Actions

Work Header

Scentless War

Summary:

Di Kerajaan Kaltos yang kejam, Choi San, pangeran Alpha yang ambisius, harus bersaing dengan Jung Wooyoung, kontestan misterius bercadar yang menyimpan rahasia besar sebagai seorang Omega.

Berawal dari rivalitas maut di tengah ujian takhta, mereka justru terjebak dalam memori reinkarnasi seribu tahun lalu. Di bawah bayang-bayang pengkhianatan sang Raja, keduanya harus memilih: melanjutkan dendam lama atau menyatukan kekuatan Matahari dan Bulan demi cinta dan kebebasan sejati.

"Dua jiwa yang ditakdirkan bertarung, namun terikat untuk saling menyelamatkan."

Chapter 1: Bitter reign

Chapter Text

Dini hari di Menara Selatan selalu terasa seperti berada di dalam liang lahat. Udara di sana mati, tidak bergerak, dan membawa bau lembap dari batu-batu tua yang sudah berusia ratusan tahun. Di kamar tertinggi, yang hanya memiliki satu jendela sempit tanpa kaca, Jung Wooyoung sedang bertarung melawan takdirnya sendiri.

Wooyoung berdiri di depan sebuah meja kayu yang permukaannya sudah kasar dan penuh goresan. Di atasnya terletak sebuah botol porselen hitam tanpa label. Ia menatap botol itu seolah benda itu adalah iblis yang siap merenggut nyawanya, namun ironisnya, hanya benda itulah yang bisa menyelamatkannya dari kehinaan yang lebih buruk.

Aconite Moon.

Sebuah ramuan terlarang. Di pasar gelap, harganya setara dengan nyawa sepuluh budak. Cairan itu bukan sekadar penekan feromon; itu adalah racun saraf yang dirancang untuk mematikan fungsi kelenjar Omega secara paksa. Bagi Wooyoung, setiap tetes yang masuk ke tenggorokannya adalah deklarasi perang terhadap alam semesta yang telah salah memberinya identitas.

Tangannya gemetar saat ia membuka tutup botol itu. Aroma tajam, seperti campuran logam berkarat dan tanaman busuk, segera menyeruak. Ia tidak ragu. Dengan satu gerakan cepat, ia menenggak isinya.

Dunia seakan meledak di depan matanya.

"Aaakh...!"

Wooyoung jatuh berlutut, kedua tangannya mencengkeram dadanya yang terasa seolah sedang dibelah oleh pisau panas. Napasnya terputus-putus, tersangkut di pangkal tenggorokan yang kini terasa membengkak. Di dalam tubuhnya, racun itu mulai bekerja. Ia bisa merasakan setiap pembuluh darahnya berdenyut kasar, memompa cairan hitam itu ke seluruh sistem sarafnya.

Insting Omega-nya—bagian dari dirinya yang mendambakan kehangatan, yang memiliki aroma manis jasmine yang memabukkan—sedang disiksa habis-habisan. Secara biologis, tubuhnya sedang dipaksa untuk "mati" agar identitas aslinya tidak tercium oleh hidung-hidung tajam para Alpha di luar sana.

Cucuran keringat dingin membasahi pakaian tipisnya. Wooyoung membenamkan wajahnya di lantai batu yang dingin, mencoba mencari sedikit kenyamanan dari rasa sakit yang membakar. Matanya memerah, menahan air mata yang bukan karena kesedihan, melainkan reaksi fisik murni dari tubuh yang sedang dirusak.

Jangan sekarang, batinnya meraung. Kau tidak boleh menyerah di sini, Jung Wooyoung. Jika kau mati di kamar ini, kau hanya akan dikenangi sebagai pangeran yang lemah. Tapi jika kau menang, kau akan menjadi raja yang ditakuti.

Lima belas menit berlalu seperti satu abad. Perlahan, rasa sakit itu mereda, meninggalkan rasa baal yang dingin di sekujur tubuhnya. Wooyoung bangkit dengan susah payah, menggunakan pinggiran meja sebagai tumpuan. Ia menatap pantulannya di cermin perunggu yang buram.

Wajah yang ia lihat di sana bukanlah wajah pangeran yang lembut. Matanya yang biasanya ramah kini berubah menjadi tajam, gelap, dan tak menyisakan ruang untuk belas kasihan. Kulitnya pucat seperti mayat, namun aura yang ia pancarkan kini terasa berbeda—berat, kaku, dan artifisial. Aroma manis yang biasanya menghantuinya telah hilang, digantikan oleh bau samar zat kimia yang tajam.

"Sempurna," bisiknya dengan suara serak.

Ia mulai melakukan ritual selanjutnya: menyembunyikan tubuhnya.

