Work Text:
Anton sadar kok sama gerakan aneh Sohee dari tadi.
"Ton, kamu dengerin Kakak, gak? Tadi Kakak ngomongin apa?" Alamak, jelas Sohee sadar akan senyuman yang keluar tanpa izin pemiliknya itu. Deretan gigi dan mata sedikit melengkung yang terarah padanya.
"Aduh, Kak. Denger, kok. Nih, lihat aja catetanku, lengkap." Anton sodorkan buku tulis bersampul biru atas kehendak tutor-nya itu, menunjukkan tulisan rapi menjelaskan materi yang diajarkan Sohee hari ini. "Kenapa? Sadar, ya, aku lihatin?" Senyum itu kembali, punggung tangan yang terlihat belang dari pergelangannya menopang pipi cowok Aries itu seraya matanya menatap yang lebih tua dengan lembut.
"Break, yuk, Kak.. aku bosen dengerin Kakak ngoceh."
"Kurang ajar." Sentilan yang menurut Anton penuh afeksi itu mendarat di dahinya, memaksa empunya mendesah kecil sambil mengusap dahinya yang sedikit perih itu. Sohee bangkit dari meja kecil yang kolongnya daritadi dimuati 2 pasang kaki, meregangkan tubuhnya, melepas penat setelah beribu kali mengomeli Anton. Harusnya, Anton tidak ada jadwal tutoring hari ini. Tapi berkat paksaannya dengan embel-embel "bosen gak ada papah mamah di rumah," Sohee terpaksa berada di rumah Anton sekarang.
"Ya udah. Aku pipis dulu, ya, kalau gitu." Anton sadar akan langkah kaki Sohee yang sedikit bergetar, bahkan meraih knob pintu saja terlihat seperti perjuangan setengah mati. Oh, Anton tahu betul kenapa.
"Kenapa gak pipis di sini aja?"
"..hah?"
"Iya.. pipis di sini." Figur yang lebih tinggi itu mendekati Sohee, menjulang di belakang punggungnya. Pundak sempit Sohee digenggam Anton, memaksa tubuh kecilnya berbalik dan menghadap dirinya seorang. Salah satu tangannya mengganti target, pipi Sohee. Beauty marks-nya diusap penuh kasih sayang, tatapannya pun begitu. "Kelihatan, tahu, Kak."
Bola mata Sohee bergetar takut, tumpuan satu-satunya sekarang pintu coklat yang tertutup rapat itu. Getaran di bawah sana tiba-tiba terasa lebih signifikan, kaki Sohee lebih dari kata lemas. "Kenapa, sih, gesek-gesek terus sama bantalnya Kakak dari tadi?" Tangan Anton sudah lancang meraih selangkangan Sohee yang kelewat basah itu, dan suatu sensasi—
"Ton—nnnh! Jangan dipegang.." lirih yang lebih tua, kepalanya menyerah dan bertumpu pada pundak Anton sambil digenggamnya erat. Sensasi bergetar, itu yang Anton rasakan. Seolah tidak mendengar permintaan Sohee tadi, jemarinya makin kurang ajar. Selangkangan Sohee ditekan, spesifik di area bergetar itu. Lenguh Sohee makin liar meski teredam.
"Kenapa gak boleh aku pegang, Kak?" Sohee paling tidak suka saat Anton berlagak bodoh. Apalagi saat tangan itu jelas-jelas meraba memek Sohee, saat Anton tahu betul jawaban dari pertanyaannya sendiri. "Emang di sini ada apa?"
"Ada.. ngh.. vibrator aku.." jawab Sohee, persetan rasa malu. Kakinya merapat, mengunci pergerakan Anton—atau, menjepit tangan Anton di surga satu itu. Sebenarnya, tujuan awal Sohee ke toilet adalah untuk melepas mainan perangsang itu, tapi nampaknya, Tuhan sengaja membiarkan Anton menggagalkan rencana itu. "Udah, Ton.. ini mau aku lepas, kok.."
"You poor thing.." tutur Anton lembut, berbanding balik dengan tangannya yang sudah melesak masuk ke dalam celana Sohee. Untuk kali ini, Anton bertindak sesuai kehendak cowok Scorpio itu. Vibrator Sohee dilepas, dikeluarkan dan dimatikan. Sohee mendesah pelan saat getaran yang sempat ia nikmati hilang, lubang kawinnya terasa terlalu kosong sekarang. "You don't need to torture yourself that much, kok.."
