Work Text:
Aneh, sungguh aneh.
Niat Jaehyun hanya ingin menggoda Taesan dengan mengirimkan foto mereka berdua saat fansign—yaitu foto Jaehyun yang sedang menggendong Taesan, lengkap dengan Woonhak dan juga Leehan yang tertawa terbahak-bahak di sebelah mereka.
Namun entah angin mana yang merasuki Jaehyun, membuat ia terbawa suasana dan berakhir mempertanyakan tindakan Taesan yang selalu menghindar saat ia mencoba melakukan skinship. Padahal, Taesan lebih terbuka dengan para member lain. Dia yang kerap menyentuh pantat Sungho, memeluk Woonhak, berdekatan dengan Leehan, serta tak malu berdempetan dengan Riwoo.
Kenapa dengan Jaehyun berbeda?
Padahal semua orang tahu, Jaehyunlah yang paling menyukai skinship diantara semua anggota.
Apakah Jaehyun yang berlebihan selama ini?
Setelah menerima pesan suara Taesan yang setengah menangis sambil berkata maaf, Jaehyun segera bangkit dari posisi tidurannya dan bergegas ke kamar yang lebih muda.
“Taesan? Aku boleh masuk nggak?”
Jaehyun berseru di depan pintu kamar Taesan seraya mengetuknya perlahan. Tak lama kemudian, terdengar bunyi beberapa barang yang tergeser dari dalam kamar—disusul pintu yang terbuka perlahan; menampilkan Taesan yang terbalut hoodie berwarna abu-abu tua dengan setengah wajah yang ditutupi oleh poni. Masih lumayan terlihat dengan jelas jejak-jejak air mata yang tersisa di pipi yang lebih muda.
Segera Jaehyun langkahkan kakinya ke dalam kamar Taesan yang didominasi oleh hitam dan navy tersebut. Dapat ia lihat poster-poster MCR yang tertempel di sudut ruangan, lengkap dengan deretan vinyl yang rapi di dalam rak penyimpanan.
Kamar Taesan selalu rapi, berbanding dengan miliknya yang bisa dibilang… lumayan berantakan.
Jaehyun ikuti langkah laki-laki yang lebih tinggi itu ke arah tempat tidurnya. Saat Taesan mendudukkan diri di kasur, Jaehyun otomatis menirunya.
Beberapa saat, mereka berdua terjebak dalam keheningan yang aneh—hanya terdengar dengungan konstan pendingin ruangan dan juga Taesan yang beberapa kali menarik napas dengan sedikit kencang.
Jaehyun menghembuskan napasnya perlahan, total heran dengan tingkah temannya yang sudah ia kenal sejak pertama kali menginjakkan kedua kakinya di gedung KOZ tersebut.
Meski sudah bertahun-tahun lamanya, Jaehyun tetap tidak mampu sepenuhnya memahami seorang Han Taesan.
Jaehyun rasa, Taesan itu layaknya teka-teki silang yang beberapa kotaknya sengaja dihilangkan supaya dirinya tak pernah menemukan jawaban yang pasti.
Tak peduli seberapa keras Jaehyun memecahkan teka-teki tersebut, jawabannya takkan pernah muncul.
Tak peduli seberapa banyak Jaehyun mencoba menerobos benteng pertahanan yang dibangun oleh Taesan—dia belum pernah mencapai titik kemenangan.
Mirip halnya dengan bertamu tetapi hanya sampai di depan halaman, tanpa bisa membuat pintu masuknya terbuka secara sukarela.
Tiba-tiba, Taesan berbalik arah menghadap Jaehyun yang sedang melamun—bahunya yang lebar bertabrakan dengan milik Jaehyun secara tidak sengaja; meninggalkan getaran aneh di dalam hati mereka berdua.
Karena jarangnya mereka melakukan sentuhan, bahu yang bertabrakan saja membuat mereka seketika salah tingkah.
Jaehyun pun memberanikan diri menatap yang lebih muda, namun ia dikejutkan dengan tatapan mata Taesan yang berkaca-kaca; sudah siap menangis kapan saja.
