Actions

Work Header

No ID.

Summary:

Suo rela melakukan apapun, asal itu dapat meyakinkan Sakura bahwa afeksi yang ia berikan bukan sekadar karena mereka sudah terlanjur berteman lama.

[Inspired by Ryosuke Yamada - No ID].

Notes:

bagian dari fic yang aku post di x, sahabat tiba-tiba nikah? universe.
can be read as stand-alone but i will really appreciate it if you try to give it a click! >____<

Work Text:

Ruangan itu masih dihinggapi keheningan beberapa saat setelahnya.

Sakura masih dalam posisi duduk dengan lututnya yang bersinggungan dengan Suo. Tangannya terlihat menyentuh lututnya dengan ragu, seakan tidak tahu apa yang harus dilakukan setelahnya. 

Pandangannya turut berganti dalam waktu singkat; lantai, dinding, pintu, tangzhuang lengan pendek yang dikenakan Suo, loose pants yang dikenakan Suo, lantai, dinding, begitu seterusnya seolah menghindari agar tidak menatap langsung wajah suaminya.

Ingatan tentang hal-hal yang terjadi sebelumnya tak sengaja terputar kembali. Dirinya yang bertukar pesan dengan Suo untuk menuntaskan segala sesuatu yang terjadi pada mereka, dirinya yang tak sengaja menangis, Suo yang tiba-tiba menghampiri dan sudah berada di sampingnya, menghujaninya dengan kata-kata yang menenangkan dan meyakinkan if their feelings are mutual, hingga memutuskan untuk berciuman pertama kali. 

Sakura merasa wajahnya menghangat. Napasnya sudah mulai stabil dibandingkan saat ia tengah menangis tadi, like he is finally catching up to himself.

Suo menyadarinya.

Ia menyadari bagaimana jemari Sakura kerap menggenggam dan melepas berulang kali. Bagaimana pundaknya terlihat lebih tegap, tampak tegang seakan memikirkan sesuatu yang cukup berat.

Bertahun-tahun memiliki hubungan pertemanan di antara keduanya, ternyata masih ada sisi lain Sakura yang belum ia ketahui. 

“Lo lucu juga kalo lagi diem.” ujar Suo, sebisa mungkin menahan diri agar tidak terdengar meledek.

Tentunya ditanggapi oleh Sakura dengan tatapan sinis dan wajah yang memerah seperti biasanya.

“A—” mulutnya terbuka, tertutup, terbuka kembali, yang menandakan jika ia sedang merasa salah tingkah. “Apa sih?!?”

Reaksi Sakura tersebut berhasil memancing Suo untuk tertawa. Ia mendorong dirinya, memposisikan agar dapat berada di sebelah Sakura tetap dalam posisi duduk. 

Sakura menggeram pelan, seakan memberi isyarat bahwa ia tidak mengizinkan Suo untuk berada di sampingnya. Namun Suo tahu, Sakura was just embarrassed, because Suo couldn’t help noticing how obvious Sakura’s blushing face had become.

Suo tersenyum sendiri setelah memikirkan bahwa Sakura bisa se-salah tingkah ini karenanya. Ekspresinya melembut, yang mulanya berniat untuk semakin meledek Sakura jadi melebur. Memutar tubuhnya 90 derajat, pandangannya langsung beradu dengan si surai dwiwarna di hadapannya.

Tatapan mereka terpaku satu sama lain, membuat udara yang melingkupi mereka terasa lebih hangat. 

Kali ini, Suo yang memutus jarak antara mereka. 

The kiss settled between them with more confidence than the first. Still gentle, but no longer hesitant. 

Dua ranum tersebut bersentuhan dan membiarkan mereka tetap seperti itu sedikit lebih lama. Seolah mengikis waktu yang berjalan, tidak ada salah satu dari mereka yang memilih untuk melepaskan diri.

Sebelum Suo tersadar kalau ia belum melontarkan pertanyaan kepada Sakura untuk menciumnya lagi. 

Dirinya baru saja hampir menyudahi kecupan mereka sebelum menatap pada sosok di hadapannya.

Sakura, dengan netra yang terpejam, memilih untuk mengikuti alur yang Suo ciptakan untuknya. Mendorong sedikit pagutan yang masih terjalin, seakan-akan memberi tahu Suo bahwa ia tidak menolak meski melakukannya tanpa bertanya terlebih dulu.

Suo tersenyum, merasa lega. Jantungnya berdebar lebih cepat, in a way that he felt new, frightened, and excited all at once. Akhirnya ia memilih untuk turut memejamkan matanya agar dapat lebih merasakannya semakin dalam.

Setelah mengakhiri sejenak agar masing-masing dapat mengambil napas, kedua ranum itu kembali dipertemukan. Kali ini lebih lambat, kecupan-kecupan yang ada masih terasa lembut.

