Chapter Text
Suara celotehan burung-burung dan sinar matahari yang masuk melalui gorden-gorden kamar, berhasil membangunkan sang Suami dari tidur lelapnya.
Alih-alih masih mengantuk seperti biasanya, pagi ini Prabowo terlihat lebih santai, rileks, dan moodnya sedang baik. (Pasti karena tadi malam habis menggempur Teddy—istrinya, berkali-kali hingga sang Istri pingsan beberapa kali)
Prabowo mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, lalu memandang sekeliling kamar mereka sebelum tatapannya jatuh kepada Teddy yang masih tertidur pulas di sampingnya.
Ia menatap Istrinya dengan lekat-lekat, matanya dengan jeli mengamati detail-detail yang terdapat pada tubuh kekasihnya itu.
Rambutnya yang berantakan membuat Prabowo gemas melihatnya. Bibir merah mudanya yang pasti sangat lembut jika disentuh, dan kulit sawo-matangnya yang dihiasi dengan bekas cium berwarna biru-keunguan serta bekas gigitan suaminya. Adalah bukti bahwa malam tadi, mereka memiliki waktu yang menyenangkan.
Betapa cantiknya istrinya ini meskipun saat tidur.
Merasa tak dapat lagi menahan rasa gemasnya, Prabowo akhirnya melepaskan satu kecupan halus di dahi Teddy, dan sedikit mengeluarkan feromon alphanya agar Istrinya tetap merasa tenang dan nyaman.
Lalu, Ia mulai beranjak pergi meninggalkan tempat tidur untuk bersiap-siap mengawali hari.
Beberapa jam kemudian, aroma masakan rumahan mulai memenuhi kamar-bersama mereka melalui pintu kamar yang terbuka.
Aroma tersebut ikut memenuhi hidung sang Istri hingga pada akhirnya ia terbangun.
Dengan mengantuk, Teddy mengusap-kasar matanya sembari menguap. Ia melihat sekelilingnya dan mendapati bahwa suaminya tak lagi berada di sampingnya. Kemana perginya Suamiku ini?
“Kalau menguap ditutup, Dek. Nanti ada serangga masuk, lho.”
Mendengar itu, dengan segera Teddy memalingkan wajahnya ke arah suara yang jelas sangat dikenalinya itu.
Teddy melihat Suaminya sedang berdiri di dekat pintu kamar, menatapinya dengan tatapan penuh cinta.
Belum sempat mengatakan apa-apa, ia bingung saat Prabowo berjalan ke arahnya, dan matanya terbelalak terkejut ketika merasakan sebuah benda kenyal—bibir Suaminya, menempel pada pipi kirinya.
“Mnh, tumben banget kamu kaya gini, Mas?”
Gumam bingung Teddy—karena selama ini, selama mereka menikah, Suaminya hampir tak pernah memberikannya kasih sayang yang blak-blakan seperti ini dikarenakan sibuk dengan pekerjaannya sebagai Presiden. Tak heran jika dia merasa aneh dan bingung dengan sikap Suaminya hari ini.
“Ngga apa-apa. Emangnya ngga boleh ya, saya nyium Istri saya sendiri?”
Ucap Prabowo sambil mengelus halus rambut Istrinya yang masih berantakan, setelah itu menyubit pelan pipinya yang bundar, tanda ia merasa gemas melihat Istrinya.
Ia juga mengeluarkan feromon alphanya—lagi. Sebuah cara untuk menunjukkan dan menandai bahwa Teddy adalah miliknya.
Belum sempat Teddy mengatakan apapun, Suaminya telah lebih dulu berkata,
“Udah gih, mandi dulu sana. Saya tadi lagi bikin bubur ayam untuk sarapan kita.”
Mendengarnya, Teddy hanya dengan patuh mengangguk. Lalu dengan perlahan menarik selimut yang menutupi tubuhnya dan bergegas pergi berjalan menuju kamar mandi karena perutnya telah menggerutu.
Di sisi lain, Prabowo telah berjalan keluar dari kamar mereka sembari sesekali menengok ke arah kamar untuk melihat apakah Istrinya benar-benar akan mandi.
Prabowo kini tengah sibuk menyiapkan alat-alat makan sebelum ia mendengar teriakan Teddy memanggilnya dari arah kamar mandi kamar mereka. Mendengar teriakan Istrinya, Prabowo langsung panik dan dengan segera ia meletakkan alat-alat makan yang dipegangnya tadi dan bergegas berlari kecil menuju asal suara itu.