Jaehyun tertegun.
Taesannya sangat jarang menangis, tetapi kenapa sekarang dia seperti akan kembali menangis layaknya seekor anak kucing yang kehilangan induknya?
Jaehyun benar-benar bingung bila dihadapkan posisi seperti ini. Dia tak begitu pintar menghadapi orang yang sedang menangis, apalagi orangnya adalah Taesan!
Jadi Jaehyun putuskan untuk menyentuh ujung hoodie Taesan dengan ragu-ragu; takut sentuhannya kali ini akan ditolak kembali. Setelah ia memastikan bahwa tak ada penolakan—tangan kirinya berpindah ke punggung yang lebih muda, mengelusnya perlahan dengan gerakan naik turun teratur.
Tak lama kemudian, isakan lirih terdengar dari Taesan seiring gerakan tangan Jaehyun yang konstan pada punggungnya. Taesan berusaha menutupi wajahnya dengan kedua tangan, kepalang malu karena air matanya yang tak bisa dikontrol tersebut.
Entah kenapa, Taesan sangat ingin menangis bila berhadapan dengan Jaehyun.
Meski mereka senang beradu mulut, tak dipungkiri bahwa ada tempat yang tak tersentuh di dalam hati Taesan untuk Jaehyun. Sisinya yang melembut untuk yang lebih tua delapan bulan tersebut.
“Kakak… kok diem aja? Kakak marah ya, sama aku?”
Lirih Taesan yang masih tak dapat menyembunyikan isakannya yang terdengar menyayat hati itu.
Sontak Jaehyun menggeleng dan menyunggingkan senyum tipisnya.
“Nggak, Taesan. Aku nggak marah, kok. Aku cuma nunggu kamu cerita duluan, soalnya kamu tiba-tiba nangis. Jujur, aku bingung harus apa…”
“Huhu… tapi Kak Jaehyun diem terus! Di roomchat juga tadi keliatan marah, aku kan takut…”
“Loh, aku kan cuma nanya? Wajar dong kalau aku mempertanyakan itu? Aku maklum kok sama kamu, cuma kadang kalau kamu nolak-nolak aku terus tuh buat aku sedih juga.”
Mendengar pengakuan Jaehyun membuat Taesan merasa sangat bersalah. Dia paham bahwa perlakuannya kepada Jaehyun dibandingkan ke member lain sangat berbeda; tapi mendengar kenyataan bahwa kakak favoritnya itu sedih membuat rasa bersalahnya meningkat berkali-kali lipat.
Taesan tabrakkan kepalanya ke dada Jaehyun secara tiba-tiba, menimbulkan pekikan dari yang lebih tua. Taesan lingkarkan tangannya ke pinggang Jaehyun dengan erat, seolah takut Jaehyun akan pergi.
Tawa kecil timbul dari belah bibir Jaehyun yang sedari tadi dilanda kebingungan. Meski ia masih bingung, tetapi tingkah Taesan sangatlah menggemaskan. Dia pun tak kuasa untuk menahan tawa gemasnya.
“Ya Tuhan Taesannie… hari ini kamu aneh banget! Ada apa sih, astaga…”
Pelukan hangat Taesan terima, seiring tawa Jaehyun yang perlahan mengudara dalam keheningan kamarnya.
Jaehyun letakkan dagunya di atas kepala Taesan yang masih bersandar dengan nyaman di dadanya. Ia pun melanjutkan elusan pada punggung Taesan yang sempat terhenti tadi.
“Kamu lagi capek, ya? Tidur ya abis ini, bikin lagunya besok lagi aja. Biasanya orang capek tuh jadi lebih sensitif. Besok aku bilang ke manajer biar jadwalmu mulai agak siangan gimana?”
Jaehyun kira, Taesan hanya lelah sehingga diusulkannya perubahan jadwal untuk besok—supaya yang lebih muda dapat beristirahat lebih lama.
Bukan jawaban yang diterima Jaehyun, melainkan tangis Taesan yang semakin keras, lengkap dengan cegukan yang perlahan muncul.
