Chapter Text
Damar rasa ia pernah mendengar seseorang berkata kalau cinta tidak seharusnya membuat kamu menggigit lidah sendiri dan merasa ragu, atau bahkan merasa dikalahkan. Cinta tidak seharusnya terasa seperti kuasa bengis yang membawa kamu pada keputusasaan. Cinta tidak sepatutnya membawa kamu merasakan sesuatu yang mencekik hanya karena berbagi napas yang sama. Cinta tidak seharusnya terasa seperti sedemikian rupa. Damar tahu. Damar tahu benar kalau cinta seharusnya tidak seperti itu.
Lantas, mengapa?
Damar membenamkan kepala di atas bantal. Kamar kosnya terasa hening dengan langit sore yang kian menyembunyikan semburat jingganya dan berganti dengan gelap malam. Ponselnya sengaja ia matikan daya untuk menghindari semua distraksi yang ada, sebab ia hanya ingin ditinggalkan bersama diri sendiri saat ini. Konfliknya bersama Isa seolah mengambil semua tenaga hidupnya yang tersisa dan Damar tidak tahu lagi bagaimana harus bangkit. Seluruh panjang lengannya dibiarkan menutupi mata yang sedang dipejamkan erat ketika satu dengung sakit kepala mendadak menghampirinya lagi. Ia baru ingat jika kemarin malam ia sempat lupa mengonsumsi magnesiumnya dan sekarang kepalanya bak tengah dihantam gada raksasa.
Lengannya ditepikan sedikit, membuat satu mata Damar kini memperhatikan langit-langit kamar kos yang seolah sedang menghakiminya terang-terangan. Bodoh, Damar. Begitu katanya. Begitulah bagaimana rasanya Damar melihat diri sendiri dari balik refleksi kacanya; pantulan kuyu di wajah dengan mata yang patetis. Bodoh kamu, Damar. Begitulah bagaimana suara di dalam kepalanya mencoba memaki-maki si pemilik kerangka. Bodoh sekali kamu, Damar. Bodoh, bodoh, bodoh. Isinya cuma Damar yang sibuk mengutuk diri sendiri.
Damar mengembuskan napas berat. Lalu bangkit terduduk di atas kasurnya dan membungkam wajah dengan kedua telapak tangan.
Cinta tidak seharusnya terasa serumit ini, bukan begitu?
Padahal, Damar cuma jatuh cinta.
Hal paling pertama dari yang ia ingat dalam kesadarannya adalah betapa ia mengagumi Isa sebagai orang yang sangat indah. Kesadaran kedua kemudian datang sebagai bentuk peringatan bahwa mungkin Damar sekadar kagum saja. Tidak mungkin jatuh cinta. Namun semua hal itu dipatahkan salah ketika ia mengantar Isa pulang dari kafe malam hari itu dan ia merasakan dadanya berdegup kencang. Mungkin ia jatuh cinta. Hanya mungkin, belum pasti, sebab tidak ada yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Damar tidak percaya pada konsep yang seperti itu. Cinta harusnya adalah rentetan momen yang telah dipadu-padan menjadi satu dan diuntai hingga menciptakan bentuk yang bisa dieja, dilihat, dijamah, dan dirasakan. Begitulah bagaimana pada kesadaran keempatnya, ia memutuskan untuk mencintai Isa secara tak bersyarat—tanpa status yang mengekang, sebab jauh di dalam lubuk hatinya, Damar tahu ia tidak pantas bersanding di sebelah si lelaki.
Ia harusnya tahu jika Isa adalah satu kuasa yang seharusnya tidak ia sentuh. Ia harusnya tahu ada harga lebih yang harus dibayar untuk mencintai seseorang se-indah Isa. Damar harusnya tahu benar untuk menyiapkan kantong dengan opsi melangkah mundur jika itu berarti mencintai Isa sama dengan mengayunkan bendera perang terhadap dirinya sendiri dan kewarasannya.
Ketika mendengar suara ketukan pada pintu kamar, Damar menoleh terkejut. Ia mengusap wajah kasar, kemudian bangkit dan melangkah guna membuka pintu sebelum suatu kesadaran tiba-tiba menghantamnya.
Bagaimana jika itu Isa?
Tangan Damar membeku di udara, tepat di dekat kenop. Damar mendekatkan diri ke daun pintu, menempelkan telinganya di sana guna mendengarkan siapa yang mungkin berada di balik pintu itu.
“Siapa?” tanyanya.
Tidak ada jawaban yang dilemparkan.
“Halo, siapa?” tanya Damar kembali. “Kalau kamu nggak jawab, aku nggak bakal buka pintu.”
Tidak ada jawaban yang dilemparkan, lagi.
Sepertinya benar itu Isa.
Damar mengembuskan napas, berusaha tenang. “Kalau kamu Kak Isa, aku nggak bakal buka pintunya,” sambung Damar. “Pulang aja, Kak. Sia-sia kamu nunggu di sini sampai aku buka pintu.”
