Work Text:
“Min, kayanya aku naksir kamu, deh...”
Seseorang harus meminta untuk mendengar kalimat dadakan itu sekali lagi, takut telinganya mengalami disfungsi. “Gimana ... ?”
“Aku suka kamu,” kata Leejeong. Kali ini ucapannya terdengar jelas kata demi kata.
Kangmin berbalik badan hanya untuk membisu, bibirnya tidak membuat pergerakan untuk keluarkan barang satu kata pun. Matanya mengerjap sekian kali. Apakah dirinya berharap indera penglihatnya bisa bicara?
Agaknya, beberapa orang memang sulit dimengerti—termasuk Si Leejeong ini. Laki-laki itu mencoba mendesak Kangmin sebab pengakuannya yang baru saja itu tidak mendapat respon yang layak untuk disebut demikian.
"Bukan, Jeongie. Bukannya aku nggak suka.” Kali ini, kalimat Kangmin terpenggal. Ia menarik nafas dalam disertai telapak tangan yang menyapu sisa air di wajahnya. “Ada, nggak, kira-kira ... orang selain kamu yang nyatain perasaan waktu lagi mandi bareng?”
Leejeong unjuk gigi, baru kemudian berdalih: “Beda urusan, ah. Aftercare kan udah tanggung jawab aku.”
Tubuh Kangmin berputar ke arah semula sembari membuang nafas kasar. Ia berlanjut pada sesi diamnya sementara sosok yang duduk di belakangnya kembali mengusap dan memijat punggungnya. Kalau boleh jujur, Kangmin tidak bisa memutuskan apa yang harus ia rasakan sekarang.
Kelihatannya, air hangat yang genangi bak berendam membuat tubuh Kangmin nyaman. Ditambah lagi, Leejeong di belakangnya menyambut ketika Kangmin bersandar.
“Jeongie.” Kangmin mencoba membuka lagi obrolan yang seharusnya penting. Ia mendapat dehaman lembut sebagai balasan. “Kamu nggak mikir aku ngewe sama kamu karena sange doang, kan?”
“Emang kamu nggak sange?”
Satu gigitan dihadiahkan oleh Kangmin atas pertanyaan bodoh itu. Selamat!
“Serius, Jun Leejeong!” pintanya.
“Aku harap, sih, nggak gitu.” Setelah tertawa kecil, Leejeong penuhi pertanyaan laki-laki dalam dekapannya. “Tapi kalau ternyata memang iya, aku nggak yakin bakalan sembuh dari patah hati.”
Kangmin memutar bola mata begitu mendengar pernyataan barusan. ‘Dangdut banget,’ keluhnya dalam hati. Sayangnya, tidak sempat protes lebih lama lagi, Leejeong kembali menginterupsi. Kangmin bisa merasakan embusan nafas laki-laki itu menjelajahi, mulai dari puncak kepalanya, turun ke ceruk lehernya, dan singgah di jarak satu senti dekat telinganya.
“Ngh—”
Niatnya, Kangmin ingin membuat Leejeong sedikit sengsara dengan gesekan punggungnya. Senjata makan tuan! Lenguhan yang lolos dari bibir di sisi telinga Kangmin justru membuat darahnya berdesir lima kali lebih deras.
Leejeong dengan seluruh tenaganya berhasil mengunci Kangmin yang hampir beranjak. “Kenapa kamu mancing?”
Yang bisa dilakukan oleh Kangmin hanya memejamkan mata sambil menggigit bibir dan merutuki dirinya sendiri. Ia paham betul arah nasibnya. Siapa yang perlu disalahkan? Leejeong. Harus Leejeong.
“Kamu yang kontolnya baperan!” Kangmin berkilah.
Leejeong terkikik begitu sadar bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Ia bisa melihat bagaimana bagian-bagian tubuh tertentu milik Kangmin sama sekali tidak santai, terutama yang di bawah sana—sama saja baperannya.
Tangan kiri Leejeong sendiri sudah mampu menahan tubuh bagian atas Kangmin, jadi ia larikan tangan kanannya ke area perut. Jemari Leejeong tahu persis cara menari di bagian tubuh Kangmin yang cukup sensitif itu. Iya, Leejeong berhasil membuat si empunya menggeliat gelisah.
“Min,” bisik Leejeong di posisi yang masih sama. “Ajarin aku berhitung, boleh?”
Apakah kalian kira Kangmin mengerti? Tidak. Tapi firasat Kangmin tidak enak. Dua lubang bawahnya berkedut meski tak yakin atas alasannya.
“Ahk!”
Tanpa ada aba-aba, ada yang melesak masuk ke dalam tubuh Kangmin. Kakinya kembali terasa panas dan tidak bertenaga. Kepalanya terlempar ke dada laki-laki yang mengunci pergerakannya.
“Ayo mulai,” perintah Leejeong.
Tidak mendengar apapun selain nafas tersengal, Leejeong bengkokkan jarinya di dalam lubang senggama milik Kangmin. “Berapa, Kangmin?”
"Hngg-ah—”
“Aduh, jangan-jangan kamu juga belum bisa berhitung, ya?” Sekali lagi, Leejeong masukkan jarinya lebih dalam lagi. Ia juga tidak tertarik berhenti menggerakkannya.
