Work Text:
*
Salah satu bulan Jupiter bernama Europa. Satelit terkecil di antara satelit Galelio lainnya.
Jupiter ingat bagaimana dia tertegun ketika dia membaca display name kontak yang menghubunginya. Aries Europa.
Dia tahu Aries, lelaki yang dua tingkat di bawahnya itu. Dia pernah melihat Aries semasa botak karena ospek. Tapi, dia tidak pernah tahu nama panjang Aries.
Semua pikiran ini berkelebat di benak Jupiter, selagi dia menahan kantuk karena harus hadir di kelas pagi, dan saat menaiki tangga menuju lab, Aries sudah menunggunya.
Aries menunduk menekuri laptop di pangkuan. Dari samping, garis wajahnya terlihat tajam, dan agak mengintimidasi. Namun Aries menoleh ke arah Jupiter, dan dia tersenyum sopan sembari mengangguk. Garis tajam itu berganti menjadi lengkungan senyum dan lesungan di pipi.
Aries berdiri, masih dengan laptop di tangan.
“Pagi-pagi banget… Aries.” ujar Jupiter, seakan mereka sudah mengenal lama sebelumnya. Nama itu terasa asing di lidah, namun familiar didengar.
Aries tersenyum. Dia nampak terlalu baik untuk menyindir karena Jupiter lah dia pagi-pagi banget ini berasa di sini.
Jupiter membuka kunci dan memasuki lab. Aries mengikuti di belakang. Jupiter menyalakan lampu.
“Sebentar, ya.” ujar Jupiter, dia menoleh ke belakang bahu.
Aries sudah menempati salah satu meja. Dia mengangguk.
Jupiter menaruh tas di ruang asisten. Ponsel di sakunya berdenting. Dia merogoh dan melihatnya sekilas, kemudian menaruh ponsel itu dekat dengan tas.
Jupiter tidak langsung menghampiri Aries; dia memandangnya, sejenak, sebentar. Sinar matahari menembus melalui jendela, dan membiaskan partikel-partikel kecil yang beterbangan di dekat Aries.
Suatu ide berkelebat di benaknya, namun Jupiter menepisnya. Dia berbalik untuk mengambil air dalam gelas kemasan, dan akhirnya berjalan menuju Aries.
“Gimana, Aries?” tanya Jupiter. Dia menusukkan sedotan kecil pada tutup kemasan, dan meminum air. Dia duduk di hadapan Aries.
“Baru Pendahuluan…” jawab Aries. Dia menyodorkan laptop ke arah Jupiter. “Saya bawa print out-nya juga kalo mau…”
Jupiter menggelengkan kepala dan menarik laptop mendekat. “Gini aja. Gak apa-apa. Daripada nge-print mulu.”
Jupiter membaca kata demi kata yang ada di laporan Aries; kalimatnya singkat dan mudah dipahami, namun tetap padat. Rapi. Jupiter tersenyum kecil. Dari sudut mata, Aries menatapnya. Namun saat Jupiter mendongak, Aries mengalihkan pandangan.
Bab Pendahuluan itu hanya tiga halaman. Jupiter tidak suka laporan yang berisi tulisan mengawang-ngawang tanpa tujuan yang jelas. Tapi Aries bisa dengan mudah menarik pertanyaan yang membawa inti dari modul praktikum ini.
Jupiter menunjukkan pada Aries beberapa kalimat yang bisa diringkas menjadi lebih efektif. Jupiter mengangkat alis ketika Aries mengeluarkan buku, kemudian berubah menjadi senyum ketika Aries menangkap matanya.
Kenapa segala sesuatu yang Aries lakukan tampak mengesankan di mata? Ini bukan pertama kalinya Jupiter mendapat praktikan yang rajin.
Aries tidak aktif berorganisasi di himpunan, pun dia hampir tidak pernah ikut berkumpul di kantin Teknik bersama teman-teman seangkatannya. Dia lebih sering bersama temannya yang hanya dua atau tiga orang itu; semuanya perempuan, mungkin sekelas dengan Aries. Jupiter mengenal salah satunya, karena aktif di himpunan.
Dibanding mengenakan ransel, Aries senang membawa laptop dengan sleeve yang bisa dijinjing. Di tas Aries juga terlihat botol air mineral bekas yang berisi makanan kucing.
Mungkin—mungkin Jupiter memang sering memperhatikan Aries, lebih dari yang dia sadari.
“Oke, ya?” kata Jupiter. “Ambil teori dari modul, dan kalo masih sempat waktunya, bisa cari jurnal. Tapi email-in gue jurnalnya dulu.”
“Iya, Kak.” kata Aries. Kemudian, “Saya gak tahu email Kak Jupiter…”
Jupiter memandangnya. “Nanti gue kasih tahu.” ujar Jupiter.
Jarang sekali dia mendengar namanya disebut lengkap. Panggilannya: Jupi. Jupli. Entah kenapa diselipkan L.
Tidak pernah Ju-pi-ter.
Jupiter tersenyum, dan Aries memandangnya, kemudian menunduk dan mulai merapikan barang-barang.
“Oke, Aries, nanti kabarin aja ya kalo mau asistensi lagi.” ujar Jupiter.
Aries mengangguk, dan dia baru saja mengangkat tas, ketika Jupiter—rasanya hampir tanpa sadar—memanggil namanya pelan.
“Ya, Kak?” kata Aries.
“Udah ada minggu ini?” tanyanya.
“Udah ada… apa…?” Aries bertanya balik.
“Pacar.” ujar Jupiter. “Pacar minggu ini.”
Aries mengerjapkan mata. Pipinya memerah mendengarnya. “Ng-nggak… Belum…” jawabnya tergagap.
Sebelum Jupiter bisa menghentikan diri dan mungkin berpikir lebih jernih, dia bertanya dengan nada ringan, “Gue aja yang jadi pacar lo, boleh?”
Begitu ringan ujarnya, seakan tanpa beban, seakan tangannya tidak menjadi dingin menanti jawaban Aries.
Aries menatapnya, dan sekujur tubuh Jupiter terasa memanas—kecuali kedua tangannya.
Aries mengangguk. “Oke…”
“Oke?” ulang Jupiter. Dia tersenyum dan berharap semoga senyumnya ini dianggap ramah oleh Aries, bukan mengancam. “Oke, gue pacar Aries minggu ini?”
“Iya…”
“Oke, kalo gitu.” kata Jupiter. “Kuliahnya di ruang berapa?”
Aries menyebutkan nomor ruangannya.
“Mau gue anterin?”
Aries menggelengkan kepala. Kemudian, seakan tersadar, dia menambahkan, “Bukan gak boleh… Tapi…” Aries tidak melanjutkan, dan Jupiter paham: pasti aneh rasanya datang dengan niat untuk asistensi laporan, kemudian pulang dengan status pacar orang.
Jupiter ingin tertawa, tapi wajah Aries begitu serius dan tegang.
“Oke.” kata Jupiter. “Hati-hati di jalan, ya.”
“Cuma ke bawah…”
“Hati-hati takut kesandung batu di jalan.”
Aries tertawa mendengarnya, dan tawanya melelehkan sedikit apapun yang ada di rona muka dan gerak tubuhnya. Hanya sedikit. Aries mengangguk dan berlalu, tanpa menoleh ke belakang, dan Jupiter menyaksikannya pergi.