Wooyoung mengambil kain pengikat panjang yang terbuat dari sutra kasar. Ia mulai melilitkannya di sekitar dadanya, menariknya dengan sangat kencang hingga ia kesulitan untuk menarik napas dalam. Ia butuh siluet tubuh yang lebih tegap, lebih kotak, lebih mirip seorang Alpha atau setidaknya Beta yang tangguh. Setiap lilitan adalah peringatan bahwa ia tidak boleh goyah.

Setelah itu, ia mengenakan zirah kulit hitamnya. Zirah ini adalah mahakarya pengrajin Selatan—fleksibel namun cukup kuat untuk menahan sayatan belati. Tidak ada hiasan emas atau permata seperti pangeran lainnya. Zirah Wooyoung polos, gelap, dan berfungsi sepenuhnya untuk membunuh.

Ia memasang sepasang sarung tangan kulit yang menutupi hingga ke siku, menyembunyikan urat-urat halusnya. Terakhir, ia mengambil cadar sutra hitamnya.

Saat ia mengikat kain itu di belakang kepalanya, menutupi hidung hingga dagunya, sosok pangeran tercantik di Kaltos itu telah lenyap sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah "Si Anjing Hitam", petarung yang tidak memiliki nama belakang saat berada di medan laga.

Wooyoung berjalan menuju sudut ruangan, mengambil sabuk kulitnya yang berisi sepasang belati perak pendek. Ia menarik salah satunya, menguji ketajamannya pada ujung ibu jarinya hingga setitik darah merah segar muncul.

"Hari ini," gumamnya, matanya menatap tajam ke arah pintu kamar yang masih terkunci. "Aku akan membuktikan bahwa mahkota ini tidak peduli pada siapa yang memilikinya, selama tangan yang memegangnya cukup kuat untuk mematahkan leher siapa pun."

Suara lonceng pertama dari Citadel bergema, memecah kesunyian subuh. Detak jantung Wooyoung kini stabil, seirama dengan dentang logam yang memanggilnya menuju kematian atau keabadian. Ia melangkah keluar dari kamar, meninggalkan aroma penderitaan di belakangnya, siap untuk menghadapi dunia yang tidak pernah menginginkannya untuk menang.

 


 

Langkah kaki Wooyoung bergema di sepanjang koridor batu pualam hitam yang menuju ke arah Great Hall. Setiap dentum sepatu botnya terdengar seperti detak jantung yang teratur namun dingin. Di sepanjang dinding, obor-obor minyak menyala dengan api biru yang gelisah, melemparkan bayangan tubuhnya yang memanjang dan tampak seperti monster yang merayap di dinding.

Para pelayan dan pengawal istana yang ia lewati segera menundukkan kepala. Namun, Wooyoung bisa merasakan tatapan mereka di punggungnya. Ia tahu apa yang mereka bicarakan di belakang punggungnya: Sang Pangeran Terbuang dari Selatan. Mereka menganggapnya sebagai anomali, seorang pangeran yang lebih banyak menghabiskan waktu di perbatasan berdarah daripada di pesta dansa istana.

"Pangeran Wooyoung," sebuah suara parau menghentikan langkahnya.

Wooyoung berhenti, namun tidak berbalik sepenuhnya. Di sana berdiri Panglima Kaltos, seorang Alpha tua dengan bekas luka melintang di wajahnya. Namanya adalah Jenderal Gwan, pria yang pernah melihat Wooyoung membantai segerombolan pemberontak tanpa berkedip.

"Ujian kali ini berbeda, Pangeran," ucap Gwan, matanya menatap tajam ke arah cadar hitam Wooyoung. "Raja menginginkan hasil yang absolut. Jika Anda merasa tidak sanggup, menyerah sekarang bukanlah sebuah aib bagi seseorang dengan posisi... unik... seperti Anda."

Wooyoung menoleh sedikit, memberikan tatapan yang begitu dingin hingga sang Jenderal merasa bulu kuduknya meremang. "Posisi unik? Apa karena aku tidak memiliki selir yang mengantre di depanku atau karena aku tidak memamerkan kekuatanku di depan publik seperti pangeran lain?"

"Bukan begitu, maksud saya—"

"Simpan kekhawatiranmu, Jenderal," potong Wooyoung tajam. "Aku tidak datang ke sini untuk bertahan hidup. Aku datang untuk memastikan tidak ada orang lain yang tersisa untuk memegang mahkota itu. Jika kau ingin melihat aib, lihatlah pangeran-pangeranmu yang akan menangis di bawah kakiku hari ini."

Wooyoung melanjutkan langkahnya, meninggalkan sang Panglima dalam keheningan.

Semakin dekat ia dengan gerbang utama, aroma di udara mulai berubah. Campuran feromon dari ratusan Alpha yang berkumpul di arena mulai menyerang indranya. Bagi Omega biasa, berada di tengah kerumunan seperti ini tanpa pelindung adalah bunuh diri; mereka akan jatuh pingsan atau terpaksa tunduk secara biologis.

Namun, Wooyoung telah melatih dirinya. Berkat Aconite Moon, indra penciumannya kini terasa seperti tersumbat oleh es. Ia bisa merasakan tekanan di udara, namun ia tidak merasakan keinginan untuk tunduk. Sebaliknya, ia merasa muak. Ia membenci betapa udara ini dipenuhi oleh keangkuhan maskulin yang berlebihan.

Ia sampai di ambang gerbang raksasa yang terbuka menuju lapangan utama. Sinar matahari pucat menyilaukan matanya sejenak. Sorak-sorai rakyat meledak, suara yang memekakkan telinga, namun bagi Wooyoung itu hanya kebisingan yang tak berarti.

Di tengah lapangan, ia melihat mereka. Para pesaingnya.

Ada Pangeran Mingi dari wilayah Barat yang membawa kapak raksasa, dan Pangeran Yunho dari Timur yang terlihat tenang namun mematikan dengan tombaknya. Namun, di pusat segalanya, berdiri matahari yang paling terang.

Choi San.

San sedang tertawa bersama beberapa bangsawan tinggi saat ia melihat Wooyoung masuk. Tawa itu menghilang seketika, digantikan oleh ekspresi yang sulit dibaca—semacam rasa penasaran yang dibalut dengan rasa jijik yang mendarah daging. San berdiri di sana, terbalut zirah emasnya yang menyilaukan, memancarkan aura dominasi yang seolah-olah mengatakan bahwa lapangan ini adalah miliknya, dan orang lain hanyalah tamu yang tak diundang.

Wooyoung mengatur napasnya di balik cadar. Ia merasakan sedikit mual—efek dari aroma San yang mulai menembus pertahanan obatnya. Bau cedarwood dan badai salju. Bau yang seharusnya ia benci, tapi entah mengapa terasa lebih "bersih" dibandingkan bau busuk Alpha lainnya di sana.

Wooyoung melangkah masuk ke arena, melewati barisan pengawal yang memegang panji-panji kerajaan. Ia tidak menatap rakyat, ia tidak memberikan lambaian tangan. Ia berjalan lurus menuju garis start, tempat takdirnya akan ditulis dengan darah.

Setiap mata kini tertuju padanya. Si Anjing Hitam telah tiba. Dan di seberangnya, Sang Pangeran Emas telah menunggu untuk menghancurkannya.

 


Lantai lapangan utama Citadel terbuat dari blok-blok granit besar yang telah aus oleh ribuan tahun langkah kaki para prajurit. Di sela-sela batu itu, debu kemerahan beterbangan ditiup angin kencang, memberikan kesan seolah-olah tanah itu sendiri sedang haus akan darah. Wooyoung berjalan dengan ritme yang tetap, mengabaikan teriakan penonton yang memenuhi tribun melingkar di atas mereka. Suara itu terdengar seperti ombak yang pecah di kejauhan—gaduh, namun tak mampu menggoyahkan fokusnya.

Saat ia mencapai titik tengah, langkahnya terhenti secara naluriah. Lima meter di depannya, Choi San berdiri sendirian, terpisah dari rombongan bangsawannya.

San tidak melakukan apa-apa. Ia hanya berdiri di sana dengan satu tangan bertumpu pada gagang pedang emasnya yang legendaris, namun kehadirannya saja sudah cukup untuk menggeser gravitasi di area tersebut. Bagi orang awam, San adalah simbol harapan. Bagi Wooyoung, San adalah tembok besar yang harus ia runtuhkan jika ia ingin melihat cahaya matahari yang sesungguhnya.

"Kau terlambat, Wooyoung-ah," suara San memotong kebisingan, rendah namun memiliki resonansi yang mampu menggetarkan tulang dada siapa pun yang mendengarnya.

Wooyoung tidak berhenti sampai ia berada tepat di hadapan San. Jarak mereka kini tak lebih dari satu jangkauan lengan. "Waktu adalah milik mereka yang mengejar. Aku tidak mengejar siapa pun, San. Aku hanya menunggu saat yang tepat untuk melampaui kalian semua."

San menyipitkan mata. Ia sedikit merunduk, mencoba menyejajarkan tatapannya dengan mata Wooyoung yang tersembunyi di balik cadar. Pada jarak sedekat ini, San melepaskan tekanan feromonnya—sebuah tindakan agresi murni bagi sesama Alpha. Udara di sekitar mereka mendadak terasa berat, seolah oksigen telah digantikan oleh timah cair. Aroma cedarwood yang dingin dan menusuk dari San menyelimuti Wooyoung, memaksa setiap sel di tubuh Wooyoung untuk mengakui otoritasnya.

Namun, yang terjadi justru di luar ekspektasi San.

Wooyoung tidak bergeming. Ia tidak menundukkan kepala, tidak gemetar, dan detak jantungnya yang terdengar lewat keheningan di antara mereka tetap stabil. Berkat Aconite Moon yang merusak sistem sarafnya, Wooyoung merasa kebas terhadap intimidasi biologis itu. Di mata San, Wooyoung tampak seperti patung es yang tak tersentuh oleh api.

"Menarik," bisik San, suaranya kini mengandung nada kekaguman yang berbahaya. "Semua orang di lapangan ini menahan napas karena kehadiranku, tapi kau... kau bahkan tidak berkedip. Katakan padaku, Jung Wooyoung, apa yang kau sembunyikan di balik cadar itu? Apa kau manusia, atau kau hanya mayat yang digerakkan oleh dendam?"

"Aku adalah mimpi buruk yang akan menghantuimu saat kau mencoba memejamkan mata di atas singgasana yang kau idamkan," balas Wooyoung. Ia melangkah satu inci lebih dekat, hingga dada mereka hampir bersentuhan. "Kau pikir dunia ini berputar di sekitarmu karena kau lahir dengan tanda Alpha yang sempurna? Dunia ini tidak peduli pada tanda di kulitmu. Dunia ini hanya peduli pada siapa yang terakhir kali memegang belati saat orang lain sudah tumbang."

San meraih bahu Wooyoung dengan gerakan kilat. Cengkeramannya kuat, jari-jarinya yang terbungkus sarung tangan putih menekan zirah kulit Wooyoung. "Aku bisa menghancurkan lehermu di sini sebelum ujian dimulai, dan ayahku tidak akan mengeluarkan satu tetes air mata pun untukmu."

Wooyoung tidak membalas dengan kata-kata. Dengan gerakan yang lebih cepat dari penglihatan manusia biasa, ia mencabut salah satu belati peraknya dan menempelkan mata pisau yang dingin itu tepat di bawah jakun San.

Keheningan seketika melanda tribun yang berada paling dekat dengan mereka. Para pengawal kerajaan menghunuskan pedang, namun San mengangkat tangannya, memberi perintah untuk tidak bergerak.

"Coba saja," tantang Wooyoung, matanya berkilat dengan kegilaan yang murni. "Kau mungkin bisa menghancurkan leherku, San. Tapi sebelum napas terakhirku keluar, belati ini akan memastikan kau tidak akan pernah bisa bicara lagi. Kita bisa mati bersama di sini jika itu yang kau mau. Aku tidak punya apa pun untuk dipertaruhkan, tapi kau... kau punya segalanya untuk kehilangan."

San menatap belati itu, lalu kembali menatap mata Wooyoung. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda. Di balik kebencian itu, ada rasa sakit yang sangat dalam, sesuatu yang sangat manusiawi namun disembunyikan dengan sangat rapi. Ada kilatan kerentanan yang tertutup oleh kemarahan.

San perlahan melepaskan cengkeramannya dari bahu Wooyoung. Ia tidak tampak takut; sebaliknya, senyum tipis—hampir menyerupai senyum tulus—terukir di wajahnya.

"Kau benar-benar gila, Jung Wooyoung," gumam San. Ia mundur satu langkah, merapikan jubah merahnya. "Dan aku benci mengakui bahwa aku menyukainya. Jangan mati di gerbang pertama. Aku ingin akulah yang melihat ekspresi wajahmu saat kau menyadari bahwa semua usahamu ini sia-sia."

"Jangan khawatirkan aku, San," Wooyoung menyarungkan kembali belatinya dengan bunyi klik yang tajam. "Khawatirkan dirimu sendiri. Karena di hutan nanti, tidak akan ada pengawal yang melindungimu. Hanya ada kau, aku, dan monster-monster yang lebih lapar darimu."

Tepat saat itu, suara terompet raksasa bergema dari puncak menara utama. Suaranya panjang dan melengking, menandakan bahwa Raja telah memasuki tribun kehormatan.

Wooyoung memalingkan wajahnya dari San, menatap ke arah gerbang raksasa yang mulai bergetar karena mekanisme sihir yang membukanya. Di balik gerbang itu, kegelapan Labyrinth of Thorns menanti. Ia bisa mencium bau tanah basah dan tanaman busuk yang keluar dari sana.

Tanpa sepatah kata pun lagi, Wooyoung memposisikan dirinya di garis paling depan. Ia merunduk rendah, jari-jarinya menyentuh tanah, bersiap untuk meledak dalam lari. Di sampingnya, San melakukan hal yang sama. Mereka berdua berdiri berdampingan sebagai rival yang paling sengit, tidak menyadari bahwa di dalam darah mereka, ikatan kuno yang telah terkubur selama berabad-abad mulai berdenyut, merespons kehadiran satu sama lain di tengah ancaman kematian yang mendekat.

Gerbang terbuka sepenuhnya dengan dentuman keras yang menggetarkan bumi.

"Sampai jumpa di neraka, Pangeran Mahkota," bisik Wooyoung sebelum melesat masuk ke dalam kegelapan seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya.

 


 

Kegelapan di dalam Labyrinth of Thorns bukanlah kegelapan biasa. Ini adalah kegelapan yang bernapas. Begitu Wooyoung melintasi ambang gerbang, suhu udara merosot drastis. Aroma tanah basah yang menyengat bercampur dengan bau manis dari bunga-bunga beracun yang hanya mekar di bawah bayang-bayang sihir.

Wooyoung tidak berlari di jalur tengah seperti yang dilakukan Pangeran Mingi dan para ksatria pengiringnya. Jalur tengah adalah jebakan bagi mereka yang terlalu sombong. Ia justru melompat ke arah dinding batu yang ditumbuhi tanaman merambat setebal paha manusia. Dengan kelincahan yang tidak masuk akal, ia memanjat, menggunakan celah-celah kecil pada batu sebagai tumpuan hingga ia mencapai dahan-dahan raksasa yang menggantung di atas labirin.

Dari ketinggian, ia bisa melihat kekacauan di bawahnya.

"Argh! Kakiku!" jeritan melengking memecah kesunyian hutan.

Pangeran Keempat dari wilayah Utara terjebak. Tanah yang tadinya tampak padat ternyata adalah rawa pasir hisap yang dipenuhi duri-duri obsidian. Semakin ia meronta, semakin dalam duri-duri itu merobek kulitnya. Pangeran lain melewati tubuhnya begitu saja, mengabaikan permohonan tolongnya. Di ujian ini, belas kasihan adalah beban yang mematikan.

Wooyoung berhenti di atas sebuah dahan, menatap dingin ke bawah. Ia melihat San melesat melewati pangeran yang terluka itu. San tidak menolong, tapi ia juga tidak mengejek. Fokus San hanya satu: jalan di depannya.

Dia punya insting yang bagus, batin Wooyoung. Namun, pujian itu segera ia tepis. Tapi insting saja tidak cukup untuk mengalahkan labirin ini.

Wooyoung meraba saku di pinggangnya, mengeluarkan sebuah bola kaca kecil berisi cairan perak—minyak phosphorus yang telah dimanterai. Ia menjatuhkannya tepat di persimpangan jalan di depan San.

Pshhh!

Asap perak yang tebal dan membutakan meledak, menutupi seluruh pandangan di jalur bawah. Dalam hitungan detik, kekacauan terjadi. Pangeran Mingi yang sedang memacu langkahnya menabrak dinding batu karena kehilangan arah. Suara makian dan benturan senjata mulai terdengar di dalam kabut.

Wooyoung memanfaatkan momen itu. Ia melompat dari satu dahan ke dahan lain dengan kecepatan yang mustahil diikuti mata biasa. Ia bergerak seperti bayangan yang menyatu dengan dedaunan hitam.

Tiba-tiba, dedaunan di depannya berdesis.

Sebuah tanaman merambat yang ujungnya berbentuk seperti rahang naga melesat ke arah wajahnya. Wooyoung tidak panik. Ia memutar tubuhnya di udara, menghunuskan belati peraknya dalam satu gerakan melingkar yang sempurna.

Srat!

Tanaman itu terpotong rapi, mengeluarkan cairan hijau kental yang mengeluarkan bau busuk. Wooyoung mendarat di atas dahan yang licin tanpa suara sedikit pun. Ia menyeka sisa cairan itu ke batang pohon, matanya menatap tajam ke depan. Di ujung koridor atas ini, ia melihat sebuah menara kecil—pos pemeriksaan pertama.

Namun, ia tidak sendirian.

Di bawah sana, San berhasil keluar dari kabut asap lebih cepat dari yang Wooyoung perkirakan. Baju zirah emas San kini kotor oleh lumpur, dan ada goresan kecil di pipinya, tapi matanya menyala-nyala karena amarah. San melihat ke atas, tepat ke arah Wooyoung yang berdiri di atas dahan.

"Kau pikir asap murahan bisa menghentikanku, Wooyoung?!" teriak San, suaranya bergema di antara pepohonan.

Wooyoung hanya menunduk, menatap San dengan tatapan yang sangat meremehkan dari balik cadarnya. Ia tidak membalas dengan kata-kata. Sebaliknya, ia mengambil sebuah belati kecil yang tidak tajam—hanya sebuah pemberat—dan melemparkannya tepat ke arah sebuah tuas tersembunyi di dinding batu di dekat San.

KLIK.

Dinding batu di samping San bergeser, melepaskan segerombolan Stymphalian Birds—burung-burung sihir dengan paruh logam yang lapar.

"Sialan kau, Jung Wooyoung!" umpat San saat ia terpaksa menghunus pedangnya untuk menangkis serangan burung-burung mekanis tersebut.

Wooyoung membalikkan badan dan kembali berlari. Ia tidak merasa bersalah. Ini adalah kompetisi. Jika San tidak bisa mengatasi beberapa burung besi, maka dia tidak layak menjadi raja.

