahnya.

Joss mematikan keran, mengangkat kepala. Di cermin, mata tajamnya yang gelap langsung menangkap mata Tee yang terpana dari balik celah.

“Tee?” suaranya datar, tidak terkejut, justru seperti menantang, seperti sudah menunggu.

Tee tersentak, mendorong pintu terbuka lebar hingga nyaris terjatuh. Pipinya yang putih bersih langsung memerah padam, kontras sekali dengan rambut hitamnya. “M-Mas Joss! Maaf, aku kira…”

“Kirain Dew?” Joss menyelesaikan, mengambil handuk kecil dan mengusap wajahnya. Matanya menyapu tubuh Tee dari atas ke bawah, lambat, menilai seperti memeriksa barang. “Dew ada meeting dadakan. Barusan WA, mungkin baru pulang satu jam lagi.”
“Oh- oke.” Itu saja yang bisa Tee ucapkan, suaranya kecil.

Pandangannya terpaku pada perut Joss yang kotak-kotak sempurna, lalu turun ke bayangan besar di balik kain celana tipis yang sudah menunjukkan bentuk yang menggiurkan. Imajinasinya sudah kemana-mana.

“Mau nunggu di sini atau di ruang keluarga?” tanya Joss, melempar handuk. Ia melangkah mendekat. Panas dari tubuhnya yang masih lembap dan beraroma sabun woodsy menghantam Tee seperti gelombang.
“Oh- ruang keluarga aja, Mas,” gumam Tee, berusaha keras menatap ke lantai keramik yang dingin.

Tapi Joss sudah terlalu dekat. Dan dia melihat segalanya. Pandangannya tajam, turun ke arah celana pendek Tee, di mana sebuah bentuk yang tegas dan tak bisa disangkal telah membentuk gundukan dan menggembung. “Hahaha anjing,” ucap Joss, suaranya parau dan penuh ejekan menggema di kamar mandi yang sempit. “Langsung berdiri tegak gitu cuma gara gara liat kakak pacar lo sendiri? Murahan banget lo, Tee.”


Tee merasa darahnya mendidih. Malu membakar pipinya yang merah itu. “A-apa? Nggak, Mas, aku…”

“Diem,” potong Joss, kasar. Tangannya yang besar dan berbuku-buku tiba-tiba mendarat keras di pantat Tee yang lumayan montok. Tangannya langsung menyambar ke lubang pantat milik Tee yang sudah berdenyut-denyut lapar. “Ngintip aja udah basah bocor gini. Dari tadi ngiler ya?”.


Mmmh… Mas, jangan… nggak gitu…” protes Tee lemah, suaranya bergetar, tapi tubuhnya yang ramping itu tak bergerak, malah melengkung sedikit.
“Bohong,” geram Joss. Tangannya meraih rambut lurus Tee yang lumayan panjang, menarik kepala Tee ke belakang sehingga lehernya yang putih dan halus menegang. “Gue tanya sekali lagi. Lo sange liat kakak pacar lo sendiri?”


Rasa sakit di kulit kepalanya dan nada perintah yang tak terbantahkan itu membuat Tee lemas. “
A-Ah… Mmmh… Mas… iya…
“Iya apa?” bentak Joss, menarik rambutnya lebih kuat.
iya aku…
aku sange…” erang Tee, matanya yang sipit cantik mulai berbinar berkaca-kaca, memancarkan keputusasaannya.


Dengan cepat, Joss menggendong dan membawa tubuh Tee ke sofa ruang keluarga, dengan segera ia menarik celana dan boxer Tee sekaligus hingga ke lutut. Batang Tee yang sudah keras, berwarna kemerahan, dan berujung basah oleh pre-cum itu terpapar udara dingin. Joss memandanginya sambil mengejek.


“Belum apa apa udah becek licin gini. Kalau Dew tau gimana ini?” Joss meludah pelan ke telapak tangannya, lalu menggenggam batang Tee tanpa belas kasihan. Genggamannya kasar, panas, penuh dominasi, berbeda sekali dengan sentuhan Dew yang biasanya lembut.
Nghhh! Ah! M-Mas!” jerit Tee, punggungnya melengkung indah, bibirnya terbuka mengeluarkan nafas pendek-pendek.


Beg for it, Tee,” bisik Joss ke telinganya yang kecil, napasnya hangat dan menggigit. Jempolnya yang kasar menggosok ujung kontol Tee yang mengucurkan pre-cum bening. “Minta sama mas. Bilang apa yang lo mau.”


