Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of Yushi Sexperience
Stats:
Published:
2026-01-04
Words:
2,311
Chapters:
1/1
Comments:
6
Kudos:
54
Bookmarks:
9
Hits:
5,145

Kuli dan tukang galon

Summary:

Hari terakhir rumah Yushi direnovasi dan hari terakhir seks hebat untuk mereka (ketambahan sion)

Work Text:

Hari ini adalah hari ketujuh rumah Yushi direnovasi, dan tepat seperti perkiraan Riku, renovasi sudah tinggal finishing, Riku tinggal mengecat dinding dengan warna biru muda dan semua selesai.

 

“Phewit…” Siul Riku saat melihat Yushi lewat hanya dengan berbalut handuk. “Jangan kembenan aja neng, kontol abang keras jadinya”

 

Yushi menoleh ke arah Riku dengan tatapan sinis. “biarin! orang abang lama banget, udah diiyain boleh nyelesein dulu tapi nggak selesai-selesai, Yushi jadi terlanjur mandi dulu!” Yushi yang memang selalu diberi asupan jam 12 siang kali ini sewot karena sudah pukul 3 tapi Riku masih belum menyentuhnya sama sekali, maka dari itu ia sengaja berkeliaran dengan hanya berbalut handuk, tujuannya adalah menggoda kuli satu itu.

 

“Pasti abis colmek ya neng? Nggak sabaran banget mentang-mentang udah ngerasain kontol gede. Ini lima menit lagi juga udah selesai, bentar ya neng.” Riku tidak salah, Yushi memang habis colmek di kamar mandi karena sangenya memang tidak tertampung. Tapi walau dia tidak salah, Yushi tetap melotot ke arah Riku karena malu ketahuan.

 

“Jangan lupa nanti sebelum pulang beliin aqua galon dulu, aqua di toko depan abis katanya, tinggal le minerale, Yushi nggak suka.” Perintah Yushi masih dengan nada sebal.

 

“Iya neng cantik… nanti abang beliin.” Riku meringis sebagai balasan perintah Yushi. Setelah melihat Yushi pergi, Riku yang punya teman tukang galon ini pun langsung WA temannya, Sion.

 

Beginilah kira-kira chat mereka

 

Riku : Yon, anterin aqua ke perum mutiara c2.

 

Sion : Siap bos

 

 

Yah walaupun satunya kuli dan satunya tukang galon, prinsipnya adalah siapapun yang order akan tetap dipanggil bos.

 

Lima menit berlalu dan Riku sudah selesai dengan kegiatannya. Ia keluar dari kamar utama bermaksud menghampiri Yushi di kamarnya, tapi begitu keluar dari kamar utama, Riku sudah disuguhi pemandangan Yushi yang tiduran di sofa ruang tamu.

 

“Mau ngewe di sini aja neng?” Mendengar pertanyaan Riku, Yushi menoleh ke arahnya dan langsung melayangkan bantal sofa ke arahnya.

 

“Ngewa ngewe ngewa ngewe. Ini udah jam berapa bang? Males banget Yushi ngewe sama abang!” Yushi yang sekarang hanya berbalut selimut di sofa memanyunkan bibir melihat Riku. Ngewe seminggu dengan Riku membuatnya menjadi penuntut, yang kalau tidak dikabulkan sesuai keinginannya, akan membuatnya menjadi sangat rewel.

 

“Neng? Udah siap banget dari tadi ya? Maaf ya, abang kan kudu nyelesein kamarnya bapak sama ibu bos.” Riku perlahan mendekat. “ngaceng banget liat eneng kembenan tadi, ini abang langsung sat set lima menit jadi.” 

 

“Nyenyenye… udah ngaceng aja langsung cepet-cepet. memek Yushi nih udah gatel pengen dimasukin dari tadi!” Yushi mengejek Riku dengan gerakan tangannya lalu membuang muka. 