Namun, seiring berjalannya waktu, kecupan tersebut berangsur-angsur menjadi terasa lebih kasar. Lidah mulai dilibatkan, menciptakan hisapan-hisapan yang membuat suara kecipak mulai terdengar di antara mereka. 

Accelerando yang berubah menjadi stringendo. Kecupan lembut yang perlahan dan bertahap menjadi semakin cepat, mulai berganti dengan tergesa-gesa. 

Keduanya sama-sama seperti orang kesetanan yang hanya ingin mencumbu satu sama lain, tidak peduli oksigen yang terhirup mulai berkurang sedikit demi sedikit—

Mmmh—“

Ada suara asing yang terdengar di antara mereka, cukup membuat baik Suo dan Sakura terdiam beberapa saat. Suo memundurkan tubuhnya sedikit, tidak peduli dengan benang saliva yang menjuntai dari kedua bibir mereka. 

Sakura menunduk dengan wajah yang memerah. Entah karena hampir kehabisan napas setelah apa yang mereka lakukan, dan— 

I- I’m sorry,” bisik Sakura perlahan, hampir tidak terdengar. “Gue nggak bermaksud—”

You didn’t do anything wrong.” kata Suo sembari tersenyum lembut, berharap agar bisa menenangkan Sakura secara tidak langsung. “Lo nggak apa-apa?”

Sakura mengangguk pelan, masih merasa malu karena tidak sengaja mengeluarkan suara tersebut. 

Keduanya termenung beberapa saat. Sakura yang masih merasa terlalu malu untuk berbuat apapun, sedangkan Suo yang rela menunggu Sakura agar merasa lebih baik.

Perlahan, Sakura mengarahkan pandangannya kembali ke Suo. Dahinya mengernyit ketika menyadari Suo secara tidak langsung kembali menunjukkan ekspresi ragu-ragu, sama seperti sebelum mengajaknya berciuman. Apalagi ketika sepersekian detik mata mereka bertemu, Suo mengalihkan pandangannya ke sisi lain.

“…we should probably move,” gumam Suo pelan, dari nadanya masih terdengar penuh kehati-hatian.

Sakura mengerjapkan matanya, bingung. “Pindah ke…?”

Suo melirik sekilas ke arah ranjang, kembali lagi ke arah Sakura. 

Just somewhere more comfortable,” ujar Suo, mengisyaratkan sesuatu, tapi masih dengan penuh hati-hati. “Only if you want.”

Sakura knows.

Sakura paham betul apa maksud Suo, meski telah berusaha agar tidak mengatakannya secara langsung.

He realized that this wasn’t just about feelings anymore. That somewhere between the first kiss and the second, something had shifted. 

Meski tidak disengaja dan tidak diungkapkan dengan kata-kata yang tidak berani mereka ucapkan, keduanya sama-sama tahu kalau mereka sudah menginginkan satu sama lain saat ranum mereka bertemu kembali.

He also realized then, with a strange mix of excitement, fear, and warmth, this could go somewhere else.

Dan Sakura paham kalau Suo juga merasakan hal yang sama.

Ketika ia beranikan diri untuk mengalihkan pandangnya ke arah Suo,  sosok itu sedang menatapnya. Bukan dengan tatapan tajam atau mengintimidasi, tapi penuh perhatian. 

That was the part that made Sakura’s chest ache. 

Suo tidak menarik dirinya seperti ketika mereka berciuman sebelumnya. Tidak menggodanya seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak juga pura-pura tidak menyadarinya. 

Ia hanya menjadi diri sendiri seperti biasanya, tenang, seakan berkata pada Sakura: It’s okay, I won’t rush you.

Suo nggak bakal maksa, Sakura tahu itu.
dan kalau gue minta berhenti, dia pasti nerima. 

Raut wajah Sakura kembali menghangat. Ia tidak menatap Suo ketika mengangguk, tetapi jawabannya dapat ia katakan dengan mudah. 

“… Okay.”

Ketika Suo berdiri dan mengulurkan tangannya, Sakura menerimanya tanpa ragu. Tangan mereka saling bertautan ketika Suo menuntun mereka ke arah ranjang. 

Satu dorongan pelan dan Sakura sudah berbaring. Suo memposisikan dirinya berada di atas, tangannya bertumpu di sisi kanan dan kiri kepala surai monokrom. Jaraknya terlalu dekat sampai mereka bisa merasakan hembusan napas masing-masing. 

Suo memutus jarak untuk menyatukan dua ranum mereka. Keduanya saling menghisap secara terburu-buru, seakan berusaha agar bisa selalu mengingat sensasi basah yang ditimbulkan. 

