Work Text:
Lampu ruang tengah tersebut kini mulai terlihat redup, dan hanya menyisakan cahaya dari pojok ruangan yang memberikan rona hangat kekuningan. Di luar, hujan rintik-rintik sudah membasahi jendela dan pekarangan rumahnya. Tetapi di dalam, suasana terasa cukup berat.
Neteyam mendudukan dirinya di sofa, punggungnya tegak, namun bahunya terlihat santai—memancarkan aura seseorang yang sangat bisa diandalkan—seperti yang selalu Ia bawa. Perempuan itu bersandar di dadanya, jemarinya memainkan ujung kaus hitam Neteyam dengan perasaan gelisah.
Di atas meja persegi panjang itu, terdapat sebuah surat putih berisi penerimaan universitas dari luar negeri yang dibiarkan terbuka begitu saja sejak 30 menit yang lalu.
“Teyam...” Bisik perempuan itu pelan, “Are you sure, you’re really going? I mean, itu jauh banget….”
Neteyam menghentikan gerakan tangannya yang sejak tadi mengusap lembut rambut kekasihnya itu. Ia menunduk, menatap gadisnya dengan tatapan yang dalam dan tajam.
“Baby, look at me.” Ujar Neteyam lembut, namun terselip nada tegas didalamnya. Perempuan itu mendongak ke atas, matanya terlihat sedikit berkaca-kaca karena menahan sedih. Neteyam memegang kedua tangan perempuan itu, menggenggamnya dengan penuh sayang—sebuah pegangan yang memberi tahu dan memastikan bahwa dirinya tidak akan ke mana-mana.
“You know I’ve worked so hard for this, my love," Ada jeda sedikit disitu, lalu Ia lanjutkan dengan suara yang penuh dengan keyakinan. “I believe, distance is a test to see how well we can protect our love, and I just want you to keep in mind that I won't be going anywhere, sayangku.”
“But what if you meet someone there? Someone who is better… than me?” Tanya perempuan itu dengan suara yang rendah, hampir seperti sebuah bisikan.
Neteyam tidak tertawa atau menganggap ucapannya sebagai suatu candaan. Ia menarik napasnya, lalu menghembuskannya dengan perlahan—dan dapat perempuan itu rasakan hembusan napas kekasihnya itu di kulitnya. "You know my family, sayangku, you know how I was raised. Aku selalu serius sama ucapanku.” Balasnya dengan serius. "I’ve already chosen you, my love. I chose you yesterday, I choose you today, and I will choose you every single day even when I'm miles away. Mark my words.”
Ia melihat wajah perempuannya, lalu Ia cium keningnya sebentar—berharap dapat menyalurkan rasa tenang pada perempuan di pelukannya itu. “I’m doing this for our future, okay? Aku mau kasih kehidupan yang layak buat kamu. Buat kita."
Mendengar ucapannya, perempuan itu menghirup aroma parfum Neteyam yang tercium seperti campuran kayu cendana dan hujan. Tidak lama, perempuan itu membuka mulutnya kembali, "You're just too good to be true, you know, and it's annoying.” Balas kekasihnya itu sambil tertawa kecil. Ia merasa sudah lebih tenang dari sebelumnya.
Neteyam terkekeh pelan, Ia senang kalau ucapannya dapat membuat kekasihnya itu tenang. "I’m your boyfriend, sayangku, itu udah jadi tugas aku. So, please, stop worrying, ya?” Ucapnya dengan suara rendah yang cukup menghantarkan hangat ke dada perempuan itu sambil mengelus kedua pipinya, “Please trust me, because I trust you.”
Dan perempuan itu tidak bisa melakukan apapun kecuali menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