“S-satu,”
Satu kecupan singkat di kepala Kangmin sebagai apresiasi. “Okay~”
Jari manis Leejeong turut serta bergabung. Erangan yang ia dengar semakin kuat. Untuk menunjukkan perhatiannya, Leejeong mencoba menenangkan lelakinya dengan mendaratkan kecupan-kecupan kecil bahu Kangmin.
Tubuh Kangmin justru semakin bergetar. Mengundang pergerakan-pergerakan kecil lain dari kedua jari Leejeong di dalamnya.
“Kenapa diem? Mulutnya cuma bisa desah doang?”
“Ah-ngg dua-ahh”
Kangmin sudah berusaha semaksimal mungkin untuk meredam suara nakalnya. Apa boleh buat? Mau menggigit bibirnya sampai luka pun, Leejeong akan tetap memaksanya membuka mulut.
“Pinter, Sayang~”
Kangmin bisa rasakan kepalanya bereaksi saat menerima pujian itu. Sialan, tubuhnya bahkan masih sensitif sehabis bercinta dengan laki-laki yang sama pagi tadi. Panas sekali rasanya, dari ujung kepala sampai kakinya sekarang.
“Hngg—”
Ketika jari telunjuk milik Leejeong menyusul, Kangmin berubah pikiran. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menikmati permainan yang Leejeong siapkan. Benar begitu, bukan?
“Tiga, Jeonggh-ie~”
Bibir Kangmin selanjutnya habis diraup pemilik nama yang baru saja disebut. Ciuman itu berisik sekali. Bunyi kecipak air akibat kesibukan tangan Leejeong yang keluar masuk dari lubang Kangmin juga ikut memperkeruh keadaan.
Selain Leejeong yang mengerang di sela bibirnya yang rakus, Kangmin jauh lebih ribut darinya. Titik manisnya diserang berkali-kali dengan ritme yang hampit membuatnya gila. Pandangannya semakin kabur karena tangan kiri Leejeong tidak membiarkan putingnya kedinginan.
Tiga sentuhan terakhir dari jemari Leejeong sudah berhasil membuat Kangmin mengejang, tapi laki-laki itu tidak ingin merasa cukup. Leejeong masih menggaruk di dalam sana, justru semakin bersemangat, mendapati Kangmin gemetar saat keluarkan putihnya.
Telinganya seperti di surga. Leejeong selalu menantikan rintihan Kangmin.
Sekarang, Leejeong tidak yakin dirinya berhadapan dengan siapa. Sosok yang belum lama terlihat lemah di pelukan kini sudah duduk di pangkuannya. Ia mencoba peringatkan Kangmin, takut posisinya membuat Kangmin tidak nyaman. “Airnya, Sayang. Nanti masuk— Ahh!”
Justru Kangmin yang tiba-tiba masukkan penis Leejeong ke dalamnya. Persetan dengan air yang ikut masuk. Walaupun harus rasakan sakit sedikit, siapa peduli? Kangmin tidak punya kesabaran berlebih.
“Jeongie~ Dalem banget— Hnggg~”
Giliran pandangan Leejeong yang kabur. Ia tidak mau pejamkan matanya. Visual seorang Kangmin yang menggoyangkan badannya putus asa demi mencari nikmatnya sendiri terlalu enak untuk dilewatkan. Kangmin menatap matanya dengan baik, dengan tatapan yang mampu membuat isi kepala Leejeong jadi kosong.
Leejeong tidak pernah ragu mengeluarkan erangannya, sebab Leejeong sadar bagaimana Kangmin semakin menggila setiap ia melakukannya. “Enak, Sayang?”
“Enaakh-banget! Mau ... hnggh kontol kamu—fuck—terus! Ahh!”
Kangmin hampir ambruk. Salahkan Leejeong yang mendadak berikan hujaman, bermaksud membantu Kangmin—dan dirinya sendiri—mencari puncaknya.
“Lagi! Lagi-hh, sodok lagi, Jeongh— Nggh!”
Hal penting yang Leejeong pelajari tentang Kangmin: Anak itu tidak suka diberi ampun.
“Terus—ngh, Jeongie, di situ! Iya, hngg~ Enak! Shh~ Mau—pipis!”
Leejeong melakukan hal yang sama, yang diperintahkan oleh Kangmin, karena laki-laki itu terus memohon. Leejeong tidak ingin melakukan apapun selain mewujudkan seluruh permintaannya.
“Mau pipis, Sayang? Mau disodok lagi?”
Kangmin tidak mampu memproses apapun lagi. Nafasnya tersengal, badannya lemas dan gemetar, juga masih harus menerima hujaman di tempat yang sama terus menerus.
“Jeong-ahhkh—”
“Min-ngh!”
Kali ini Kangmin ambruk sungguhan. Lagi-lagi, beruntung pelukan Leejeong menyambutnya. Sayang sekali, kepalanya terlalu kosong untuk memproses ucapan terima kasih dan ungkapan sayang dari Leejeong setelah membersamai mencapai puncak nikmatnya.
Seperti reka ulang, keduanya melakukan hal yang sama dengan adegan yang lebih awal: Leejeong sibuk mengusap dan memijat lembut seluruh tubuh Kangmin.