Mata Sohee membulat saat melihat Anton dengan gebrakan barunya. Vibrator yang dilapisi cairan lengket Sohee saat ini di tangan Anton—tidak, di mulutnya. Anton menghisap mainan itu dengan lihai, tiap tetesnya dinikmati olehnya seolah itu tidak datang dari kelamin seseorang. Maniknya tidak lepas dari Sohee, sengaja membuat pemilik benda itu makin sinting. Mungkin, mulai sekarang Sohee sudah tidak perlu memasang vibrator setiap jadwal tutoring.
"Kakak jorok, ya," kata Anton sebelum kali ini memasukkan vibrator berbahan silikon itu ke mulut Sohee, memaksanya menghisap mainan yang sekarang diselimuti liur Anton secara menyeluruh. Sohee tak berani membantah, ia nikmati besarnya mainan itu di mulutnya—lebih tepatnya, tatapan Anton saat mainan itu ada di mulutnya. "Jangan-jangan, tiap ngajarin aku, selalu pake mainan gitu, Kak? Mesum, deh. Sange sama muridnya sendiri."
"Duh, jago banget ini mulut lonte." Seringai Anton rasanya mengancam, ditambah Anton sudah mulai memaju mundurkan mainan itu dari mulut Sohee. Nyatanya, gundukan di bawah celana Anton cukup menunjukkan bahwa cowok kelahiran Maret itu tidak kalah antusias. "Imagining that's my cock, hmm? Kalau iya, sih, ini masih kurang gede, Kak."
Anton gigit bibirnya pelan melihat tampang Sohee yang menurutnya kelewat seksi itu. Setelah vibrator itu keluar, liur yang menetes ke mana-mana terlihat jelas, tatapan sayu yang mengarah pada Anton dilengkapi jari kecilnya yang mulai menggambar pola abstrak pada dada Anton—Anton bisa gila.
"Apain aja aku, terserah deh.. Anton—you're always so fucking fine and I hate that. Please, destroy me tonight. Becek, memek aku becek banget setiap tutoring sama kamu, kebayang terus rasanya ngajar sambil ngewe.. anything, lecehin, hukum tubuh jorok aku, Ton."
"Kalau iniih—mhhhah! K itu sama dengannh E.."
Bucket list Sohee tercapai. Duduk di pangkuan Anton, plus point kalau memeknya sambil diisi kontol gedenya itu.
Tubuh Sohee yang tersentak-sentak itu dipaksa untuk tetap menjelaskan contoh soal selanjutnya. Jarinya sulit menunjuk tulisan di kertas tipis, liurnya menetes terus di buku kumpulan soal yang baru dibeli Anton kemarin. Kontol Anton yang tengah melecehkan gurunya itu menjadi penghalang terbesar lanjutan sesi tutoring yang sempat terpotong, tangannya menjadi pelaku utama atas prosesi bercinta sore itu. Genggaman Anton erat pada pinggang mungil Sohee, menghentakkan tubuh kecil itu pada batang besar miliknya. "Kenapa gitu, Kak?"
"Di situ kan ada... aahh, Ton, gak kuat.. gede banget kontolnya—hmmh!" Rambut Sohee ditarik kasar, membawa punggung kepalanya bersandar pada pundak Anton. Tangannya yang menganggur dipakai untuk menekan gundukan di perut Sohee, satunya untuk menggenggam rahang lemas Sohee.
"Udah bego ini, kopong kepalanya, isinya cuma kontolku aja." Bibir Sohee langsung diculik ke dalam ciuman kasar, mulutnya yang sudah terbuka dijadikan kesempatan bagi Anton untuk melesakkan lidahnya ke dalam liang itu. Kecipak basah baik dari ciuman mereka maupun tepukan kulit di bawah sana memenuhi ruangan, Anton cinta dengan inisiatif Sohee untuk tetap bergerak.
Tekanan yang tiba-tiba keras di perut Sohee cukup untuk membuatnya menjauh dari cumbuan panas tadi. Tumpuannya berpindah, jemarinya kini memegang erat meja kecil yang sudah kotor akan ludah. Sohee tahu, harusnya, dengan posisi seperti ini, hentakan yang bisa dilakukan Anton tidaklah besar. Tapi, rojokan kontol Anton saat ini terasa jauh lebih sakit dibanding posisi apa pun yang pernah Sohee coba.