Astaga, Taesan benar-benar membuat Jaehyun pusing tujuh keliling!
“Aduh, Taesan. Kok malah nangis lagi?”
“Huhuhu… aku… aku ngerasa bersalah sama Kakak… maafin aku…”
“Kenapa minta maaf terus sih, kamu kenapa?”
Jaehyun menggelengkan kepala seraya menangkup pipi Taesan yang sedari tadi menyembunyikan wajahnya di dada Jaehyun.
Kedua mata bak kucingnya berair dan memerah, lengkap dengan bibir yang mengerucut lucu.
Oh Tuhan, ingatkan Jaehyun untuk tidak secara refleks mencium laki-laki menggemaskan di depannya ini!
“Aku minta maaf karena udah jahat ke Kakak… kaya yang aku tulis di roomchat tadi, aku bener-bener nggak maksud bikin Kakak sakit hati…”
Kali ini, Taesan menjawab pertanyaan jaehyun dengan sungguh-sungguh, meski wajahnya khas sekali orang yang baru selesai menangis, namun tatapan matanya memancarkan kesungguhan.
“Aku maafin, Taesannie. Tapi boleh nggak aku tau kenapa kamu kaya anti skinship banget sama aku? Apa aku berlebihan? Kalo iya, aku minta maaf yaa…”
Kedua mata Jaehyun terlihat berkilau dengan ketulusan, lengkap dengan senyumannya yang merekah dan diakhiri nose scrunch khas Myung Jaehyun—membuat Taesan terpesona dan terdiam beberapa saat.
“Ih… astaga!”
Taesan memekik pelan, lalu menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah bersemu merah.
Melihat Jaehyun dengan jarak yang tidak aman ditemani kedua tangan Jaehyun yang masih menangkup kedua pipinya sukses membuat Taesan tersipu malu.
Taesan salah tingkah!
“Eeehh… Taesan kenapa?”
Nada bicara Jaehyun yang semula santai berubah menjadi khawatir.
“Bentar, Kak!”
Taesan tarik napasnya satu kali, sampai terhitung lima kali ia mengulang ritual ambil napas-tarik napasnya.
“Kak, aku mau jujur.”
Akhirnya, Taesan memberanikan diri untuk membuka suara lagi. Taesan mengarahkan pandangannya ke arah Jaehyun yang sejak tadi menunggunya dengan sabar.
“Sebenernya, aku jarang mau skinship sama Kakak itu karena… m-malu… malu banget…”
“Astagaaa, malu kenapa sih?”
Jaehyun terkekeh mendengar pengakuan yang lebih muda. Sungguh, Jaehyun dibuat gelagapan dengan tingkah bayi kucing satu itu!
“Janji jangan ledekin aku, ya?”
Nada Taesan berubah menjadi manja dan menimbulkan tawa Jaehyun. Benar-benar definisi dari kucing hitam—suka merajuk!
“Iya, Taesan, Kakak janji nggak bakal ngejekin kamu!”
“Aku deg-degan tiap Kakak pegang-pegang. Aku juga nggak ngerti kenapa, Kak. Sama member lain biasa aja, tapi sama Kak Jaehyunnie… bikin aku pusing. Apalagi kalau di depan kamera, rasanya kaya mau mati tau, Kak! Makanya aku selalu refleks menghindar. Maafin aku ya, Kak…”
Jaehyun pun manggut-manggut mendengar penjelasan Taesan. Keinginan mengejeknya pun ia urungkan karena sudah berjanji di awal. Sebagai gantinya, ia acak-acak surai pemuda leo itu dengan gemas. Sangat gemas sehingga ia satukan dahinya dengan dahi Taesan yang sudah menunduk kembali setelah pengakuannya.
“Ya ampun Taesan, kenapa nggak pernah bilang sih… Kakak kan jadi berpikiran jelek! Kirain Kakak ada salah…”
“Kakak nggak salah, aku yang aneh!”
“Iya iya, Taesan yang aneh, bukan Kakak. Hehehe kamu lucu banget sih… ternyata kamu salah tingkah ya setiap Kakak deketin?”