P-Please, Mas… mmmh… please… aku mau…” rengek Tee, sudah tak sanggup berpikir, lidahnya yang kemerahan tampak menjulur sedikit di antara gigi kelinci nya, gemas tapi juga seksi.
“Mau apa? Yang jelas,” perintah Joss, menggenggam lebih kencang, memeras pangkalnya.


“Aaah! Aku mau… aku mau diewe… sama mas… sekarang… please… keburu Dew pulang…


Seolah menunggu kalimat itu, Joss membuka celananya. Kemaluannya terlihat dengan jelas,
semi-hard, tapi ukurannya sudah membuat Tee ternganga, mulutnya makin terbuka. Lebih tebal dan ukurannya lebih besar dibanding milik Dew, urat-uratnya menonjol berdenyut. Saat Joss menggosoknya perlahan, ia membesar penuh, seolah mengancam di depan wajah Tee yang memerah.


“Gede, ya? gedean mana sama punya Dew?” kata Joss sambil menepuk-nepuk batang kerasnya yang panas ke pipi Tee yang halus. Aroma musk, sabun, dan keringat pria yang tajam memenuhi indera Tee. Tanpa sadar, lidah mungil nya yang merah muda menjulur lebih jauh, menjilat ujungnya yang sudah berminyak dengan pre-cum,
asin.


hahh…” desis Tee, mata mulai sayup.
Joss mendesah puas.

“Muka aja imut, aslinya kayak lacur. Jago banget nyepongnya, sering dilatih sama adek gue?”
heemh… hmmHh” Tee tak menjawab dengan jelas.

Ia membuka mulutnya lebar, berusaha menelan sebanyak mungkin. Rasanya hampir mustahil, tenggorokannya tersedak, tapi ia terus berusaha, berliur deras, air matanya meleleh membasahi pipi. Tangannya yang lentik meraba-raba perut keras dan berbulu halus Joss.


“Udah, cukup” ucap Joss tiba-tiba, menarik kontolnya yang basah dan berkilat dari mulut Tee dengan suara ‘plop’ yang basah. Dalam satu gerakan kasar, ia memutar tubuh Tee yang ringan dan membungkukkannya di atas meja pinggir marmer dekat sofa. Pantat montok dan putih Tee terangkat tinggi, terbuka lebar, memperlihatkan lubangnya yang merah muda dan sudah berkedut-kedut.


aah! Mass, pelan…!” teriak Tee, panik bercampur gairah memuncak.
Joss meludah langsung ke celah pantatnya. Ludah itu hangat dan kental. Jarinya yang besar dan panjang mengolesi lubang berkedut itu dengan kasar. “Dew pernah gak ngobokin lu pake jari segede ini?”
nghh.. nggak… Aaah! Sakit!” teriak Tee saat satu jari Joss menyodok masuk tanpa persiapan. Rasa pedih yang tajam membuat matanya berkunang-kunang, tapi lubangnya langsung mencengkeram.


Ssst… sakit dikit aja udah teriak. Lembek banget lu.” Joss menambah jari kedua, membuka dan meregangkannya dengan cepat, brutal. Tee menjerit-jerit kecil, “Ah! Ah! Mmmh!”. Wajahnya yang cantik itu menyeringai antara sakit dan nikmat, air liur mulai menetes dari sudut bibirnya yang menggigit.


Tiba-tiba, suara kunci. Pintu depan terbuka.
Suara Dew. “Tee? Meeting gue batal, maaf ya tadi gue lupa ngabarin-“. Belum menyelesaikan kalimatnya, Dew membeku di ambang pintu ruang keluarga. Tasnya jatuh. Matanya membelalak, bergerak dari punggung telanjang dan berotot kakaknya ke tubuh pacarnya yang terangkuk-rangkuk, celana tersingkap sampai lutut, pantat terbuka, dua jari kakaknya nyangkut di dalam, basah dan berkilau.

pemandangan macam apa ini?


“Apa… APA APAAN SIH INI?!” teriak Dew, suara serak oleh kejutan dan kemarahan.
Joss menarik jarinya keluar dengan cepat, membuat Tee mengerang panjang dan sedih. Ia menatap adiknya, tenang, bahkan sinis. “Pacar lu noh. Pengen tau rasanya kontol abang pacanya sendiri.”