*
*
Sebenarnya, rumor itu hanya berlangsung dua hari, mungkin kurang.
Kala itu, nama Aries disebut-sebut beberapa kali. Barulah saat Jupiter mendengarkan, dia langsung paham situasinya: Aries memiliki pacar baru, setelah seminggu sebelumnya dia terlihat bersama gadis lain. Itu berlangsung tidak hanya satu atau dua kali, tapi empat kali; yang artinya, sudah sebulan dia mengencani empat gadis berbeda.
Jupiter tidak ambil pusing. Banyak hal lain yang harus dipikirkan: tugas-tugas kuliah, laporan praktikum, persiapan modul, dan kampanye calon ketua himpunan.
Dari rumor dua hari yang beredar itu, Jupiter mengambil kesimpulan: jadian di hari Senin, dan putus di hari Minggu. Tidak akan ada pihak yang terluka karena dikhianati.
Namun, apa rasanya pacaran hanya dalam seminggu? Mengenalnya saja mungkin hanya sebatas permukaan.
Rumor itu mereda begitu saja, karena seperti Jupiter, ada yang lebih penting. Kecuali, mungkin, jika Aries menghamili salah satu gadis itu. Tapi yang Jupiter dengar, Aries bahkan tidak pernah menggandeng tangan gadis-gadis itu selama mereka berhubungan.
Mungkin, karena ini lah Jupiter memperhatikan Aries.
*
Jupiter mengganti kaos yang dia kenakan dengan kemeja seragam asisten. Dia menyalakan komputer dan proyektor; semata-mata hanya untuk mengalihkan pikirannya dari Aries.
Apa yang dia baru saja perbuat?
Mengajak Aries pacaran selama seminggu?
Nanda memasuki ruangan lab; sudah rapi dengan seragam. Dia berhenti saat melihat Jupiter.
“Lo kenapa?” tanyanya.
“Apanya?” tanya Jupiter balik.
“Kayak abis ngelihat hantu gitu.”
“Elo hantunya.”
Nanda memutar mata, dan berjalan ke ruangan asisten. Jupiter duduk di meja depan, berpura-pura membaca materi modul di komputer, meskipun pikirannya masih melayang ke garis wajah Aries yang melembut melihatnya.
*
Nanda kembali bertanya, “Lo kenapa, sih?”
Jupiter menggelengkan kepala.
“Sama lo tadi nanyain Aries, kenapa?”
Jupiter masih menggelengkan kepala.
“Praktikan lo, kan? Kenapa? Dia ngeselin?”
“Bukan.”
“Dia yang gonta-ganti pacar itu, kan? Sekarang juga masih—“ Nanda terdiam. “Oh. Sekarang hari apa, Pi?”
“Senin.”
Nanda menunjuknya. “Lo? Dan Aries?”
Jupiter tidak bisa mengelak; Nanda ini terlalu pintar untuk bisa dibodohi. Jupiter mengangguk.
“Kok dia mau?”
Jupiter memutar mata, namun diam-diam lega mendengar nada bicara Nanda yang mengajaknya bercanda. “Mungkin karena gue tampan dan bersahaja.”
“Kayaknya karena dia praktikan lo aja, makanya dia mau.”
Jupiter juga memikirkan ini, namun dia menepisnya. “Bisa jadi.”
“Lo naksir?”
“Nggak.” Jupiter menjawab terlalu cepat. Kelewat cepat hingga Nanda mengangkat alis mendengarnya.
“Lo naksir.” Nanda terdengar seperti membuat pernyataan, bukan pertanyaan. “Gak usah denial gitu, Pi, gak apa-apa kok.” Nanda terkekeh. “Gue gak nyangka aja waktu lo kalah dan gue nyaranin mending lo cari pacar aja… gak nyangka aja lo pacaran sama Aries.”
“Lo tahu nama lengkap Aries?”
“Hah? Enggak.” Nanda menggelengkan kepala. “Kenapa memang? Ada kali di mading depan.”
“Gak.” gumam Jupiter. “Eh, lo jangan bilang ke siapa-siapa soal ini. Dia, kan, gak pernah pacaran sama temen sejurusan… apa lagi sama kakak tingkat.”
“Lo naksir.” kata Nanda. “Lo merhatiin soalnya.”
Jupiter melambaikan tangan dan mengabaikan cengiran Nanda, dan beranjak pergi meninggalkannya.
*
Sisa hari itu dilewatkan Jupiter di lab untuk praktikum sif berikut. Mahasiswa-mahasiswa di hadapannya tampak mengantuk, dan sejujurnya, dia pun sama lelahnya. Maka, ketika praktikum selesai dan setelah memastikan dia tidak memiliki janji asistensi lagi, Jupiter segera pulang.
Perjalanan pulangnya memakan waktu hampir satu jam karena macet, bahkan dengan motor yang dia kendarai.
Sesampainya di rumah, dia segera menghempaskan diri di kasur, dan tertidur tanpa mengganti baju atau mencuci muka.
Jupiter terbangun ketika mendengar denting di ponselnya. Kamarnya sudah gelap gulita. Di luar kamar terdengar suara TV dan percakapan Bulan dengan ibu mereka.
Jupiter meraih ponsel yang berada di saku, dan membaca pesan yang dia terima.
Jupiter menekan tombol telepon di ujung kanan atas, dan membawa ponsel itu ke telinga.
Aries mengangkat telepon di dering keempat.
Jupiter menyebutkan alamat surelnya dengan suara parau sehabis bangun tidur. Dia berdeham, kemudian mengulanginya.
“Oke…” jawab Aries pelan, dan terdengar ragu.
Jupiter tertawa kecil. “Sori. Aku baru bangun. Males banget mau ngetik.”
“Oh, gitu…”
“Udah pulang?”
“Udah. Sekarang udah di kos.”
“Kamu ngekos di mana, sih?”
Aries menyebutkan nama gang kosnya, yang dekat dari kampus, dan Jupiter tahu itu; teman-temannya banyak yang tinggal di sekitar sana.
“Di belakang tukang bubur… tahu gak, Kak?”
“Ohh, tahu, tahu.” kata Jupiter. “Di sana buburnya enak. Kamu sering sarapan bubur, dong?”
“Gak juga.” Aries tertawa. “Bosen kalo makan bubur terus…”
“Iya, sih.” kata Jupiter. “Tapi tiap hari sarapan, kan?”
“Sarapan…”
“Oke. Bagus. Sarapan itu penting.” Jupiter bangkit dari tidurnya untuk menutup gorden jendela, dan menyalakan lampu kamar. “Udah dikirim, email-nya?”
“Udah, Kak.” kata Aries.
“Oke, nanti aku cek.” jawab Jupiter. “Besok mau asistensi?”
“Asistensi?” ulang Aries.
“Iya.”
“Eh… aku… gak tahu, sih, Kak… Besok aku ada kuliah dari pagi sampai sore. Kalo Kak Jupiter ada revisi atau apa, boleh balik kirim ke email aku?”
Rasa kecewa menyelusup di hati Jupiter mendengarnya. Dia tidak keberatan besok bertemu Aries lagi.
“Oke.” jawab Jupiter. “Nanti aku cek, terus aku balas email-nya.”