 

“Udahan neng ngambeknya, ini kontol abang udah ngaceng.” Riku mendekat, selimut yang sedari tadi menutupi tubuh Yushi, ia tarik turun, mengekspos tubuh Yushi yang sudah tidak berbalut kain. “Mau abang jilat memeknya” Riku berlutut di sela sela kaki Yushi. “Ngangkang dulu yang lebar.” Riku menunduk menjilat vagina Yushi, tangannya ia pakai untuk melebarkan kaki Yushi selebar mungkin.

 

“Ah… kurang ajar… abang… enak banget…” jilatan Riku di labia dan klitorisnya benar-benar bisa membuat Yushi lupa diri, lupa tadi dia emosi, ada sensasi menggelitik di perutnya yang membuatnya membusungkan dada keenakan, saking enaknya sampai ia berkali-kali mencoba menjepitkan rapat pahanya ingin Riku berhenti tapi ditahan oleh kedua tangan Riku. “Stop bang… ah… berhenti dulu abang…”  Yushi mendorong kepala Riku dengan tangannya, tapi nihil, membuat Yushi frustasi dan hanya bisa meremas dadanya sendiri sambil terus mencoba menjepit Riku. “Abang… ah… stop…” Riku makin semangat memainkan lidahnya, sibuk memakan cairan yang keluar dari vagina Yushi. “Abang… masukin bang… kobelin…” erangan Yushi makin lirih, Riku tahu, artinya Yushi sudah tidak kuat lagi, ia benar-benar ingin dimasuki, jadi kali ini Riku bangkit, menjilat jarinya sendiri lalu memasukannya ke vagina Yushi. “Ah… Abang… enak banget… colmekin terus bang…” Riku mulai masuk dengan jarinya, satu tangannya ia gunakan untuk ikut meremas dada Yushi.  “Ah… ngh… abang… lebih cepet… Yushi mau pipis… ”  Yushi merem melek keenakan saat tangan Riku memilin putingnya, dihisapnya sesekali untuk menambah rangsangan sementara jari riku bergerak makin cepat. “Ah.. abang… kobelin terus bang… ah…” Riku makin keras menghisap puting Yushi, ingin ia segera klimaks di tangannya. “Abang… yushi mau keluar… ah…” akhirnya air keluar menyembur dari vaginanya seiring dengan dadanya yang dibusungkan dan pahanya yang terus bergetar, membuat Riku menarik tangannya dari vagina Yushi.

 

“Eneng makin lama makin tahan lama ya, udah susah dipuasin sama orang lain nih, cuma bisa dipuasin sama abang.” benar kata Riku, Yushi sudah sulit untuk dipuaskan, hanya Riku yang bisa mengimbanginya.

 

“Enak banget bang… mau dikontolin abang sekarang…” Yushi tersenyum sambil mengelus penis Riku yang masih terbungkus celana lalu meremasnya sedikit. “Buka bang…” 

 

Riku yang juga sudah sange dari tadi segera melepas celananya, membiarkan penis besarnya bergelantungan di antara selangkangannya.  Vagina Yushi yang sudah basah memudahkan Riku memasukan penisnya ke dalam Yushi. “Ah… anjing… memeknya sempit banget…” Vagina Yushi yang sudah satu minggu ini menjepit penis Riku masih rapat, membuat Riku selalu keenakan saat merasakan penisnya dijepit. “Enak banget neng… ” Riku mulai bergerak, ia memaju mundurkan pinggulnya, awalnya pelan sampai lama-lama ia mempercepat gerakannya. 

 

“Ah… enak banget bang… memek Yushi penuh….” Desahan Yushi menggema saat Riku mulai bergerak dan semakin keras saat Riku mempercepat ritmenya. “ah ah ah ah” 

 

Riku masih terus menggenjot Yushi saat pintu rumah tiba-tiba terbuka dan menampakan seseorang yang sedang membawa galon di bahunya, Sion! Sebagai tukang galon, ia memang selalu masuk ke rumah orang untuk membantu memasang galon ke dispenser, tidak ada hal spesial, apalagi melihat pintu rumah terbuka sedikit, ia pikir ia bisa langsung masuk seperti biasa.