“BANG! DIA PACAR GUE ANJING?! GILA YA??” Dew melangkah mendekat, wajahnya merah padam diwarnai oleh amarah.


“Orang dia yang mau,” balas Joss dengan datar, menepuk pantat merah Tee yang berbekas jari. “Bilang, Tee. Kamu mau apa tadi?”.


Tee menoleh, wajahnya basah oleh air mata dan air liur, rambutnya berantakan menempel di dahi, bibirnya bengkak dan merah. “
Dew !! sayang… mmmh… aku minta maaf… aku- hngh…”


Dew melihat matanya. Melihat bagaimana tubuh Tee begitu… menerima, bahkan terlihat mendambakan. Amarahnya bergolak, tapi sejujurnya, ia juga terangsang. Ia mendekat, suaranya lebih rendah.

“Lo… beneran mau ini? Mau sama abang gue juga?”
Nghh… Dew… maaf.. jangan marah…” kata Tee, tak koheren, tangisnya tersedu-sedu, entah karena merasa bersalah atau nikmat di lobangnya. ga ada yang tau.

Dew menghela napas panjang, dalam, matanya tak lepas dari pemandangan muka merah padam seksi milik pacarnya yang terlihat compang-camping dan sangat terangsang di depannya. Lalu, ekspresinya berubah. Sebuah senyum tipis mulai muncul di bibirnya. Ia melepas jaketnya dengan lambat. “Oke. Kalau itu mau lo, kita kasih dia apa yang dia pengen, Bang.”


Joss mengangguk, sudut mulutnya melengkung penuh kemenangan. Dew menghampiri Tee, menatap wajahnya yang compang-camping tapi cantik secara tak wajar. “Gue marah, tahu? Tapi muka lo keliatan udah haus kontol banget, kasihan gue liatnya.” Ia membelai pipi Tee yang basah.

“Hari ini lo milik kita berdua. Udah, jangan nangis.” tegas Dew.

Dew membuka bajunya, lalu celananya. Kontolnya yang panjang, ramping, dan sudah tegak menantang terpapar. Ia menghampiri Tee, menyentuhkan ujungnya ke bibir Tee yang terbuka. “Buka mulut yang lebar. Layani pacar lo dulu. Yang bener.”


Dengan patuh, Tee membuka mulutnya lebar-lebar, lidahnya yang merah muda menjulur. Ia mengisap kontol Dew dalam-dalam, merasakan kulitnya yang halus, sementara di belakangnya, ia mendengar suara ludah dan merasakan tekanan besar, tumpul, dan panas mulai mendesak masuk ke lubang pantatnya yang masih sempit.


Mmmhnghh” gumamnya di sekitar batang Dew, mulutnya penuh, air liur mulai meluber.
Hahh- sempit banget sih, padahal udah gak perawan juga” geram Joss di telinganya, nafasnya sudah berat dan panas. Tee hanya bisa mengerang panjang dan dalam di sekitar batang Dew saat Joss mendorong dengan kekuatan penuh.


NGHHH—!!! AAAAAHHH!!! MASSSS!!! SAAAAKIIIT!! Teriaknya sambil melepas sejenak milik Dew. Namun jeritannya tertahan oleh kontol Dew yang tiba-tiba masuk lagi lebih dalam ke tenggorokannya. Rasa sakitnya dua kali lipat dari yang pernah ia rasakan. Ia benar benar dirusak dari belakang dan depan. Ia merasa terpenuhi hingga sesak, seperti akan robek. Lubang dan mulutnya terasa panas dan terbakar. “Ssst… santai, sayang,” bisik Dew dengan suara serak, mengelus rambut Tee yang berkeringat. “Terima aja, Ini kan yang lo mau?

Di posisi mereka sekarang, pandangan Dew sangat jelas ke arah perut putih pucat Tee yang rata dan berkeringat. Pinggang Tee yang ramping itu terlihat semakin kecil di lingkaran lengan Joss yang kekar dan berotot, membuat kesan pria yang begitu dominan menelan tubuh Tee yang ringkih. Tee memanglah pria yang tinggi, namun soal berat badan ia masih jauh dibawah kakak kekasihnya itu.

"Bang, liat nih," desis Dew, suaranya serak oleh nafsu dan suatu emosi kompleks.

Joss mengikuti pandangan adiknya. Ia melambatkan hentakannya, lalu mendorong perlahan, dalam, dan terukur. Di perut Tee yang mulus itu, tepat di bawah pusarnya, muncul sebuah tonjolan. Bentuknya jelas, membulat, menonjol ke depan, sebuah bulge yang membayangkan dengan sempurna bentuk dan ukuran dari kejantanan Joss yang sedang mengisi Tee hingga ke pangkalnya.