Ciuman mereka berangsur berganti menjadi lebih lembut, terasa menenangkan, sebelum Suo mengikis sedikit jarak mereka kembali. Dalam sekali gerakan, ia bergerak agar dapat membuka sedikit kedua kaki Sakura dan memposisikan diri agar lututnya dapat bertumpu diantara keduanya. 

Sakura tersentak, suaranya sampai tertangkap oleh indra pendengaran Suo. Ia menarik dirinya sedikit untuk melihat kembali wajah Sakura. Pipi merona, pupil mata yang membesar, bibirnya terbuka sedikit—Sakura pasti terkejut.

“Lo nggak apa-apa?” tanya Suo, berbisik pelan.

Sakura mengangguk. “I just… Didn’t expect you to—”

Suo tersenyum menenangkan, ibu jarinya mengusap pipi Sakura perlahan. “Push you a little?”

Sakura mengambil napasnya kembali yang sempat tertahan. “… Yeah.”

You can tell me to stop anytime,” kata Suo. “I mean it.”

Tak ada jawaban dari Sakura, tapi tangannya terjulur untuk mendorong tengkuk Suo agar kembali menyatukan ranum mereka. 

Baik Sakura maupun Suo memilih untuk memejamkan mata, ingin merasakan lebih sensasi lembut dan basah ketika ranum mereka beradu.  Lidah Suo bergerak untuk memandu milik Sakura untuk mengeksplor rongga mulut masing-masing. 

Suara kecipak yang tercipta dari peraduan bibir mereka membuat atmosfer di sana menjadi semakin panas, ditambah dengan lenguhan dan desahan yang membuat mereka semakin candu dan enggan melepaskan pagutannya begitu saja.

Ciuman mereka terhenti setelah Sakura mendorong pundak Suo, memberi sinyal bahwa dirinya hampir kehabisan nafas. Suo, dengan terpaksa, menarik tubuhnya perlahan, mengusap benang saliva yang terjulur di antara kedua bibir mereka. 

Butuh beberapa saat bagi Suo dan Sakura untuk menghirup oksigen dan menstabilkan napas mereka. Suo kembali menatap Sakura untuk memastikan dirinya baik-baik saja, sebelum terkesiap dengan apa yang ia lihat. 

Sakuranya, saat ini berbaring di bawahnya dengan tatapan sayu, wajah memerah yang serupa dengan bibirnya yang sedikit membengkak. Kemudian, sisa-sisa saliva yang masih berada di sudut bibir Sakura, serta keadaan Sakura yang masih terengah-engah—

Suo memejamkan matanya dengan kuat, berusaha menetralisir pemikiran-pemikiran yang sudah membuatnya merasa akan lepas kendali. Dirinya tidak ingin bahwa kali pertamanya dengan Sakura akan berakhir menjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan membuat hubungan mereka menjadi memburuk.

Namun, Suo mengaku kalah. Seolah membiarkan sisi lain darinya untuk mengambil alih.

Suo menggeram perlahan, mulai membenamkan wajahnya di ceruk leher Sakura. 

You will be the death of me…” Suo menghirup leher Sakura dalam-dalam, “… Haruka.”

Ada sesuatu dari dalam diri Suo yang membara ketika ia merasakan Sakura bergerak pelan, menggeliat; entah karena merasakan deru napasnya di bagian tubuh yang sensitif, atau karena mendengar namanya terpanggil, atau mungkin keduanya?

Tidak ingin mempermasalahkannya lebih lanjut, Suo mulai memberikan kecupan-kecupan di sepanjang leher Sakura. Ia memilih untuk menyisipkan beberapa jilatan secara perlahan, sebelum mulai tergantikan dengan gigitan.

N-nggh—!” Sakura mendesah pelan, menengadahkan kepalanya ke atas, secara tidak langsung memberikan Suo akses lebih pada lehernya.

Suo melanjutkan untuk menyesapkan bibirnya pada leher Sakura. Suara yang barusan terdengar seolah membuatnya terpacu untuk melakukannya dengan frekuensi yang lebih banyak, menantang dirinya untuk membuat Sakura mengeluarkan suara itu kembali.

Entah sudah berapa lama setelah Suo membiarkan dirinya di ceruk leher Sakura. Beberapa bekas keunguan telah terbentuk di beberapa sisi, tapi belum ada keinginan baginya untuk berhenti. 

Suara desahan yang tak jarang dikeluarkan Sakura juga memantik dirinya untuk melakukan hal yang sama berulang kali. Ia kembali menggigit salah satu sisi leher Sakura yang belum terjamah—

“Hayato… Hhh—, stop…”

Suo terkesiap. Kesadarannya berangsur kembali ketika menyadari suara yang berasal dari Sakura barusan berbeda.

Ia berhenti, menjauhkan wajahnya dari leher Sakura agar dapat menatapnya. Perasaan bersalah mulai menghinggapi Suo ketika pandangnya bertemu Sakura yang tengah berkaca-kaca. 