"Najis, longgar banget memeknya. Gara-gara disumpelin mainan terus nih pasti." Tangan Anton meraih memek yang saat ini terbuka lebar, klitoris Sohee dikuceknya kasar. Tak kuasa, pergelangan Anton langsung digenggam oleh Sohee, berharap mempengaruhinya untuk berhenti. Kepalanya menengadah, menatap langit-langit karena tak ingin melihat pemandangan memabukkan di bawah sana. Mulutnya tak ragu mendesah, menggemakan nama Anton di telinga lawan bicaranya itu. "You really are a whore. Pathetic bitch screaming my name over and over again." Ludahnya mendarat di wajah mulus Sohee.
Sohee is living his dream right now. Tubuhnya lemas karena masih tidak percaya, punggungnya bersandar tak berdaya pada dada telanjang Anton, matanya terpejam dengan kondisi wajah bersembunyi di ceruk leher Anton. Aromanya dihirup, seolah ingin mengalihkan perhatiannya dari situasi berantakan di bawah sana. Digigit pelan leher itu, lagi-lagi Anton mengenai titik terdalamnya. "Lebarin lagi kakinya. Mau pipis yang banyak, kan? Coba, deh, Kakak yang gerak. Genjotin kontolku yang pinter."
Tugas baru Anton akan sulit dilaksanakan oleh Sohee waktu tubuhnya sekebas ini. Ototnya kaku, tapi sepertinya nafsu Sohee tidak begitu. Tangannya meraih meja, telapaknya menekan permukaan datar itu kuat saat pinggulnya mulai bergerak naik turun. Desis demi ringis keluar setiap pinggulnya harus turun—bahkan untuk mengambil batang Anton sepenuhnya saja Sohee tidak bisa. Anton berdecak kesal, menarik rambut Sohee paksa.
"Gerak yang bener, perek. Pengen kontolku mentok sampe rahim, kan? Sampe aku crot yang banyak di dalem memek Kakak?" Sohee ambil kritik itu dengan (tidak) tabah. Pantatnya mencoba bergerak lebih cepat, ia ambil resiko menduduki kontol besar itu sampai bawah sampai ia harus keras-keras mendesah. Lidahnya sedikit terjulur, matanya hampir putih.
"Ah, it's a shame I can't watch your slutty face." Air mata mulai menetes dari mata Sohee setiap ia memejamkannya, tangisnya makin deras waktu putingnya dipilin dan dimainkan cowok Aries itu. Sohee overstimulated. Pening, kalau bisa tumbang, Sohee tumbang sekarang. Unfortunately, his desire to be filled to the brim is way bigger. "Kucing. Kucing kotor berantakan."
Sohee gigit bibirnya, pinggulnya sudah kehabisan energi untuk lanjut bergerak. Tubuhnya condong ke arah tumpuannya frustrasi, air matanya mengalir deras selama ia meringis kesakitan. "Ton, gak kuat... pusing mampus.." cicitnya, kepalanya menoleh pelan ke arah yang lebih muda. Andai Anton sebaik itu untuk luluh saat melihat pipi merah, mata sayu, dan wajah berkeringat Sohee. "Please.."
Harapan Sohee sirna seketika. Entah sejak kapan, Sohee sudah menungging masih dengan tumpuan meja kecil Anton. Sohee sempat heran bagaimana Anton melakukan perpindahan dengan semudah itu tanpa melepas tautan mereka. "You're gonna hate this, Kak."
Anton tidak sepenuhnya benar. Mungkin Sohee benci dengan hentakan luar biasa keras dan perih itu, mungkin Sohee tidak suka betapa cepatnya tempo yang diambil Anton. Tapi, nyatanya, lenguh Sohee tidak mencerminkan itu. Iya, rasanya rahimnya akan dihancurkan oleh Anton. The thing is, it's Anton. "Fuck.. good girl.. you love me so much." Feminisasi tiba-tiba tersebut sukses membuat setengah tubuh Sohee menyerah dan akhirnya berlandaskan meja. Rapalan nama Anton makin kencang di desahnya ketika ia lihat klimaks ada di depan mata.
"Kakak berisik, ya?" Sindiran itu tidak akan berhasil menutup mulut Sohee. "You smell amazing." Sohee pikir, pujian itu kelewat jorok waktu ia sedang penuh keringat dan aroma itu diendus dari lehernya. Badan Anton yang membungkuk berhasil membuat Sohee merinding, pola familiar yang ia rasakan di punggungnya dan putingnya yang sedang dipelintir sesuka hati buat kakinya sulit menopang. "Pengen pipis? Pipis sembarangan kayak kucing kotor. Iya, Kak?"