 

“AAAAAAA” Riku dan Yushi berteriak melihat ada orang lain di rumah. Refleks Riku segera menarik penisnya dan Yushi menarik selimut lagi untuk menutupi tubuhnya.

 

“Eh sorry Rik, sorry.” Sion menurunkan galon dan hendak putar balik, urusan duit bisa dia minta nanti karena sekarang situasi jadi canggung untuk mereka. “Gue nggak liat suer! Gue balik dulu.” Sion menutup matanya dengan tangan, berpura-pura tidak melihat apa-apa.

 

“Yon!” Teriak Riku.

 

Sion yang dipanggil, tidak jadi pergi, ia berhenti dan tetap di tempatnya tanpa menoleh. “Iya?”

 

“Mau join nggak?” Tawaran Riku membuat Yushi dan Sion menoleh ke arah empunya suara.

 

“Hah?!” Mereka berdua sama-sama kaget.

 

“Kita threesome. Mau nggak?” Sion yang mendengar tawaran Riku, menatap Yushi yang ada di sana.

 

“Threesome sama lonte murahan begini.” Riku menarik selimut yang menutupi tubuh Yushi, membuat Sion menelan ludah, perlahan ngaceng hanya dengan melihatnya.

 

“Abang…” Yushi memeluk Riku, menenggelamkan wajahnya di balik tubuh Riku. Ia tidak menolak, tapi juga tidak mengiyakan. 

 

Riku melebarkan kaki Yushi, memperlihatkan vaginanya yang sudah basah. “Ah…” desahan keluar saat Riku melebarkan kaki Yushi secara paksa. Riku tersenyum, ia tahu Yushi sengaja mendesah untuk menarik minat Sion dan hal itu berhasil, Sion terdiam sebentar sebelum akhirnya ia menutup pintu rumah dan menguncinya. Ia mendekat, agak ragu tapi terlihat sekali ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.

 

“Anjing Rik, dapet lonte begini dari mana?” Pujian (atau hinaan) dari Sion itu membuat Yushi tersipu. Ia sudah terlalu terbiasa dengan pujian Riku, sekarang mendengar pujian yang biasa Riku lontarkan tapi dari mulut orang lain, rasanya membuatnya lebih tersanjung.

 

“Jangan cuma senyum-senyum neng, sekarang eneng nungging.” Wajah Yushi memerah mendengar ide gila Riku ini, walaupun idenya gila, tapi harus diakui Yushi suka dengan ide ini, memang hanya Riku yang bisa mengimbangi kegilaan Yushi.

 

Sion masih merasa agak sungkan, walau begitu ia tetap mengendurkan sabuk dan memelorotkan celananya di depan Yushi, siap disepong.

 

Yushi yang kini sudah nungging di sofa, bertumpu pada satu tangan karena tangan lain ia gunakan untuk mengurut penis Sion. Ia mendongak menatap Sion, meludahi penis Sion agar basah dan tidak sakit saat dipegang. “Sepongin neng…” Sion berjengit saat tangan Yushi memegang penisnya, mengurut batangnya perlahan lalu memasukannya ke mulutnya. “Uh… enak banget… mantep banget sepongan bidadari surga…”

 

Di belakang, Yushi masih digenjot oleh Riku, tapi kali ini ia sudah tidak bisa mendesah karena mulutnya juga sudah penuh oleh penis Sion. “ah… enak banget… sempit banget…” racau Riku.

 

Yushi menghisap penis Sion, mengempotkan pipinya dan menaik turunkan kepalanya. “Ah… sempit banget… isep terus neng…” Sion membusungkan dada dan melempar kepalanya ke belakang merem melek. “Diajarin apa si sama Riku neng? Kok sepongannya mantep begini?” Satu tangan Sion digunakan untuk memainkan puting Yushi dan tangan lainnya Sion gunakan untuk menjambak rambut Yushi, mendorongnya lebih dalam mengulum penis Sion. “Ah… bentar lagi abang keluar…” Sion yang merasa penisnya sudah mulai berkedut, mencabut penisnya dari mulut Yushi 

 

“crot di muka aja bang.” Ujar Yushi.