I- I ended up hurting you again,” bisiknya perlahan, matanya terpejam karena tidak sanggup menatap ke arah Sakura. “I’m sorry, I will stop here—“

Perkataan Suo terputus saat pundaknya didorong sedikit kuat oleh Sakura, membuat mereka berada dalam posisi duduk. Kali ini giliran Sakura untuk bersandar pada leher Suo, satu tangan menempel di punggungnya, sedangkan sisi lainnya meraih kepalanya.

Suo had hurt him again, yet the arms that held him were still the same.

Sakura menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut, mencoba menenangkan Suo sekaligus memberi jeda pada dirinya sendiri agar rasa nyeri di lehernya bisa sedikit membaik.

Hey, I’m fine,” Sakura terkekeh pelan. Sedikit salah tingkah karena Suo masih memberikan afeksi lebih padanya, meski sebenarnya ia juga menginginkannya.

“Gue nggak tahu, hhh—, kenapa lo bisa slipped out,” Sakura tahu, tapi memilih untuk tidak mengatakannya. “But you’ve got to finish what you already started.”

“Tapi—“ you’re hurting because of me, kata-kata itu tertahan di ujung mulut Suo.

“Gue nggak apa-apa,” Sakura mendorong perlahan. “I just wanted you to come back to me.”

Suo sedikit mengangkat kepalanya, cukup untuk menatap wajah Sakura yang sekarang terlihat lebih tenang. Saat itulah Sakura mengangguk lagi, memberi lampu hijau pada Suo untuk melanjutkan.

Then… Let’s take it slow.” bisik Suo, suaranya rendah, sedikit bergetar di ujungnya.

Suo yang menatap lurus pada t-shirt yang ia kenakan, ditangkap Sakura sebagai sinyal baginya untuk mulai menanggalkan fabrik tersebut. 

Sedetik setelah Sakura melepas dan melemparkannya ke sembarang arah, Suo membawanya ke posisi yang sama—kembali berbaring dengan melebarkan kakinya agar Suo bisa memposisikan diri di antaranya.

Keduanya kembali mempertemukan ranum yang sempat terpisah. Kecupan yang mulanya terasa lembut berubah panas setelah Suo mendaratkan gigitan kecil di bawah bibir Sakura, yang disambut dengan membuka celah bibirnya.

Tak perlu waktu lama bagi Suo untuk melesakkan lidahnya dalam mulut Sakura. Ia menekan lidah, mempertemukannya dengan satu persatu gigi Sakura, membuat lelaki di bawahnya kembali mengeluarkan desahan-desahan.

Merasa oksigen yang ada di paru-paru semakin menipis, Suo melepaskan tautan bibir mereka. Ia memutuskan untuk memberi keduanya jeda sejenak untuk menghirup oksigen sebanyak mungkin. 

Sembari menunggu Sakura yang tampaknya masih membutuhkan waktu lebih panjang untuk mengendalikan napasnya, Suo membubuhkan kecupan-kecupan singkat di wajah Sakura.

Tidak ingin berhenti di sana, pagutan Suo mulai turun ke arah leher Sakura. Ia mendesis pelan, membayangkan seberapa sakit yang dirasakan Sakura saat ini karenanya. 

Pada akhirnya, Suo memilih untuk tidak kembali melesakkan bibirnya di leher Sakura dan semakin bergerak turun. Ia berhenti di atas noktah kecoklatan yang sudah menegang, mulai menjatuhkan cumbuan di sana.

Mmmh—,” Sakura bergerak perlahan, sentuhan yang ia rasakan membuatnya terasa seperti melayang.

Hisapan yang mulanya diberikan Suo perlahan berubah menjadi lebih menuntut. Tangannya bergerak menuju noktah satunya, membuat gerakan menekan, memutar, dan memilin agar mendapatkan stimulasi yang sama. 

Suo menganggap telah diberi akses lebih setelah si empunya membusungkan dadanya, tidak dapat membendung sensasi nikmat yang dirasakan. Ia bergeser agar dapat meraup noktah yang belum  tersentuh oleh bibirnya, sedang tangannya berada pada noktah satunya.

Nghh, H-Hayato—“

Mendengar suara Sakura yang bergetar, Suo sengaja mengakhiri permainan yang ia layangkan pada dua noktah tersebut. Suo tidak ingin Sakura sampai terlebih dahulu sebelum waktunya, juga terpaksa tidak mengindahkan geraman frustasi yang terlontar dari Sakura.

Suo mengarahkan tangannya untuk memegang ujung lounge pants yang masih dikenakan Sakura. Tanpa perlu bersuara, Sakura sudah paham apa yang dimaksud Suo, membiarkannya untuk menanggalkan seluruh kain yang tersisa di tubuhnya.

