Actions

Work Header

Rating:
Archive Warnings:
Categories:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-01-17
Updated:
2026-01-25
Words:
7,851
Chapters:
8/?
Comments:
10
Kudos:
21
Bookmarks:
3
Hits:
485

halfway through

Summary:

Looking at it, after all, you’ve only walked halfway through your life. You could choose to forget, never flinching at what fractured your coming-of-age. But you never chose to. And that is how it never ends.

———

N (Nico Rosberg)
L (Lewis Hamilton)

Chapter 1

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

GAK, gue gak pernah berpikir gue akan menghancurkan hidup gue cuma karena rasa rendah diri.

Tapi, di samping itu semua, gue gak merasa semuanya harus di-blame ke gue. Mungkin ini emang pelajaran dari Tuhan ke gue untuk tetap mendekatkan diri aja kali, ya? Atau, untuk ngasih gue pengalaman supaya lebih kuat, mungkin? Dengan ngasih bukti, nih, lo liat, emang ada kok orang bejat dan brengsek yang gak pernah lo duga bakal ada.

Kedatangan gue di posko KKN yang terlambat beberapa hari berlangsung biasa saja, tidak ada euforia canggung ataupun mencekam kayak yang gue bayangin — mereka cuma kaget gue datang lebih cepat, mereka juga bertanya-tanya kenapa akhirnya bisa permanen tinggal di posko padahal magangnya belum selesai. Basa-basi yang basi dan sangat topeng. Gue cuma jawab, HRD-nya baru konfirmasi kemarin.

Gue gak berekspektasi banyak tentang KKN, gak se-invested itu — mendingan gue pake magang. Yang gak kepikir sama gue adalah fakta bahwa gue jadi orang yang agak terpinggirkan. Worse, gue gak bisa tidur di kamar dalam, yang di mana semua cewek-cewek ada di sana, karena gak cukup. Kata mereka, "aduh udah gak bisa, ini aja udah sempit banget." Gue juga gak bisa tidur di ruang tengah karena isinya adalah cowok-cowok. Alhasil, gue tidur di ruang tamu bersama motor-motor, dengan ditemani L (dia cowok). Gue di lantai beralaskan kasur, dia di kursi kayu panjang. Bersebelahan.

N
Eh pls dong temenin gue tidur di depan
Pls

L
Iyaa

Setidaknya begitu percakapan antara gue dan L setelah gue sampai di posko dan memutuskan untuk tidur (bukan secara teknis) bersebelahan sama dia. L — cowok bermuka bule yang surprisingly cara bicaranya sangat medhok — terlihat biasa aja. Gak bicara apapun atau komentar apapun. Biasa aja. Gio bilang, dia emang udah biasa ketiduran di kursi itu kalo malam, jadi untuk diminta temenin tidur di ruang tamu, dia akan sangat biasa aja.

Sampai di hari kedua dan ketiga, masih gak ada percakapan apapun yang melibatkan gue dan L, ataupun gue dengan orang lain untuk bicara panjang. Kemudian, di hari keempat, gue baru sadar akan sesuatu.

Bukan agak lagi gue benar-benar terpinggirkan oleh cewek-cewek di sini.

Satu-satunya yang bisa gue ajak bicara dan nyambung itu cuma Seb. Hal ini juga baru gue temukan setelah di malam keempat gue tidur di ruang tamu, gue memutuskan untuk membuka pintu dan ikut cowok-cowok nongkrong di teras — nyebat, main game, dan minum.

"Rokok apa lu, biasanya?" Gio, ketua kelompok, yang paling banyak bicara, nanya gue.

"Ehm ... apa ya, marlong? Avolution abu-abu kalo lagi punya duit?"

"Anjeeeeeng kelas berat, bangsaaat."

Gue tau, kalo gue gak bisa berteman dengan kaum wanitanya, gue memang perlu menarik perhatian kaum cowok. Gak, bukan untuk seducingWelllet's say networking. Cara survive. Gue belajar dari mantan gue: kalo udah mentok gak punya temen, kadang rokok emang satu-satunya media berteman paling terakhir. Hal ini didukung oleh karakteristik kaum-kaum seksis seperti mereka yang cenderung penasaran dengan hal gak lazim seperti cewek perokok. That's why untuk cari aman, gue mention merek rokok kelas menengah. Yah, gue emang sering pake itu, tapi untuk beberapa momen, gue pake untuk puasin ego gue aja. Aslinya gue gadis kretek mentok. Lagian anak rantau pinggiran mana yang pake rokok avolution buat hari-hari? Unless dikasih bokap atau emang keluarga lo kelebihan duit, then okay. Wajar.

Dari ekor mata, gue merasa L melihat ke arah gue. Dia gak banyak bicara. Nyeletuk untuk bercandaan aja. Tapi, gue sadar dia merhatiin gue. Sementara itu, sepanjang malam, gue lebih banyak ngobrol dengan Seb, karena untuk keperluan divisi PDD, anjingnya cuma kita berdua doang yang bisa graphic design.

Satu-dua jam berlalu, Seb ngaku ternyata dia juga somewhat merasa terpinggirkan di sini. And then we're connected in some ways. Anti-organisatoris, academic achiever, gak suka kegiatan formalitas berbalut volunteer (re: KKN).

Berhari-hari berikutnya, fakta bahwa gue seorang perokok gak langsung didengar semua cewek yang biasanya emang udah tidur ketika kita mulai absen di teras. Semuanya berjalan perlahan. Gue masih diem-diem juga. Tapi, apalah ini semua karena pada akhirnya gue stress sendiri sama work load PDD — gue mulai terang-terangan merokok di depan mereka sebelum jam absen pada saat memasuki minggu kedua gue di sini. Gue udah gak peduli hatred yang mereka kasih ke gue, yang penting gue udah dianggep temen sama kaum cowok. Itu udah lebih dari cukup untuk nyerang ego cewek-cewek pikmi di dalam kamar sialan itu.

Tapi, ada satu hal yang gue perhatikan dan entah kenapa, agak mengganggu.

Tempat tidur gue selalu udah bersih sebelum gue kembali ke dalam. Yah, lo tau, orang-orang brengsek di sini selalu langsung gelar kasur gue setelah selesai proker tanpa cuci kaki dan ganti baju. Tanpa izin pula, mentang-mentang kasur gue emang gue taruh di situ. Jadi, gue emang nebahin kasur gue dulu kalo gak males, kalo males ya ... gue tidur dengan kerikil-kerikil itu.

Kemudian, hal ini cepat untuk gue ketahui siapa dalangnya. Ada satu malam di mana gue tidur lebih awal setelah seharian suntuk mendesain feeds Instagram dan terus-terusan brainstorming dengan Seb. Setelah mandi dan mengoles cairan anti nyamuk ke tangan, gue memelankan langkah hingga berenti di samping seseorang yang sedang menyapu area tidur gue. Ada alat untuk menebah kasur di tangan sebelahnya.

"Dari kemarin lo yang bersihin?" Di titik ini, gue masih berpikir positif perihal kemungkinan lain kayak, mungkin aja dia sekalian nyapu lantai ruang tamu.

L terjengit sedikit seraya menoleh. "Kesian gue sama lo. Kasurnya kotor banget kalo abis ditidurin anak-anak."

"Iya, sih," Gue menggigit bibir. "Mulai besok gue aja yang bersihin. Makasih, ya."

Nggak, besok-besoknya gak gue bersihin.

L pikir beneran bakal dibersihin, tapi gue ketiduran di jam sembilan malam, jam sebelum absen di teras. Lagi-lagi karena seharian ikut prokeran dan gue harus sambil live report. Sorenya gue pergi bareng Seb untuk berburu bakmie ke kecamatan sebelah. Sampe di posko, badan gue remuk. Pada akhirnya gue tumbang di depan laptop dengan kondisi kasur yang agak terasa kasar karena banyak kerikil kecil.

Malam itu gue gak berpikir banyak tentang kondisi tidur gue. Tapi, ketika gue terbangun di jam dua pagi karena haus, kasur gue terasa bersih, kulit tangan serta kaki gue juga kerasa lengket karena cairan. Wangi soffel.

Gue bangun dan duduk, menoleh ke arah L yang sudah mendengkur halus.

Degupan di jantung gue yang gak seharusnya terasa semakin cepat ini agak membuat gue terganggu.

Gue harus kasih tau Seb.

Notes:

KKN survivors wya