Work Text:
"Thank you for today, Sayang! Jangan lupa besok kamu jemputnya jam tuj –" ucapan Phuwin terpotong kala pria di sampingnya menyambar mulutnya dengan ciuman yang menuntut, seolah-olah ia berkata fuck saying goodbye anyways.
Dengan mata yang membulat pria yang lebih kecil menahan dada Pond, menyiratkan bahwa ia membutuhkan alasan dibalik sikap kekasihnya itu. Namun, dengan akal yang dibakar nafsu, Pond tidak mengindahkan reaksi sang pujaan hati, tangan besarnya melingkupi pinggang kecil Phuwin sambil bibir tebalnya berpindah memberikan tanda-tanda cinta di rahang tajamnya.
"P-pond.. hhh.. What's up sayan-ahh.." kata-katanya kembali terputus saat Pond memutuskan untuk kembali membungkamnya dengan meninggalkan tanda cinta di leher putih yang kini meruam merah.
Dengan kesabaran yang mulai menipis karena terus-terusan dipotong, Phuwin mendorong tubuh yang menutupi seluruh figurnya itu menggunakan sisa tenaga yang dia punya. Saat tubuh pond kembali bersandar ke kursi pengemudi, dengan cepat Phuwin beranjak ke atas pangkuan Pond. And when he sits on Pond's lap, he realizes that the night might not be over yet. As he felt something hard poking at his jeans-covered ass.
"Pond.. kenapa gak bilang aja…" Phuwin menangkup pipi Pond, sebelum ia memilih untuk memusatkan perhatiannya ke leher sang kekasih, memberikan ciuman-ciuman kecil yang seduktif, tapi juga seolah berusaha menyampaikan pesan bahwa ia tidak akan pergi kemanapun. Pond memejamkan matanya, menikmati perlakuan yang lebih muda sambil tangan kirinya merambat menuju pinggang Phuwin. Dia meremas pinggang itu, memberikan isyarat bahwa apa yang dia tahan-tahan dari tadi akan segera meledak jika tidak di tuntaskan detik ini juga.
"Sorry, baby.. been trying to hold back myself because i know you are tired. But I ended up gak bisa tahan, not when you are looking this pretty even after being out the whole day…"
"Ih.. gapapa tau.. do you know the cure to two tired bodies?" Phuwin berkata seduktif tepat ditelinganya, sambil jari telunjuknya merambat turun menyusuri dada Pond, berhenti sebentar, lalu turun lagi menuju pusat yang dari tadi minta dibebaskan dari kekangan celana yang entah kenapa terasa begitu memenjarakan.
Pond's breathe hitched, his dick is twitching with needs, his hands are everywhere around Phuwin's body, "Emangnya apa, sayang?"
Phuwin tersenyum menggoda, menekan pantatnya lebih dekat dengan gundukan dibawah sana, grinding his as down Pond's dick like it's all that matters now, "Seks hebat.."
"You are driving crazy you know.." Pond melempar kepalanya ke belakang, semua akal sehatnya termakan habis bersama keinginan-keinginan yang tidak tertahankan.
"Oh I know," Phuwin kembali menuntun bibirnya menuju leher pond yang kini menengadah, memberikan satu-dua tanda cinta untuk menunjukkan pada dunia bahwa hanya dia yang bisa memporak-porandakan kewarasan Pond sampai tuntas.
"Hh… Sayang, pindah dulu, ya? I c-can't.. I wanna see your face.. this basement is not doing it for – ahh.." Kali ini ucapannya yang terpotong, Phuwin is overstimulating him with his mouth and hands. Tangan kanannya menyapu bahu Pond, perlahan turun ke dadanya, mencubit kecil hasil workout yang selalu di bangga-banggakan sang kekasih, sedangkan tangan kirinya meremas kuat adik kecil dibawah sana.