Satu ketukan pintu dari luar dikirimkan kembali dan Damar merasa seperti sedang dipermainkan. Damar menggertakkan rahang. Rasa-rasanya, itulah kelemahan Damar paling utama: mudah jatuh dan terperangkap dalam permainan.
“Aku nggak bakal buka pintu, kamu denger aku, ‘kan? Aku nggak akan ulangin berkali-kali.”
Tak lama setelahnya, ketika Damar pikir semua tekanan itu telah reda dan Isa mungkin memilih menyerah, ia jelas salah sangka. Sebab momen selanjutnya adalah satu yang berupa neraka. Ketukan di pintunya berubah cepat, terburu, tak berirama, dan mensufokasi. Damar yang sensitif pada suara kencang tak punya pilihan lain selain membuka pintu dan mau tak mau menemukan Isa yang dengan cepat menerobos masuk ke dalam kamar kosnya dengan tekanan tubuh yang memaksa.
Damar mencengkeram kedua lengan Isa kuat. Ia mendorong Isa ke pintu usai menutupnya. Alisnya ditautkan dan tak bisa mengontrol rasa kesalnya ketika menyemprot, “Kamu apa-apaan, sih?”
“Dam,” Isa buka suara setelahnya. “Dam, maafin aku. Please, maafin aku.”
“Nggak ada yang perlu dimaafin dari kamu,” ucap Damar. “Kamu nggak salah, akunya aja yang bodoh karena mau sama kamu.”
“Don’t say that.” Isa memberengut, menggelengkan kepala, “Jangan bilang seolah kamu nyesel kenal sama aku gini.”
“Memang itu kenyataannya.” Damar mencengkeram lengan Isa lebih kencang, “Aku nyesel kenal kamu.”
Isa mengendikkan bahu. Setelahnya, tanpa bisa Damar duga, Isa jatuh pada kedua lututnya lalu meremat pakaian Damar di bagian perut erat. Hal itu sontak membuat Damar terperanjat, mencoba melepaskan genggaman tangan Isa dari pakaiannya. Ia cukup terkejut sebab dalam kepalanya, ia tak pernah menyangka orang seperti Isa akan berlutut untuk orang remeh-temeh sepertinya.
“If I really have to beg, then I will.” Isa melingkarkan kedua lengannya di pinggang Damar, menempelkan kepalanya pada perut Damar, memenjarakan Damar dalam dekapannya. “Please, listen to me this one time.”
Damar menggelengkan kepala. “You know I don’t wanna hear it.”
Isa mengeratkan lengannya pada pinggul Damar, kemudian dengan gila, mengambung bagian selangkangan Damar. Si lelaki terkejut hingga harus berpegangan pada tembok yang berada di samping.
“Kak Isa, lo ngapa—eugh! Stop! Stop!”
Isa lanjut menciumi bagian selangkangan Damar, sampai cetakan jelas kelamin Damar dari luar celana. Damar dengan kuat mencoba mendorong kepala Isa untuk menjauh, tetapi ia justru mencengkeram tubuhnya lebih erat.
Ia benci diperlakukan seperti ini oleh seseorang yang bayangannya ia junjung indah.
“You know what? Okay, okay. I’ll listen to you if you promise me you’ll go afterwards.” Damar kemudian memutus paksa putaran lengan Isa, lalu terduduk untuk menyamakan tingginya dengan lawan bicara. “What is it?”
“Kalau nggak sama kamu, aku nggak bisa,” Isa menggelengkan kepalanya. “I love you too much, I’m practically nothing without you.”
Damar menarik senyum pahit. Selama bersama Isa, kata cinta bukanlah satu yang sering ia ucapkan. Damar mengerti letak akar permasalahannya—karena mereka bukan sepasang kekasih, dan cinta adalah sesuatu yang sakral untuk Isa. Damar mengerti seberapa tinggi Isa meletakkan cinta di antara narasi apapun yang mereka bagi. Sekarang, ketika Isa mengucapkannya di tengah jalinan asa yang telah pecah, ia merasa kata-kata itu tidak lagi menggugahnya, ataupun menyenangkannya. Hal itu hanya menyakitinya lebih dalam lagi. Karena ketika cinta Isa baru dimulai, cinta Damar telah berakhir.
Memegangi kedua bahu Isa, si lelaki lantas berkata dengan berat hati, “You’re not in love. You’re just lonely, and you want me to fill your void. The thing is, I can never fill that, no matter how much love I gave to you.”
Sesuatu baru saja menarik pelatuk di hadapan dahinya, dan Isa merasa mati rasa di dalam tubuh sendiri. Tidak, tidak, tidak. Ia tidak ingin mendengar itu.