Aries mengiyakan dengan nada lega, dan Jupiter bisa membayangkan senyumnya di ujung sana. Jupiter melirik ke cermin yang ada di lemari, dan berpandangan dengan pantulan dirinya yang ikut tersenyum.
Jupiter memejamkan mata dan menarik napas.
“Kak Jupiter sibuk?” tanya Aries. “Kita… udahan aja? Teleponnya.”
Jupiter tertawa. “Iya. Aku mau mandi dan makan.” Kemudian, karena merasa ini momen yang pas, Jupiter bertanya, “Kamu udah makan, Aries?”
“Udah.”
“Oke.” kata Jupiter. “Maaf, pertanyaan template.”
Aries tertawa. “Kak Jupiter nanti makannya yang enak, ya.”
Mereka saling berpamitan, dan Aries menutup teleponnya lebih dulu. Jupiter menatap layar ponselnya yang sudah menggelap. Telinganya seakan masih terngiang oleh tawa Aries di telepon. Dua kali.
*
*
Saat pintu berderit terbuka, Jupiter menoleh, meskipun dia tahu siapa yang membuka pintu.
Aries membelalakkan mata; rambutnya masih berantakan, dan wajahnya seakan baru terbangun tidur. “Kak… ngapain di sini?” ujarnya dengan suara parau.
“Sarapan.” jawab Jupiter. “Kamu mau, sekalian?” Jupiter memesankan semangkuk.
Aries masih berdiri di depan pintu; nampak masih mencerna pemandangan di hadapannya. Jupiter menahan tawa. Dia membayar bubur itu dan membawa dua mangkok di tangan, kemudian menghampiri Aries. Dia menyodorkan satu mangkok.
“Nih.”
Aries menerimanya.
“Aku gak diajak masuk, nih?”
Aries mengerjapkan mata, kemudian bergeser untuk mempersilakan Jupiter masuk. Dia menutup pintu, dan berjalan ke salah satu kamar. Jupiter mengikutinya.
“Maaf berantakan…” kata Aries. “Beneran gak nyangka Kak Jupiter bakalan ke sini…” Dia menaruh mangkok di meja belajar, dan membungkuk untuk melipat selimut di kasur.
“Maaf juga ngedadak.” ujar Jupiter.
“Aku cuci muka dulu.” ujar Aries. Dia melangkah gontai ke kamar mandi yang ada di dalam kamar. “Kak… duduk di mana aja. Bebas.”
Sepertinya, Aries memang belum benar-benar terbangun dari mimpinya. Sebenarnya, Jupiter hanya bermaksud bercanda, yang tidak disangka dianggap serius oleh Aries. Jupiter, sekali lagi, menahan tawa.
Kenapa reaksi Aries selalu menggelikan hati?
Tak lama, Aries keluar dari kamar mandi dengan wajah dan sebagian rambut basah. Dia meraih handuk dan mengelap wajah.
“Apa, tadi?” gumam Aries. “Oh. Ya. Sendok.”
Jupiter kali ini tidak bisa menahan tawa. “Kamu masih ngantuk, ya?”
Aries menyodorkan sendok padanya. “Kak Jupiter pagi banget ke sini… Ada kuliah apa?”
“Kuliah?” tanya Jupiter balik. “Aku mau bangunin kamu aja.”
“Bangunin… aku?”
“Iya. Ada kuliah pagi, kan?”
“Oh… Barusan, barusan banget sebelum Kak Jupiter chat… kelasnya dibatalin.”
“Oh, gitu?” Jupiter tertawa. “Habis ini kamu mau tidur lagi?”
“Rencananya sih, gitu.” Aries balas tertawa. Dia mulai memakan buburnya.
“Aries,” panggil Jupiter.
“Ya?”
“Kamu gak apa-apa?” Ketika dilihatnya Aries mengedipkan mata kebingungan, Jupiter menambahkan, “Pacaran sama cowok.”
“Oh…” gumam Aries. Dia menggelengkan kepala. “Gak apa-apa.”
Jupiter tertawa, dan terselip kelegaan di dalamnya. “Oke. Kalo misalkan, aku bikin kamu gak nyaman, bilang aku, ya?”
Aries mengangguk perlahan. Kemudian, “Kak Jupiter… pernah?”
“Apa?”
“Pacaran sama cowok?”
Jupiter tertawa. “Hari kedua kita pacaran, dan kamu mau ngomongin mantan aku?”
Aries menunduk; rona merah merambat ujung telinganya. “Bukan gitu…”
“Pernah.” jawab Jupiter. Dan hanya itu yang bisa dia utarakan.
Mereka melanjutkan makan dalam diam; keheningan yang menjadi canggung, mungkin karena jawaban Jupiter, atau mungkin karena Jupiter sendiri yang bertanya ke Aries. Dia hanya ingin Aries merasa nyaman dan aman di dekatnya. Meskipun, setelah seminggu ini berakhir, mungkin mereka akan kembali menjadi orang asing; kakak dan adik tingkat yang hanya sebatas tahu nama masing-masing.
“Kamu lahir tanggal berapa?” tanya Jupiter.
“13… April.” jawab Aries. “Kak Jupiter?”
“21 Agustus.”
“Oh… bentar lagi, dong?”
“Iya. Bentar lagi bertambah tua.” Jupiter bertanya, “Berarti zodiaknya… Aries?”
Aries tertawa. “Jelas banget, kan?”
“Kalo…” Jupiter berhenti. Ingin dia bertanya mengenai nama belakang Aries, namun dia urung, dan tidak ingin membuat suasana lebih canggung lagi.
“Europa?” tebak Aries, tepat sasaran.
Jupiter menatapnya, dan mengangguk.
Aries mengulum senyum, dan rona merah di telinga merambat hingga ke pipi. “Itu… satelitnya Jupiter.” Dia mengoreksi cepat, “Planet Jupiter.”
“Orangtua kamu yang kasih nama?”
“Iya.” jawab Aries. “Waktu aku tahu Kak Jupiter tuh kayak, wow kebetulan banget.” Dia tertawa, dan Jupiter paham kenapa dia bisa populer dan digemari banyak orang.
“Kak Jupiter inget gak, sih? Waktu ospek dan aku sakit, terus Kak Jupiter nungguin aku karena gak ada anggota medis yang jaga saat itu?” tanya Aries.
Jupiter ingat. Aries adalah nama yang mudah diingat, dan itu adalah pertama kalinya dia tahu nama Aries.
Jupiter mengangguk dan tersenyum kecil.
Bubur mereka sudah habis. Jupiter menumpuknya dan membawa keluar untuk dikembalikan. Setelahnya, Jupiter masuk ke kamar Aries lagi.
“Aku pergi, ya. Kamu mau tidur lagi, kan?” tanya Jupiter.
“Eh… terus Kak Jupiter ke mana?”
“Ke lab, paling.”
“Ada praktikum?”
“Hari ini bukan jadwal aku.”
“Terus ada kuliah?”
“Gak ada.”
“Terus… kenapa ke sini?”
“Kan aku udah bilang,” Jupiter tersenyum, “Mau bangunin.” Dia tergelak. “Mau asistensi, tapi nanti.”
“Aku juga belum asistensi…” ujar Aries.