Tee mengerang panjang, merasa sesuatu yang asing dan sangat dalam malah ditekan dari luar oleh yang lebih tua. "Ah- Ah! mass..! jamgan di tekan!!.." ucapnya terputus-putus, matanya yang berkaca-kaca mencoba menatap ke bawah, melihat tonjolan itu.

"Fuck," Dew mengumpat, matanya terpaku. "Gue belum pernah... gue belum pernah liat dia kayak gini." Ada rasa kagum yang liar di suaranya, bercampur dengan api cemburu.

Joss pun kembali menarik pinggulnya sedikit, membuat tonjolan itu menghilang, lalu mendorong lagi dengan kuat. Tonjolan itu muncul kembali, lebih jelas, bergerak sesuai dengan hentakannya.

Rasa cemburu yang pedih mendidih di dada Dew. Ia tak bisa mengambil pandangannya dari pemandangan itu. Dengan gerakan agresif, Dew memasukkan kembali kontolnya yang keras ke dalam mulut Tee yang terbuka lebar, menekan lebih dalam ke tenggorokannya. "Nghh-! Mmmph!!"Tee terkekang, matanya membelalak. Air matanya yang sudah menetes sejak tadi kini mengalir deras, membasahi pipinya yang merah padam. Matanya yang cantik itu memandang Dew dengan tatapan boba eyes khas nya.

Di sisi lain Joss mendorong lebih dalam, sampai pangkalnya yang berbulu menempel keras di pantat Tee yang putih.

“Coba aja lo bisa liat diri lo sendiri… muka lo sampe kayak perek, dipake sama abang pacarnya sendiri. malu maluin tau gak.
Tubuh tee yang ringan terhuyung-huyung di antara mereka berdua. Tenggorokannya tersedak dan berdeguk oleh gerakan Dew yang juga makin asal-asalan.


Suara ruangan dipenuhi suara tubuh, desahan kasar, hentakan kulit ke kulit, decapan basah dari lubang yang dipaksa, dan jeritan kecil yang terputus-putus. Dew menarik rambut Tee. “Tee-
Ah… isep yang bener… mmmh… lo suka ya? Suka dilecehin kayak gini? Jawab.” gertaknya sambil menarik rambut yang dibawah.

‘plop’ iya lepaskan kemaluan dew sekali lagi dari mulutnya iyaah Tee suka… ah…dengan sengaja ia jilat jilati lubang kemaluan milik sang kekasih layaknya bocah. “mass.. kencengin.. kencengin genjotnya nghhucap Tee mengejar kepuasannya dan segera memasukkan kemaluan kekasihnya lagi ke mulutnya.


Joss membungkuk, lengannya yang kuat melingkar erat di dada Tee yang ramping, menarik tubuh Tee yang ringan ke setiap dorongannya yang dalam dan keras. “Lubang lu sempit banget sih, Tee. kayak pengen remukin kontol gue. ngempot banget
anjing.” Tee mendengar ocehan itu layaknya pujian, dengan sengaja ia goyang goyangkan sedikit pinggul nya, craving for more of Joss. Targetnya pun mendesah kewalahan dibuatnya.

“Bang! Pelanin dikit anjing! Lo dorong kuat banget, dia jadi kesedak!” teriak Dew, karena dorongan Joss yang keras membuat Tee tersedak hebat, batuk-batuk kecil di sekitar kontolnya.

“Gak bisa,” geram Joss, nafas semakin berat, keringat membasahi punggungnya. Kecepatannya meningkat. “Dia yang minta keras. Lu ga denger tadi? Please, Mas, kencengin.’” ejeknya.

Setiap hantaman dalam membuat Tee terpental ke depan, wajahnya menghujam pangkal paha Dew.
Sensasi ganda itu gila. Mulutnya dipaksa, ditusuk-tusuk, tenggorokannya sakit tapi terisi penuh. Lubangnya dihancurkan, diregangkan, panas. Ia terjepit. Gairahnya memuncak, kontolnya yang tak tersentuh berdenyut liar dan mengucurkan pre-cum terus-menerus.