Ketika sudah tidak ada satu helai pun yang menutupi tubuh Sakura, Suo merasa napasnya tercekat.

Ia menelan ludahnya kasar. Netranya bergerak naik dan turun, memperhatikan dengan seksama setiap bagian raga tersebut, seakan ingin selalu menyimpannya dalam ingatan.

D-don’t stare,” ujar Sakura lirih, wajahnya terasa panas menyadari Suo tidak segera mengalihkan pandangannya dari dirinya.

Suo tersenyum tipis, sedikit merona karena ternyata Sakura menyadari bahwa ia telah memandanginya mcukup lama. “How could I bring myself to look away from such a beautiful sight in front of me?”

Sakura mencoba menggerakkan salah satu kakinya untuk menendang Suo—salah satu hal yang biasa ia lakukan ketika salah tingkah. Namun, ia masih kalah dengan reflek Suo yang lebih cepat.

Sebelum mengenai wajahnya, Suo terlebih dulu bergerak turun. Kini wajahnya tidak sengaja berada di dekat milik Sakura.

Raut wajah Sakura semakin memerah ketika menyadarinya. “Lo sengaja, kan?!”

“Nggak tuh?” Suo mengedikkan bahunya, berusaha menahan tawanya agar tidak kentara. Sakura hanya memutar matanya sebal.

Baru saja ia akan melayangkan protes, Sakura mendesis ketika Suo melebarkan kakinya, membuat gerakan-gerakan memutar pada bibir luar liangnya. Sakura, yang tidak pernah menjamah bagian itu sebelumnya, merasa tergelitik dengan sensasi baru yang ia rasakan.

Suo masih menggerakkan jarinya dalam posisi yang sama sampai Sakura menggeram tertahan. “Stop teasing me, you bast—“

We don’t have the lube, aren’t we?”

… oh.

Sakura terdiam, secara tidak langsung mengiyakan. Baik dirinya dan Suo tentunya tidak menyangka kalau hubungan mereka akan sampai pada tahap ini, secepat ini. Pastinya mereka belum akan mempersiapkan apa saja yang akan diperlukan saat menghadapi hal semacam ini.

Namun, rasanya Sakura tidak peduli. Terlebih lagi si Suo Hayato brengsek itu kerap melakukan hal yang sama berulang kali, seakan menggodanya yang sudah tidak sanggup berpikir jernih lagi.

I don’t mind,” ujar Sakura cepat, berharap agar Suo segera melanjutkan apa yang tertunda. “J-just keep going.”

Suo tertegun, nampaknya tidak menyangka jika Sakura tiba-tiba berubah menjadi lebih menuntut seperti ini. Perasaan tidak tega muncul pada benaknya, takut Sakura akan merasakan sakit yang luar biasa. 

Namun, akhirnya Suo mengangguk, terlebih sudah mendapat lampu hijau untuk melanjutkan. “Kalau mau berhenti, bilang aja, ya?” yang hanya ditanggapi Sakura dengan dehaman.

Aaaah—!” Sakura menjerit ketika Suo mulai melesakkan satu jarinya untuk masuk. Tangannya refleks mencengkeram rambut Suo untuk menyalurkan rasa sakitnya. Punggungnya membusur, tidak terbiasa dengan sensasi akan adanya sesuatu di bagian bawahnya.

Mulanya Suo menggeram perlahan setelah satu jarinya yang sudah sepenuhnya berada di dalam Sakura terjepit kuat. Namun, ia lebih merasakan panik luar biasa setelah melihat reaksi Sakura, terlebih dengan air mata yang mulai turun dengan isakan kecil.

Ia merutuki dirinya sendiri, yang mulanya khawatir jika akan membuat Sakura merasakan sakit yang lebih lama jika tidak melakukannya sekaligus. Suo merasa hatinya teriris setelah menyadari Sakura lebih merasakan sakit setelah apa yang dia perbuat. 

Suo membawa dirinya merangkak ke atas, mengusap air mata Sakura yang berjatuhan. Netranya menatap dengan sendu setelah mengingat sudah berapa kali Sakura menangis karenanya. 

Dikecupnya ranum Sakura dengan harapan rasa sakitnya bisa teralihkan dan sedikit hilang. “Udah ya, Haruka? Kita masih punya banyak waktu—“

Sakura menggeleng cepat. Ia tampak masih berusaha untuk mengambil napas karena sulit untuk bicara. “Tunggu, sssh— tunggu bentar aja.”

Suo masih merasa tidak tega, masih ingin membujuk Sakura untuk berhenti dan melanjutkannya di lain waktu. Pada akhirnya, ia memilih untuk memahami keinginan Sakura yang tetap ingin melanjutkan. 

Suo kembali mempersatukan ranum mereka, berusaha membantu agar Sakura segera merasa lebih baik. 