“Kamu nanti aja.” kata Jupiter. “Kan, sibuk. Nanti ada kelas sampai sore.” Jupiter teringat sesuatu. “Aku belum cek email lagi. Nanti aku cek.”
Aries mengangguk. Jupiter berdiri, namun melihat Aries termangu di sana, dia tidak sampai hati meninggalkannya. Kalau Aries memintanya, dia akan dengan senang hati tetap tinggal. Tapi, Aries tidak berkata apa-apa.
Jupiter melambaikan tangan, dan Aries membalasnya. Sebelum Jupiter berubah pikiran, tangan Jupiter terjulur untuk mengusap kepala Aries.
Aries mematung; tangannya masih di udara. Jupiter berbalik, dan meninggalkan Aries.
*
*
Satu hal yang Jupiter selalu pikirkan ketika dia melihat Aries: tampilannya tidak seperti mahasiswa Teknik. Aries selalu mengenakan pakaian terbaik yang rapi dan modis. Dia lebih terlihat berbaur dengan mahasiswa Fakultas Ekonomi & Bisnis, dibandingkan dengan Jupiter—yang menurut Nanda—selalu mengenakan pakaian untuk COD biawak.
Mereka makan dalam diam, dan sekeliling mereka pun sama tenangnya; berbeda dengan hiruk pikuk yang Jupiter selalu dengarkan di kantin Teknik.
Dia tahu kenapa Aries membawanya ke sini.
“Teman-temanku yang tahu soal kita cuma Nanda.” ujar Jupiter.
“Oh…” gumam Aries.
“Maksud aku, kalo kamu gak mau orang-orang tahu soal kita, ya…” Jupiter tidak melanjutkan perkataannya. “Tapi Nanda bisa dipercaya.”
Aries mengangguk pelan. “Sebenernya… gak apa-apa, sih… Teman-temanku juga tahu.”
“Oh, ya?”
“Iya. Priska dan Bina…” Aries melanjutkan, “Aku ngajakin ke sini karena… kayaknya, kalo di kantin Teknik, bakalan kelihatan aneh? Kita kan, sebelumnya gak pernah bareng-bareng.”
Jupiter tersenyum. “Kan, orang-orang bisa berasumsi kamu lagi asistensi.”
“Oh, iya juga…”
Jupiter tertawa. “Habis ini kelas lagi?”
“Iya. Kelas Matriks.”
“Oh. 3 SKS.”
Aries mengerutkan kening. “Belum apa-apa, aku udah ngantuk sekarang.”
“Mau aku anterin, pulangnya?”
“Hah? Gak usah, lah… Deket ini.”
“Tapi aku mau anterin.” ujar Jupiter. “Beres kelas kan sore, nanti ada apa-apa di jalan.”
“Ada apa-apa… kesandung batu di jalan?”
“Keserempet kucing di jalan.” timpal Jupiter.
Aries tertawa, dan Jupiter tersenyum melihat tawa itu lagi.
*
*
Jupiter tidak tahu kenapa dia tiba-tiba saja bangun pagi, mandi, dan berangkat ke kos Aries. Lagi.
Kemarin, dia melakukannya hanya karena ingin makan bubur di pagi hari. Sekarang, dia tidak punya alasan apa-apa, tapi Aries tetap menerimanya ketika dia mengirim pesan dia sudah di depan kosnya.
Mungkin karena Aries sehabis bangun tidur tampak berbeda dari penampilan sehari-harinya yang selalu rapi.
Aries memasuki kamarnya dengan dua gelas kopi dan menyodorkan salah satunya ke Jupiter. Dia menunjuk ke salah satu toples yang ada di rak, dan menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti gula.
Jupiter menunduk untuk menahan senyum melihatnya. Aries sepertinya tidak menyadari, dan dia menyeruput kopi dengan mata terpejam.
“Ini.” Jupiter mengeluarkan kantong plastik berisi makanan yang dia beli di jalan. “Dimakan.”
Aries menatapnya, dan meraih bungkusan itu. Dia mengeluarkannya satu-satu; dua bungkus nasi kuning, dan gorengan. Dia membuka salah satu bungkus, dan menaruhnya di lantai. Jupiter tertawa dan dia berdiri untuk mengambil piring.
“Kak,” keluh Aries sembari menggosok kedua mata. “Aku tuh masih ngantuk, tau.”
Tawa Jupiter semakin keras. “Bangun pagi itu bagus.” katanya. “Besok aku ke sini lagi pagi-pagi.”
“Bawain sarapan?”
“Bawain sarapan.” Jupiter mengangguk. Dia menaruh kertas nasi di atas piring, dan menjejalkan sendok ke tangan Aries.
Aries mulai makan dengan patuh.
Jupiter mengambil piring untuknya sendiri.
“Kak Jupiter memangnya semester ini udah gak ada kelas lagi?” tanya Aries.
“Ada.” jawab Jupiter. “Tapi cuma beberapa SKS. Oh, sama aku ada kelas yang ngulang juga.”
“Ngulang?” Aries mengerutkan kening. “Kak Jupiter, kan, pinter. Kok bisa ngulang?”
Jupiter tertawa. “Makasih udah bilang pinter.”
“Eh, serius. Kemarin itu kan Kak Jupiter aktif banget di lab, himpunan, sama kuliah juga… Katanya, Kak Jupiter paling pinter seangkatan.”
Jupiter terkekeh, meskipun rasa bangga membuncah di dada mendengar Aries. Jelas, dia tidak akan bisa rendah hati soal ini: “Memang.”
Aries terlihat seakan dia menyesal sudah menyanjung Jupiter. “Terus, Kak Jupiter ngulang kelas apa?”
“Jangan ketawa, ya.”
“Apa? Pengantar Teknik Industri?”
“Bukan.” kata Jupiter. “Agama.”
Aries menatapnya seakan-akan Jupiter baru saja menumbuhkan kepala baru. “Agama?” ulang Aries.
Jupiter mengangguk. “Iya. Agama.”
“Apa ini karena Kak Jupiter tidak taat beragama?”
Jupiter tergelak. “Bisa jadi.” ujarnya. “Tapi dulu memang ada masalah sama dosennya, sih. Ya gitu lah. Sekarang, kan, udah ganti dosen.”
Aries menggaruk kepala. “Bener-bener unexpected.” gumamnya. “Ternyata Kak Jupiter juga punya kelemahan.”
“Ya ada, lah.”
“Kuliah Agama.”
“Iya.”
Aries ikut tertawa.
“Kuliahnya siang, kan?” tanya Jupiter. Dia sekarang sudah lebih hapal jadwal Aries.
“Iya.”
“Mau temenin aku, habis kuliah?”
“Ke… mana?”
“Beli kado buat Ibu aku.”
“… Tapi aku gak akan ketemu Ibunya Kak Jupiter, kan?”
“Enggak, lah.” kata Jupiter. “Ibu aku di rumah.”
“Oke…”
“Aku jemput?”
“Jemput ke mana… Kan Kak Jupiter parkirnya juga di kampus.”
“Bener juga.”
Sebenarnya, ulang tahun ibunya sudah lewat. Kadonya tentu sudah lama dibuka dan digunakan. Tapi ide itu tercetus begitu saja, karena dia ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama Aries. Dia ingin berjalan bersamanya, mungkin sembari mengobrol hal lain, di ruang terbuka, dan bukan di ruangan tertutup seperti sekarang.
Aries begitu rapi; rupawan. Semua orang harus melihatnya berjalan di sisi Jupiter.
Jupiter menyuapkan kembali makanannya.
*
Tapi, Jupiter menepati janjinya untuk menjemput Aries di depan kampus. Dia menepikan motor tepat di depan Aries.
“Atas nama Aries Europa?” tanya Jupiter.
Aries tertawa.
Jupiter tersenyum dan menyerahkan helm ekstra yang selalu dia bawa. Aries mengenakannya, dan baru akan duduk di jok belakang, ketika Jupiter menghentikannya.
Jupiter mengulurkan tangan dan mengunci pengaman helm di bawah dagu Aries. Dia menepuk helm itu pelan. “Pakai yang bener.”
Aries tidak berkata apa-apa, dan duduk di jok belakang.
Perjalanannya tidak jauh dan hanya memakan kurang-lebihnya 15 menit. Tapi terasa pendek dan sesaat; tinggi mereka hampir sama, dan Jupiter bisa merasakan Aries tepat berada di belakangnya.
Sesampainya di salah satu pusat perbelanjaan itu, Jupiter tidak tahu mereka harus ke mana, dan dia berpikir apa seharusnya dia mengaku saja kalau dia mengajak Aries hanya agar mereka bisa berjalan berdua tanpa diketahui siapa-siapa.
Tapi Aries berjalan di sampingnya tanpa berkata apa-apa, dan ikut melihat-lihat barang dari luar toko, sementara Jupiter hanya berpura-pura melakukannya.
Mereka melewati bioskop, dan Jupiter berhenti. Aries menoleh memandangnya.
“Mau nonton?” tanya Jupiter.
Aries menelengkan kepala, dan melirik ke dalam bioskop. Tidak ramai dan tidak mengantri. Jupiter memasukinya, dan Aries mengikuti.
Mereka berdiri di depan loket tiket dan melihat daftar film yang sedang diputar. Jupiter menoleh ke Aries, dan Aries menunjuk salah satu judul. Jupiter juga membiarkan Aries memilih tempat duduk mereka.
Pintu studionya sudah dibuka, mereka segera masuk. Hanya ada beberapa orang di dalam, dan barisan yang mereka akan tempati kosong.
“Tiba-tiba banget nonton film?” bisik Aries.
Jupiter terkekeh. “Biasanya first date nonton gak, sih?”
Aries tidak berkata apa-apa, dan lampu sudah mulai dimatikan, sehingga Jupiter tidak bisa melihat reaksinya.
Film yang dipilih Aries ternyata film horor; tentang hantu di rumah tua yang ditempati oleh penghuni baru. Ceritanya mudah ditebak, dan Jupiter tidak terlalu terkesan oleh horor yang terlalu banyak mengandalkan jumpscare.
Namun yang tidak disangka, Aries sendiri penakut. Dia banyak menutup mata dengan tangan, yang membuat Jupiter bertanya-tanya, kenapa dia memilih film ini. Jupiter tertawa dalam hati, lalu dia menepuk lutut Aries, dan Aries menoleh, masih dengan tangan menutupi pandangannya ke layar.
Jupiter mencondongkan wajah untuk berbisik, “Gak serem, ah.”
“Serem.” desis Aries.
Jupiter menjulurkan tangan, dan Aries mengangkat alis.
“Nanti tangannya pegel.” kata Jupiter. Dia menghalangi pandangan Aries, hanya berjarak beberapa senti dari matanya.
Satu tangan Aries meraih tangan Jupiter di depannya dan menurunkannya sedikit agar Aries bisa menonton.
Jupiter membiarkannya, dan merasakan tangan Aries yang sedingin es.
Aries menaikkan tangan Jupiter untuk kembali menghalangi pandangan, dan mencengkeramnya ketika musik menyeramkan mulai mengalun. Benar saja: hantu itu muncul kembali di layar dengan tiba-tiba. Bahkan jantung Jupiter juga rasanya berhenti berdetak untuk sedetik.
Namun, ini yang Jupiter sadari: waktu bersama Aries rasanya selalu cepat.
Ini hari Rabu. Besok Kamis, lusa Jumat, kemudian Sabtu dan Minggu.
Senin nanti, mungkin mereka akan melupakan bahwa mereka pernah duduk berdampingan di bioskop, dan Jupiter meminjamkan tangannya untuk Aries.
*
Mereka duduk di lobi dan memandang hujan yang turun dengan deras. Dua jam sudah mereka habiskan menonton film. Mereka tentu tidak bisa pulang; Jupiter tidak membawa jas hujan ekstra, dan akan berbahaya jika mereka menerjang hujan yang ditambahi angin ini.
“Kita masuk lagi aja?” ajak Aries. “Kita, kan, belum cari kado buat ibunya Kak Jupiter.”
Jupiter menatapnya, dan tertawa kecil. “Maaf, Aries, aku bohong.”
Aries mengangkat alis. “Maksudnya?”
“Iya. Jadi ulang tahun ibu aku udah lewat. Aku bilang gitu biar ada alasan aja ngajak kamu keluar.”
Aries memandangnya sekilas, kemudian mengalihkan pandangan.
Jupiter bergeser mendekatinya. “Aries?”
“Ya?”
“Kamu marah?”
“Enggak…” ujar Aries. “Padahal… padahal langsung ajak aku aja…”
“Oke.” balas Jupiter. “Next time.”
Jupiter sendiri tidak tahu apa masih ada next time lainnya.
Dari sudut mata, Jupiter melihat ada seseorang mendekatinya. Dia menoleh, dan bertatapan dengan seorang gadis kecil dengan keranjang berisi beberapa tangkai bunga.
“Bunganya, Kak…” tawar gadis kecil itu.
Jupiter merogoh uang di sakunya. “Berapa?”
“5 ribu, Kak.”
Jupiter mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu, dan memberikannya. “Semuanya.” Jupiter melihat ada lima tangkai lagi. Dia menolak ketika gadis kecil itu akan meraih kembalian.
Aries memerhatikan bagaimana gadis kecil itu mengucapkan terima kasih dan memanjatkan doa. Dia menatap Jupiter ketika Jupiter menyerahkan lima tangkai bunga itu padanya.
“Buat kamu.” kata Jupiter.
“Semuanya?”
“Iya.”
Aries mengambil satu tangkai. “Sisanya buat ibunya Kak Jupiter.”
Jupiter tertawa. “Pegang dulu aja sama kamu.”
Aries mengambil semua bunga itu; sebuah senyuman terulas di bibir ketika dia memandangi warna-warni mawar di tangannya.
Jupiter kembali menatap hujan di hadapannya.
*
Hujan itu sempat reda sebentar, namun tepat saat Jupiter akan pulang setelah mengantarkan Aries, hujan itu kembali turun sama derasnya.
“Mau nerobos aja?” tanya Aries.
Jupiter mengangguk. “Aku ada jas hujan.”
“Tapi…” Aries tampak sangsi. “Mau… nginep aja?” katanya. “Aku ada sleeping bag, punya temenku, sih.”
Dan, sebelum Jupiter bisa berpikir panjang untuk menolaknya, dia mengangguk. “Boleh.” Dia menambahkan, dengan senyum, “Kamu takut, ya?”