Isa mendongak, dengan tatapan yang terkorupsi oleh amarah. Dengan napas terburu, ia lalu meraih kerah baju Damar, mendorongnya hingga terjatuh dan terantuk ke lantai yang dilambari karpet. Kemudian ia menaiki tubuh Damar, menekan bebannya di atas tubuh lelaki yang lebih muda, dan mencengkeram kerah bajunya.
“Don’t you dare say that in front of me. I’m not lonely,” ucap Isa, beringas, masih dalam keadaan mengekang kerah baju Damar pada cengkeramannya. “I’m hurt. And I won’t let myself get hurt again. Not by you.”
“Really? You’re hurt?” balas Damar, sedikit tersedak. “Do you realize who’s hurting who now?”
Ketika menyadari apa yang telah ia lakukan, Isa lalu menyingkir dari atas tubuh Damar dan melepas cengkamannya. Damar terbatuk-batuk, mencoba meraup oksigen sebanyak mungkin akibat akses oksigen yang dihambat selama sejenak.
“Damar, I’m sorry I didn’t mean it.”
“You meant it,” serak Damar. “You don’t like it when someone tells you in your face that you’re lonely? Did it hurt you? Bruised your ego? Did that offend you because you know that it’s true?”
“Don’t say that."
Damar berdiri dari duduknya, meninggalkan Isa yang masih terduduk sendirian. Isa meringkuk pada dinding, menyandarkan kepalanya di sana.
“I hate you, the same amount that I used to love you.”
“No, please, Damar—”
“Why don’t you just … leave already? I’ve heard what you were trying to say.”
Isa menggelengkan kepala. Kemudian ia bangkit. Si lelaki menyabet tangan Damar, dan menariknya. “If you really hate me, then punch me in the face.”
“What?”
“Kalau kamu benci aku, kamu boleh pukul aku. Tendang aku. Jadiin aku boneka kamu buat dimainin. Apa aja. Asal jangan benci aku, Damar.”
“Kamu gila, ya?”
“Kalau kamu bener benci aku, harusnya nggak susah buat kamu ngelakuin itu.”
“Doesn’t mean I would voluntarily hit you, or anyone.”
“Just hit me!”
“Stop this!” Damar menyentuh kepala Isa dan menekannya dengan telunjuk. “You’re not in the right state of mind.”
Isa menarik tangan Damar yang ada di kepalanya, “I’m aware of it.”
Lelaki Eknath itu kemudian menarik rahang Damar dan menciumnya paksa. Damar berusaha memutus pagutan dengan mendorong Isa menjauh, tetapi tubuhnya yang lemas tidak bisa berkompromi dengan tenaga Isa yang kini jauh lebih kuat. Isa menggiring tubuh mereka ke kasur, lantas menjatuhkan Damar di atas ranjang.
“What are you doing—no, get down from me.” Damar berusaha bergerak bebas dari Isa yang kini menindihi tubuhnya. Isa merunduk, lanjut membungkam Damar dalam kecupannya hingga Damar tak bisa bernapas dan berbicara.
Cinta tidak seharusnya terasa serumit ini.
Damar, merasa putus asa dan tak bisa memilih jalan keluar yang lain, memilih untuk memenuhi keinginan Isa—melayangkan tamparan di pipinya kencang. Membuat Isa terdiam untuk sejenak sambil merasakan pipinya yang panas.
“Kak, I’m—I’m sorry, I didn’t mean to.”
“That feels better.” Isa menelan saliva kepayahan, “He used to slap me harder than that.”
“He—who are you talking about?”
Isa turun dari tubuh Damar, kemudian merosot jatuh ke lantai. Ia memegangi kepalanya, lalu terdengar suara isakan dari belakang punggung. Damar dengan terburu turun dan menghampiri Isa hanya untuk menemukannya menahan tangis.
“He ... also used to say the same thing. That I'm lonely. That I'm empty. But I was lonely when I was with him. I’d do anything so he’d stay by my side. I’d let him fuck me mercilessly, call me ugly things. But with you, I feel love and compassion I’ve never felt before, Damar. I never knew such love existed until I was with you, so I didn’t know what to do.” Isa meraih baju Damar agar tubuhnya mendekat, meringkuk dalam dekapannya. “What I feel with you is certain. It’s love. And I don’t want to lose you too. It’ll break me.”
Isa datang dari tempat di mana tanahnya dipijak kerap dijatuhkan atas bayang-bayang bahwa itu semua adalah cinta—Damar mengerti soal fakta yang satu itu. Namun—
“Being with you hurts me too, Kak Isa. It’s tearing me apart.” Damar mengelus kepala Isa, “I’m sorry, but you're gonna have to let me go.”
“Terus aku sama siapa, Dam?”
“You’ll be okay without me,” balas Damar lagi. “Love will find you again, eventually, when you’ve finished with your own pain. Love will heal you if you’ve healed yourself. And now is not the time, nor I’m the person.” []