You can m-move, Hayato.”

Merasa bahwa Sakura sudah mulai tenang, Suo mulai menggerakkan jarinya dengan sangat hati-hati, seolah memperlakukan dinding anal Sakura seperti hal yang rapuh. 

Pandangannya tidak lepas dari empunya untuk memastikan dirinya baik-baik saja, berjaga-jaga ia bisa segera menghentikan semuanya jika Sakura mulai menunjukkan ekspresi tidak nyaman.

Suo membiarkan jarinya terus-terusan membuat gerakan maju-mundur di dalam sana. Terkadang ia akan melambatkan temponya ketika merasa Sakura kembali mengerang kesakitan.

Baru ketika erangan tersebut perlahan mereda dan berganti dengan desahan, Suo melesakkan jari keduanya ke dalam Sakura. Kali ini ia mulai membuat gerakan memutar, yang ditanggapi oleh Sakura dengan makin sering mengeluarkan desahan.

Suo menambah tempo gerakan jarinya, mulai membuat gerakan seperti menggunting. Ia arahkan jarinya asal, seperti menyapa seluruh sudut dari dalam sana.

A-Ahnnnn—!”

Suara desahan Sakura terdengar semakin keras, begitu pula cengkeraman Sakura pada rambut Suo yang semakin kuat. Secara tidak langsung, Suo berusaha mencatat di otaknya tentang letak di mana titik paling sensitif Sakura berada.

Suo merapatkan kedua jarinya dan menekuknya, mulai memberi penekanan berulang pada titik tersebut.  Kewarasannya hampir terenggut kembali ketika menyadari mulai ada jejak precum yang keluar dari milik Sakura.

Tak perlu waktu lama bagi Suo untuk segera mendorong jari ketiga dan keempat masuk secara bersamaan. Suara desahan dan erangan Sakura membuat Suo semakin merasa kegerahan. Gerakan yang dibuat jarinya sudah tidak stabil, Suo hanya ingin mendengar suara keenakan Sakura, lagi dan lagi.

Kecepatan jari-jari Suo semakin bertambah ketika dinding anal Sakura kembali menjepit kencang. Ia berusaha untuk memfokuskan hentakannya pada titik sensitif Sakura.

A-ahhh! Hayato—!” Sakura memekik kencang, mencapai klimaksnya. Semburannya sampai pada tangzhuang yang dikenakan Suo serta sebagian wajahnya.

Cairan yang membekas pada wajah Suo diseka dengan punggung ibu jari. Suo menjilat, menghisap seluruhnya sampai tak bersisa, lalu menelannya. 

Tubuh Suo mulai dibawa mendekat kembali pada Sakura. Jarak di antara mereka perlahan terhapus oleh Suo yang memberikan kecupan-kecupan pada bibir Sakura, berusaha menenangkan.

“Pinter, Haruka,” tangannya bergerak untuk menepikan poni yang menutupi kening Sakura, memberikan satu kecupan hangat di sana. “You’re doing great.”

Sakura yang masih terengah-engah hanya bisa terdiam, meski sebenarnya merasa menghangat dan salah tingkah dengan bagaimana Suo memperlakukannya dan memujinya barusan.

Di saat Sakura sedang berfokus menghirup banyak-banyak oksigen, Suo kembali mendudukkan dirinya. 

Tangannya mulai melepas medical eye patch yang biasa ia kenakan dan mengatur poni asal-asalan agar dapat menutupi mata kanannya, lalu membuka kancing tangzhuangnya satu persatu—

“Sini,” Sakura berbisik pelan, “Gue bantuin.”

Suo sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya kembali membawa dirinya di hadapan Sakura. 

Kali ini giliran Suo yang merasa salah tingkah, netranya tak mampu menatap Sakura yang sibuk merapikan poninya karena terlampau gemas.

“… dah. Udah, anjir!” Tepukan Sakura di salah satu lengannya kembali menyadarkan Suo dari lamunannya. Kini poninya sudah lebih menutupi mata kanannya dan pakaiannya sudah sepenuhnya terbuka.

“Nggak lagi deh gue bantuin lo, langsung malfungsi gini.” Sakura menghela napasnya, sedangkan yang disebut hanya terkekeh pelan.

Tangzhuang yang sudah terbuka segera Suo lemparkan ke sembarang arah, begitu pula dengan lainnya sehingga ia tak menyisakan sehelai benang apapun.

Suo kembali mengarahkan pandangannya pada Sakura sebelum memulai kembali, sedang yang ditatap memilih untuk menunduk, menatap ke arah lain. 

“Kenapa malu, sih?”

“Hah?!” Sakura tidak terima, kembali menatap Suo meski dengan muka yang memerah. “Gue nggak malu, ya!”