Aries menggelengkan kepala. “Enggak…”
Jupiter tertawa.
*
Maka, di sini lah Jupiter sekarang: di kamar Aries, dengan pintu tertutup, dan sleeping bag untuknya sudah terbuka di lantai sebelah tempat tidur Aries. Jupiter mengenakan kaus dan celana pendek yang dipinjamkan Aries.
Aries sendiri masih berkutat di laptop-nya, mempersiapkan laporan praktikum yang akan dia kumpulkan besok.
Aries terlampau rajin—bahkan melebihi Jupiter saat dia dulu di semester tiga—dan selalu menyelesaikan tugas-tugasnya setelah kuliah.
Jupiter sudah mengabari orangtua dan adik-adiknya kalau dia akan menginap di kosan teman, karena hujan deras yang tidak akan berhenti untuk waktu lama.
Jupiter berbaring di sleeping bag. Kantuk sudah menghinggapi mata, meskipun malam belum terlalu larut. Dia menekuri ponsel dan melihat-lihat konten apa saja yang muncul di beranda sosial medianya. Namun, matanya mulai berat, dan akhirnya terpejam.
Samar, dia mendengar langkah kaki Aries, dan suara saklar lampu dimatikan.
*
Jupiter terbangun di kamar yang gelap. Dia mencari ponselnya dan menyipitkan mata melihat layar yang terang. Sudah jam 6 pagi. Dia ada kuliah jam 12 siang, masih ada waktu untuknya pulang, mandi, dan berganti baju.
Dilihatnya lagi layar ponsel, dan matanya terpaku pada tanggal: 21 Agustus.
Ah, ya. Ini hari ulangtahunnya.
Jupiter menggeliat, dan bangkit. Aries masih tertidur. Jupiter mengendap-endap ke kamar mandi untuk mencuci muka. Dia masih mengenakan baju milik Aries, dengan jaketnya yang agak basah. Dia akan mengembalikan baju ini nanti, setelah dicuci.
Jupiter menimbang-nimbang haruskah dia membangunkan Aries; tidurnya tampak lelap sekali, dan Jupiter tidak tahu jam berapa Aries tidur. Tapi, tidak sopan juga bila Aries terbangun sendirian, tanpa tahu Jupiter sudah pulang.
Jupiter duduk di sisi tempat tidur, dan menyentuh lengan Aries.
“Aries.”
Aries bergerak sedikit, namun belum membuka mata.
“Aries.”
Aries mengernyit, dan perlahan matanya membuka. Dia mengerjapkan mata, dan menatap Jupiter.
“Aku pulang, ya.” ujar Jupiter.
Aries mengangguk.
Tampaknya, dia masih setengah tidur. Jupiter tersenyum, dan mengusap kepala Aries sebelum pergi.
*
*
Ulang tahun Jupiter tidak lantas membuat harinya menjadi lebih spesial. Orangtua dan adik-adiknya sudah mengucapkan selamat dan doa untuknya, tak luput juga dengan kue dan kado yang sudah menanti ketika dia pulang pagi tadi.
Teman-temannya—yang ingat—juga memberikan ucapan padanya di kelas. Jupiter menerimanya dengan canda dan tawa.
“Ceria banget lo.” bisik Nanda di sebelahnya.
“Gue udah kayak gini dari dulu.” timpal Jupiter.
“Masih, kan, sama Aries?”
Jupiter tidak menjawab.
“Lo kayak lebih ceria semenjak sama dia.”
Jupiter masih tidak menjawab.
*
Jupiter lupa tentang bunga yang Aries bilang harus dia berikan ke ibunya. Tapi dia melihat semua tangkai bunga itu dimasukkan ke dalam vas, yang ditaruh di meja Aries. Jupiter tersenyum sendiri melihatnya.
Aries sedang membuat teh, atau kopi, entahlah. Aries tidak berbicara jelas ketika Jupiter datang.
Namun, Aries datang tidak dengan dua gelas cangkir, melainkan dengan sepotong kue dengan satu lilin di atasnya.
Jupiter terperangah, dan hanya bisa menyaksikan saat Aries menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.
Aries mendekati Jupiter, dan Jupiter memejamkan mata sebelum meniup lilin.
Sudah dua lilin yang dia tiup hari ini, dan dua kali itu juga permintaannya sama: semoga minggu ini tidak pernah berakhir.
Aries bersorak pelan, dan Jupiter tersenyum. Mereka duduk di lantai, dan Aries mencondongkan badan sedikit untuk mendorong pintu tertutup; tidak sepenuhnya, hanya ada celah sedikit.
Setelahnya, sama seperti ketika Jupiter bertemu Aries di hari Senin itu; dia melakukan sesuatu yang tidak dia pikirkan panjang dan masak-masak.
Dia mengecup pipi Aries.
Aries menoleh ke Jupiter; mata membelalak. Dan Jupiter, masih begitu dekat dengan Aries, mencium bibirnya.
Aries refleks menutup mata, namun mata Jupiter masih terbuka untuk memperhatikan reaksinya. Hanya sekali; sekejap. Dan Jupiter menarik diri.
Aries mendorong dirinya maju, untuk mempertemukan kembali bibir mereka. Jupiter terkejut, namun dengan cepat bisa mengendalikan dirinya.
Tangan Jupiter merambat dari bahu Aries, ke tangan, dan melepaskan piring untuk ditaruhnya di lantai. Kemudian, tangan Aries digenggamnya, dibawanya ke bahu Jupiter. Jupiter memeluk pinggangnya, menariknya mendekat, mendekapnya erat, selagi bibir mereka saling berpagut; saling merasakan.
Mungkin—mungkin mereka tidak akan berhenti jika Jupiter tidak mendengar suara ponselnya berdering.
Saat mereka menarik diri, wajah mereka masih berdekatan, bibir terpisah oleh jarak beberapa senti.
Jupiter menyeka bibir bawah Aries.
Ternyata, bibir Aries lembutnya sama seperti yang terlihat.
Dia mengangkat teleponnya.
“Halo?”
Brian yang menghubunginya. Brian mengatakan sesuatu tentang rapat modul berikutnya, meminta maaf karena mendadak, dan berharap Jupiter belum pulang.
“Belum.” jawab Jupiter. Dia berdeham. “Oke, gue ke sana.”
Jupiter tidak langsung pergi. Aries masih menatapnya; bibir dan pipinya sama-sama merona.
Bolehkah Jupiter mencicipinya, sekali lagi? Hanya satu kali lagi.
Seakan bisa mendengar pikirannya, Aries mendekat, dan Jupiter juga mendekat.
Jika sudah pernah menghidu aroma manis yang memabukkan, siapa yang bisa tahan untuk tidak mencoba kembali, satu kali lagi?
Kali ini, ciuman mereka lebih panas dan lebih dalam. Bagi Jupiter, ini karena waktu mereka bersama tidak akan lama lagi.
Jupiter yang pertama kali melepaskan diri.
“Aku harus…” Jupiter menelan ludah melihat Aries yang terlihat jauh lebih manis dan rupawan dengan bibirnya yang ranum itu. “… Pergi.”
Tapi Jupiter tidak kunjung pergi; kedua tangannya menangkup wajah Aries, selagi dia mengingat kenapa. Kenapa Aries? Kenapa lelaki di hadapannya ini begitu menyita perhatiannya? Kenapa Jupiter sanggup memperhatikan Aries hingga dia tahu teman-temannya, kebiasaannya memberi makan kucing liar? Kenapa ketika Aries berada dalam lingkup pandangannya, Jupiter diam-diam mengamatinya dari sudut mata?
Lo naksir.
Jupiter tersadar; hari Senin itu, dia memang menginginkan Aries. Dia memang ingin mencoba menjadi kekasihnya barang seminggu, walaupun hanya seminggu.
Hatinya berdenyut nyeri ketika dia menyadari, dia hanya punya waktu beberapa hari lagi.
Aries menyentuh pergelangan tangannya. “Kak…?”
Jupiter melepaskannya secara tiba-tiba. “Maaf.” gumamnya. “Aku… harus pergi. Tadi dipanggil meeting dulu di lab…” Ingin dia melanjutkan: Boleh kita lanjutin lagi nanti?
Tapi Jupiter tidak yakin apa ada nanti.
*
*
Aries tidak membalas pesannya dari semalam. Jupiter tidak mendatangi kosnya di pagi hari; bagaimana kalau Aries butuh waktu sendiri?
Nanti siang akan ada praktikum modul selanjutnya, dan Aries berada di sif ini. Mereka akan bertemu, dan Jupiter akan… meminta maaf? Berjanji tak akan mengulanginya lagi?
Tapi Jupiter ingin kembali ke momen itu, dan membekukan waktu agar mereka berdua bisa terus berciuman.
Aries masih belum membalas pesannya.
*
Aries nampak pucat dan redup, tidak seperti biasanya.
Jupiter ingin menghampiri, namun mereka baru saja memulai praktikum. Aries duduk di paling belakang, dan Jupiter sering melihat ke arahnya.
Waktu, entah kenapa, berjalan lambat, meski Aries berada dalam ruangan yang sama dengannya.
Saat Tes Akhir, Jupiter duduk di meja sebelah Aries yang kosong. Dia bisa melihat Aries berhenti menulis sesaat, kemudian melanjutkannya.
Jupiter membaringkan kepalanya di meja, menghadap Aries. Aries meliriknya, sekilas, kemudian kembali ke kertas.
Jupiter menahan senyum.
*
Aries menghampirinya ketika praktikum selesai.
“Aries,” sapa Jupiter. “Ke mana aja?” Nadanya bercanda, namun hatinya terasa dingin mengingat Aries yang tak ada kabar setelah—
“Maaf.” kata Aries. “Aku… sakit.”
Jupiter mengangkat alis. “Sakit?”
“Iya. Sakit.” ulang Aries. Dia menggaruk tengkuk, dan menunduk. “Ah… Maaf…”
“Gak apa-apa.” Jupiter merasa beban di dadanya terangkat, digantikan rasa cemas. Dia meraba kening Aries, dan merasakan suhu tubuhnya lebih hangat dari biasanya. “Pulang? Aku anterin?”
Aries mengangguk, dan Jupiter berjalan ke ruang asisten untuk berpamitan ke Nanda dan Brian.
Jupiter dan Aries berjalan berdampingan keluar kampus. Pemandangan yang mungkin tidak biasa, tapi untungnya, tidak ada teman-teman sejurusan mereka yang lewat.
“Sekarang udah mendingan, sih.” ujar Aries. “Semalam dikasih obat sama Kak Galih.”
Jupiter berhenti melangkah. “Galih?”
“Iya. Kak Galih…”
“Galih…?”
“Kak Galih Kahim?”
“Oh…”
Mereka melanjutkan berjalan.
“Aku gak tahu Galih sekosan.”
“Jarang ada di kos, sih, dia.” jelas Aries.
Jupiter tidak tahu apa yang seharusnya dia rasakan; saat pencalonan Ketua Himpunan, Galih adalah saingannya, dan juga pemenang. Kekalahan Jupiter hanya beda tipis, maka dia menerima itu semua dengan lapang dada. Galih juga menawarkan posisi, namun Jupiter menolak dengan dalih ingin fokus kuliah.
Meskipun sebenarnya, Jupiter memiliki harga diri yang tinggi, dan merasakan kekalahan itu seperti jatuh dari langit.
Dan sekarang, Aries dirawat oleh Galih, di saat Jupiter mengkhawatirkannya karena tidak ada kabar?
Saat mereka sampai di kos Aries, Jupiter tidak tahu lagi apa yang dia bisa lakukan. Dia tidak peduli jika Galih mengetahui hubungan seminggu mereka—tidak, kalau dia tahu, bagaimana jika Galih berpikir dia juga bisa memiliki Aries?
Saat Aries mempersilakan masuk, Jupiter tahu: dia ingin tetap tinggal.
“Maaf berantakan…” gumam Aries. “Aku tadi gak masuk kelas, cuma praktikum aja.”
“Ganti baju dulu, terus tidur lagi.”
Aries mengambil baju ganti, dan pergi ke kamar mandi. Jupiter mulai membereskan tempat tidur Aries, dan membuang sampah-sampah yang berserakan di lantai. Matanya menemukan satu strip obat di meja Aries. Jupiter menghela napas, dan mengutuk dirinya sendiri.
Tolol. Aries sedang sakit, dan dia malah cemburu?
Jupiter menemukan beberapa kantong teh celup. Dia keluar kamar untuk menjerang air. Dispenser di kamar Aries sudah lama rusak, dan Aries mengaku dia lupa untuk membeli baru, atau membetulkannya. Maka dia sekarang harus ke dapur bersama untuk membuat air panas.
“Jupi?”
Jupiter berbalik. Tentu saja Galih ada di sini.
Jupiter mencoba tersenyum. “Hei.”
“Aries sakit, kemarin. Tapi katanya hari ini udah mendingan.”
Jupiter mengangkat alis dan menatap Galih dengan pandangan bertanya.
“Aries… cerita? Tapi gue gak akan bilang juga ke siapa-siapa.” kata Galih.
Jupiter mengangguk. Dia mematikan kompor dan menuang air panas ke dalam cangkir.
Api di kompor sudah padam, namun di dadanya malah berkobar kembali.
Dia mengingatkan dirinya untuk bersikap tenang, meskipun kekecewaan menghinggapinya, yang diawali dari ketidaktahuan. Aries tidak memberitahunya dia sakit, memilih untuk bercerita pada Galih, dan Jupiter tidak tahu mereka mungkin lebih dekat dari yang bisa Jupiter bayangkan.
“Duluan.” kata Jupiter pendek. Tangannya masih memegang cangkir.
Galih mengangguk.
Aries sudah berbaring di tempat tidur, dengan selimut menyelimutinya hingga bahu. Jupiter menutup pintu hingga tertutup; dia tidak ingin ada siapa-siapa lagi yang bisa melihat. Tidak Galih, tidak orang lain.
Jupiter mencoba menarik napas panjang untuk menenangkan pikiran. Ini konyol. Dia tidak seharusnya cemburu.
Saat dia berbalik, Aries sudah tertidur. Jupiter meraba keningnya dan merasakan tubuhnya masih terasa panas. Dia tidak mungkin meninggalkan Aries dalam keadaan seperti ini.
*
Bisikan Aries begitu pelan, hampir tidak terdengar, namun Jupiter menoleh.
“Kak…” Aries berbisik lagi. “Kak Jupiter masih di sini?”
“Iya.” Jupiter bergerak mendekati Aries.
“Padahal, pulang aja…”
“Aku diusir?”
“Bukan…” Aries berdeham, dan mencoba bangkit. “Maksudnya, Kak Jupiter pasti capek, kan…”
“Tapi, kan, aku ngurusin pacar aku yang sakit.” kata Jupiter. “Karena hujan-hujanan.”
Aries menutup muka dengan kedua tangan. Ujung telinganya merah.
Jupiter menyentuh tangan Aries. “Aries…?”
Aries melepaskan tangan dari wajah. “Iya.” kata Aries. “Iya, aku sakit karena hujan-hujanan.”
Jupiter menelengkan kepala. “Memangnya kamu sakit karena apa?” Kemudian, sebuah ingatan terbersit di pikiran, dan Jupiter terdiam.
Aries tidak menjawab.
Jupiter, akhirnya, membuka mulut, “Masa kamu sakit, karena… karena aku cium…?”
Aries menunduk, dan menutup wajah dengan tangannya lagi.
Jupiter mengatupkan bibir, dan menahan tawa. “Aries.” panggilnya lagi. Dia menarik pergelangan tangan Aries, namun Aries tidak bergerak. “Kamu sakit, karena kepikiran gak suka, atau… apa.”
Aries menggelengkan kepala.
“Gak suka?”
Aries masih menggelengkan kepala.
“Suka?”
Aries bergeming sejenak, kemudian mengangguk.
Jupiter tersenyum. “Kalo aku cium lagi, sakitnya makin parah, gak?”
Aries mengangguk, kemudian menggumamkan sesuatu yang tidak Jupiter tangkap.
“Apa?” tanya Jupiter.
“Kak Jupiter pulang aja.” kata Aries. “Lama-lama di sini nanti demamku naik.”
Jupiter tertawa. “Aku, kan, mau tanggung jawab.”
“Iya, tanggung jawabnya pulang aja.”
“Jahat banget sama pacarnya sendiri.” kata Jupiter, mengabaikan desiran di dada ketika dia mengucapkan pacar. “Kamu makan, minum obat, baru aku pulang?”
*
Sebenarnya, dia bisa saja mengabari orangtuanya kalau dia tidak akan pulang malam ini. Ini sudah biasa terjadi, terlebih jika ada acara himpunan, ditambah dengan tugas dan laporan praktikum yang menggunung. Dia seringnya bermalam di sekretariat himpunan, dan bahkan dipercayai untuk memegang kuncinya sendiri.
Tapi semester ini, kegiatannya hanya berpusat pada kelas, lab, dan rumah. Membosankan.
Semenjak hari Senin, hidupnya tidak lagi terasa monoton, karena ada Aries.
Aries kembali terlelap, setelah memakan beberapa suap nasi goreng yang dibelikan Jupiter, dan tak lupa meminum obat warung yang juga dari Jupiter.
Jupiter mengamatinya sejenak; mengamati wajah Aries yang nampak tenang saat tertidur. Jupiter menyentuh bibir Aries dengan jari telunjuknya; pelan, berhati-hati, hanya di ujung jari. Dia membawa jari itu ke bibirnya sendiri, mengingat bagaimana rasa bibir Aries menyentuhnya.
Jupiter tersenyum, dan menggelengkan kepala untuk menjernihkan pikirannya sendiri.
Dia berdiri, dan saat dia menutup pintu, dia memandang Aries lagi. Dia mengunci pintu dengan kunci cadangan yang Aries berikan. Aries terlalu baik, terlalu mudah percaya, dan bagaimana bisa Jupiter melepaskannya, setelah ini?
*
*
Aries lebih pendiam dari biasanya, bukan karena dia baru bangun tidur—dia sudah terjaga bahkan saat Jupiter datang.
Ada sesuatu yang berbeda, tapi Jupiter tidak tahu apa.
Mereka makan dalam diam, namun keheningan ini tidak terasa nyaman. Aries menyalakan TV, dan suara TV mengisi ruangan itu.
Tetap saja.
Ada yang aneh dari perubahan sikap Aries.
Maka, setelah Jupiter mencuci piring, dia memutuskan untuk bertanya.
“Kamu kenapa?” tanya Jupiter.
Aries menggelengkan kepala. “Gak apa-apa.”
“Jelas ada apa-apa.” Jupiter mengulurkan tangan untuk meraba kening Aries. “Gak panas.”
“Aku udah sembuh.” ujar Aries.
“Oke, tapi kamu beda ke aku dari aku ke sini. Bisa kita omongin dulu, sebelum—“ Jupiter berhenti, dan dia menghela napas. “—Sebelum minggu ini berakhir.”
Aries menunduk, dan sekali lagi, tidak ada kata yang terucap di antara mereka berdua. Hanya suara TV yang mengisi keheningan itu.
Aries berkata pelan, “Kak… besok, kan, hari Minggu…”
“Iya.”
“Besoknya lagi Senin.”
“Iya.”
Mungkin, ini saatnya; Aries akan mencampakkannya sehari sebelum rencana. Jupiter menatap Aries.
Aries memandangnya balik. “Boleh gak, kalau kita terusin aja?”
Jupiter mengedipkan mata. “Apa?”
“Iya, kita… terusin aja.”
“Pacarannya?”
“Iya.”
“Oke.”
“Oke…?” Aries mengerutkan kening. “Kak Jupiter bukannya ngajak aku pacaran, biar aku rajin asistensi?”
“Kata siapa?” tanya Jupiter. “Kamu udah rajin—terlalu rajin, malah.” Kemudian, “Aku ngajak pacaran, kan, karena aku suka sama kamu.”
“Kak Jupiter suka aku?”
“Iya.”
“… Dari kapan?”
“Dari…” Jupiter mencoba untuk benar-benar mengingat kapan tepatnya dia betul-betul menyukai Aries. Tapi yang terpikirkan hanya ciuman mereka dua hari lalu. “Dari… tadi…”
Aries tertawa. “Kak.”
Jupiter ikut tersenyum. “Aries pacar aku terus? Gak cuma minggu ini aja?”
“Iya.”
“Aries pacar aku selamanya?”
“Kita lihat nanti.”
Jupiter merengut, dan Aries tertawa. Tawanya terhenti ketika Jupiter mendekatkan wajah.
Jupiter tersenyum. “Kalo aku cium, demam lagi gak?”
Aries memukul bahunya pelan.
*
*
Mungkin pemandangan ini tidak biasa: Aries, dengan pakaiannya yang selalu rapi dan modis, duduk di hadapan Jupiter, yang pakaiannya selalu seperti akan COD ikan cupang.
Tidak ada yang tahu bagaimana dan kenapa mereka bisa selalu terlihat bersama. Kecuali Nanda. Dan Priska. Dan Bina. Dan mungkin— Jupiter enggan mengakuinya—Galih.
Tapi Aries di hadapannya tersenyum, dan Jupiter balas mengulas senyum di bibir.
Sekarang, Jupiter memiliki bintang siarahnya sendiri: Aries Europa.
