Actions

Work Header

Bon Appetite

Summary:

Giyuu sekarang sedang makan

Notes:

Unfinished work, too busy

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Nafsu makan menurun. Kantong mata menghitam. Kulit memucat. Rambut rontok. Merupakan gejala menurunnya kesehatan dan butuh istirahat yang cukup bagi tubuh. Giyuu, salah satu mahasiswa yang dikejar-kejar deadline masih waras saja bersyukur. Giyuu sekarang sedang makan. Mengisi energi dan kewarasan agar dapat terus menjalani aktivitas. Makanan yang ia makan hanya ada satu di dunia. Hanya untuk dirinya. The closest things to heaven on earth. Tubuh elok nan permai Shinazugawa Sanemi. Si garang tak kenal ampun.

 

Bon appetité

 

Setiap pergerakan Sanemi menegaskan bahwa dirinya tidak akan tunduk kepada siapapun. Harga diri dan egonya tinggi sekali. Walaupun begitu bagaimana bisa seorang ayam sayur tanpa benar-benar punya keahlian bersosial dapat meluluhlantakkan Shinazugawa sulung? Benak lelaki beriris biru laut mengatakan mungkin dulu dia ikut perang dan telah menyelamatkan dunia.

Tomioka Giyuu dengan hidup seadanya dan biasa saja berpacaran dengan lelaki tempramental yang digemari banyak orang. Lelaki berambut gondrong pun tak kalah populer dan diminati segala gender namun dengan perilakunya yang seperti patung depresi berjalan membuat sebagian orang tidak dapat berbincang lama ataupun kuat menghadapi tingkahnya.

Balik ke topik awal, bagaimana bisa Giyuu memikat hati Sanemi? Ia pun tak tau dengan pasti. Sekedar bernapas saja dia dulu dikatai dan diomeli oleh Sanemi. Bila ia buka mulut sedikit sudah pasti akan kena geplak, sesudah begitupun Giyuu masih ingin dekat dengan memberi makanan manis ke Sanemi yang merupakan saran dari kakaknya. Saran tersebut merupakan kunci. Semua bermula dari sore hari dia membawakan mochi untuk lelaki garang yang ia ingin ajak berteman, awalnya.

“Sanemi, aku ada mochi aneka rasa untuk kamu”

“Siapa bilang gue suka makanan manis hah!”

“Aku juga sebenarnya ga bisa makan manis, sebentar ya aku buang dulu”

Ujung kemeja kotak-kotak khasnya ditarik. Giyuu bisa lihat dengan jelas telinga yang memerah kontras dengan rambut perak sedang bergulat dengan pikirannya.

“Jangan dibuang. Sayang makanan. Lo ga bisa ngehargain makanan ha? Mana sini. ”

Senyum tipis terpatri. Ia menang. Mengalahkan surai perak dengan trik murahan yang ia pelajari dari Sabito. Temannya yang tidak kalah freak. Terimakasih Sabito, ucapnya dalam hati. Pipi Sanemi membulat lucu seperti hamster yang sedang mengunyah. ‘Tahan dirimu’ Giyuu merapalkan mantra untuk tidak melakukan hal-hal yang akan membuat Sanemi kabur dan menjauhinya.

“Mau ngomong apa, cepetan gue mau balik”

Di sela-sela memakan mochi yang berjumlah banyak itu Sanemi menembak pertanyaan kepada lelaki udang di sebelah.

“Kamu lucu ya”

Plak. Suara geplakan. Sudah biasa.

“Ngomong lagi, gue pastiin lu mati”

Setelah ia selesai memakan ohagi dan menoleh lelaki berambut gelap itu hanya melayangkan senyuman. Hal baru Sanemi lihat di wajah datar itu. Apa mungkin hanya dengan mochi dan senyuman biasa adalah hal yang membuat Sanemi luluh? Bulu mata lentiknya berkedip dengan cepat mungkin ia berhalusinasi berdialog lelaki udang satu ini tampan dan membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Instingnya mengatakan untuk kabur—

 

Cup♡

 

Tomioka bungsu termenung. Shinazugawa sulung mematung. Apa yang baru saja terjadi. Disaat mereka sudah mencerna justru pelaku yang mencuri ciuman pertamanya sudah lari meninggalkan barang-barang penting dan pribadinya. Sial, menggemaskan sekali bukan Shinazugawa Sanemi?

“Sanemi tunggu sebentar, barang kamu ketinggalan”

Peduli setan. Sanemi ingin mati sekarang juga. Tempo larinya semakin kencang, terlalu malu. Tawa menggelegar terdengar. Giyuu berlari sambil tertawa. Seperti orang gila. Mau mengelakpun Sanemi tidak bisa. Jantungnya yang terus terpacu. Wajah hingga bahunya memerah seperti tomat. Ah, dia ternyata benar memiliki perasaan lebih kepada lelaki gondrong satu itu. Salah ia berlari tidak fokus dan hampir tersingkap konyol hingga tertangkap dari belakang atau kata lainnya didekap oleh lelaki gondrong yang sudah mengejar sedari tadi. Seperti kisah yang suka dibaca oleh adiknya, Genya. 'Sialll semua seperti bajingan' Sanemi merutuki dunia. Semua salah dunia. Salah bajingan itu. Sanemi merutuki semua hal sambil menutupi wajahnya. Giyuu yang mendekap dari belakang mulai menaruh kepalanya dibahu Sanemi.