Sohee mengangguk. Kepalanya mendangak geli waktu Anton menggigit dan menjilat punggung lehernya, racauannya makin berantakan waktu ritme Anton juga makin berantakan. "Hnngh—Ton! Gak kuat.. mau pipis.." seru Sohee, Anton sudah bosan mendengar keluh yang itu. Ingin Sohee loloskan kencingnya itu, tapi, izin dari Anton belum didapatnya. Gila, Sohee gila.
"Gak, Kak.. good girl, kan? Mau nunggu biar maniku sama kencing jorokmu itu nyampur, kan?" Sohee mengangguk lagi, tanpa ragu. Deru napas Anton menyapu tengkuk Sohee, deru napas yang sengal dan tak teratur itu. Seksi, pikir Sohee. Lidah Anton menyergap cuping telinga Sohee selanjutnya. Dihisap pelan, sampai bulu kuduk Sohee berdiri tegak.
Liang di bawah sana rasanya terbakar. Memek Sohee—yang sebenarnya tidak terlalu sempit itu—dipaksa longgar oleh kontol Anton yang ukurannya jauh dari mainan yang dimiliki Sohee. Setiap urat bergesekan dengan dinding memeknya, dengan kecepatan dan tekanan luar biasa. Lebarnya sukses memenuhi tiap inci lubang kawin Sohee, kepalanya tak pernah absen menghantam titik manis di dalam sana.
Rasanya, lutut Sohee sudah lebam. Kakinya bergetar hebat, jelas lelah karena memikul beban tubuhnya dalam jangka waktu yang panjang. Tangisnya tak kunjung reda, isak Sohee tercampur dengan desahan yang tak mampu lagi diredam itu. Pegal rahangnya, dari tadi terbuka karena meracau hebat. Mungkin, sudah saatnya Sohee dipanggil masokhis.
"Damn it," gumam Anton tanpa sadar. Kini kepalanya bersembunyi di ceruk leher Sohee, getaran dari dehamnya bisa dirasakan Sohee merambat ke seluruh tubuhnya. "Suka, Kak?" Rahang Sohee tiba-tiba digenggam, kepalanya dipaksa menoleh ke arah yang lebih muda. Anton rasa, mata lemas itu bisa membunuhnya sekarang.
"Suka, Ton—fuck ngh—suka Anton.. suka kontolnya..." ucap Sohee percaya diri. Mungkin Anton gila karena menganggap tatapan itu bermaksud minta diludahi, karena itu yang Anton lakukan sekarang. Lagi-lagi, wajah yang minta belas kasihan justru direndahkan oleh ludah Anton. Dan parahnya, Sohee suka.
"Saru, Kak." Lucu waktu kalimat itu keluar dari orang yang tengah memasukkan jari tengah dan manisnya ke dalam mulut yang lebih tua. Menurut Anton, Sohee luar biasa karena mempertahankan kontak mata intens mereka sambil menghisap kedua jarinya itu. Sohee bahkan tidak sadar kalau Anton hampir berhenti sepenuhnya untuk menikmati pemandangan di depannya.
Anton mendangak, tangannya yang lain meraih pinggang Sohee, bak isyarat kalau pelepasannya sudah dekat. Temponya kembali cepat, menghantam rahim Sohee seolah itu hanya samsak tinju baginya. "Aangh—Anton mmh! Pelannh shh.. nghh, iyaah.. pejuin memeknya yang ban–ouwwh! Yang banyak!"
"Hmmhh—iyaa.. I'm gonna cum, Kak. I'm gonna cum so much until it drips awfully from your cunt, biar perut Kakak anget sama maniku—sampe Kakak hamil, ya? Fuck—fuck!"
Mungkin itu mantra, karena sperma yang menyembur dalam memek Sohee lebih dari sekedar banyak.
Tak lama setelah cairan lengket itu memenuhi perut Sohee, kencingnya mengambil alih. Kepala Sohee mendangak seketika, pelepasannya tak keluar banyak karena terlalu lama ditahan—dan rasanya sakit. Di tengah-tengah pelepasan, Anton masih mengurut batangnya, mengeluarkan sisa yang belum keluar.
Napas mereka berdua sengal, yang satu masih berpostur tegap, menjulang tinggi di belakang yang lebih tua, sedangkan yang satu sudah menyerah dan mengibarkan bendera putih dengan tumbang di atas meja. Meski sibuk mencari udara, seringai Anton menemukan jalannya untuk lolos. Ia tersenyum bangga, puas dengan pemandangan di hadapannya.
"Gila kamu, Kak."
"No—kamu, gila."