Then look at me properly,” tangan Suo mengarahkan wajah Sakura sedikit ke atas, agar pandangan mereka dapat bertemu. “Like this.”

Sakura menelan ludahnya kasar saat mata mereka beradu. Waktu sudah berlalu lama setelah keduanya terlarut dalam cumbuan mereka, tapi Sakura masih belum terbiasa dengan sisi lain Suo yang tampak lebih dominan dari biasanya.

Degup jantungnya terasa lebih kencang ketika menyadari Suo sedang menatapnya lekat. Bahkan rasanya terasa sulit untuk bergerak ketika bernapas karena Suo seperti membuatnya tidak berdaya.

This is going to hurt, Haruka,” Suo menggeram perlahan, seperti sedang menahan sesuatu. “But tell me right away if you want to stop.”

Sakura hanya bisa mengangguk, pikirannya sudah melayang karena telah memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. 

Suo mengarahkan miliknya perlahan ke dalam Sakura, yang langsung disambut dengan gerakan menjepit meski belum sepenuhnya masuk. Punggungnya mulai merasakan sakit dari cakaran dan membuatnya mendesis pelan.

Mata Suo terpejam, berusaha menahan diri agar tidak melesakkan miliknya sekaligus dalam satu gerakan. Ingatan bahwa Sakura sudah merasakan sakit beberapa kali terputar kembali, tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. 

Setelah napas Sakura sudah mulai tenang, Suo mulai bergerak maju sedikit demi sedikit. Keduanya sama-sama meloloskan desahan panjang setelah Suo berhasil mendorong masuk sepenuhnya. 

Paham bahwa Sakura lagi-lagi merasakan sakit, Suo menautkan bibir mereka kembali, mencoba mengalihkan rasa itu walau hanya sedikit. 

Selain menunggu Sakura sampai merasa rileks, Suo biarkan untuk berada di dalam lebih lama agar Sakura dapat menyesuaikan diri dan terbiasa dengan miliknya. Dirinya mendesis perlahan ketika merasakan dinding anal Sakura menjepit miliknya dengan kencang.

Mereka kembali mempertemukan ranum mereka, mengecup lembut dan mulai menghisap kasar selama beberapa saat. Ketika Suo mengakhiri pagutan mereka, Sakura mengangguk padanya, beri isyarat untuk mulai bergerak.

Suo sedikit menarik dirinya, menyisakan bagian ujung yang sudah berkedut dan mengeluarkan precum, kemudian melesakkan kembali sepenuhnya ke dalam Sakura. 

Sakura kembali mencakar punggung Suo kuat. Akal sehatnya terasa menguap ketika dirinya yang masih merasa sensitif setelah pelepasannya, kembali dipenuhi oleh milik Suo dengan ukuran yang membuat lubangnya terasa penuh.

Suo kembali mendorong pinggulnya ke belakang, kali ini ia mencoba untuk menghantamnya masuk dalam satu hentakan. Tangan yang menopang tubuhnya mengepal kencang, tidak tahan dengan dinding anal Sakura yang lebih menjepit miliknya erat.

Merasakan sensasi yang lebih nikmat dari sebelumnya, Suo bertahan dengan alur yang sama; menarik hingga ujung penisnya, lalu mendorong kembali dengan sekaligus. 

Suo masih mempertahankan kecepatan yang sama sebelum terlintas dalam benaknya untuk menjahili Sakura. 

Suo menarik dirinya perlahan, memasukkan miliknya meski sedikit saja, lalu kembali melepasnya keluar tanpa menyentuh bagian terdalam lubang anal Sakura.

Setelahnya, baru ia melesakkan penisnya kembali dalam satu hentakan— mencoba mengusik tempo yang sudah ada.

Isakan kecil terdengar dari ranum Sakura, yang terdengar frustasi ketika titik terdalamnya tidak tersentuh meski Suo telah masuk. Tidak berselang lama, ia akan kembali menciptakan desahan saat milik Suo memenuhi dirinya, terlebih mengenai titik nikmatnya.

“H-Hayato, please…” Sakura merintih, nadanya terdengar putus asa. Pinggulnya sibuk digerakkan untuk mencari afeksi lebih, mengisi kekosongan dari ulah Suo yang sengaja.

Sesungguhnya Suo tidak tega dan berniat untuk membantu Sakura mencapai puncaknya lagi, tetapi ia putuskan untuk menahan pinggul Sakura dengan salah satu tangannya.

Suo hentikan pergerakannya pada dinding anal Sakura—ia bisa mendengar geraman pelan Sakura, tapi memilih untuk membiarkannya—, lalu menarik keluar. 

Kecupan dilayangkannya pada kening Sakura, berusaha menenangkan. “Sabar ya, cantik.”

Setelahnya, Suo membawa tangannya untuk menekuk kaki Sakura, lalu membukanya lebih lebar. Kedua kaki Sakura didorong hingga hampir menempel di dadanya, agar dapat memberi Suo akses lebih. 