 

Sion nurut, ia mengocoknya sebentar lalu menyemprotkan cairan putihnya ke wajah Yushi, memenuhi wajah cantiknya dengan sperma si tukang galon. “Mantep banget neng! ada peju abang di muka eneng...” Yushi mengelap sperma Sion dengan jarinya dan memasukannya ke mulut sambil mendongak menatap Sion. “Anjing! Lonte goblok! Mau-maunya makan peju tukang galon.” 

 

Sion sudah terduduk di tempatnya, sementara Riku yang melihat Sion sudah selesai disepong tidak mau kalah, ia masih belum keluar. Kali ini ia akan meningkatkan ritme genjotannya. Riku menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan cepat, membuatnya terengah-engah “hhh… ngh… hh…”  suaranya beradu dengan suara Yushi yang mendesah keenakan. 

 

“ah.. abang… yushi mau keluar… lebih cepet… lebih keras… ah ah ah ah ah ah” mulut Yushi yang kini sudah tidak penuh terus mendesah, mengeluarkan kata kata yang membuat Riku makin terangsang.

 

“Tunggu neng… abang mau crot dalem…” Riku mempercepat genjotannya agar mereka bisa keluar bersamaan. “Ah ah ah ah ah ah” Beberapa hari ini memang hobi Riku adalah keluar di dalam, menurutnya lebih menantang kalau bisa membuat majikannya ini hamil, mengisi perutnya dengan bayi, walau kalau hal itu terjadi ia yang akan pusing sendiri.

 

“AH….” Riku mengerang dan seluruh tubuhnya bergetar saat cairan putihnya keluar, sementara Yushi tumbang, pahanya bergetar dan cairannya keluar membasahi dirinya yang terbaring lemah di sofa.

 

“Abang… Yushi udah nggak kuat…” Yushi menangis, bulir air mata turun di pipinya.

 

Riku dan Yushi sebenarnya sudah merasa cukup, mengingat seminggu ini Riku sudah menggenjot majikannya terus setiap hari, hari ini ia merasa cukup keluar satu kali, maka dari itu ia segera beristirahat di sofa lain. Sementara Sion yang sudah lama tidak melakukannya, mendadak keras kembali saat melihat adegan sensual di depannya tadi. Melihat Yushi yang mendesah di depannya saat dipakai Riku, ia mengocok penisnya sendiri, sambil membayangkan memasuki Yushi. Sekarang setelah Riku mencabut penisnya, Sion segera bangkit dan mengambil posisi Riku, ia mendorong Riku yang menghalanginya.

 

Berbeda dengan Riku yang menggenjot dari belakang, Sion membalik badan Yushi terlebih dahulu agar bisa ngewe sambil memandang wajah bidadari di depannya.

 

“Ngangkang dulu buat abang...” Yushi hanya menggumam tidak jelas mendengar ucapan Sion barusan, sulit untuknya mengeluarkan kata yang berarti karena saat ini dia sudah kewalahan. “Ah… sempit banget memeknya anjing… udah dimasukin Riku tetep sempit… sia anjing bisa ngewe lonte mantep begini.” Jepitan sempit vagina Yushi membuatnya kewalahan, ia segera memaju mundurkan pinggulnya. “Ah… sempit banget neng… enak banget memeknya… njepit kontol abang sempit banget…” Sion terus meracau menggenjot Yushi sambil merem melek memandang wajah Yushi yang sudah berantakan. “Anjing… enak banget… lonte model gini bisa dipake…” Sion masih terus menggerakan pinggulnya sambil memegang pinggul Yushi. Sesekali ia juga meremas dada Yushi dan memilin putingnya, memberi rangsangan agar mereka sama-sama enak. “Ah… mau keluar… mau crot di muka…” Sion bisa merasakannya, penisnya sudah berkedut, sebentar lagi dia keluar, mengingat ia tidak mau ambil resiko, ia selalu bermain aman dengan mengeluarkannya di luar, jadi ia segera mencabut penisnya agar keluar di wajah dan dada Yushi. “Fuck…. Enak banget…” Sion tersenyum bangga saat melihat Yushi yang sudah hampir pingsan. “Enak banget neng… kalo lontenya begini mah abang bakal semangat nyari duit tiap hari, entar abang ewe tiap hari sampe peju abang kering.” 

