Work Text:
Tanah Basa, June 1996
Pagi diwarnai dengan gerimis kecil yang menyapu jalanan tak membuat seorang polisi kriminal membuka payungnya, ia bahkan mengendarai sebuah sepeda tua kesana.
Weizhao memasuki ruangannya dengan siulan kecil yang tidak dipedulikan rekan-rekannya. Tampaknya sudah biasa dengan pemandangan seperti ini.
Belum sempat dia duduk di kursinya seorang rekan masuk melemparkan beberapa lembar berkas ke mejanya.
Weizhao menaikkan alisnya dan mengangkat lembaran berkas di tangannya yang semi-basah belum kering sempurna.
"Korban masih terbaring di lantai basement rumahnya, ayo kita lihat" ujar rekannya sembari menyilangkan tangannya.
"Berkasnya sudah keluar?"
Rekannya menggeleng dan memijat keningnya
"Korban beberapa kali melapor ke divisi kriminal namun tidak digubris"
Beberapa laporan akan di saring terlebih dahulu untuk pengecekan kelayakan untuk ditangani. Dan itu bukan bagian Weizhao. Sampai dia diperintahkan baru dia bisa bergerak.
Weizhao mengangguk dan mengikuti rekannya keluar dari biro.
Pukul 10 pagi lebih 5 menit mereka sampai. Garis polisi sudah di pasang dan beberapa wartawan amatir berkerumun. Weizhao melihat ke sekeliling, lingkungannya sedikit suram. Tidak ada tetangga yang keluar. Weizhao mendapati ini sedikit aneh, karena biasanya hal ini pasti menarik sebagian kecil warga sekitar.
"Hey ayo masuk" rekannya menepuk lengan Weizhao pelan dan melangkah masuk ke dalam.
Weizhao mengikutinya dengan patuh. Namun hal aneh terjadi saat ia melangkah masuk ke rumah. Baru satu langkah ia mendapati dirinya seolah di tekan oleh kekuatan yang luar biasa menyesakkan dadanya.
"Argh!" Weizhao terduduk membuat rekannya terkejut dan berjongkok di depannya
"Hei, kau baik-baik saja?"
Weizhao menutup matanya dan seolah bertemu teman lama ia menyeringai
"Kau disini"
"Hah? Kau bicara apa? Hei Weizhao?!"
Rekannya menepuk-nepuk wajahnya berkali-kali sampai Weizhao akhirnya sadar. Begitu sadar matanya membesar dan dia langsung buru-buru berjalan ke basement. Rekannya memanggil-manggil namanya namun tidak ia acuhkan.
Kakinya berhenti melihat sesosok tubuh terbaring di lantai tanah. Wajahnya pucat, tubuhnya kaku. Ia mengenakan kemeja panjang hitam yang hanya menutupi wajahnya.
"Laki-laki?"
Rekannya mengangguk "pasangan gay"
Weizhao mengerutkan keningnya 'mustahil' pikirnya.
Weizhao segera berjongkok dan membalik wajahnya untuk melihatnya dengan jelas. Laki-laki ini jelas memiliki rupa yang indah, alisnya keliatan tegas dan tajam. Garis matanya indah dengan paduan bulu mata yang melengkung. Bibirnya yang tipis-sedang tampak masih lebih berwarna daripada wajahnya.
Weizhao merasakan ada yang salah dalam dirinya. Dua hal yang berbeda, dan dua-duanya karena tubuh yang terbaring tak berdaya di depannya.
"Apa yang kau lihat?"
Weizhao menolehkan kepalanya menghadap ke arah rekannya. Dia tau tentang gosip dirinya yang menyebar, tapi tidak tau ada orang-orang yang benar-benar santai ketika ia percaya bahwa itu bukan sekedar kicauan burung.
"Katakan saja"
Weizhao berfikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk percaya pada rekan ini.
"TaoZe, dia belum mati"
TaoZe menatap Weizhao, Weizhao tau hal ini tidak bisa dipercaya
"Aku akan menelfon ambul-"
Weizhao menahan tangan TaoZe, keduanya berpandangan saat Weizhao menaruh telunjuknya di bibirnya dan menyuruhnya untuk diam.
TaoZe awalnya bingung, namun sebuah suara seperti seseorang memaksa masuk mengalihkan perhatiannya.
Seorang pria tinggi, rambut klimis dan mata tajam muncul. Ter-engah engah seolah dia buru-buru untuk datang.
"P- Peisu" pria itu berjongkok dihadapan tubuh indah itu dan mulai berkabung, dengan cara cukup ekstrim yang malah terkesan seperti dibuat-buat.
Weizhao menatap pria itu dengan tatapan tajam, kebencian menguar dari dirinya. Dan seolah tau sedang di perhatikan, ia menoleh ke arah Weizhao. Weizhao langsungg mengalihkan pandangannya. Namun pria itu tiba-tiba memegang lengannya
"T- tolong urus pemakaman suamiku" ujarnya memohon. Weizhao melepas tangan pria itu perlahan dan berdiri, tepat di samping TaoZe dia berbisik.
Pemakaman yang dimaksud adalah kremasi. Tubuhnya ditelan api besar. Tidak ada otopsi, keluarga meng claim Peisu kecelakaan.
Dua hari setelahnya, kantor kembali seperti biasa. Belum ada kasus baru. Semua orang bungkam dengan fakta bahwa Peisu adalah korban kekerasan seksual dalam rumah tangganya sendiri. Dan karena suaminya adalah orang terpandang, semuanya harus diam.
Weizhao mengambil jaketnya dan kacamata hitamnya bersiap untuk pulang. Dia kemudian menemui TaoZe di mejanya dan menaruh sebuah surat di atas mejanya.