Begitu Prabowo sampai di depan kamar mandi, ia mengetuk pintunya beberapa kali dengan panik sambil berkata dengan tergesa-gesa,
“Kenapa, Dek?! Kenapa? Ada sesuatu, ta? Atau kamu kenapa-napa?”
Beberapa detik kemudian, pintu kamar mandi terbuka, dan kepala Teddy keluar dari celah pintu terbuka itu.
“Mas ini, dari tadi aku panggilin ngga nyaut-nyaut! Hmph.”
Mendengar ocehan Istrinya itu, Prabowo menghela napas lega. Sepertinya tidak terjadi hal serius, pikirnya.
“Iya. Maaf, Dek. Ada apa? Kenapa manggil saya?”
“Anu, Mas. Minta tolong ambilin handuk, dong. Tadi aku ngga sempat ambil.
Syukurlah, rupanya hanya meminta tolong untuk mengambilkan handuk. Ia kira sesuatu yang jauh lebih serius seperti terpeleset atau—ah, sudahlah, tak baik berpikiran negatif.
“Iya, Dek. Saya ambilin. Tunggu sebentar, ya.”
Teddy mengangguk mendengarnya, lalu menutup pintu kamar mandi untuk melanjutkan ritual mandi paginya itu. Sementara Prabowo, ia bergegas mencari handuk di dalam lemari untuk dipakai Istrinya.
Setelah beberapa menit mencari, ia menemukan handuk yang dicarinya, Prabowo segera kembali ke depan kamar mandi dan mengetuk pintunya sekali lagi.
Di sisi lain, di dalam kamar mandi, Teddy yang sedang membaluri sabun di seluruh tubuhnya mendengar ketukan Suaminya, ia pun bergegas membuka untuk mengambil handuk yang dipesannya tadi.
Begitu pintu kamar mandi terbuka, Prabowo dapat melihat dengan jelas tubuh Istrinya.
Mulai dari kepala, hingga panggulnya yang sedikit tertutupi oleh sabun mandi berbau manis stroberi favorit Istrinya, dan bekas ciuman dan gigitannya yang berwarna merah keunguan hasil tadi malam.
Pemandangan itu jelas membuat Prabowo merasa sedikit terangsang—ditambah lagi, bau manis dari sabun sang Istri semakin membuatnya bergairah.
Kehabisan kata-kata, Prabowo hanya terus menatap tubuh Istrinya dan sama sekali tak sadar bahwa wajah hingga telinganya kini telah merona berwarna kemerahan.
Teddy yang melihat itu dengan ragu bertanya kepada Prabowo,
“Mas, kamu ngga kenapa-napa, kan? Wajah kamu merah semua.”
Mendengar Istrinya berkata dengan nada panik, Prabowo langsung tersadar dari lamunannya.
“Ah—ngga, dek. Saya cuma melamun aja, kok.” ucapnya sembari memberikan handuk yang dicarinya tadi.
Melamun, katanya. Padahal, jantungnya telah berdebar kencang, wajahnya bertambah merah, dan terlihat sesuatu yang keras muncul di antara kakinya.
Ah.. ini masih pagi, dan Prabowo sudah terangsang karena tubuh Istrinya yang sedang mandi.
Teddy memandang Prabowo sesaat sembari ia mengambil handuk yang disodorkan kepadanya, sebelum ia melihat ada gundukan keras di area selangkangan Suaminya.
Matanya sedikit melotot dan pipinya memerah saat ia menyadari bahwa penis Suaminya telah mengeras tanda ia terangsang.
“Mas—kamu..”
Prabowo seketika panik saat menyadari Istrinya mengetahui ia sedang terangsang. Dengan cepat-cepat ia berkata,
“Dek, ini—saya bisa urus sendiri kok, kamu ngga perlu ngebantu saya.”
Setelah itu, ia segera berbalik badan dan segera pergi menuju kamar mandi yang lain untuk mengurus—ya, itu. Namun sebelum ia sempat melangkah, Prabowo merasa tangannya ditahan.
Ia menoleh ke belakang, dan mendapati Istrinya menggenggam tangannya, menahannya melangkah pergi.
“Ehm, Mas.. aku ngga apa-apa kok, buat bantu itu..” Teddy bergumam pelan dengan wajah yang sudah memerah.
Wajah Prabowo kembali memerah saat mendengar bahwa Istrinya tidak keberatan untuk membantunya melepaskan nafsunya. Tanpa sadar, ia melepaskan feromonnya cukup kuat hingga membuat Teddy merasa bergairah juga.