“Apa mulai hari ini kita resmi pacaran?”

Hening. Tidak ada jawaban.

“Aku anggap sebagai iya, ya Sanemi”

“Mati lu”

Tawa ganteng iris biru laut keluar. Sanemi semakin malu dan sudah menyikut Giyuu berkali-kali agar melepaskan dia tapi hasilnya nihil. ‘Sialan, otot ga berguna' kali ini ia menyalahkan ototnya yang hanya besar tapi tak mampu mendorong lelaki udang kurus. Niat jail Giyuu jadi sangat tinggi. Ia kecup pipi lelaki tan tersebut dan bogem melayang ke wajahnya dalam beberapa detik. Terbayarkan.

Giyuu dan Sanemi berpacaran seperti pasangan muda pada umumnya. Pergi berkencan ke kafe lucu. Pakai baju couple. Berkabar via gawai setiap saat. Telponan saat senggang. Jalan jalan tak tentu arah. Banyak. Lalu, Giyuu itu suka nontonin Sanemi makan. Mirip hamster. Pipinya penuh kiri kanan. Pikirnya. Sanemi sadar akan berat badannya yang terus bertambah karena diberi makan melulu oleh pacarnya jadi ia menambahkan sesi latihan di rumah. Untuk menjaga bentuk tubuh.

Sebagai balas dendam, pria perak itu membuatkan bekal setiap mereka ada jadwal di kampus. Kadang bila kepepet ia akan menitipkannya ke teman. Salah satu cara menandakan kepada semua orang teritorialnya. Menurut Giyuu tingkah Sanemi sangat menggemaskan. Betapa beruntung dirinya. Walau sudah menjalin kasih, tampang pria bersuram hitam legam masih seperti biasa. Muka datar dan tidak tertebak. Default. Tampak senyum Tomioka bungsu khusus untuk Shinazugawa sulung saja. Sudah seharusnya eh-? Dibalik sikap mereka yang terkadang aneh dan menurut orang lain menyebalkan justru hal tersebut membuat mereka tertarik akan satu sama lain. Tak kenal menjadi kenal, kenal menjadi benci, dan benci menjadi cinta.

Lambat laun afeksi yang mereka berikan kepada satu sama lain naik level. Sebelumnya cukup dengan duduk bersebelahan menjadi kurang bila tak berpegangan tangan. Berlalu menjadi saling bersandar, kemudian cium pipi sebagai godaan hingga berubah ketika muncul nafsu untuk menginvasi mulut pasangannya. Awalnya hanya kecupan biasa sama hal seperti sapaan. Tetapi, itu saja tidak cukup hingga organ tak bertulang menyapa dan menyicip rasa satu sama lain. Ciuman panas menjadi ritual tak terlupakan bagi Giyuu dan Sanemi bila bertemu.

 

Bon appetité

 

Setiap hari Giyuu menemukan fakta lucu nan imut setelah berpacaran dengan Sanemi. Hal yang paling tidak ia sangka adalah Sanemi pasrah di bawah kukungannya. Seorang Shinazugawa Sanemi. Lelaki tempramental itu. Pasrah. Tidak melawan. Tidak marah. Docile. Benar kata orang ‘jangan berduaan saja karena yang ketiga adalah setan' baru dirinya dengan Sanemi memasuki kamar hotel, setan langsung merasuki dirinya. Hasrat yang terpendam keluar semua. Ia kira pria bersurai perak yang ia cintai akan menolak, setidaknya memberontak namun tidak. Sorot mata pacarnya justru sangat pasrah dan beri semua kesempatan kepada Giyuu.

Tidak menyia-yiakan kesempatan, laki-laki bersurai panjang membawa surai perak ke kasur. Tatapan dan raut wajah baru tertera di wajah stoic mendapat reaksi menarik. Mengeluarkan pelumas dan kondom yang baru ia beli. 3 kotak. Membuat lelaki di kasur heran. Buat apa kondom sebanyak itu. Ini baru malam pertama mereka. Namun apa pedulinya, merupakan penyesalan terbesar. Sejak semalam pacar emonya memulai pembahasan mengenai kegiatan seksual. Lalu dengan percaya diri dia mengatakan ‘Terserah'. Kesalahan kedua. Sanemi melakukan hal fatal, ia tidak bisa menolak Giyuu dengan muka memohonnya yang mirip kucing kecebur got. Lagi dan lagi Sanemi terkena pelet mematikan.

Giyuu mulai membuka celana yang dipakai Sanemi. Akan tetapi Sanemi malu. Menahan tangan putih pacarnya. Paham bila pacarnya malu, pria itu mencium dan membelai rongga mulut kekasihnya agar teralihkan atensi darinya. Dengan cepat usaha menelanjangi Sanemi telah selesai. Giyuu mulai mencium wajah Sanemi. Berpindah ke telinga merah sang empu. Turun ke dada montok yang selalu dibanggakan pemiliknya. Dada yang bila ia tak sengaja sentuh terasa sangat lembut dan kenyal. Bagian tubuh yang selalu, selalu membuat dirinya menahan tangan untuk tidak sembarang pegang. Berdebat dengan setan dalam diri yang membisiki 'remas saja dada besar itu, hidup cuman sekali' Beruntung Giyuu masih sayang nyawa dan tidak melakukan hal yang setan bisiki.

Gundukan dua gunung itu ia remas, ia pijat, ia satukan sehingga belahan dada nampak, lalu mulai memainkan puncuk merah. Si kecil lucu. Air liur pria bungsu keluarga Tomioka sedikit menetes sebelum akhirnya ia mengkulum puting Sanemi. Sedari tadi Sanemi hanya bisa mengeluarkan erangan dan suara napas yang terengah-engah. Lelaki di hadapannya seperti kerasukan hawa nafsu iblis. Dibawah tenaga mutan Giyuu dan protes yang ia celotehkan tak didengar. Jambakan di rambut panjang itupun nihil hasil. Sanemi kesal. Ia merasa dirundung oleh pacarnya. Awalnya puting ia hanya dikulum namun lama-lama dipermainkan. Digigit, diputar menggunakan lidah lihai sang empu, lalu disedot seperti ASI akan keluar dari dadanya. Mana mungkin. Ia lelaki. Serta suara memalukan yang terus keluar dari mulut Giyuu dan dirinya benar benar memalukan.

“Yuu ah- udah tolol”

Akhirnya Giyuu melepas dada plump itu dengan tak rela. Tangan putih turun dari dada besar ke pinggang Sanemi. Pinggang kecil yang selalu pas di pelukannya. Dua tangan berurat mencengkram pinggang kecil. Lalu menggesek kelaminnya yang masih menggunakan celana dengan kelamin telanjang pria dibawah. Rasa aneh dan baru menggerayangi sepasang kekasih. Suara tidak senonoh keluar dari kedua pihak. Semakin Giyuu gesek semakin kencang suara Sanemi. Demi menutupi suara laknat itu Sanemi gencar menarik dan mencakar tangan Giyuu agar merunduk dan menciumnya. Giyuu mana bisa menolak pacar manisnya.

Melepas tautan bibir hingga air liur menetes dan bercampur entah milik siapa. Giyuu mulai melepaskan kejantannya dari belenggu celana. Aksi berikutnya membuat Sanemi teriak terkejut. Ia, lelaki berambut panjang itu sehabis membuka celana sendiri, berjongkok dan berhadapan dengan penis menggemaskan milik kekasihnya. Sebagai hadiah telah bersikap kooperatif Giyuu mulai memberikan servis dengan mulut dan tangannya. Ia tahu Sanemi belum bisa melakukan hal yang sama. Dengan pelan dan lihai, Giyuu dapat membuat Sanemi berteriak. Beberapa saat kemudian rambutnya dijambak. Tanda bahwa sang empu tak sanggup dan akan mengeluarkan muatannya. Giyuu lepaskan penis mengenaskan itu. Dan sperma menyembur sebagian ke wajahnya dan sebagian ke perut kekasih tannya.

“Nemi, enak?”

Pertanyaan yang tak perlu dijawab untuk mendapatkan jawaban. Sanemi masih menikmati pasca ejakulasi. Giyuu tertawa kecil dan mengelap sperma yang ada diwajahnya. Kembali cium bibir merah dan bengkak prianya. Giyuu sudah tidak tahan, ingin mengintervensi dan mengacak Sanemi dari dalam sehingga dia membuka satu kondom serta menuangkan banyak pelumas untuk fingering melebarkan lubang ketat itu. Kewarasan pria tan baru kembali dan dikejutkan rasa dingin dan licin di lubang anusnya. Namun ia tak berkata apa-apa dan menutup wajahnya dengan tangan.

Giyuu gencar mencari titik yang akan membuat Sanemi merasa nikmat. Melakukan gerakan menggaruk saat hanya satu jari yang dapat masuk. Tambah jadi dua agar peregangan dapat dilaksanakan dengan gerakan menggunting dan menyodok. Lalu tiga jari berada di tubuh Sanemi mencari titik tersebut. Tiga jari yang ukurannya tidak mungil. Kernyitan jelas diwajahnya. Tampak tak nyaman.

“Sebentar lagi sayang”

Lalu tubuh pria beriris lavender sedikit bergerak kaget dan menggeliat ketika Giyuu menemukan prostat sang empu. Seringai terpatri. Giyuu kembali merundung, kali ini lubang Sanemi, hanya untuk mendengar suara indah dan menggodanya pria garang tak berdaya dibawahnya. Cengkraman kencang ditangannya tak membuat ia mundur. Semangat membara adalah pasokan bahan bakar.

Notes:

Unfinished work will continue when i have time and mood, thanks for reading