Hah… aku gakuatt… mmmh.. mau keluar !!” teriak Tee dengan suara yg sudah putus asa dan penuh air liur.
“Mau apa, cantik?” hardik Dew, menarik kontolnya keluar sebentar, mengolesi bibir Tee yang merah–bengkak, dengan pre-cumnya sendiri.
Aku… ngh- mau keluar !! Please! Aku udah ga bisa nahan, ahhh!!” rengek Tee, tubuhnya gemetar hebat.


“Kapan kita bilang lo boleh cum?” bentak Joss sambil menampar pantat Tee lagi, meninggalkan bekas merah.

“Lo cum kalo kita udah puas. Sekarang kerjaan lo isep & ketatin lobang aja. Gitu doang bisa gak?”


Mereka mempermainkannya dengan kejam. Dew mempercepat gerakan di mulutnya, mendorong sampai ke ujung tenggorokan. Joss menemukan sudut yang dalam, sebuah titik yang membuat Tee menjerit hingga bola matanya terputar ke belakang.


AAAAHHH ITU!!! DI SITU, MMH—!!!! mau pipis…Teriak Tee, tubuhnya bergetar tak terkendali, lubangnya berkedut liar mencengkeram kemaluan milik Joss.
Joss tertawa rendah, ia mengunci hantamannya tepat di prostat Tee, menggosok-gosok ujung kontolnya yang besar dan panas di sana berulang-ulang. Dew merasakan tenggorokan Tee mengencang dan berkonvulsi.

“Fuck gue mau crot, Bang”
“Barengan,” ujar Joss.


Beberapa hantaman keras, tak teratur, brutal, menghunjam.
Tee merasakannya. Puncaknya datang seperti tsunami, menghancurkan segalanya. Kontolnya yang tak tersentuh itu sendiri memuntahkan tak hanya cum yang deras namun juga
cairan lainnyake bawah meja, memercik deras ke lantai keramik. Lubangnya berkedut liar menjepit erat batang Joss seperti mau memerasnya. Tenggorokannya berkonvulsi, mendorong keluar kontol Dew, dan ia tersedak, batuk-batuk sambil air mani Dew memancar mengenai pipi, dagu, dan lehernya yang putih ke pink pink an.


Joss menggeram dalam-dalam. “AHH—!”

Mas nghh- jamgan di dalem mh!!-

siapa peduli.

Tee merasakan semburan panas yang sangat deras dan banyak memenuhi bagian dalamnya, mengisi setiap sudut, meluber sampai terasa panas. Di mulutnya, semburan sperma milik Dew membanjiri lidahnya, ia terpaksa menelan sambil tersedak, sisa-sisanya menetes dari bibirnya yang merah.


Keheningan sejenak, hanya nafas berat yang terengah-engah dan desis AC.
Joss menarik kontolnya keluar perlahan, mengikuti dengan kucuran putih kental yang segera menetes deras di paha putih Tee, membentuk aliran yang kotor. Dew lalu menangkap Tee yang sudah terkapar lemas, gemetaran, dan nyaris pingsan, mendudukkannya dengan lembut di sofa.


“Gila…” desis Dew, napasnya masih tersengal, matanya memandang keadaan Tee, compang-camping, penuh bekas cengkeraman dan tamparan. Rambutnya basah kuyup, bibirnya bengkak. Lubang pantatnya masih terbuka sedikit, merah dan berdenyut, mengucurkan campuran ludah dan air mani Joss yang kental pelan-pelan ke paha belakangnya.

Gila, kalau saja Dew dan Joss tidak memiliki hati nurani pasti sudah lanjut ke ronde berikutnya.

Tee memandang Dew dengan mata berkaca, ketakutan. “Kamu… kamu pasti benci sama aku ya sekarang?”
Dew memandanginya lama, lalu menoleh ke Joss yang sedang mengambil minum. Ia menghela napas. “This might sounds weird but… Engga, aku ga marah kok.” Senyumnya muncul lagi, nakal. “Malah… tadi lumayan seru.” Joss tertawa pendek, meneguk air. “Lain kali kita coba posisi lain. Lo bisa ikut nimbrung dari belakang juga, Dew. Biar dia nyepongin gue.”

Dew mengangkat alis, matanya berbinar. Dew jelas menikmati ini. Mengetahui itu, Tee merasa sedikit lega.

“Jadi… masih ada ‘lain kali’-nya, ini?”.

—end.

Notes:

this fic actually inspired by Joss & Tee interaction during starlympic wkwk, hope u guys enjoy <3

comments are very much appreciated, boleh request juga >_<