“Ya—ya sudah kalau begitu..” Dengan begitu, Teddy segera melepaskan pegangannya pada tangan Suaminya dan segera mundur sedikit agar Prabowo dapat melangkah masuk ke kamar mandi.
Begitu pintu kamar mandi telah dikunci oleh sang Suami, Prabowo dapat melihat dengan jelas tubuh Istrinya yang cantik itu masih tertutupi oleh busa sabun, terlebih lagi saat ia menyadari bahwa Teddy juga telah ereksi membuatnya semakin terangsang.
Teddy langsung menarik tangan Prabowo, membawanya ke tempat shower, lalu memutarnya sehingga shower tersebut menyala dan membasahi mereka berdua.
Baju Prabowo menjadi basah kuyup. Ia membuka resleting celananya, dan mengeluarkan penisnya yang telah mengeras sejak tadi. Membiarkannya terkena air hangat dari shower tersebut.
Teddy yang melihat itu segera berlutut menghadap Suaminya. Tangannya telah lebih dulu mengelus pelan penis sang Suami.
“M—Mngh..”
Desahan kecil berhasil keluar dari mulut Prabowo saat ia merasa tangan Istrinya mengelus badan penis Suaminya dengan tempo yang sangat lambat.
Setelah itu, Teddy mulai menggosok bagian kepala penis dengan lebih kencang dan lebih cepat. Membuat Prabowo mendesah berkali-kali.
Prabowo menatap kebawah, melihat Istrinya fokus membuatnya menikmati ini. Tanpa sadar, tangan Prabowo terjulur untuk menangkupkannya di kedua pipi Teddy hingga membuatnya berhenti dan menatap sang Suami.
Tak tahan lagi, tanpa basa-basi Prabowo langsung menarik kepala Teddy hingga penisnya berada tepat di depan wajah Istrinya.
Teddy terkejut saat Suaminya langsung menarik kepalanya mendekat ke penis begitu saja. Ditambah lagi saat Prabowo mengarahkan penisnya ke mulutnya.
“Hisap ini.” perintah Prabowo sembari berusaha memasukkan penisnya ke dalam mulut Teddy.
Dengan ragu, Teddy membuka mulut dan mulai mengulum penis Prabowo dengan pelan karena penis Suaminya ini cukup besar, dan ia takut tersedak.
Prabowo tak dapat lagi menahan dan langsung mendorong kepalanya mendekat sehingga seluruh penisnya dapat masuk ke dalam mulut Teddy.
“?!?!?!?—Hngh?!?—Ngh!?”
Mata Teddy terbelalak saat Suaminya mendorong kepalanya begitu saja. Ia dapat merasakan penis Suaminya menembus kerongkongannya dengan mudah.
Teddy tak dapat mengatakan apapun karena mulutnya penuh dengan penis. Dan lubangnya di belakang mulai basah, ditambah lagi feromon Suaminya yang pekat, membuatnya semakin terangsang.
“Hngh..” Teddy hanya bisa mendesah dan menangis sembari Prabowo mendorong kepalanya maju-mundur dengan cepat.
Busa-busa sabun di tubuhnya sudah menghilang sejak tadi, menyisakan tubuhnya yang mulus.
Tangan Teddy akhirnya bergerak untuk memainkan penis dan lubang miliknya sendiri yang telah basah sejak tadi.
Tangan kirinya mengocok penis, sedangkan tangan kanannya sibuk memasukkan jari-jarinya ke dalam lubang anusnya.
Teddy cum dengan cepat karena merasa nikmat di bagian depan dan belakang. Ia melekungkan punggungnya, membuatnya dalam posisi hampir menungging sambil ia mengeluarkan cairannya dan merasa keenakan.
Tak lama setelah itu, Prabowo mempercepat temponya dan segera cum di dalam mulut Istrinya.
Sperma yang dikeluarkannya cukup banyak, sehingga wajah Teddy juga terkena cairan itu.
Teddy yang sudah merasa tak sabar, segera menelan benih Suaminya. Membiarkan cairan putih yang lengket itu menuruni tenggorokannya.
Hingga beberapa jam kemudian, masih terdengar suara plak, plak, plak yang nyaring terdengar hingga luar kamar mandi.
Dan dengan begitu, Teddy kembali digempur oleh Suaminya di dalam kamar mandi hingga pada akhirnya ia tak bisa berdiri dan berjalan dengan normal untuk sementara waktu.
Sementara Prabowo, merasa bahagia karena telah berhasil membuat Istrinya berjalan seperti orang yang pincang.