Namun, jauh di dalam dadanya, Wooyoung merasakan denyutan aneh. Efek Aconite Moon mulai memudar lebih cepat dari biasanya karena aktivitas fisik yang ekstrem. Rasa panas mulai merayap di tengkuknya. Ia butuh mencapai tempat yang aman sebelum aromanya mulai bocor.

Ia melompat melewati jurang yang dipenuhi duri, mendarat di pelataran menara pos pemeriksaan pertama. Ia adalah yang pertama sampai. Ia mengambil lencana emas dari atas altar batu sebagai tanda bahwa ia memimpin ujian.

Wooyoung menoleh ke belakang sejenak, menatap ke arah hutan yang gelap tempat San masih bertarung. Sebuah pikiran terlintas di benaknya—pikiran yang tidak seharusnya ada di sana.

Jangan mati dulu, San. Aku ingin kau melihatku duduk di singgasana itu sebelum kau menarik napas terakhirmu.

Dengan lencana di tangannya, Wooyoung masuk ke dalam menara, menghilang ke dalam tahap selanjutnya dari neraka ini, meninggalkan jejak dominasi yang akan diingat oleh siapa pun yang berani mengejarnya.

 


 

Udara di dalam menara pos pemeriksaan terasa berat, dipenuhi dengan aroma apek dari batu-batu tua dan keheningan yang menyesakkan. Wooyoung tidak berlama-lama di sana. Setelah mengambil lencana, ia segera bergerak menuju pintu keluar di sisi lain menara, yang mengarah ke tahap kedua ujian: The Whispering Caves.

Namun, di tengah perjalanan melintasi lorong menara yang gelap, tubuh Wooyoung tiba-tiba bereaksi dengan keras.

Aagh!

Rasa sakit yang jauh lebih tajam daripada sebelumnya menyengat di kepalanya, seolah ada seribu jarum yang menusuk otaknya secara bersamaan. Ia tersentak, punggungnya menabrak dinding batu yang dingin. Cadar di wajahnya terasa mencekik. Ia mencengkeram kepalanya, mencoba meredakan denyutan gila yang menguasai dirinya.

Efek Aconite Moon mulai memudar. Bukan hanya itu, aktivitas fisik yang brutal dan pelepasan adrenalin yang tinggi telah mempercepat prosesnya. Wooyoung bisa merasakan lapisan pelindung yang ia bangun di sekeliling feromonnya mulai retak, menipis seperti kaca tipis yang terbentur keras.

Ia bisa merasakan panas mulai menjalar dari tengkuknya, menyebar ke seluruh tubuh. Aroma manis jasmine yang ia coba sembunyikan kini mulai berusaha untuk keluar, meronta dari penjara kimia yang mengurungnya.

Tidak, tidak sekarang, batinnya, panik. Tidak boleh di sini!

Wooyoung memaksa dirinya untuk berjalan. Setiap langkah adalah perjuangan. Otot-ototnya terasa seperti terbakar, dan pandangannya mulai kabur. Namun, ia tidak boleh menyerah. Ia telah melewati terlalu banyak penderitaan untuk menyerah pada titik ini.

Ia ingat kata-kata ibunya, seorang Omega yang cantik dan lembut, yang diasingkan dan diperlakukan seperti barang pecah belah karena melahirkan seorang Omega yang terlalu kuat dan terlalu keras kepala.

"Kau adalah kutukan, Wooyoung. Kau terlalu kuat untuk menjadi seorang Omega, tapi terlalu rendah di mata Alpha untuk dihargai."

Kata-kata itu, diucapkan dengan tangis, adalah api yang membakar dendam di hati Wooyoung. Ia bersumpah, ia tidak akan pernah membiarkan dirinya atau kaumnya direndahkan lagi. Takhta ini, takhta yang menganggap Alpha sebagai dewa dan Omega sebagai budak, harus ia hancurkan atau ia kendalikan.

Wooyoung tiba di ambang pintu masuk gua, napasnya tersengal-sengal. Aroma lembap dan bau belerang yang samar menyambutnya. Di dalam gua itu, ia tahu bahaya lain menanti. Bukan hanya monster, tapi juga pangeran-pangeran lain yang mungkin sudah berhasil mengejarnya.

Ia mencabut sebuah vial kecil lagi dari sakunya, isinya hanya tersisa sedikit—ramuan penekan darurat yang lebih lemah. Tanpa ragu, ia menenggaknya. Rasa pahit yang sama, namun efeknya tidak sekuat Aconite Moon. Hanya sebuah penunda.

"Sial," desisnya, suaranya kini terdengar lebih mirip desahan daripada ancaman. Ia menyentuh tengkuknya, di mana segel sihir penekan berdenyut dengan rasa sakit yang tumpul.

Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki dari lorong di belakangnya. Cepat dan berat. Itu San.

Wooyoung segera memaksakan tubuhnya untuk berdiri tegak. Ia memperbaiki cadarnya, meskipun ia tahu keringat dingin telah meresap ke kain itu, dan mungkin, sedikit aroma dirinya sudah mulai bocor.