"Yaudah, pindah dulu, tapi yakin mau keluar mobil with you hard-on? I can for sure calm you down first before we got to the main dish.." bisiknya sambil kembali membubuhkan ciuman kecil di rahang sang kekasih.
"Baby, please? Biar kamu nyaman ya.. I don't wanna hurt you, okay?" Mengenal kekasihnya yang tidak mau kalah, Pond segera membuka pintu mobilnya, mengangkat tubuh Phuwin dengan mudah untuk keluar, lalu menuntunnya untuk melanjutkan semuanya di dalam apartemen yang lebih muda.
Phuwin merengut, kembali merasa kalah dengan dominasi Pond, namun dengan semua nafsu yang menyangkut di tenggorokan, ia memilih untuk mematuhi sang kekasih.
---
Pintu apartemen dibanting dengan kuat, Pond mendorong tubuh Phuwin sampai punggungnya menyatu dengan dinding, disambarnya bibir yang kini tampak kemerahan dari sisa kegiatan mereka di mobil tadi. Phuwin's hands automatically finds their way to Pond's neck, lalu merambat kertas, meremas rambut hitam si tampan dengan nafsu yang menggebu, urging the latter to never stop kissing him.
Pond menarik dirinya dari ciuman itu, namun bibirnya tetap berada tepat diatas bibir Phuwin, seolah-olah jika memberi jarak satu senti pun, mereka berdua akan ikut melebur bersama akal sehat yang sudah dibuang jauh-jauh sedari tadi.
"Baru aku cium kamu udah segininya, pengen banget, ya? Jangan-jangan dari tadi kamu yang sebenernya nungguin aku buat mulai duluan,"
Phuwin mendesah kecil mendengarkan ucapan sang kekasih. He feels his stomach pulsing, there's just something about Pond and his gentle-but-also-degrading words that stirs his insides.
Melihat Phuwin yang seolah tak sanggup untuk memberikannya jawaban, Pond menuntun jari-jarinya menuju kancing kemeja Phuwin, melepaskan satu persatu dengan perlahan seolah Phuwin bisa luruh oleh angin jika ia tidak berhati hati. Bibirnya menuju dada Phuwin yang kini terekspos, meninggalkan gigitan-gigitan kecil di dada yang terkasih. Lalu perlahan gigitan itu berubah menjadi lumatan di putingnya. Pond mendongak melihat ke arah Phuwin, mulutnya sibuk menciumi puting yang lebih muda, seolah dirinya adalah seorang bayi yang haus dan akan menangis jika tidak segera mendapatkan susunya.
Phuwin feels like he could scratch the walls and rip it off now. But instead he reached for Pond's collar, pulling him up until Pond gets off of his chest, and with a speed that matches the light, he kissed Pond hard, so hard that Pond could barely catch up.
Pond smirks, realizing how much he could wreck Phuwin's usually composed self, he kisses Phuwin back, while his hands are roaming on Phuwin's waist, squeezing it hard while hoping that his hands will leave love marks on his waist and thigh tomorrow morning. Pond kembali menarik dirinya, kini memberi jarak di antara mereka.
"Baby, can i suck you off?" Tangan Pond kini turun untuk melepaskan celana Phuwin, menarik resletingnya dengan perlahan seolah-olah ia bermain dengan kewarasan Phuwin. Phuwin felt numb, because of course, he would love to, but also realizing that Pond never gets down on his knees for him before, and now volunteering to do so, makes his dick twitch like crazy.
"Oh wow, kenapa sayang, I feel your dick is getting harder. Why is that? Does the thought of me sucking you off, sambil aku dongak lihat kamu dari bawah with my teary eyes because you gagged my throat, so amusing? Do you wanna come with me swallowing all of your seeds? Or do you want it all over my face? Aku bisa dua-duanya," Pond berkata seduktif sambil tangannya kembali melanjutkan urusan membuka celana Phuwin. His jeans is now sliding off of his pretty legs, leaving his boxer and makimg his dick even more visible.
"Pond.. please.." tangan yang lebih muda bergerak sendiri menuju boksernya, mendorong jatuh satu-satunya kain yang menyesakkan penisnya dibawah sana.
"Please apa, sayang? Aku gatau kalau kamu ga bilang," Kini penis Phuwin sudah terpampang nyata, ujungnya berkilauan dengan cairan pre cum. Pond menyentuhnya, memberikan remasam-remasan tanggung untuk mengetes sejauh apa kekasihnya bisa bertahan dengan ego-nya.
"Mau - mau.. mau kamu.. please Pond, I need you to suck me off, mau keluar di mulut kamu, please, want you to only remember the way I taste in your mouth.. please, Pond.." Phuwin memejamkan matanya, menahan semua hasrat yang tidak juga dituntaskan sedari tadi.
Mendengar sang kekasih yang memohon untuk dibantu melepaskan penat nya, Pond tersenyum kecil, melumat sebentar bibir Phuwin yang kini sudah kemerahan, sebelum ia membawa tubuhnya berlutut, menyejajarkan mulutnya dengan penis Phuwin. Perlahan ia menuntun bibirnya untuk mencium pusat fokusnya kali ini, sebelum perlahan mengulum ujung penis Phuwin untuk melihat reaksinya.
"Ahh…ahh.. Pond.. please.. just get on it please-AHHH.." Untuk ke sekian kalinya malam ini, kata-kata yang lebih muda terpotong oleh pria yang sedari tadi menarik ulur kewarasannya. Pond cuts him mid sentence, wrapping his dick fully with those plump lips of him. Pond membawa kepalanya maju mundur, merasakan setiap urat Phuwin yang menabrak lidahnya, dibawanya lidahnya memutar menuju setiap titik penis Phuwin, seolah-olah sedang menghapalkan setiap bentuknya.
"Ahhhh.. Pond.. Lihat aku, lihat ke aku.. Ahh.."
Pond mendongak, dengan mulutnya yang penuh dengan penis Phuwin, rambutnya jatuh diatas dahi karena peluh, pipinya memerah karena nafsu, matanya yang kini berair dan sayu karena tidak sengaja adik kecil sang kekasih menabrak tenggorokannya, namun kepalanya tetap maju mundur dengan cepat, mendorong Phuwin menuju ekstasinya.
"Gila.. hh.. sayang kamu gila.. you look so good from up here, so pretty.. why haven't we done this earlier.. Ahh.." Phuwin meremas rambut Pond, menuntun kepalanya untuk bergerak dengan tempo yang ia inginkan, tak peduli lagi bahwa yang lebih tua merasa kewalahan.
Plop. Suara Pond yang melepaskan penis Phuwin dari mulutnya menggema di dalam apartemen yang kini panas.
"Kenapa berhenti…" Phuwin mengelus rambut Pond, menyapu poni nya yang jatuh dan bermandikan peluh. Pond kembali berdiri, dibawanya jarinya mengelus pipi Phuwin yang juga terbakar oleh keinginan-keinginan tak tersampaikan.
"Do you want to come fucking my throat, or do you want to come inside of me instead, baby? Mau coba aku malem ini, nggak?" Pond berkata dengan suara yang nyaris terdengar namun juga begitu berani, seolah tidak ada keraguan ditenggorokannya.
Phuwin feels like his brain is short circuiting. This is insane. This is madness. This can't be true. Tangannya bergerak menuju pinggang Pond, memberikan remasan kecil yang menandakan bahwa otaknya resmi dihancurkan oleh pria didepannya.
"Kamu yakin? Aku gak mau karena kamu ngerasa ga enak… are you sure you want this for the both of us?"
"Baby, I have never been more sure, aku mau, I want to feel you too, I want to scream your name too while you bottomed out in me," Pond berkata sambil tangannya kembali menyibukkan penis Phuwin, mengocoknya malas sambil menunggu persetujuan yang terkasih.
"Oh iya, Phu.. ini efek kamu sering nge-gym belakangan ini atau emang kamu udah sebesar ini dari kita awal pacaran, sih?"
That's it. There is no escaping from this. Phuwin mengambil alih kendali, membalikkan posisi tubuh mereka, diciumnya Pond dengan kasar, dengan cepat ia menarik kemeja Pond, kancing-kancingnya berhamburan di lantai, but Phuwin couldn't care less. He moved down to Pond's neck, biting it until he left too much love marks on Pond's neck to be covered the next day.
Pond meremas rambut Phuwin, kepalanya mendongak seolah memberikan akses lebih kepada yang lebih muda. Ia menuntun tangan Phuwin yang sibuk di dadanya untuk segera turun membuka jeansnya, menanggalkan tak sehelai pun kain ditubuhnya.
Phuwin menarik dirinya, menatap Pond dari atas kepala hingga ujung kaki, seolah sedang memuja sekaligus mengamati dari mana dia ingin mencicipi yang lebih tua. Pond melingkarkan tangannya dileher Phuwin dengan gerakan menggoda. Perlahan ia mendekatkan bibirnya ke telinga Phuwin.
"Ayo… semuanya boleh dicoba, sayang, take your time with my body…Aku bantu ya.. pelan-pelan.."
Phuwin mendesah frustasi, ia tidak pernah membayangkan malam ini akan terjadi. Tangannya meremas pinggang Pond, kepalanya dijatuhkan diatas bahu lebar kekasihnya, memberikan kecupan-kecupan penenang yang lebih terasa seperti menenangkan dirinya sendiri dibandingkan Pond. Pond mengalungkan kakinya dipinggang Phuwin, memaksa yang lebih kecil untuk menopang tubuhnya. Tangan Phuwin refleks menahan paha dan pantatnya. Pond mendesah keras akibat sentuhan yang terasa baru itu.
"Ahh.. baby…. you feel that? How does my butt feels on your hand? Ayo… bawa aku ke kasur.. kuat, kan?"
Phuwin memejamkan matanya, memproses semua perasaan menggebu yang tak pernah dirasakan sebelumnya, membayangkan skenario-skenario tak masuk logika yang akan terjadi beberapa jam ke depan. Otaknya kini dipenuhi keinginan-keinginan, tangannya kembali meremas pantat Pond yang kini memohon untuk dihancurkan.
"Okay.. okay, Pond. Lead me, teach me how to make you feel good like you always make me feel," Phuwin membawa tubuh mereka ke kasur king size miliknya, melemparkan tubuh Pond yang lebih besar dari nya.
"Never imagined you would look this pretty under me,"
"Then maybe I should be under you more often then,"
Fuck.
"You're insane, Nar," Naravit. Something about the way Phuwin calls his government name makes Pond feels feral. Pond menarik tengkuk Phuwin, membawanya kembali kedalam lumatan-lumatan penuh cinta dan nafsu.
Phuwin menjauhkan dirinya, lalu membawa bibirnya menuju rahang Pond, turun ke leher, dan kini bersemayam di dada yang lebih tua, mengulum putingnya dengan telaten, satu tangannya berada di pinggang Pond, menekannya ke kasur agar Pond tidak lolos dari kukungannya.
Pond menekan kepala Phuwin di dadanya, seolah ini tidak pernah cukup, dan ia tidak ingin berhenti. Satu tangannya mencengkram punggung Phuwin, menyalurkan nikmat baru yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.
"Enak sayang.. hh.. nghh.. pind-pindah ke yang satunya.. ahh.." Dan Phuwin tidak bisa melakukan apa pun selain menurutinya. Mulutnya dengan lihai mengerjai puting Pond, mengulum, menggigit, melakukan semua hal yang sekiranya bisa memuaskan yang lebih tua.
Merasa puas, Pond menuntun Phuwin untuk turun lebih jauh, "Turun.. turun sayang.. yang lain.. ah.."
Seolah mengerti, Phuwin membubuhkan kecupan dan gigitan di pinggang Pond, memberikan tanda disetiap inci tubuhnya, memastikan agar apapun jenis pakaian yang besok Pond pakai, tidak akan sanggup untuk menutupi sisa sisa pergumulan mereka malam ini. Tangannya bergerak lihai untuk melebarkan paha Pond, menyeret lidahnya untuk menjilat dan menggigit paha dalam prianya.
"Ngh…ah..Anh.. Jago banget..ahh.. sayang…" Satu tangan Pond menekan kepala Phuwin semakin dalam ke pahanya, sedangkan yang lain meremas seprai dibawahnya. Matanya sudah tidak sanggup membuka diri, terlalu hanyut dalam nikmat yang diberikan kekasihnya.
"Learnt from the best," Kata Phuwin sambil tersenyum miring. Kembali ia menyibukkan dirinya dengan paha Pond. Kedua tangannya kini menahan pinggang Pond yang kini meliuk ke atas.
"Ahh.. Phu.. Udah.. Let's get this finished.." Pond menarik Phuwin keatas, menciumnya dengan malas, seolah hanya formalitas sebelum mereka mengguncangkan kasur ini dengan hebat.
"Udah.. sini… jari kamu.. masukin.." Pond berucap tergesa-gesa.
"Shh… I got this.. I got you, okay? I know my way," Phuwin menenangkan Pond sambil beranjak menjauh. Namun Pond menarik kembali lengannya.
"Ngapain.. gak.. gausah pakai lube,"
"Nggak bisa sayang.. I've been there, remember? Kamu masukin pakai lube aja aku masih sakit, let's make this good for both of us, yeah?" Phuwin kembali menarik diri, sebelum dirinya dikagetkan oleh Pond yang menarik jari jarinya, memasukkan jarinya mulai dari telunjuk menuju mulutnya. Dengan perlahan ia mengulum jari lentik Phuwin.
"Nggak.. please.. gausah.. kamu mau masukin berapa? Satu? Dua? Semuanya? Aku bisa kulum semuanya, please.. Phuwin.. Jangan dijauhin.. Aku bisa.." Pond merengek, air mata menggulung dikelopak matanya, meluruh bersama nafsu yang tak lagi terbendung.
Phuwin merasa gila. Ini gila. Pond dibawahnya, menyerahkan diri seratu persen, memohon untuk dimasuki, satu jarinya ditelan habis oleh bibir indah itu, wajahnya bersinar oleh lampu tidur yang sengaja dinyalakan, agar ia bisa melihat betapa indahnya Pond yang kini pasrah dibawah kukungannya.
"Okay.. okay.. gak pakai lube, okay?" Phuwin menurut, dimasukkannya jari tengahnya berbarengan dengan jari telunjukknya ke mulut Pond.
"Basahin.. basahin, Pond.. You're so pretty.." Phuwin menggerakkan jarinya didalam mulut Pond, menekan langit -langitnya. Pond mendesah pasrah, tangannya dibawa meremas seprai.
"Is this how you want my fingers to wreck you?" Pond hampir menjerit. dilepaskannya jari-jari Phuwin dari bibirnya.
"Yes.. yes please, Phuwin.. sekarang.. gak mau nunggu lagi.."
Phuwin tertawa, "Gak sabaran banget, you will get all of me, Nara, we have all night,"
Tangan Phuwin yang kini basah bergerak pelan, menuju lubang Pond yang kini terlihat seperti mengundang lebih dari jarinya untuk masuk, tak perlu untuk dia lebarkan lagi kedua paha itu, karena Pond sudah melakukannya sejak tadi.
"Look at you, all open for me.. bet you are so tight still, yeah?"
"Masukin.. please.."
Phuwin mengarahkan jari tengahnya ke lubang yang berkedut itu, menyapa pinggirannya. Dirasakannya Pond menegang, mencengkram pundaknya dengan kuat.
"Rileks.. belum masuk, sayang.." Phuwin berkata sambil mencium leher Pond, seolah mendostraksi rasa sakit yang akan datang. Jari tengahnya kini masuk perlahan, dirasakannya jari tengahnya diremas oleh lubang Pond, cengkraman dibahunya semakin kuat.
"AHHH…" punggung Pond melengkung, kakinya dilingkarkan pada pinggang Phuwin.
"Sakit, sayang? Aku ambil aja ya lubenya?" Tanya Phuwin khawatir.
"No.. Ahh.. don't you dare pull it out… enak.. enak kok.. just let me adjust, please.." Pond berkata dengan nafas putus-putus, rasa sakit dan nikmat menjadi satu, ia menginginkan ini selamanya.
Phuwin mulai menggerakkan jarinya dengan perlahan. Keluar. Masuk. Keluar. Masuk. Dan ketika yang didengarkan bukan lagi rintihan, ia percepat temponya.
"Anh.. La-lagi.. Lagi Phu tambah..AHH… yes.. Ahh.." Phuwin kini memasukkan dua jarinya, melakukan gerak menggunting seolah melebarkan jalur untuk sesuatu yang lebih besar lagi.
"Phu.. phu… udah.. ahh… nanti keluar.. ahh.. langsung aja.."
"Gapapa.. keluarin, Pond.. keluarin," Phuwin terus bergerak dibawah sana, menstimulasi Pond dengan jari-jarinya. Selang beberapa detik, putih menghiasi mata Pond, otaknya kosong dan penuh dalam waktu yang bersamaan.
"AHHH…" Phuwin menatapnya dari atas, penisnya semakin membesar melihat Pond yang kini kehabisan nafas, hanya karena jarinya.
"So good, sayang. You came just on my fingers.."
Pond memejamkan mata, tenaganya terkuras begitu saja.
"Pond, you good? Atau hari ini mau sampai sini aja?" Phuwin berkata khawatir melihat Pond yang tak kunjung kembali dari klimaksnya.
"Nggak.. You were so good I could pass out.. mau.. mau lanjut.. pakai sperma aku.. jadiin lube.. ayo,"
Phuwin feels insane. He kissed Pond one last time before focusing on what is not done underneath. Pond mengarahkan tangannya ke penis Phuwin, berusaha untuk membantunya bersiap-siap. Namun Phuwin menepis tangannya.
"Biar aku, sayang. Just open your legs and look pretty for me," Phuwin mengunci tangan Pond diatas kepalanya, sedangkan tangannya satu lagi bergerak ke bawah, mengocok kejantanannya dengan kencang sambil menatap Pond.
Secara tidak sadar, Pond merapatkan kakinya, ia merasakan penisnya kembali berdiri melihat pemandangan didepannya.
"Why? Hh.. you like what you see? Don't close up on me, baby.." Phuwin menyudahi kegiatannya, lalu kembali melebarkan paha Pond sambil mengarahkan penisnya ke lubang anal yang lebih tua. Ujung penisnya mulai masuk, dan oh Tuhan.. ia ingin berada disini sampai mati.
"Ahh.. gila, Pond, baru ujungnya tapi udah enak… aku seenak ini juga ga…" Phuwin berkata sambil mendorong perlahan. Pond tidak menjawab, ia menutup matanya rapat, tangan kanannya berada di mulutnya, berusaha membungkam suara suara laknat yang mendesak ingin keluar, sedangkan tangan satu nya lagi mencakar punggung Phuwin.
"Jangan di tahan… i wanna hear you.." Phuwin menarik telapan tangan Pond dan menciumnya, mendistraksi Pond dari penisnya yang sudah sepenuhnya masuk.
"AHHHH.. Phu.. Phu.." Pond menangis, entah karena sakit atau nikmat, Phuwin menggeram, seolah olah menahan dirinya untuk tidak memporak porandakan lubang yang kini mencengkramnya dengan hebat. Mereka diam di posisi itu untuk beberapa saat.
"Ahh.. gerak.. gerak, Phu.. udah ena- AHHH" Phuwin menerjang dengan kuat, daritadi ia menunggu lampu hijau itu untuk di nyalakan. Dia menekuk kaki Pond, mencari sudut paling pas untuk membawa keduanya ke surga.
"Disitu.. nghh… lagihhh.. iya..ahhh," Gotcha. Phuwin menanamkan kepalanya dileher Pond, menghirup wanginya sambil pinggulnya berferak mencari nikmat, terus-terusan menumbuk titik terdalam Pond. Pond menggerakkan pinggangnya, seolah membantu Phuwin, namun kembali ia ditahan oleh Phuwin.
"Ahh.. enak banget kamu, sempit banget.. ahh.. biar aku yang gerak sayang… just be pretty for me.. ahh.." Phuwin terus menggenjot lubang Pond, tangannya menuju penis Pond dan mengocoknya perlahan.
"Enggak, enggak.. jangan..anh.. aku bisa..aku bisa keluar kayak gini aja.. gausah.." Pond mendesah sambil menjauhkan tangan Phuwin dari tangannya. Ia menarik Phuwin untuk dicium, membungkam desahan yang tidak lagi bisa ditahan olehnya.
Phuwin bisa merasakan Pond semakin meremasnya didalam sana.
"Ahh.. Mau dateng sayang? Let me fuck you through it ya, baby,"
Phuwin picks up his pace, unrelentingly moving his hips to meet Pond's need.
"Iyahh..Anhh..Anhh. Phuwin-Phuwin.. Phuwin please… faster, deephh.. deeper, make me come ahh…AHHH.."
Pond came. So hard that his liquid gets everywhere, on both of their stomaches, his chest, even some got on Phuwin's hand that kept him grounded to the sheets.
Cantik. Mata Pond kesulitan untuk membuka, lidahnya menjulur keluar, tangannya konstan meremas bisep Phuwin.
"You're so sexy… iya sayang keluarin terus.. squeezing me so right… so tight" Phuwin menghentikan gerakannya, membiarkan Pond menikmati pelepasannya.
"Udah.. gerak.. gerak lagi.. come in me Phu.." Phuwin tidak bisa melakukan apa apa selain kembali menghujam lubang itu. Hentakannya sangat keras sampai desahan Pond terdengar lebih keras dari decitan kasur itu sendiri.
"Come on.. Ahh.. Phu..Fill me up, come in me, ahh… ayo isi aku.. aku mau please Phu.."
"Ngomong.. ngomong lagi sayang, how do you want me to fill you up, Ahh.." Phuwin semakin menggila mengejar pelepasannya.
"Mau..Anh.Mau Phuwin.. sampai luber.. ayohh.. kamu gede banget..AHH.. YES YES… GIVE IT TO ME..AHHH" Pond merasakan Phuwin mengeluarkan spermanya didalam. Yang lebih muda menggeram dengan keras, perlahan ia lambatkan temponya.
Mereka berhenti sejenak, hanya ada suara nafas dari keduanya. Phuwin perlahan menarik penisnya keluar, melihat spermanya keluar membasahi paha Pond yang kini terbuka lemas.
"Look at me dripping out from you, Pond. Cuma buat aku, ya?"
"Iya.. cuma buat kamu," Pond berkata pelan, energinya terkuras habis.
"I'll help clean you up, okay?"
"Nanti… nanti aja.. biarin dulu.. want to feel you.."
"Okay.. okay Pond.."
And just like that Pond and Phuwin created a night that will never be forgotten.
- FIN.