 

Yushi dan Riku sudah kepayahan, tapi Sion masih belum puas, ia masih melanjutkan walau dengan Yushi yang sudah lemas. “Abang jilat ya memeknya. Udah lama nih abang nggak jilat memek orang.” Sion meremas dada Yushi saat ia mengatakan ingin menjilatnya. “Ngangkang lagi ya neng.” Hari ini Yushi benar-benar dihabisi, ia tidak menyangka akan ada hari seperti ini di hidupnya, rasanya ia benar-benar ingin menyerah, ia hanya berharap tidak ada lagi orang yang tiba-tiba masuk, karena kalau ada, ia merasa benar-benar akan pingsan dan masuk rumah sakit karena digangbang.

 

Sion menunduk dan mulai menjilat vagina Yushi. “Ah… abang… yushi sange lagi…” mau bagaimanapun, selayaknya orang yang diberi rangsangan, tubuhnya pasti akan merespon. “abang stop… ah…” Yushi menitikan air mata, tapi Sion tidak perduli, ia tetap menjilati vagina Yushi.

 

“Slurp slurp” suara Sion yang menjilat dan menghisap vagina Yushi menggema disertai desahan lemah Yushi. “Mantep banget neng… nikmat…” Sion berhenti sebentar untuk memuji Yushi, ia mencium paha dalam Yushi bergantian kanan kiri lalu kembali menjilat vaginanya.

 

“Bang… ampun bang… Yushi udah nggak tahan… ” Yushi meminta ampun namun Sion tidak memberinya sama sekali. Ia makin menguatkan hisapannya, membuat Yushi menggelinjang tidak tertahankan.

 

“abang… ah….…” Yushi klimaks lagi, kali ini berkat Sion seorang, membuatnya bangga bisa melihat Yushi puas hanya dengan lidahnya.

 

“Mantep banget lonte semok nih.” Sion meremas dada Yushi sekali lagi lalu mengambil celananya dan memakainya. “Rik, galonnya nggak usah dibayar, anggep aja ongkos bayar lonte 25 ribu ya. Lunas.” Sion memakai sabuknya dan merapikan dirinya sekali lagi sebelum keluar dari rumah Yushi. “Neng, makasih ya, abang balik dulu.” Sion menepuk pipi Yushi yang masih memejamkan matanya. “Balik dulu Rik. Thanks.” Sion menepuk bahu Riku yang kini sudah bangun dan duduk di samping Yushi.

 

Suara motor Sion terdengar dinyalakan dan perlahan menghilang, tanda ia sudah menjauh dari rumah Yushi.

 

Riku memandang Yushi, mengelus rambutnya sebentar sebelum melihat jam yang sudah menunjuk angka 5. “Abang balik ya neng, makasih ya udah mau abang ewe tiap hari. Kalo nyari kuli, kapan-kapan bisa pake abang lagi aja, biar abang juga bisa make eneng.” Seperti biasa, Riku akan langsung pergi, tidak menunggu Yushi sadar.

 

Riku yang kini sudah berpakaian lengkap, berjalan menjauh hendak mengambil tasnya. Pekerjaannya sudah selesai sekarang, ia sudah keluar dari rumah Yushi untuk pulang, namun sebelumnya ia mengeluarkan HP dari tasnya saat merasakan HPnya bergetar. Riku tersenyum menyeringai melihat pesan Sion yang barusan dikirim.

 

Sion: thx bos udah diajak

 

Riku : yo.

 

 

Riku memasukan HPnya ke tas lalu menyalakan motor. Setelah panas, ia langsung pergi dari rumah Yushi, meninggalkan semuanya di belakang, tidak pernah bermaksud untuk tinggal.

Series this work belongs to: