Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-01-18
Words:
3,661
Chapters:
1/1
Comments:
16
Kudos:
44
Bookmarks:
3
Hits:
652

Two Fools In Love

Work Text:

Oscar gemar memandang Emilian dari kejauhan, menatap dan mendaba dengan jutaan kalimat indah yang tak sampai pada lisan. Mata biru Emilian tampak serasi dengan langit kala mendung tak singgah. Senyum Emilian menjadi adiksi bagi Oscar layaknya marijuana di tangan pecandu. Menurut pandangan Oscar, Emilian itu bagaikan anyaman bunga yang melingkupi bumi kala musim semi hadir, berwarna, elok dan rupawan, ingin ia petik dan simpan dalam lipatan buku jurnal kesehariannya.

Saat ini, ia sedang berada di kantin, bersama Lando, teman dekatnya sejak mereka menduduki bangku sekolah menengah. Keduanya tengah menikmati makanan masing-masing. Lando dengan semangkuk bakso sedang Oscar dengan keripik singkong berkemasan hijau dalam genggamanditemani oleh dua botol air mineral. Dari kejauhan, Oscar menamati wajah Emilian yang berjarak tiga meja darinya, beruntung mata-nya tidak menderita miopi, sehingga dari jarak sejauh ini pun, Oscar dapat dengan jelas melihat kerutan yang muncul pada wajah indah Emilian kala ia tertawa.

“Udah, berhenti deh ngeliatinnya, kayak bakal dinotice aja perasaan lu,” ujar Lando tanpa merasa bersalah.

Oscar mendecak, melempar keripik singkong yang hendak ia makan pada Lando, sedang teman-nya itu menggerutu, tak terima.

“Lan, lu sama gue tuh ada di posisi yang sama kali, gausa lah nasehatin gue. Kayak lu bakal dilirik aja sama Carlos,” sindir Oscar, cukup tajam, membuat Lando berhenti mengomel dan kembali melahap basksonya tanpa suara. Dua manusia bodoh yang tak pernah berani mengungkapkan isi hatinya.

Semenjak menginjakkan kakinya di perguruan tinggi, Oscar seolah menciptakan neraka untuk hidupnya sendiri. Momen di mana netranya tak sengaja menangkap keberadaan Max Emilian Vestappen di siang yang terik, saat itu pula Oscar sadar, bahwa ia sedang menggali lubang kuburnya. Senyuman Emilian seolah menelan jiwanya tanpa sisa.

Entah karena semesta sedang berbaik hati padanya atau bagaimana, Oscar selalu ditakdirkan satu kelas dengan Emilian untuk mata kuliah wajib. Kekaguman Oscar tak hanya berhenti pada paras indah Emilian. Semakin mengenal pujaannya itu, Oscar semakin berdebar, jantungnya memompa dengan cepat acap kali padangannya bertubrukan dengan biru milik Emilian, ia tau bahwa Emilian adalah sumbernya, pemicunya.

Semua hal tentang Emilian nampak tak bercela di mata Oscar. Emilian yang selalu mengingatkan Oscar untuk menutup resleting tasnya sebab ia kerap lupa. Emilian yang nampak bersinar setiap kali ia mempresentasikan tugasnya. Emilian yang siap sedia snack kucing di sudut tas hitam miliknya, ia akan dengan telaten memberikan makanan pada setiap kucing yang Emilian temui, Oscar pernah bertanya, mengapa Emilian melakukan hal itu, jawabannya singkat “Keinget kucing gue di rumah.”

Emilian, Emilian, Emilian. Otak Oscar seolah terisi penuh dengan nama itu. Perlahan, cinta Oscar untuk Emilian pun bertumbuh, sangat subur. Namun bodohnya, Oscar memilih tuk mencintai Emilian tanpa bersuara, tanpa tindakan, sekadar tatapan memuja dari kejauhan.


Emilian mendongak dan menghentikan tawa saat mendengar deritan kursi yang menandakan si empu beranjak dari singgahnya. Ia melihat dua teman kelasnya meninggalkan kantin. Emilian jelas kenal mereka, Oscar dan Lando, dua sejoli yang tak pernah mau berpisah. Salah satu dari mereka adalah sebab Emilian mengulum senyum saat ini. Ia mendapati wajah Oscar tertekuk, cemberut. ‘Menggemaskan’ batin Emilian senang, rasanya ia ingin menggigit pipi Oscar yang menggembung itu. Ah, tolong sadarkan —

“Woi, stress ya lu?” suara Alex Albon membuyarkan lamunan Emilian.

“Beneran stress ni anak, ngelamun sambil senyum-senyum sendiri,” timpal Carlos tak kalah heboh.

“Apaan dah,” Emilian membalas dengan santai.

“Lagi liatin siapa sih?” Daniel berujar sembari mengikuti arah pandang Emilian. Di sana ia melihat salah satu pegawai stand kantin -yang terkenal genit- itu berdiri. Bang Teo namanya, badannya kekar seperti binaragawan, namun hatinya lembut layaknya Hello Kitty, jangan lupakan sikapnya yang genit bak kucing birahi. Daniel bergidik ngeri saat Bang Teo mengerling ke arahnya.

“Lu demen bang Teo?” Daniel menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang ia lihat, fokusnya ia kembalikan pada Emilian.

“Ngaco banget setan,” balas Emilian seraya bangkit berdiri, cukup malas menanggapi ocehan tak bermutu mereka.

“Lah, ke mana lu? Beneran naksir Bang Teo?” kali ini suara Carlos yang terdengar.

Emilian tak menggubris, ia memilih tuk berjalan meninggalkan ke-tiga temannya yang entahlah, Emilian lupa memungut mereka dari mana.


Hari ini adalah mata kuliah Studio, materi telah diberikan oleh dosen saat pertemuan pertama dan kedua sejak semester genap dimulai, sehingga minggu ini dan selanjutnya cukup digunakan untuk menyelesaikan tugas dan melakukan asistensi. Oscar seorang diri menunggu di depan prodi, jangan tanyakan pada Oscar di mana Lando karena pria berambut ikal itu sudah hilang bak ditelan bumi setelah salah satu rekan kelasnya mengabari bahwa Pak Nico menanyakan keberadaan Lando -hanya ia mahasiswa yang belum melakukan asistensi padanya di minggu ini-.

“Terus lu ngapain ngampus monyet?” Oscar sempat lemparkan pertanyaan usai satu mangkuk bakso Lando tandas di kantin siang ini.

“Mau liat Carlos aja, kangen banget gue.”

‘Orang gila,’ batin Oscar tak habis pikir.

Ia menggelengkan kepala sekilas jika mengingat perbuatan teman sejawatnya itu. Tak berapa lama, Oscar mendapati Laura dan Anna keluar dari prodi, sepasang kekasih yang kerap membuat warga kelasnya iri, mereka berdua terlalu romantis dan orang yang melihat hanya bisa gigit jari.

“Gue sama Lau udah nih, Os. Ditungguin tuh sama Bu Mela di dalam.” Oscar mengangguk seraya berujar “Makasih.”

Selang satu jam, Oscar keluar dari prodi, hasil perancangan yang ia buat cukup membuat Bu Mela tersenyum puas dan Oscar tentu merasa lega akan hal itu. “Jangan lupa nanti ditambahin yang saya saranin tadi ya, Os. Sisi timur dikasih double facade aja, terus kamu coba pikirin bentuknya kayak gimana, biar match sama konsep desainmu,” ucap Bu Mela yang disanggupi Oscar dengan senyuman sopan.

Oscar hendak menuju lift untuk turun karena ia berniat pulang, namun langkahnya terhenti saat seseorang menggenggam pergelangan tangan Oscar.

“Hai,” sapa seseorang yang jelas wajahnya tak asing bagi Oscar. Itu Oliver, lelaki yang sempat Oscar borong danusannya dulu, beberapa kali mereka bertegur sapa dan mengobrol santai.

“Hei, ada keperluan apa ke Prodi Arsi?” tanya Oscar, basa-basi, karena seingat Oscar, lelaki ini bukanlah anak teknik.

“Mau ketemu lu.” Oscar menaikkan alisnya, bingung melanda.

“Bentar aja, bolehkan? Mau ngobrol, tapi jangan di sini ya, rame soalnya.”

Setelah mendapat persetujuan dari Oscar, Oliver segera menarik Oscar menuju bordes tangga yang turun ke lantai enam. Oliver membuka tasnya, mengeluarkan sebuah buket bunga yang ditata begitu cantik.

“Eh?”

“Gue tau ini gila pake banget. Sialan, gue juga gatau kenapa gue bisa gini, tapi pas lu borong danusan gue itu, Os, gatau kenapa you rent free in my head. Sebisa mungkin gue selalu nunggu lu diparkiran tiap pagi, meskipun kadang gue gaada kelas, gue nekat ke kampus cause I want to see your pretty face that day, bahkan sampai gue hafal jadwal lu. Os, I’m so sorry if I make you feel uncomfortable with this, but Oscar, I think I like you.”

Oliver menjelaskan panjang lebar dengan satu tarikan napas, ia menyodorkan buket bunga yang sudah terhias cantik itu ke depan Oscar.

“Oliver, tap—” belum sempat Oscar menyelesaikan ucapannya, ia mendengar suara gelak tawa yang begitu familiar. Di anak tangga ter-atas, berdiri Emilian dengan segerombolan temannya. Emilian membeku di tempat, sedang Oscar tak tau harus berbuat apa, netranya sempat bertubrukan dengan milik Emilian. Oscar segera memalingkan muka saat mata Emilian terasa begitu mengintimidasi, terdapat amarah di sana dan Oscar tak paham apa penyebabnya, padahal sebelumnya Emilian terlihat menikmati waktu dengan karib-karibnya itu.

Oscar kembali menaruh fokus pada Oliver, ia mendapati wajah dan telinga Oliver yang sudah semerah tomat, tak ingin membuat Oliver malu, Oscar dengan santai mengambil buket bunga itu dan memeluknya, ia membisikkan kalimat pada Oliver yang membuat pundak pria itu lesu seketika.

Daniel bersiul, menggoda “Wih ada yang jadian nih.” Oscar melepaskan pelukan itu dan tersenyum kikuk, ia tak berucap apapun. Emilian jalan melengos melewati mereka berdua, menuruni anak tangga dengan terburu, sedangkan Alex mengedipkan mata dan berujar santai “PJ-nya ya.”

Disusul Carlos yang menepuk pundak Oscar, ikut senang, meskipun Carlos tak tau nama dan dari jurusan mana kekasih baru Oscar itu berasal. Daniel yang terakhir mengucapkan selamat serta tersenyum sumingrah, ikut rayakan suka cita Oscar.

Dirasa keadaan sudah kembali kondusif, Oscar mengembalikan buket bunga itu ke tangan sang empu “Oliver, I’m sorry but I can’t.” Oliver menghela napas dan mengangguk mengerti.

It’s okay, Os, gue udah denger juga bisikan lu tadi, tapi gue minta tolong buat bawa aja ya bunganya, please?”

“Boleh?” tanya Oscar dengan tatapan berbinar, merujuk pada bunga di pelukannya.

“Bolehlah,” jawab Oliver, tak lupa tampilkan senyum hangatnya.

Oscar tak sadar, siang itu, ada dua hati yang tengah patah, milik Oliver -tentu saja- sedang satunya lagi, milik Emilian.


Emilian termangu, canda tawa teman-temannya tak ia gubris, suasana apartement Daniel entah mengapa terasa begitu sendu bagi Emilian, ditambah dengan langit mendung yang nampak jelas dari balik kaca besar di sisi kiri ruangan. Mereka sedang bermain poker sembari menikmati Bourbun yang dicampur oleh soda, kesukaan Daniel. Emilian tak minum, maka Daniel menyiapkan satu kaleng soda untuk temannya yang entah mengapa hanya diam, tak berkutik, sejak pantat mereka menempel pada lantai granit apartement miliknya.

Sudah menjadi kebiasaan mereka ber-empat jika berkumpul untuk tidak duduk di sofa, sehingga mengharuskan mereka untuk bersila di lantai dengan formasi melingkar. Ini semua usul Alex, ia merasa jika seperti ini mereka akan lebih dekat, atmosfer yang canggung akan berubah menjadi hangat layaknya sebuah keluarga, selain itu, duduk melingkar sepert ini memudahkan komunikasi antar satu dengan lainnya.

“Em, mabuk lu? Perasaan ngga ikut minum deh,” celetuk Carlos yang hanya dibalas dengusan oleh Emilian.

“Galau lu? Galauin siapa sih buset? Oscar yang abis ditembak tadi ya?” ujar Daniel asal, disusul dengan gelak tawa dari yang lain.

“Iya,” jawaban singkat Emilian mampu membuat suasana yang awalnya ricuh menjadi hening seketika.

“Serius, Em? Ga bohong kan lu?” itu suara Alex, ia sedikit mencondongkan tubuhnya, penasaran.

“Lu liat keadaan gue sekarang deh, menurut lu gue keliatan lagi becanda apa engga?” kesal Emilian, menatap keluar jendela, menerawang dengan pikiran berisik mengenai kejadian tadi.

‘Apa Oscar menerima pria itu?’

‘Apa mereka sekarang sedang berdua-duaan dan bersenda gurau?’

‘Atau skenario paling parahnya, sekarang mereka sedang berpelukan? mengingat cuaca sangat mendukung tuk melakukan hal itu.’

Emilian menggelengkan kepala, menepis jauh-jauh bisikan yang bersarang pada otaknya.

Ia merasakan pundaknya ditepuk oleh Daniel “Udah punya orang itu bro.”

“Ga membantu,” seloroh Emilian frustasi.

Confess aja deh, Em.” Setelah mengucapkan itu, Carlos mendapatkan hadiah berupa pukulan keras dari Alex.

“Udah punya orang dongo.” Alex mendumel, tak habis pikir dengan ucapan asal dari kawannya ini.

“Siapa tau belum, bisa aja dia nerima tuh bunga karena kebetulan kita lewat tadi, gelagat Oscar juga aneh banget kayak orang kikuk, mungkin aja dia sungkan nolak si siapa sih itu,”

“Oliver,” sahut Emilian tak minat.

“Nah ya itu, dia sungkan kali nolak Oliver di depan kita-kita,” lanjut Carlos.

Perkataan Carlos terdengar tidak masuk akal, karena dengan mata kepala Emilian sendiri, ia bisa melihat senyum Oscar yang mengembang cantik, tangan lentik Oscar yang menerima buket bunga itu dengan gembira, dan tak lupa pula pelukan hangat yang Oscar beri sesaat setelah barang persembahan itu berada pada genggamannya, dan apa tadi Carlos bilang 'kikuk?', yang benar saja.

Untuk kesekian kali, Emilian mendengus frustasi, mengusap wajahnya kasar, dan berdecak.

“Sialan, udah dari semester satu gue demen dia, goblok banget kenapa ga make a move dari dulu.” Mendengar penuturan Emilian, sontak semua yang ada di ruangan -terkecuali Emilian- membulatkan mata sempurna.

“Semester satu? Lah? Kita sekarang udah semester empat, Em, mau semester lima,” suara Carlos menggelegar, tak percaya.

“Betah banget suka orang dalam diam,” ejek Daniel, Emilian hanya melirik sinis.

“Dan, lu diem deh, ah elah, lagi sumpek ini anaknya, jangan diusilin,” seloroh Alex seraya mendorong lengan Daniel, sedang pria berdarah campuran Australia itu hanya mengangkat kedua tangan, tanda ia menyerah.


Emilian benar-benar tak bisa berpikir jernih, kepalanya tak bisa diam sejak dua hari yang lalu, hatinya entah mengapa terasa seperti diremas oleh tangan tak kasat mata. Adegan Oscar yang menerima buket bunga dari tangan Oliver terputar di otak Emilian layaknya kaset rusak, berulang, berulang, tanpa ampun.

Sekelibat kalimat tak masuk akal Carlos lagi-lagi mengetuk pikirannya tanpa permisi.

“Dia sungkan kali nolak Oliver di depan kita-kita.”

‘Masa iya Oscar nolak? Orang pelukan gitu, Oscar juga keliatan seneng lagi,’ monolognya.

Ting!

Gawainya berbunyi, memunculkan notifikasi dari Daniel yang membuat Emilian membulatkan tekad. Api semangat yang tak pernah singgah tiba-tiba nampak di permukaan. Gagal atau berhasil, itu urusan belakangan, setidaknya, Emilian berani untuk mencoba.

Daniel

Coba aja saran Carlos, tanyain, gue ga sanggup liat lu kayak mayat hidup belakangan ini. Ntar misal gagal, tenang, kita bisa minum-minum, HAHAHA.

Emilian

Gue ga minum.

Daniel

Ya ya ya, whatever, pokoknya coba dulu sana. Jangan kayak pengecut.

Shoot your shot, brader.


Layar persegi panjang milik Oscar berdenting, ia melirik dan mendapati nama Emilian di sana, jantungnya secara spontan berdetak tak sesuai ritme semestinya. Hanya satu notifikasi dari Emilian mampu buyarkan konsentrasi Oscar pada tugasnya saat ini. Oscar paham bahwa kemungkinan besar Emilian menghubunginya hanya untuk bertanya perihal tugas, tak lebih. Maka dari itu, tak perlu ada yang diharapkan, namun tetap saja, Oscar hanyalah manusia biasa yang penuh dengan harap. Ada sepercik keinginan dalam diri Oscar agar Emilian menghubunginya sebab Emilian hendak mengajak Oscar keluar tuk bermain bersama atau sekadar basa-basi karena Emilian ingin mengenalnya lebih jauh. Jika Oscar boleh kurang ajar sedikit, biarkan ia mengkhayal, mungkin saja Emilian menghubunginya sebab ia merindukan Oscar. Astaga, serakah dan tak tau malu.

Emilian

Os?

Oscar

Ya? Ada apa, Em?

Emilian

Poster pemukiman lu udah kah?

Nah kan, tak lebih dari pertanyaan seputar tugas, Oscar mendengus, kecewa akan ekspetasinya sendiri.

Oscar

Udah, kemarin gue kumpul, lu udah? Mau liat punya gue?

Emilian

Ah engga, gue juga udah, baru aja gue kumpul.

Lagi apa, btw?

Oscar membelalakkan mata, untuk pertama kalinya, Emilian bertanya lebih dari sekadar tugas, meskipun hanya pertanyaan singkat yang menunjukkan Emilian ingin mengetahui kegiatannya saat ini, namum tetap saja hal itu amat berarti untuknya. Oscar tersenyum, ia merebahkan dirinya di kasur dan berguling sana-sini. Ah, Oscar sedang berpikir adat apa yang cocok untuk pernikahannya dengan Emilian nanti, hiperbola.

Oscar

Lagi rebahan, habis revise design, nambahin usul Bu Mela, beliau minta dikasih double facade di sisi timur.

Emilian

Oh ya, I see.

Belum sempat Oscar membalas, ada satu bubble chat lagi yang masuk, membuat Oscar mengerutkan alisnya bingung.

Emilian

Yang kemarin itu, lu terima kah, Os?

Oscar

Oh, Oliver ya? Engga, gue ga ada rasa sama dia.

Emilian

Gue sama temen-temen ngira kalau lu nerima dia, abisnya bunganya lu ambil, hahaha.

Oscar

Itu karena kalian di sana ya! Gue sungkan tau, anaknya udah semerah tomat. He’s a good man, ga tega gue. He deserves someone yang cinta dan kasihnya setara sama dia.

Emilian

Hmmm, agree sih, cinta gabisa dipaksa soalnya.

Oscar termenung membaca kalimat yang dikirim oleh Emilian, tak bisa dipaksa ya? Apakah itu tandanya Oscar sama sekali tidak ada kesempatan?

Ting!

Emilian

Os, misal gue deketin lu, lu keberatan ngga?

Oscar terperanjat, hampir saja melempar gawainya kalau saja ia tak segera meraup kesadaran, untuk kesekian kali jantunganya memompa dengan cepat, tak diberi ampun. Pesan Emilian yang masuk pada ponselnya seolah menjawab segala macam bentuk doa yang Oscar panjatkan acap kali ia merindukan Emilian -masalahnya, Oscar merindukan Emilian tiap hari-. Oscar bangkit, menapar pipinya keras, bekas merah berbentuk tangannya sendiri menghiasi pipi kanan Oscar.

“Sialan, sakit ternyata.”

Oscar tidak bermimpi, apa yang ia baca bukanlah ilusi semata, bukanlah pengandaian yang kerap ia buat sebelum kantuk menjeput. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan diri untuk tak berteriak, takut jika tetangga sebelah akan mengomel dan melayangkan protes di depan pintu tempat ia tinggal. Oscar melompat-lompat di atas kasur bak kelinci yang girang diberi kebebasan setelah keluar kandang.

Ting!

Emilian

Os? Kalau keberatan gapapa, gue ga maksa, I respect your decision, jadi tolong jangan sungkan untuk jawab, ya …

‘Sialan, sialan, sialan, Emilian. Ring me right now!’ batin Oscar bergejolakkegirangan. Jemari Oscar gemetar saat mengetikkan balasan untuk Emilian, telapaknya pun sudah dibasahi oleh keringat, tubuhnya masih melakukan lompatan-lompatan kecil penuh suka cita. Hati Oscar terasa penuh dan terasa sesak, namun kali ini sesak yang Oscar rasa tak perlu obat, ia hanya butuh Emilian.

Oscar

Boleh, Em, hehe.

Emilian

Really? Glad to know that. Makasih banyak ya, Os, karena udah kasih kesempatan.

Oscar

Sama-sama, Em ;).

Emilian

Sebagai awalan, want to get dinner tonight?

Oscar

Sounds good.

Emilian

Good, I’ll pick you up at 7, is that okay?

Oscar

Yeah, Em. Hati-hati ya.

Emilian

Will do ;)


Angin membelai lembut surai dua sepasang kekasih yang tengah menikmati gemerlap lampu perkotaan dari tempat mereka berdiri. Oscar merasakan tangan besar Emilian yang melingkar sempurna pada pinggangnya, terasa begitu pas seolah lekuk tubuhnya memang dipahat sebagai persinggahan lengan kekar Emilian. Beberapa kali Emilian memberikan kecupan penuh damba pada puncak kepala Oscar, menyalurkan rasa cinta yang tak terbendung dalam dirinya sendiri.

Oscar besenandung, menggumamkan nada tak beraturan, namun bagi rungu Emilian, senandung Oscar lebih merdu dibanding nyanyian hewan malam kala hujan basahi bumi. Apapun yang dilakukan Oscar, Emilian akan selalu menyukainya, memuja Oscar diberbagai kesempatan yang ada dan kagumi Oscar dibanyaknya detik dalam satu hari.

“Sayang.” Oscar mendongak, manik coklat pekatnya menatap Emilian lekat, menunggu kalimat lanjutan dari ranum Emilian.

“Masuk, yuk. Di sini dingin,” pungkas Emilian.

Oscar berbalik, mengalungkan lengannya pada pundak Emilian, ia tersenyum, terlihat begitu manis di mata Emilian bak madu yang baru saja dipanen. Oscar menatap bibir merah milik Emilian yang nampak begitu kering, dan beralih pada netra biru Emilian yang kerap buat Oscar lupakan waktu, ia terbuai dalam binar milik Emilian yang berkilauan. Napas mereka beradu, saling salurkan hangat. Oscar memajukan tubuhnya perlahan, ia menempelkan bibirnya pada milik Emilian, Oscar memberikan lumatan lembut, salurkan seluruh buncahan yang tak bisa ia rangkai menjadi sebuah kalimat.

Ciuman itu tak terasa menuntut di awal, sampai akhirnya masing-masing dari mereka mulai menggigit. Oscar melenguh, memberikan akses pada lidah Emilian tuk menilisik masuk. Tak ada yang mengalah, bibir mereka bertautan semakin dalam. Hingga akhirnya satu tepukan pada pundak Emilian mengharuskannya tuk melepaskan cumbuan penuh hasrat itu.

Emilian terkekeh mendapati wajah Oscar yang memerah padam, ia menyeka liur yang berantakan dari bibir Oscar.

“Aku buatin coklat panas dulu ya, sayang.”

Emilian hendak pergi, namun tangan kecil Oscar menghentikan pergerakan Emilian. Oscar menarik ujung kaos hitam yang tengah dikenakan Emilian. Pria dengan surai kecoklatan itu menatap Oscar seraya mengangkat alis, beri pertanyaan melalu bahasa tubuh se-akan ia berkata ‘Ada apa?’.

Tak ada pernyataan maupun pertanyaan yang keluar, hanya tatapan layaknya anak anjing yang tengah Oscar berikan, hal itu tentu buat Emilian ingin melahap Oscar hidup-hidup. Oscar terlihat menggemaskan dan menggoda di saat bersamaan, ranum Oscar kentara bengkak, dampak dari perbuatan Emilian beberapa menit yang lalu, dan mata bulat Oscar yang berseri buat Emilian berusaha tenangkan diri.

“Ossy,” panggilan penuh sayang itu membuat pipi Oscar bersemu merah. Ia berdehem sebelum mengucapkan tiga kata singkat yang membuat darah Emilian berdesir.

I want it, Em.

Emilian mengepalkan tangannya kuat, berusaha melawan berbagai macam iblis yang mencoba mengambil alih kewarasannya. Emilian pun takut jika ini hanya pikiran impulsive dari sang kekasih. Melihat tak ada reaksi dari Emilian, Oscar maju selangkah, menagkup pipi kiri Emilian, ia berikan usapan lembut. Emilian memejamkan mata, napasnya berat, nafsu yang ia kubur hidup-hidup, bangkit berusaha tuk menguasai diri.

“Ossy, kamu ngantuk ya? Tidur, yuk,” ajak Emilian dengan suara yang serak. Ia menggenggam pergelangan tangan Oscar dan menariknya pelan, mencoba tuk menuntun Oscar memasuki kamar tidur Emilian yang terhubung dengan balkon apartement, tepat di mana mereka berdua berpijak saat ini. Oscar bersikukuh, tak bergeser barang se-senti pun.

I said, I want it, Em.”

Keputusan mutlak dari Oscar, sedang Emilian masih berdiri di atas benang tipis rasa takut yang merupakan upaya terakhir guna menjaga kewarasan. Emilian takut jika Oscar akan menyesalinya di kemudian hari.

“Em,” suara mendayu Oscar mengalun, penuh permohonan dan saat itulah Emilian mengaku kalah.