Posisi seperti ini membuat segala sisi pada lubang anal Sakura lebih terasa, membuat penis Suo seakan semakin dijepit erat dan akan sulit untuk terlepaskan.

Fuck, Haruka… Sempit banget— hhh…”

Sakura yang sedari tadi mengeluarkan lenguhan, jadi terdiam sejenak. Pasalnya, ia tahu betul Suo bukan sosok yang mudah melontarkan kata-kata kasar, tidak seperti dirinya. 

Namun, baru saja Sakura ingin menggoda Suo, desahan panjang kembali keluar karena merasa semakin penuh. Entah bagaimana Suo membuatnya berakhir dengan posisi ini, gerakan Suo menjadi lebih sering—selalu—mengenai prostatnya.

“H-Hayato— Ngggh—“ lebih cepat lagi, pinta Sakura dalam hati karena terlalu malu untuk mengatakannya langsung. Namun, seakan mengerti dengan maksud dari desahan Sakura, Suo lebih mempercepat gerakannya.

Hentakan demi hentakan yang dibuat Suo membuat Sakura hanya bisa terkulai lemas. Matanya yang masih mengeluarkan air mata memutar setengah ke atas, bibir menganga dengan jejak liur di sekitar kerap menciptakan desah, pasrah untuk menerima apa saja yang dilakukan Suo padanya.

Tak jauh berbeda dengan Suo. Dinding anal Sakura yang masih kerap menjepit miliknya seakan mendorongnya untuk selalu menghujam tanpa henti. Terlebih lagi ketika melihat keadaan Sakura saat ini, di bawahnya, disebabkan olehnya, membuatnya  lepas kendali dan menginginkan Sakura agar mendesahkan namanya terus menerus.

“H-Haruka, I’m close, hhh—“ Suo bisa merasakan miliknya semakin berdenyut seiring dengan Sakura yang semakin mengetatkan dan memijat miliknya erat. 

Ngggh, H-Ha… Haya—“ Sakura sudah enggan peduli dengan bagaimana hancurnya ia sekarang, pikirannya hanya berfokus pada milik Suo yang terus-terusan menerjang titik sensitifnya. 

Tak butuh waktu lama bagi Suo untuk melakukan hentakan penutup. Keduanya mendesah panjang—lebih pada pekikan bagi Sakura—, milik Sakura menyembur begitu banyak pada perut Suo, sedangkan Suo mengisi di dalam Sakura hingga menetes sampai ke luar.

Suo segera menarik miliknya dan membaringkan diri di samping Sakura. Dibawalah tubuh Sakura menghadap padanya agar Suo bisa memeluk dan memberi kecupan di helai rambut Sakura yang dibasahi peluh. Sakura hanya bisa merespon dengan gumaman, terlalu lemas untuk bicara.

“Lo nggak apa-apa?” tanya Suo perlahan, masih terdengar bergetar karena masih menyesuaikan deru napasnya. Kemudian ia terkekeh pelan selepas Sakura memilih acungkan jari tengah di hadapan Suo.

“Bangun dulu, yuk? Gue bantu bersihin, kok.” Suo baru saja berniat bangun dari kasur dan membawa Sakura ke kamar mandi untuk membersihkan diri mereka, yang ditanggapi dengan gelengan. 

“S-sinting lo,” saat suaranya serak pun, Sakura masih sempat untuk berbicara kasar padanya. “Besok aja.” 

Suo mengangguk cepat, sebenarnya juga merasa tidak ingin lekas bangkit dari kasur. 

“Haruka.”

Sakura menoleh, sedikit terperanjat saat mendengar namanya terpanggil, bahkan setelah sesi panas mereka sudah berakhir. Namun ia tidak mempermasalahkan, karena deep down dirinya merasa hangat setiap mendengar Suo memanggil namanya. 

I haven’t said this before,” Satu kecupan mendarat di bibir Sakura. “I love you.”

Sakura hanya menatapnya dan mengerutkan dahi, ingin tunjukkan ekspresi marah meski lelaki yang dihadapannya malah merasa gemas. 

“Mmm.” tandas Sakura cepat, membiarkan kesadarannya mulai memudar dan memejamkan matanya.

Perasaan hangat yang menjalar di tubuhnya membuatnya tidak tahu harus menjawab seperti apa, walaupun sebenarnya Sakura juga ingin mengungkapkan yang sama.

“Haruka,” suara Suo lekas membangunkan Sakura yang baru saja ingin terlelap. “I love you.”

“Hmm.” 

“Haruka, aku sayang kamu.”

“Iya, iya.” Sakura kembali membuka matanya, melayangkan pukulan kecil pada pundak Suo. “I love you too, Hayato.”