Work Text:
Caleb menatap ponselnya untuk kesekian kalinya, berharap sebuah notifikasi masuk dari seseorang yang ia tunggu berbulan-bulan lamanya. Bahkan ketika ia sedang kumpul bersama teman-temannya di sebuah cafe, perhatiannya tak teralih dan terus memikirkan orang tersebut. Caleb benar-benar tak bisa bohong jika masih ada harapan kecil di hatinya bahwa orang tersebut akan kembali menghubunginya.
Sepertinya Tuhan sedang berbaik hati, ponselnya berbunyi dan yang menghubunginya adalah orang yang ia tunggu-tunggu sekian lamanya. Caleb langsung mengangkat telepon tersebut dan pergi menjauh dari teman-temannya yang masih asik bercengkrama.
“Halo? Kamu kemana aja kok—”
Suara Caleb terhenti kala mendengar tangisan di seberang sana. “Caleb, bisa jemput aku gak?” ucap wanita itu dengan sesegukan yang sesekali terdengar.
Wajah Caleb yang tadinya tampak ceria kini berubah drastis, mukanya tampak serius mendengarkan seseorang di seberang sana. “Kamu di mana?”
“Aku di rumah.”
“Oke, aku ke sana.”
Tanpa banyak tanya, Caleb langsung pamit pada teman-temannya dan melaju kencang menggunakan motornya menuju rumah wanita itu. Sesampainya di kediaman wanita itu, Caleb langsung melihat [Name] yang tengah berdiri di teras, menunggunya. Setelah memarkirkan motornya, Caleb segera menghampiri [Name].
“Kenapa? Kamu luka?”
[Name] hanya diam, tak menjawab ucapan Caleb. Wajahnya merah karena menangis, ia tak lagi sesegukan, namun air mata masih terus mengalir membasahi pipinya.
“Suami kamu di mana?”
“Pergi,” jawab [Name]. “Dia talak aku.”
Caleb terdiam, ia memperhatikan [Name] dari bawah hingga atas, memastikan jika wanita itu tidak mendapatkan kekerasan. Saat melihat luka memar pada tangan kanannya, Caleb langsung memegangnya.
“Ini kenapa?”
“Ada benda jatuh, bukan sama dia.” Caleb begitu memperhatikan semua gerak wajah wanita ini, hatinya lemas dan begitu lemah melihat [Name] dengan kondisi seperti ini, rambut yang acak-acakan dan wajah yang merah karena menangis. Pria itu langsung memeluk [Name], wanita tak merespon apapun. Tatapannya tampak kosong dan wajahnya datar. Caleb langsung mengajaknya naik motor.
Selama perjalanan, Caleb maupun [Name] hanya diam. Mereka tak membicarakan apapun, [Name] tak cerita bagaimana suaminya bisa menalaknya, begitupun Caleb yang tak berani untuk bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi atau sekadar menumpahkan isi hatinya karena wanita itu putus kontak dengannya berbulan-bulan, sesuatu yang sangat jarang terjadi.
Motor Caleb terhenti pada sebuah taman, ia mengajak [Name] untuk duduk di kursi taman sementara ia izin pergi sebentar. Tak lama kemudian ia kembali muncul dengan sebuah kantong di tangannya, pria itu duduk di sebelah [Name].
“Kamu udah makan?”
[Name] menggeleng.
“Makan dulu.”
[Name] tak menjawab apapun, membuat Caleb kembali membuka mulutnya.
“Kamu kapan terakhir makan?”
“Pagi,” ucap [Name] sembari mengusap lagi air mata yang membasahi pipinya.
Caleb membuka bungkus kimbap segitiga itu, ia langsung menyodorkan pada mulut [Name]. wanita itu berdecak, ini memang kebiasaan yang Caleb lakukan jika ia menolak untuk makan, dan untuknya ini menyebalkan.
“Caleb, aku lagi gak mau makan.”
“Makan dulu.”
“Enggak.”
“Sesuap aja, untuk ganjel perut.”
“Caleb! Kamu ngerti kata enggak, nggak sih? Aku udah bilang gak mau, gak mau!” ucap [Name] dengan nada marah hingga dirinya berdiri, setelah mengatakan hal itu [Name] sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan, ia bersiap untuk kabur tetapi tangannya dicekal dan ditarik ke dalam pelukan pria itu.
Tangis kembali pecah, bahkan kini Caleb pun mengucurkan air matanya. Hatinya begitu sakit melihat wanita yang ia cintai disia-siakan seperti ini. Caleb tahu sekali bagaimana rumah tangga [Name] dengan suaminya itu, karena [Name] sering bercerita padanya, mereka sudah terbiasa bercerita satu sama lain karena seperti saudara. Kala mendengar bagaimana sifat suami [Name], Caleb hanya bisa mengepalkan tangannya menahan marah untuk tak meninju pria itu. Caleb tak mengerti mengapa [Name] mau menikah dengan pria seperti itu, ketika sedari kecil yang Caleb berikan adalah kasih sayang dan perhatian yang terbaik untuknya, Caleb memberi standar yang tinggi tetapi [Name] tak segan untuk menikahi pria yang sangat jauh dari standar tersebut. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa [Name] menikah tanpa sepengetahuannya, Caleb benar-benar tak mengerti hal tersebut.
Saat itu ia baru saja pulang kerja setelah berbulan-bulan pergi ke sana kemari menjadi seorang pilot, ketika ia pulang ia melihat [Name] yang bergandeng tangan dengan seorang pria asing. Caleb sempat kecewa pada [Name], jika ia memang ingin menikahi seseorang secepatnya setidaknya ia bisa mengabarinya, Caleb pasti akan menyempatkan waktu untuknya, tetapi [Name] memilih untuk tak memberi kabar sama sekali padanya. Hari itu Caleb tak hanya sakit hati karena hal tersebut, ia juga patah hati karena seseorang yang ia cintai menikah dengan pria lain. Padahal niatnya, selepas ia bertugas ia akan melamar [Name], tetapi takdir berkata lain, pujaan hati justru menikahi pria lain.
“[Name], sebenernya aku—”
Perkataan Caleb tiba-tiba terpotong karena [Name] langsung melepaskan pelukannya, menatap kepadanya dengan wajah penuh horor. “Don’t say it.”
Caleb yang tadinya bingung langsung mengerti apa maksud [Name]. “[Name], kamu tau kalau aku sebenernya—”
“I SWEAR TO GOD, DON’T SAY IT!” teriak [Name].
“Why?” ucap Caleb dengan nada rendah disertai rasa kecewa. “Apa cinta aku gak pantas untuk kamu?”
“CALEB!”
“I love you [Name], sejak kecil aku udah cinta kamu. Aku gak paham kenapa kamu mau menikah dengan pria bajingan kayak dia ketika aku … Aku selalu berada di sisi kamu, memberi semua hal yang terbaik untuk kamu.”
“You don’t understand … This love feels disgusting.” [Name] mengatakannya lagi dengan air mata yang kembali keluar, ia beringsut duduk dan kembali nangis. “Aku anggap kamu sebagai kakak aku, Caleb …”
Caleb tiba-tiba teringat bagaimana pada suatu hari [Name] yang tadinya memanggil dengan embel “kak” berubah menjadi memanggilnya hanya dengan nama. Caleb bertanya mengenai hal tersebut, dan [Name] justru bertanya balik, apakah Caleb keberatan? Jawaban Caleb pada hari itu hanya gelengan, ia sebetulnya tidak terlalu memperdulikan hal tersebut selama [Name] masih selalu memanggil dirinya dalam situasi apapun, selama dirinya masih dibutuhkan oleh [Name], selama dirinya masih berada di dekat wanita itu.
“What if I say … I don’t care about these things?”
[Name] yang tadinya menundukkan kepalanya mendongak menatap Caleb dengan tatapan tak percaya akan apa yang pria itu baru saja katakan padanya.
“Kamu pikir cintaku bisa hilang hanya karena hal itu?”
“Caleb, it’s not right.”
“Apa yang salah, [Name]?”
Wanita terdiam.
“Hanya karena kamu menganggap aku kakak, apa kita memang adik kakak sungguhan? Apa kita terlahir dari rahim yang sama?”
“Let’s stop this.”
“[Name], perhaps. Do you love me?”
[Name] hanya diam, tatapan horor itu kembali datang di matanya menatap Caleb.
“You love me right?”
PLAK!
“What if I say I love you? It will not change anything. Hari itu tanpa sengaja aku lihat buku tulis kamu, kamu berencana untuk melamar aku. Aku gak mau, Caleb. Karena itu aku cepat-cepat menikah dengan pria lain.”
“[Name] … how could you do such a thing?”
“Selesai kan? Kamu udah dapet jawaban yang kamu mau kan? Sebaiknya kita gak usah bertemu dulu sementara, kamu gak usah khawatir.” Setelah mengucapkannya [Name] melangkahkan kakinya untuk pergi, meninggalkan Caleb yang mematung berdiri di sana, yang semakin lama tampak semakin kecil karena [Name] yang pergi menjauh darinya.
Di sisi lain Caleb sejujurnya begitu terkejut mencerna semua informasi yang baru saja ia dapatkan, ia melihat [Name] yang semakin menjauh. Wanita yang ia cintai bertahun-tahun. Caleb menanyakan pada dirinya sendiri, apa yang menahannya sekarang? Ia tahu bahwa wanita itu mencintainya juga, [Name] dan suaminya akan cerai sebentar lagi. Setelah semua ini, apakah ia menyerah dan memilih melupakan wanita itu begitu saja?
“I won't let fate decide this time, [Name].”
Perlahan namun dengan langkah besar Caleb berjalan untuk mengejar [Name[, pandangannya lurus pada wanita itu. Ketika sudah dekat, ia menggunakan evolnya untuk membuat berhenti bahkan terbungkuk. Wanita itu terkejut, wajahnya penuh dengan amarah. Caleb mendekatinya lalu berjongkok, ia memegang pipi wanita itu dengan ekspresi yang [Name] tak pernah lihat sebelumnya. Badan [Name] bergetar, ia merasa takut dengan Caleb. Pria itu mendekatkan wajahnya, mengarahkan wajah [Name] ke arahnya juga, dan bibir mereka pun bertemu. Caleb menciumnya dengan mata tertutup, seolah ia benar-benar merasakan momen saat ini di seluruh tubuhnya. Di sisi lain mata [Name] tak terpejam, air matanya kembali keluar, dan wajahnya begitu merasa takut.