Ia menarik Oscar, menyambar ranum Oscar ganas bak singa kelaparan. Ia mengangkat tubuh Oscar dalam gendongan, kedua lengan Oscar melingkar pada leher Emilian, jemari letiknya mulai meremas rambut tercinta.

Emilian rebahkan tubuh Oscar dengan perlahan di atas matras tempat tidurnya, was-was jika ia kasar, maka Oscar akan retak bak porselen antik idaman ibundanya.

“I’ll try to do it gently so it wouldn’t hurt you.”

Oscar tersenyum, sarat akan kemenangan, dibersamai dengan anggukan penuh kepasrahan. Malam ini, tubuh Oscar akan menjadi milik Emilian, seluruhnya.

Mereka tak pernah melakukannya. Tak pernah lebih dari sekadar bercumbu mesra, hanya sampai pada titik itu, selanjutnya Emilian akan berhenti dan menuju dapur, membuatkan coklat panas untuk Oscar. Tapi entah setan apa yang menghasut keduanya malam ini, mereka melepas nafsu masing-masing. Si dominan tak memberi ampun, sedang sang submassive hanya tunduk tanpa bantahan sedikitpun.

Di atasnya, Emilian menghentak, sedang Oscar melenguh merdu, layaknya permainan kecapi Apollo yang dicintai orang-orang Olympus, rungu Emilian menangkap desahan Oscar yang tak beraturan, -sedikit lagi- pikirnya. Ia dan Oscar akan mencapai pelepasan. Peluh menetes dari dahi mereka berdua, menyalurkan hangat satu sama lain, mencurahkan cinta yang selama ini terpendam, seluruhnya.

“Oscar, Uh, fuck.”

“Em, I’m close — I — “

Tak ada ucapan setelahnya, hanya desahan panjang, sarat akan kepuasan. Cairan Oscar mengenai perut miliknya dan Emilian, sedang milik Emilian mengisi penuh lubang Oscar. Ia melepaskan miliknya dari lubang kenikmatan itu, mengecup kening Oscar lamat dan menjatuhkan diri di samping cintanya.

I love you so much, my Ossy.”


Oscar terbangun karena ia merasakan sesuatu yang basah nan kenyal menyapa pundak polosnya,

“Em.”

Emilian hanya bergeming, ia tetap pada posisinya, memeluk kesayangan dari belakang, mengecupi pundak menawan itu tak henti-henti, Emilian menelisikan hidungnya pada ceruk leher Oscar, memberikan beberapa kecupan kecil di leher jenjang milik kekasih.

“Emilian, geli, ih.”

Emilian hanya terkekeh, namun tak mengidahkan keluhan Oscar, cintanya.

I love you, Oscar.”

Mendengar itu, telinga Oscar memerah, kupu-kupu bergumul dalam perutnya, siap tuk meledak. Ia tak terbiasa dengan ini semua, meski hubungan mereka sudah terjalin selama enam bulan lamanya, namun Oscar masih merasa ini semua tak nyata, halusinasi saja.

I love you, Oscar.” Ulang Emilian, Oscar mengulum senyuman, sengaja untuk tak menjawab. Hangat tubuh Emilian membuat Oscar enggan tuk beranjak dari kasur, ia ingin seperti ini, selamanya, berada dalam dekapan Emilian, kasihnya.

I love you, my Ossy,” Ujar Emilian tuk ketiga kalinya, ada nada yang sedikit menekan di sana, namun tetap, yang diberi kalimat curahan cinta tak menjawab.

Emilian menariknya lembut, membalik tubuh Oscar agar menghadapnya, “Ossy, I said, I love you,” pungkas si dominan dengan kerutan alis yang terlihat sedikit kesal.

Oscar terkekeh, Emilian terlihat menggemaskan jika seperti ini. Ia mengecup bibir Emilian penuh cinta, sebelum melanjutkan “I love you too my Emil.”