“Uhm…”
“Kalau di depan kamera malu banget, boleh nggak kita lakuin di belakang kamera aja? Kakak janji deh pelan-pelan biar Taesannie nggak pusing! Kakak kan sayang banget sama Taesannie, mau peluk-peluk juga…”
Senyum jahil terbit di wajah Jaehyun yang terlihat sumringah. Jaehyun benar-benar bahagia karena sudah menghapuskan kesalahpahaman antara dirinya dengan Taesan. Ditambah lagi, ternyata sang kucing kecil hanya malu, bukannya membenci tindakan clingy Jaehyun.
“Emmm… b-boleh sih… tapi di belakang kamera aja ya, Kak? Kan aku malu… terus pas lagi berdua aja kaya pas di studio.”
“Hahaha oke kalau mau kamu gitu. Bisa apa sih aku selain nurutin kamu! Dasar kucing kecil!”
Jaehyun pererat pelukannya ke yang lebih muda dan dia ayunkan badan Taesan ke kanan dan kiri. Pelan-pelan saja, karena Taesan lebih besar dari dia—takutnya malah dirinya yang oleng!
Senyum kecil terbit di wajah Taesan yang semula mendung. Ia dapatkan kembali sinarnya yang sebelumnya sempat hilang.
Sungguh, tadi dia hampir mati karena gugup saat Jaehyun bertanya tentang mengapa dirinya tidak menyukai skinship dengan Jaehyun.
Dia hanya malu.
Terlampau malu.
Setelah sesi peluk yang cukup lama, apalagi ini oknum Han Taesan dan Myung Jaehyun yang melakukannya. Sepuluh menit pun terasa lama bagi mereka; tetapj anehnya, kali ini rasanya nyaman.
Seperti tempat untuk pulang.
“Taesannie, pesen makan yuk? Kamu pasti laper kan abis nangis terus gitu…”
Ajak Jaehyun kepada Taesan yang akhirnya berhasil menghentikan air matanya dan tersenyum itu. Taesan mengerucutkan bibirnya dan berkata:
“Kak, ke Han River aja, yuk? Sebagai ganti Kak Jaehyunie yang suka nolak ajakan aku. Please jangan nolak…”
Jaehyun tergelak untuk kesekian kalinya hari ini. Taesan benar-benar sulit ditebak!
Jaehyun baru sadar bila Taesan itu manja dengan caranya sendiri.
Taesan yang selalu berusaha mengajaknya ke Han River malam-malam meski berakhir dengan tolakan halus dari Jaehyun.
Taesan yang memohon pada Jaehyun untuk selalu ditemani Jaehyun saat berbelanja di Jepang dengan dalih Jaehyun yang paling pintar berbahasa Jepang.
Taesan yang tidak suka saat orang lain melihatnya dalam mode bekerja saat memproduksi lagu, namun selalu mengajak Jaehyun untuk berdiskusi tentang musik yang sedang ia buat.
Dan banyak hal lainnya—yang membuat Jaehyun sadar bahwa adiknya itu selalu menyayanginya dengan caranya sendiri.
“Okay, Taesannie. Tapi traktir Kakak, ya?”
“Ih… yaudah deh. Tapi sekarang, ya berangkatnya? Aku mau makan ramyeon di dekat sana. Keburu tutup.”
“Siap, sayangku.”
Jaehyun kembali menggoda Taesan yang wajahnya bersemu merah itu. Taesan hanya menggeleng sembari menggigit senyuman, lalu mengambil dua masker serta kacamata hitamnya. Ia pakaikan satu masker ke Jaehyun, tak lupa kacamata hitam serta dia pinjamkan topinya. Jaehyun hanya diam menikmati perilaku Taesan yang aneh tapi nyata itu.
“Kali ini aja aku pinjemin, soalnya bakal kelamaan kalau Kak Jaehyun balik ke kamar di lantai bawah! Ayo berangkat sekarang!”
Taesan menarik tangan Jaehyun dengan buru-buru dan mereka pun meninggalkan dorm malam itu dengan perasaan yang bahagia dan ringan.