"Tidak ada yang terlibat, kecuali aku. Sampai jumpa kawan"
TaoZe hanya diam, ya konsekuensi. Tidak ada yang benar-benar mengetahui Weizhao kecuali dirinya sendiri.
TaoZe kemudian tersenyum dan mengangguk setelah Weizhao keluar dari pintu biro.
7 lewat 30 menit di malam hari. Gelap mulai turun, matahari terbenam diganti dengan bulan menggantung indah.
Weizhao menyesap rokoknya terakhir kali sebelum membuangnya dan menginjaknya. Dia kemudian bersiul membawa kantong kresek putih di tangannya.
Weizhao membuka pintu rumahnya dan membuka semua lampunya.
"Mmmmmmmm!!!!" Suara erangan pria menyambutnya
Weizhao menaruh kreseknya di atas meja dan membuka jaketnya. Dia kemudian berjalan ke kamar dengan santai.
Weizhao mengulurkan tangannya dan menyapu lembut rambut-rambut yang menjuntai menutupi mata indah itu.
"Semua akan berakhir, setelah ini kita akan pergi dan hidup dengan baik"
Weizhao tersenyum dan keluar dari kamarnya. Di bukanya sebuah lemari kecil dan di keluarkannya botol besar berisi cairan merah berbau besi.
Weizhao membawanya ke ruang tengah rumahnya. Di ambilnya sebuah kuas dan mulai melukis sebuah simbol di atas lantai. Lingkaran dengan lima bintang di bagian dalamnya.
"Ah, sudah lama sekali. Masih oke juga"
Weizhao kemudian melirik ke sudut rumahnya dan terkekeh geli. Di datanginya sosok yang bergetar ketakutan terikat dan terbungkam.
"Sudah berapa triliun keuntungan yang kau dapat?" Tanya Weizhao meremehkan.
"Bajingan!" Lanjutnya lagi.
Weizhao kemudian menendang tubuh itu membuat pria itu terbungkuk dan hampir menyentuh lantai. Weizhao menarik kerahnya dan melayangkan tinjuan ke wajahnya berkali-kali.
Yang satu ini membuat pria itu terjatuh setelah Weizhao melepas pegangan pada kerahnya.
"MENCURANGI-NYA DENGAN MELAKUKAN OPERASI PENGGANTIAN ALAT KELAMIN PAKSA PADA SUAMIMU? KAU BENAR-BENAR LUAR BIASA BAJINGAN!"
Satu lagi pijakan mendarat di dada pria itu.
"Aku antarkan kau padanya"
Weizhao menjambak rambut pria itu dan meletakkannya di tengah simbol.
"Ini yang terakhir, anggap saja aku melunasi hutangku pada iblis itu"
Sebelum Weizhao sempat mengatakan apapun lagi, seorang pria keluar dari kamarnya.
"W- Weizhao"
Weizhao menoleh mendapati Peisu berdiri dengan gemetar di pintu kamar.
"Peisu... kau berhak bahagia"
Peisu berjalan dengan pelan dan menggenggam lengan Weizhao
"Ber- bersamamu? Apa kau mau menerimaku?"
Weizhao tidak langsung menjawab, Peisu tau tentangnya. Tentangnya yang memiliki hubungan tak biasa dengan beberapa entitas gaib.
"Aku bukan orang baik"
"Aku juga bukan orang baik, aku... aku tidak ingin sendirian" Peisu menundukkan wajahnya, matanya menatap horor pemandangan suaminya yang sudah babak belur dan hampir mati, tubuhnya di hiasi darah-darah dari lantai.
Weizhao menatap pria di depannya dengan muak
"Kau takkan bisa menghentikanku"
Peisu menggeleng "takkan kuhentikan. Kau— kau lanjutkan saja"
Weizhao tersenyum dan mengusap rambut Peisu.
"Baik, kau sebaiknya mundur dulu"
Peisu melepas tangan Weizhao dan mundur beberapa langkah membiarkan Weizhao menyelesaikan apa yang ia harus selesaikan.
Beberapa detik kemudian, cahaya hijau kuning terang memenuhi ruangan. Semburat cahaya itu berkumpul di tengah, mengelilingi pria itu, tubuh pria itu terangkat. Diiringi dengan teriakan histeris yang tak bisa menembus sumpalannya.
"Kau bodoh, bisa-bisanya ditipu manusia" ujar Weizhao meremehkan
"Kkk, Weizhao... kita impas" balas suara berat yang sosoknya tidak terlihat
Tubuh pria itu terbelah dan isinya berceceran, Peisu menahan mulutnya yang hampir muntah.
"Selamat tinggal, Weizhao. Jangan bertemu lagi"
Cahaya hilang, tubuh itu hilang. Hanya tersisa pakaian, tali dan kain di lantai.
Weizhao menghela nafasnya "selesai"
Peisu berlari kecil menghampiri Weizhao dan memeluk tubuhnya dari belakang.
"Semua sudah selesai"
"Terimakasih"
-----------------
"TaoZe, bantu aku menukar mayatnya"
"Aku tidak bertanggungjawab"
"Kau tidak perlu bertanggungjawab, bilang saja aku mengancammu"
"Tapi kau..."
"Aku menemukannya TaoZe, saat di Romania. Dia adalah mantan kekasihku, sudah tak bertemu sembilan tahun, dia malah di bunuh orang lain. Aku hidup untuk mencarinya, bahkan sampai mengizinkan mereka memperalatku karena kemampuanku"
TaoZe diam
"Kumohon, sekali saja. Anggap saja bayaran karena kerasukan adikmu yang bertahun sudah kusembuhkan"
TaoZe kemudian mengangguk, setuju. Weizhao tersenyum.
"Terimakasih sobat"
-Selesai-