San muncul di ambang pintu menara, melangkah masuk dengan pedang terhunus. Wajahnya terlihat tegang, dan ada beberapa goresan baru di zirah emasnya. Ia melihat Wooyoung yang berdiri membelakanginya, di ambang pintu gua.

"Kau cepat juga, Anjing Hitam," San berkata, suaranya masih mengandung nada ejekan, namun ada sedikit kelelahan di sana. Ia mengibaskan pedangnya, membersihkan sisa darah monster yang menempel. "Tapi sepertinya ada yang tidak beres denganmu. Apa yang kau sembunyikan di balik cadar itu? Kau terlihat seperti... akan tumbang."

Wooyoung berbalik perlahan, matanya yang tajam menatap lurus ke arah San. Ia berusaha menyembunyikan rasa sakit di balik tatapan matanya. "Hanya kelelahan karena harus menunggu Pangeran Manja seperti dirimu. Kau terlalu lambat, San. Apa kau berharap mahkota itu akan datang sendiri menghampirimu di atas bantal beludru?"

San menggeram. Ia mendekat, melangkah melewati lencana emas di atas altar. Ia melihat Wooyoung dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mata Alpha-nya yang tajam memperhatikan setiap detail: bahu Wooyoung yang sedikit gemetar, napasnya yang tidak teratur, dan yang paling mencurigakan, aroma samar yang kini sedikit lebih kuat dari sebelumnya.

Itu masih bau bahan kimia, namun ada sesuatu yang lebih dalam di sana. Sesuatu yang terasa manis di bawah lapisan pahit. Sesuatu yang membuat insting Alpha San bereaksi aneh—bukan agresif, tapi... tertarik. Seperti ada bagian dari dirinya yang ingin mendekat dan mengidentifikasi aroma itu lebih jauh.

"Aromamu tidak menyenangkan," kata San, menyipitkan mata, mencoba memahami apa yang ia cium. "Ada sesuatu yang salah denganmu. Kau sakit?"

"Aku tidak sakit. Aku hanya ingin memastikan kau tahu bahwa kau akan kalah hari ini," jawab Wooyoung, suaranya dipaksakan agar tetap terdengar kuat. Ia tidak bisa membiarkan San menciumnya. Tidak sekarang.

"Jangan sombong. Kau baru saja unggul di tahap pertama," kata San. "Labirin ini belum berakhir. Dan aku akan pastikan aku yang akan menghancurkanmu, Wooyoung."

Wooyoung hanya memberikan senyum tipis di balik cadarnya. Ia tidak membalas. Tanpa membuang waktu, ia melangkah masuk ke dalam Whispering Caves, meninggalkan San di belakangnya. Ia harus menemukan tempat yang aman. Ia harus menemukan ramuan penekan dosis tinggi yang tersembunyi.

Namun, saat ia melangkah masuk ke kegelapan gua, ia tidak menyadari bahwa ia baru saja menarik perhatian San sepenuhnya. Aroma samar yang ia coba sembunyikan telah berhasil menarik perhatian sang Alpha, menanamkan benih pertanyaan yang akan mengubah segalanya

 


 

Langkah kaki Wooyoung meredam saat ia memasuki Whispering Caves. Sesuai namanya, gua ini memiliki akustik yang aneh; setiap tetesan air yang jatuh dari stalaktit terdengar seperti bisikan manusia yang sedang mengadu. Dinding gua dilapisi oleh kristal obsidian yang memantulkan bayangan samar, membuat siapa pun yang masuk merasa seperti sedang diawasi oleh ribuan mata.

Wooyoung menyandarkan tubuhnya ke dinding gua yang dingin, mencoba menstabilkan napasnya. Rasa mual itu kembali, lebih kuat dari sebelumnya. Di dalam kegelapan ini, ia tidak perlu berpura-pura tegar. Ia merosot duduk, memegangi dadanya yang berdenyut kencang.

"Sialan... kenapa obatnya memudar secepat ini?" desisnya.

Ia tahu jawabannya. Tubuhnya sedang memberontak. Selama bertahun-tahun ia menekan instingnya, namun di bawah tekanan adrenalin dan kehadiran Alpha sekuat San, insting Omega-nya berusaha mati-matian untuk bangkit. Aroma jasmine yang halus mulai merembes keluar dari pori-porinya, mencemari bau belerang di dalam gua.

Wooyoung segera mengambil bungkusan kecil dari ikat pinggangnya. Di dalamnya ada beberapa rempah pengalih bau—kayu manis dan lada hitam yang ditumbuk kasar. Ia menggosokkan rempah itu ke pergelangan tangan dan lehernya, berusaha menutupi aroma manisnya dengan bau yang menyengat dan tidak menyenangkan. Rasa perih menjalar di kulitnya yang sensitif, tapi ia tidak peduli.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan ritmis terdengar dari arah pintu masuk.

Wooyoung segera berdiri, menghunus belatinya meski tangannya masih sedikit gemetar. Ia mengatur ekspresi wajahnya kembali menjadi topeng dingin yang tak tertembus.

San muncul dari balik kelokan gua. Cahaya dari kristal di langit-langit gua menyinari zirah emasnya, membuatnya tampak seperti dewa cahaya yang turun ke perut bumi. San berhenti beberapa meter di depan Wooyoung. Ia menyarungkan pedangnya, namun matanya menatap Wooyoung dengan intensitas yang berbeda dari sebelumnya.

"Kau bersembunyi di sini, Anjing Hitam?" suara San menggema, memantul di dinding gua. "Kupikir kau sudah melesat jauh ke depan. Ternyata kau hanya seekor serigala yang sedang menjilati lukanya sendiri."

Wooyoung menegakkan punggungnya, menatap San dengan dagu terangkat. "Aku hanya sedang menikmati kesunyian sebelum aku harus kembali berurusan dengan suara berisikmu, San. Apa kau kelelahan mengejarku? Kau terlihat sedikit... berantakan."

San melangkah maju, satu langkah, dua langkah. Ia mengendus udara dengan tajam. Alisnya bertaut. "Bau apa ini? Kau berbau seperti bumbu dapur dan bahan kimia busuk. Apa kau mencoba memasak di tengah ujian, atau kau memang tidak pernah mandi?"

Wooyoung mendengus kasar. "Bukan urusanmu. Pergilah lewat jalur lain. Gua ini memiliki banyak cabang. Aku tidak sudi berbagi udara denganmu."

Alih-alih pergi, San justru mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa dua langkah. San adalah seorang Alpha yang memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak sinkron antara penampilan luar Wooyoung dan energi yang ia rasakan.

"Kau tahu, Wooyoung," San merendahkan suaranya, masuk ke mode intimidasi yang lebih halus. "Di Kaltos, ada legenda tentang mereka yang mencoba menipu takdir. Mereka menggunakan sihir untuk menyembunyikan siapa mereka sebenarnya. Tapi alam selalu punya cara untuk membongkar kebohongan itu."

Wooyoung merasakan jantungnya berhenti berdetak sejenak. "Legenda hanyalah dongeng untuk menakuti anak kecil, San. Apa kau ketakutan?"

"Aku tidak takut," San condong ke depan, wajahnya kini sangat dekat dengan cadar Wooyoung. "Hanya saja... aku mencium sesuatu yang sangat menarik di balik bau lada ini. Sesuatu yang terasa seperti... bunga yang sedang mekar di tengah badai."

Mata Wooyoung membelalak. Ia segera mengayunkan belatinya ke arah leher San, namun dengan refleks yang luar biasa, San menangkap pergelangan tangan Wooyoung. Kekuatan San sangat besar, mencengkeram tulang pergelangan tangan Wooyoung hingga pemuda itu mengerang tertahan.

"Jangan pernah mencoba mengarahkan senjata padaku lagi jika kau tidak berniat untuk benar-benar membunuhku," geram San.

Mereka terkunci dalam posisi itu—San mencengkeram tangan Wooyoung, dan Wooyoung menatapnya dengan kemarahan murni. Pada saat itu, udara di antara mereka seolah tersulut api. Ada tarikan magnetis yang aneh, sebuah tegangan yang melampaui kebencian.

Wooyoung bisa merasakan panas dari tangan San merambat ke kulitnya, memicu reaksi kimia di dalam darahnya yang seharusnya ditekan oleh obat. Pupil matanya membesar. Bagian kecil di dalam dirinya—bagian yang ia benci—ingin menyerah pada sentuhan itu.

"Lepaskan aku, San!" Wooyoung menyentakkan tangannya dengan kekuatan penuh, berhasil membebaskan diri. Ia mundur beberapa langkah, dadanya naik turun dengan cepat.

San menatap telapak tangannya sendiri, seolah masih bisa merasakan kelembutan kulit Wooyoung di balik sarung tangan kulitnya. "Kulitmu... terasa terlalu halus untuk seorang petarung perbatasan."

"Tutup mulutmu!" teriak Wooyoung. Ia berbalik dan berlari masuk lebih dalam ke lorong gua yang paling gelap, mengabaikan rasa sakit di tubuhnya.

San tidak mengejar secara agresif kali ini. Ia berdiri di sana, di tengah kesunyian gua yang berbisik, menatap bayangan Wooyoung yang menghilang. Ia menyentuh hidungnya, mencoba menangkap kembali sisa aroma bunga yang sempat ia hirup tadi.

"Siapa kau sebenarnya, Jung Wooyoung?" gumam San pada kegelapan.

Kebenciannya masih ada, namun kini ia ditemani oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: obsesi. San tahu, ujian ini tidak lagi hanya tentang mahkota. Ini tentang membongkar topeng pria misterius dari Selatan itu.